First Time Vlogging

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencoba vlogging (video blogging), gara-gara terinspirasi dari banyak vlogger saat ini. Saya mungkin nggak bisa mendapatkan follower sebanyak mereka, tapi saya melihat vlogging ini layaknya sebuah diary dalam bentuk video.

Akhirnya setelah mendapatkan kamera baru dari suami (very very early birthday present..hehe), saya pun membulatkan tekad untuk memulai vlogging. Apalagi rasanya sayang kalau tinggal tiga tahun di Wina dan memiliki kesempatan untuk menjelajah beberapa kota lainnya di Eropa, tapi tidak saya abadikan lewat video.

Untuk vlog pertama, saya lakukan akhir pekan lalu saat kami (saya, suami, dan si anak kesayangan) bermain-main ke Stadtpark, sebuah taman kota di Wina. Ternyata mengedit video seru juga dan saya benar-benar baru belajar kemarin. Memang, sih, terlihat masih sedikit amatir, but I know practice makes perfect! Jadi semoga nantinya saya bisa lebih sering latihan dan bikin vlog.

Berikut ini vlog pertama saya 😀

My Current Skincare Routine

Sudah sejak lama sebenarnya saya mau sharing seputar produk perawatan kulit yang saya pakai. Dulu, saya nggak pernah mau gonta-ganti produk. Setia banget sama 3-step skincare dari Clinique. Namun sejak di Wina, saya jadi penasaran mencoba berbagai macam produk, mulai dari produk drugstore hingga yang high-end (alias agak mahal).

Oke, langsung saja ya, saya cerita beberapa produk perawatan kulit (khususnya wajah) yang sedang saya pakai saat ini.

skincare routine andhina (1)

Neutrogena Hydro Boost Cleanser Water Gel

Pertama kali sampai di Wina akhir Agustus 2016 lalu, saya langsung membeli produk pembersih wajah Neutrogena (tapi beda jenis dengan yang ini.. namanya saya lupa). Saya sudah tahu soal brand Neutrogena ini memang punya banyak macam-macam produk perawatan kulit yang berkualitas, meski dijual di drugstore. Jangan salah, drugstore itu memang gudangnya macam-macam perawatan kulit yang bagus dengan harga terjangkau.

Nah, setelah pembersih itu habis, saya beli produk terbaru Neutrogena yang ini, deh, dari seri Hydro Boost yang katanya cocok untuk kulit kering. Karena kulit saya cenderung kering dan saya ingin mencari pembersih yang nggak bikin kulit terasa makin kering, saya pilih Hydro Boost Cleanser Water Gel ini.

What I love about this product adalah… kulit saya terasa bersih sesudah memakainya, tapi nggak terkesan kesat atau kulit terasa ditarik. Benar-benar nyaman dipakainya dan tidak menimbulkan iritasi. Saya biasanya hanya menggunakan sedikit saja (satu kali pump) dan itu sudah cukup untuk membersihkan wajah serta bagian leher.

Clinique Pep-start Hydrorush Moisturizer SPF 20

Saya memilih pelembap yang satu ini, karena memiliki kandungan SPF 20. Saat Summer seperti sekarang ini, Wina memang panas banget dan matahari juga cukup terik. Karena saya malas memakai moisturizer dan sunscreen secara terpisah, saya lebih memilih moisturizer yang mengandung SPF seperti punya Clinique ini.

Janjinya, moisturizer ini menjaga kelembapan kulit sepanjang hari. Memang, sih, saya merasa kulit saya tetap lembap dan saya juga nyaman memakainya. Tidak ada masalah iritasi atau jerawat. Jadi buat mereka yang suka pelembap yang praktis, saya sarankan pakai Clinique Pep-start Hydrorush ini. Sebenarnya ada beberapa jenis produk dari rangkaian Clinique Pep-start, termasuk pembersih dan primer. Namun bagi saya, produk yang menarik perhatian hanya si moisturizer ini.

Lancome Hydra Zen Nuit

Pakai pelembap di siang hari saja nggak cukup. Saat malam hari, ketika tubuh beristirahat dan kulit berregenerasi, kita juga perlu krim malam. Sebenarnya saya sudah lama memakai krim malam dari Lancome ini. Bahkan krim ini sangat membantu kulit saya sepanjang Winter kemarin (di mana kulit terasa sangat kering).

Saya suka banget efek dingin saat memakai krim ini dan sangat melembapkan tanpa membuat kulit terlihat berminyak. Saat pagi hari, kulit terasa lebih segar dan tetap lembap. Sayangnya, krim ini sudah hampir habis (hiks). Mungkin saya akan membelinya lagi nanti, tapi setelah habis saya ingin coba produk krim malam lainnya dulu.

L’Occitane Immortelle Precious Serum

Di usia kepala 3 seperti saya, kayaknya penting banget masukin serum ke dalam rangkaian perawatan kulit sehari-hari. Masalah kulit saya semakin banyak saja, sepertinya, mulai dari garis keriput tipis, noda hitam di pipi, warna nggak merata, dan kering.

Saya pilih serum ini karena punya kandungan anti-aging yang sudah dipatenkan, yaitu ekstrak bunga Immortelle, yang dikenal sebagai bunga yang kekal, bahkan setelah dikeringkan warna dan bentuknya tetap sama. Minyak yang diekstrak dari bunga tersebut juga katanya memiliki kandungan anti-radikal bebas dan anti-kerut.

Saya suka dengan serum ini yang mudah banget meresap ke dalam kulit dan membuat kulit terasa lebih lembap. Sayangnya, baru sekitar beberapa bulan memakainya, Alanna menumpahkan hampir semua isi serum tersebut (huhuhu). Jadi sekarang sedang saya hemat-hemat pemakaiannya, sampai saya membeli serum yang baru.

Origins Ginzing Refreshing Eye Cream

Masalah lingkaran hitam pada mata kayaknya hampir dimiliki semua orang, termasuk saya. Makanya, saya juga memasukkan produk krim mata ke dalam perawatan kulit sehari-hari saya.

Saat Winter kemarin, kulit di area mata saya sempat terasa kering dan perih. Mungkin karena setiap habis cuci muka, saya selalu melewatkan pemberian pelembap di area mata. Saya sempat coba beberapa produk krim mata, tapi akhirnya malah terasa perih. Akhirnya, saya menemukan salah satu remedy paling pas, yaitu Vaseline Petroleum Jelly, yang saya oleskan tipis-tipis di area mata. Setelah rasa perihnya hilang, saya pakai krim mata dari Biotherm yang punya efek mendinginkan.

Setelah krim dari Biotherm itu habis, saya beralih ke krim mata milik Origins ini. Saya tertarik karena krim ini menawarkan efek mencerahkan dan mengempiskan kantung mata. Kandungannya terdiri dari Panax Ginseng dan Ekstrak Magnolia untuk menyegarkan bagian mata sekaligus mengurangi kesan mata lelah.

Selain itu, krim ini juga tidak mengandung Paraben, Phthalate, Propylene Glycol, Mineral Oil, Pewangi Sintetis, Paraffin, dan kandungan lainnya yang berbahaya.

Untuk memakainya, saya hanya perlu sedikit saja untuk disapukan di bagian bawah dan atas mata. So far, saya menyukainya karena nyaman dipakai dan mata saya terasa terjaga kelembapannya. Nggak ada lagi, deh, kulit mata kering dan iritasi.

L’Oreal Detox Pure Clay Mask

Terakhir, adalah produk masker yang biasanya saya pakai setiap 2-3 hari sekali (kalau tidak lupa, hehe..). Masker yang terbuat dari Pure Clay dan Charcoal ini katanya bisa mendetoksifikasi kulit, membuatnya tampak lebih cerah, mengangkat kotoran dari pori-pori kulit, dan memperbaiki warna kulit wajah agar lebih merata.

Saya memang suka hasilnya setiap kali memakai masker ini. Cukup dengan 10 menit saja, wajah saya terasa lebih bersih dan segar. Masker ini juga terasa nyaman di kulit, karena kadang ada beberapa masker yang justru membuat kulit terasa perih atau iritasi. Nilai plusnya lagi, masker ini harganya cukup terjangkau karena dijual di drugstore.

Sekian sharing saya seputar produk perawatan kulit. Jika perawatan yang ini sudah habis semua, saya akan lanjut hunting produk perawatan kulit lainnya. Menurut saya, nggak usah takut untuk mencoba beberapa produk perawatan kulit, karena kita harus menyesuaikan kondisi kulit dengan produk yang kita pakai. Saat kulit terasa kering, cari produk dengan ekstra pelembap. Begitupula saat kulit sedang berjerawat, saya lebih memilih produk perawatan bebas minyak.

Jika ada yang mau sharing seputar produk yang dipakai, silakan tulis di kolom comment yaa.. terima kasih 😀

 

 

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀

How to Clean Your BB Cushion Puff

Saya ini memang suka banget sama produk BB cream dan baru-baru ini mulai menggunakan Laneige BB Cushion untuk riasan sehari-hari. Soal review produknya mungkin saya ceritakan di posting yang berbeda (bocorannya, sih, produk ini oke banget, hehe).

Setelah beberapa kali pemakaian, pastinya puff atau sponge si BB Cushion ini jadi kotor. Mirip lah dengan puff yang biasa kita pakai untuk compact powder.

Makanya, saya pun mencoba membersihkan puff-nya dengan cara biasa, yaitu menggunakan sampo bayi dan air hangat. Ternyata gagal total!

Saya mulai cari-cari tipsnya di Google. Ada yang menyarankan pakai cleansing oil. Ahh, ribet banget. Itu mah cara lain supaya kita ngeluarin duit.

Akhirnya saya menemukan video tutorial cara membersihkan puff tersebut di Youtube. Caranya gampang, murah, dan efektif.

Pertama, basahkan puff dengan air. Bisa disiram di bawah air keran.

Kedua, gunakan sabun batang (apa saja yang biasa buat mandi) lalu gosok-gosokkan ke bagian puff yang kotor. Tekan-tekan puff-nya supaya semua kotoran keluar. Nanti juga akan kelihatan sisa-sisa BB cream yang menempel di sabun batang.

Ketiga, bilas puff hingga bersih sambil terus diperas supaya kotoran dan busa sabun hilang. Jadi, deh, seperti baru.

laneige bb puff

Sebaiknya, sih, rutin membersihkan puff atau sponge yang biasa kita pakai untuk makeup, setidaknya seminggu sekali. Cara ini supaya bakteri dan kotoran nggak menumpuk di puff atau sponge, dan tentunya nggak nempel juga di kulit kita.

Chef Massimo Bottura: Artwork on a Plate

Gara-gara sering nonton acara masak seperti MasterChef dan Top Chef (meski saya tidak bisa masak), saya jadi penasaran dengan rasa masakan para chef tersebut benar-benar enak nggak ya? Apalagi mereka yang punya gelar “3 Michelin Stars” seperti apa, sih, enaknya?

Beberapa hari lalu, saya pun dihubungi oleh Hotel Mulia dan mendapat undangan untuk mencicipi masakan Chef Massimo Bottura, chef asal Italia yang restorannya bernama Osteria Francescana mendapat penghargaan 3 Michelin Stars. Bahkan restorannya itu masuk di lima teratas dalam daftar 50 Best Restaurants in the World–wow!!

Saya pun tidak asing dengan nama Massimo, karena dia pernah menjadi juri tamu di acara MasterChef Australia season 7. Dia juga ada di dalam serial dokumentasi Table’s Chef di Netflix.

Tentu saja saya excited dengan tawaran tersebut. Jadilah pada hari Jumat (18 Maret) kemarin, saya makan siang di Hotel Mulia (bersama teman-teman jurnalis lainnya) mencicipi makanan dari Chef Massimo. Sebenarnya ada 9 menu makanan, mulai dari menu pembuka, main course, hingga dessert, tapi saya hanya mendapatkan enam menu saja. Well, it’s free.. dan mereka juga harus menyiapkan makanan untuk acara malam harinya, jadi enam pun bagi saya sudah cukup menyenangkan.

Sebelum mencoba masakan hasil kreasi Chef Massimo, dia terlebih dulu berbicara tentang inspirasi masakannya. Dia mengatakan dirinya adalah seorang artisan, bukan sekadar chef. Makanya, setiap masakannya itu dianggap sebagai sebuah karya seni. Dia melihat kuliner sebagai perpaduan dari seni, budaya, dan tentu saja bahan-bahan makanan yang berkualitas bagus.

Saat memulai Osteria Francescana, sebenarnya dia dianggap sebagai chef  yang ‘membelot’, karena resep tradisional Italia malah dimodifikasi menjadi modern dan unik. Namun keberaniannya itu justru membuahkan hasil hingga akhirnya dia disebut sebagai salah satu chef yang paling kreatif di dunia. Lebih jelasnya, bisa menonton Chef’s Table di Netflix 😀

Cara dia berbicara dan menjelaskan soal makanannya, saya melihat dia sebagai seorang Chef yang humble dan penuh imajinasi. Dia tak segan-segan bercanda dan membuat suasana jadi lebih menyenangkan (sangat berbeda dengan Chef Gordon Ramsay di serial Hell’s Kitchen.. hehe).

Oke, sekarang saatnya membicarakan seputar makanan. Menu pembuka untuk acara tersebut dinamakan “Come to Italy with Me”. Menu ini terdiri dari dua makanan yang ukurannya imut-imut, I mean.. sangat sangat mini. Yang satu berbentuk seperti bantal, sementara yang satu berbentuk mirip macaron.

come to italy with me
Come to Italy with Me
Yang berbentuk bantal merupakan salt-cod yang disirami saus tomat. Meski saya tak suka ikan, rasa tomat yang lezat menyelimuti rasa amis ikan sehingga terasa gurih dan lezat. Sementara si mini macaron itu benar-benar mengejutkan rasanya. Ada pencampuran rasa gurih dari mozarella, berpadu dengan tomat dan basil. Dari menu pertama saja, saya tahu bahwa Chef Massimo ini senang membuat makanan yang berbeda dengan tampilannya. Ketika melihat bentuk macaron, orang tentu akan berharap makanan manis, tapi di sini yang didapat justru makanan savory.

Lanjut ke menu kedua, yaitu “Lentils Better than Beluga”. Lentils merupakan jenis kacang-kacangan. Menurut Chef Massimo, lentils ini dibuat menyerupai bentuk kaviar dan juga dimasak dengan eel broth, sehingga ada rasa seafood di dalamnya. Uniknya juga, lentils ini disajikan di atas es.

lentils
Lentils Better than Beluga
Menu ketiga adalah “Riso-Pizza”, yang menurut Chef Massimo adalah perpaduan rasa antara Risotto dan Pizza, dua masakan khas Italia. Oke, saya sejujurnya tidak pernah tertarik dengan Risotto, karena kalau di Jakarta bentuknya seperti bubur dan teksturnya lembek. Risotto juga sering menjadi masalah di berbagai acara kuliner yang saya tonton, bahkan di MasterChef Australia, makanan itu disebut sebagai ‘dead dish’, saking banyaknya yang gagal membuat Risotto.

riso pizza
Riso-Pizza
Makanya, saya penasaran banget dengan the real Risotto ini. Ketika dibawa ke meja, bentuknya menurut saya kurang menarik. Seperti bubur warna putih yang di pinggirnya dikasih remah-remah. Ternyata…. rasanya sangat lezat. Menurut penjelasan di menu, Riso-Pizza ini menggunakan perpaduan nasi dan polenta yang merupakan tradisi di Italia Utara yang dicampurkan dengan rasa tomat, anchovy, dan oregano dari Italia Selatan. Remah-remah di sekitarnya itu (yang enak banget rasanya) merupakan nasi yang dipanggang. Tekstur Risotto pun tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata teksturnya memang lembut, tapi tetap ada butiran yang bisa digigit. Sehingga perpaduan tekstur semua bahan makanan di satu piring itu terasa pas.

Lanjut ke menu keempat (yang merupakan favorit saya), yaitu “Beautiful Psychedelic Spin-painted Veal, Not Flame Grilled”. Daging sapi muda yang dimasak dengan cara sous-vide ini dihiasi saus warna-warni, yang terbuat dari klorofil, sweet potato, red beet emulsion, dan extra-old Villa Manodori balsamic vinegar. Saya sejujurnya belum pernah mencoba makan daging yang tidak matang benar-benar, jadi melihat daging dengan warna merah itu rasa deg-degan.

veal
Beautiful Psychedelic Spin-Painted Veal, Not Flame Grilled
Namun setelah gigitan pertama… MMMMMM… enaknya. Dagingnya benar-benar lumer di mulut, pinggiran daging yang garing memberi rasa smoky yang lezat. Ditambah lagi dengan macam-macam saus yang menambah rasa makin lengkap. Rasanya kalau boleh, saya mau tambah lagi (hahaha..).

Selanjutnya, menu kelima adalah “Caesar Salad in Bloom”. Satu lagi menu yang tampilannya tidak biasa. Kali ini salad malah dihiasi edible flowers alias bunga yang bisa dimakan. Satu potong selada dihiasi dengan bunga chamomile kering, jasmine, dan raspberries. Rasanya memang unik, but this is just not my favorite.

caesar salad
Caesar Salad in Bloom
Terakhir adalah menu “Oops! I Dropped the Lemon Tart”, menu yang inspirasinya didapat ketika salah satu sous chef menjatuhkan lemon tart. Akhirnya dibuatlah lemon tart dengan bentuk yang tidak biasa.

lemon tart
Oops! I Dropped the Lemon Tart
Tumpukan rasa dari lemon zabaglione, lemon verbena sorbet, dan meringue, dicampur dengan bergamot, savory capers, dried oregano, dan hot pepper oil, menjadikan menu ini sebagai menu penutup yang meledak (in a good way, of course). Saya suka sekali, karena rasa manis, asam, dan gurih berpadu sempurna. Pada akhirnya saya cuma bisa bilang… “Yahhh sudah habis, hiks.”

Namun menurut Lara, istri Chef Massimo, itulah tujuan utama suaminya dalam menciptakan makanan. Bukan ekspresi di awal, melainkan memori yang diciptakan di akhir menikmati makanan.

Oh iya, tiga menu yang tidak disajikan adalah “La Dispensa”, “Spring in Jakarta”, dan “The Crunchy Part of the Lasagne”. Saya sebenarnya penasaran banget dengan menu pinggiran Lasagna itu, karena memang pinggiran Lasagna yang agak gosong itulah justru yang terasa paling lezat.

Saya juga ingat Chef Massimo pernah mengatakan di satu episode MasterChef Australia bahwa pinggiran Lasagna yang garing itu yang menjadi favoritnya.

Ah well, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini, terutama untuk Hotel Mulia yang sudah mengundang saya. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

with chef massimo
With Chef Massimo Bottura