Euro Trip 2017: Sunny Day in Paris

Dari Lucerne, kami pun melanjuti perjalanan menuju Paris, Prancis–Yeay! I love this city, walaupun cara menyetir orang-orang di sini kacau dan kotanya tidak sebersih kota-kota lainnya di Eropa, seperti kota-kota di Swiss yang bersih banget. Nggak tahu, ya, sejak belum pernah ke sini saja, Paris selalu menjadi kota impian yang ingin banget saya datangi.

Saya memang pernah ke Paris dua tahun lalu, tapi tetap rasanya nggak puas. Tahun ini, rasanya lebih spesial, karena saya pergi bersama Alanna, yang dua tahun lalu masih di dalam perut. Untungnya, saat kami berjalan-jalan di pusat kota Paris, cuaca sangat bersahabat, cerah-ceria, dengan sedikit angin sejuk. Saya pun melepas jaket tebal yang saya pakai selama di Lucerne hari sebelumnya.

Tujuan pertama kami, tentu saja Menara Eiffel. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dari berbagai sudut (haha.. namanya juga turis). Setelahnya, saya ingin banget berjalan-jalan di Champs-Elysees, sementara ibu mertua dan bude-bude ingin menaiki bus tur hop-on/hop-off yang keliling kota.

Setelah menemukan bus tur yang harganya lagi diskon, kami pun berkeliling menggunakan bus tersebut dan turun di Champs-Elysees. Tujuan saya cuma satu, SEPHORA! Haha, namanya juga pencinta lipstik sejati, saya pastinya menggila banget di sini, dan Sephora kan brand asal Prancis, sudah pasti koleksi brand-brand kosmetiknya lengkap banget (dan karena di Austria tidak ada Sephora, hiks). Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan lagi jalan-jalan di sekitar tempat tersebut.

Namun, kami nggak sadar kalau ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, padahal hari masih terang! Kami mencoba mencari bus tur yang kami naiki, tapi kok tidak ada. Saya membaca di brosurnya, ternyata last departure mereka adalah jam 5 sore..Oh no!

Kami akhirnya berjalan dari Champs-Elysees ke Plaza de la Concorde, karena tadi sempat melihat beberapa bus tur yang berhenti di situ. Kami pun menemukan si bus merah, yang merupakan bus tur kami, tapi ternyata mereka tidak akan kembali ke Menara Eiffel (tempat kami memarkir mobil). Jadilah, kami memutuskan untuk jalan dari Plaza de la Concorde ke parkiran di Menara Eiffel (which is jauh banget.. haha).

Namun ada untungnya juga, sih, berjalan kaki sejauh itu, karena kami jadi melihat sisi lain Paris. Selain itu, berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine menjelang sunset ternyata indah banget. Apalagi cuacanya sejuk, sehingga kami pun tidak merasa lelah.

Setidaknya, hal ini bisa jadi pelajaran. Pertama, sebaiknya pilih bus tur yang lebih mahal sedikit tapi armadanya lebih banyak, seperti Big Bus Paris atau L’Open Tour Paris. Kami memilih bus tur yang satunya lagi dan tampaknya armadanya lebih sedikit. Kedua, perhatikan jam saat menaiki bus tur. Tampaknya kami dapat harga lebih murah, karena kami baru menaiki bus tur tersebut menjelang jam dua siang (jelas saja jadi lebih murah). Kalau memang ingin menaiki bus hop-on/hop-off, sebaiknya mulai sejak pagi hari.

Keesokannya, kami pergi menuju Istana Versailles. Hari itu panas banget, matahari sangat terik, dan tidak ada awan sama sekali. Antrean untuk masuk ke Versailles pun mengular, jadinya kami juga malas untuk masuk ke dalam. Selebihnya, kami malah menghabiskan waktu di outlet tak jauh dari Versailles (yang sebenarnya bukan outlet yang oke, ah well.. saya, kan, cuma nebeng jalan-jalan).

Kalau boleh memilih, saya masih tetap ingin berjalan-jalan di Kota Paris. Saya juga masih penasaran dengan isi Museum Louvre. Jadi, selama saya masih tinggal di kawasan Eropa hingga 2019 nanti, saya berharap bisa kembali lagi ke Paris. Masih penasaran dan belum bosan balik lagi ke sana.. hehe.

Oh iya, Kota Paris ini memang cantik banget, tapi kita tetap harus berhati-hati. Soalnya seminggu setelah saya dari sini, terjadi lagi penembakan. Di Kota ini memang pernah terjadi beberapa kali aksi teror, seperti penembakan di kantor Charlie Hebdo dan penembakan massal saat konser metal pada 2015 lalu. Nah, penembakan yang baru-baru ini, terjadi di Champs-Elysees, deretan pertokoan yang ramai dikunjungi para turis.

Selain itu, jika diperhatikan, di pinggir-pinggir Kota Paris juga terlihat rumah-rumah kardus yang ditempati para migran dari Suriah. Miris, sih, melihatnya. Di satu sisi, Kota Paris jadi terlihat berantakan, di sisi lain sedih banget melihat kehidupan mereka yang tentunya jauh dari layak. Semoga masalah migran ini bisa diselesaikan. Saya, sih, nggak bisa banyak omong (siapa saya?), cuma bisa berharap yang terbaik bagi mereka.

Ini sedikit foto-foto saya selama di Paris.

alannaeiffel
Alanna in Paris
arc de triomphe
Arc de Triomphe
eiffel1
Selfie di depan Menara Eiffel
eiffel2
Yes.. another picture in front of the Eiffel Tower
paris1
Obelisk yang terletak di belakang Plaza de la Concorde
paris2
Sunset di Paris
paris3
Satu lagi foto sunset
seine
Sunset di pinggiran Sungai Seine

(All photos taken by me.. except when I’m in it :D)

Next destination: Netherlands.

Advertisements

Photos From My Euro Trip #Throwback

Tepat setahun yang lalu, saya dan Yudo pergi berjalan-jalan ke Eropa. Perjalanan itu merupakan pengalaman pertama bagi saya. Akhirnya, saya mewujudkan impian untuk berjalan-jalan di Roma, Zurich, hingga Paris dan Amsterdam.

Waktu itu, saya jarang sekali update blog dan cuma sempat menulis sedikit. Jadi sekarang saya ingin membagi beberapa foto dari perjalanan kami tersebut. Semoga kami bisa jalan-jalan ke sana lagi (dan kota-kota lainnya), tentunya bersama Alanna 🙂

Our Euro Trip and Second Honeymoon #VeryLatePost

Saya sudah terlalu lama menunda cerita ini hingga enam bulan lamanya… astaga! Padahal pengalaman ini merupakan satu lagi daftar di bucket list saya yang harus dicoret.

Setelah sekian tahun bermimpi ingin ke Paris (baca: Eat, Play, Love) akhirnya mimpi itu terwujudkan juga tahun ini. Saya dan suami memang telah merencanakan perjalanan ini. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sepertinya saya yang agak maksa, padahal mungkin uangnya bisa dipakai untuk ditabung. Tapi untungnya Yudo sangat mengerti keinginan saya ini dan dia pun mengumpulkan uang demi bisa mengajak saya ke sana.

Sekitar 1-2 minggu setelah kami melakukan pembayaran di awal untuk mengikuti tur Eropa ini, saya baru mengetahui bahwa saya hamil. Pada minggu-minggu pertama, saya cukup tersiksa. Bukan hanya mual dan muntah, tapi badan saya terasa lemas tidak berenergi (yang menurut dokter memang wajar).

Sebelum berangkat pun saya masih ragu akankah bisa berpergian jauh, mengikuti tur yang panjang dan padat, dalam keadaan hamil delapan minggu? Tapi lagi-lagi, saya bersyukur dengan kehadiran Yudo yang selalu menjaga saya sepanjang perjalanan ini.

Kami memulai perjalanan ke Roma, Italia. Hari pertama saja, begitu sampai langsung jalan-jalan menuju Vatikan, lalu kembali ke Roma menuju Colosseum, Trevi Fountain (yang sedang direnovasi), dan lainnya, yang pastinya menguras tenaga karena saya tidak bisa tidur di pesawat. Badan rasanya sudah mau rontok, karena setiap paginya harus bangun jam 7.

Besoknya menuju Florence, lalu ke Pisa, lalu besoknya lagi menuju Venice. Intinya, jadwal tur kami ini sangat sangat padat. Untungnya, teman-teman tur cukup menyenangkan. Tidak ada yang rese atau menyebabkan tur kami jadi terhambat. Sayangnya, saya tidak sempat ke Milan, karena tidak masuk ke dalam paket tur. Sebenarnya hampir saja kami melewati Milan, tapi karena ada beberapa orang yang tidak setuju, akhirnya tidak jadi, deh. Kesepakatannya, semua anggota tur harus sepakat untuk pergi ke satu tempat.

Venice, Italy
Venice, Italy

Dari Italia, kami menuju Switzerland. Dari Roma yang hiruk-pikuk menuju Luzerne yang cantik dan bersih, rasanya kontras banget. Zurich juga sangat indah. Saya langsung jatuh cinta, deh, sama Swiss. Selain karena pemandangannya indah, udaranya bersih, dan segar. Melihat gunung es, sementara di bawahnya padang rumput hijau, dan di sisi lainnya ada danau, benar-benar cantik!

Di hari kedua di Swiss, kami pergi ke Mt. Titlis, yang memiliki salju abadi. Yay.. ini pertama kalinya saya melihat salju, di ketinggian 3200 meter di atas permukaan laut pula! Sejak awal, tour guide kami mengatakan bahwa di atas sana akan kekurangan oksigen. Ya, dan benar saja, saya merasa sesak napas. Tidak lama setelah saya bermain-main salju, saya pun muntah (hehe) dan akhirnya minta turun duluan.

Keesokan harinya, akhirnya, hari yang saya tunggu-tunggu, kami ke Paris! Sepanjang perjalanan di Eropa, yang saya ingat adalah saya terus-terusan merasa mual, apalagi dari satu negara ke negara lain kami selalu menggunakan bus. Setiap makanan yang masuk tidak pernah ada yang terasa enak. Setiap malam kami makan di chinese restaurant, tapi jangan bayangkan rasanya seperti resto chinese di Jakarta, deh. Tapi begitu masuk kota Paris, sepertinya mual saya hilang (lebay yaa…)

Anyway, sebenarnya begitu masuk kota Paris, apalagi setelah dari Swiss, saya langsung merasa…eewww… kota ini kotor sekali! Ramai, macet, sampah berserakan, belum lagi coretan grafiti di pinggir-pinggir jalan. Toilet umumnya pun… eewww… Saya langsung membandingkannya dengan New York. Kalau begini, sih, lebih mending di New York. Apalagi ke kota mana pun di Eropa, tour guide kami selalu berpesan, “Awas copet”. Jadi satu lagi nilai minus kalau ke Eropa.

Hari pertama memasuki kota Paris, kami disambut hujan. Keesokannya, cerah ceria. Alhamdulillah, karena pada hari kedua ini kami menuju Menara Eiffel, yang menurut orang-orang “Ah, biasa banget” tapi menurut saya, “Ah, cantik banget!”. Benar-benar nggak nyangka, akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke sini, bersama orang yang saya sayangi. Huhu.. romantis deh.

Paris, France
Paris, France

Sayangnya, kami tidak berlama-lama di Paris, jadi tidak sempat mengunjungi banyak tempat. Saya pun nggak sempat masuk ke Louvre, tapi setidaknya masih sempat berfoto di depannya. Dari Paris, kami langsung menuju Brussels. Itu pun rasanya cuma setengah hari di sana, padahal kan saya ingin berfoto-foto. Untungnya kami masih sempat merasakan wafel Belgia yang terkenal itu, haha. Bodohnya, kami tidak sempat memfoto wafelnya, karena kelaparan wafelnya keburu dilahap habis.. 😀

Setelah menginap semalam di Brussels, kami pun menuju destinasi terakhir, yaitu Belanda. Kami memulai perjalanan ke Amsterdam, lalu ke Keukenhof, baru besoknya lagi ke Volendam. Lagi-lagi, kami sempat merasa waktu yang ada tidak cukup untuk mengeksplorasi kota Amsterdam. Kami malah dibawa berjalan-jalan di atas perahu di atas kanal, yang menurut saya agak membosankan yaa..

Di Keukenhof pun, karena masih bulan Maret, belum banyak bunga yang mekar. Cuaca hujan, dingin, ditambah angin kencang juga membuat kami kesulitan berfoto-foto. Adanya malah foto payung saya yang hancur dihantam angin, padahal payungnya saya beli di Paris buat kenang-kenangan (hiks).

Keesokan harinya, kami sempat ke Zaanse Schans sebelum akhirnya ke Volendam. Yudo karena sudah pernah ke Belanda jadinya seperti merasa sedang nostalgia masa kecilnya, hehe. Oh iya, di Volendam ini sudah pasti wajib banget berfoto dengan baju khas Belanda. Yakin, deh, semua orang yang ke Belanda pasti punya foto dengan baju ini di rumahnya, haha.

Zaanse Schans, Netherlands
Zaanse Schans, Netherlands

Di sini saya sempat makan Poffertjes dan es krim, salah satu makanan khas Belanda. Mungkin bisa dibilang ini satu-satunya makanan yang terasa enak di lidah saya yang sedang aneh karena lagi hamil (eh, wafel Belgia juga enak, sih).

Anyway.. perjalanan kami memang cukup singkat. Jika dihitung-hitung cuma 10 hari, itu pun banyak waktu yang dihabiskan di jalan karena dari satu negara ke negara lain menggunakan bus dan bukan kereta. Tentu saja saya masih penasaran dengan kota-kota lainnya di Eropa. Tapi lagi-lagi, ini demi menghilangkan rasa penasaran saya dengan Paris. Lagipula ketika bayi saya lahir, mungkin saya harus menunggu 1-2 tahun sebelum bisa berpergian seperti ini.

Saya pun merasa senang bisa melewati ini bersama Yudo, karena dia benar-benar sabar dengan saya yang rewel sepanjang perjalanan (dan saya hanya bisa menyalahkan hormon, hehe). Thanks for making my dream come true… 

Oh iya.. tanggal 13 September kemarin, kami juga baru merayakan 1st year anniversary. Nggak nyangka sudah setahun, dan kini kami sedang bersiap-siap dengan kedatangan si bayi kecil, yang due date-nya Oktober nanti. Memang, sih, usia pernikahan kami masih muda. Tapi semoga di tahun-tahun mendatang, kami bisa tetap bahagia (atau bahkan lebih) seperti di tahun-tahun awal pernikahan ini.

Hopelessly Romantic

Hopelessly Romantic

Christian Louboutin peep toe pumps
$995 – bergdorfgoodman.com

Chanel lambskin handbag
$539 – fashionphile.com

Juicy Couture enamel jewelry
$78 – couture.zappos.com

Red shawl
99 SEK – ginatricot.com