Weaning With Love

Bosan nggak, sih, kalau blog saya isinya cuma tentang lipstik? Saya, sih, nggak, hehe.. tapi saya juga sebenarnya punya cerita lain yang ingin saya tulis di blog, salah satunya tentang motherhood alias kehidupan saya menjadi seorang ibu.

Saya memang nggak banyak cerita tentang anak saya atau bagaimana cara saya mengurusnya, karena saya sendiri merasa kurang percaya diri. Saya sebenarnya ingin seperti ibu-ibu yang menuliskan tentang setiap milestone anaknya atau menuliskan resep mpasi anaknya. Yah.. sayangnya, saya merasa gagal saat memberikan mpasi, haha, karena hampir setiap makanan yang saya buat, Alanna nggak doyan 😆.

Sejak mulai mpasi, Alanna memang susah banget makannya. Setiap hari, saya selalu stres gara-gara dia susah makan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tapi tetap saja anaknya susah makannya. Dia juga lebih suka menyusu langsung dari saya. Sejak saya tidak kerja kantoran lagi, otomatis Alanna selalu menyusu langsung dan tidak pernah lagi minum ASI di botol. Setelah usia 1 tahun, minum susu UHT pun jarang.

Makanya, saya sempat merasa pesimis bisa menyapih. Nah, soal menyapih inilah yang akan saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud sok tahu atau pamer, tapi saya ingin sekadar sharing. Sejak punya anak, saya senang banget baca blog ibu-ibu yang bercerita seputar motherhood, terutama tentang segala kesulitan dan pengalaman yang mereka rasakan. Ada beberapa pengalaman mereka yang saya rasakan juga dan saat itulah saya merasa tidak sendiri. Itulah kenapa saya juga mau cerita tentang proses menyapih Alanna.

Sejak awal, saya memang berniat ingin melakukan Weaning With Love (WWL) atau Gentle Weaning. Kalau dulu orangtua selalu cerita susahnya menyapih, hingga berbagai cara dilakukan. Mulai dari nakut-nakutin si anak, biarin dia nangis terus-terusan, sampai menaruh obat merah di puting, dan lain sebagainya. Setelah itu, biasanya ada proses si anak sakit atau si ibunya juga sakit karena payudaranya bengkak. Duh, dengar cerita gitu saja saya sudah stres.

Lalu saya sempat baca sebuah artikel yang ditulis oleh teman saya, tentang menyapih anaknya tanpa pemaksaan dan perlahan-lahan. Semua itu dimulai dari memberitahu anak kita bahwa sudah saatnya dia berhenti menyusu dan itu dimulai sejak anak kita usia 18 bulan.

Jadilah saya coba juga, setiap Alanna minta menyusu, saya selalu ingatkan kalau sudah usia 2 tahun nanti dia harus berhenti menyusu. Walaupun Alanna terkesan seperti mengabaikan hal ini, saya tetap saja selalu memberitahunya. Bahkan ada masa di mana, Alanna malah teriak-teriak setiap saya bilang dia harus berhenti menyusu.. haha, sepertinya dia tahu ya.

Saat usianya dua tahun pun, Alanna masih sering banget menyusu.

Salah satu tips yang saya baca tentang WWL ini adalah, kita tidak menolak tapi juga tidak menawarkan ASI.

Jadi setiap Alanna minta saya kasih, tapi kalau dia tidak minta, ya, saya tidak menawarkan.

Lama-kelamaan, frekuensi menyusunya pun berkurang. Yang tadinya 5x sehari, bisa jadi 2x sehari, yaitu pagi dan malam.

Eh, sudah sukses mengurangis ASI, tiba-tiba Alanna sakit. Dia terkena virus yang menyebabkan dia muntah-muntah dan nggak mau makan sama sekali. Jadilah dia kembali sering menyusu, karena saya khawatir kalau Alanna tidak dapat asupan makanan sama sekali.

Gara-gara sakit itulah, saya jadi merasa mengulang proses WWL dari awal. Saya mulai lagi dengan memberitahunya berulang-ulang, tapi setiap saya beritahu dia malah merengek atau menangis. Saya sempat merasa makin pesimis, apalagi dengan ‘pressure’ di sekeliling saya.

Mulai ada, deh, yang ngomong seperti ini:

“Sudah gede belum disapih juga?”

“Idih masa masih nenen?”

“Yah.. gagal, deh, makin besar makin susah lho..”

Untungnya, saya mulai baca-baca dari berbagai sumber tentang mitos atau anggapan yang salah tentang proses menyapih, misalnya:

“Kalau kelamaan nenen, anaknya jadi manja, lho..”

Sebenarnya nggak ada penelitian yang mengatakan anak yang terlalu lama menyusu dari ibunya akan jadi anak manja. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan, anak yang disapih pelan-pelan dan karena kemauan si anak sendiri membuat dirinya lebih mandiri.

“ASI setelah dua tahun mah ga ada gizinya”

Ini juga salah. Karena ASI ternyata menyesuaikan gizi sesuai keperluan si anak. Hebat kan? Jadi nggak perlu takut kalau ASI kita tak bergizi. Selama kita makan-makanan sehat, anak kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

“2 tahun itu udah ketuaan buat anak menyusu”

Sebenarnya berapa lama si anak menyusu itu berbeda-beda. Ada, kok, anak yang menyusu sampai usia 3 tahun dan itu sah-sah saja. Menyusu adalah hubungan spesial antara ibu dan anak, karena hal itu spesial maka setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu pusing untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain atau pengalaman kita dengan pengalaman orang lain.

Akhirnya, saya pun memahami, bahwa yang membuat saya kesulitan menyapih bukan anak saya, tapi suara-suara di luar sana yang memberi tekanan, membuat saya stres, dan sama sekali tidak memberikan solusi.

Itulah makanya, para ibu perlu memiliki support system, sesama ibu yang saling mendukung dan bukan malah saling menjatuhkan.

Setelah beberapa minggu sejak sakit, Alanna akhirnya kembali berkurang menyusunya menjadi 2x sehari. Secara mengejutkan, dia pun mulai makan teratur dan akhirnya doyan makan nasi plus lauk. Biasanya, ya, dia nggak mau makan nasi. Kadang pasta, kadang roti, kadang cereal, kadang kentang, tapi hampir tidak pernah nasi.

Berat badannya pun tergolong susah naiknya. Kalau di Indonesia, dokter mungkin sudah memberikan macam-macam vitamin penambah nafsu makan, tapi dokter di sini bilang berat badannya normal (meski berada di bawah..hehe). Dia bilang Alanna anak yang sehat, tidak mudah sakit, aktif, dan ceria, jadi saya nggak perlu khawatir soal berat badannya.

Setelah makannya teratur, saya mulai berusaha untuk semakin mengurangi ASI. Kalau biasanya saat dia ngantuk, dia akan minta menyusu dan tertidur, sekarang setiap dia mengantuk saya akan tawarkan untuk menggendong dia saja. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama mau.

Hal yang sama juga mulai saya terapkan saat malam hari. Saat dia mau tidur dan minta ASI, saya tawarkan untuk menggendong saja. Awalnya dia nangis, tapi untungnya tidak lama dan akhirnya dia pun mau tidur tanpa harus menyusu. Jadwal ASI yang tadinya 2x sehari pun akhirnya jadi 2 hari sekali. Lama-lama akhirnya Alanna lupa dan saya pun lupa, tak terasa sudah lebih dari sebulan Alanna berhasil disapih.

Dengan cara menyapih pelan-pelan seperti ini, saya juga tidak perlu mengalami sakit akibat payudara bengkak. Semua tampaknya baik-baik saja.

Itu semua terjadi saat usia Alanna 2 tahun 5 bulan. Persis seperti cerita teman saya yang juga berhasil menyapih anaknya di usia segitu.

Hal yang saya pelajari juga saat menyapih adalah, anak pada akhirnya akan berhenti menyusu.

Cepat atau lambat dia juga akan berhenti dengan sendirinya, jadi nggak perlu kita paksa. Sama seperti saya juga yakin, ketika dulu Alanna nggak doyan makan, saya mikir, nanti juga akan doyan, kok. Saya saja ingat waktu kecil saya susah banget makannya dan sangat picky, sekarang ternyata baik-baik saja dan malah jadi susah nurunin berat badan (hahaha).

Oh iya, satu lagi kunci sukses menyapih anak, yaitu sabar. Saya sendiri bukan orang yang penyabar. Pada akhirnya, sih, saya lebih ke pasrah daripada sabar (hehe). Karena memang persoalan menyapih ini kesabaran kita diuji banget. Kalau mau menyapih dengan cara ini memang harus pelan-pelan. Tahapannya terkesan lama (dan tiap anak mungkin berbeda-beda jangka waktunya sampai akhirnya berhasil disapih), jadi ya balik lagi ke diri kita bagaimana caranya agar bisa bersabar.

Begitulah cerita singkat saya soal menyapih anak. Semoga bisa sedikit membantu para ibu yang juga berniat untuk menyapih anaknya.

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀

MPASI… Oh.. MPASI

Sejujurnya, saya pengen banget seperti ibu-ibu hits di media sosial yang sering berbagi seputar menu MPASI (makanan pendamping ASI) anaknya. Dari mulai mencampurkan beragam jenis makanan sehat, trik memasak, hingga menceritakan betapa anaknya doyan banget makanan yang dia buat.

Sayangnya, saya punya berbagai masalah soal MPASI ini. Saya tahu, sih, banyak juga ibu-ibu yang punya masalah seputar memberikan MPASI pada anaknya. Jadi saya tahu saya tak sendirian. Hanya saja, kadang saya merasa terintimidasi jika melihat ibu-ibu lain sukses memberikan MPASI, sementara saya, kok, rasanya susah banget.

Oke, saya cerita dari awal MPASI Alanna. Setelah enam bulan lulus ASI eksklusif, saya mulai mencoba memberikan makanan. Awalnya, bubur beras yang disaring, jadi halus banget dan dicampur sama ASI. Pertama kali dikasih, lahap banget, sehingga membuat saya besar hati. Tapi besok-besoknya seperti melempem..dan GTM (alias Gerakan Tutup Mulut) pun dimulai.

Tidak terasa beberapa minggu lewat dan saat ditimbang, berat Alanna hanya naik 100 gram. Padahal saat masih ASI eksklusif per bulannya berat Alanna bisa naik 800 hingga 1000 gram. Saat itu, dokter menyarankan untuk mulai memberikan protein pada Alanna, yaitu ayam dan ikan, jadi jangan hanya bubur beras dan buah.

Sebulan berikutnya, berat Alanna cuma naik 200 gram (hiks!). Memberikan MPASI untuk Alanna juga perjuangan banget. Mulai dari disuapin pakai tangan, gonta-ganti sendok, dipangku, didudukin di kursinya, diubah menunya, bikin makanan fresh setiap hari, dan masih banyak lagi. Setelah tiga bulan memberikan MPASI, rasanya nafsu makan Alanna masih naik turun. Kalau saya berhasil memberinya makan cukup banyak, rasanya lega banget. Namun jika tidak, huhu, rasanya ingin menangis di pojokan.

Saya kemudian jadi banyak berpikir. “Apa jangan-jangan cara saya memperkenalkan MPASI pertama kali salah ya?”, “Apa makanan yang saya buat nggak enak ya?” (memang saya nggak jago bisa masak, sih), “Apa Alanna menjadi picky eater?”.

Namun kalau dilihat sejarah saya waktu kecil dulu, ibu saya juga bilang saya itu anak yang susah banget makannya. Sampai duduk di bangku SD saja, saya makannya diemut terus, sampai ibu saya kesal.. (ya, kan saya juga nggak tahu kenapa dulu nggak doyan makan, hehe).

Sekarang setelah memasuki usia 8 bulan +, Alanna saya kasih makan dengan menu campur-campur. Dimulai dari sarapan sereal atau bubur susu dan buah, sedangkan siang dan malam menunya sama (biasanya nasi, sayur, protein hewani, dan kadang-kadang protein nabati). Saya berikan juga unsalted butter untuk menambah rasa makanan, karena siapa juga yang akan suka makanan tak ada rasanya sama sekali. Kadang saya tambahkan pula tumisan bawang putih atau bisa juga garlic powder untuk menambah rasa sekaligus aroma. Tapi ya, tetap saja, keinginannya untuk makan masih naik-turun, tergantung mood si putri kesayangan yang satu itu.. hehe.

Kalau ditanya, “Apa sih makanan kesukaan Alanna?”, saya sendiri tidak tahu. Satu hari dia bisa lahap banget makan puree buah pir, besoknya bosan. Makan butternut pumpkin squash juga kadang lahap banget, besoknya biasa saja. Waktu itu pernah makan salmon, suka banget, eh.. pas minggu depannya malah nangis-nangis nggak mau makan.

Walaupun begitu, saya nggak pernah menyerah, kok. Apalagi, so far Alanna tidak punya alergi apa pun. Hanya waktu itu pernah dikasih pisang sedikit, pup-nya langsung keras. Jadi biasanya pisang saya gabungkan dengan pepaya atau pir, yang merupakan buah anti-sembelit. Anehnya juga, Alanna kayaknya nggak suka tomat, deh. Setiap kali makanannya saya campur dengan tomat (bahkan sedikit banget), dia langsung nggak mau makan dan akhirnya mewek.

alanna-makan
Awal-awal Alanna mencicipi MPASI, pipi masih gembil…

Untuk sekadar sharing, ini beberapa bahan makanan yang sudah pernah dicoba untuk Alanna. Boleh kalau ada yang mau sharing atau kasih masukan, bahan makanan apa lagi ya yang bisa saya coba..

  • Beras putih
  • Beras merah
  • Kentang
  • Ubi Jepang
  • Quinoa
  • Jagung
  • Butternut Pumpkin Squash
  • Kabocha
  • Tomat (nggak suka)
  • Brokoli
  • Wortel
  • Bayam hijau
  • Bayam merah
  • Bok Choy
  • Buncis
  • Kapri manis
  • Tahu
  • Kacang polong
  • Pepaya
  • Pisang (jarang dikasih, karena pupnya jadi keras)
  • Pir (Packham)
  • Apel (Royal Gala)
  • Alpukat (nggak suka, mukanya langsung eneg kayak mau muntah, padahal menurut saya alpukatnya enak banget)
  • Daging sapi
  • Daging ayam
  • Ikan kakap
  • Ikan salmon
  • Telur ayam kampung (baru kuningnya saja)

Pelengkap:

  • Unsalted butter
  • Extra virgin olive oil (kadang dicampur langsung ke makanan, kadang jadi minyak untuk menumis bawang putih)
  • Bawang putih
  • Garlic powder
  • Cinnamon powder
  • Keju

Untuk masak, saya biasanya menggunakan slow cooker. Awalnya saya pakai slow cooker merek Takahi ukuran 0,7 liter. Ukuran ini memang paling ideal sih buat bikin MPASI, karena bisa dipakai untuk membuat makanan dalam porsi sedikit. Tapi kemudian slow cooker-nya rusak (hiks), jadi sekarang saya pakai yang ukuran 1,2 liter dengan harapan slow cooker ini bisa dipakai untuk masak menu makanan lainnya, bukan cuma MPASI (harapannya begitu).

Saya juga pakai Natural Steam Cooker dari Chicco, yang bisa untuk mengukus makanan sekaligus menggiling makanan, jadi steamer plus blender. Untungnya, perangkat ini saya dapat sebagai hadiah dari teman Yudo dan memang sangat berguna. Sampai sekarang saya masih mem-blender makanan Alanna, tapi teksturnya mulai agak kasar dan tidak disaring lagi.

Selain makanan yang dibuat sendiri, Alanna juga suka banget sama camilan kemasan berbentuk teething rusk (yang sering saya bilang kerupuknya Alanna). Gaya makannya memang kayak orang dewasa, makan bubur nggak enak kalau nggak pakai kerupuk. Jadi kalau Alanna mulai GTM, biasanya dipancing pakai ‘kerupuk’ itu, deh. Merek teething rusk yang pernah saya coba, di antaranya Yummy Bites, Bebenice, dan Baby Choice. Sekarang saya juga kasih camilan Gerber Graduates Puffs, karena dia memang senang banget yang bisa digigit-gigit.

Oke, segitu dulu sharing seputar MPASI Alanna. Silakan masukannya, ya, soal MPASI, baik soal pilihan menu, mengatasi GTM, dan jumlah atau porsi makanan yang pas itu seperti apa ya? Saya masih harus banyak belajar, nih…

Featured image source: here.

 

 

 

Can We Just Agree to Disagree?

Pernahkah kamu menulis sesuatu atau membagi link artikel tertentu di media sosial, yang justru memunculkan perdebatan? Tiba-tiba ada yang mengkritik kamu, menyebut kalau pendapat kamu salah, dan tanpa disadari kamu justru bertengkar di media sosial.

Saya, sih, sepertinya tidak pernah mengalami hal tersebut, tapi baru-baru ini kakak saya bercerita tentang kekesalannya setelah membagi suatu artikel di Facebook.

Gara-gara artikel itu dia malah debat panjang lebar dengan seseorang yang sebenarnya nggak dia kenal dekat. Saya bilang, “Memangnya teteh kenal?”. Dia bilang, tidak. Ya sudah, kata saya, unfriend saja, kelar deh urusan. Tapi dia masih saja ngedumel-dumel, kesal, karena menurutnya ucapan si orang itu dianggap merendahkan dan bikin malu, terutama terhadap teman dan keluarga lainnya di Facebook.

Saya juga sempat melihat beberapa teman saya yang terlalu ‘vokal’ menyuarakan pendapatnya di media sosial, yang terkesan dia “paling benar, orang lain salah”. Kalau sudah begitu, sih, biasanya saya unfriend atau mute saja segala macam posting-an dari dia daripada merusak mata dan mood saya.

Di zaman dengan berbagai media sosial kayak sekarang, memang banyak lho orang yang bisa-bisa tidak berteman lagi hanya karena status atau menyuarakan suatu pendapat. Orang yang berjauhan, nggak pernah ketemu, atau sebenarnya cuma teman sekilas, bisa jadi berantem gara-gara hal itu.

Makanya, saya berusaha banget untuk selalu menyortir segala macam tulisan di media sosial. Di Facebook, biasanya saya nulis status yang “aman” saja, berusaha bersikap netral, nggak ikut-ikutan politik, dan nggak pernah komentar di status orang lain yang pendapatnya nggak sesuai dengan saya.

Menurut saya, sih, kalau memang nggak setuju, nggak usah deh berkomentar daripada nanti malah bertengkar. Nggak enak banget, kan, berantem di media sosial. Sama saja kayak berantem di depan umum, yang nontonin teman dia dan teman kita juga yang ada di media sosial itu.

Suatu kali, saya membagi tulisan tentang pola pengasuhan anak. Naahhh, rupanya selain politik, agama, dan segala macam keyakinan, pendapat tentang pengasuhan anak ini rada sensitif ya, karena bisa membuat perdebatan pula. Apalagi banyak orang-orang yang nyinyir dengan bilang, “Kok gini, kok gitu?”, “Zaman dulu nggak kayak gitu,” dan lainnya. Teman saya ini, sih, untungnya nggak berdebat di media sosial, tapi berkomentar langsung ke sana, lewat jaringan pribadi.

Saya bilang, yang namanya pengasuhan anak mah tergantung orangtuanya masing-masing. Saya nggak bisa bilang pola pengasuhan A lebih baik dari B, karena saya saja baru merasakan jadi orangtua dalam hitungan bulan. Namun tentunya, saya juga punya rencana tersendiri bagaimana saya mengasuh anak nantinya. Apa itu yang terbaik? Ya, mudah-mudahan. Kalau misalnya, pun, orang lain punya cara mengasuh yang berbeda, ya biarkan saja. Jangan pernah menghakimi orang lain, karena kan kita juga tidak tahu apa yang mereka rasakan dan jalani.

Makanya, kalau ada yang mau komentar atau berdebat panjang, saya cuma bisa bilang, we can agree to disagree, kan… *peace*

Image source: here