Trip to Barcelona, Spain

Aduh.. duh.. sebenarnya cerita ini sudah agak basi ya (atau malah udah basi banget), hahaha.. Begitulah kadang-kadang punya ide tulisan banyak, tapi memulai untuk menulisnya itu yang agak malas.

Oke, cerita singkat saja kali ya. Jadi pas liburan Natal tahun kemarin (iya, tahun 2017 kemarin), saya, Yudo, dan Alanna memutuskan untuk pergi berlibur ke Barcelona, Spanyol. Kami memilih kota ini, karena setelah browsing, tiket pesawat ke Barcelona-lah yang paling terjangkau di antara yang lain. Saya juga belum pernah ke sana, jadi berangkatlah kami.

barcelona-bluestellar (2)

Kami di sana selama 3 hari 2 malam dan menginap di Hotel Jazz, yang sangat kami rekomendasikan. Hotelnya enak dan letaknya strategis banget. Tinggal jalan sedikit sudah banyak toko-toko dan tidak terlalu jauh dari Plaza Catalunya.

Dari airport kami naik shuttle bus yang haltenya tidak jauh dari hotel, jadi sangat memudahkan untuk para turis, deh. Apalagi harga tiketnya pun tidak mahal (lumayan mengirit biaya taksi dari airport ke hotel dan dari hotel ke airport).

Hari pertama, kami jalan-jalan ke Camp Nou, yang menurut saya sangat melelahkan. Kenapa? Karena tempat ini tidak stroller friendly. Waktu ke sana, Alanna sedang asyik tidur di stroller. Jadilah kami mengangkat-angkat stroller mengelilingi stadion yang banyak anak tangganya ini. Huft!

Setelahnya, kami jalan-jalan keluar masuk toko, deh. Oh iya, meski malam Natal, toko-toko di Barcelona tetap buka sampai jam 8 malam. Katanya, biasanya tiap hari Minggu toko-toko sebenarnya tutup. Namun selama bulan Desember, toko-toko itu buka terus selama 7 hari dalam seminggu demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang mau belanja kebutuhan Natal. Enak, ya.. kalau di Wina mah udah bye, deh, kayak kota sepi nggak ada toko yang buka.

Hari kedua, kami keliling pakai bus tour, mulai dari Sagrada Familia sampai Park Guell. Ini merupakan dua tempat yang wajib dikunjungi turis kalau ke Barcelona. Dua tempat ini merupakan hasil karya Antoni Gaudi, arsitek kebanggaan Barcelona. Banyak sebenarnya hasil karya dia, tapi tidak sempat kami datangi semua.

barcelona-bluestellar (3)
Sagrada Familia

barcelona-bluestellar (4)

barcelona-bluestellar (1)
Park Guell

Hari ketiga, kami berfoto-foto di sekitar Plaza Espana. Setelahnya, kami ke mall yang katanya buka sepanjang tahun, karena letaknya dekat dengan Marina. Sorenya, kami pulang kembali ke Wina, deh.

Jujur, saya suka banget kota ini, karena rasanya begitu ‘hidup’. Pilihan makanannya juga bervariasi, meskipun jam makan malamnya aneh (menurut saya). Restoran pada umumnya tutup sore hari dan baru buka jam 9 malam untuk waktu makan malam.

Kalau mau lihat lebih jelas lagi soal Barcelona, silakan ditonton saja vlog saya selama 3 hari 2 malam di sana.

 

 

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

Celebrating New Year with Trip to Madrid

Halo 2017.. Saya tidak sempat menuliskan apa saja yang terjadi di 2016 kemarin. Ah well, yang pasti sepanjang 2016 banyak memori menyenangkan dan banyak perubahan dalam hidup saya. Berhenti kerja dan pindah ke Austria merupakan langkah besar dalam hidup saya. Menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak secara full time juga bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan dalam hidup saya. Meski begitu, saya menikmati setiap menitnya.

Anyway, hari pertama di tahun 2017 saya habiskan dengan berlibur ke Madrid, Spanyol. Ini bukan liburan keluarga, melainkan liburan bersama ibu-ibu Dharma Wanita di Wina. Jujur saja, sebenarnya saya deg-degan, karena ini merupakan pertama kalinya saya pergi berlibur membawa Alanna tanpa keluarga. Saya pernah pergi berlibur dengan Alanna bersama mama dan kakak saya, tapi cuma ke Bandung dan cuma tiga hari. Waktu itu juga sempat ke Frankfurt bersama mama, dan juga cuma tiga hari.

Sedangkan perjalanan ke Madrid ini selama 6 hari 5 malam, dengan jadwal yang cukup padat. Untungnya, karena pergi bersama ibu-ibu yang pastinya lebih berpengalaman dari saya soal mengasuh anak, saya cukup dibantu sepanjang perjalanan.

Kesan saya selama di Madrid, sumpah saya capek, haha.. Ada beberapa tempat di mana saya tidak bisa bawa stroller, sementara perjalanannya naik-turun tangga, jadilah saya gendong Alanna kemana-mana sampai punggung pegal. Saya memang bawa gendongan, tapi karena jaket tebal dan licin (udara di sana di bawah 10 derajat dengan angin yang cukup dingin), jadilah Alanna merosot terus. Padahal minggu-minggu sebelumnya di Madrid cuaca cukup cerah dan suhu di atas 10 derajat, jadi cukup nyaman. Entah kenapa, justru pas saya di sana, cuacanya malah jadi dingin dan beberapa kali hujan.

Untungnya, selama perjalanan, Alanna tergolong anteng dan jarang rewel. Dia juga tidak sampai sakit atau kecapekan, walaupun makannya jadi agak tidak teratur. Jika dilihat secara keseluruhan, saya memang kurang puas menikmati liburan ini. Sepertinya banyak tempat yang ingin dilihat, tapi waktu sepertinya cepat banget berlalunya. Lalu ada beberapa tempat yang sebenarnya ingin saya nikmati, tapi tidak kesampaian. Sebenarnya saya ngiler sama jalan-jalan di kota Madrid yang ada deretan toko-toko, mirip seperti di Times Square New York. Jalan-jalan pun terasa kurang santai, karena mengejar banyak tempat yang dikunjungi, yang sebagian besar justru di luar kota Madrid.

Memang, sih, kotanya cantik banget. Banyak gedung-gedung kuno dan arsitektur menarik yang bisa dilihat. Selain itu, Madrid itu kota yang ramai banget (kalau saya bandingkan dengan Wina yang kayaknya adem ayem). Hingga pukul 12 malam saja, kota ini masih ramai dengan orang yang berjalan-jalan di pusat kota atau sekadar mencari snack di malam hari (pastinya pilihan para turis adalah churros.. yang menurut saya bentuknya kayak cakue, hehe).

Oh iya, saya juga sempat menonton pertunjukan Flamenco, tarian khas Spanyol. Buat para turis, sepertinya harus nonton, karena memang menghibur banget (walaupun kita nggak ngerti apa yang mereka nyanyikan). Bahkan Alanna saja menikmati banget pertunjukan ini. Pertunjukannya sendiri di dalam restoran jadi bisa sambil makan malam, tapi bisa juga memilih tanpa makan malam (hanya minuman dan cemilan saja). Lama pertunjukannya sekitar 1,5 jam dengan beberapa sesi tarian dan nyanyian. Pokoknya seru banget, menurut saya.

Selain Madrid, saya juga mengunjungi Toledo dan Segovia. Sebenarnya ada juga jadwal ke Cordoba, tapi saya memilih tidak ikut karena jarak yang cukup jauh dari Madrid (4-5 jam menggunakan mobil atau 2 jam menggunakan kereta). Akhirnya saya memilih untuk tetap tinggal di wisma dubes tempat kami menginap untuk beristirahat seharian penuh. Siapa tahu saya bisa ke sini lagi bersama suami dan jalan-jalannya bisa lebih santai.

Ini sedikit foto-foto saya bersama Alanna di Madrid.

toledo
Toledo, Spain
img_4290
Plaza de Toros
img_4400
Toledo
andhina-alanna-madrid-palace
Catedral de Santa Maria la Real de la Almudena
andhina-alanna-toledo
Me and Alanna
andhina-alanna-madrid
In front of Santiago Bernabeu Stadium
andhina-segovia
Alcazar de Segovia

 

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀

Moving to Vienna

Hello again… Sudah beberapa minggu tidak update dan tidak menulis tentang lipstik (hehe). Itu karena saya sedang mengalami banyak hal, salah satunya: Pindahan!

Akhirnya, saya ngerasain juga, deh, yang namanya jadi istri diplomat. Akhir Agustus kemarin saya resmi pindah ke Wina alias Vienna alias Wien di Austria. (Kenapa saya nulisnya begitu, karena ada juga beberapa orang yang nggak tau Wina tuh di mana, taunya Vienna 😄).

Pada akhir bulan Juli lalu, saya resign dari pekerjaan. Sedih karena nggak punya penghasilan, tapi excited juga karena saya ingin merasakan kerja freelance. Iya, uangnya nggak seberapa, tapi saya lagi jenuh juga dengan pekerjaan di kantor. Mungkin nanti setelah tiga tahun, saya mau coba kerja kantoran lagi.

Kota Wina ini merupakan tempat posting atau penempatan pertama Yudo sebagai diplomat muda (walaupun umur, sih, nggak muda-muda amat). Nah, para istri diplomat ini bakal jadi Dharma Wanita. Tugasnya juga nggak ringan, karena setiap perwakilan punya acara sendiri-sendiri yang juga akan diurus para ibu-ibu itu.

Pandangan saya, sih, awalnya soal ibu-ibu itu mereka pasti jago masak, jago dandan, jago sanggulan, sementara saya nggak bisa semuanya. Mudah-mudahan saja saya bisa belajar semuanya. Menurut saya mereka adalah ibu-ibu hebat yang bisa mengatur semuanya. Bayangkan saja di luar negeri, tanpa bantuan dari ART, ngurus anak, ngurus keluarga, masih juga harus ngurus acara-acara lainnya. Makanya saya suka agak kesal kalau ada orang yang mencap ibu-ibu Dharma Wanita kerjanya cuma gosip doang atau nggak ada kerjanya. Sama saja seperti orang yang menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga, padahal kerja mereka itu 24/7 nonstop tanpa digaji pula.

Makanya, ketika tahu saya akan jobless (kerja freelance pasti bakal beda sama kerja kantoran) dan saya harus mengurus rumah sendirian, saya agak deg-degan juga. Di Jakarta, saya terima beres semua. Makanan ada, rumah ada yang ngerapiin, sementara di sini saya benar-benar harus belajar mandiri.

Sebelum berangkat pun niat mau belajar bahasa Jerman gagal, belajar dandan gagal, sampai belajar masak juga gagal (haha!). Ini mah alamat belajar dari nol banget. Tapi kalau dipikir-pikir kalau saya nggak kayak gini, bakal susah belajar mandiri.

Kakak saya saja bisa, kok, hidup di luar negeri dengan tiga anak tanpa bantuan ART. Dia kerja part time, sedangkan suaminya kerja full time. Semuanya bisa dia jalani dengan baik, jadi semoga saja saya bisa.

Penempatan di Wina ini akan berlangsung selama tiga tahun, setelah itu saya, Yudo, dan Alanna akan kembali tinggal di Jakarta hingga menunggu penempatan berikutnya. Nah, biasanya akan ada lagi tantangan-tantangan baru. Kalau sekarang saya repot beradaptasi, belajar ini-itu, nanti saya akan direpotkan dengan sekolah anak. Sama seperti Yudo yang juga anak diplomat, Alanna pastinya akan pindah-pindah sekolah. Sudah punya teman, nanti harus pisah lagi. Belum lagi kalau kurikulum sekolahnya beda. Tapi yang nanti dipikirkan nanti saja..hehe.

Baiklah.. Sekarang saya harus siap-siap beradaptasi di tempat baru. Harus mulai menata apartemen, ngepel, nyuci, nyetrika, hadehhhh.. Wish me luck!

Jalan-jalan bareng Alanna
Resepsi diplomatik di KBRI Wina (untung ada yang mau bantuin saya sanggulan, hehe)

When My Teteh and Her Kids Visited Indonesia

Kayaknya waktu cepat banget berlalunya, sementara banyak banget yang harus dikerjakan. Selama sebulan terakhir ini, saya memang kurang update dengan blog.

Well, here’s what happened in the last month..

Kakak perempuan saya yang tinggal di New Jersey datang membawa tiga anaknya (yippee!!). Ini merupakan pertama kalinya dia datang ke Jakarta setelah lebih dari 10 tahun tinggal di sana. Anak-anaknya semua lahir di US, jadi mereka belum pernah tahu soal Jakarta.

Pharrell, merupakan anak Teteh yang paling gede. Komentar dia ketika datang ke Jakarta adalah..

“Houses in Jakarta are fancy! They have a small lake in front of their house..”

“Lake apa? Got kali..”

“Apa itu got?”

“Some kind of sewer..”

“Ewww..”

Felycia a.k.a Thatha, anak kedua Teteh yang usianya 6 tahun. Setiap kali dibilang, “Thatha cantik sekali”, dia akan jawab, “I know”..

Suatu kali dia melihat cicak di rumah dan tanggapannya adalah, “Oh my God, there’s an alligator inside the house!!” (Totally a drama queen.. Hehe)

Fahrany a.k.a BeeBee a.k.a Bibo adalah anak yang paling kecil dan yang bahasa Indonesianya paling tidak lancar

“Beebee kan sudah besar, sudah umur 5 sekarang.”

“No, I’m five”

“Iya lima”

“No, five”

“Iya.. Five itu artinya lima”

“Beebee nggak bisa bahasa Indonusa” (hehe bahkan Indonesia saja dibilangnya Indonusa)

Liburan mereka berlangsung selama lima minggu di Indonesia, tapi lima minggu itu rasanya cepat sekali berlalunya. Tiba-tiba saja rumah yang tadinya terasa ramai, harus kembali terasa sepi. Setelahnya saya pun disibukkan dengan segala persiapan pindahan (iya.. Saya akan pindah jauh dan ceritanya dilanjutkan di blog post berikutnya).

Terakhir ketemu mereka di New Jersey, mereka masih anak-anak, saya belum menikah, dan belum memiliki Alanna. Sekarang mereka sudah semakin besar dan waktu cepat banget berlalunya.

I’m gonna miss them so much.. Apalagi mereka adalah anak-anak yang sangat baik. Semoga kita bisa bertemu lagi yaa.. Dan main-main bareng sama baby Alanna (yang mungkin nanti sudah tidak baby lagi).

nini-dan-cucu
Nini dan enam cucunya
Me and Teteh and the kids
at De Ranch, Lembang
with my Teteh

Alanna’s First Lebaran

Minal aidin wal faidzin! Mohon maaf lahir dan batin… Semoga belum terlalu telat yaaa buat maaf-maafan, hehe.

img_2481-1

Suasana Lebaran mungkin sudah lewat. Post holiday syndrome juga mungkin perlahan-lahan sudah hilang. Makanya sebelum ceritanya keburu basi, saya mau cerita sedikit soal Lebaran kemarin.

Lebaran bagi saya merupakan waktu berkumpul bersama keluarga. Saat masih kecil dulu, tradisi keluarga saya adalah pergi ke Cimahi untuk merayakan Lebaran di rumah Abah (kakek saya). Namun beliau meninggal pada tahun 1999, sehingga tradisi itu berganti jadi pergi ke rumah Uwa saya (kakak tertua mama) yang ada di Jakarta dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, Ayah saya meninggal pada 2001. Kakak perempuan saya pindah ke Amerika pada 2006. Akhirnya suasana Lebaran menjadi sepi. Biasanya hanya dirayakan berdua dengan Mama saya, kadang dengan saudara jauh. Kebetulan dari keluarga Ayah tidak ada yang muslim, jadi kami memang tidak memiliki tradisi mengunjungi mereka saat Lebaran (sebagian besar keluarga pun sebenarnya tidak tinggal di Indonesia).

Jujur saya kangen dengan suasana Lebaran di daerah (bukan Jakarta), tapi di sisi lain saya juga menikmati Jakarta yang lengang saat Lebaran.

Setelah menikah dengan Yudo, baru deh saya merasakan lagi yang namanya mudik dan ber-Lebaran bersama keluarga. Ibu-Bapak Yudo datang dari keluarga yang cukup besar. Nenek Yudo sekarang tinggal di Bandung dan biasanya tiap tahun semua keluarga (mulai dari anak, menantu, cucu, dan cicit) berkumpul di situ.

Tahun lalu merupakan pertama kalinya saya merasakan mudik setelah kurang lebih 15 tahun Lebaran di Jakarta. Saya sempat agak was-was dengan arus mudik yang macet di mana-mana. Saya kala itu sedang hamil 6 bulan dan sangat sangat beser…hehe. Jadi yang saya takutkan adalah jika kebelet pipis di jalan saat macet. Untungnya, saya malah nggak ketemu macet.

Keluarga Yudo juga mempertahankan tradisi saat Lebaran. Mulai dari Sholat Ied bareng, sungkeman, pertemuan dengan keluarga besar di gedung (iyaa.. Jumlahnya ratusan ternyata), hingga ngasih salam tempel untuk anak-anak yang belum bekerja.

Nah, karena tahun lalu Hari Lebaran pertama saya habiskan di Bandung, pada tahun ini gantian hari pertamanya di Jakarta di rumah mama saya. Kemudian pada malamnya, kita meluncur ke Bandung.

Kalau tahun lalu saya khawatir beser, pada tahun ini saya bawa bayi yang juga bikin saya khawatir. Bagaimana kalau nanti dia rewel? Bagaimana kalau nanti dia pup di jalan? Dan yang paling repot to the max adalah barang bawaan saya (hahaha).

Alanna sudah mulai makan, jadi deh saya bawa segala macam perlengkapan memasak. Memang ibu-ibu rempong banget deh. Mungkin ibu-ibu lain lebih pintar soal menyiapkan makanan, kalau saya sampai Alanna mau masuk 9 bulan ini rasanya kok belum cerdas juga, ya.. (Maafkan mamamu Alanna, tapi mama masih terus belajar kok via internet dan nonton video tutorial di YouTube :D)

Selama libur Lebaran di Bandung kekhawatiran saya tidak terbukti. Alanna baik-baik saja sepanjang perjalanan (dari Jakarta dan balik dari Bandung ke Jakarta), dia malah tidur dengan nyaman di carseat. Selama di Bandung, makannya juga cukup bagus, apalagi karena banyak yang mengerumuni dia (kayaknya Alanna memang senang jadi pusat perhatian). Dia juga menikmati digendong-gendong dari satu Eyang ke Eyang yang lainnya.

Alanna juga terlihat senang saat dapat banyak amplop berisi uang (haha..). Kayaknya itu karena dia senang sama kertas-kertas berwarna. Untung saja nggak dia makan. Jadi kesimpulannya, memang sebenarnya yang paling repot itu saya, karena harus bikin makanan segar setiap hari (akibat kulkas di rumah Bandung full terus). Belum lagi saya harus packing barang-barang yang banyak banget (fyi saja, sudah packing ribet-ribet, saya dan Yudo malah kelupaan bawa popok Alanna..hehe). Mungkin setelah ini, saya harus belajar untuk packing yang lebih ringkas, apalagi untuk jalan-jalan sama bayi.

Alanna hitung uang
Uangnya bisa buat beli berapa lipstik yaaa? hahaha

Begitulah cerita Lebaran pertama Alanna. Saya berharap Lebaran-Lebaran berikutnya juga bisa dia nikmati. Saya ingin dia merasakan hangatnya kebersamaan dengan keluarga dan tradisi saat Hari Raya. Saya mungkin cuma merasakannya sebentar waktu dulu, jadi saya berharap Alanna bisa merasakannya hingga dia dewasa nanti dan berkeluarga, kemudian meneruskannya ke anak-anak. Karena itulah makna Lebaran bagi saya, menikmatinya bersama keluarga.