Weaning With Love

Bosan nggak, sih, kalau blog saya isinya cuma tentang lipstik? Saya, sih, nggak, hehe.. tapi saya juga sebenarnya punya cerita lain yang ingin saya tulis di blog, salah satunya tentang motherhood alias kehidupan saya menjadi seorang ibu.

Saya memang nggak banyak cerita tentang anak saya atau bagaimana cara saya mengurusnya, karena saya sendiri merasa kurang percaya diri. Saya sebenarnya ingin seperti ibu-ibu yang menuliskan tentang setiap milestone anaknya atau menuliskan resep mpasi anaknya. Yah.. sayangnya, saya merasa gagal saat memberikan mpasi, haha, karena hampir setiap makanan yang saya buat, Alanna nggak doyan 😆.

Sejak mulai mpasi, Alanna memang susah banget makannya. Setiap hari, saya selalu stres gara-gara dia susah makan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tapi tetap saja anaknya susah makannya. Dia juga lebih suka menyusu langsung dari saya. Sejak saya tidak kerja kantoran lagi, otomatis Alanna selalu menyusu langsung dan tidak pernah lagi minum ASI di botol. Setelah usia 1 tahun, minum susu UHT pun jarang.

Makanya, saya sempat merasa pesimis bisa menyapih. Nah, soal menyapih inilah yang akan saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud sok tahu atau pamer, tapi saya ingin sekadar sharing. Sejak punya anak, saya senang banget baca blog ibu-ibu yang bercerita seputar motherhood, terutama tentang segala kesulitan dan pengalaman yang mereka rasakan. Ada beberapa pengalaman mereka yang saya rasakan juga dan saat itulah saya merasa tidak sendiri. Itulah kenapa saya juga mau cerita tentang proses menyapih Alanna.

Sejak awal, saya memang berniat ingin melakukan Weaning With Love (WWL) atau Gentle Weaning. Kalau dulu orangtua selalu cerita susahnya menyapih, hingga berbagai cara dilakukan. Mulai dari nakut-nakutin si anak, biarin dia nangis terus-terusan, sampai menaruh obat merah di puting, dan lain sebagainya. Setelah itu, biasanya ada proses si anak sakit atau si ibunya juga sakit karena payudaranya bengkak. Duh, dengar cerita gitu saja saya sudah stres.

Lalu saya sempat baca sebuah artikel yang ditulis oleh teman saya, tentang menyapih anaknya tanpa pemaksaan dan perlahan-lahan. Semua itu dimulai dari memberitahu anak kita bahwa sudah saatnya dia berhenti menyusu dan itu dimulai sejak anak kita usia 18 bulan.

Jadilah saya coba juga, setiap Alanna minta menyusu, saya selalu ingatkan kalau sudah usia 2 tahun nanti dia harus berhenti menyusu. Walaupun Alanna terkesan seperti mengabaikan hal ini, saya tetap saja selalu memberitahunya. Bahkan ada masa di mana, Alanna malah teriak-teriak setiap saya bilang dia harus berhenti menyusu.. haha, sepertinya dia tahu ya.

Saat usianya dua tahun pun, Alanna masih sering banget menyusu.

Salah satu tips yang saya baca tentang WWL ini adalah, kita tidak menolak tapi juga tidak menawarkan ASI.

Jadi setiap Alanna minta saya kasih, tapi kalau dia tidak minta, ya, saya tidak menawarkan.

Lama-kelamaan, frekuensi menyusunya pun berkurang. Yang tadinya 5x sehari, bisa jadi 2x sehari, yaitu pagi dan malam.

Eh, sudah sukses mengurangis ASI, tiba-tiba Alanna sakit. Dia terkena virus yang menyebabkan dia muntah-muntah dan nggak mau makan sama sekali. Jadilah dia kembali sering menyusu, karena saya khawatir kalau Alanna tidak dapat asupan makanan sama sekali.

Gara-gara sakit itulah, saya jadi merasa mengulang proses WWL dari awal. Saya mulai lagi dengan memberitahunya berulang-ulang, tapi setiap saya beritahu dia malah merengek atau menangis. Saya sempat merasa makin pesimis, apalagi dengan ‘pressure’ di sekeliling saya.

Mulai ada, deh, yang ngomong seperti ini:

“Sudah gede belum disapih juga?”

“Idih masa masih nenen?”

“Yah.. gagal, deh, makin besar makin susah lho..”

Untungnya, saya mulai baca-baca dari berbagai sumber tentang mitos atau anggapan yang salah tentang proses menyapih, misalnya:

“Kalau kelamaan nenen, anaknya jadi manja, lho..”

Sebenarnya nggak ada penelitian yang mengatakan anak yang terlalu lama menyusu dari ibunya akan jadi anak manja. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan, anak yang disapih pelan-pelan dan karena kemauan si anak sendiri membuat dirinya lebih mandiri.

“ASI setelah dua tahun mah ga ada gizinya”

Ini juga salah. Karena ASI ternyata menyesuaikan gizi sesuai keperluan si anak. Hebat kan? Jadi nggak perlu takut kalau ASI kita tak bergizi. Selama kita makan-makanan sehat, anak kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

“2 tahun itu udah ketuaan buat anak menyusu”

Sebenarnya berapa lama si anak menyusu itu berbeda-beda. Ada, kok, anak yang menyusu sampai usia 3 tahun dan itu sah-sah saja. Menyusu adalah hubungan spesial antara ibu dan anak, karena hal itu spesial maka setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu pusing untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain atau pengalaman kita dengan pengalaman orang lain.

Akhirnya, saya pun memahami, bahwa yang membuat saya kesulitan menyapih bukan anak saya, tapi suara-suara di luar sana yang memberi tekanan, membuat saya stres, dan sama sekali tidak memberikan solusi.

Itulah makanya, para ibu perlu memiliki support system, sesama ibu yang saling mendukung dan bukan malah saling menjatuhkan.

Setelah beberapa minggu sejak sakit, Alanna akhirnya kembali berkurang menyusunya menjadi 2x sehari. Secara mengejutkan, dia pun mulai makan teratur dan akhirnya doyan makan nasi plus lauk. Biasanya, ya, dia nggak mau makan nasi. Kadang pasta, kadang roti, kadang cereal, kadang kentang, tapi hampir tidak pernah nasi.

Berat badannya pun tergolong susah naiknya. Kalau di Indonesia, dokter mungkin sudah memberikan macam-macam vitamin penambah nafsu makan, tapi dokter di sini bilang berat badannya normal (meski berada di bawah..hehe). Dia bilang Alanna anak yang sehat, tidak mudah sakit, aktif, dan ceria, jadi saya nggak perlu khawatir soal berat badannya.

Setelah makannya teratur, saya mulai berusaha untuk semakin mengurangi ASI. Kalau biasanya saat dia ngantuk, dia akan minta menyusu dan tertidur, sekarang setiap dia mengantuk saya akan tawarkan untuk menggendong dia saja. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama mau.

Hal yang sama juga mulai saya terapkan saat malam hari. Saat dia mau tidur dan minta ASI, saya tawarkan untuk menggendong saja. Awalnya dia nangis, tapi untungnya tidak lama dan akhirnya dia pun mau tidur tanpa harus menyusu. Jadwal ASI yang tadinya 2x sehari pun akhirnya jadi 2 hari sekali. Lama-lama akhirnya Alanna lupa dan saya pun lupa, tak terasa sudah lebih dari sebulan Alanna berhasil disapih.

Dengan cara menyapih pelan-pelan seperti ini, saya juga tidak perlu mengalami sakit akibat payudara bengkak. Semua tampaknya baik-baik saja.

Itu semua terjadi saat usia Alanna 2 tahun 5 bulan. Persis seperti cerita teman saya yang juga berhasil menyapih anaknya di usia segitu.

Hal yang saya pelajari juga saat menyapih adalah, anak pada akhirnya akan berhenti menyusu.

Cepat atau lambat dia juga akan berhenti dengan sendirinya, jadi nggak perlu kita paksa. Sama seperti saya juga yakin, ketika dulu Alanna nggak doyan makan, saya mikir, nanti juga akan doyan, kok. Saya saja ingat waktu kecil saya susah banget makannya dan sangat picky, sekarang ternyata baik-baik saja dan malah jadi susah nurunin berat badan (hahaha).

Oh iya, satu lagi kunci sukses menyapih anak, yaitu sabar. Saya sendiri bukan orang yang penyabar. Pada akhirnya, sih, saya lebih ke pasrah daripada sabar (hehe). Karena memang persoalan menyapih ini kesabaran kita diuji banget. Kalau mau menyapih dengan cara ini memang harus pelan-pelan. Tahapannya terkesan lama (dan tiap anak mungkin berbeda-beda jangka waktunya sampai akhirnya berhasil disapih), jadi ya balik lagi ke diri kita bagaimana caranya agar bisa bersabar.

Begitulah cerita singkat saya soal menyapih anak. Semoga bisa sedikit membantu para ibu yang juga berniat untuk menyapih anaknya.

Advertisements

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

#RIPChesterBennington

Kemarin malam saat sedang browsing di Facebook, tiba-tiba saya menemukan artikel tentang meninggalnya Chester Bennington, vokalis band Linkin Park. Awalnya saya tidak percaya, saya takut ini hanya berita bohong alias hoax. Jadi saya coba cari semua sumber berita yang bisa dipercaya, tapi rasanya saya masih tetap nggak mau percaya. Apalagi ketika tahu penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Rasanya makin sedih membaca beritanya.

Kenapa saya menulis tentang hal ini. Satu, karena saya penggemar Linkin Park. I grew up listening to their music. Saya berkenalan dengan Linkin Park sejak album Hybrid Theory dan lagu Crawling merupakan lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan band ini. Merupakan punya musik yang berbeda, khas, dan tentu saja suara Chester yang tak tergantikan. Bahkan setelah beberapa album dan musik mereka sedikit bergeser, tidak sehingar-bingar di album pertama, saya tetap suka musik mereka. Setiap lirik dan setiap not musik yang mereka buat selalu membuat saya terhanyut menikmati setiap lagunya. Saya sebenarnya lebih ngefans sama Mike Shinoda, karena menurut saya dia sangat kreatif dalam menciptakan musik dan artwork untuk album Linkin Park. Namun, karakter suara Chester-lah yang menjadikan Linkin Park berbeda dari band alt-rock lainnya. Chester juga yang banyak menuangkan pikirannya ke dalam lirik lagu yang kadang cenderung ‘gelap’.

Saya pun merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk menonton konser mereka dua kali di Jakarta, pada tahun 2004 dan 2011 (saya juga cerita soal konser mereka di blog ini). Saya sempat berpikir akan menonton mereka untuk ketiga kalinya jika memang mereka mampir ke kota Wina, apalagi mereka baru saja merilis album baru dan tengah menggelar tur. Tapi tampaknya keinginan itu tidak akan kesampaian.

Alasan kedua, karena berita soal meninggalnya Chester, seperti menambah panjang daftar selebriti yang meninggal dengan cara bunuh diri, mulai dari Robin Williams hingga Chris Cornell (vokalis band Soundgarden dan Audioslave), yang bunuh diri beberapa bulan lalu dan kebetulan merupakan sahabat Chester. Bahkan Chester memutuskan untuk bunuh diri tepat di hari ulang tahun Chris, yaitu 20 Juli.

I don’t know about depression.. but I know that it’s real. Sangat menyedihkan melihat orang yang tampaknya bahagia, sukses, bisa memiliki segalanya di dunia ini tapi justru mencabut nyawanya sendiri. Hal itulah yang terjadi pada diri selebriti itu. Kita tidak mengenal mereka, kita hanya mengenal karakter yang mereka tampilkan di publik. Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka pikirkan. Jangankan kita, yang hanya penggemar, bahkan orang-orang terdekat mereka pun seperti tak mampu mencegah hal itu.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini, semoga saya bisa membantu orang-orang sekitar saya yang memang memiliki masalah depresi dan memiliki kecenderungan bunuh diri.

Rest in peace, Chester… I’ve always been a fan, always will. Now, I’m going to listen to all my Linkin Park album just to remember how I fall in love with this band in the first place.

Image from Linkin Park’s official Facebook.

Can We Just Agree to Disagree?

Pernahkah kamu menulis sesuatu atau membagi link artikel tertentu di media sosial, yang justru memunculkan perdebatan? Tiba-tiba ada yang mengkritik kamu, menyebut kalau pendapat kamu salah, dan tanpa disadari kamu justru bertengkar di media sosial.

Saya, sih, sepertinya tidak pernah mengalami hal tersebut, tapi baru-baru ini kakak saya bercerita tentang kekesalannya setelah membagi suatu artikel di Facebook.

Gara-gara artikel itu dia malah debat panjang lebar dengan seseorang yang sebenarnya nggak dia kenal dekat. Saya bilang, “Memangnya teteh kenal?”. Dia bilang, tidak. Ya sudah, kata saya, unfriend saja, kelar deh urusan. Tapi dia masih saja ngedumel-dumel, kesal, karena menurutnya ucapan si orang itu dianggap merendahkan dan bikin malu, terutama terhadap teman dan keluarga lainnya di Facebook.

Saya juga sempat melihat beberapa teman saya yang terlalu ‘vokal’ menyuarakan pendapatnya di media sosial, yang terkesan dia “paling benar, orang lain salah”. Kalau sudah begitu, sih, biasanya saya unfriend atau mute saja segala macam posting-an dari dia daripada merusak mata dan mood saya.

Di zaman dengan berbagai media sosial kayak sekarang, memang banyak lho orang yang bisa-bisa tidak berteman lagi hanya karena status atau menyuarakan suatu pendapat. Orang yang berjauhan, nggak pernah ketemu, atau sebenarnya cuma teman sekilas, bisa jadi berantem gara-gara hal itu.

Makanya, saya berusaha banget untuk selalu menyortir segala macam tulisan di media sosial. Di Facebook, biasanya saya nulis status yang “aman” saja, berusaha bersikap netral, nggak ikut-ikutan politik, dan nggak pernah komentar di status orang lain yang pendapatnya nggak sesuai dengan saya.

Menurut saya, sih, kalau memang nggak setuju, nggak usah deh berkomentar daripada nanti malah bertengkar. Nggak enak banget, kan, berantem di media sosial. Sama saja kayak berantem di depan umum, yang nontonin teman dia dan teman kita juga yang ada di media sosial itu.

Suatu kali, saya membagi tulisan tentang pola pengasuhan anak. Naahhh, rupanya selain politik, agama, dan segala macam keyakinan, pendapat tentang pengasuhan anak ini rada sensitif ya, karena bisa membuat perdebatan pula. Apalagi banyak orang-orang yang nyinyir dengan bilang, “Kok gini, kok gitu?”, “Zaman dulu nggak kayak gitu,” dan lainnya. Teman saya ini, sih, untungnya nggak berdebat di media sosial, tapi berkomentar langsung ke sana, lewat jaringan pribadi.

Saya bilang, yang namanya pengasuhan anak mah tergantung orangtuanya masing-masing. Saya nggak bisa bilang pola pengasuhan A lebih baik dari B, karena saya saja baru merasakan jadi orangtua dalam hitungan bulan. Namun tentunya, saya juga punya rencana tersendiri bagaimana saya mengasuh anak nantinya. Apa itu yang terbaik? Ya, mudah-mudahan. Kalau misalnya, pun, orang lain punya cara mengasuh yang berbeda, ya biarkan saja. Jangan pernah menghakimi orang lain, karena kan kita juga tidak tahu apa yang mereka rasakan dan jalani.

Makanya, kalau ada yang mau komentar atau berdebat panjang, saya cuma bisa bilang, we can agree to disagree, kan… *peace*

Image source: here

When You Realize That Money isn’t Everything

career salary

Ketika pertama kali terjun ke dunia kerja, saya selalu mengharapkan bisa berkarir. Saya tidak mau sekadar kerja hanya demi uang, saya ingin mengembangkan diri, saya ingin pengakuan, dan tentu saja saya ingin mencintai pekerjaan yang saya geluti. Sejak dulu, saya memimpikan untuk menaiki jenjang karir, hingga lama-lama saya pun menjadi ‘atasan’, bukan lagi anak baru yang tidak mengerti apa-apa.

Saat pertama kali bekerja kantoran, saya sama sekali tidak menyukainya. Satu, karena bidangnya tidak sesuai dengan saya. Dua, karena gajinya sangat sangat kecil, dengan penghitungan bonus yang menurut saya tidak adil.

Pekerjaan saya pertama kali adalah sebagai presenter freelance di sebuah stasiun televisi. Pembayaran gaji selalu terlambat dan tidak seberapa. Kemudian saya memutuskan untuk kerja kantoran. Kala itu saya berpikir, “Setidaknya punya pengalaman dulu.”

Akhirnya saya bekerja di sebuah agensi iklan sebagai Account Executive. Berbeda dengan agensi iklan lainnya, agensi ini mengkhususkan pada media radio saja, yang tentu lebih sulit ‘menjualnya’. Awalnya saya kesulitan, karena tidak merasa punya bakat jadi sales, apalagi paham mengenai dunia radio. Iya, sih, dulu pernah jadi penyiar radio kampus, tapi kan masalah saya paling seputar pemilihan lagu, bukan target miliaran rupiah.

Perlahan-lahan saya mulai memahami bidang ini. Saya punya daftar klien kepercayaan, dan meski kecil saya pun pelan-pelan mulai berhasil menjual spot iklan ke berbagai klien. Berkat kerja di sini, saya jadi paham jalan-jalan di Jakarta, karena sebagai AE saya harus ke mana-mana sendiri, menyetir sendiri, bahkan menggunakan mobil sendiri (gila!), padahal uang yang masuk nantinya buat perusahaan bukan buat saya.

Setelah 10 bulan bekerja di sana, tentu saja saya tidak betah. Saya masih ingin mengejar passion saya di bidang jurnalistik. Akhirnya, Allah menjawab permintaan saya, dan saya pun masuk menjadi fashion stylist sekaligus jurnalis di sebuah majalah. Lagi-lagi, ini sebenarnya bidang baru bagi saya, karena saya tidak punya dasar untuk menata gaya. Saya saja masih kesulitan memilih padu padan busana, ini malah disuruh mengarahkan gaya orang lain.

Tapi saya belajar dan belajar terus. Saya memperhatikan rekan kerja yang lebih senior, saya semangat mengikuti berbagai pelatihan, dan selalu membaca berbagai majalah untuk belajar sekaligus mencari inspirasi. Saya bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan, yang hingga kini kenangan bekerja di tempat tersebut masih terasa menyenangkan di pikiran saya.

Sayangnya, pekerjaan itu juga punya kelemahan. Gajinya sangat minim, bahkan tidak sebanding dengan pekerjaan yang saya lakukan. Kadang saya harus jungkir-balik untuk mengerjakan event. Tidak hanya dalam kota, tapi ada juga yang di luar kota. Pernah satu waktu, saya harus membiarkan baju-baju di dalam koper, karena saya hanya berada di Jakarta selama tiga hari, setelah itu harus langsung pergi lagi tugas ke luar kota.

Setelah 3 tahun 8 bulan, saya memutuskan untuk resign. Saya pun akhirnya menemukan pekerjaan baru tiga bulan sejak mengundurkan diri. Kala itu saya sangat bersemangat karena saya akan memasuki sebuah dunia baru lagi, yaitu dunia media online. Saya tahu ini bidang yang sedang berkembang, prospeknya cerah, dan saya merasa akan punya kesempatan belajar.

Di awal kerja, saya pun belajar banyak hal. Meski saya ditugaskan untuk memegang bidang gaya hidup (mulai dari fashion, kecantikan, kuliner, traveling, entertainment, dll), saya juga ikut mengedit berita-berita umum lainnya. Alhasil, saya menjadi orang yang paling update soal berita di rumah. Saya tahu kasus korupsi apa saja yang ditangani KPK, berita kriminal apa yang sedang diperbincangkan orang, berita internasional, hingga berbagai masalah hukum.

Saya senang karena punya banyak informasi. Saya senang karena saya banyak tahu berbagai hal. Walaupun ujung-ujungnya saya kadang merasa apatis dengan negara Indonesia tercinta ini jika melihat berbagai macam berita yang disampaikan di media (tapi ini akan menjadi cerita lain di posting blog yang lain sepertinya).

Soal gaji pun bisa dibilang cukup lumayan. Memang tidak sebesar mereka yang kerja di bank atau perusahaan-perusahaan internasional, tapi saya merasa cukup mendapat peningkatan dari pekerjaan sebelumnya.

Seiringnya waktu, bidang yang saya pikir akan berkembang ini ternyata tidak berkembang seperti yang saya harapkan. Ada berbagai keputusan perusahaan yang akhirnya membuat diri saya sebagai jurnalis, sebagai editor, dan sebagai wanita karir, merasa stagnan. Saya merasa suara saya tidak didengar di dalam perusahaan, meski tentu suara saya ‘terdengar’ di luar sana, yaitu lewat tulisan-tulisan saya.

Mungkin itulah manusia, selalu merasa tak puas. Mungkin itu pula hidup ketika kita tidak bisa memiliki segalanya. Berkali-kali saya mengeluhkan peraturan perusahaan yang menurut saya tidak adil. Mengapa menilai pekerjaan seseorang berdasarkan kuantitas, bukan kualitas? Saya selalu merasa kesulitan ketika manajemen menilai pekerjaan saya berdasarkan jumlah berita yang saya upload, bukan apakah berita saya berkualitas? Apakah berita saya sudah benar adanya? Apakah sesuai fakta, menarik banyak pembaca, bermanfaat, dan lain sebagainya?

Dalam bekerja, jujur saya pun mengharapkan pengakuan. Saya ingin hasil kerja saya benar-benar dilihat, bukan sekadar dihitung jumlahnya. Tapi sebagai sebuah bagian kecil dalam perusahaan yang begitu besar, saya bisa apa? Saya hanya bisa menyampaikan saran, namun jika tak ditanggapi, saya bisa apa?

Saya pun harus kembali pada diri sendiri. Menenangkan diri saya, berusaha bersyukur, dan terus menanamkan pikiran, bahwa “tak semua hal harus berjalan sesuai keinginan saya.”

30 is The New 20

birthday-gift.jpg
Birthday gift from him.. The sweetest thing I ever received from a guy

Wow.. I’m turning 30 this year!

Oke, saya tidak mau sekadar mengisi blog ini dengan, “ternyata usia 30 masih gini-gini aja”. I accomplished so much! Mungkin setiap orang punya pencapaian berbeda. Bisa lebih banyak, lebih sedikit, lebih sukses, atau lebih hebat, tergantung siapa yang menilainya.

Tapi saya tak mau mengeluh. Saya pikir saya sudah cukup banyak melalui berbagai hal, yang akhirnya membuat diri saya seperti apa adanya sekarang ini. Usia 30 bukan saatnya lagi menggerutu, mengeluh, galau, atau mengelilingi diri dengan hal-hal negatif lainnya.

Mengutip ucapan Olivia Wilde dalam sebuah artikel di majalah Glamour, “30 is the cut the bullshit and go be awesome stage”. And that is what I’m gonna do!

Kenapa saya bilang “30 is the new 20”? Karena menurut saya, rasa excited memasuki usia ini sama halnya seperti saat saya menjadi 20. I want to embrace this new stage of my life.

Saya sudah mengalami banyak hal. Sedih, senang, kecewa, sakit hati, dan ke depannya masih akan banyak lagi yang akan saya hadapi. Saya belajar dari kesalahan dan berusaha keras untuk tidak “trauma” akan hal-hal yang menyebabkan saya sakit hati.

Saya belajar untuk tidak mendendam, daripada hal itu membuat hati saya jelek dan membusuk. I learn just to forget and to let go. Kalau tidak suka dengan sesuatu, saya pikir lebih baik menjauhinya atau ubah cara berpikir dalam memandang hal itu.

The fact is, I can’t change the past and complaining about it won’t make myself feel better either. The best thing to do is just keep moving forward.

Saya juga belajar, bahwa di balik setiap kejadian seburuk apa pun, selalu ada pelajaran yang saya ambil. Meski perlu waktu lama dan harus merasakan segala macam kesedihan dulu, yakin saja kalau hal baik akan datang. Selama kita percaya, hal itu bisa terjadi. The best is always worth the wait.

Jadi.. Mari jalani usia baru ini dengan semangat baru!

To Be Happy

20130616-212806.jpg

When you get older, you’ll get wiser. You learn to forgive your enemies, not because they deserve forgiveness but because you deserve peace.

When you get wiser, you learn that keeping your hatred and grudges will only hurt yourself. All that negativity will only consume you, your time, yourself.

And then.. One little step at a time, you learn to move on and let things go. After all, you know you deserve to be happy, just like everyone else.

Pic from: Weheartit