Weaning With Love

Bosan nggak, sih, kalau blog saya isinya cuma tentang lipstik? Saya, sih, nggak, hehe.. tapi saya juga sebenarnya punya cerita lain yang ingin saya tulis di blog, salah satunya tentang motherhood alias kehidupan saya menjadi seorang ibu.

Saya memang nggak banyak cerita tentang anak saya atau bagaimana cara saya mengurusnya, karena saya sendiri merasa kurang percaya diri. Saya sebenarnya ingin seperti ibu-ibu yang menuliskan tentang setiap milestone anaknya atau menuliskan resep mpasi anaknya. Yah.. sayangnya, saya merasa gagal saat memberikan mpasi, haha, karena hampir setiap makanan yang saya buat, Alanna nggak doyan 😆.

Sejak mulai mpasi, Alanna memang susah banget makannya. Setiap hari, saya selalu stres gara-gara dia susah makan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tapi tetap saja anaknya susah makannya. Dia juga lebih suka menyusu langsung dari saya. Sejak saya tidak kerja kantoran lagi, otomatis Alanna selalu menyusu langsung dan tidak pernah lagi minum ASI di botol. Setelah usia 1 tahun, minum susu UHT pun jarang.

Makanya, saya sempat merasa pesimis bisa menyapih. Nah, soal menyapih inilah yang akan saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud sok tahu atau pamer, tapi saya ingin sekadar sharing. Sejak punya anak, saya senang banget baca blog ibu-ibu yang bercerita seputar motherhood, terutama tentang segala kesulitan dan pengalaman yang mereka rasakan. Ada beberapa pengalaman mereka yang saya rasakan juga dan saat itulah saya merasa tidak sendiri. Itulah kenapa saya juga mau cerita tentang proses menyapih Alanna.

Sejak awal, saya memang berniat ingin melakukan Weaning With Love (WWL) atau Gentle Weaning. Kalau dulu orangtua selalu cerita susahnya menyapih, hingga berbagai cara dilakukan. Mulai dari nakut-nakutin si anak, biarin dia nangis terus-terusan, sampai menaruh obat merah di puting, dan lain sebagainya. Setelah itu, biasanya ada proses si anak sakit atau si ibunya juga sakit karena payudaranya bengkak. Duh, dengar cerita gitu saja saya sudah stres.

Lalu saya sempat baca sebuah artikel yang ditulis oleh teman saya, tentang menyapih anaknya tanpa pemaksaan dan perlahan-lahan. Semua itu dimulai dari memberitahu anak kita bahwa sudah saatnya dia berhenti menyusu dan itu dimulai sejak anak kita usia 18 bulan.

Jadilah saya coba juga, setiap Alanna minta menyusu, saya selalu ingatkan kalau sudah usia 2 tahun nanti dia harus berhenti menyusu. Walaupun Alanna terkesan seperti mengabaikan hal ini, saya tetap saja selalu memberitahunya. Bahkan ada masa di mana, Alanna malah teriak-teriak setiap saya bilang dia harus berhenti menyusu.. haha, sepertinya dia tahu ya.

Saat usianya dua tahun pun, Alanna masih sering banget menyusu.

Salah satu tips yang saya baca tentang WWL ini adalah, kita tidak menolak tapi juga tidak menawarkan ASI.

Jadi setiap Alanna minta saya kasih, tapi kalau dia tidak minta, ya, saya tidak menawarkan.

Lama-kelamaan, frekuensi menyusunya pun berkurang. Yang tadinya 5x sehari, bisa jadi 2x sehari, yaitu pagi dan malam.

Eh, sudah sukses mengurangis ASI, tiba-tiba Alanna sakit. Dia terkena virus yang menyebabkan dia muntah-muntah dan nggak mau makan sama sekali. Jadilah dia kembali sering menyusu, karena saya khawatir kalau Alanna tidak dapat asupan makanan sama sekali.

Gara-gara sakit itulah, saya jadi merasa mengulang proses WWL dari awal. Saya mulai lagi dengan memberitahunya berulang-ulang, tapi setiap saya beritahu dia malah merengek atau menangis. Saya sempat merasa makin pesimis, apalagi dengan ‘pressure’ di sekeliling saya.

Mulai ada, deh, yang ngomong seperti ini:

“Sudah gede belum disapih juga?”

“Idih masa masih nenen?”

“Yah.. gagal, deh, makin besar makin susah lho..”

Untungnya, saya mulai baca-baca dari berbagai sumber tentang mitos atau anggapan yang salah tentang proses menyapih, misalnya:

“Kalau kelamaan nenen, anaknya jadi manja, lho..”

Sebenarnya nggak ada penelitian yang mengatakan anak yang terlalu lama menyusu dari ibunya akan jadi anak manja. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan, anak yang disapih pelan-pelan dan karena kemauan si anak sendiri membuat dirinya lebih mandiri.

“ASI setelah dua tahun mah ga ada gizinya”

Ini juga salah. Karena ASI ternyata menyesuaikan gizi sesuai keperluan si anak. Hebat kan? Jadi nggak perlu takut kalau ASI kita tak bergizi. Selama kita makan-makanan sehat, anak kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

“2 tahun itu udah ketuaan buat anak menyusu”

Sebenarnya berapa lama si anak menyusu itu berbeda-beda. Ada, kok, anak yang menyusu sampai usia 3 tahun dan itu sah-sah saja. Menyusu adalah hubungan spesial antara ibu dan anak, karena hal itu spesial maka setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu pusing untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain atau pengalaman kita dengan pengalaman orang lain.

Akhirnya, saya pun memahami, bahwa yang membuat saya kesulitan menyapih bukan anak saya, tapi suara-suara di luar sana yang memberi tekanan, membuat saya stres, dan sama sekali tidak memberikan solusi.

Itulah makanya, para ibu perlu memiliki support system, sesama ibu yang saling mendukung dan bukan malah saling menjatuhkan.

Setelah beberapa minggu sejak sakit, Alanna akhirnya kembali berkurang menyusunya menjadi 2x sehari. Secara mengejutkan, dia pun mulai makan teratur dan akhirnya doyan makan nasi plus lauk. Biasanya, ya, dia nggak mau makan nasi. Kadang pasta, kadang roti, kadang cereal, kadang kentang, tapi hampir tidak pernah nasi.

Berat badannya pun tergolong susah naiknya. Kalau di Indonesia, dokter mungkin sudah memberikan macam-macam vitamin penambah nafsu makan, tapi dokter di sini bilang berat badannya normal (meski berada di bawah..hehe). Dia bilang Alanna anak yang sehat, tidak mudah sakit, aktif, dan ceria, jadi saya nggak perlu khawatir soal berat badannya.

Setelah makannya teratur, saya mulai berusaha untuk semakin mengurangi ASI. Kalau biasanya saat dia ngantuk, dia akan minta menyusu dan tertidur, sekarang setiap dia mengantuk saya akan tawarkan untuk menggendong dia saja. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama mau.

Hal yang sama juga mulai saya terapkan saat malam hari. Saat dia mau tidur dan minta ASI, saya tawarkan untuk menggendong saja. Awalnya dia nangis, tapi untungnya tidak lama dan akhirnya dia pun mau tidur tanpa harus menyusu. Jadwal ASI yang tadinya 2x sehari pun akhirnya jadi 2 hari sekali. Lama-lama akhirnya Alanna lupa dan saya pun lupa, tak terasa sudah lebih dari sebulan Alanna berhasil disapih.

Dengan cara menyapih pelan-pelan seperti ini, saya juga tidak perlu mengalami sakit akibat payudara bengkak. Semua tampaknya baik-baik saja.

Itu semua terjadi saat usia Alanna 2 tahun 5 bulan. Persis seperti cerita teman saya yang juga berhasil menyapih anaknya di usia segitu.

Hal yang saya pelajari juga saat menyapih adalah, anak pada akhirnya akan berhenti menyusu.

Cepat atau lambat dia juga akan berhenti dengan sendirinya, jadi nggak perlu kita paksa. Sama seperti saya juga yakin, ketika dulu Alanna nggak doyan makan, saya mikir, nanti juga akan doyan, kok. Saya saja ingat waktu kecil saya susah banget makannya dan sangat picky, sekarang ternyata baik-baik saja dan malah jadi susah nurunin berat badan (hahaha).

Oh iya, satu lagi kunci sukses menyapih anak, yaitu sabar. Saya sendiri bukan orang yang penyabar. Pada akhirnya, sih, saya lebih ke pasrah daripada sabar (hehe). Karena memang persoalan menyapih ini kesabaran kita diuji banget. Kalau mau menyapih dengan cara ini memang harus pelan-pelan. Tahapannya terkesan lama (dan tiap anak mungkin berbeda-beda jangka waktunya sampai akhirnya berhasil disapih), jadi ya balik lagi ke diri kita bagaimana caranya agar bisa bersabar.

Begitulah cerita singkat saya soal menyapih anak. Semoga bisa sedikit membantu para ibu yang juga berniat untuk menyapih anaknya.

Advertisements

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

First Time Vlogging

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencoba vlogging (video blogging), gara-gara terinspirasi dari banyak vlogger saat ini. Saya mungkin nggak bisa mendapatkan follower sebanyak mereka, tapi saya melihat vlogging ini layaknya sebuah diary dalam bentuk video.

Akhirnya setelah mendapatkan kamera baru dari suami (very very early birthday present..hehe), saya pun membulatkan tekad untuk memulai vlogging. Apalagi rasanya sayang kalau tinggal tiga tahun di Wina dan memiliki kesempatan untuk menjelajah beberapa kota lainnya di Eropa, tapi tidak saya abadikan lewat video.

Untuk vlog pertama, saya lakukan akhir pekan lalu saat kami (saya, suami, dan si anak kesayangan) bermain-main ke Stadtpark, sebuah taman kota di Wina. Ternyata mengedit video seru juga dan saya benar-benar baru belajar kemarin. Memang, sih, terlihat masih sedikit amatir, but I know practice makes perfect! Jadi semoga nantinya saya bisa lebih sering latihan dan bikin vlog.

Berikut ini vlog pertama saya 😀

Spending Weekend at Tiergarten Schönbrunn, The Oldest Zoo in the World

Menghabiskan akhir pekan di Wina beda banget dengan di Jakarta. Biasanya di Jakarta, tujuan jalan-jalan saat weekend paling cuma ke mall dan mall. Nah, di Wina kalau Sabtu, mall dan toko-toko tutup jam 6 sore, termasuk juga supermarket (nggak seru banget!). Sedangkan Minggu, semuanya tutup (kecuali restoran dan kafe).

Untungnya, di Wina masih banyak hiburan lainnya saat weekend, seperti taman, museum, dan kebun binatang. Sudah sejak lama saya memang meniatkan diri untuk mengajak Alanna ke kebun binatang di sini saat Summer.

Nah, pas banget kemarin udaranya lagi enak. Seminggu sebelumnya sempat panas banget, habis itu mendadak hujan terus-terusan. Saat hari Minggu kemarin, cuacanya cerah tapi anginnya dingin. Suhunya juga berkisar antara 22-24 derajat Celsius, jadi pas banget deh buat jalan-jalan outdoor.

Tiergarten Schönbrunn (kalau diterjemahkan jadi Kebun Binatang Schönbrunn) merupakan kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang ini dibuka pada tahun 1752 dan awalnya menjadi tempat menyimpan koleksi binatang eksotis milik Raja Austria. Makanya letak kebun binatang ini pun berdekatan dengan kompleks Istana Schönbrunn (yang meski berdekatan kalau jalan rasanya jauh juga.. hehe.. karena memang besar banget).

schonbrunn zoo-bluestellar (5)
Wefie dengan latar belakang llama.. tapi itu kok llamanya ada yang pingsan? 😀

Dulunya, kebun binatang ini bermula dari Central Pavilion, sebuah paviliun yang dibuat untuk para anggota kerajaan sarapan. Sekarang, Central Pavilion itu menjadi salah satu restoran di kebun binatang ini.

Harga masuk ke Tiergarten Schönbrunn ini €18.50 untuk dewasa, €9 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Bisa juga membeli tiket tahunan seharga €49, jadi bisa sepuasnya deh selama setahun keluar masuk ke situ.

schonbrunn zoo-bluestellar (10)
Central Pavilion yang sekarang jadi restoran

Kebun binatang ini sangat nyaman untuk orangtua yang membawa anak-anak dengan stroller. Selain itu, penataan setiap kandang binatangnya pun rapi. Meski ramai, sama sekali nggak merasa berdesak-desakan dan jalan-jalan pun terasa santai.

Jika capek, restoran dan kios-kios makanan hampir ada di setiap sudut. Ada juga playground khusus buat anak-anak dengan beragam permainan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana, anak-anak juga bisa menaiki kuda poni atau bermain-main dengan anak kambing (lucu banget..).

schonbrunn zoo-bluestellar (1)schonbrunn zoo-bluestellar (2)schonbrunn zoo-bluestellar (6)schonbrunn zoo-bluestellar (7)schonbrunn zoo-bluestellar (8)

Selain binatang-binatang seperti gajah, jerapah, badak, singa, dan macan, ada juga lokasi khusus rainforest yang kalau masuk ke dalamnya rasanya persis seperti di negara tropis, panas dan lembap.

Ada juga binatang seperti pinguin dan beruang kutub di bagian khusus binatang-binatang dari wilayah kutub. Sementara atraksi utama kebun binatang tersebut saat ini adalah dua panda kembar yang baru saja lahir pada Agustus tahun lalu, Fu Feng dan Fu Ban. Anak panda kembar pertama yang lahir di kebun binatang Schönbrunn.

Oh iya, ada juga waktu-waktu khusus saat si binatang diberi makan. Jadwalnya ada di peta yang bisa didapatkan di bagian informasi dan tiap binatang punya jadwal yang berbeda.

Pada dasarnya saya memang suka ke kebun binatang, jadi menghabiskan akhir pekan di sini terasa menyenangkan. Apalagi Alanna juga terlihat excited melihat binatang-binatang (meski pinguin dia bilang bebek.. haha). Dia juga suka lihat gajah yang besar, jerapah yang lehernya panjang dan tinggi, serta kawanan flamingo warna pink (yang dia panggil ming-go).

schonbrunn zoo-bluestellar (3)schonbrunn zoo-bluestellar (9)

Sayangnya saat ke kebun binatang kemarin, saya baru sampai di sana jam 1 siang. Enaknya, sih, dari pagi jam 10 sudah di sana supaya jalan-jalannya lebih santai dan semua tempat dikunjungi. Saya tidak sempat ke bagian serigala dan kucing linx yang agak jauh, karena kebun binatang tersebut tutup jam 6 sore. Kalau ke sana saat winter, tutupnya lebih cepat, yaitu jam 5 sore.

Segitu dulu ya, cerita dari saya.. Semoga seterusnya bisa cerita lebih banyak tentang Wina. Masih ada waktu dua tahun lagi untuk mengenal lebih banyak soal kota yang satu ini.

Euro Trip 2017: First Stop, Budapest

Hello.. sudah lama saya tidak update di blog ini dan sekarang saya ingin cerita soal perjalanan saya keliling beberapa negara di Eropa dalam waktu dua minggu terakhir kemarin.

Akhir Maret lalu, saya kedatangan mertua saya. Mereka rencananya akan tinggal di Wina hingga awal Juni mendatang (yeay.. Alanna nggak kesepian lagi, saya juga hehe). Kemudian datang pula kakak dan adik dari ibunya Yudo, jadilah di rumah makin ramai.

Untuk trip kali ini, saya sebenarnya cuma nimbrung saja, jadi soal rute dan tempat-tempat yang dikunjungi saya nggak ikut milih. Tadinya saya sempat berpikir hanya akan ikut seminggu saja, tapi setelah dipikir lebih lanjut kayaknya bakal repot, apalagi saya bawa bayi dan Yudo juga tidak bisa ikut karena belum dapat cuti. Dia baru akan nyusul saat long weekend libur Paskah di tanggal 14 April.

Oke, mari kita mulai dari perjalanan pertama kami. Dari Wina, kami menuju Budapest, Hongaria (Hungary). Saya sendiri belum pernah ke Budapest, padahal kota ini terbilang cukup dekat dari Wina, yaitu sekitar 3 jam perjalanan memakai mobil. Di Budapest, kami hanya menginap semalam, jadi waktu untuk jalan-jalan pun sebenarnya tidak banyak.

Hari pertama, kami menghabiskan waktu di pusat kota, sambil keluar masuk toko souvenir. Budapest saat itu juga tengah diramaikan oleh bazar yang dipenuhi kios-kios kecil berisi makanan, produk kerajinan tangan, dan lainnya. Saya tidak tahu apakah itu bazar permanen atau untuk memeriahkan Hari Paskah yang dirayakan pada pertengahan April kemarin.

Setelah dari sana, kami berjalan-jalan di pinggir sungai Danube sambil berfoto-foto. Sungai ini sendiri melintasi beberapa kota dan negara, termasuk Wina (Austria) dan Bratislava (Slovakia).

Sore harinya, kami menaiki kapal yang berkeliling di sungai tersebut sambil menikmati pemandangan kota Budapest yang terdiri dari Buda (kota tua dengan Buda Castle yang terkenal dan sederetan bangunan antik lainnya) dan Pest (yang lebih modern dan menjadi pusat pemerintahan). Dua wilayah yang terpisahkan oleh Sungai Danube dan Chain Bridge yang juga menjadi landmark dari kota tersebut.

Cuaca kala itu cukup bersahabat. Cerah dengan angin yang sejuk. Namun begitu masuk ke sore hari, terutama saat di atas kapal, baru, deh, terasa sangat dingin. Ada beberapa jenis kapal yang menawarkan jasa mengelilingi Sungai Danube tersebut, tinggal pilih saja, deh, mau yang sederhana atau mau yang agak mewah, karena ada juga kapal yang di dalamnya terdapat restoran. Yang pasti, setiap kapal menyediakan penjelasan mengenai sejarah Budapest selama perjalanan mengelilingi sungai selama kurang lebih satu jam.

Keesokan harinya, kami berjalan-jalan di sekitar Gedung Parlemen, Buda Castle, Matthias Church, dan Fisherman’s Bastion. Memang, sih, tempat yang kami kunjungi tidak banyak, tapi saya sangat menikmati arsitektur Gothic yang cantik dan pemandangan Kota Budapest yang bisa dilihat dari atas Fisherman’s Bastion.

Masih banyak lagi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Budapest, yang dinobatkan sebagai salah satu kota tercantik di Eropa. Nggak salah, sih, kotanya memang cantik banget, terutama kota tuanya yang memang dijaga dengan baik. Ah well, meski nggak sempat ke banyak tempat, berikut ini beberapa foto yang (semoga) bisa menggambarkan kecantikan kota Budapest.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Buda Castle
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hungarian Parliament Building
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chain Bridge di atas Danube River
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Budapest
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sunset di Kota Budapest
matthiaschurch
Matthias Church sebagai latar belakang
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Fisherman’s Bastion
fishermanbastion
Di depan Fisherman’s Bastion
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan Budapest diambil dari atas Fisherman’s Bastion

Next destination: Zagreb, Croatia.
(All photos taken by me — except when I’m in it 😊)

Celebrating New Year with Trip to Madrid

Halo 2017.. Saya tidak sempat menuliskan apa saja yang terjadi di 2016 kemarin. Ah well, yang pasti sepanjang 2016 banyak memori menyenangkan dan banyak perubahan dalam hidup saya. Berhenti kerja dan pindah ke Austria merupakan langkah besar dalam hidup saya. Menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak secara full time juga bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan dalam hidup saya. Meski begitu, saya menikmati setiap menitnya.

Anyway, hari pertama di tahun 2017 saya habiskan dengan berlibur ke Madrid, Spanyol. Ini bukan liburan keluarga, melainkan liburan bersama ibu-ibu Dharma Wanita di Wina. Jujur saja, sebenarnya saya deg-degan, karena ini merupakan pertama kalinya saya pergi berlibur membawa Alanna tanpa keluarga. Saya pernah pergi berlibur dengan Alanna bersama mama dan kakak saya, tapi cuma ke Bandung dan cuma tiga hari. Waktu itu juga sempat ke Frankfurt bersama mama, dan juga cuma tiga hari.

Sedangkan perjalanan ke Madrid ini selama 6 hari 5 malam, dengan jadwal yang cukup padat. Untungnya, karena pergi bersama ibu-ibu yang pastinya lebih berpengalaman dari saya soal mengasuh anak, saya cukup dibantu sepanjang perjalanan.

Kesan saya selama di Madrid, sumpah saya capek, haha.. Ada beberapa tempat di mana saya tidak bisa bawa stroller, sementara perjalanannya naik-turun tangga, jadilah saya gendong Alanna kemana-mana sampai punggung pegal. Saya memang bawa gendongan, tapi karena jaket tebal dan licin (udara di sana di bawah 10 derajat dengan angin yang cukup dingin), jadilah Alanna merosot terus. Padahal minggu-minggu sebelumnya di Madrid cuaca cukup cerah dan suhu di atas 10 derajat, jadi cukup nyaman. Entah kenapa, justru pas saya di sana, cuacanya malah jadi dingin dan beberapa kali hujan.

Untungnya, selama perjalanan, Alanna tergolong anteng dan jarang rewel. Dia juga tidak sampai sakit atau kecapekan, walaupun makannya jadi agak tidak teratur. Jika dilihat secara keseluruhan, saya memang kurang puas menikmati liburan ini. Sepertinya banyak tempat yang ingin dilihat, tapi waktu sepertinya cepat banget berlalunya. Lalu ada beberapa tempat yang sebenarnya ingin saya nikmati, tapi tidak kesampaian. Sebenarnya saya ngiler sama jalan-jalan di kota Madrid yang ada deretan toko-toko, mirip seperti di Times Square New York. Jalan-jalan pun terasa kurang santai, karena mengejar banyak tempat yang dikunjungi, yang sebagian besar justru di luar kota Madrid.

Memang, sih, kotanya cantik banget. Banyak gedung-gedung kuno dan arsitektur menarik yang bisa dilihat. Selain itu, Madrid itu kota yang ramai banget (kalau saya bandingkan dengan Wina yang kayaknya adem ayem). Hingga pukul 12 malam saja, kota ini masih ramai dengan orang yang berjalan-jalan di pusat kota atau sekadar mencari snack di malam hari (pastinya pilihan para turis adalah churros.. yang menurut saya bentuknya kayak cakue, hehe).

Oh iya, saya juga sempat menonton pertunjukan Flamenco, tarian khas Spanyol. Buat para turis, sepertinya harus nonton, karena memang menghibur banget (walaupun kita nggak ngerti apa yang mereka nyanyikan). Bahkan Alanna saja menikmati banget pertunjukan ini. Pertunjukannya sendiri di dalam restoran jadi bisa sambil makan malam, tapi bisa juga memilih tanpa makan malam (hanya minuman dan cemilan saja). Lama pertunjukannya sekitar 1,5 jam dengan beberapa sesi tarian dan nyanyian. Pokoknya seru banget, menurut saya.

Selain Madrid, saya juga mengunjungi Toledo dan Segovia. Sebenarnya ada juga jadwal ke Cordoba, tapi saya memilih tidak ikut karena jarak yang cukup jauh dari Madrid (4-5 jam menggunakan mobil atau 2 jam menggunakan kereta). Akhirnya saya memilih untuk tetap tinggal di wisma dubes tempat kami menginap untuk beristirahat seharian penuh. Siapa tahu saya bisa ke sini lagi bersama suami dan jalan-jalannya bisa lebih santai.

Ini sedikit foto-foto saya bersama Alanna di Madrid.

toledo
Toledo, Spain
img_4290
Plaza de Toros
img_4400
Toledo
andhina-alanna-madrid-palace
Catedral de Santa Maria la Real de la Almudena
andhina-alanna-toledo
Me and Alanna
andhina-alanna-madrid
In front of Santiago Bernabeu Stadium
andhina-segovia
Alcazar de Segovia

 

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀