MAC x Nicopanda Lipsticks Review (Toung ‘N’ Chic & Pop Babe)

I love MAC lipsticks! Pilihan warna lipstik MAC banyak banget, belum lagi formulanya pun berbeda-beda, tergantung preferensi masing-masing orang. Apakah suka yang matte, creamy, atau justru sheer? Semuanya ada.

Saya juga mulai suka mengoleksi kemasan lipstik MAC yang limited edition. Tapi saya tetap pilih-pilih. Saya beli bukan hanya kemasannya yang lucu, tapi karena saya juga suka warnanya.

Ketika saya tahu tentang kolaborasi MAC dengan brand Nicopanda, saya langsung tertarik. Nicopanda adalah brand yang diciptakan oleh Nicola Formichetti. Saya sebenarnya sudah ngefans sama Nicola sejak dia menjadi stylist Lady Gaga. Saya bahkan follow blog miliknya cuma untuk siapa desainer yang bajunta dipakai Lady Gaga di setiap video klipnya.

Setelah itu, Nicola juga sempat jadi Creative Director di rumah mode Mugler dan akhirnya dia mengembangkan brand busana street wear sendiri, Nicopanda.

Tadinya saya pikir koleksi kolaborasi ini nggak akan masuk Austria (fyi, biasanya koleksi limited edition ini nggak masuk di semua negara), ternyata saya salah. Begitu saya menemukan koleksi ini di counter MAC, saya langsung coba, dong.

Ada 6 lipstik di koleksi ini, mulai dari warna pink, ungu lavender, hijau mint, hingga hitam kebiruan. Sebenarnya koleksi MAC x Nicopanda juga punya produk lainnya, seperti full face kit, lipglass, dan face powder, tapi seperti biasa saya hanya tertarik pada koleksi lipstik.

Ada dua warna yang saya pilih, yaitu Toung ‘N’ Chic (matte deep plum) dan Pop Babe (matte bright clean pink).

Kalau dilihat memang sepertinya dua warna ini mirip dengan beberapa lipstik yang telah saya miliki sebelumnya. Ah well, namanya juga kolektor lipstik (hehe.. pembenaran).

Warna Toung ‘N’ Chic ini bagus banget. Saya coba swatch (saat di toko) dengan warna Rebel. Memang mirip, tapi Rebel agak sedikit lebih muda dan teksturnya satin. Menurut saya formula matte lipstik Toung ‘N’ Chic ini nyaman banget (overall, lipstik matte keluaran MAC memang nyaman, tapi ada pula beberapa warna yang juga bikin kering. Jadi kadang tergantung warnanya juga). Lipstik ini juga cukup tahan lama. Saya pernah makan-makanan yang berminyak saat pakai lipstik ini, saat mau touch up, ternyata warnanya masih nempel banget.

Akhir-akhir ini saya jadi sering banget pakai lipstik Toung ‘N’ Chic, karena warna gelapnya pas banget di kulit saya dan formula matte-nya nyaman di bibir. Memang, sih, nggak termasuk warna spring/summer, tapi saya suka banget banget sama warna ini 😍.

Saya coba bandingkan lipstik ini dengan beberapa lipstik yang saya miliki. Warna Toung ‘N’ Chic sepertinya paling mirip dengan lipstik Art Deco – Wild Berry Sorbet. Tapi lipstik Art Deco menurut saya teksturnya lebih matte dan lebih kering. Warnanya di bibir pun lebih gelap dibanding Toung ‘N’ Chic.

Sementara warna Pop Babe merupakan warna pink terang, yang menurut saya memang cocok banget buat summer. Warnanya memang agak neon, tapi nggak berlebihan (not as neon as Candy Yum Yum). Warna ini juga cantik banget, tapi saya merasa teksturnya lebih kering dibanding Toung ‘N’ Chic.

Saya bandingkan warna Pop Babe dengan dua lipstik pink dari MAC yang menurut saya warnanya mirip. Ternyata hasilnya, tidak terlalu mirip, hehe.

Warna Pink Pigeon sedikit lebih gelap bila dibandingkan dengan Pop Babe, sedangkan warna Pink Nouveau lebih banyak blue undertone-nya.

Secara keseluruhan, saya beri nilai 9/10 untuk Toung ‘N’ Chic dan 8/10 untuk Pop Babe.

Menurut kamu, warna mana yang paling bagus?

Advertisements

My 2017

Hope it’s not too late to talk about this.. 😄

Biasanya saat tahun baru, saya selalu menulis tentang apa saja yang terjadi sepanjang tahun sebelumnya. Well, saya merasa tahun 2017 seperti berlalu dalam sekejap mata saja.

Highlight sepanjang tahun kemarin adalah, saya diberi kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke beberapa negara Eropa. Ada beberapa tempat yang pernah saya kunjungi, ada juga yang belum. Bahkan ada satu kota yang sampai empat kali saya kunjungi dalam satu tahun, yaitu Praha. Bukan untuk jalan-jalan saja, sih, tapi ada juga yang untuk menemani suami dinas.

Kebanyakan negara yang saya kunjungi itu masih bisa ditempuh dengan mobil, cuma dua kota yang saya kunjungi dengan menggunakan pesawat, yaitu Madrid (di awal tahun) dan Barcelona (saat liburan Natal–yang ini ceritanya menyusul).

Dulu waktu kecil, ketika ibu saya bertanya, keinginan saya apa kalau sudah besar nanti? Salah satu jawaban yang saya ingat adalah, keliling dunia. Saya, sih, juga sadar nggak akan semua negara di dunia ini saya datangi, namun saya ingin bisa setidaknya ke banyak negara, berjalan-jalan di kotanya, mengenal budayanya, dan mencicipi makanannya.

Alhamdulillah, bahkan sebelum saya menikah, saya diberikan kesempatan untuk pergi berjalan-jalan ke luar negeri. Seringnya, sih, karena kebetulan ada keluarga saya yang tinggal di situ. Tante saya di Perth, Australia dan kakak saya di New Jersey, USA. Ada juga tante saya di Frankfurt, Jerman, tapi baru sempat saya kunjungi setelah saya pindah ke Wina.

Setelah menikah dan akhirnya pindah ke Wina, makin terbuka, deh, kesempatan untuk berjalan-jalan, at least di sekeliling Eropa. Saya pun menemukan kota-kota yang menarik, seperti Graz, Hallstatt, dan Salzburg di Austria, atau kota Ljubljana di Slovenia. Saya pun jatuh cinta dengan Budapest, Hongaria, dan saya juga suka banget Barcelona, Spanyol.

Semoga tahun ini saya juga masih diberi kesempatan untuk explore wilayah Eropa, apalagi saya hanya akan tinggal di Wina selama 1,5 tahun lagi!!! Dan habis itu harus balik ke Jakarta.. (hiks)

Bukan maksud hati terkesan tidak cinta Tanah Air yaaa, tapi melihat berita-berita nasional akhir-akhir ini, saya merasa makin sedih aja. Melihat koruptor yang sibuk main drama, melihat Tanah Abang kembali amburadul, duhh kok jadi jauh pembahasannya.

Oke, kembali ke tahun 2017 saya. Pada tahun ini, saya juga merasakan stres yang lain. Ih, kan ga kerja? Masa stres sih?

Well, being a stay at home mom is a 24/7 job, ya knoooowww…. bahkan ketika saya sedang sakit, pun, saya harus menyeret-nyeret diri untuk bikin masakan buat suami dan anak, cuci piring, bersih-bersih, dan lain-lain.

Selain itu, saya juga masih menyempatkan diri untuk menulis. Tak hanya di blog, saya juga menjadi kontributor di tempat kerja saya dulu. Pengalaman jalan-jalan saya ke beberapa negara berbuah sebuah artikel traveling. Honornya nggak seberapa, tapi setidaknya saya tidak kehilangan kemampuan menulis saya (walaupun sekarang sering banget mengalami writer’s block). Pokoknya seperti yang pernah saya bilang di sini, I’m a journalist at heart.

Kembali soal stres, kenapa saya stres? Karena kadang saya, orang yang biasanya berinteraksi dengan teman-teman kantor, terbiasa bekerja, terbiasa hang out dengan mudahnya dengan teman, sekarang lebih banyak di rumah. Kalau mau keluar rumah, ya paling berdua saja sama Alanna. Kalau mood dia lagi bagus, sih enak-enak aja, tapi kalau nggak dan tiba-tiba dia nangis menjerit-jerit di atas stroller, saya juga jadi malas lagi untuk pergi. Ada masanya juga ketika dia nggak mau sama sekali duduk di stroller dan harus digendong ke mana-mana. Waktu itu saat summer dan suhu di sini mencapai 37°C. Saya juga ke mana-mana terbiasa naik kendaraan umum, jadi terbayang, kan, repotnya. Untung saja kendaraan umum di sini enak banget, armadanya banyak, on time, nyaman, stroller friendly–four thumbs up!!

Teman saya pun nggak banyak di sini, apalagi teman yang benar-benar asyik dan bisa saja ajak cerita macam-macam, menurut saya nggak ada. Saya pun lebih banyak menghabiskan waktu bersama Alanna, which is a good thing, tapi saya juga mengharapkan bisa lebih banyak berkegiatan (bukan kegiatan di Embassy tapinya yaaaa Oh God please no!) kegiatan yang saya sukai pastinya.

Terus yaaa… mengurus toddler sendirian itu, yah, ternyata susaaaaaahhh bok! Saya nggak ngerti bagaimana cara kakak saya mengurus tiga anak sendiri, saya saja suka kewalahan rasanya. Apalagi Alanna tergolong anak yang susah makan (iyaa masih aja, deh, susah makannya, very very picky, dan setiap dikasih apa selalu curigaan nggak mau coba), jadi, ya, cobaan saya ada di seputaran itu, deh.

Capek-capek bikin makanan, yang makan saya lagi, saya lagi (now I know why I’m getting fat). Bayangkan saja, masa dalam dua minggu saya bisa naik 2 kg, sementara Alanna dalam satu bulan cuma naik 100 gram!

Terus, mengurus toddler itu tingkat kesabaran kita akan diuji banget. Kalau lagi main-main, ketawa-ketawa, sih, asyik, begitu cranky-nya muncul, sudah, deh, saya sendiri merasa hampir gila (haha.. maaf lebay, tapi ibu-ibu yang punya toddler mungkin mengerti).

Jadi di 2018 ini saya berharap bisa lebih banyak jalan-jalan, mengabadikan tempat-tempat yang saya kunjungi lewat foto dan vlog, menikmati kota Wina lebih dalam lagi (tahun ini musim gugur terakhir saya di Wina–hiks), dan tentunya menjadi ibu yang lebih sabar menghadapi anaknya. Namanya juga anak umur 2 tahun, yang katanya emosinya masih labil (jangankan dia, abege aja yang usianya belasan juga masih labil, hehe). Bagaimanapun, saya bersyukur, karena Alanna juga tergolong anak yang nggak gampang sakit. Pernah, sih, sakit, tapi proses penyembuhannya nggak lama. Karena tidak ada yang bisa membuat seorang ibu pusing tujuh keliling selain dari anaknya yang sakit. Jadi untuk itu saya berterima kasih pada keajaiban ASI, yang katanya berguna untuk antibodinya. Alanna juga bukan tipe anak rese saat ketemu anak orang lain yang seumuran dengannya, bukan juga tipe pemalu yang ngumpet sama mamanya, dan anaknya sangat aktif sekaligus ceria (kata mama saya, sifat ini beda banget sama saya waktu kecil. Katanya, saya kecilnya ini cengeng, penakut, pemalu, dan lemot banget, hahaha, kasihan ya).

Oke, segitu dulu cerita soal tahun 2017-nya. Semoga tahun ini lebih baik dari kemarin, semoga saya bisa terus belajar, dan semoga saya bisa memperbaiki diri.

Kalau pengalaman kamu di 2017 seperti apa? Share di kolom comment yaaa.. kalau mau, kalau nggak mau juga nggak apa-apa, kok 😄

ColourPop Ultra Matte Liquid Lipstick (Review): Bumble, Cheap Thrills, Bad Habit

There’s just so many liquid lipsticks out there…. Merek lipstik juga, kok, rasanya makin banyak ya. Toko-toko di Instagram makin berjamur, semuanya menawarkan beragam macam lipstik, liquid lipstick, lip tint, dan apalah segala segala macam makeup yang membuat hati ini lemah ingin berbelanja (hehehe..)

Makanya jangan heran kalau blog saya sebagian besar isinya review soal lipstik. Ini semua karena saya punya banyak banget. Dari yang tadinya cuma satu, jadi lima, sepuluh, dua puluh, dan sekarang sudah tidak terhitung lagi.

Orang-orang terdekat saya selalu bingung. Buat apa, sih, lipstik sebanyak itu? Emangnya buat dimakan? Daripada mubazir (kalau misalnya lipstiknya nggak sampai habis terpakai) jadilah hobi belanja lipstik saya kombinasikan dengan hobi menulis, yang hasilnya review di blog ini… (Ih, panjang banget ya pembukaannya).

Langsung saja, deh, cerita soal si ColourPop Cosmetics ini. Sebenarnya sudah sejak lama saya naksir dengan produk Lippie Stix dari mereka. Warnanya beragam dan harganya tergolong murah, kurang dari $10 di US. Tapi saya akhirnya baru mulai belanja produk mereka belum lama ini. Itu pun produk yang saya beli adalah Ultra Matte Lip, liquid lipstik jenis matte (mereka juga punya yang jenisnya satin).

colourpop ultra matte 3

Warnanya macam-macam banget dan kayaknya mereka terus update warna, yang bikin saya bingung mau milih yang mana. Akhirnya saya pilih tiga warna, yaitu Bumble (yang katanya, sih, warna best seller), Cheap Thrills (hanya karena saya lagi suka lagunya Sia feat. Sean Paul berjudul sama), dan Bad Habit (mungkin ini karena saya merasa belanja lipstik adalah ‘kebiasaan buruk’ saya, hihi).

colourpop ultra matte 2

Bumble didefinisikan sebagai “dusty warm terracota“. Awalnya saya nggak yakin dengan warna ini, tapi setelah dipakai saya jadi tahu kenapa warna ini jadi best seller. Di kulit saya, warna ini bagus banget. Kayaknya, sih, di setiap orang tampilannya pun bisa terlihat berbeda, but I think this colour will make your skintone look warmer. I love love love it…

Cheap Thrills didefinisikan sebagai “dusty lilac“. Saya melihatnya sebagai dusty lavender. Saya pilih warna ini karena unik dan saya pernah lihat ada YouTube vlogger yang pakai hasilnya bagus banget. Pas saya pakaiiiii… kok warnanya jadi abu-abu??? huhuhu… Akhirnya saya akalin dengan memakai lip liner warna pink-keunguan. Hasilnya mendingan, sih, tapi saya masih belum berani untuk pakai sehari-hari (pakainya di kamar sambil selfie).

Bad Habit didefinisikan sebagai “dusty mauve pink“. Kalau di bibir saya, warnanya malah jadi warna berry. I don’t know.. mungkin saya juga kurang pandai mendefinisikan warna. Tapi warna ini baguuuss juga, kok, dan bikin wajah saya terlihat makin cerah.

colourpop ultra matte 4
Swatches: ColourPop Bumble, Cheap Thrills, Bad Habit
colourpop ultra matte bumble
ColourPop Ultra Matte Lip – Bumble on my lips
Oke, sekarang bicara soal formula. Menurut saya, formulanya oke, hasilnya benar-benar matte tapi nggak flaky. Saya memang memakai lip balm dulu sebelum pakai liquid lipstick ini, jadi sepanjang hari rasanya nyaman banget. Warnanya juga tahan lama, saya pernah pakai lebih dari lima jam dan setelah makan-minum, warnanya masih ada. Memang kalau makan yang berminyak, warna di bibir bagian dalam akan sedikit memudar.

Overall, saya suka dengan produk ini. Saya kasih nilai 9/10 untuk pilihan warna yang beragam, formula yang nyaman, tahan lama, pigmentasi bagus, dan harga terjangkau. I love ColourPop!

Brown Lipstick Trend: MAC Whirl & MAC Retro

Lipstik warna cokelat ala tahun ’90-an kembali menjadi tren. Sebenarnya lipstik warna ini sudah mulai diminati sejak tahun lalu (atau dua tahun lalu, yaa..), tapi sekarang makin banyak selebriti dan fashion show yang memamerkan bibir kecokelatan, baik yang berwarna nude maupun gelap.

Saya sebenarnya tidak pernah tertarik memakai lipstik warna cokelat, karena takut wajah saya terlihat kusam dan tidak menarik. Namun lama-lama, saya jadi tertarik juga untuk mempunyai lipstik warna cokelat.

Setelah mencoba beberapa lipstik warna cokelat, pilihan saya akhirnya jatuh pada koleksi lipstik MAC (no surprise!), karena memang MAC memiliki beragam lipstik warna cokelat.

Lipstik cokelat pun sebenarnya jika dilihat-lihat tidak benar-benar cokelat seperti cokelat yang bisa dimakan (walaupun ada juga yang seperti itu). Lipstik berwarna cokelat yang wearable (alias bisa dipakai oleh cewek dengan skintone seperti saya) biasanya memiliki campuran warna pink, peach, orange, atau bahkan merah.

Pilihan pertama saya adalah MAC Retro (in satin finish). Saya tadinya membandingkan warna MAC Retro dengan Del Rio. Warna Retro tampak lebih hangat di kulit saya ketimbang Del Rio, itulah mengapa saya memilih warna tersebut.

MAC Retro didefinisikan sebagai warna “muted peach-pinky brown“. Warna cokelat dengan perpaduan peach dan pink ini terlihat sangat menarik. Cocok untuk dipakai sehari-hari. Tekstur satin juga terasa nyaman di bibir, karena tidak sekering lipstik matte. Saya tidak tahu kenapa tidak banyak orang yang merekomendasikan warna ini, padahal warnanya baguuuus banget. I love this one!

Selanjutnya, saya juga punya MAC Whirl (in matte finish) yang didefinisikan sebagai warna “dirty rose“. Jika dilihat, warnanya memang merupakan pencampuran antara cokelat dan rose pink. Warnanya sedikit greyish alias keabu-abuan, tapi masih bisa dipakai oleh saya. Teksturnya yang matte membuat lipstik tahan lama, meski terlihat lebih kering dibanding lipstik jenis satin.

Saya memberi nilai 9/10 untuk MAC Retro (just because I love the color and texture), sedangkan untuk MAC Whirl saya beri nilai 8/10.

See the comparison below…

mac retro whirl swatches
MAC Retro and Whirl (swatches on my hand)

mac retro and whirl
Left: MAC Retro (in satin finish), Right: MAC Whirl (in matte finish)
 

Chanel Rouge Allure Velvet in L’Eclatante and La Malicieuse (Reviews & Swatches)

IMG_0796
Chanel Boutique – Plaza Indonesia, Jakarta
Chanel (finally) opens their first makeup boutique in Jakarta…tepatnya di Plaza Indonesia. Saya sebelumnya punya dua lipstik Chanel, dibelikan oleh Yudo saat dia pergi ke New York sekitar 1,5 tahun yang lalu. Dua lipstik itu adalah Chanel Rouge Allure Velvet dalam warna La Diva dan L’exuberante. Teksturnya matte, namun sesuai dengan namanya, tetap terasa lembut di bibir dan tidak sekering lipstik matte lainnya.

Ketika Chanel membuka butiknya ini beberapa waktu lalu, saya langsung penasaran ingin ke sana. Tadinya saya ingin membeli lipstik dengan tekstur yang berbeda, tapi entah kenapa pilihan saya kembali jatuh ke Rouge Allure Velvet yang teksturnya matte itu.

Dua lipstik yang bikin saya jatuh hati adalah L’Eclatante (dari koleksi Spring 2013) dan La Malicieuse (dari koleksi Spring 2014).

IMG_0801

L’Eclatante merupakan warna “vibrant pink“. Warnanya memang muda, tapi cukup terang. Warna ini, menurut saya, juga terkesan girly. Saya suka dengan warnanya yang cocok untuk dipakai sehari-hari.

La Malicieuse memiliki warna merah-pink, yang menurut saya seperti warna “strawberry red“. Buat yang nggak suka warna lipstik terlalu merah, mungkin bisa mencoba warna lipstik seperti ini. Entah kenapa di beberapa review menyebut warna ini memiliki campuran warna coral, sementara di bibir saya hanya terlihat perpaduan warna merah-pink yang terang.

IMG_1301
Swatches on my hand

IMG_1300
Swatches on my lips (Left: La Malicieuse, Right: L’Eclatante)
Untuk tekstur, keduanya terasa nyaman di bibir, hasil matte, dan cukup tahan lama. Setelah 5-6 jam atau setelah makan, warnanya akan menjadi stain di bibir. Namun untuk L’Eclatante, mungkin karena warnanya yang muda, akan menonjolkan garis-garis bibir yang kering. Jadi jika diminta untuk memilih salah satu di antara keduanya, La Malicieuse akan jadi pilihan saya.

Harga lipstik ini Rp490.000 (lebih murah Rp5.000 dibanding lipstik YSL, hehe..). I know.. I know.. It’s pricey, tapi ya namanya juga Chanel. Apalagi kebanyakan high-end lipsticks ini selalu menang di packaging. Sama seperti packaging lipstik satu ini yang sangat unik. Cara membukanya harus ditekan di bagian bawah. Dengan kemasan seperti ini, nggak perlu takut tutup lipstiknya terbuka di dalam tas dan akhirnya berantakan. Very classy indeed..

Rating: 8/10

 

Bourjois Rouge Edition Velvet – Matte and Lightweight Liquid Lipsticks (Reviews & Swatches)

Saya pertama kali berkenalan dengan Bourjois Rouge Edition Velvet ini sekitar 1,5 tahun yang lalu (kalau tidak salah), ketika liquid lipstick belum mewabah (iyaa segitunya..) seperti sekarang ini. Waktu itu saya sedang iseng ke counter Bourjois dan menemukan produk ini. Warna yang pertama saya beli adalah 06 Pink Pong (of course) warna fuchsia yang sangat terang.

It’s a vibrant fuchsia.. Really beautiful color.. Dan tentunya saya sangat suka. Meski teksturnya matte, rasanya tetap velvety alias lembut dan nyaman di bibir. Setelah beberapa jam dan makan, warnanya masih tetap nempel. Memang, sih, ada beberapa bagian yang mulai hilang warnanya, tapi kalau dibiarkan dan tidak dihapus dengan makeup remover sepertinya warnanya bisa tahan seharian.

Setelahnya saya beli dua warna lagi, yaitu 02 Frambourjoise dan 05 Ole Flamingo. Namun entah kenapa, saya kurang sreg dengan warna ini, jadilah saya jual saja ke teman. Ketika saya balik lagi ke counter untuk mencari warna lainnya, mendadak produk ini tidak bisa ditemukan di mana pun. Baru deh semua orang heboh membicarakan liquid lipstick ini dan betapa barang ini diburu para penggemar lipstik.

Saya pernah mencoba untuk memesan lipstik ini di toko Instagram. Sudah DP, sudah nunggu lama, eh tahu-tahunya barang yang saya pesan tidak ada. Karena kesal, saya tidak pernah lagi mencari lipstik ini. Baru beberapa hari yang lalu, saya menemukannya kembali.. Woohoo.. Akhirnya saya langsung borong saja (hehe.. Guilty!).

Waktu pertama kali beli, harganya Rp180.000, sekarang jadi Rp188.000. Nggak beda jauh lah.. Sementara di toko online harganya bisa mencapai Rp250.000. Saat pergi ke Paris, saya pernah hampir membelinya, tapi kok kalau dihitung harganya jadi lebih mahal (mungkin karena kurs euro yang lumayan tinggi).

Akhirnya saya membeli warna 01 Personne ne rouge!, 04 Peach Club, 08 Grand Cru, dan yang katanya warna baru 12 Beau Brun.

Personne ne rouge! merupakan warna true red, sedangkan Peach Club warnanya peachy towards orange. Lalu Grand Cru merupakan warna burgundy red dan Beau Brun menurut saya adalah warna yang unik. Di bibir saya warnanya rosy dengan brown undertone. It matches my lip, so to me this is the perfect neutral shade. Namun warna ini tidak bisa dibilang nude (meski saat difoto terlihat muda, aslinya sih lebih gelap sedikit).

Oh iya, saya juga melihat ada beberapa perbedaan tekstur. Misalnya saja, Peach Club saat dipakai di bibir tampak lebih sheer, meskipun warnanya lebih terang dibanding warna di tube-nya. Lalu Grand Cru juga agak sheer, jadi harus dioles beberapa kali untuk menghasilkan warna yang pekat. Sementara Beau Brun teksturnya lebih kental dan creamy. Saya tidak tahu mengapa ada perbedaan semacam itu, tapi hasilnya akan tetap matte dan tahan lama di bibir, kok.

Kalau bisa memilih, warna favorit saya adalah Pink Pong dan Beau Brun. Apa saya ingin warna lainnya? Ya.. tentu saja, karena saya masih mengincar warna Plum Plum Girl yang menurut review di blog lain bagus banget warnanya.

Rating: 8/10

 

Swatches on my hand (from left to right): Personne Ne Rouge, Peach Club, Pink Pong, Grand Cru, Beau Brun
 
 

Favorite Facial Cleansing Products (at the Moment)

Sebagai pencinta makeup, saya tentu saja tidak melupakan perawatan kulit. Bagaimanapun juga, riasan wajah memerlukan kanvas (alias kulit) yang bagus. Itulah kenapa produk pembersih makeup dan wajah sangat penting, tidak hanya untuk mereka yang secara rutin menggunakan makeup tapi juga untuk siapa saja.

Kali ini saya akan membicarakan seputar pembersih makeup dan wajah favorit saya, sekaligus langkah-langkah yang diperlukan untuk membersihkan wajah. Salah satu dosa besar para pengguna makeup adalah tidak membersihkan wajah mereka setelah seharian makeup. Jangan pula tidur dengan makeup masih melekat di wajah, karena bisa menutup pori-pori dan akhirnya menyebabkan bakteri di wajah.

Sephora Instant Eye Makeup Remover, The Body Shop Camomile Waterproof Eye & Lip Makeup Remover, Camomile Silky Cleansing Oil, Wardah Olive Oil
Sephora Instant Eye Makeup Remover, The Body Shop Camomile Waterproof Eye & Lip Makeup Remover, Camomile Silky Cleansing Oil, Wardah Olive Oil

Eye makeup remover

Sebagai pemilik mata yang mudah berminyak, saya lebih suka menggunakan eyeliner dan maskara  dengan kandungan waterproof. Kelebihannya, tentu produk ini lebih tahan lama bahkan ketika dipakai seharian. Namun kekurangannya, produk waterproof susah sekali dihapus.

Untuk itu, saya membutuhkan produk penghapus makeup khusus kosmetik waterproof. Saat ini saya suka sekali memakai produk Sephora Instant Eye Makeup Remover dan The Body Shop Camomile Waterproof Eye & Lip Make-up Remover.

Jujur, sebenarnya saya salah beli produk Sephora ini, karena yang saya inginkan justru yang untuk waterproof makeup. Jadi, supaya nggak salah, lihat saja warnanya, yang warnanya biru semua itu untuk makeup biasa, sedangkan untuk yang waterproof terlihat cairan warna biru dan minyak yang terpisah.

Nah, Sephora Instant Eye Makeup Remover ini hanya bisa digunakan untuk riasan mata yang tidak waterproof, seperti eyeliner pensil dan eye shadow, sedangkan yang waterproof lebih baik pakai pembersih dari The Body Shop.

Untuk menggunakannya, saya memakai kapas, tuangkan produk secukupnya, lalu tempelkan di area mata. Diamkan selama beberapa detik, lalu sapukan dari arah dalam mata ke arah luar. Sapukan dengan satu arah dan jangan kucek-kucek mata, karena area mata memiliki tekstur kulit yang lembut.

Jika riasan mata masih juga membandel, biasanya saya akan beralih ke olive oil keluaran Wardah. Menurut saya, olive oil atau minyak zaitun lebih natural dibandingkan baby oil. Olive oil pun tidak akan terasa perih di mata. Biasanya, saya oleskan sedikit minyak zaitun di bagian bulu mata (karena maskara waterproof paling sulit dibersihkan), kemudian saya diamkan beberapa saat, baru dihapus dengan menggunakan kapas. Saya juga biasa meneteskan sedikit olive oil di cotton bud dan gunakan untuk menghapus eyeliner yang masih menempel di dekat lash line (atau garis bulu mata).

Cleansing milk or cleansing oil

Untuk menghapus riasan pada wajah, saya biasa menggunakan cleansing milk, gel, atau oil. Favorit saya untuk produk pembersih adalah Skinfood Green Tea Milk Cleansing Gel. Masalah saya dengan susu pembersih, yaitu saya sering merasa kulit terasa perih, tapi tidak dengan produk keluaran Skinfood ini. Ini merupakan botol ketiga. Ada dua varian dari produk ini, yaitu Cleansing Milk dan Green Tea. Saya pada akhirnya lebih menyukai varian Green Tea, karena rasanya lebih segar di kulit.

Cara menggunakannya, oleskan cleansing milk ke seluruh wajah, lalu pijat-pijat wajah dengan gerakan memutar untuk mengangkat riasan wajah. Selanjutnya saya menggunakan tisu atau handuk basah untuk membersihkan wajah. Saya tidak suka memakai kapas, karena seratnya bisa dengan mudah menempel di wajah.

Berbeda dengan pembersih satu lagi yang menjadi favorit saya, yaitu The Body Shop Camomile Silky Cleansing Oil. Saya suka menggunakan produk ini saat saya tidak memakai riasan yang terlalu tebal (misalnya, hanya BB Cream atau hanya memakai bedak saja).

Menurut saya, produk ini tidak cukup membersihkan saat saya memakai makeup yang cukup tebal (meskipun saya juga tidak pernah berdandan ekstra tebal). Cara menggunakannya, cukup sapukan cleansing oil ke seluruh wajah, pijat-pijat, kemudian ambil sedikit air dan sapukan kembali ke wajah. Dengan memberikan sedikit air, minyak akan terlihat sedikit berbusa, baru setelah itu dibilas dengan air.

Skinfood Green Tea Milk Cleansing Gel, Clinique Liquid Facial Soap, Clinique Clarifying Lotion
Skinfood Green Tea Milk Cleansing Gel, Clinique Liquid Facial Soap, Clinique Clarifying Lotion

Facial wash

Terakhir dan tak kalah penting, saya selalu menyudahi proses pembersihan ini dengan sabun pencuci wajah. Menurut saya, tidak cukup jika hanya menggunakan cleansing milk atau oil, karena saya ingin wajah saya benar-benar bersih. Saya selalu menggunakan Clinique 3-step, yang terdiri dari Liquid Facial Soap, Clarifying Lotion, dan terakhir Moisturizer.

Dulu saya selalu menggunakan sabun batangan dari Clinique, tapi sejak mereka merilis sabun dalam bentuk cair, saya lebih memilih produk ini. Memang, sih, lebih boros dan mahal, tapi rasanya lebih lembut di kulit, sementara sabun batangan bisa membuat kulit terasa kencang dan kering.

Setelah membersihkan wajah dengan sabun pembersih, keringkan wajah, dan dalam keadaan lembap gunakan Clarifying Lotion yang berfungsi sebagai toner untuk menyegarkan wajah. Baru setelah itu, saya menggunakan moisturizer untuk menjaga kelembapan wajah.

Menurut saya, selalu akhiri pembersihan wajah dengan pelembap, baik itu pelembap harian ataupun krim untuk malam hari. Hal ini sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit, terutama setelah kulit seharian tertutup makeup atau diterpa kotoran dan debu.