Trip to Barcelona, Spain

Aduh.. duh.. sebenarnya cerita ini sudah agak basi ya (atau malah udah basi banget), hahaha.. Begitulah kadang-kadang punya ide tulisan banyak, tapi memulai untuk menulisnya itu yang agak malas.

Oke, cerita singkat saja kali ya. Jadi pas liburan Natal tahun kemarin (iya, tahun 2017 kemarin), saya, Yudo, dan Alanna memutuskan untuk pergi berlibur ke Barcelona, Spanyol. Kami memilih kota ini, karena setelah browsing, tiket pesawat ke Barcelona-lah yang paling terjangkau di antara yang lain. Saya juga belum pernah ke sana, jadi berangkatlah kami.

barcelona-bluestellar (2)

Kami di sana selama 3 hari 2 malam dan menginap di Hotel Jazz, yang sangat kami rekomendasikan. Hotelnya enak dan letaknya strategis banget. Tinggal jalan sedikit sudah banyak toko-toko dan tidak terlalu jauh dari Plaza Catalunya.

Dari airport kami naik shuttle bus yang haltenya tidak jauh dari hotel, jadi sangat memudahkan untuk para turis, deh. Apalagi harga tiketnya pun tidak mahal (lumayan mengirit biaya taksi dari airport ke hotel dan dari hotel ke airport).

Hari pertama, kami jalan-jalan ke Camp Nou, yang menurut saya sangat melelahkan. Kenapa? Karena tempat ini tidak stroller friendly. Waktu ke sana, Alanna sedang asyik tidur di stroller. Jadilah kami mengangkat-angkat stroller mengelilingi stadion yang banyak anak tangganya ini. Huft!

Setelahnya, kami jalan-jalan keluar masuk toko, deh. Oh iya, meski malam Natal, toko-toko di Barcelona tetap buka sampai jam 8 malam. Katanya, biasanya tiap hari Minggu toko-toko sebenarnya tutup. Namun selama bulan Desember, toko-toko itu buka terus selama 7 hari dalam seminggu demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang mau belanja kebutuhan Natal. Enak, ya.. kalau di Wina mah udah bye, deh, kayak kota sepi nggak ada toko yang buka.

Hari kedua, kami keliling pakai bus tour, mulai dari Sagrada Familia sampai Park Guell. Ini merupakan dua tempat yang wajib dikunjungi turis kalau ke Barcelona. Dua tempat ini merupakan hasil karya Antoni Gaudi, arsitek kebanggaan Barcelona. Banyak sebenarnya hasil karya dia, tapi tidak sempat kami datangi semua.

barcelona-bluestellar (3)
Sagrada Familia

barcelona-bluestellar (4)

barcelona-bluestellar (1)
Park Guell

Hari ketiga, kami berfoto-foto di sekitar Plaza Espana. Setelahnya, kami ke mall yang katanya buka sepanjang tahun, karena letaknya dekat dengan Marina. Sorenya, kami pulang kembali ke Wina, deh.

Jujur, saya suka banget kota ini, karena rasanya begitu ‘hidup’. Pilihan makanannya juga bervariasi, meskipun jam makan malamnya aneh (menurut saya). Restoran pada umumnya tutup sore hari dan baru buka jam 9 malam untuk waktu makan malam.

Kalau mau lihat lebih jelas lagi soal Barcelona, silakan ditonton saja vlog saya selama 3 hari 2 malam di sana.

 

 

Advertisements

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

Trip to Slovenia

Pada awal Oktober lalu, saya, suami, anak, dan ibu saya pergi berjalan-jalan ke Slovenia. Awalnya kami ke Budapest, Hongaria, terlebih dulu, baru kemudian kami bergerak menuju Ljubljana, Ibu Kota Slovenia.

IMG_7295.jpg
Sungai Ljubljanica

Sebelum pindah ke Austria, saya sebenarnya belum pernah mendengar Kota Ljubljana, tapi ternyata kota kecil ini juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Kota Ljubljana memang tidak tergolong besar, namun banyak spot menarik dan kotanya nyaman banget.

old town ljubljana
Old Town Ljubljana

Satu hal yang menarik bagi saya adalah, kota ini sangat memperhatikan kebersihan. Di sudut-sudut kota terdapat tempat sampah yang dibeda-bedakan berdasarkan kategorinya (tempat sampahnya pun bentuknya canggih banget). Saya juga suka banget melihat kafe-kafe yang berjajar di pinggir Sungai Ljubljanica dan ada banyak toko pernak-pernik lucu yang barang-barangnya kebanyakan handmade.

6176649568_IMG_1218.jpg
Deretan kafe di pinggir Sungai Ljubljanica

Setelah dari Ljubljana, kami meneruskan perjalanan ke kota kecil lainnya bernama Bled. Di sini ada kastil tertua di Slovenia dan ada Danau Bled yang terkenal di Slovenia. Serunya (baca: capek banget) saat harus jalan mendaki untuk mencapai Kastil Bled. Untungnya sampai di atas, kami disuguhi pemandangan yang cantik banget.

danau bled
Pemandangan Danau Bled dari atas kastil
kastil bled
Di atas Kastil Bled

Di atas kastil juga ada kafe (jadi setelah capek jalan, langsung ngopi, deh) dan restoran. Saya juga sempat mencicipi Cream Cake, yang katanya merupakan salah satu kue khas di kota ini. Ternyata memang enak! Perpaduan krim vanilla yang lembut dan bagian crust yang crispy memang lezat banget.

Saya nggak akan cerita banyak di sini, kalau mau lihat seperti apa Ljubljana dan Bled di Slovenia. Tonton saja vlog saya berikut ini. Pssstt… jangan lupa subscribe ya! 🙂

 

Euro Trip 2017: Prague, The Fairy Tale City

Oke, sampailah saya di akhir perjalanan keliling beberapa negara Eropa tahun ini. Destinasi terakhir kami adalah Praha alias Prague, Ibu Kota Republik Ceko. Praha ini memang terkenal sebagai kota wisata yang dihiasi gedung-gedung kuno dan antik. Belum lagi patung-patung kuno yang memiliki makna sejarah tersendiri.

Kota ini juga dikenal dengan sebutan “The city of thousand spires” alias kota dengan ribuan menara, karena memang di kota ini terdapat banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.

Sayangnya, saya hanya sempat menginap semalam di kota ini dan hanya sempat berjalan-jalan sebentar saja di kota tuanya. Beberapa tempat yang menarik di Praha ini antara lain, Astronomical Clock, jam yang dibuat pada abad pertengahan ini begitu rumit, karena menggambarkan pergerakan matahari dan bulan, serta tanggal, jam, hingga zodiak (haha, saya juga nggak bisa bacanya, sih..). Ada juga Charles Bridge yang melintas di atas Sungai Vltava, yang dihiasi 30 patung santo.

Praha ini juga dikenal sebagai “Fairy tale city”, karena setiap landmark di kota ini punya cerita dongeng atau legenda atau mitos (yang tentu saja bisa dipercaya, bisa juga tidak). Soal Astronomical Clock, misalnya, saking hebatnya jam tersebut, pemerintah setempat tidak menginginkan ada negara lain yang memiliki jam serupa. Sehingga atas perintah dewan kota Praha, si pembuat jam terpaksa dibutakan matanya agar dia tidak bisa membuat ulang jam tersebut. Si pembuat jam pun kesal dan dia merusak jam tersebut hingga tak bisa digunakan lebih dari satu abad lamanya.

Lalu ada pula cerita dongeng tentang pembuatan Charles Bridge, yang kerap mengalami kerusakan. Bangunannya sering roboh dan akhirnya sang arsitek meminta bantuan pada “iblis” untuk membantunya membuat jembatan tersebut. Si iblis memenuhi permintaan arsitek dengan syarat, dia meminta tumbal orang pertama yang melintasi jembatan tersebut. Si arsitek mencoba untuk mengakali iblis dengan membawa seekor ayam dan berusaha menyuruh ayam itu untuk melintasi jembatan. Tahu akan diakali oleh arsitek, iblis pun pergi ke rumah arsitek dan mengatakan pada istri arsitek kalau dirinya ditunggu oleh suaminya di jembatan tersebut. Ketika arsitek sampai di jembatan, dia baru sadar kalau istrinya sudah melintasi jembatan itu dan dia pun menjadi tumbal untuk si iblis. (hii.. serem ya).

Nah, legenda lainnya (yang katanya fakta, sih) adalah kisah tentang Holy Roman Emperor Charles IV, yang sangat percaya akan numerologi. Saat Charles Bridge ini akan dibangun, dia berkonsultasi dulu pada ahli numerologi untuk mencari tanggal baik. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 1357, hari ke-9 dari bulan ke-7, pada pukul 5:31 pagi. Raja Charles pula yang meletakkan batu pertama dari jembatan tersebut.

Cerita lainnya mengisahkan tentang salah satu patung yang terdapat di Charles Bridge, yaitu Jan of Nepomuk (Santo John), patung santo yang di atas kepalanya dihiasi lingkaran dengan lima bintang. Legenda menceritakan tentang Wenceslas IV, putra dari Raja Charles, yang dikenal sebagai pria menyebalkan. Wenceslas meminta Jan, yang merupakan seorang pastor, untuk menceritakan rahasia apa yang diceritakan Ratu pada Jan. Namun Jan menolak dan akibatnya lidah Jan malah dipotong (ew!). Jan pun diikat dan dimasukkan ke dalam karung, lalu dibuang ke sungai dari atas Charles Bridge. Meski arus sungai cukup deras kala itu, tubuh Jan tetap mengambang di tempat yang sama selama beberapa hari. Begitu tubuhnya tenggelam, tampak lingkaran dengan lima bintang di atas air. Sekarang, Jan malah menjadi salah satu patung santo pelindung di Charles Bridge.

Saya sendiri memang suka banget dengan cerita dongeng dan mitos seperti ini. Jadi penasaran pengen tahu lebih banyak soal dongeng-dongeng di Kota Praha. I definitely gonna go back here again. Waktu saya ke sana, saya tidak sempat menjelajahi Charles Bridge, karena baru sampai beberapa meter ke tengah, hujan turun dengan deras (huhu).

Begitulah cerita jalan-jalan saya keliling beberapa negara Eropa yang diakhiri dengan “saya masih belum puas” haha.. Sepertinya yang namanya liburan memang suka begitu ya, apalagi kalau liburannya seperti saya ini yang nggak pakai itinerary yang jelas, akibatnya banyak waktu yang kebuang karena bingung mau ke mana.

Ah well, setidaknya saya sempat mendatangi beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Semoga nanti bisa jalan-jalan lagi (sebelum saya kembali ke Indonesia tahun 2019) dan bisa share ceritanya di sini. Cheers!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Astronomical Clock
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saint Ivo, salah satu patung santo di Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kota Praha yang dihiasi gedung-gedung kuno
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cuma punya satu foto langit Praha yang cerah, selebihnya mendung.. hiks
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava dan Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava

(All pictures taken by me)

Euro Trip 2017: Short Time in Hamburg and Berlin

Perjalanan kami pun dilanjutkan menuju Jerman, tepatnya ke Kota Hamburg. Mengapa kami ke sini? Alasannya, karena ayah ibu mertua saya dan Yudo ingin bernostalgia, begitupula salah satu bude Yudo yang dulu pernah tinggal di kota tersebut.

Yudo pun akhirnya menyusul kami di Kota Hamburg, karena waktu itu memasuki long weekend menjelang Paskah. Di Hamburg, kami napak tilas ke rumah yang pernah ditempati oleh Yudo sekeluarga. Kami bahkan secara tak sengaja bertemu dengan tetangga-tetangga Yudo dulu yang ternyata masih tinggal di situ. Tadinya kami pikir tak ada orang di rumah, karena tentunya banyak orang yang memilih menghabiskan long weekend di luar kota.

Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, kami pun lantas ke KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Hamburg, tempat mama Yudo merasakan penempatan pertama. Yup, being a diplomat runs in Yudo’s family, hehe. Ada pula beberapa orang staf yang masih bekerja, bahkan setelah 20 tahun berlalu–wow.

Tidak banyak tempat yang kami kunjungi, at least bukan rempat yang menjadi destinasi wisata, karena memang tujuan kami ke sini sekadar untuk nostalgia dan bertemu teman lama. Saat di KJRI, saya dan Yudo sempat ‘ngabur’ sejenak mencari kebab, dan kami menemukan kebab enak banget tak jauh dari situ.

Selama di Austria saja, saya belum pernah menemukan kebab yang benar-benar enak, tapi yang ini enak banget, apalagi rotinya yang crispy melengkapi daging yang gurih. Saking besar ukurannya, kebab ini bahkan saya makan untuk makan siang dan makan malam. Sayangnya, saya lupa nama kebabnya (sorry), yang pasti letaknya nggak jauh dari KJRI Hamburg (siapa tahu ada yang penasaran..hehe).

Kami juga sempat berjalan-jalan ke Jungfernstieg, yang juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi para turis. Kayaknya, sih, tempat ini juga menjadi tempat nongkrong buat anak-anak muda. Bisa duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati kopi atau es krim. Kalau Alanna, sih, senang banget, karena banyak bebek dan angsa.. haha. Sayangnya, saat kami ke sana cuacanya lagi gloomy banget, mendung, dan akhirnya hujan pun turun. Kami hanya menginap semalam di Hamburg dan langsung melanjutkan perjalanan ke Berlin.

Di Berlin, tempat yang kami tuju tentu saja tembok berlin. Namun kami hanya melihat dari dalam mobil, karena lagi-lagi cuaca nggak bersahabat dan hujan turun cukup deras. Kami juga sempat ke Checkpoint Charlie, salah satu destinasi turis saat ke sini. Kita jadi belajar sejarah mengenai Berlin Barat dan Berlin Timur. Bagaimana dulu kota ini terbelah menjadi dua bagian, di mana Berlin Barat (katanya) hidup enak dan Berlin Timur dikuasai komunis.

Checkpoint Charlie ini merupakan perbatasan dari wilayah Berlin Barat yang dikuasai Amerika Serikat (ada juga sektor lainnya, yaitu Inggris dan Prancis) dengan Berlin Timur yang dikuasai Uni Sovyet. Nggak enaknya, suasana di Checkpoint Charlie ini ramai banget. Mau foto pun susah. Kalau mau foto sama tentara-tentaraan saja harus bayar. Sudah begitu, fotonya masa berlatar belakang McDonald’s.. padahal ini kan tempat bersejarah.

Selain Checkpoint Charlie, tempat lainnya yang juga menjadi destinasi para turis adalah Brandenburger Tor atau Brandenburg Gate. Monumen neoklasikal dari abad ke-18 ini merupakan gerbang yang menandai awal jalan dari Kota Berlin menuju Kota Brandenburg.

Kami juga cuma semalam menginap di Berlin, karena perjalanan panjang mengelilingi beberapa Kota Eropa selama kurang lebih 16 hari ini akan segera berakhir. Keesokannya, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota terakhir yang akan kami kunjungi, yaitu Praha di Republik Ceko.

Berikut ini sedikit foto-foto di Hamburg dan Berlin.

hamburg-2017 (1)
Di halaman belakang KJRI Hamburg
hamburg-2017 (2)
Ada yang senang lihat bebek 😀
hamburg-2017 (3)
Dingin-dingin makan es krim, hehe
hamburg-2017 (4)
Jungfernstieg, Hamburg
hamburg-2017 (5)
Yudo lagi nostalgia di KJRI Hamburg
berlin (2)
Checkpoint Charlie
berlin (3)
Foto dengan latar belakang McDonald’s di Checkpoint Charlie 😀
berlin (1)
Berlin Barat dan Berlin Timur

Next destination: Prague, Czech Republic.

Euro Trip 2017: Tulip Season in Keukenhof

Selesai dari Paris, kami pun melanjutkan perjalanan ke Negara Kincir Angin alias Belanda. Tujuan kami cuma satu, melihat tulip-tulip yang sedang bermekaran di Keukenhof.

Awalnya, kami kesulitan mencari penginapan yang masuk bujet, karena saat musim tulip hampir semua hotel di Belanda penuh atau harganya mahal banget. Kami pun akhirnya menginap di budget hotel di Den Haag, yang jaraknya sekitar 40 menit dari kota Lisse, tempat di mana taman Keukenhof berada.

Saya juga pernah ke sini dua tahun lalu, tapi karena saya dan Yudo datang di akhir bulan Maret, cuacanya masih sangat dingin, angin kencang, dan sering hujan. Selain itu, masih banyak bunga tulip yang belum mekar. Waktu terbaik untuk menikmati musim tulip ini memang pada pertengahan bulan April.

Jika tertarik ke sini, jangan lupa untuk merencanakan sejak jauh hari, terutama untuk booking hotel. Sedangkan untuk tiket masuk Keukenhof, selain bisa dibeli secara online, kita juga bisa beli secara langsung dan antreannya pun nggak terlalu panjang karena loketnya banyak.

Benar saja, begitu sampai di Keukenhof, deretan mobil dan bus turis tampak memadati sepanjang jalan menuju taman bunga tersebut. Di dalamnya pun sangat ramai, tapi tetap nyaman, karena kita masih bisa berjalan-jalan santai dan berfoto-foto (nggak sampai berdesak-desakan kayak di Dufan kalau lagi hari libur.. hehe).

Berbagai macam tulip tampak bermekaran. Warnanya macam-macam, jenisnya macam-macam, sampai saya bingung mau foto yang mana (kamera saya pun dipenuhi foto bunga!). Memang cantik-cantik banget, sih, bunganya. Susunannya pun menarik dengan mengombinasikan warna-warna kontras. Untungnya lagi, hari itu juga cukup cerah. Memang, sih, kadang ada awan mendung yang datang, tapi nggak sampai hujan deras. Puas, deh, jalan-jalan di sini.

Keesokan harinya, kami ke Volendam, yang dikenal sebagai desa nelayan, karena letaknya yang dekat dengan laut. Nah, di Volendam inilah tempat orang-orang (turis) berfoto memakai baju adat daerah tersebut.

Saya juga sudah pernah berfoto bareng Yudo dua tahun lalu, jadi tahun ini saya malas foto lagi. Kalau ke sini, ada beberapa studio foto yang menawarkan jasa tersebut, tinggal pilih saja paketnya yang mana. Biasanya tergantung jumlah dan besar foto yang akan dicetak. Jangan heran juga kalau menemukan sejumlah foto selebriti dan tokoh politik Indonesia digantung di etalase studio-studio foto tersebut. Mungkin karena orang Indonesia sering banget ke sini kali ya…

Tujuan saya ke Volendam sebenarnya cuma satu, yaitu makan poffertjes (haha). Saya ingat banget waktu ke sini dua tahun lalu, saya sedang mual-mualnya, tapi tetap semangat makan poffertjes. Sekarang, kan, sudah nggak mual lagi, jadi terasa enaknya dua kali lipat 😀

Di Volendam ini, karena dikenal sebagai desa nelayan, maka restorannya pun menawarkan aneka menu seafood yang enak. Jadi jangan sampai nggak mencoba calamary, ikan, udang, dan makanan seafood lainnya kalau di sini.

Oh ya, saya juga nggak punya foto-foto selama di Volendam, karena saat ke sana cuaca lagi nggak bersahabat banget. Hujan sepanjang saya di sana, jadilah saya ngumpet terus di bawah payung. Sambil dorong stroller, sambil bawa payung, jadi susah mau foto-foto.

Foto-foto yang sempat saya ambil selama di Belanda, ya hanya di Keukenhof. Siap-siap saja di bawah ini bakal banyak foto tulip. Enjoy! 😀

andhinalannakeukenhof

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(all photos taken by me, except when I’m in it)

Next destination: Hamburg, Germany.

Euro Trip 2017: Sunny Day in Paris

Dari Lucerne, kami pun melanjuti perjalanan menuju Paris, Prancis–Yeay! I love this city, walaupun cara menyetir orang-orang di sini kacau dan kotanya tidak sebersih kota-kota lainnya di Eropa, seperti kota-kota di Swiss yang bersih banget. Nggak tahu, ya, sejak belum pernah ke sini saja, Paris selalu menjadi kota impian yang ingin banget saya datangi.

Saya memang pernah ke Paris dua tahun lalu, tapi tetap rasanya nggak puas. Tahun ini, rasanya lebih spesial, karena saya pergi bersama Alanna, yang dua tahun lalu masih di dalam perut. Untungnya, saat kami berjalan-jalan di pusat kota Paris, cuaca sangat bersahabat, cerah-ceria, dengan sedikit angin sejuk. Saya pun melepas jaket tebal yang saya pakai selama di Lucerne hari sebelumnya.

Tujuan pertama kami, tentu saja Menara Eiffel. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dari berbagai sudut (haha.. namanya juga turis). Setelahnya, saya ingin banget berjalan-jalan di Champs-Elysees, sementara ibu mertua dan bude-bude ingin menaiki bus tur hop-on/hop-off yang keliling kota.

Setelah menemukan bus tur yang harganya lagi diskon, kami pun berkeliling menggunakan bus tersebut dan turun di Champs-Elysees. Tujuan saya cuma satu, SEPHORA! Haha, namanya juga pencinta lipstik sejati, saya pastinya menggila banget di sini, dan Sephora kan brand asal Prancis, sudah pasti koleksi brand-brand kosmetiknya lengkap banget (dan karena di Austria tidak ada Sephora, hiks). Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan lagi jalan-jalan di sekitar tempat tersebut.

Namun, kami nggak sadar kalau ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, padahal hari masih terang! Kami mencoba mencari bus tur yang kami naiki, tapi kok tidak ada. Saya membaca di brosurnya, ternyata last departure mereka adalah jam 5 sore..Oh no!

Kami akhirnya berjalan dari Champs-Elysees ke Plaza de la Concorde, karena tadi sempat melihat beberapa bus tur yang berhenti di situ. Kami pun menemukan si bus merah, yang merupakan bus tur kami, tapi ternyata mereka tidak akan kembali ke Menara Eiffel (tempat kami memarkir mobil). Jadilah, kami memutuskan untuk jalan dari Plaza de la Concorde ke parkiran di Menara Eiffel (which is jauh banget.. haha).

Namun ada untungnya juga, sih, berjalan kaki sejauh itu, karena kami jadi melihat sisi lain Paris. Selain itu, berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine menjelang sunset ternyata indah banget. Apalagi cuacanya sejuk, sehingga kami pun tidak merasa lelah.

Setidaknya, hal ini bisa jadi pelajaran. Pertama, sebaiknya pilih bus tur yang lebih mahal sedikit tapi armadanya lebih banyak, seperti Big Bus Paris atau L’Open Tour Paris. Kami memilih bus tur yang satunya lagi dan tampaknya armadanya lebih sedikit. Kedua, perhatikan jam saat menaiki bus tur. Tampaknya kami dapat harga lebih murah, karena kami baru menaiki bus tur tersebut menjelang jam dua siang (jelas saja jadi lebih murah). Kalau memang ingin menaiki bus hop-on/hop-off, sebaiknya mulai sejak pagi hari.

Keesokannya, kami pergi menuju Istana Versailles. Hari itu panas banget, matahari sangat terik, dan tidak ada awan sama sekali. Antrean untuk masuk ke Versailles pun mengular, jadinya kami juga malas untuk masuk ke dalam. Selebihnya, kami malah menghabiskan waktu di outlet tak jauh dari Versailles (yang sebenarnya bukan outlet yang oke, ah well.. saya, kan, cuma nebeng jalan-jalan).

Kalau boleh memilih, saya masih tetap ingin berjalan-jalan di Kota Paris. Saya juga masih penasaran dengan isi Museum Louvre. Jadi, selama saya masih tinggal di kawasan Eropa hingga 2019 nanti, saya berharap bisa kembali lagi ke Paris. Masih penasaran dan belum bosan balik lagi ke sana.. hehe.

Oh iya, Kota Paris ini memang cantik banget, tapi kita tetap harus berhati-hati. Soalnya seminggu setelah saya dari sini, terjadi lagi penembakan. Di Kota ini memang pernah terjadi beberapa kali aksi teror, seperti penembakan di kantor Charlie Hebdo dan penembakan massal saat konser metal pada 2015 lalu. Nah, penembakan yang baru-baru ini, terjadi di Champs-Elysees, deretan pertokoan yang ramai dikunjungi para turis.

Selain itu, jika diperhatikan, di pinggir-pinggir Kota Paris juga terlihat rumah-rumah kardus yang ditempati para migran dari Suriah. Miris, sih, melihatnya. Di satu sisi, Kota Paris jadi terlihat berantakan, di sisi lain sedih banget melihat kehidupan mereka yang tentunya jauh dari layak. Semoga masalah migran ini bisa diselesaikan. Saya, sih, nggak bisa banyak omong (siapa saya?), cuma bisa berharap yang terbaik bagi mereka.

Ini sedikit foto-foto saya selama di Paris.

alannaeiffel
Alanna in Paris
arc de triomphe
Arc de Triomphe
eiffel1
Selfie di depan Menara Eiffel
eiffel2
Yes.. another picture in front of the Eiffel Tower
paris1
Obelisk yang terletak di belakang Plaza de la Concorde
paris2
Sunset di Paris
paris3
Satu lagi foto sunset
seine
Sunset di pinggiran Sungai Seine

(All photos taken by me.. except when I’m in it :D)

Next destination: Netherlands.