First Time Vlogging

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencoba vlogging (video blogging), gara-gara terinspirasi dari banyak vlogger saat ini. Saya mungkin nggak bisa mendapatkan follower sebanyak mereka, tapi saya melihat vlogging ini layaknya sebuah diary dalam bentuk video.

Akhirnya setelah mendapatkan kamera baru dari suami (very very early birthday present..hehe), saya pun membulatkan tekad untuk memulai vlogging. Apalagi rasanya sayang kalau tinggal tiga tahun di Wina dan memiliki kesempatan untuk menjelajah beberapa kota lainnya di Eropa, tapi tidak saya abadikan lewat video.

Untuk vlog pertama, saya lakukan akhir pekan lalu saat kami (saya, suami, dan si anak kesayangan) bermain-main ke Stadtpark, sebuah taman kota di Wina. Ternyata mengedit video seru juga dan saya benar-benar baru belajar kemarin. Memang, sih, terlihat masih sedikit amatir, but I know practice makes perfect! Jadi semoga nantinya saya bisa lebih sering latihan dan bikin vlog.

Berikut ini vlog pertama saya 😀

Advertisements

Spending Weekend at Tiergarten Schönbrunn, The Oldest Zoo in the World

Menghabiskan akhir pekan di Wina beda banget dengan di Jakarta. Biasanya di Jakarta, tujuan jalan-jalan saat weekend paling cuma ke mall dan mall. Nah, di Wina kalau Sabtu, mall dan toko-toko tutup jam 6 sore, termasuk juga supermarket (nggak seru banget!). Sedangkan Minggu, semuanya tutup (kecuali restoran dan kafe).

Untungnya, di Wina masih banyak hiburan lainnya saat weekend, seperti taman, museum, dan kebun binatang. Sudah sejak lama saya memang meniatkan diri untuk mengajak Alanna ke kebun binatang di sini saat Summer.

Nah, pas banget kemarin udaranya lagi enak. Seminggu sebelumnya sempat panas banget, habis itu mendadak hujan terus-terusan. Saat hari Minggu kemarin, cuacanya cerah tapi anginnya dingin. Suhunya juga berkisar antara 22-24 derajat Celsius, jadi pas banget deh buat jalan-jalan outdoor.

Tiergarten Schönbrunn (kalau diterjemahkan jadi Kebun Binatang Schönbrunn) merupakan kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang ini dibuka pada tahun 1752 dan awalnya menjadi tempat menyimpan koleksi binatang eksotis milik Raja Austria. Makanya letak kebun binatang ini pun berdekatan dengan kompleks Istana Schönbrunn (yang meski berdekatan kalau jalan rasanya jauh juga.. hehe.. karena memang besar banget).

schonbrunn zoo-bluestellar (5)
Wefie dengan latar belakang llama.. tapi itu kok llamanya ada yang pingsan? 😀

Dulunya, kebun binatang ini bermula dari Central Pavilion, sebuah paviliun yang dibuat untuk para anggota kerajaan sarapan. Sekarang, Central Pavilion itu menjadi salah satu restoran di kebun binatang ini.

Harga masuk ke Tiergarten Schönbrunn ini €18.50 untuk dewasa, €9 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Bisa juga membeli tiket tahunan seharga €49, jadi bisa sepuasnya deh selama setahun keluar masuk ke situ.

schonbrunn zoo-bluestellar (10)
Central Pavilion yang sekarang jadi restoran

Kebun binatang ini sangat nyaman untuk orangtua yang membawa anak-anak dengan stroller. Selain itu, penataan setiap kandang binatangnya pun rapi. Meski ramai, sama sekali nggak merasa berdesak-desakan dan jalan-jalan pun terasa santai.

Jika capek, restoran dan kios-kios makanan hampir ada di setiap sudut. Ada juga playground khusus buat anak-anak dengan beragam permainan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana, anak-anak juga bisa menaiki kuda poni atau bermain-main dengan anak kambing (lucu banget..).

schonbrunn zoo-bluestellar (1)schonbrunn zoo-bluestellar (2)schonbrunn zoo-bluestellar (6)schonbrunn zoo-bluestellar (7)schonbrunn zoo-bluestellar (8)

Selain binatang-binatang seperti gajah, jerapah, badak, singa, dan macan, ada juga lokasi khusus rainforest yang kalau masuk ke dalamnya rasanya persis seperti di negara tropis, panas dan lembap.

Ada juga binatang seperti pinguin dan beruang kutub di bagian khusus binatang-binatang dari wilayah kutub. Sementara atraksi utama kebun binatang tersebut saat ini adalah dua panda kembar yang baru saja lahir pada Agustus tahun lalu, Fu Feng dan Fu Ban. Anak panda kembar pertama yang lahir di kebun binatang Schönbrunn.

Oh iya, ada juga waktu-waktu khusus saat si binatang diberi makan. Jadwalnya ada di peta yang bisa didapatkan di bagian informasi dan tiap binatang punya jadwal yang berbeda.

Pada dasarnya saya memang suka ke kebun binatang, jadi menghabiskan akhir pekan di sini terasa menyenangkan. Apalagi Alanna juga terlihat excited melihat binatang-binatang (meski pinguin dia bilang bebek.. haha). Dia juga suka lihat gajah yang besar, jerapah yang lehernya panjang dan tinggi, serta kawanan flamingo warna pink (yang dia panggil ming-go).

schonbrunn zoo-bluestellar (3)schonbrunn zoo-bluestellar (9)

Sayangnya saat ke kebun binatang kemarin, saya baru sampai di sana jam 1 siang. Enaknya, sih, dari pagi jam 10 sudah di sana supaya jalan-jalannya lebih santai dan semua tempat dikunjungi. Saya tidak sempat ke bagian serigala dan kucing linx yang agak jauh, karena kebun binatang tersebut tutup jam 6 sore. Kalau ke sana saat winter, tutupnya lebih cepat, yaitu jam 5 sore.

Segitu dulu ya, cerita dari saya.. Semoga seterusnya bisa cerita lebih banyak tentang Wina. Masih ada waktu dua tahun lagi untuk mengenal lebih banyak soal kota yang satu ini.

Euro Trip 2017: First Stop, Budapest

Hello.. sudah lama saya tidak update di blog ini dan sekarang saya ingin cerita soal perjalanan saya keliling beberapa negara di Eropa dalam waktu dua minggu terakhir kemarin.

Akhir Maret lalu, saya kedatangan mertua saya. Mereka rencananya akan tinggal di Wina hingga awal Juni mendatang (yeay.. Alanna nggak kesepian lagi, saya juga hehe). Kemudian datang pula kakak dan adik dari ibunya Yudo, jadilah di rumah makin ramai.

Untuk trip kali ini, saya sebenarnya cuma nimbrung saja, jadi soal rute dan tempat-tempat yang dikunjungi saya nggak ikut milih. Tadinya saya sempat berpikir hanya akan ikut seminggu saja, tapi setelah dipikir lebih lanjut kayaknya bakal repot, apalagi saya bawa bayi dan Yudo juga tidak bisa ikut karena belum dapat cuti. Dia baru akan nyusul saat long weekend libur Paskah di tanggal 14 April.

Oke, mari kita mulai dari perjalanan pertama kami. Dari Wina, kami menuju Budapest, Hongaria (Hungary). Saya sendiri belum pernah ke Budapest, padahal kota ini terbilang cukup dekat dari Wina, yaitu sekitar 3 jam perjalanan memakai mobil. Di Budapest, kami hanya menginap semalam, jadi waktu untuk jalan-jalan pun sebenarnya tidak banyak.

Hari pertama, kami menghabiskan waktu di pusat kota, sambil keluar masuk toko souvenir. Budapest saat itu juga tengah diramaikan oleh bazar yang dipenuhi kios-kios kecil berisi makanan, produk kerajinan tangan, dan lainnya. Saya tidak tahu apakah itu bazar permanen atau untuk memeriahkan Hari Paskah yang dirayakan pada pertengahan April kemarin.

Setelah dari sana, kami berjalan-jalan di pinggir sungai Danube sambil berfoto-foto. Sungai ini sendiri melintasi beberapa kota dan negara, termasuk Wina (Austria) dan Bratislava (Slovakia).

Sore harinya, kami menaiki kapal yang berkeliling di sungai tersebut sambil menikmati pemandangan kota Budapest yang terdiri dari Buda (kota tua dengan Buda Castle yang terkenal dan sederetan bangunan antik lainnya) dan Pest (yang lebih modern dan menjadi pusat pemerintahan). Dua wilayah yang terpisahkan oleh Sungai Danube dan Chain Bridge yang juga menjadi landmark dari kota tersebut.

Cuaca kala itu cukup bersahabat. Cerah dengan angin yang sejuk. Namun begitu masuk ke sore hari, terutama saat di atas kapal, baru, deh, terasa sangat dingin. Ada beberapa jenis kapal yang menawarkan jasa mengelilingi Sungai Danube tersebut, tinggal pilih saja, deh, mau yang sederhana atau mau yang agak mewah, karena ada juga kapal yang di dalamnya terdapat restoran. Yang pasti, setiap kapal menyediakan penjelasan mengenai sejarah Budapest selama perjalanan mengelilingi sungai selama kurang lebih satu jam.

Keesokan harinya, kami berjalan-jalan di sekitar Gedung Parlemen, Buda Castle, Matthias Church, dan Fisherman’s Bastion. Memang, sih, tempat yang kami kunjungi tidak banyak, tapi saya sangat menikmati arsitektur Gothic yang cantik dan pemandangan Kota Budapest yang bisa dilihat dari atas Fisherman’s Bastion.

Masih banyak lagi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Budapest, yang dinobatkan sebagai salah satu kota tercantik di Eropa. Nggak salah, sih, kotanya memang cantik banget, terutama kota tuanya yang memang dijaga dengan baik. Ah well, meski nggak sempat ke banyak tempat, berikut ini beberapa foto yang (semoga) bisa menggambarkan kecantikan kota Budapest.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Buda Castle
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hungarian Parliament Building
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chain Bridge di atas Danube River
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Budapest
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sunset di Kota Budapest
matthiaschurch
Matthias Church sebagai latar belakang
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Fisherman’s Bastion
fishermanbastion
Di depan Fisherman’s Bastion
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan Budapest diambil dari atas Fisherman’s Bastion

Next destination: Zagreb, Croatia.
(All photos taken by me — except when I’m in it 😊)

Celebrating New Year with Trip to Madrid

Halo 2017.. Saya tidak sempat menuliskan apa saja yang terjadi di 2016 kemarin. Ah well, yang pasti sepanjang 2016 banyak memori menyenangkan dan banyak perubahan dalam hidup saya. Berhenti kerja dan pindah ke Austria merupakan langkah besar dalam hidup saya. Menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak secara full time juga bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan dalam hidup saya. Meski begitu, saya menikmati setiap menitnya.

Anyway, hari pertama di tahun 2017 saya habiskan dengan berlibur ke Madrid, Spanyol. Ini bukan liburan keluarga, melainkan liburan bersama ibu-ibu Dharma Wanita di Wina. Jujur saja, sebenarnya saya deg-degan, karena ini merupakan pertama kalinya saya pergi berlibur membawa Alanna tanpa keluarga. Saya pernah pergi berlibur dengan Alanna bersama mama dan kakak saya, tapi cuma ke Bandung dan cuma tiga hari. Waktu itu juga sempat ke Frankfurt bersama mama, dan juga cuma tiga hari.

Sedangkan perjalanan ke Madrid ini selama 6 hari 5 malam, dengan jadwal yang cukup padat. Untungnya, karena pergi bersama ibu-ibu yang pastinya lebih berpengalaman dari saya soal mengasuh anak, saya cukup dibantu sepanjang perjalanan.

Kesan saya selama di Madrid, sumpah saya capek, haha.. Ada beberapa tempat di mana saya tidak bisa bawa stroller, sementara perjalanannya naik-turun tangga, jadilah saya gendong Alanna kemana-mana sampai punggung pegal. Saya memang bawa gendongan, tapi karena jaket tebal dan licin (udara di sana di bawah 10 derajat dengan angin yang cukup dingin), jadilah Alanna merosot terus. Padahal minggu-minggu sebelumnya di Madrid cuaca cukup cerah dan suhu di atas 10 derajat, jadi cukup nyaman. Entah kenapa, justru pas saya di sana, cuacanya malah jadi dingin dan beberapa kali hujan.

Untungnya, selama perjalanan, Alanna tergolong anteng dan jarang rewel. Dia juga tidak sampai sakit atau kecapekan, walaupun makannya jadi agak tidak teratur. Jika dilihat secara keseluruhan, saya memang kurang puas menikmati liburan ini. Sepertinya banyak tempat yang ingin dilihat, tapi waktu sepertinya cepat banget berlalunya. Lalu ada beberapa tempat yang sebenarnya ingin saya nikmati, tapi tidak kesampaian. Sebenarnya saya ngiler sama jalan-jalan di kota Madrid yang ada deretan toko-toko, mirip seperti di Times Square New York. Jalan-jalan pun terasa kurang santai, karena mengejar banyak tempat yang dikunjungi, yang sebagian besar justru di luar kota Madrid.

Memang, sih, kotanya cantik banget. Banyak gedung-gedung kuno dan arsitektur menarik yang bisa dilihat. Selain itu, Madrid itu kota yang ramai banget (kalau saya bandingkan dengan Wina yang kayaknya adem ayem). Hingga pukul 12 malam saja, kota ini masih ramai dengan orang yang berjalan-jalan di pusat kota atau sekadar mencari snack di malam hari (pastinya pilihan para turis adalah churros.. yang menurut saya bentuknya kayak cakue, hehe).

Oh iya, saya juga sempat menonton pertunjukan Flamenco, tarian khas Spanyol. Buat para turis, sepertinya harus nonton, karena memang menghibur banget (walaupun kita nggak ngerti apa yang mereka nyanyikan). Bahkan Alanna saja menikmati banget pertunjukan ini. Pertunjukannya sendiri di dalam restoran jadi bisa sambil makan malam, tapi bisa juga memilih tanpa makan malam (hanya minuman dan cemilan saja). Lama pertunjukannya sekitar 1,5 jam dengan beberapa sesi tarian dan nyanyian. Pokoknya seru banget, menurut saya.

Selain Madrid, saya juga mengunjungi Toledo dan Segovia. Sebenarnya ada juga jadwal ke Cordoba, tapi saya memilih tidak ikut karena jarak yang cukup jauh dari Madrid (4-5 jam menggunakan mobil atau 2 jam menggunakan kereta). Akhirnya saya memilih untuk tetap tinggal di wisma dubes tempat kami menginap untuk beristirahat seharian penuh. Siapa tahu saya bisa ke sini lagi bersama suami dan jalan-jalannya bisa lebih santai.

Ini sedikit foto-foto saya bersama Alanna di Madrid.

toledo
Toledo, Spain
img_4290
Plaza de Toros
img_4400
Toledo
andhina-alanna-madrid-palace
Catedral de Santa Maria la Real de la Almudena
andhina-alanna-toledo
Me and Alanna
andhina-alanna-madrid
In front of Santiago Bernabeu Stadium
andhina-segovia
Alcazar de Segovia

 

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀

Moving to Vienna

Hello again… Sudah beberapa minggu tidak update dan tidak menulis tentang lipstik (hehe). Itu karena saya sedang mengalami banyak hal, salah satunya: Pindahan!

Akhirnya, saya ngerasain juga, deh, yang namanya jadi istri diplomat. Akhir Agustus kemarin saya resmi pindah ke Wina alias Vienna alias Wien di Austria. (Kenapa saya nulisnya begitu, karena ada juga beberapa orang yang nggak tau Wina tuh di mana, taunya Vienna 😄).

Pada akhir bulan Juli lalu, saya resign dari pekerjaan. Sedih karena nggak punya penghasilan, tapi excited juga karena saya ingin merasakan kerja freelance. Iya, uangnya nggak seberapa, tapi saya lagi jenuh juga dengan pekerjaan di kantor. Mungkin nanti setelah tiga tahun, saya mau coba kerja kantoran lagi.

Kota Wina ini merupakan tempat posting atau penempatan pertama Yudo sebagai diplomat muda (walaupun umur, sih, nggak muda-muda amat). Nah, para istri diplomat ini bakal jadi Dharma Wanita. Tugasnya juga nggak ringan, karena setiap perwakilan punya acara sendiri-sendiri yang juga akan diurus para ibu-ibu itu.

Pandangan saya, sih, awalnya soal ibu-ibu itu mereka pasti jago masak, jago dandan, jago sanggulan, sementara saya nggak bisa semuanya. Mudah-mudahan saja saya bisa belajar semuanya. Menurut saya mereka adalah ibu-ibu hebat yang bisa mengatur semuanya. Bayangkan saja di luar negeri, tanpa bantuan dari ART, ngurus anak, ngurus keluarga, masih juga harus ngurus acara-acara lainnya. Makanya saya suka agak kesal kalau ada orang yang mencap ibu-ibu Dharma Wanita kerjanya cuma gosip doang atau nggak ada kerjanya. Sama saja seperti orang yang menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga, padahal kerja mereka itu 24/7 nonstop tanpa digaji pula.

Makanya, ketika tahu saya akan jobless (kerja freelance pasti bakal beda sama kerja kantoran) dan saya harus mengurus rumah sendirian, saya agak deg-degan juga. Di Jakarta, saya terima beres semua. Makanan ada, rumah ada yang ngerapiin, sementara di sini saya benar-benar harus belajar mandiri.

Sebelum berangkat pun niat mau belajar bahasa Jerman gagal, belajar dandan gagal, sampai belajar masak juga gagal (haha!). Ini mah alamat belajar dari nol banget. Tapi kalau dipikir-pikir kalau saya nggak kayak gini, bakal susah belajar mandiri.

Kakak saya saja bisa, kok, hidup di luar negeri dengan tiga anak tanpa bantuan ART. Dia kerja part time, sedangkan suaminya kerja full time. Semuanya bisa dia jalani dengan baik, jadi semoga saja saya bisa.

Penempatan di Wina ini akan berlangsung selama tiga tahun, setelah itu saya, Yudo, dan Alanna akan kembali tinggal di Jakarta hingga menunggu penempatan berikutnya. Nah, biasanya akan ada lagi tantangan-tantangan baru. Kalau sekarang saya repot beradaptasi, belajar ini-itu, nanti saya akan direpotkan dengan sekolah anak. Sama seperti Yudo yang juga anak diplomat, Alanna pastinya akan pindah-pindah sekolah. Sudah punya teman, nanti harus pisah lagi. Belum lagi kalau kurikulum sekolahnya beda. Tapi yang nanti dipikirkan nanti saja..hehe.

Baiklah.. Sekarang saya harus siap-siap beradaptasi di tempat baru. Harus mulai menata apartemen, ngepel, nyuci, nyetrika, hadehhhh.. Wish me luck!

Jalan-jalan bareng Alanna
Resepsi diplomatik di KBRI Wina (untung ada yang mau bantuin saya sanggulan, hehe)

Alanna’s First Lebaran

Minal aidin wal faidzin! Mohon maaf lahir dan batin… Semoga belum terlalu telat yaaa buat maaf-maafan, hehe.

img_2481-1

Suasana Lebaran mungkin sudah lewat. Post holiday syndrome juga mungkin perlahan-lahan sudah hilang. Makanya sebelum ceritanya keburu basi, saya mau cerita sedikit soal Lebaran kemarin.

Lebaran bagi saya merupakan waktu berkumpul bersama keluarga. Saat masih kecil dulu, tradisi keluarga saya adalah pergi ke Cimahi untuk merayakan Lebaran di rumah Abah (kakek saya). Namun beliau meninggal pada tahun 1999, sehingga tradisi itu berganti jadi pergi ke rumah Uwa saya (kakak tertua mama) yang ada di Jakarta dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, Ayah saya meninggal pada 2001. Kakak perempuan saya pindah ke Amerika pada 2006. Akhirnya suasana Lebaran menjadi sepi. Biasanya hanya dirayakan berdua dengan Mama saya, kadang dengan saudara jauh. Kebetulan dari keluarga Ayah tidak ada yang muslim, jadi kami memang tidak memiliki tradisi mengunjungi mereka saat Lebaran (sebagian besar keluarga pun sebenarnya tidak tinggal di Indonesia).

Jujur saya kangen dengan suasana Lebaran di daerah (bukan Jakarta), tapi di sisi lain saya juga menikmati Jakarta yang lengang saat Lebaran.

Setelah menikah dengan Yudo, baru deh saya merasakan lagi yang namanya mudik dan ber-Lebaran bersama keluarga. Ibu-Bapak Yudo datang dari keluarga yang cukup besar. Nenek Yudo sekarang tinggal di Bandung dan biasanya tiap tahun semua keluarga (mulai dari anak, menantu, cucu, dan cicit) berkumpul di situ.

Tahun lalu merupakan pertama kalinya saya merasakan mudik setelah kurang lebih 15 tahun Lebaran di Jakarta. Saya sempat agak was-was dengan arus mudik yang macet di mana-mana. Saya kala itu sedang hamil 6 bulan dan sangat sangat beser…hehe. Jadi yang saya takutkan adalah jika kebelet pipis di jalan saat macet. Untungnya, saya malah nggak ketemu macet.

Keluarga Yudo juga mempertahankan tradisi saat Lebaran. Mulai dari Sholat Ied bareng, sungkeman, pertemuan dengan keluarga besar di gedung (iyaa.. Jumlahnya ratusan ternyata), hingga ngasih salam tempel untuk anak-anak yang belum bekerja.

Nah, karena tahun lalu Hari Lebaran pertama saya habiskan di Bandung, pada tahun ini gantian hari pertamanya di Jakarta di rumah mama saya. Kemudian pada malamnya, kita meluncur ke Bandung.

Kalau tahun lalu saya khawatir beser, pada tahun ini saya bawa bayi yang juga bikin saya khawatir. Bagaimana kalau nanti dia rewel? Bagaimana kalau nanti dia pup di jalan? Dan yang paling repot to the max adalah barang bawaan saya (hahaha).

Alanna sudah mulai makan, jadi deh saya bawa segala macam perlengkapan memasak. Memang ibu-ibu rempong banget deh. Mungkin ibu-ibu lain lebih pintar soal menyiapkan makanan, kalau saya sampai Alanna mau masuk 9 bulan ini rasanya kok belum cerdas juga, ya.. (Maafkan mamamu Alanna, tapi mama masih terus belajar kok via internet dan nonton video tutorial di YouTube :D)

Selama libur Lebaran di Bandung kekhawatiran saya tidak terbukti. Alanna baik-baik saja sepanjang perjalanan (dari Jakarta dan balik dari Bandung ke Jakarta), dia malah tidur dengan nyaman di carseat. Selama di Bandung, makannya juga cukup bagus, apalagi karena banyak yang mengerumuni dia (kayaknya Alanna memang senang jadi pusat perhatian). Dia juga menikmati digendong-gendong dari satu Eyang ke Eyang yang lainnya.

Alanna juga terlihat senang saat dapat banyak amplop berisi uang (haha..). Kayaknya itu karena dia senang sama kertas-kertas berwarna. Untung saja nggak dia makan. Jadi kesimpulannya, memang sebenarnya yang paling repot itu saya, karena harus bikin makanan segar setiap hari (akibat kulkas di rumah Bandung full terus). Belum lagi saya harus packing barang-barang yang banyak banget (fyi saja, sudah packing ribet-ribet, saya dan Yudo malah kelupaan bawa popok Alanna..hehe). Mungkin setelah ini, saya harus belajar untuk packing yang lebih ringkas, apalagi untuk jalan-jalan sama bayi.

Alanna hitung uang
Uangnya bisa buat beli berapa lipstik yaaa? hahaha

Begitulah cerita Lebaran pertama Alanna. Saya berharap Lebaran-Lebaran berikutnya juga bisa dia nikmati. Saya ingin dia merasakan hangatnya kebersamaan dengan keluarga dan tradisi saat Hari Raya. Saya mungkin cuma merasakannya sebentar waktu dulu, jadi saya berharap Alanna bisa merasakannya hingga dia dewasa nanti dan berkeluarga, kemudian meneruskannya ke anak-anak. Karena itulah makna Lebaran bagi saya, menikmatinya bersama keluarga.