Berry Pink Eyes Feat. Urban Decay Born to Run Palette

Saya lagi suka banget, nih, sama eyeshadow palette dari Urban Decay, yaitu Born to Run. Sebenarnya punya eyeshadow palette ini sudah lama dan saya punya beberapa palette tapi memang jarang (atau malah ga pernah ya) me-review eyeshadow palette (padahal pengen juga, sih).

Urban Decay – Born to Run

Anyway, eyeshadow palette ini menurut saya cocok banget buat orang-orang yang suka dengan eyeshadow natural, tapi ingin juga sesekali mencoba warna-warna terang lainnya tanpa terkesan berlebihan.

Jadi menurut saya, warna-warna terang, seperti biru, hijau, bahkan pink di eyeshadow palette ini tetap wearable bahkan untuk dipakai sehari-hari (saat ke kantor or jalan-jalan bareng teman).

Saya sendiri pun tidak menyangka bakalan suka (atau merasa percaya diri) memakai eyeshadow berwarna pink berry/fuchsia.

Untuk makeup saya ini, saya menggunakan warna Wildheart di bagian kelopak, Hell Ride untuk di bagian crease (lipatan kelopak) sekaligus untuk membaurkan warna Wildheart. Lalu untuk di outer corner, saya memakai warna Punk. Warna tersebut dan warna Hell Ride juga saya pakai di bagian bawah mata. Untuk highlight, saya memakai warna Stranded.

Daftar produk yang saya gunakan untuk makeup ini:

EYESHADOW: Urban Decay Born to Run Palette

EYELINER: Urban Decay 24/7 Glide-on Pencil in “Alkaline”

MASCARA: Essence I ❤️ Extreme waterproof

BROWS: NYX Precision Brow Pencil in Charcoal

FACE: Smashbox Camera Ready CC Cream, MAC Select Moisture Cover Concealer, Chanel Le Beiges Healthy Glow Sheer Powder, Essence Matt Touch Blush in Berry Me Up, Benefit Hoola Bronzer, Essence Baked Highlighter

LIPSTICK: Essence Velvet Matte in 04 Hungry Pink

Untuk mini tutorialnya bisa dicek di akun Instagram saya @bluestellar_

Weaning With Love

Bosan nggak, sih, kalau blog saya isinya cuma tentang lipstik? Saya, sih, nggak, hehe.. tapi saya juga sebenarnya punya cerita lain yang ingin saya tulis di blog, salah satunya tentang motherhood alias kehidupan saya menjadi seorang ibu.

Saya memang nggak banyak cerita tentang anak saya atau bagaimana cara saya mengurusnya, karena saya sendiri merasa kurang percaya diri. Saya sebenarnya ingin seperti ibu-ibu yang menuliskan tentang setiap milestone anaknya atau menuliskan resep mpasi anaknya. Yah.. sayangnya, saya merasa gagal saat memberikan mpasi, haha, karena hampir setiap makanan yang saya buat, Alanna nggak doyan 😆.

Sejak mulai mpasi, Alanna memang susah banget makannya. Setiap hari, saya selalu stres gara-gara dia susah makan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tapi tetap saja anaknya susah makannya. Dia juga lebih suka menyusu langsung dari saya. Sejak saya tidak kerja kantoran lagi, otomatis Alanna selalu menyusu langsung dan tidak pernah lagi minum ASI di botol. Setelah usia 1 tahun, minum susu UHT pun jarang.

Makanya, saya sempat merasa pesimis bisa menyapih. Nah, soal menyapih inilah yang akan saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud sok tahu atau pamer, tapi saya ingin sekadar sharing. Sejak punya anak, saya senang banget baca blog ibu-ibu yang bercerita seputar motherhood, terutama tentang segala kesulitan dan pengalaman yang mereka rasakan. Ada beberapa pengalaman mereka yang saya rasakan juga dan saat itulah saya merasa tidak sendiri. Itulah kenapa saya juga mau cerita tentang proses menyapih Alanna.

Sejak awal, saya memang berniat ingin melakukan Weaning With Love (WWL) atau Gentle Weaning. Kalau dulu orangtua selalu cerita susahnya menyapih, hingga berbagai cara dilakukan. Mulai dari nakut-nakutin si anak, biarin dia nangis terus-terusan, sampai menaruh obat merah di puting, dan lain sebagainya. Setelah itu, biasanya ada proses si anak sakit atau si ibunya juga sakit karena payudaranya bengkak. Duh, dengar cerita gitu saja saya sudah stres.

Lalu saya sempat baca sebuah artikel yang ditulis oleh teman saya, tentang menyapih anaknya tanpa pemaksaan dan perlahan-lahan. Semua itu dimulai dari memberitahu anak kita bahwa sudah saatnya dia berhenti menyusu dan itu dimulai sejak anak kita usia 18 bulan.

Jadilah saya coba juga, setiap Alanna minta menyusu, saya selalu ingatkan kalau sudah usia 2 tahun nanti dia harus berhenti menyusu. Walaupun Alanna terkesan seperti mengabaikan hal ini, saya tetap saja selalu memberitahunya. Bahkan ada masa di mana, Alanna malah teriak-teriak setiap saya bilang dia harus berhenti menyusu.. haha, sepertinya dia tahu ya.

Saat usianya dua tahun pun, Alanna masih sering banget menyusu.

Salah satu tips yang saya baca tentang WWL ini adalah, kita tidak menolak tapi juga tidak menawarkan ASI.

Jadi setiap Alanna minta saya kasih, tapi kalau dia tidak minta, ya, saya tidak menawarkan.

Lama-kelamaan, frekuensi menyusunya pun berkurang. Yang tadinya 5x sehari, bisa jadi 2x sehari, yaitu pagi dan malam.

Eh, sudah sukses mengurangis ASI, tiba-tiba Alanna sakit. Dia terkena virus yang menyebabkan dia muntah-muntah dan nggak mau makan sama sekali. Jadilah dia kembali sering menyusu, karena saya khawatir kalau Alanna tidak dapat asupan makanan sama sekali.

Gara-gara sakit itulah, saya jadi merasa mengulang proses WWL dari awal. Saya mulai lagi dengan memberitahunya berulang-ulang, tapi setiap saya beritahu dia malah merengek atau menangis. Saya sempat merasa makin pesimis, apalagi dengan ‘pressure’ di sekeliling saya.

Mulai ada, deh, yang ngomong seperti ini:

“Sudah gede belum disapih juga?”

“Idih masa masih nenen?”

“Yah.. gagal, deh, makin besar makin susah lho..”

Untungnya, saya mulai baca-baca dari berbagai sumber tentang mitos atau anggapan yang salah tentang proses menyapih, misalnya:

“Kalau kelamaan nenen, anaknya jadi manja, lho..”

Sebenarnya nggak ada penelitian yang mengatakan anak yang terlalu lama menyusu dari ibunya akan jadi anak manja. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan, anak yang disapih pelan-pelan dan karena kemauan si anak sendiri membuat dirinya lebih mandiri.

“ASI setelah dua tahun mah ga ada gizinya”

Ini juga salah. Karena ASI ternyata menyesuaikan gizi sesuai keperluan si anak. Hebat kan? Jadi nggak perlu takut kalau ASI kita tak bergizi. Selama kita makan-makanan sehat, anak kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

“2 tahun itu udah ketuaan buat anak menyusu”

Sebenarnya berapa lama si anak menyusu itu berbeda-beda. Ada, kok, anak yang menyusu sampai usia 3 tahun dan itu sah-sah saja. Menyusu adalah hubungan spesial antara ibu dan anak, karena hal itu spesial maka setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu pusing untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain atau pengalaman kita dengan pengalaman orang lain.

Akhirnya, saya pun memahami, bahwa yang membuat saya kesulitan menyapih bukan anak saya, tapi suara-suara di luar sana yang memberi tekanan, membuat saya stres, dan sama sekali tidak memberikan solusi.

Itulah makanya, para ibu perlu memiliki support system, sesama ibu yang saling mendukung dan bukan malah saling menjatuhkan.

Setelah beberapa minggu sejak sakit, Alanna akhirnya kembali berkurang menyusunya menjadi 2x sehari. Secara mengejutkan, dia pun mulai makan teratur dan akhirnya doyan makan nasi plus lauk. Biasanya, ya, dia nggak mau makan nasi. Kadang pasta, kadang roti, kadang cereal, kadang kentang, tapi hampir tidak pernah nasi.

Berat badannya pun tergolong susah naiknya. Kalau di Indonesia, dokter mungkin sudah memberikan macam-macam vitamin penambah nafsu makan, tapi dokter di sini bilang berat badannya normal (meski berada di bawah..hehe). Dia bilang Alanna anak yang sehat, tidak mudah sakit, aktif, dan ceria, jadi saya nggak perlu khawatir soal berat badannya.

Setelah makannya teratur, saya mulai berusaha untuk semakin mengurangi ASI. Kalau biasanya saat dia ngantuk, dia akan minta menyusu dan tertidur, sekarang setiap dia mengantuk saya akan tawarkan untuk menggendong dia saja. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama mau.

Hal yang sama juga mulai saya terapkan saat malam hari. Saat dia mau tidur dan minta ASI, saya tawarkan untuk menggendong saja. Awalnya dia nangis, tapi untungnya tidak lama dan akhirnya dia pun mau tidur tanpa harus menyusu. Jadwal ASI yang tadinya 2x sehari pun akhirnya jadi 2 hari sekali. Lama-lama akhirnya Alanna lupa dan saya pun lupa, tak terasa sudah lebih dari sebulan Alanna berhasil disapih.

Dengan cara menyapih pelan-pelan seperti ini, saya juga tidak perlu mengalami sakit akibat payudara bengkak. Semua tampaknya baik-baik saja.

Itu semua terjadi saat usia Alanna 2 tahun 5 bulan. Persis seperti cerita teman saya yang juga berhasil menyapih anaknya di usia segitu.

Hal yang saya pelajari juga saat menyapih adalah, anak pada akhirnya akan berhenti menyusu.

Cepat atau lambat dia juga akan berhenti dengan sendirinya, jadi nggak perlu kita paksa. Sama seperti saya juga yakin, ketika dulu Alanna nggak doyan makan, saya mikir, nanti juga akan doyan, kok. Saya saja ingat waktu kecil saya susah banget makannya dan sangat picky, sekarang ternyata baik-baik saja dan malah jadi susah nurunin berat badan (hahaha).

Oh iya, satu lagi kunci sukses menyapih anak, yaitu sabar. Saya sendiri bukan orang yang penyabar. Pada akhirnya, sih, saya lebih ke pasrah daripada sabar (hehe). Karena memang persoalan menyapih ini kesabaran kita diuji banget. Kalau mau menyapih dengan cara ini memang harus pelan-pelan. Tahapannya terkesan lama (dan tiap anak mungkin berbeda-beda jangka waktunya sampai akhirnya berhasil disapih), jadi ya balik lagi ke diri kita bagaimana caranya agar bisa bersabar.

Begitulah cerita singkat saya soal menyapih anak. Semoga bisa sedikit membantu para ibu yang juga berniat untuk menyapih anaknya.

Why Do You Need Lip Liner and How to Use It

Dulu, saya sebenarnya tidak percaya dengan fungsi lip liner. Bagi saya lip liner hanyalah pemborosan dan membuat dandanan jadi lebih rumit. Apalagi pas tahun 1990an dulu sempat ada tren memakai lip liner yang warnanya lebih tua (warna hitam ya kalau nggak salah?) dan saya nggak suka banget melihatnya.

Setelah kecanduan nonton video para beauty guru di YouTube, saya pun akhirnya mendapat pencerahan tentang fungsi lip liner sesungguhnya. Akhirnya, koleksi lip liner saya bertambah banyak dan kadang (saat tidak malas) saya pun menggunakan lip liner untuk mendapatkan polesan lipstik yang lebih maksimal.

Mau tahu apa saja fungsi lip liner?

1. Lebih rapi saat memakai lipstik

Ada beberapa jenis lipstik yang saat dipakai warnanya malah bleeding atau bleber ke mana-mana. Biasanya lipstik jenis creamy susah dipakai, karena sering keluar dari garis bibir. Untuk mengatasinya, bisa memakai lip liner. Jadi garisi dulu bibir, baru pakai lipstik supaya tampilannya rapi. Selain itu, lipstik dalam warna-warna bold, seperti merah atau warna gelap lainnya, akan terlihat lebih rapi jika pakai lip liner terlebih dulu.

2. Membuat warna lipstik jadi lebih pekat dan tahan lama

Dengan memilih warna lip liner yang senada dengan warna lipstik, maka warna lipstik pun jadi lebih pekat. Selain itu, lip liner juga bisa membuat lipstik lebih tahan lama. Caranya dengan tidak hanya menggarisi pinggir bibir saja, tapi juga mengaplikasikan lip liner di keseluruhan bibir. Baru setelah itu ditumpuk dengan lipstik.

3. Meratakan warna bibir

Nah, ini salah satu alasan saya suka pakai lip liner. Warna bibir saya tidak rata (gelap di pinggir dan warna pink-kemerahan di dalam). Saya paling nggak suka ketika pakai lipstik warnanya jadi nggak rata, karena ada perbedaan warna bibir saya itu. Jadilah saya akali dengan memakai lip liner yang warnanya senada bibir, sehingga hasilnya warna lipstik di bibir terlihat lebih oke.

4. Pengganti lipstik

Lip liner juga bisa menjadi pengganti lipstik. Caranya, ya, cukup garisi bibir lalu sapukan lip liner di keseluruhan bibir. Tapi cara ini nggak pernah saya pakai, sih, karena saya tetap suka memakai lip liner + lipstik dan bukan lip liner sendiri.

5. Menonjolkan warna tertentu

Ada beberapa lipstik yang merupakan pencampuran dua warna atau bahkan lebih. Misalnya saja ada lipstik dengan perpaduan warna pink-coral, red-orang, peach-pink, atau pink-brown. Nah, kalau kita mau menonjolkan satu warna tertentu saja, bisa menggunakan lip liner yang dengan warna tersebut. Misalnya, pilih lip liner dengan warna nude pink untuk lipstik warna pink-coral atau pink-brown. Hasilnya, warna pink akan lebih intens, tapi masih ada sedikit warna lainnya. Semoga penjelasan saya mudah dipahami, ya.. hehe. Soalnya saya suka banget eksperimen dengan cara ini, terutama ketika memakai lipstik yang warnanya kurang keluar di bibir saya.

Setelah tahu beberapa fungsinya, sekarang saya akan bicara aturan tentang memakai lip liner (ini menurut saya, ya, kalau ada yang tidak setuju, maaf saja.. hehe)

  • Jangan pernah memakai lip liner dengan warna lebih tua

Kalau nggak ingin kembali ke tren lip liner gelap di era 1990an, maka jangan memakai lip liner yang lebih tua untuk menggarisi pinggir bibir saja. Pilih lip liner warna senada atau warna yang setingkat lebih tua masih oke buat saya. Kalaupun ingin membuat warna bibir ombre (seperti yang lagi tren), sebaiknya warnai juga bibirnya sedikit, jadi bukan hanya di garis bibirnya saja.

  • Jangan menggarisi bibir secara berlebihan

Bibir penuh dan seksi memang jadi tren. Makanya, kan, Kylie Jenner yang tadinya punya bibir super tipis, tiba-tiba bibirnya membesar. Dulu dia sempat berkilah kalau itu hanya trik makeup dan dia memakai lip liner melebihi garis bibirnya. Ternyata itu semua bohong, saudara-saudara! Akhirnya dia ngaku, kan, kalau dia pakai lip filler atau menginjeksi bibirnya hingga bengkak kayak disengat tawon.

Makanya, kalau ada yang bilang pakai lip liner melewati garis bibir agar bibir kelihatan lebih seksi, menurut saya, sih, jangan. Karena hasilnya nanti malah kayak bibir Joker. Benar-benar tidak menarik.

Memakai lip liner pas di garis bibir, kemudian menumpuknya dengan lipstik, menurut saya sudah cukup membuat tampilan bibir terlihat lebih penuh, kok.

lipliner2

Lip liner favorit saya

Setelah mencoba beberapa merek lip liner atau lip pencil, saya punya beberapa merek yang jadi favorit.

NYX

Merek yang satu ini memang punya beberapa beauty products dengan kualitas oke dan harga terjangkau. Ada dua macam lip liner yang dijual di NYX (Indonesia), yaitu lip pencil dan retractable lip liner.

Untuk produk lip pencil, menurut saya kualitasnya beda-beda tergantung warnanya. Misalnya, saya punya warna fuchsia yang teksturnya creamy dan gampang dipakai. Tapi warna lainnya, yaitu warna coral, malah rasanya kaku dan susah dipulaskan.

Favorit saya sebenarnya yang jenis retractable lip liner dalam warna nude dan nude pink. Selain nggak perlu repot-repot menyerut pensilnya, lip liner dalam dua warna itu bisa dipakai untuk warna lipstik apa pun. Saya biasanya pakai lip liner tersebut untuk meratakan warna bibir.

Mavala

Merek yang satu ini bisa ditemukan di drugstore, seperti Guardian, dan harganya cukup terjangkau. Teksturnya creamy dan pigmentasinya bagus. Sayangnya saya cuma punya satu warna, yaitu warna fuchsia atau magenta (saya lupa), karena variasi warnanya terbatas.

MAC

MAC juga (yang saya tahu) punya dua jenis lip pencil, yaitu MAC Lip Pencil dan MAC Pro Longwear Lip Pencil. Saya pribadi merasa MAC Lip Pencil sudah memiliki kualitas yang sangat bagus.

Ada dua MAC Lip Pencil yang saya punya, yaitu Chiccory dan Soar. Chiccory bisa saya kombinasikan dengan MAC Retro, MAC Chili, atau bahkan MAC Kinda Sexy. Sedangkan Soar bisa dikombinasikan dengan MAC Brave.

Urban Decay

Nah, ini juga lip liner favorit saya, bahkan saya punya empat lip liner dari Urban Decay. Saya punya warna Anarchy, 1993, Bittersweet, dan Bad Blood. Teksturnya creamy, mudah dipakai, pigmentasinya bagus, dan bisa bikin warna lipstik jadi tahan lebih lama.

Tips Tambahan:

Oh iya, hampir lupa. Untuk lip pencil, biasanya harus diserut seperti pensil untuk menulis. Tapi jangan samakan lip pencil dengan pensil yang sebenarnya, ya. Jadi jangan gunakan serutan pensil untuk menyerut lip pencil. Saya pernah mencobanya dan akhirnya lip pencil saya jadi rusak, sering patah, dan akhirnya cepat habis, deh. Baiknya, sih, memang membeli serutan khusus untuk lip pencil itu. Bisa dibeli di berbagai counter kosmetik, harganya sekitar Rp50.000an kalau tidak salah. Sedangkan untuk lip pencil dari MAC katanya, sih, hanya bisa diserut dengan serutan keluaran MAC. Harganya nggak terlalu mahal, kok, sekitar Rp70.000 saja.

Selamat bereksperimen dengan lip liner/pencil!

 

 

How to Clean Your BB Cushion Puff

Saya ini memang suka banget sama produk BB cream dan baru-baru ini mulai menggunakan Laneige BB Cushion untuk riasan sehari-hari. Soal review produknya mungkin saya ceritakan di posting yang berbeda (bocorannya, sih, produk ini oke banget, hehe).

Setelah beberapa kali pemakaian, pastinya puff atau sponge si BB Cushion ini jadi kotor. Mirip lah dengan puff yang biasa kita pakai untuk compact powder.

Makanya, saya pun mencoba membersihkan puff-nya dengan cara biasa, yaitu menggunakan sampo bayi dan air hangat. Ternyata gagal total!

Saya mulai cari-cari tipsnya di Google. Ada yang menyarankan pakai cleansing oil. Ahh, ribet banget. Itu mah cara lain supaya kita ngeluarin duit.

Akhirnya saya menemukan video tutorial cara membersihkan puff tersebut di Youtube. Caranya gampang, murah, dan efektif.

Pertama, basahkan puff dengan air. Bisa disiram di bawah air keran.

Kedua, gunakan sabun batang (apa saja yang biasa buat mandi) lalu gosok-gosokkan ke bagian puff yang kotor. Tekan-tekan puff-nya supaya semua kotoran keluar. Nanti juga akan kelihatan sisa-sisa BB cream yang menempel di sabun batang.

Ketiga, bilas puff hingga bersih sambil terus diperas supaya kotoran dan busa sabun hilang. Jadi, deh, seperti baru.

laneige bb puff

Sebaiknya, sih, rutin membersihkan puff atau sponge yang biasa kita pakai untuk makeup, setidaknya seminggu sekali. Cara ini supaya bakteri dan kotoran nggak menumpuk di puff atau sponge, dan tentunya nggak nempel juga di kulit kita.

How to Choose the Perfect Decoration for Your Wedding

Tampilan dekorasi di SMESCO dengan gebyok cokelat, hiasan daun, bunga peach-pink-putih, dan taman kecil di depan
Tampilan dekorasi di SMESCO dengan gebyok cokelat, hiasan daun, bunga peach-pink-putih, dan taman kecil di depan

Heyho.. Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin berbagi tip seputar pernikahan berdasarkan pengalaman saya, tapi sepertinya menulis di blog selalu saja tertunda.

Salah satu hal yang ingin saya bahas adalah tentang cara memilih dekorasi yang tepat untuk pernikahan. Saat masih menyiapkan pernikahan, saya makin jeli ketika datang ke pernikahan orang lain. Satu hal yang paling saya lihat adalah dekorasi. Kadang saya tidak melihat adanya kesatuan warna, atau bunga yang diperlihatkan tampak layu, dan lain sebagainya.

Karena saya tipe orang yang sangat memperhatikan detail, saya pun ingin agar dekorasi pernikahan saya terlihat cantik hingga ke detailnya (astaga.. saya bicara seperti bridezilla, hehe). Anyway, ada beberapa hal (menurut saya) yang perlu diperhatikan saat memilih dekorasi pernikahan.

1. Pilih warna utama

Pertama, tentukan tema warna pernikahan. Pada pernikahan saya tahun lalu, saya memilih warna gold sebagai tema besar. Walaupun saya pencinta warna biru, saya tidak menganggap biru sebagai warna untuk pernikahan. Sebaliknya, gold terkesan mewah, megah, dan glamor, sehingga cocok untuk pernikahan (terutama untuk pernikahan tradisional).

Setelah memilih gold sebagai tema besar, tentunya baju saya akan berwarna gold. Kemudian untuk dekorasi, saya memilih kombinasi warna gold, cokelat cappuccino, dan broken white untuk hiasan kain. Tiga warna itu merupakan tiga warna turunan dari gold yang akan serasi dengan cokelat. Jangan lupa untuk berikan satu warna pucat/natural, contohnya putih, untuk menambah gradasi. Jika gold digunakan untuk semua warna dekorasi, tentunya akan terlihat berlebihan, bukan?

Jika memungkinkan, lihat juga suasana gedung. Apa warna karpetnya? Apakah sudah sesuai dengan pemilihan warna kita? Untungnya, di SMESCO (tempat saya menggelar pernikahan), karpetnya berwarna gold dan merah–cocok.

2. Sesuaikan dengan pemilihan bunga

Dekorasi dari jarak lebih dekat
Dekorasi dari jarak lebih dekat

Untuk bunga, saya juga memilih warna yang tidak terlalu ramai. Ada beberapa orang yang mencampurkan semua warna, mulai dari merah, pink, putih, kuning, hingga biru. Akibatnya, dekorasi jadi terlihat ramai.

Karena itu, untuk menyelaraskan warna, saya memilih bunga mawar dengan warna putih, peach, dan pink. Warna itu akan cukup lembut dan berpadu dengan warna hijau dalam hiasan gebyok cokelat. Jadi, lagi-lagi ada keselarasan antara warna bunga, hiasan kain, dan dekorasi secara keseluruhan.

Kadang, pemilihan warna bunga yang sederhana akan terlihat lebih mewah dan eksklusif. Misalnya saja, dengan perpaduan bunga putih dan warna hijau daun, akan terlihat lebih cantik ketimbang mencampurkan berbagai macam bunga untuk dekorasi. Think..less color is more awesome!

3. Jangan lupa bicarakan dengan pihak catering

dekorasi3
Dekorasi dari catering, taplak off white dan skirting warna gold

 

Biasanya, pihak dekorasi akan bertanggung jawab atas semua jenis dekorasi di acara pernikahan, kecuali dekorasi di meja catering.

Untuk itu, kita sebagai calon pengantin juga harus mengkomunikasikan tema besar dari acara pernikahan kita ke pihak catering. Pastikan warna bunga dan warna skirting mereka senada dengan warna dari pihak dekorasi. Jika memungkinkan, minta mereka menghubungi pihak dekorasi agar lebih mudah berkoordinasi.

Untungnya, ketika pernikahan saya, catering dari Caterindo dan dekorasi dari Aarya Decoration sudah cukup sering kerja sama. Jadi mereka sangat profesional dalam hal ini.

4. Undangan yang senada

Menurut saran saya, tema atau warna yang telah ditentukan untuk dekorasi, juga hadir di undangan. Misalnya, saya memilih undangan berwarna gold karena itu adalah tema besar pernikahan saya. Mungkin bagi sebagian orang tidak penting, tapi bagi saya “matching” itu penting.

5. Tidak usah ragu untuk cerewet

Last but not least, tidak usah ragu untuk cerewet ke pihak dekorasi. Kita bayar mahal, jadi kita juga harus dapat servis yang oke, dong.

Sebisa mungkin lakukan survei ke acara-acara pernikahan yang memakai jasa vendor dekorasi yang kita pilih. Cek seperti apa dekorasinya. Jika bagus, katakan Anda ingin seperti itu. Jika buruk, maka dokumentasikan dan katakan pada pihak dekorasi.

Dengan Aarya Decoration ini, saya sempat ke salah satu pernikahan yang menurut saya dekorasinya buruk. Bunganya layu, cat di pot terlihat mengelupas, dan warna gebyok yang pudar.

Saya pun selalu mengingatkan mereka, jangan sampai ada bunga layu, jangan sampai ada hiasan yang terlihat rusak, dan lain sebagainya. Intinya, ingatkan mereka bahwa kita adalah bridezilla yang sangat memperhatikan detail. Hasilnya, saya puas dengan hasil dekorasi mereka. Flawless!

Tambahan Tip: pemilihan warna untuk tema pernikahan

Seperti tadi saya bilang, saya suka warna gold karena terkesan mewah, yang menurut saya sangat cocok untuk pesta pernikahan di malam hari. Warna gold ini akan cocok dipasangkan dengan merah maroon, cokelat, cokelat muda, beige, atau kuning.

Warna lainnya, yaitu perak, juga terkesan mewah. Tapi perak lebih cocok dipakai untuk pesta siang hari. Warna perak cocok dipasangkan dengan warna-warna dingin lainnya, seperti ungu, lavender, pink pastel, dan lainnya.

Saran saya, lakukan gradasi warna untuk dekorasi, dengan menggunakan warna turunan, warna senada, dan warna netral. Cara ini juga bisa dilakukan untuk pemilihan baju seragam keluarga (jika memang mau).  Semoga saran ini bermanfaat.