#RIPChesterBennington

Kemarin malam saat sedang browsing di Facebook, tiba-tiba saya menemukan artikel tentang meninggalnya Chester Bennington, vokalis band Linkin Park. Awalnya saya tidak percaya, saya takut ini hanya berita bohong alias hoax. Jadi saya coba cari semua sumber berita yang bisa dipercaya, tapi rasanya saya masih tetap nggak mau percaya. Apalagi ketika tahu penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Rasanya makin sedih membaca beritanya.

Kenapa saya menulis tentang hal ini. Satu, karena saya penggemar Linkin Park. I grew up listening to their music. Saya berkenalan dengan Linkin Park sejak album Hybrid Theory dan lagu Crawling merupakan lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan band ini. Merupakan punya musik yang berbeda, khas, dan tentu saja suara Chester yang tak tergantikan. Bahkan setelah beberapa album dan musik mereka sedikit bergeser, tidak sehingar-bingar di album pertama, saya tetap suka musik mereka. Setiap lirik dan setiap not musik yang mereka buat selalu membuat saya terhanyut menikmati setiap lagunya. Saya sebenarnya lebih ngefans sama Mike Shinoda, karena menurut saya dia sangat kreatif dalam menciptakan musik dan artwork untuk album Linkin Park. Namun, karakter suara Chester-lah yang menjadikan Linkin Park berbeda dari band alt-rock lainnya. Chester juga yang banyak menuangkan pikirannya ke dalam lirik lagu yang kadang cenderung ‘gelap’.

Saya pun merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk menonton konser mereka dua kali di Jakarta, pada tahun 2004 dan 2011 (saya juga cerita soal konser mereka di blog ini). Saya sempat berpikir akan menonton mereka untuk ketiga kalinya jika memang mereka mampir ke kota Wina, apalagi mereka baru saja merilis album baru dan tengah menggelar tur. Tapi tampaknya keinginan itu tidak akan kesampaian.

Alasan kedua, karena berita soal meninggalnya Chester, seperti menambah panjang daftar selebriti yang meninggal dengan cara bunuh diri, mulai dari Robin Williams hingga Chris Cornell (vokalis band Soundgarden dan Audioslave), yang bunuh diri beberapa bulan lalu dan kebetulan merupakan sahabat Chester. Bahkan Chester memutuskan untuk bunuh diri tepat di hari ulang tahun Chris, yaitu 20 Juli.

I don’t know about depression.. but I know that it’s real. Sangat menyedihkan melihat orang yang tampaknya bahagia, sukses, bisa memiliki segalanya di dunia ini tapi justru mencabut nyawanya sendiri. Hal itulah yang terjadi pada diri selebriti itu. Kita tidak mengenal mereka, kita hanya mengenal karakter yang mereka tampilkan di publik. Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka pikirkan. Jangankan kita, yang hanya penggemar, bahkan orang-orang terdekat mereka pun seperti tak mampu mencegah hal itu.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini, semoga saya bisa membantu orang-orang sekitar saya yang memang memiliki masalah depresi dan memiliki kecenderungan bunuh diri.

Rest in peace, Chester… I’ve always been a fan, always will. Now, I’m going to listen to all my Linkin Park album just to remember how I fall in love with this band in the first place.

Image from Linkin Park’s official Facebook.

Advertisements

Can We Just Agree to Disagree?

Pernahkah kamu menulis sesuatu atau membagi link artikel tertentu di media sosial, yang justru memunculkan perdebatan? Tiba-tiba ada yang mengkritik kamu, menyebut kalau pendapat kamu salah, dan tanpa disadari kamu justru bertengkar di media sosial.

Saya, sih, sepertinya tidak pernah mengalami hal tersebut, tapi baru-baru ini kakak saya bercerita tentang kekesalannya setelah membagi suatu artikel di Facebook.

Gara-gara artikel itu dia malah debat panjang lebar dengan seseorang yang sebenarnya nggak dia kenal dekat. Saya bilang, “Memangnya teteh kenal?”. Dia bilang, tidak. Ya sudah, kata saya, unfriend saja, kelar deh urusan. Tapi dia masih saja ngedumel-dumel, kesal, karena menurutnya ucapan si orang itu dianggap merendahkan dan bikin malu, terutama terhadap teman dan keluarga lainnya di Facebook.

Saya juga sempat melihat beberapa teman saya yang terlalu ‘vokal’ menyuarakan pendapatnya di media sosial, yang terkesan dia “paling benar, orang lain salah”. Kalau sudah begitu, sih, biasanya saya unfriend atau mute saja segala macam posting-an dari dia daripada merusak mata dan mood saya.

Di zaman dengan berbagai media sosial kayak sekarang, memang banyak lho orang yang bisa-bisa tidak berteman lagi hanya karena status atau menyuarakan suatu pendapat. Orang yang berjauhan, nggak pernah ketemu, atau sebenarnya cuma teman sekilas, bisa jadi berantem gara-gara hal itu.

Makanya, saya berusaha banget untuk selalu menyortir segala macam tulisan di media sosial. Di Facebook, biasanya saya nulis status yang “aman” saja, berusaha bersikap netral, nggak ikut-ikutan politik, dan nggak pernah komentar di status orang lain yang pendapatnya nggak sesuai dengan saya.

Menurut saya, sih, kalau memang nggak setuju, nggak usah deh berkomentar daripada nanti malah bertengkar. Nggak enak banget, kan, berantem di media sosial. Sama saja kayak berantem di depan umum, yang nontonin teman dia dan teman kita juga yang ada di media sosial itu.

Suatu kali, saya membagi tulisan tentang pola pengasuhan anak. Naahhh, rupanya selain politik, agama, dan segala macam keyakinan, pendapat tentang pengasuhan anak ini rada sensitif ya, karena bisa membuat perdebatan pula. Apalagi banyak orang-orang yang nyinyir dengan bilang, “Kok gini, kok gitu?”, “Zaman dulu nggak kayak gitu,” dan lainnya. Teman saya ini, sih, untungnya nggak berdebat di media sosial, tapi berkomentar langsung ke sana, lewat jaringan pribadi.

Saya bilang, yang namanya pengasuhan anak mah tergantung orangtuanya masing-masing. Saya nggak bisa bilang pola pengasuhan A lebih baik dari B, karena saya saja baru merasakan jadi orangtua dalam hitungan bulan. Namun tentunya, saya juga punya rencana tersendiri bagaimana saya mengasuh anak nantinya. Apa itu yang terbaik? Ya, mudah-mudahan. Kalau misalnya, pun, orang lain punya cara mengasuh yang berbeda, ya biarkan saja. Jangan pernah menghakimi orang lain, karena kan kita juga tidak tahu apa yang mereka rasakan dan jalani.

Makanya, kalau ada yang mau komentar atau berdebat panjang, saya cuma bisa bilang, we can agree to disagree, kan… *peace*

Image source: here

When You Realize That Money isn’t Everything

career salary

Ketika pertama kali terjun ke dunia kerja, saya selalu mengharapkan bisa berkarir. Saya tidak mau sekadar kerja hanya demi uang, saya ingin mengembangkan diri, saya ingin pengakuan, dan tentu saja saya ingin mencintai pekerjaan yang saya geluti. Sejak dulu, saya memimpikan untuk menaiki jenjang karir, hingga lama-lama saya pun menjadi ‘atasan’, bukan lagi anak baru yang tidak mengerti apa-apa.

Saat pertama kali bekerja kantoran, saya sama sekali tidak menyukainya. Satu, karena bidangnya tidak sesuai dengan saya. Dua, karena gajinya sangat sangat kecil, dengan penghitungan bonus yang menurut saya tidak adil.

Pekerjaan saya pertama kali adalah sebagai presenter freelance di sebuah stasiun televisi. Pembayaran gaji selalu terlambat dan tidak seberapa. Kemudian saya memutuskan untuk kerja kantoran. Kala itu saya berpikir, “Setidaknya punya pengalaman dulu.”

Akhirnya saya bekerja di sebuah agensi iklan sebagai Account Executive. Berbeda dengan agensi iklan lainnya, agensi ini mengkhususkan pada media radio saja, yang tentu lebih sulit ‘menjualnya’. Awalnya saya kesulitan, karena tidak merasa punya bakat jadi sales, apalagi paham mengenai dunia radio. Iya, sih, dulu pernah jadi penyiar radio kampus, tapi kan masalah saya paling seputar pemilihan lagu, bukan target miliaran rupiah.

Perlahan-lahan saya mulai memahami bidang ini. Saya punya daftar klien kepercayaan, dan meski kecil saya pun pelan-pelan mulai berhasil menjual spot iklan ke berbagai klien. Berkat kerja di sini, saya jadi paham jalan-jalan di Jakarta, karena sebagai AE saya harus ke mana-mana sendiri, menyetir sendiri, bahkan menggunakan mobil sendiri (gila!), padahal uang yang masuk nantinya buat perusahaan bukan buat saya.

Setelah 10 bulan bekerja di sana, tentu saja saya tidak betah. Saya masih ingin mengejar passion saya di bidang jurnalistik. Akhirnya, Allah menjawab permintaan saya, dan saya pun masuk menjadi fashion stylist sekaligus jurnalis di sebuah majalah. Lagi-lagi, ini sebenarnya bidang baru bagi saya, karena saya tidak punya dasar untuk menata gaya. Saya saja masih kesulitan memilih padu padan busana, ini malah disuruh mengarahkan gaya orang lain.

Tapi saya belajar dan belajar terus. Saya memperhatikan rekan kerja yang lebih senior, saya semangat mengikuti berbagai pelatihan, dan selalu membaca berbagai majalah untuk belajar sekaligus mencari inspirasi. Saya bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan, yang hingga kini kenangan bekerja di tempat tersebut masih terasa menyenangkan di pikiran saya.

Sayangnya, pekerjaan itu juga punya kelemahan. Gajinya sangat minim, bahkan tidak sebanding dengan pekerjaan yang saya lakukan. Kadang saya harus jungkir-balik untuk mengerjakan event. Tidak hanya dalam kota, tapi ada juga yang di luar kota. Pernah satu waktu, saya harus membiarkan baju-baju di dalam koper, karena saya hanya berada di Jakarta selama tiga hari, setelah itu harus langsung pergi lagi tugas ke luar kota.

Setelah 3 tahun 8 bulan, saya memutuskan untuk resign. Saya pun akhirnya menemukan pekerjaan baru tiga bulan sejak mengundurkan diri. Kala itu saya sangat bersemangat karena saya akan memasuki sebuah dunia baru lagi, yaitu dunia media online. Saya tahu ini bidang yang sedang berkembang, prospeknya cerah, dan saya merasa akan punya kesempatan belajar.

Di awal kerja, saya pun belajar banyak hal. Meski saya ditugaskan untuk memegang bidang gaya hidup (mulai dari fashion, kecantikan, kuliner, traveling, entertainment, dll), saya juga ikut mengedit berita-berita umum lainnya. Alhasil, saya menjadi orang yang paling update soal berita di rumah. Saya tahu kasus korupsi apa saja yang ditangani KPK, berita kriminal apa yang sedang diperbincangkan orang, berita internasional, hingga berbagai masalah hukum.

Saya senang karena punya banyak informasi. Saya senang karena saya banyak tahu berbagai hal. Walaupun ujung-ujungnya saya kadang merasa apatis dengan negara Indonesia tercinta ini jika melihat berbagai macam berita yang disampaikan di media (tapi ini akan menjadi cerita lain di posting blog yang lain sepertinya).

Soal gaji pun bisa dibilang cukup lumayan. Memang tidak sebesar mereka yang kerja di bank atau perusahaan-perusahaan internasional, tapi saya merasa cukup mendapat peningkatan dari pekerjaan sebelumnya.

Seiringnya waktu, bidang yang saya pikir akan berkembang ini ternyata tidak berkembang seperti yang saya harapkan. Ada berbagai keputusan perusahaan yang akhirnya membuat diri saya sebagai jurnalis, sebagai editor, dan sebagai wanita karir, merasa stagnan. Saya merasa suara saya tidak didengar di dalam perusahaan, meski tentu suara saya ‘terdengar’ di luar sana, yaitu lewat tulisan-tulisan saya.

Mungkin itulah manusia, selalu merasa tak puas. Mungkin itu pula hidup ketika kita tidak bisa memiliki segalanya. Berkali-kali saya mengeluhkan peraturan perusahaan yang menurut saya tidak adil. Mengapa menilai pekerjaan seseorang berdasarkan kuantitas, bukan kualitas? Saya selalu merasa kesulitan ketika manajemen menilai pekerjaan saya berdasarkan jumlah berita yang saya upload, bukan apakah berita saya berkualitas? Apakah berita saya sudah benar adanya? Apakah sesuai fakta, menarik banyak pembaca, bermanfaat, dan lain sebagainya?

Dalam bekerja, jujur saya pun mengharapkan pengakuan. Saya ingin hasil kerja saya benar-benar dilihat, bukan sekadar dihitung jumlahnya. Tapi sebagai sebuah bagian kecil dalam perusahaan yang begitu besar, saya bisa apa? Saya hanya bisa menyampaikan saran, namun jika tak ditanggapi, saya bisa apa?

Saya pun harus kembali pada diri sendiri. Menenangkan diri saya, berusaha bersyukur, dan terus menanamkan pikiran, bahwa “tak semua hal harus berjalan sesuai keinginan saya.”

30 is The New 20

birthday-gift.jpg
Birthday gift from him.. The sweetest thing I ever received from a guy

Wow.. I’m turning 30 this year!

Oke, saya tidak mau sekadar mengisi blog ini dengan, “ternyata usia 30 masih gini-gini aja”. I accomplished so much! Mungkin setiap orang punya pencapaian berbeda. Bisa lebih banyak, lebih sedikit, lebih sukses, atau lebih hebat, tergantung siapa yang menilainya.

Tapi saya tak mau mengeluh. Saya pikir saya sudah cukup banyak melalui berbagai hal, yang akhirnya membuat diri saya seperti apa adanya sekarang ini. Usia 30 bukan saatnya lagi menggerutu, mengeluh, galau, atau mengelilingi diri dengan hal-hal negatif lainnya.

Mengutip ucapan Olivia Wilde dalam sebuah artikel di majalah Glamour, “30 is the cut the bullshit and go be awesome stage”. And that is what I’m gonna do!

Kenapa saya bilang “30 is the new 20”? Karena menurut saya, rasa excited memasuki usia ini sama halnya seperti saat saya menjadi 20. I want to embrace this new stage of my life.

Saya sudah mengalami banyak hal. Sedih, senang, kecewa, sakit hati, dan ke depannya masih akan banyak lagi yang akan saya hadapi. Saya belajar dari kesalahan dan berusaha keras untuk tidak “trauma” akan hal-hal yang menyebabkan saya sakit hati.

Saya belajar untuk tidak mendendam, daripada hal itu membuat hati saya jelek dan membusuk. I learn just to forget and to let go. Kalau tidak suka dengan sesuatu, saya pikir lebih baik menjauhinya atau ubah cara berpikir dalam memandang hal itu.

The fact is, I can’t change the past and complaining about it won’t make myself feel better either. The best thing to do is just keep moving forward.

Saya juga belajar, bahwa di balik setiap kejadian seburuk apa pun, selalu ada pelajaran yang saya ambil. Meski perlu waktu lama dan harus merasakan segala macam kesedihan dulu, yakin saja kalau hal baik akan datang. Selama kita percaya, hal itu bisa terjadi. The best is always worth the wait.

Jadi.. Mari jalani usia baru ini dengan semangat baru!

To Be Happy

20130616-212806.jpg

When you get older, you’ll get wiser. You learn to forgive your enemies, not because they deserve forgiveness but because you deserve peace.

When you get wiser, you learn that keeping your hatred and grudges will only hurt yourself. All that negativity will only consume you, your time, yourself.

And then.. One little step at a time, you learn to move on and let things go. After all, you know you deserve to be happy, just like everyone else.

Pic from: Weheartit

10 Life Lessons From How I Met Your Mother

how i met your mother

Bisa dibilang, How I Met Your Mother adalah salah satu serial televisi favorit saya, yang bahkan setelah ditonton berulang-ulang tetap saja akan tertawa. Banyak yang bilang sitcom yang satu ini serupa dengan Friends, serial tv yang terkenal di era 90’s. Mereka sama-sama menampilkan sekelompok orang yang saling berteman, tapi kemudian ada beberapa di antara mereka yang akhirnya menikah. Setting lokasinya pun sama, yaitu New York.

Tapi kalau diminta memilih, saya akan lebih suka HIMYM. Kenapa? Karena serial ini lebih banyak menampilkan ‘keanehan’, lelucon yang bahkan terlalu absurd, yang mungkin hanya orang-orang ‘aneh’ seperti saya yang menyukainya.. Haha!

Anyway, cerita perjalanan Ted Mosby (Josh Radnor) menemukan istrinya atau ibu dari anak-anaknya ini, menurut saya sangat sweet. Suatu perjalanan yang mungkin juga dirasakan semua orang, karena untuk menemukan yang namanya ‘true love‘ itu tidak selalu mudah. Di sini, Ted berteman dengan Marshall Eriksen (Jason Segel) yang menikah dengan Lily Aldrin (Alyson Hannigan). Ted sempat jatuh cinta dengan Robin Scherbatsky (Cobie Smulders), yang ternyata justru lebih mencintai Barney Stinson (Neil Patrick Harris), the ultimate womanizer dan menurut saya karakter paling kuat di cerita ini (plus paling aneh!).

Saking menariknya serial ini, kita juga bisa menarik beberapa pelajaran hidup dari sini. Berikut ini saya ambil beberapa poinnya dari situs All Women Stalk.

1. If it’s meant to be, it will be

Sepanjang cerita di serial tv ini, kita akan dipertontonkan bagaimana Ted berusaha menemukan ‘the love of his life’ dan akhirnya menikah. Tapi bahkan setelah memasuki season 8, dia masih belum juga menemukannya dan kita para penonton pun belum bisa melihat seperti apa wujud istri Ted itu (baru pada di akhir season 8 akhirnya diperlihatkan sosok ‘The Mother’ itu). Jadi intinya, kalau memang harus terjadi, maka akan terjadi. Kadang sekeras apa pun kita berusaha mencari, kalau tidak ketemu, ya tidak ketemu. Mungkin memang seharusnya cinta yang menemukan kita, bukan sebaliknya.

2. Long distance relationships hardly ever work

Bukan berarti pacaran jarak jauh tidak bisa berhasil, tapi biasanya memang sulit. Sama seperti di serial ini ketika Ted menjalin hubungan dengan Victoria. Pada akhirnya mereka tidak bisa mempertahankannya, bahkan Ted sempat berpesan akan hal ini kepada anak-anaknya.

3. Nothing good ever happens after 2 A.M

Ini masih berkaitan dengan hubungan Ted dan Victoria saat mereka sedang pacaran jarak jauh. Ted merasa hubungannya makin berantakan, kemudian Robin (yang tiba-tiba punya perasaan pada Ted) mengundangnya setelah pukul 2 pagi untuk ‘membuat jus’. Ketika Ted tiba di apartemen Robin, dia malah mengatakan telah putus dengan Victoria (padahal belum). Salahnya, ketika Ted ke kamar mandi, Robin sedang memegang handphone milik Ted dan Victoria menelepon. Intinya, pada malam itu (tepatnya setelah pukul 2 pagi), Ted membuat keputusan buruk yang akhirnya membuat dia kehilangan Victoria dan Robin.

4. Things you may not have liked before may not be that bad later on

Di season pertama, Ted memiliki kemeja lama yang tidak pernah disukainya, tapi selang enam tahun kemudian dia malah suka. Dia kemudian juga menyukai Bourbon, sesuatu yang dia pikir tidak akan pernah disukai. Jadi seiringnya waktu, Ted pun menyadari seleranya mulai berubah, termasuk ketika dia mulai kencan dengan perempuan yang mungkin dulunya dia anggap tidak menarik. Sama seperti Ted, selera kita bisa juga berubah, kok, dalam segala hal. Sesuatu yang menurut kita tidak menarik, bisa saja terlihat berbeda setelah beberapa waktu dan akhirnya kita menyadari, it’s not that bad.

5. The front porch test

Jenis tes ini dilakukan Lily untuk menentukan orang yang akan menjadi teman hidupnya. Jika dia bisa membayangkan bersama dengan orang itu hingga hari tua mereka, duduk-duduk di teras, sambil membayangkan kehidupan yang lampau, maka dia adalah orang yang tepat. Ini juga salah satu cara yang bisa kita lakukan saat akan mengambil keputusan besar. Coba bayangkan ketika tua nanti, akankah ketika bahagia dengan pilihan sekarang?

6. Clubs are terrible

Ketika di awal usia 20-an mungkin club menjadi tempat yang terlihat ‘asyik’, tapi seiring bertambah dewasa nyatanya club bukan lagi tempat hang out yang menyenangkan bersama teman. Hal ini juga yang diceritakan dalam serial HIMYM, di mana ketika Ted dan Robin pergi ke club, mereka malah tersiksa dengan suara musik yang keras, susah berkomunikasi, bahkan untuk memesan minuman sekalipun.

7. Brunch is for couples and families, but not alone

Brunch merupakan waktu makan yang sering dibicarakan di serial ini, terutama oleh Marshall yang sering melakukannya bersama Lily. Namun ketika mereka putus, Marshall masih tetap ingin melakukan kebiasaan brunch tersebut. Tapi, ketika dia datang sendiri, dirinya malah ditertawakan pelayan resto. Kemudian akhirnya dia mengajak sahabatnya, Brad, untuk brunch bareng. Akhirnya, mereka malah jadi terlihat seperti sepasang kekasih. Hmm.. mungkin dua pria melakukan brunch terlihat aneh, tapi saya sering kok menikmati brunch berdua saja dengan sahabat perempuan saya.

8. Always consider the crazy/hot scale

Skala ini diciptakan oleh Barney, yang mengatakan bahwa seorang cewek boleh ‘gila’ asalkan dia sama seksinya (atau bahkan sangat seksi). Kegilaan seseorang mungkin dibutuhkan untuk membuat hubungan terasa menyenangkan. Tapi jangan sampai, deh, bertemu seseorang yang sangat ‘gila’ seperti ketika Marshall bertemu Chloe dan Ted berpacaran dengan Jeanette. Saya rasa skalanya Barney ini sama seperti skala yang biasa dibuat oleh cewek (setidaknya saya dan teman-teman). Seorang cowok dimaklumi brengsek, jika dia sangat ganteng. Jika tidak, please talk to my hand.. hehe.

9. Body language will tell about a person’s availability

Ini merupakan cara yang bisa kita lakukan untuk melihat apakah seseorang single atau tidak. Sama seperti ketika, kakak tiri Barney, James, yang saat diajak hang out malah terlihat sibuk sendiri. Dia sibuk dengan ponselnya, sibuk mengirimkan pesan singkat, bahkan menolak saat diajak berkenalan dengan orang lain. Saat kita pergi bersama teman-teman, perhatikan saja sikap mereka. Ketika yang lainnya sibuk bersosialisasi (atau tebar pesona), sementara ada satu orang yang sibuk dengan ponselnya dan tidak mempedulikan keadaan sekitar, maka dia sudah tidak available.

10. The olive theory

Saya selalu menyukai hubungan antara Lily dan Marshall, karena mereka sepertinya bisa melengkapi satu sama lain. Sama halnya dengan the olive theory, yang merupakan salah satu konsep menarik dari serial ini. Teori ini mengatakan ketika satu orang menyukai olive, sementara yang lainnya tidak, maka mereka berada dalam hubungan yang seimbang dan memang ditakdirkan untuk bersama. Mungkin terkesan aneh, tapi konsep ini sepertinya menjelaskan tentang bagaimana perbedaan justru terlihat menarik. Opposites atrract, right..

 

The So-Called Miss Advised

alice

Ada sebuah reality show yang menarik perhatian saya, judulnya Miss Advised. Ceritanya seputar tiga orang wanita single yang profesinya sebagai relationship expert atau ahli di bidang hubungan cinta.

Satu orang bernama Emily yang merupakan sex expert, tapi dia sendiri anti-monogami dan tidak mau menjalin hubungan dengan satu orang saja. Lalu ada Amy yang katanya the best matchmaker in New York, dia selalu memberi aturan pada kliennya tapi dia sendiri tidak pernah mengikuti aturan-aturan itu. Terakhir Julia, dating columnist, yang menurut saya paling asyik profesinya. Dia bisa pergi berjalan-jalan dan bekerja untuk berbagai media, mulai dari majalah, surat kabar, hingga media online, untuk menulis seputar tips berkencan.

Anyway, kesamaan dari ketiganya, selain menjadi relationship experts, adalah kehidupan personal mereka sendiri bisa dibilang cukup sulit terutama saat menjalin hubungan dengan seseorang. Mereka bisa menjadi ahlinya dalam memberikan ‘teori cinta’, namun pada kenyataannya mereka juga tetap menjalani jalan berliku untuk menemukan ‘The One’. Gara-gara hal ini pula, I feel that I can relate to them.

Di pekerjaan saya sekarang ini, selain menulis berita-berita seputar gaya hidup, fashion, kecantikan, kuliner, hingga berita-berita terbaru lainnya, saya juga dipercaya untuk menulis artikel tips. Segala macam tips pun saya tulis, mulai dari karir, keuangan, cinta, fashion, kecantikan, kesehatan, olahraga, hingga psikologi.

Kesannya saya sudah ahli banget, padahal sebenarnya saya juga dapat bahan-bahannya dari hasil browsing di internet, baca buku, baca majalah, dan sebagian lainnya ya berkat pengalaman pribadi juga. Lucunya, tidak semua tips ini saya lakukan di kehidupan pribadi. Jadi saya hanya pintar menulisnya, tapi belum tentu melakukannya.

Saya sendiri sangat menikmati menulis tips ini, karena sebenarnya saya pun jadi bisa belajar. Lalu ketika saya mengalami sesuatu, rasanya saya ingin langsung menulis seputar hal tersebut. Tapi ya.. sama halnya dengan para Miss Advised itu, saya ini kesannya si ahli relationship dan hubungan asmara, nyatanya kehidupan cinta saya..pffftt.

Ah well, the road to love was never easy… 🙂