Trip to Barcelona, Spain

Aduh.. duh.. sebenarnya cerita ini sudah agak basi ya (atau malah udah basi banget), hahaha.. Begitulah kadang-kadang punya ide tulisan banyak, tapi memulai untuk menulisnya itu yang agak malas.

Oke, cerita singkat saja kali ya. Jadi pas liburan Natal tahun kemarin (iya, tahun 2017 kemarin), saya, Yudo, dan Alanna memutuskan untuk pergi berlibur ke Barcelona, Spanyol. Kami memilih kota ini, karena setelah browsing, tiket pesawat ke Barcelona-lah yang paling terjangkau di antara yang lain. Saya juga belum pernah ke sana, jadi berangkatlah kami.

barcelona-bluestellar (2)

Kami di sana selama 3 hari 2 malam dan menginap di Hotel Jazz, yang sangat kami rekomendasikan. Hotelnya enak dan letaknya strategis banget. Tinggal jalan sedikit sudah banyak toko-toko dan tidak terlalu jauh dari Plaza Catalunya.

Dari airport kami naik shuttle bus yang haltenya tidak jauh dari hotel, jadi sangat memudahkan untuk para turis, deh. Apalagi harga tiketnya pun tidak mahal (lumayan mengirit biaya taksi dari airport ke hotel dan dari hotel ke airport).

Hari pertama, kami jalan-jalan ke Camp Nou, yang menurut saya sangat melelahkan. Kenapa? Karena tempat ini tidak stroller friendly. Waktu ke sana, Alanna sedang asyik tidur di stroller. Jadilah kami mengangkat-angkat stroller mengelilingi stadion yang banyak anak tangganya ini. Huft!

Setelahnya, kami jalan-jalan keluar masuk toko, deh. Oh iya, meski malam Natal, toko-toko di Barcelona tetap buka sampai jam 8 malam. Katanya, biasanya tiap hari Minggu toko-toko sebenarnya tutup. Namun selama bulan Desember, toko-toko itu buka terus selama 7 hari dalam seminggu demi memenuhi kebutuhan orang-orang yang mau belanja kebutuhan Natal. Enak, ya.. kalau di Wina mah udah bye, deh, kayak kota sepi nggak ada toko yang buka.

Hari kedua, kami keliling pakai bus tour, mulai dari Sagrada Familia sampai Park Guell. Ini merupakan dua tempat yang wajib dikunjungi turis kalau ke Barcelona. Dua tempat ini merupakan hasil karya Antoni Gaudi, arsitek kebanggaan Barcelona. Banyak sebenarnya hasil karya dia, tapi tidak sempat kami datangi semua.

barcelona-bluestellar (3)
Sagrada Familia

barcelona-bluestellar (4)

barcelona-bluestellar (1)
Park Guell

Hari ketiga, kami berfoto-foto di sekitar Plaza Espana. Setelahnya, kami ke mall yang katanya buka sepanjang tahun, karena letaknya dekat dengan Marina. Sorenya, kami pulang kembali ke Wina, deh.

Jujur, saya suka banget kota ini, karena rasanya begitu ‘hidup’. Pilihan makanannya juga bervariasi, meskipun jam makan malamnya aneh (menurut saya). Restoran pada umumnya tutup sore hari dan baru buka jam 9 malam untuk waktu makan malam.

Kalau mau lihat lebih jelas lagi soal Barcelona, silakan ditonton saja vlog saya selama 3 hari 2 malam di sana.

 

 

Advertisements

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

Euro Trip 2017: Prague, The Fairy Tale City

Oke, sampailah saya di akhir perjalanan keliling beberapa negara Eropa tahun ini. Destinasi terakhir kami adalah Praha alias Prague, Ibu Kota Republik Ceko. Praha ini memang terkenal sebagai kota wisata yang dihiasi gedung-gedung kuno dan antik. Belum lagi patung-patung kuno yang memiliki makna sejarah tersendiri.

Kota ini juga dikenal dengan sebutan “The city of thousand spires” alias kota dengan ribuan menara, karena memang di kota ini terdapat banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.

Sayangnya, saya hanya sempat menginap semalam di kota ini dan hanya sempat berjalan-jalan sebentar saja di kota tuanya. Beberapa tempat yang menarik di Praha ini antara lain, Astronomical Clock, jam yang dibuat pada abad pertengahan ini begitu rumit, karena menggambarkan pergerakan matahari dan bulan, serta tanggal, jam, hingga zodiak (haha, saya juga nggak bisa bacanya, sih..). Ada juga Charles Bridge yang melintas di atas Sungai Vltava, yang dihiasi 30 patung santo.

Praha ini juga dikenal sebagai “Fairy tale city”, karena setiap landmark di kota ini punya cerita dongeng atau legenda atau mitos (yang tentu saja bisa dipercaya, bisa juga tidak). Soal Astronomical Clock, misalnya, saking hebatnya jam tersebut, pemerintah setempat tidak menginginkan ada negara lain yang memiliki jam serupa. Sehingga atas perintah dewan kota Praha, si pembuat jam terpaksa dibutakan matanya agar dia tidak bisa membuat ulang jam tersebut. Si pembuat jam pun kesal dan dia merusak jam tersebut hingga tak bisa digunakan lebih dari satu abad lamanya.

Lalu ada pula cerita dongeng tentang pembuatan Charles Bridge, yang kerap mengalami kerusakan. Bangunannya sering roboh dan akhirnya sang arsitek meminta bantuan pada “iblis” untuk membantunya membuat jembatan tersebut. Si iblis memenuhi permintaan arsitek dengan syarat, dia meminta tumbal orang pertama yang melintasi jembatan tersebut. Si arsitek mencoba untuk mengakali iblis dengan membawa seekor ayam dan berusaha menyuruh ayam itu untuk melintasi jembatan. Tahu akan diakali oleh arsitek, iblis pun pergi ke rumah arsitek dan mengatakan pada istri arsitek kalau dirinya ditunggu oleh suaminya di jembatan tersebut. Ketika arsitek sampai di jembatan, dia baru sadar kalau istrinya sudah melintasi jembatan itu dan dia pun menjadi tumbal untuk si iblis. (hii.. serem ya).

Nah, legenda lainnya (yang katanya fakta, sih) adalah kisah tentang Holy Roman Emperor Charles IV, yang sangat percaya akan numerologi. Saat Charles Bridge ini akan dibangun, dia berkonsultasi dulu pada ahli numerologi untuk mencari tanggal baik. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 1357, hari ke-9 dari bulan ke-7, pada pukul 5:31 pagi. Raja Charles pula yang meletakkan batu pertama dari jembatan tersebut.

Cerita lainnya mengisahkan tentang salah satu patung yang terdapat di Charles Bridge, yaitu Jan of Nepomuk (Santo John), patung santo yang di atas kepalanya dihiasi lingkaran dengan lima bintang. Legenda menceritakan tentang Wenceslas IV, putra dari Raja Charles, yang dikenal sebagai pria menyebalkan. Wenceslas meminta Jan, yang merupakan seorang pastor, untuk menceritakan rahasia apa yang diceritakan Ratu pada Jan. Namun Jan menolak dan akibatnya lidah Jan malah dipotong (ew!). Jan pun diikat dan dimasukkan ke dalam karung, lalu dibuang ke sungai dari atas Charles Bridge. Meski arus sungai cukup deras kala itu, tubuh Jan tetap mengambang di tempat yang sama selama beberapa hari. Begitu tubuhnya tenggelam, tampak lingkaran dengan lima bintang di atas air. Sekarang, Jan malah menjadi salah satu patung santo pelindung di Charles Bridge.

Saya sendiri memang suka banget dengan cerita dongeng dan mitos seperti ini. Jadi penasaran pengen tahu lebih banyak soal dongeng-dongeng di Kota Praha. I definitely gonna go back here again. Waktu saya ke sana, saya tidak sempat menjelajahi Charles Bridge, karena baru sampai beberapa meter ke tengah, hujan turun dengan deras (huhu).

Begitulah cerita jalan-jalan saya keliling beberapa negara Eropa yang diakhiri dengan “saya masih belum puas” haha.. Sepertinya yang namanya liburan memang suka begitu ya, apalagi kalau liburannya seperti saya ini yang nggak pakai itinerary yang jelas, akibatnya banyak waktu yang kebuang karena bingung mau ke mana.

Ah well, setidaknya saya sempat mendatangi beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Semoga nanti bisa jalan-jalan lagi (sebelum saya kembali ke Indonesia tahun 2019) dan bisa share ceritanya di sini. Cheers!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Astronomical Clock
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saint Ivo, salah satu patung santo di Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kota Praha yang dihiasi gedung-gedung kuno
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cuma punya satu foto langit Praha yang cerah, selebihnya mendung.. hiks
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava dan Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava

(All pictures taken by me)

Euro Trip 2017: Sunny Day in Paris

Dari Lucerne, kami pun melanjuti perjalanan menuju Paris, Prancis–Yeay! I love this city, walaupun cara menyetir orang-orang di sini kacau dan kotanya tidak sebersih kota-kota lainnya di Eropa, seperti kota-kota di Swiss yang bersih banget. Nggak tahu, ya, sejak belum pernah ke sini saja, Paris selalu menjadi kota impian yang ingin banget saya datangi.

Saya memang pernah ke Paris dua tahun lalu, tapi tetap rasanya nggak puas. Tahun ini, rasanya lebih spesial, karena saya pergi bersama Alanna, yang dua tahun lalu masih di dalam perut. Untungnya, saat kami berjalan-jalan di pusat kota Paris, cuaca sangat bersahabat, cerah-ceria, dengan sedikit angin sejuk. Saya pun melepas jaket tebal yang saya pakai selama di Lucerne hari sebelumnya.

Tujuan pertama kami, tentu saja Menara Eiffel. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dari berbagai sudut (haha.. namanya juga turis). Setelahnya, saya ingin banget berjalan-jalan di Champs-Elysees, sementara ibu mertua dan bude-bude ingin menaiki bus tur hop-on/hop-off yang keliling kota.

Setelah menemukan bus tur yang harganya lagi diskon, kami pun berkeliling menggunakan bus tersebut dan turun di Champs-Elysees. Tujuan saya cuma satu, SEPHORA! Haha, namanya juga pencinta lipstik sejati, saya pastinya menggila banget di sini, dan Sephora kan brand asal Prancis, sudah pasti koleksi brand-brand kosmetiknya lengkap banget (dan karena di Austria tidak ada Sephora, hiks). Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan lagi jalan-jalan di sekitar tempat tersebut.

Namun, kami nggak sadar kalau ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, padahal hari masih terang! Kami mencoba mencari bus tur yang kami naiki, tapi kok tidak ada. Saya membaca di brosurnya, ternyata last departure mereka adalah jam 5 sore..Oh no!

Kami akhirnya berjalan dari Champs-Elysees ke Plaza de la Concorde, karena tadi sempat melihat beberapa bus tur yang berhenti di situ. Kami pun menemukan si bus merah, yang merupakan bus tur kami, tapi ternyata mereka tidak akan kembali ke Menara Eiffel (tempat kami memarkir mobil). Jadilah, kami memutuskan untuk jalan dari Plaza de la Concorde ke parkiran di Menara Eiffel (which is jauh banget.. haha).

Namun ada untungnya juga, sih, berjalan kaki sejauh itu, karena kami jadi melihat sisi lain Paris. Selain itu, berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine menjelang sunset ternyata indah banget. Apalagi cuacanya sejuk, sehingga kami pun tidak merasa lelah.

Setidaknya, hal ini bisa jadi pelajaran. Pertama, sebaiknya pilih bus tur yang lebih mahal sedikit tapi armadanya lebih banyak, seperti Big Bus Paris atau L’Open Tour Paris. Kami memilih bus tur yang satunya lagi dan tampaknya armadanya lebih sedikit. Kedua, perhatikan jam saat menaiki bus tur. Tampaknya kami dapat harga lebih murah, karena kami baru menaiki bus tur tersebut menjelang jam dua siang (jelas saja jadi lebih murah). Kalau memang ingin menaiki bus hop-on/hop-off, sebaiknya mulai sejak pagi hari.

Keesokannya, kami pergi menuju Istana Versailles. Hari itu panas banget, matahari sangat terik, dan tidak ada awan sama sekali. Antrean untuk masuk ke Versailles pun mengular, jadinya kami juga malas untuk masuk ke dalam. Selebihnya, kami malah menghabiskan waktu di outlet tak jauh dari Versailles (yang sebenarnya bukan outlet yang oke, ah well.. saya, kan, cuma nebeng jalan-jalan).

Kalau boleh memilih, saya masih tetap ingin berjalan-jalan di Kota Paris. Saya juga masih penasaran dengan isi Museum Louvre. Jadi, selama saya masih tinggal di kawasan Eropa hingga 2019 nanti, saya berharap bisa kembali lagi ke Paris. Masih penasaran dan belum bosan balik lagi ke sana.. hehe.

Oh iya, Kota Paris ini memang cantik banget, tapi kita tetap harus berhati-hati. Soalnya seminggu setelah saya dari sini, terjadi lagi penembakan. Di Kota ini memang pernah terjadi beberapa kali aksi teror, seperti penembakan di kantor Charlie Hebdo dan penembakan massal saat konser metal pada 2015 lalu. Nah, penembakan yang baru-baru ini, terjadi di Champs-Elysees, deretan pertokoan yang ramai dikunjungi para turis.

Selain itu, jika diperhatikan, di pinggir-pinggir Kota Paris juga terlihat rumah-rumah kardus yang ditempati para migran dari Suriah. Miris, sih, melihatnya. Di satu sisi, Kota Paris jadi terlihat berantakan, di sisi lain sedih banget melihat kehidupan mereka yang tentunya jauh dari layak. Semoga masalah migran ini bisa diselesaikan. Saya, sih, nggak bisa banyak omong (siapa saya?), cuma bisa berharap yang terbaik bagi mereka.

Ini sedikit foto-foto saya selama di Paris.

alannaeiffel
Alanna in Paris
arc de triomphe
Arc de Triomphe
eiffel1
Selfie di depan Menara Eiffel
eiffel2
Yes.. another picture in front of the Eiffel Tower
paris1
Obelisk yang terletak di belakang Plaza de la Concorde
paris2
Sunset di Paris
paris3
Satu lagi foto sunset
seine
Sunset di pinggiran Sungai Seine

(All photos taken by me.. except when I’m in it :D)

Next destination: Netherlands.

Euro Trip 2017: The Gorgeous Interlaken and Lucerne

Setelah menghabiskan waktu di Venice, akhirnya kami melaju ke Kota Lucerne (Luzern) di Swiss. Saya sendiri juga pernah ke kota tersebut dua tahun lalu saat pergi bersama Yudo dan kota ini cukup berbekas di memori kami, karena kecantikan pemandangan di kota tuanya. Jalan-jalan berbatu, deretan toko, serta danau di tengah kota yang dipenuhi kawanan angsa dan bebek memang punya magnet tersendiri bagi kami.

Makanya ketika perjalanan ini juga akan singgah di Kota Lucerne (bahkan kami menginap selama tiga malam), saya sangat excited. Sayangnya, ada beberapa tempat yang tak sempat kami kunjungi, karena ada beberapa perubahan rencana di tengah jalan. Cuaca saat itu di Swiss cukup dingin, padahal sebelumnya kami sudah merasa nyaman dengan cuaca yang sejuk dan cerah di Budapest, Zagreb, dan Venice.

Perjalanan dari Venice menuju Lucerne juga memakan waktu cukup lama, hampir 6 jam. Kami pun sampai sangat malam di Lucerne, sekitar pukul 10.30 malam. Esoknya, kami berjalan-jalan di Grindelwald dan Interlaken.

Sebenarnya, dari Interlaken ini banyak turis yang naik ke atas dengan menggunakan kereta di Jungfraujoch. Tapi entah kenapa, kami tidak melakukannya (mungkin karena cuaca dingin dan ibu-ibu yang lainnya sepakat tidak naik ke atas). Ya sudah, jadilah kami berjalan-jalan di pusat kota Interlaken dan habis itu sempat berfoto-foto di Brienz Lake yang cantik.

Menurut informasi yang saya dapatkan, Interlaken ini sendiri terletak di antara dua danau, yaitu Brienz Lake di bagian timur dan Thun Lake di bagian barat. Selain itu, ada pula Aare River yang mengalir di antara kedua danau tersebut. Jadi buat yang mau pergi berjalan-jalan ke sini, sebaiknya baca-baca dulu tentang berbagai tempat wisata di Interlaken, supaya tidak banyak membuang waktu.

Saya sendiri, sih, lebih tertarik dengan kota tua Lucerne, yang akhirnya baru kami kunjungi keesokannya lagi. Awalnya, rombongan ibu-ibu ini mau ke Mount Titlis, tapi begitu sampai di sana malah nggak ada yang mau naik karena kedinginan (hehe). Kalau saya, sudah pernah naik hingga ke ketinggian 3000an meter saat dua tahun lalu ke Swiss, ketika usia kehamilan saya baru 8 minggu. Alhasil, karena oksigen yang tipis di atas gunung itu, saya pun pusing dan muntah-muntah (bukan kenangan yang asyik, ya).

Setelah batal ke Mount Titlis, baru deh ibu-ibu sepakat ke kota tua Lucerne. Salah satu landmark terkenal di sini adalah Kapellbrucke (Chapel Bridge), yang merupakan jembatan kayu tertua di Eropa. Jika berjalan di jembatan kayu ini, kita bisa menemukan lukisan-lukisan kuno dari abad ke-17 yang diletakkan di langit-langit jembatan.

Namun, menurut informasi yang saya baca, jembatan ini sempat mengalami sejumlah musibah, salah satunya kebakaran. Jadi dari sekitar 150an lukisan, kini cuma ada 47 lukisan yang ada. Selain jembatan kayu, ada pula Wasserturm atau Water Tower yang menjadi ikon unik di Lucerne. Dinamakan seperti itu bukan karena isinya air, tapi karena tower tersebut didirikan di atas air.

Setelah puas berjalan-jalan di kota tua Lucerne. Masuk ke dalam jalan-jalan batu setapak dan cuci mata di dalam beberapa toko, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Lion Monument. Ini juga salah satu tempat ikonik di kota Lucerne. Monumen ini dibangun pada tahun 1820-1821 untuk mengenang tentara Swiss yang dibantai dalam perang Revolusi Prancis tahun 1792. Sosok singa digambarkan sebagai sosok yang pemberani. Jika diperhatikan, patung singa itu sendiri terlihat sedang sekarat dengan tombak menembus tubuhnya.

Sebenarnya, masih banyak lokasi-lokasi menarik lainnya di Lucerne. Cuma lagi-lagi, waktu kami memang sempit. Semoga suatu saat nanti, kami bisa kembali lagi ke sini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Brienz Lake
mealannainterlaken
Bersama si happy baby di Brienz Lake
mealannagrindelwald
Wefie di Grindelwald
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Interlaken
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chapel Bridge dan Water Tower, Lucerne

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

mealannalucerne

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lion Monument

(all photos taken by me.. except when I’m in it)

Next Destination: Paris

Euro Trip 2017: Strolling Through Venice

Setelah dari Zagreb, tujuan kami berikutnya adalah Venice, Italy. Perjalanan dari Zagreb ke Venice memakan waktu sekitar 4 jam. Kami pun sempat melewati negara Slovenia saat menuju Venice. Hanya numpang lewat saja, karena memang tidak punya rencana untuk menginap di sana.

Sampai di Venice, hari juga sudah menjelang malam. Jadi kami cuma sempat makan malam dan langsung istirahat. Besoknya, tepat pukul 9 kami langsung berangkat menuju pelabuhan tempat kapal yang akan membawa kami ke Venice.

Dua tahun lalu saat pergi jalan-jalan ke Eropa bersama Yudo, saya juga sudah pernah ke Venice. Tapi waktu itu kan bareng tur, jadi semuanya sudah diatur. Sekarang, kami masih meraba-raba, bagaimana ya caranya ke Venice. Ternyata, gampang banget. Kita cukup membeli tiket di loket yang terletak di tempat parkir mobil dan ada juga yang terletak di pelabuhan. Harga tiket one way sebesar €7.50 dan nanti kalau mau balik lagi tinggal beli seharga itu juga.

Tapi karena kami naik public transport alias water bus, jadilah perjalanannya agak makan waktu. Sama saja kayak bus di darat, haltenya banyak dan jalannya nggak ngebut. Tujuan kami adalah Saint Mark’s Square atau San Marco Square, spot turis yang paling ramai dikunjungi (kayaknya).

Balik lagi ke tempat ini untuk kedua kalinya, saya sebenarnya penasaran dengan lokasi yang ada di film Inferno (hehe). Saya ini fans berat film dan buku Dan Brown, yang selalu menggabungkan sejarah, mitos, dan teka-teki. Nah, di film Inferno itu, ada satu adegan yang pengambilan gambarnya di Venice, tempat di mana si Tom Hanks terjebak. Tapi saya cari-cari, kok, nggak ketemu ya.. haha, nggak penting.

Anywaaayy… saya cuma sempat berfoto-foto di Saint Mark’s Basilica, menyusuri gang-gang di dalam Venice yang dipenuhi toko dan restoran khas Italia, serta mengambil foto sekitar Venice. Kali ini saya tidak mau naik gondola, karena sudah pernah dan saya pikir agak overpriced. Setidaknya saya sudah pernah, jadi buat apa lagi.

Saat di Venice, jangan lupa untuk mengitari toko, kafe, dan restoran yang ada di dalam gang-gang, karena kita bisa menemukan banyak tempat menarik. Mertua saya, misalnya, menemukan toko-toko yang menjual tas berbahan kulit dengan harga yang miring, namun kualitasnya tetap oke. Kalau saya, sih, lebih tertarik dengan restoran yang menyajikan aneka menu pasta dan kopi khas Italia.

Berikut ini beberapa foto saya di Venice (dan Alanna yang senang banget dikelilingi burung di St. Mark’s Square). Note: all photos taken by me.. except when I’m in it

mealannavenice

mevenice

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

topeng venice

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Next destination: Lucerne, Switzerland

Euro Trip 2017: One Night in Zagreb

Kenapa judulnya one night? Karena memang saya hanya menghabiskan satu hari saja di Ibu Kota Kroasia (Croatia) tersebut. Alasan kami hanya singgah semalam di sini, agar ayah mertua saya (yang menyupir sepanjang perjalanan ini) tidak kecapekan jika harus langsung jalan dari Budapest ke Venezia (Venice).

Perjalanan dari Budapest ke Zagreb memakan waktu sekitar 3 jam. Di sana, kami menginap di apartemen dekat tengah kota yang ternyata tempatnya nyaman banget. Si pemilik apartemen sangat ramah dan isi apartemennya pun sangat lengkap. Sayang saja kami cuma menghabiskan waktu semalam di sana.

Sebenarnya, saya sendiri juga kurang tahu apa saja objek-objek wisata di kota ini. Namun Zagreb juga merupakan kota yang cantik dengan arsitektur khas Eropa yang menarik. Saat sampai di Zagreb, hari sudah menjelang malam dan kami tidak sempat berjalan-jalan.

Keesokan harinya, kami berjalan ke pusat kota dan melewati Katedral Zagreb yang juga dikenal dengan nama Cathedral of the Assumption of Mary. Dari sana, kami berjalan menuju pasar tradisional di Zagreb yang menjajakan aneka macam buah, sayuran, hingga souvenir khas kota tersebut.

Berhubung jalan-jalan bareng ibu-ibu, jadilah mereka lebih senang mencari oleh-oleh dan souvenir, sementara saya dan Alanna menunggu saja sambil sesekali mengambil foto suasana sekitar.

Berikut ini sedikit foto-foto saya di Zagreb (all photos taken by me). Semoga saya dan Alanna (bersama Yudo) bisa kembali ke kota ini dan lebih puas berjalan-jalan di dalamnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cathedral of the Assumption of Mary
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mary Column yang terletak di depan katedral
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana pasar (Dolac Market) di Zagreb
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana Dolac Market
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Patung Josip Jelačić di Jelačić square
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana di Zagreb

Next destination: Venice, Italy