Me Before You

Saya memang jarang menulis ulasan tentang film. Padahal saya ini penikmat film, suka banget nonton film bioskop dan serial televisi. Namun sejak punya Alanna, saya memang tidak pernah lagi nonton di bioskop. Ibu-ibu dengan bayi pasti paham dengan situasi ini (hehe..) dan menganggap nonton di bioskop adalah sebuah kemewahan.

Untungnya, teknologi kan sudah maju, jadi nonton film-film bioskop bisa lebih mudah dan bisa kita tonton di televisi. Memang, sih, jadinya saya nonton film-film yang agak basi. Orang-orang sudah membicarakannya dari beberapa bulan lalu, saya malah baru heboh sekarang. Sama seperti ketika saya menonton film drama romantis, Me Before You ini, yang sebenarnya sudah dirilis sejak Juni 2016 kemarin.

Saya, sih, tahu film ini diangkat dari buku. Namun saya jarang melihat berita-berita yang membicarakan film ini atau mungkin film ini tertutupi oleh film-film box office dengan budget besar, karena peluncurannya pas Summer. Tahu sendiri, deh, film-film Summer kan biasanya dipenuhi oleh film-film budget besar, biasanya sih film superhero. Makanya film sederhana dari buku ini kayaknya nggak banyak diomongin, padahal pendapatannya di box office pun lumayan besar.

Film ini dibintangi oleh Emilia Clarke. Orang-orang mungkin lebih kenal dia sebagai Daenerys Targaryen di serial Game of Thrones. Kalau di film tersebut, karakternya terlihat sebagai perempuan tangguh, sementara di film Me Before You, Emilia justru memperlihatkan sisi quirky dan goofy. Jadi benar-benar karakter yang beda, deh. Lawan mainnya adalah Sam Claflin yang sebelumnya pernah main di film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides serta film The Hunger Games: Catching Fire dan Mockingjay sebagai Finnick Odair.

Me Before You bercerita tentang William Traynor (Sam Claflin) yang lumpuh dari leher ke bawah gara-gara ditabrak motor. William digambarkan sebagai cowok ganteng, super tajir, dan dikenal suka hal-hal ekstrem, seperti bermain ski, naik gunung, diving, dan lainnya. Ibu bapaknya William pun mencari caretaker yang diharapkan bisa membuat dia bahagia, at least supaya mood-nya nggak gloomy terus. Ketemulah si Louisa Clark (Emilia Clarke) yang witty, chatty, dan punya sense of fashion yang unik.

Seperti tipikal film-film romantis lainnya, pada akhirnya mereka jatuh cinta. Saya pun awalnya underestimate film ini. Saya pikir, “Ah, pasti akhirnya happy ending”, “Paling filmnya biasa aja, gitu-gitu aja”, ternyata saya malah jadi termehek-mehek sendiri. Sebenarnya agak bete dengan ending-nya (SPOILER ALERT: jangan diteruskan baca blog ini kalau nggak mau tahu akhirnya).

me-before-you-2

Pokoknya sepanjang film, saya seperti disuguhkan kisah romantis yang menyenangkan, tapi nggak norak. Jadinya, kan, kebawa perasaan, eh terus bete. hehe..

Sampai detik-detik terakhir saja, saya masih berharap si Will berubah pikiran, ternyata tidak, huhu. Dia memilih bunuh diri, lho, daripada menjalin hubungan sama si Lou. Why? Why? Why?

Saya baca-baca beberapa review film ini, ternyata banyak yang protes dengan ending-nya. Mereka protes tentunya bukan karena termehek-mehek seperti saya, tapi mereka protes karena film ini seperti mendukung keputusan seseorang untuk bunuh diri sekaligus mengatakan bahwa orang lebih baik mati daripada cacat. Duh, pikiran saya, sih, nggak sampai ke sana, saya cuma pengen happy ending saja. Namanya juga nonton film fiksi, kan harapannya yang happy-happy (hehe).

Suami saya juga bilang film ini bagus (padahal dia cuma nonton setengah). Tapi memang setelahnya dia bilang, pasti film ini banyak yang protes, deh, karena membenarkan bunuh diri. Ya, saya cuma berpikir, mungkin si penulis buku merasa itu hak si orang kali, mau bunuh diri atau nggak, walaupun kalau untuk orang beragama, bunuh diri itu dosa besar.

Lalu apa yang menarik dari film ini? Kalau menurut saya, chemistry antara Emilia Clarke dan Sam Claflin kayaknya pas banget. Sam Claflin is total eye candy, jadi tentunya mata tetap segar memandangi dia sepanjang film. Emilia Clarke yang mukanya ekspresif banget dan lucu juga jadi daya tarik tersendiri. Saya juga suka banget gaya busana Lou yang eksentrik, tabrak motif, tabrak warna, dan sepatu motifnya lucu-lucu banget. Ini beberapa contoh busana yang dipakai Lou..

dragonfly-me-before-youemilia-clarke-me-before-you-costumeslittle-leprechaun-me-before-youpops-color-me-before-you

Lucu kaaannn… jadi pengen bisa padu-padan seru kayak gitu. Masih cocok nggak yah buat ibu-ibu? 😀

Pictures taken from: Popsugar

Advertisements

My Top 10 Fall Lipsticks 2016

Finally… I can talk about fall! Haha.. karena biasanya di Indonesia kan cuma ada dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Sedangkan kalau kita mengikuti tren di negara barat yang punya empat musim, kita jadi mengenal tren berdasarkan musim semi, panas, gugur, dan dingin.

Personally, saya suka banget musim gugur alias fall alias autumn. Musim ini udaranya mulai sejuk (nggak panas dan belum terlalu dingin), warna-warna daunnya cantik (mulai dari kuning, oranye, hingga merah kecokelatan, koleksi busananya pun lebih menarik (scarf, boots, dan coat sudah mulai bisa dipakai, nih..).

Nggak cuma warna busana saja yang mengikuti musim, warna lipstik juga. Untuk musim gugur kali ini, ada beberapa  warna lipstik yang menjadi pilihan saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
My top 10 fall lipsticks 2016
1. Maybelline Creamy Matte Lipstick – Touch of Spice

I love love love this lipstick from Maybelline. I think this one is the best matte formula from Maybelline. Sayangnya, rangkaian koleksi creamy matte ini nggak masuk ke Indonesia dan saya pun harus membelinya secara online.

Touch of Spice merupakan warna rosy plum dengan sedikit unsur warna cokelat yang cantik. Warnanya pas banget untuk sehari-hari dan menurut saya pas banget buat fall (walaupun masih cocok juga sih dipakai saat spring atau summer).

Oh iyaa.. lipstik ini juga tahan lama. It lasts all day (even after heavy eating) and still feels comfortable on my lips. 

2. Essence Matt Matt Matt Lipstick – 03 Wow Effect

Lipstik yang satu ini baru saja saya beli setelah sampai di Wina. Selain suka lihat-lihat counter kosmetik, saya juga suka banget ke drugstore untuk melihat berbagai macam kosmetik drugstore dengan harga terjangkau.

Salah satu merek yang sepertinya cukup oke (kualitas bagus dan harga murah) adalah Essence. Saya memilih rangkaian lipstik matte-nya, yang kayaknya juga belum lama ini diluncurkan. 

Dengan harga di bawah €3, lipstik ini oke banget. Warnanya memang tidak terlalu opaque, tapi saya suka warna mauvy pink ini yang pas banget di bibir saya.

3. MAC Matte Lipstick – Velvet Teddy

Kadang-kadang saya pengen juga pakai lipstik warna nude, jadilah pilihan saya jatuh ke Velvet Teddy ini, salah satu warna lipstik yang jadi favorit di kalangan pencinta lipstik MAC.

Buat mereka yang berkulit putih dengan bibir pucat, pasti warna lipstik yang dideskripsikan sebagai “deep-tone beige” ini bakal terlihat jelas. Tapi di bibir saya yang agak gelap, warnanya jadi beige muda yang sangat pucat. Saya biasanya mengakali dengan memakai lip liner. Pilihan saya antara MAC lip pencil Chiccory atau Whirl, supaya warnanya lebih keluar.

4. MAC Satin Lipstick – Del Rio

Satu lagi lipstik MAC yang menurut saya cocok untuk suasana musim gugur adalah Del Rio. Lipstik ini memiliki perpaduan warna plum dan cokelat, jadi berbeda dengan Retro (yang lebih peach) dan Whirl (yang lebih pink), walaupun ketiganya sama-sama punya unsur warna cokelat.

Del Rio menurut saya lebih gelap dibanding Retro dan Whirl, tapi tetap wearable. Lipstik ini memiliki formula satin yang nyaman di bibir, bahkan menurut saya lebih nyaman dibanding matte dan warnanya sama pekatnya.

5. Ofra Cosmetics Liquid Lipstick – Miami Fever

Ini dia salah satu liquid lipstick favorit saya. Memang, sih, saya tidak pernah membicarakannya di blog ini (karena kebanyakan yang mau ditulis tapi waktunya nggak ada, hiks). Makanya sekalian saja saya tulis di sini review soal Ofra Cosmetics ini.

Tekstur liquid lipstick dari Ofra ini menurut saya adalah yang paling nyaman di antara semua liquid lipstick yang pernah saya coba. Teksturnya kayak mousse dan sama sekali nggak bikin bibir kering, tapi warnanya tahan lama banget!

Saat saya pakai liquid lipstick ini, warnanya nggak hilang bahkan setelah saya makan steak berlumurkan butter dan kentang goreng dan setelahnya saya bersihkan bibir pakai tisu. Mama saya saja sampai bingung, kok lipstik saya masih utuh seperti tak tersentuh (hehe).

Warna Miami Fever ini dideskripsikan sebagai warna burnt terracotta. Warna ini diciptakan berkat kerja sama Ofra bareng Kathleen Lights (seorang YouTuber/Beauty Vlogger yang cukup terkenal). Warnanya memang unik banget dan saya suka karena warnanya mengingatkan saya dengan warna dedaunan di musim gugur.


6. YSL Rouge Pur Couture – 04 Rouge Vermillon

Apakah saya pernah bilang bahwa tekstur lipstik YSL Rouge Pur Couture merupakan yang paling nyaman? Jika belum, saya akan bilang sekarang. Saya memang suka banget dengan lipstik YSL, karena formulanya nyaman, tahan lama, nggak bikin bibir kering, dan pilihan warnanya banyak.

Salah satu lipstik YSL Rouge Pur Couture yang jadi favorit saya adalah warna Rouge Vermillon. Memang sepertinya warna ini jarang dibicarakan, ya nggak seheboh warna Rosy Coral, Le Fuchsia, atau seikonik warna Le Rouge.

Namun menurut saya, warna Rouge Vermillon ini cantik banget. Di bibir saya, warnanya terlihat seperti warna merah raspberry. Warna merah yang nggak ‘ngejreng’, sangat wearable untuk daytime, tapi tetap terkesan bold.

7. Chanel Rouge Allure Velvet – 58 Rouge Vie

Lipstik yang satu ini merupakan bagian dari koleksi Chanel Fall 2016, Le Rouge Collection N°1. Ada beberapa warna lipstik, dari merah oranye hingga cokelat gelap. Pilihan saya jatuh ke warna Rouge Vie, yang dalam website Temptalia dideskripsikan sebagai “muted medium-dark reddened plum”. Namun di bibir saya tidak kelihatan warna plum-nya, yang ada hanya warna merah dengan unsur warna cokelat.

Saya suka dengan Chanel Rouge Allure Velvet, karena teksturnya yang nyaman di bibir. Sayangnya, saya juga punya masalah dengan lipstik ini, karena setelah beberapa jam dipakai bibir akan terasa kering. Jadi perlu ekstra lip balm saat pakai lipstik ini. With that said, I still love this color and I think it’s perfect for fall.

8. Urban Decay x Gwen Stefani – Rock Steady

Saat tahu Urban Decay berkolaborasi dengan Gwen Stefani (salah satu penyanyi favorit saya..and I love her style) saya pun langsung mengontak kakak saya di US untuk membeli lipstik ini (karena waktu itu Urban Decay belum masuk ke Indonesia).

Warna Rock Steady ini menurut saya warna yang paling bagus di antara koleksi UD x Gwen. Warna lipstik ini dideskripsikan sebagai warna “deep wine red” dengan tekstur cream. Bagi pemilik kulit sawo matang atau kecokelatan seperti saya, wajib punya deh warna merah gelap seperti ini. 

Selain itu, tekstur cream-nya juga sangat nyaman. Memang, sih, mudah bleeding alias pas dipakai bisa keluar dari garis bibir dan sangat transferable alias gampang nempel di gelas atau tangan. Tapi tetap saja warnanya sangat sangat tahan lama dan tetap nyaman di bibir.

9. Urban Decay Matte Revolution Lipstick – Afterdark

Another one from Urban Decay, kali ini dari rangkaian lipstik Matte Revolution. Meski matte, tekstur lipstik ini sangat nyaman di bibir. Saya suka banget warna ini yang memiliki percampuran warna dark purple and pink berry.

Maaf kalau di foto swatch di bawah, warnanya jadi tidak kelihatan jelas. Tapi saya sudah pernah me-review lipstik Matte Revolution ini, jadi bisa lihat lebih jelas warna lipstiknya saat dipulaskan di bibir saya.

10. Lancome L’absolu Rouge Definition – 393 Le Prune

Fall kurang lengkap tanpa vampy lipstick.  Well, sebenarnya warna Le Prune ini nggak vampy banget, sih, tapi paling gelap di antara semuanya.

Buat yang pengen mencoba lipstik warna gelap, tapi nggak mau terlalu gelap nyaris hitam bisa mencoba warna plum gelap dari Lancome ini. Saya juga pernah membuat review tentang koleksi Lancome L’absolu Rouge Definition ini kalau mau tahu lebih banyak tentang tekstur dan formulanya.


Okay… I think that’s all. Hope you all enjoy reading this. And tell me, what’s your favorite lipstick for fall?

xoxo