Trip to Barcelona, Spain

Aduh.. duh.. sebenarnya cerita ini sudah agak basi ya (atau malah udah basi banget), hahaha.. Begitulah kadang-kadang punya ide tulisan banyak, tapi memulai untuk menulisnya itu yang agak malas.

Oke, cerita singkat saja kali ya. Jadi pas liburan Natal tahun kemarin (iya, tahun 2017 kemarin), saya, Yudo, dan Alanna memutuskan untuk pergi berlibur ke Barcelona, Spanyol. Kami memilih kota ini, karena setelah browsing, tiket pesawat ke Barcelona-lah yang paling terjangkau di antara yang lain. Saya juga belum pernah ke sana, jadi berangkatlah kami.

barcelona-bluestellar (2)

Kami di sana selama 3 hari 2 malam dan menginap di Hotel Jazz, yang sangat kami rekomendasikan. Hotelnya enak dan letaknya strategis banget. Tinggal jalan sedikit sudah banyak toko-toko dan tidak terlalu jauh dari Plaza Catalunya.

Dari airport kami naik shuttle bus yang haltenya tidak jauh dari hotel, jadi sangat memudahkan untuk para turis, deh. Apalagi harga tiketnya pun tidak mahal (lumayan mengirit biaya taksi dari airport ke hotel dan dari hotel ke airport).

Hari pertama, kami jalan-jalan ke Camp Nou, yang menurut saya sangat melelahkan. Kenapa? Karena tempat ini tidak stroller friendly. Waktu ke sana, Alanna sedang asyik tidur di stroller. Jadilah kami mengangkat-angkat stroller mengelilingi stadion yang banyak anak tangganya ini. Huft!

Setelahnya, kami jalan-jalan keluar masuk toko, deh. Oh iya, meski malam Natal, toko-toko di Barcelona tetap buka sampai jam 8 malam. Katanya, biasanya tiap hari Minggu toko-toko sebenarnya tutup. Namun selama bulan Desember, toko-toko itu buka terus selama 7 hari dalam seminggu demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang mau belanja kebutuhan Natal. Enak, ya.. kalau di Wina mah udah bye, deh, kayak kota sepi nggak ada toko yang buka.

Hari kedua, kami keliling pakai bus tour, mulai dari Sagrada Familia sampai Park Guell. Ini merupakan dua tempat yang wajib dikunjungi turis kalau ke Barcelona. Dua tempat ini merupakan hasil karya Antoni Gaudi, arsitek kebanggaan Barcelona. Banyak sebenarnya hasil karya dia, tapi tidak sempat kami datangi semua.

barcelona-bluestellar (3)
Sagrada Familia

barcelona-bluestellar (4)

barcelona-bluestellar (1)
Park Guell

Hari ketiga, kami berfoto-foto di sekitar Plaza Espana. Setelahnya, kami ke mall yang katanya buka sepanjang tahun, karena letaknya dekat dengan Marina. Sorenya, kami pulang kembali ke Wina, deh.

Jujur, saya suka banget kota ini, karena rasanya begitu ‘hidup’. Pilihan makanannya juga bervariasi, meskipun jam makan malamnya aneh (menurut saya). Restoran pada umumnya tutup sore hari dan baru buka jam 9 malam untuk waktu makan malam.

Kalau mau lihat lebih jelas lagi soal Barcelona, silakan ditonton saja vlog saya selama 3 hari 2 malam di sana.

 

 

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

Chef Massimo Bottura: Artwork on a Plate

Gara-gara sering nonton acara masak seperti MasterChef dan Top Chef (meski saya tidak bisa masak), saya jadi penasaran dengan rasa masakan para chef tersebut benar-benar enak nggak ya? Apalagi mereka yang punya gelar “3 Michelin Stars” seperti apa, sih, enaknya?

Beberapa hari lalu, saya pun dihubungi oleh Hotel Mulia dan mendapat undangan untuk mencicipi masakan Chef Massimo Bottura, chef asal Italia yang restorannya bernama Osteria Francescana mendapat penghargaan 3 Michelin Stars. Bahkan restorannya itu masuk di lima teratas dalam daftar 50 Best Restaurants in the World–wow!!

Saya pun tidak asing dengan nama Massimo, karena dia pernah menjadi juri tamu di acara MasterChef Australia season 7. Dia juga ada di dalam serial dokumentasi Table’s Chef di Netflix.

Tentu saja saya excited dengan tawaran tersebut. Jadilah pada hari Jumat (18 Maret) kemarin, saya makan siang di Hotel Mulia (bersama teman-teman jurnalis lainnya) mencicipi makanan dari Chef Massimo. Sebenarnya ada 9 menu makanan, mulai dari menu pembuka, main course, hingga dessert, tapi saya hanya mendapatkan enam menu saja. Well, it’s free.. dan mereka juga harus menyiapkan makanan untuk acara malam harinya, jadi enam pun bagi saya sudah cukup menyenangkan.

Sebelum mencoba masakan hasil kreasi Chef Massimo, dia terlebih dulu berbicara tentang inspirasi masakannya. Dia mengatakan dirinya adalah seorang artisan, bukan sekadar chef. Makanya, setiap masakannya itu dianggap sebagai sebuah karya seni. Dia melihat kuliner sebagai perpaduan dari seni, budaya, dan tentu saja bahan-bahan makanan yang berkualitas bagus.

Saat memulai Osteria Francescana, sebenarnya dia dianggap sebagai chef  yang ‘membelot’, karena resep tradisional Italia malah dimodifikasi menjadi modern dan unik. Namun keberaniannya itu justru membuahkan hasil hingga akhirnya dia disebut sebagai salah satu chef yang paling kreatif di dunia. Lebih jelasnya, bisa menonton Chef’s Table di Netflix 😀

Cara dia berbicara dan menjelaskan soal makanannya, saya melihat dia sebagai seorang Chef yang humble dan penuh imajinasi. Dia tak segan-segan bercanda dan membuat suasana jadi lebih menyenangkan (sangat berbeda dengan Chef Gordon Ramsay di serial Hell’s Kitchen.. hehe).

Oke, sekarang saatnya membicarakan seputar makanan. Menu pembuka untuk acara tersebut dinamakan “Come to Italy with Me”. Menu ini terdiri dari dua makanan yang ukurannya imut-imut, I mean.. sangat sangat mini. Yang satu berbentuk seperti bantal, sementara yang satu berbentuk mirip macaron.

come to italy with me
Come to Italy with Me
Yang berbentuk bantal merupakan salt-cod yang disirami saus tomat. Meski saya tak suka ikan, rasa tomat yang lezat menyelimuti rasa amis ikan sehingga terasa gurih dan lezat. Sementara si mini macaron itu benar-benar mengejutkan rasanya. Ada pencampuran rasa gurih dari mozarella, berpadu dengan tomat dan basil. Dari menu pertama saja, saya tahu bahwa Chef Massimo ini senang membuat makanan yang berbeda dengan tampilannya. Ketika melihat bentuk macaron, orang tentu akan berharap makanan manis, tapi di sini yang didapat justru makanan savory.

Lanjut ke menu kedua, yaitu “Lentils Better than Beluga”. Lentils merupakan jenis kacang-kacangan. Menurut Chef Massimo, lentils ini dibuat menyerupai bentuk kaviar dan juga dimasak dengan eel broth, sehingga ada rasa seafood di dalamnya. Uniknya juga, lentils ini disajikan di atas es.

lentils
Lentils Better than Beluga
Menu ketiga adalah “Riso-Pizza”, yang menurut Chef Massimo adalah perpaduan rasa antara Risotto dan Pizza, dua masakan khas Italia. Oke, saya sejujurnya tidak pernah tertarik dengan Risotto, karena kalau di Jakarta bentuknya seperti bubur dan teksturnya lembek. Risotto juga sering menjadi masalah di berbagai acara kuliner yang saya tonton, bahkan di MasterChef Australia, makanan itu disebut sebagai ‘dead dish’, saking banyaknya yang gagal membuat Risotto.

riso pizza
Riso-Pizza
Makanya, saya penasaran banget dengan the real Risotto ini. Ketika dibawa ke meja, bentuknya menurut saya kurang menarik. Seperti bubur warna putih yang di pinggirnya dikasih remah-remah. Ternyata…. rasanya sangat lezat. Menurut penjelasan di menu, Riso-Pizza ini menggunakan perpaduan nasi dan polenta yang merupakan tradisi di Italia Utara yang dicampurkan dengan rasa tomat, anchovy, dan oregano dari Italia Selatan. Remah-remah di sekitarnya itu (yang enak banget rasanya) merupakan nasi yang dipanggang. Tekstur Risotto pun tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata teksturnya memang lembut, tapi tetap ada butiran yang bisa digigit. Sehingga perpaduan tekstur semua bahan makanan di satu piring itu terasa pas.

Lanjut ke menu keempat (yang merupakan favorit saya), yaitu “Beautiful Psychedelic Spin-painted Veal, Not Flame Grilled”. Daging sapi muda yang dimasak dengan cara sous-vide ini dihiasi saus warna-warni, yang terbuat dari klorofil, sweet potato, red beet emulsion, dan extra-old Villa Manodori balsamic vinegar. Saya sejujurnya belum pernah mencoba makan daging yang tidak matang benar-benar, jadi melihat daging dengan warna merah itu rasa deg-degan.

veal
Beautiful Psychedelic Spin-Painted Veal, Not Flame Grilled
Namun setelah gigitan pertama… MMMMMM… enaknya. Dagingnya benar-benar lumer di mulut, pinggiran daging yang garing memberi rasa smoky yang lezat. Ditambah lagi dengan macam-macam saus yang menambah rasa makin lengkap. Rasanya kalau boleh, saya mau tambah lagi (hahaha..).

Selanjutnya, menu kelima adalah “Caesar Salad in Bloom”. Satu lagi menu yang tampilannya tidak biasa. Kali ini salad malah dihiasi edible flowers alias bunga yang bisa dimakan. Satu potong selada dihiasi dengan bunga chamomile kering, jasmine, dan raspberries. Rasanya memang unik, but this is just not my favorite.

caesar salad
Caesar Salad in Bloom
Terakhir adalah menu “Oops! I Dropped the Lemon Tart”, menu yang inspirasinya didapat ketika salah satu sous chef menjatuhkan lemon tart. Akhirnya dibuatlah lemon tart dengan bentuk yang tidak biasa.

lemon tart
Oops! I Dropped the Lemon Tart
Tumpukan rasa dari lemon zabaglione, lemon verbena sorbet, dan meringue, dicampur dengan bergamot, savory capers, dried oregano, dan hot pepper oil, menjadikan menu ini sebagai menu penutup yang meledak (in a good way, of course). Saya suka sekali, karena rasa manis, asam, dan gurih berpadu sempurna. Pada akhirnya saya cuma bisa bilang… “Yahhh sudah habis, hiks.”

Namun menurut Lara, istri Chef Massimo, itulah tujuan utama suaminya dalam menciptakan makanan. Bukan ekspresi di awal, melainkan memori yang diciptakan di akhir menikmati makanan.

Oh iya, tiga menu yang tidak disajikan adalah “La Dispensa”, “Spring in Jakarta”, dan “The Crunchy Part of the Lasagne”. Saya sebenarnya penasaran banget dengan menu pinggiran Lasagna itu, karena memang pinggiran Lasagna yang agak gosong itulah justru yang terasa paling lezat.

Saya juga ingat Chef Massimo pernah mengatakan di satu episode MasterChef Australia bahwa pinggiran Lasagna yang garing itu yang menjadi favoritnya.

Ah well, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini, terutama untuk Hotel Mulia yang sudah mengundang saya. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

with chef massimo
With Chef Massimo Bottura

Welcome 2015

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/5e6/7363633/files/2015/01/img_3274.jpg
Some of the beautiful memories from 2014

 

Whoa.. Sudah tahun baru! Sebelum memasuki 2015, mari sedikit flashback ke tahun 2014.

Tahun kemarin, Alhamdulillah saya masih sempat diberi kesempatan untuk pergi jalan-jalan dan berlibur. Sempat ke Singapura bersama dua sahabat, pergi ke Perth untuk hadir di pernikahan sepupu saya, bulan madu ke Bali, dan pengalaman snorkeling di Manado.

Bisa dibilang delapan bulan di tahun 2014, saya disibukkan dengan segala macam kebutuhan pernikahan. Saya memang pakai WO, tapi mereka hanya akan in charge di hari H, jadi semua hal harus saya urus sendiri (tentunya dengan bantuan mama dan Yudo).

Tapi saya rasa semua cpw dan cpp sebaiknya mengerjakan semuanya sendiri. Saya rasa itu adalah proses yang memang harus dijalani. Kita jadi bisa mengenal pasangan dan mengenal diri sendiri. Misalnya saja saya ini cepat sekali stres dan overthinking every situation. Sebaliknya Yudo biasanya akan jadi orang yang bisa menenangkan saya. Akhirnya, semuanya pun berjalan lancar hingga hari H (dan semoga sepanjang pernikahan kami…amiin..)

Tahun 2014 pula merupakan tahun yang sepertinya saya dihinggapi beberapa penyakit. Saya sempat sakit maag 2 kali di tahun ini, yang menyebabkan saya muntah-muntah dan susah makan karena asam lambung saya naik.

Salah satu obat mujarab untuk maag saya adalah alpukat dan yakult. Resep ini saya dapat dari teman kantor saya, Jessica, yang juga sering mengalami masalah yang sama. Selain itu saya juga mengurangi kopi (hiks). Tapi banyak juga yang bilang maag bisa muncul karena stres (walaupun kadang saya merasa biasa saja, tapi nyatanya tubuh saya berkata lain).

Selain itu saya juga sempat sakit demam berdarah dan typhus sehingga harus dirawat di rumah sakit. Ini merupakan pertama kalinya saya dirawat di RS sejak terakhir kali saat saya usia 3 tahun sakit usus buntu. Saya luar biasa tersiksa, bosan, dan kesepian, apalagi karena Yudo sedang dinas di Muscat selama 2 minggu.

Tapi Alhamdulillah semua itu bisa dilewati…

Untuk tahun 2015, saya berharap saya bisa lebih menjaga kesehatan, lebih banyak makan makanan sehat, berolahraga (kayaknya ini yang sulit), serta berharap semoga diberi kepercayaan oleh Allah untuk hamil dan memiliki anak.

Tentu saja, seperti keinginan saya di tahun-tahun sebelumnya, saya selalu ingin bisa jalan-jalan, traveling, dan pergi ke tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya.

Terakhir, semoga juga karir saya mengalami kenaikan atau setidaknya kejelasan. Karena kadang saya merasa tidak dihargai atau bekerja tanpa ada arah yang jelas, meski saya menyukai apa yang saya kerjakan. Lalu, semoga saya juga bisa membahagiakan keluarga, khususnya mama.

Okay 2015.. Let’s get started!

The Beautiful Bunaken.. And My First Time Snorkeling

Yudo is a diver.. Dan saya takut hiu. Haha.. Tampaknya kita berdua bertolak belakang. Tapi untungnya dia tidak memaksa saya untuk menjadi penyelam seperti dia. Saya sendiri tidak masalah jika diajak berenang di laut, hanya saja kalau menyelam, hmm.. Saya harus mengumpulkan nyali dulu.

Saat kami pacaran, dia sempat mengajari saya cara snorkeling dan menyelam. Tapi itu tampaknya sudah berbulan-bulan atau bahkan setahun yang lalu. Jadi bisa dibilang pengetahuan saya mengenai olahraga ini nyaris nol.. Atau bisa dibilang sekitar 1%.

Bulan Oktober kemarin, kami melakukan perjalanan ke Bunaken bersama dengan teman-teman Yudo di Underwater Club. It was so fun! Saya merasa bisa diterima (walaupun tidak termasuk golongan diver).

Untungnya juga salah seorang teman Yudo membawa istrinya, jadilah dia partner snorkeling saya. Ini merupakan pertama kalinya saya ke Manado, ke Bunaken, dan akhirnya mencoba snorkeling.

Saya akan bohong kalau saya bilang tidak menikmatinya. Apalagi melihat ikan-ikan cantik di bawah laut itu memang membawa rasa senang tersendiri. Tapi hati saya tetap mencelos ketika melihat lautan biru yang dalam, I mean benar-benar biru gelap, kosong, dan seperti tanpa batas. Hiii.. Seram.

Kami menginap di Manado Tateli Resort Beach. Tempatnya sangat nyaman dan bagus. Tidak hanya cocok buat yang diving, tapi tempat ini juga cocok untuk liburan keluarga. Dari sini kami naik kapal sekitar satu hingga satu setengah jam untuk menuju tempat diving.

Ada beberapa tempat diving di seputaran Pulau Bunaken dan pulau-pulau kecil di dekatnya. Katanya, sih, yang paling terkenal di sini ada wall-nya, dinding terumbu karang, beserta ikan-ikan yang ada di sekitarnya. Selain itu ada juga penyu raksasa dan hiu (tapi hanya bisa dilihat kalau menyelam.. Fiuuhh, untunglah).

Meski cuma snorkeling, saya masih sempat melihat penyu raksasa yang sedang berenang ke permukaan. Saya bilang raksasa, karena penyunya memang besar banget… Huwooo!

Di hari kedua, saya memutuskan untuk tidak snorkeling. Karena saya dan Billa (istri teman Yudo) tergolong “turis” jadilah kami mendapat supir+guide yang akan membawa kami jalan-jalan. Ternyata Billa juga belum pernah ke Manado.

Akhirnya, kami pun jalan-jalan ke Tomohon. Perjalanan ke Tomohon mirip seperti ke Puncak, menanjak, sedikit meliuk-liuk, dan udaranya dingin. Di Tomohon ini ada Patung Yesus yang katanya, sih, saingannya Patung Yesus di Rio de Janeiro, Brasil.

Oh iya, daerah Tomohon ini pada tahun lalu sempat mengalami longsor. Sisa-sisanya pun masih terlihat. Jembatannya masih jembatan darurat, karena belum dibangun lagi sejak kena longsor tahun lalu.

Kami juga sempat foto-foto dengan pemandangan Gunung Lokon. Cantik banget! Gunung Lokon ini juga sempat berstatus Siaga. Untungnya pas saya ke sana sudah tenang dan tidak ada tremor.

Tempat yang nggak kalah cantiknya adalah Danau Linow. Katanya, sih, ini danau 3 warna, tapi saya hanya lihat dua, hijau muda dan agak gelap.. Hihi. Tapi danaunya bagusss banget.. Di sana ada cafe+resto, di mana kita bisa duduk-duduk di pinggir danau. Nyaman banget.. Lumayan buat santai-santai sambil makan pisang goreng dan sambal roa, salah satu makanan favorit di Manado.

Di hari ketiga, kami kembali snorkeling dan foto-foto (tentunya). It was a really nice experience. Mungkin kalau saya nggak nikah sama Yudo, nggak mungkin saya akan memberanikan diri nyemplung di laut atau membiarkan kulit muka saya belang-belang karena tersengat matahari. Semoga nanti kami diberi kesempatan lainnya untuk jalan-jalan seperti ini…

image4
Post-wedding underwater photo
IMG_4435
Welcome to Bunaken
image3
Pisang goreng + sambal roa
IMG_4516
Danau Linow
Main-main sama bintang laut 😀
Say cheese! Eh.. ga bisa nyengir ya… 😀

 

The Honeymoon

Iya, sih, honeymoon saya dan Yudo sudah dilakukan sekitar dua bulan yang lalu. Tapi saya baru benar-benar sempat menyentuh blog saya hari ini. I won’t talk about the details, saya cuma mau sharing mengenai paket honeymoon yang kami pakai. Siapa tahu berguna untuk siapa saja yang ingin bulan madu ke Bali dan sedang mencari villa yang cocok.

Untuk honeymoon, kami mendapat paket menginap gratis dari WO BRP di Smesco, karena kebetulan saat saya membayar DP, mereka sedang memberi penawaran berupa honeymoon gratis+tiket pesawat. Paket honeymoon ini sebenarnya paket dari Weddingku.com, jadi siapa saja yang mau merasakan paket ini bisa langsung lihat-lihat di website mereka.

Paket pertama, adalah paket menginap 3 hari 2 malam di Kokonut Suites. Paket ini sudah termasuk antar-jemput airport, sarapan, makan malam di Jimbaran, spa, dll (saya lupa detailnya, hehe). Sebenarnya menurut saya kamar di hotel ini biasa saja. Apalagi di website-nya dijanjikan pemandangan sawah, tapi yang kami dapat malah pemandangan kuli-kuli yang sedang membangun.

Anyway, yang membuat saya suka menginap di sini adalah tempat sarapannya. Tempat sarapannya berupa cafe bernama Livingstone. Tempatnya cozy, dan karena tempat ini juga bakery, setiap roti yang mereka sajikan selalu fresh. Seperti ketika kami meminta croissant, rasanya enak banget karena masih hangat. Menu pancake-nya juga yummy.. Ditambah teh hangat dan susu, rasanya sarapan saya sempurna (maaf lebay).

image5
Livingstone Cafe at Kokonut Suites
image4
Makan malam di Jimbaran.. sambil lihat sunset 🙂
image3
At Jimbaran… happy faces 🙂

Tapi tentu saja, kami tidak akan puas kalau honeymoon cuma 3 hari saja di Bali. Jadi selain paket honeymoon di Kokonut, kami juga membeli paket (ya, kali ini beli bukan gratis) di Berry Amour Villas melalui Weddingku. Saya rasa membeli paket di sana lebih praktis dan karena harganya all-in, jadi akan terasa lebih hemat ketimbang kita beli sendiri. Biasanya paket juga sudah termasuk antar-jemput, makan malam, makan siang, kue honeymoon, spa, dll.

Berry Amour Villas ini merupakan private villa di daerah Seminyak. Tempatnya bagusss.. Ada kolam renang pribadi, jacuzzi, kamar mandi outdoor, dapur sekaligus perlengkapannya, dan kamar yang luas. This place is so lovely. Saya benar-benar betah dan rasanya tidak rela harus pulang.

Mungkin bagi sebagian orang, honeymoon di Bali sudah biasa. Tapi menurut saya, di manapun tempatnya, yang namanya honeymoon pasti menyenangkan. Oh iya, sebelum kami terbang ke Bali, kami juga sempat menginap dua malam di Hotel Indonesia Kempinski Jakarta. Kebetulan salah satu teman saya kerja di sana dan kami pun bisa mendapat upgrade kamar menjadi kamar yang lebih besar dengan pemandangan Bundaran HI.

Jadi jika tidak ingin ke Bali, bisa mencoba paket honeymoon di Kempinski. Kapan lagi bisa bangun pagi dan melihat pemandangan Bundaran HI? hehe…

image8
Berry Amour Villas at Seminyak
image7
Our bedroom.. lengkap dengan bebek-bebek terbuat dari handuk di atas kasur 😀
image9
Private swimming pool at Berry Amour Villas
image2
At Kuta Beach

My Cousin’s (Fairy Tale) Wedding

Mulai dari awal tahun ini, sepertinya kegiatan saya tiap minggu hampir selalu sama, yaitu datang ke pesta pernikahan. Bahkan di bulan Maret ini, setiap minggu (benar-benar setiap minggu) saya menghabiskan akhir pekan di pesta pernikahan, mulai dari di Jakarta, Bandung, hingga Perth.

Yang terakhir merupakan pernikahan sepupu saya, Gracie. Pernikahan kali ini sangat berbeda dengan pernikahan yang pernah saya datangi sebelumnya. Mereka menggelar pernikahan di Yallingup, sebuah daerah sekitar 3,5 jam dari Perth. Daerahnya sendiri berada di tengah hutan, tapi juga dekat pantai.

Upacara pernikahannya digelar di bawah pohon besar yang dihiasi lampion putih. Beberapa tamu ada yang duduk di atas rumput hanya beralaskan kain. Ada pula tamu yang duduk di deretan kursi putih.

Acaranya sendiri cukup intim, karena sehari sebelumnya Gracie dan Bruno menggelar acara barbecue supaya tamu-tamu bisa saling mengenal. Hanya ada 5 orang Indonesia (jadi 6 termasuk tante saya), kemudian teman-teman Gracie dari Australia, dan keluarga Bruno dari Prancis. Jadilah kami saling mengobrol dan mereka semua sangat ramah, bahkan dengan halangan bahasa sekalipun. Saya pun baru tahu kalau sudah menjadi tradisi di Prancis ketika saling bertemu harus cium pipi kiri dan kanan, hehe.

Besoknya, upacara pernikahan digelar pukul 4 sore. Gracie terlihat sangat cantik dengan gaun minimalis warna putih dan mahkota bunga. Pernikahannya sederhana, simpel, casual, tapi justru terkesan romantis. Setelah pemberkatan, para tamu dijamu dengan segelas champagne dan baru pada pukul 6 sore pindah ke restoran yang terletak tak jauh dari sana untuk makan malam.

Di acara resepsi ini, ada kata sambutan dari orangtua mempelai, maid of honor dan best man, serta tentu saja dari kedua mempelai. Menurut saya bagian acara ini juga cukup unik, karena berbeda dengan tradisi di Indonesia. Karena lewat kata sambutan dan pidato itu, kita para tamu jadi mengenal kehidupan kedua mempelai sekaligus mengetahui perjalanan cinta mereka–awww, so sweet!

Tapi tentu saja yang paling saya nikmati dari acara ini adalah ketika melihat wajah bahagia sepupu. Dia bisa dibilang sepupu terdekat saya, bukan hanya karena usia kami berdekatan (dia lebih muda 1,5 tahun dari saya) tapi juga karena she’s one of the nicest person I’ve ever known.

Saya punya banyak kenangan bersama dia. Meski kita berada di dua benua berbeda dan tidak selalu bertemu setiap hari, kita tetap dekat sebagai keluarga. Meski kita berdua punya pandangan yang berbeda atau punya hobi yang berbeda pula, tak ada yang saling menghakimi.

Lucunya, ketika kemarin saya ke sana, kita pun masih bisa bercanda layaknya masih anak-anak dulu. We like to tease each other, singing “Part of Your World” from The Little Mermaid, and laughs a lot (which make our mothers confused what we’re laughing about).

I love her and wishing nothing but happiness for her. Semoga dia benar-benar bisa datang bulan September ini ke Jakarta.

20140331-155426.jpg
Look at those happy faces 🙂

20140331-155710.jpg
What a beautiful wedding, right?

20140331-155757.jpg
Me, Gracie, and my mom

20140331-155841.jpg
Gracie, my mom, me, and Bruno

20140331-155927.jpg
Ready for dinner 😀