Weaning With Love

Bosan nggak, sih, kalau blog saya isinya cuma tentang lipstik? Saya, sih, nggak, hehe.. tapi saya juga sebenarnya punya cerita lain yang ingin saya tulis di blog, salah satunya tentang motherhood alias kehidupan saya menjadi seorang ibu.

Saya memang nggak banyak cerita tentang anak saya atau bagaimana cara saya mengurusnya, karena saya sendiri merasa kurang percaya diri. Saya sebenarnya ingin seperti ibu-ibu yang menuliskan tentang setiap milestone anaknya atau menuliskan resep mpasi anaknya. Yah.. sayangnya, saya merasa gagal saat memberikan mpasi, haha, karena hampir setiap makanan yang saya buat, Alanna nggak doyan 😆.

Sejak mulai mpasi, Alanna memang susah banget makannya. Setiap hari, saya selalu stres gara-gara dia susah makan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tapi tetap saja anaknya susah makannya. Dia juga lebih suka menyusu langsung dari saya. Sejak saya tidak kerja kantoran lagi, otomatis Alanna selalu menyusu langsung dan tidak pernah lagi minum ASI di botol. Setelah usia 1 tahun, minum susu UHT pun jarang.

Makanya, saya sempat merasa pesimis bisa menyapih. Nah, soal menyapih inilah yang akan saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud sok tahu atau pamer, tapi saya ingin sekadar sharing. Sejak punya anak, saya senang banget baca blog ibu-ibu yang bercerita seputar motherhood, terutama tentang segala kesulitan dan pengalaman yang mereka rasakan. Ada beberapa pengalaman mereka yang saya rasakan juga dan saat itulah saya merasa tidak sendiri. Itulah kenapa saya juga mau cerita tentang proses menyapih Alanna.

Sejak awal, saya memang berniat ingin melakukan Weaning With Love (WWL) atau Gentle Weaning. Kalau dulu orangtua selalu cerita susahnya menyapih, hingga berbagai cara dilakukan. Mulai dari nakut-nakutin si anak, biarin dia nangis terus-terusan, sampai menaruh obat merah di puting, dan lain sebagainya. Setelah itu, biasanya ada proses si anak sakit atau si ibunya juga sakit karena payudaranya bengkak. Duh, dengar cerita gitu saja saya sudah stres.

Lalu saya sempat baca sebuah artikel yang ditulis oleh teman saya, tentang menyapih anaknya tanpa pemaksaan dan perlahan-lahan. Semua itu dimulai dari memberitahu anak kita bahwa sudah saatnya dia berhenti menyusu dan itu dimulai sejak anak kita usia 18 bulan.

Jadilah saya coba juga, setiap Alanna minta menyusu, saya selalu ingatkan kalau sudah usia 2 tahun nanti dia harus berhenti menyusu. Walaupun Alanna terkesan seperti mengabaikan hal ini, saya tetap saja selalu memberitahunya. Bahkan ada masa di mana, Alanna malah teriak-teriak setiap saya bilang dia harus berhenti menyusu.. haha, sepertinya dia tahu ya.

Saat usianya dua tahun pun, Alanna masih sering banget menyusu.

Salah satu tips yang saya baca tentang WWL ini adalah, kita tidak menolak tapi juga tidak menawarkan ASI.

Jadi setiap Alanna minta saya kasih, tapi kalau dia tidak minta, ya, saya tidak menawarkan.

Lama-kelamaan, frekuensi menyusunya pun berkurang. Yang tadinya 5x sehari, bisa jadi 2x sehari, yaitu pagi dan malam.

Eh, sudah sukses mengurangis ASI, tiba-tiba Alanna sakit. Dia terkena virus yang menyebabkan dia muntah-muntah dan nggak mau makan sama sekali. Jadilah dia kembali sering menyusu, karena saya khawatir kalau Alanna tidak dapat asupan makanan sama sekali.

Gara-gara sakit itulah, saya jadi merasa mengulang proses WWL dari awal. Saya mulai lagi dengan memberitahunya berulang-ulang, tapi setiap saya beritahu dia malah merengek atau menangis. Saya sempat merasa makin pesimis, apalagi dengan ‘pressure’ di sekeliling saya.

Mulai ada, deh, yang ngomong seperti ini:

“Sudah gede belum disapih juga?”

“Idih masa masih nenen?”

“Yah.. gagal, deh, makin besar makin susah lho..”

Untungnya, saya mulai baca-baca dari berbagai sumber tentang mitos atau anggapan yang salah tentang proses menyapih, misalnya:

“Kalau kelamaan nenen, anaknya jadi manja, lho..”

Sebenarnya nggak ada penelitian yang mengatakan anak yang terlalu lama menyusu dari ibunya akan jadi anak manja. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan, anak yang disapih pelan-pelan dan karena kemauan si anak sendiri membuat dirinya lebih mandiri.

“ASI setelah dua tahun mah ga ada gizinya”

Ini juga salah. Karena ASI ternyata menyesuaikan gizi sesuai keperluan si anak. Hebat kan? Jadi nggak perlu takut kalau ASI kita tak bergizi. Selama kita makan-makanan sehat, anak kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

“2 tahun itu udah ketuaan buat anak menyusu”

Sebenarnya berapa lama si anak menyusu itu berbeda-beda. Ada, kok, anak yang menyusu sampai usia 3 tahun dan itu sah-sah saja. Menyusu adalah hubungan spesial antara ibu dan anak, karena hal itu spesial maka setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu pusing untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain atau pengalaman kita dengan pengalaman orang lain.

Akhirnya, saya pun memahami, bahwa yang membuat saya kesulitan menyapih bukan anak saya, tapi suara-suara di luar sana yang memberi tekanan, membuat saya stres, dan sama sekali tidak memberikan solusi.

Itulah makanya, para ibu perlu memiliki support system, sesama ibu yang saling mendukung dan bukan malah saling menjatuhkan.

Setelah beberapa minggu sejak sakit, Alanna akhirnya kembali berkurang menyusunya menjadi 2x sehari. Secara mengejutkan, dia pun mulai makan teratur dan akhirnya doyan makan nasi plus lauk. Biasanya, ya, dia nggak mau makan nasi. Kadang pasta, kadang roti, kadang cereal, kadang kentang, tapi hampir tidak pernah nasi.

Berat badannya pun tergolong susah naiknya. Kalau di Indonesia, dokter mungkin sudah memberikan macam-macam vitamin penambah nafsu makan, tapi dokter di sini bilang berat badannya normal (meski berada di bawah..hehe). Dia bilang Alanna anak yang sehat, tidak mudah sakit, aktif, dan ceria, jadi saya nggak perlu khawatir soal berat badannya.

Setelah makannya teratur, saya mulai berusaha untuk semakin mengurangi ASI. Kalau biasanya saat dia ngantuk, dia akan minta menyusu dan tertidur, sekarang setiap dia mengantuk saya akan tawarkan untuk menggendong dia saja. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama mau.

Hal yang sama juga mulai saya terapkan saat malam hari. Saat dia mau tidur dan minta ASI, saya tawarkan untuk menggendong saja. Awalnya dia nangis, tapi untungnya tidak lama dan akhirnya dia pun mau tidur tanpa harus menyusu. Jadwal ASI yang tadinya 2x sehari pun akhirnya jadi 2 hari sekali. Lama-lama akhirnya Alanna lupa dan saya pun lupa, tak terasa sudah lebih dari sebulan Alanna berhasil disapih.

Dengan cara menyapih pelan-pelan seperti ini, saya juga tidak perlu mengalami sakit akibat payudara bengkak. Semua tampaknya baik-baik saja.

Itu semua terjadi saat usia Alanna 2 tahun 5 bulan. Persis seperti cerita teman saya yang juga berhasil menyapih anaknya di usia segitu.

Hal yang saya pelajari juga saat menyapih adalah, anak pada akhirnya akan berhenti menyusu.

Cepat atau lambat dia juga akan berhenti dengan sendirinya, jadi nggak perlu kita paksa. Sama seperti saya juga yakin, ketika dulu Alanna nggak doyan makan, saya mikir, nanti juga akan doyan, kok. Saya saja ingat waktu kecil saya susah banget makannya dan sangat picky, sekarang ternyata baik-baik saja dan malah jadi susah nurunin berat badan (hahaha).

Oh iya, satu lagi kunci sukses menyapih anak, yaitu sabar. Saya sendiri bukan orang yang penyabar. Pada akhirnya, sih, saya lebih ke pasrah daripada sabar (hehe). Karena memang persoalan menyapih ini kesabaran kita diuji banget. Kalau mau menyapih dengan cara ini memang harus pelan-pelan. Tahapannya terkesan lama (dan tiap anak mungkin berbeda-beda jangka waktunya sampai akhirnya berhasil disapih), jadi ya balik lagi ke diri kita bagaimana caranya agar bisa bersabar.

Begitulah cerita singkat saya soal menyapih anak. Semoga bisa sedikit membantu para ibu yang juga berniat untuk menyapih anaknya.

MPASI… Oh.. MPASI

Sejujurnya, saya pengen banget seperti ibu-ibu hits di media sosial yang sering berbagi seputar menu MPASI (makanan pendamping ASI) anaknya. Dari mulai mencampurkan beragam jenis makanan sehat, trik memasak, hingga menceritakan betapa anaknya doyan banget makanan yang dia buat.

Sayangnya, saya punya berbagai masalah soal MPASI ini. Saya tahu, sih, banyak juga ibu-ibu yang punya masalah seputar memberikan MPASI pada anaknya. Jadi saya tahu saya tak sendirian. Hanya saja, kadang saya merasa terintimidasi jika melihat ibu-ibu lain sukses memberikan MPASI, sementara saya, kok, rasanya susah banget.

Oke, saya cerita dari awal MPASI Alanna. Setelah enam bulan lulus ASI eksklusif, saya mulai mencoba memberikan makanan. Awalnya, bubur beras yang disaring, jadi halus banget dan dicampur sama ASI. Pertama kali dikasih, lahap banget, sehingga membuat saya besar hati. Tapi besok-besoknya seperti melempem..dan GTM (alias Gerakan Tutup Mulut) pun dimulai.

Tidak terasa beberapa minggu lewat dan saat ditimbang, berat Alanna hanya naik 100 gram. Padahal saat masih ASI eksklusif per bulannya berat Alanna bisa naik 800 hingga 1000 gram. Saat itu, dokter menyarankan untuk mulai memberikan protein pada Alanna, yaitu ayam dan ikan, jadi jangan hanya bubur beras dan buah.

Sebulan berikutnya, berat Alanna cuma naik 200 gram (hiks!). Memberikan MPASI untuk Alanna juga perjuangan banget. Mulai dari disuapin pakai tangan, gonta-ganti sendok, dipangku, didudukin di kursinya, diubah menunya, bikin makanan fresh setiap hari, dan masih banyak lagi. Setelah tiga bulan memberikan MPASI, rasanya nafsu makan Alanna masih naik turun. Kalau saya berhasil memberinya makan cukup banyak, rasanya lega banget. Namun jika tidak, huhu, rasanya ingin menangis di pojokan.

Saya kemudian jadi banyak berpikir. “Apa jangan-jangan cara saya memperkenalkan MPASI pertama kali salah ya?”, “Apa makanan yang saya buat nggak enak ya?” (memang saya nggak jago bisa masak, sih), “Apa Alanna menjadi picky eater?”.

Namun kalau dilihat sejarah saya waktu kecil dulu, ibu saya juga bilang saya itu anak yang susah banget makannya. Sampai duduk di bangku SD saja, saya makannya diemut terus, sampai ibu saya kesal.. (ya, kan saya juga nggak tahu kenapa dulu nggak doyan makan, hehe).

Sekarang setelah memasuki usia 8 bulan +, Alanna saya kasih makan dengan menu campur-campur. Dimulai dari sarapan sereal atau bubur susu dan buah, sedangkan siang dan malam menunya sama (biasanya nasi, sayur, protein hewani, dan kadang-kadang protein nabati). Saya berikan juga unsalted butter untuk menambah rasa makanan, karena siapa juga yang akan suka makanan tak ada rasanya sama sekali. Kadang saya tambahkan pula tumisan bawang putih atau bisa juga garlic powder untuk menambah rasa sekaligus aroma. Tapi ya, tetap saja, keinginannya untuk makan masih naik-turun, tergantung mood si putri kesayangan yang satu itu.. hehe.

Kalau ditanya, “Apa sih makanan kesukaan Alanna?”, saya sendiri tidak tahu. Satu hari dia bisa lahap banget makan puree buah pir, besoknya bosan. Makan butternut pumpkin squash juga kadang lahap banget, besoknya biasa saja. Waktu itu pernah makan salmon, suka banget, eh.. pas minggu depannya malah nangis-nangis nggak mau makan.

Walaupun begitu, saya nggak pernah menyerah, kok. Apalagi, so far Alanna tidak punya alergi apa pun. Hanya waktu itu pernah dikasih pisang sedikit, pup-nya langsung keras. Jadi biasanya pisang saya gabungkan dengan pepaya atau pir, yang merupakan buah anti-sembelit. Anehnya juga, Alanna kayaknya nggak suka tomat, deh. Setiap kali makanannya saya campur dengan tomat (bahkan sedikit banget), dia langsung nggak mau makan dan akhirnya mewek.

alanna-makan
Awal-awal Alanna mencicipi MPASI, pipi masih gembil…

Untuk sekadar sharing, ini beberapa bahan makanan yang sudah pernah dicoba untuk Alanna. Boleh kalau ada yang mau sharing atau kasih masukan, bahan makanan apa lagi ya yang bisa saya coba..

  • Beras putih
  • Beras merah
  • Kentang
  • Ubi Jepang
  • Quinoa
  • Jagung
  • Butternut Pumpkin Squash
  • Kabocha
  • Tomat (nggak suka)
  • Brokoli
  • Wortel
  • Bayam hijau
  • Bayam merah
  • Bok Choy
  • Buncis
  • Kapri manis
  • Tahu
  • Kacang polong
  • Pepaya
  • Pisang (jarang dikasih, karena pupnya jadi keras)
  • Pir (Packham)
  • Apel (Royal Gala)
  • Alpukat (nggak suka, mukanya langsung eneg kayak mau muntah, padahal menurut saya alpukatnya enak banget)
  • Daging sapi
  • Daging ayam
  • Ikan kakap
  • Ikan salmon
  • Telur ayam kampung (baru kuningnya saja)

Pelengkap:

  • Unsalted butter
  • Extra virgin olive oil (kadang dicampur langsung ke makanan, kadang jadi minyak untuk menumis bawang putih)
  • Bawang putih
  • Garlic powder
  • Cinnamon powder
  • Keju

Untuk masak, saya biasanya menggunakan slow cooker. Awalnya saya pakai slow cooker merek Takahi ukuran 0,7 liter. Ukuran ini memang paling ideal sih buat bikin MPASI, karena bisa dipakai untuk membuat makanan dalam porsi sedikit. Tapi kemudian slow cooker-nya rusak (hiks), jadi sekarang saya pakai yang ukuran 1,2 liter dengan harapan slow cooker ini bisa dipakai untuk masak menu makanan lainnya, bukan cuma MPASI (harapannya begitu).

Saya juga pakai Natural Steam Cooker dari Chicco, yang bisa untuk mengukus makanan sekaligus menggiling makanan, jadi steamer plus blender. Untungnya, perangkat ini saya dapat sebagai hadiah dari teman Yudo dan memang sangat berguna. Sampai sekarang saya masih mem-blender makanan Alanna, tapi teksturnya mulai agak kasar dan tidak disaring lagi.

Selain makanan yang dibuat sendiri, Alanna juga suka banget sama camilan kemasan berbentuk teething rusk (yang sering saya bilang kerupuknya Alanna). Gaya makannya memang kayak orang dewasa, makan bubur nggak enak kalau nggak pakai kerupuk. Jadi kalau Alanna mulai GTM, biasanya dipancing pakai ‘kerupuk’ itu, deh. Merek teething rusk yang pernah saya coba, di antaranya Yummy Bites, Bebenice, dan Baby Choice. Sekarang saya juga kasih camilan Gerber Graduates Puffs, karena dia memang senang banget yang bisa digigit-gigit.

Oke, segitu dulu sharing seputar MPASI Alanna. Silakan masukannya, ya, soal MPASI, baik soal pilihan menu, mengatasi GTM, dan jumlah atau porsi makanan yang pas itu seperti apa ya? Saya masih harus banyak belajar, nih…

Featured image source: here.

 

 

 

Alanna’s First Lebaran

Minal aidin wal faidzin! Mohon maaf lahir dan batin… Semoga belum terlalu telat yaaa buat maaf-maafan, hehe.

img_2481-1

Suasana Lebaran mungkin sudah lewat. Post holiday syndrome juga mungkin perlahan-lahan sudah hilang. Makanya sebelum ceritanya keburu basi, saya mau cerita sedikit soal Lebaran kemarin.

Lebaran bagi saya merupakan waktu berkumpul bersama keluarga. Saat masih kecil dulu, tradisi keluarga saya adalah pergi ke Cimahi untuk merayakan Lebaran di rumah Abah (kakek saya). Namun beliau meninggal pada tahun 1999, sehingga tradisi itu berganti jadi pergi ke rumah Uwa saya (kakak tertua mama) yang ada di Jakarta dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, Ayah saya meninggal pada 2001. Kakak perempuan saya pindah ke Amerika pada 2006. Akhirnya suasana Lebaran menjadi sepi. Biasanya hanya dirayakan berdua dengan Mama saya, kadang dengan saudara jauh. Kebetulan dari keluarga Ayah tidak ada yang muslim, jadi kami memang tidak memiliki tradisi mengunjungi mereka saat Lebaran (sebagian besar keluarga pun sebenarnya tidak tinggal di Indonesia).

Jujur saya kangen dengan suasana Lebaran di daerah (bukan Jakarta), tapi di sisi lain saya juga menikmati Jakarta yang lengang saat Lebaran.

Setelah menikah dengan Yudo, baru deh saya merasakan lagi yang namanya mudik dan ber-Lebaran bersama keluarga. Ibu-Bapak Yudo datang dari keluarga yang cukup besar. Nenek Yudo sekarang tinggal di Bandung dan biasanya tiap tahun semua keluarga (mulai dari anak, menantu, cucu, dan cicit) berkumpul di situ.

Tahun lalu merupakan pertama kalinya saya merasakan mudik setelah kurang lebih 15 tahun Lebaran di Jakarta. Saya sempat agak was-was dengan arus mudik yang macet di mana-mana. Saya kala itu sedang hamil 6 bulan dan sangat sangat beser…hehe. Jadi yang saya takutkan adalah jika kebelet pipis di jalan saat macet. Untungnya, saya malah nggak ketemu macet.

Keluarga Yudo juga mempertahankan tradisi saat Lebaran. Mulai dari Sholat Ied bareng, sungkeman, pertemuan dengan keluarga besar di gedung (iyaa.. Jumlahnya ratusan ternyata), hingga ngasih salam tempel untuk anak-anak yang belum bekerja.

Nah, karena tahun lalu Hari Lebaran pertama saya habiskan di Bandung, pada tahun ini gantian hari pertamanya di Jakarta di rumah mama saya. Kemudian pada malamnya, kita meluncur ke Bandung.

Kalau tahun lalu saya khawatir beser, pada tahun ini saya bawa bayi yang juga bikin saya khawatir. Bagaimana kalau nanti dia rewel? Bagaimana kalau nanti dia pup di jalan? Dan yang paling repot to the max adalah barang bawaan saya (hahaha).

Alanna sudah mulai makan, jadi deh saya bawa segala macam perlengkapan memasak. Memang ibu-ibu rempong banget deh. Mungkin ibu-ibu lain lebih pintar soal menyiapkan makanan, kalau saya sampai Alanna mau masuk 9 bulan ini rasanya kok belum cerdas juga, ya.. (Maafkan mamamu Alanna, tapi mama masih terus belajar kok via internet dan nonton video tutorial di YouTube :D)

Selama libur Lebaran di Bandung kekhawatiran saya tidak terbukti. Alanna baik-baik saja sepanjang perjalanan (dari Jakarta dan balik dari Bandung ke Jakarta), dia malah tidur dengan nyaman di carseat. Selama di Bandung, makannya juga cukup bagus, apalagi karena banyak yang mengerumuni dia (kayaknya Alanna memang senang jadi pusat perhatian). Dia juga menikmati digendong-gendong dari satu Eyang ke Eyang yang lainnya.

Alanna juga terlihat senang saat dapat banyak amplop berisi uang (haha..). Kayaknya itu karena dia senang sama kertas-kertas berwarna. Untung saja nggak dia makan. Jadi kesimpulannya, memang sebenarnya yang paling repot itu saya, karena harus bikin makanan segar setiap hari (akibat kulkas di rumah Bandung full terus). Belum lagi saya harus packing barang-barang yang banyak banget (fyi saja, sudah packing ribet-ribet, saya dan Yudo malah kelupaan bawa popok Alanna..hehe). Mungkin setelah ini, saya harus belajar untuk packing yang lebih ringkas, apalagi untuk jalan-jalan sama bayi.

Alanna hitung uang
Uangnya bisa buat beli berapa lipstik yaaa? hahaha

Begitulah cerita Lebaran pertama Alanna. Saya berharap Lebaran-Lebaran berikutnya juga bisa dia nikmati. Saya ingin dia merasakan hangatnya kebersamaan dengan keluarga dan tradisi saat Hari Raya. Saya mungkin cuma merasakannya sebentar waktu dulu, jadi saya berharap Alanna bisa merasakannya hingga dia dewasa nanti dan berkeluarga, kemudian meneruskannya ke anak-anak. Karena itulah makna Lebaran bagi saya, menikmatinya bersama keluarga.

The Joy of Breastfeeding

The Joy of Breastfeeding… Saya kerap melihat kalimat itu di berbagai produk yang memang diperuntukkan bagi para ibu. Saya juga sering mendengar para ibu yang bercerita, indahnya menyusui anaknya, tapi pada saat itu saya tak bisa membayangkan rasanya seperti apa.

Di awal-awal menyusui saja saya sempat berpikir, “Di mana letak joy-nya, sih? Orang sakit begini.” Namun setelah melewati beberapa minggu dan akhirnya melewati dua bulan, baru deh saya merasakannya. Di awal menyusui, saya sempat merasa ketakutan saat akan menyusui, karena selalu merasa sakit. Tapi, ya, saya paksakan juga (meski lecet) karena begitu melihat bagaimana Alanna menyusu, saya jadi trenyuh.

Kasihan ya bayi ini, begitu tergantung pada saya. Kalau saya menolak, dia hanya bisa menangis. Huhu, saya jadi kebayang anak-anak bayi yang dibuang begitu saja oleh orangtuanya, kok tega ya..

Di minggu-minggu pertama, bayi juga lebih sering menangis. Mungkin karena memang cuma itu yang bisa dia lakukan. Saya pada awalnya malah merasa tidak bisa menenangkan Alanna. Habisnya, setiap saya gendong dia pasti nangis terus. Beda saat dia gendong oleh ibu saya atau Yudo. Sampai pernah satu saat Alanna menangis saat saya gendong, saya bisikkan saja ke telinga dia, “Hei, ini mama kamu, yang perutnya kamu tempatin selama 9 bulan, bukan nini, bukan eyang, bukan bapak.” Entah dia mengerti atau nggak, tapi akhirnya nggak nangis lagi, sih, hehe..

Setelah lewat dari sebulan, ketika berat badan Alanna sudah melebihi berat badan dia saat lahir, baru deh saya bisa agak sedikit santai (sedikit saja). Setidaknya, saya nggak harus bangun tengah malam lagi, karena Alanna sudah mulai panjang tidurnya saat malam. Akhirnya mulai terprogram, deh, jam tidur dia. Mulai ngantuk setiap jam 8 atau setengah 9 malam, sekali nyusu, terus langsung tidur.

Saya juga mengajarkan dia kalau malam itu waktunya tidur. Makanya saat menyusu terakhir di malam hari, saya matikan saja lampu di kamar dan pasang lampu tidur, supaya dia tahu itu saat tidurnya dia. Kemudian saat mulai terang, sekitar pukul 6 pagi, adalah saatnya dia bangun. Memang, sih, kadang dia suka kebangun pas malam (mungkin mimpi atau apa), tapi nggak lama langsung tidur lagi.

Soal menyusu, sekarang pun saya lebih percaya diri, bahkan jika harus menyusui di depan umum (ya pakai nursing cover tentunya). Malah kadang-kadang, saya yang merasa lebih tergantung untuk menyusui Alanna secara langsung. Walaupun sudah dipompa, saya merasa lebih enak jika menyusui langsung.

Sebelum kembali kerja, saya juga mulai mengajarkan Alanna untuk minum pakai botol susu. Ada yang bilang, nanti “bingung puting” lho.. tapi Alhamdulillah, itu tidak terjadi pada Alanna. Kalau kata sepupu saya yang bayinya hanya dua bulan lebih tua dari Alanna, “Yang penting kita pede, kalau anak kita nggak akan bingung puting. Pasti bisa, kok.”

Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat bertemu dengan salah seorang teman yang anaknya berusia 1,5 tahun. Dia bercerita, setelah satu tahun, anaknya mulai dikasih susu lain selain ASI. Eh tiba-tiba saja dia jadi nggak mau nyusu lagi. Memang, sih, jadinya nggak sulit menyapih, tapi dia mengaku jadi sedih. “Kok dia nggak mau nyusu lagi ya, malah aku yang sedih,” begitu katanya.

Saya jadi kebayang, jangan-jangan nanti pas mau disapih malah saya yang kesulitan (alias nggak rela) bukan Alanna.

Sekarang Alanna sudah masuk usia lima bulan dan sebentar lagi dia akan mulai makan. Tanda-tandanya sudah mulai kelihatan. Dia sudah mulai melototin saya kalau saya lagi makan dan kadang mulutnya kayak ngunyah-ngunyah (padahal cuma lidahnya yang dikunyah).

Beneran, deh, sekarang saya baru ngerasain betapa menyenangkannya menjadi seorang ibu, betapa bahagianya, betapa indahnya. Mama saya suka komentar, “Ih, anak manja sekarang punya anak.” Saya hanya ketawa sambil mikir, “Iya, sekarang malah ada anak kecil yang manja sama saya.”

Semoga sehat selalu ya, Alanna… Jadi anak yang baik dan sayang orangtuanya.

alanna-me-2

Diary of a Breastfeeding Mom

Sejak awal kehamilan, saya memang selalu berniat untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan pada anak saya. Meski begitu saya sempat merasa tidak percaya diri, apakah nantinya ASI saya lancar atau tidak ya? Ternyata, Alhamdulillah ASI saya lancar, tapi memberikan ASI kepada bayi yang baru lahir tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya pernah diberitahu, pada menyusui itu sakit, apalagi ketika si bayi memainkan puting ibunya atau ketika si bayi sedang tumbuh gigi. Faktanya, menyusui–bahkan sejak awal–ternyata sangat menyakitkan.

Sebelum lanjut baca, penting untuk diketahui bahwa tulisan ini mungkin terkesan agak vulgar, karena saya akan banyak membicarakan soal payudara. Namun menurut saya ini penting, khususnya untuk ibu-ibu muda seperti saya yang juga sedang belajar.

The Neverending Ouch!

Dimulai dari rasa sakit ketika menyusui pertama kali. Awalnya saya pikir akan terbiasa setelah beberapa hari, tapi saya salah! Selanjutnya ada insiden puting lecet atau bahkan berdarah. Mau menyusui saja sudah takut duluan, karena rasa perih dan nyeri yang terus-terusan muncul. Ketika tersentuh tangan atau bahkan disiram air saja, bagian puting rasanya nyeri.

Tak cukup rasa nyeri saja, karena ketika produksi ASI sudah mulai banyak sementara si bayi kemampuan menyusuinya masih sedikit, muncul masalah baru. Payudara saya terasa mengeras, sakitnya bukan main, bahkan untuk tidur saja susah. Saya sempat merasa meriang gara-gara ini. Katanya sih ini memang wajar dialami para ibu menyusui. Caranya harus dipijat agar ASI yang membeku bisa kembali cair. Saya juga biasanya menggunakan handuk atau botol berisi air panas untuk sedikit ‘mencairkan’ asi beku itu. Selanjutnya, payudara pun harus dipompa agar tidak terus-terusan membeku.

Bayi pun biasanya akan sulit menyusui jika payudara terlalu kencang dan bengkak. Jadi saya membiasakan diri untuk selalu memompa payudara ketika mulai dirasa terlalu kencang.

Hingga sekarang rasanya nyerinya masih ada, but I just have to deal with it. Oh iya, satu lagi soal payudara. Jangan heran ketika bentuknya menjadi besar sebelah, karena mungkin ada kecenderungan sisi payudara tertentu lebih banyak memproduksi ASI.

Tak hanya masalah payudara, ada lagi masalah sembelit yang mungkin tak banyak dibicarakan. Suatu kali, saya mengobrol dengan teman yang memiliki anak usia 4 tahun. Dia bertanya, apakah saya sempat merasakan sembelit? “Sebal ya kenapa nggak ada yang kasih tahu kalau kita bakal sembelit pas menyusui,” begitu katanya.

Masalah sembelit sangat menyebalkan bagi saya yang melahirkan secara normal dan mendapat jahitan di bagian bawah sana. Otomatis ketika sembelit saya pun jadi takut buang air besar, karena takut jahitannya robek.

Saat tanya ke dokter pun, ternyata memang sembelit itu wajar. Cairan dalam tubuh kita banyak keluar karena ASI. Itu dia mengapa kita perlu banyak minum air putih, perbanyak makan buah, dan sayuran. Saya akhirnya membiasakan untuk rutin makan pepaya setiap harinya dengan porsi yang banyak. Setelah beberapa minggu, baru deh urusan ‘ke belakang’ kembali normal.

The Baby Blues Episode

Soal ini, saya tidak tahu apakah saya bisa dikategorikan memiliki baby blues atau tidak. Tapi kalaupun iya, saya pikir wajar juga bagi setiap ibu baru mengalami baby blues ini, meski gejalanya berbeda bagi setiap orang.

Saya, misalnya, di minggu-minggu pertama mudah sekali menangis, sedih, marah, dan perasaan tak menentu lainnya. Bukan sedih karena punya anak, tapi karena takut tak bisa menjadi ibu yang baik. Saya pikir perasaan itu juga muncul karena rasa lelah yang luar biasa.

Bayangkan saja, saat akan melahirkan saya bisa dibilang tidak tidur seharian. Setelah seluruh energi habis untuk melahirkan, saya mungkin hanya sempat tidur 1-2 jam, karena banyak saudara dan teman yang datang menjenguk hingga malam. Setelah pulang ke rumah, saya pun kesulitan istirahat karena masih menyesuaikan diri. Si bayi juga sepertinya sedang menyesuaikan diri dengan jadwal menyusui dan jadwal tidurnya sendiri.

Jadi menurut saya wajar bagi para ibu jika perasaannya sangat sensitif di awal-awal menyusui. Makanya peran suami sangat penting saat ini. Alhamdulillah suami saya benar-benar sabar, karena saya bisa menjadi sangat sangat menyebalkan. I’m so sorry yudo.. I blame the hormones.

The Zombie Look

Beberapa minggu setelah tahu saya hamil, mendadak saya merasa mual kalau pakai lipstik. Padahal saya kan pencinta lipstik sejati! Makanya banyak yang mengira saya hamil anak laki-laki, bahkan ada yang terang-terangan bilang saya terlihat jelek–hiks!

Setelah melahirkan, penampilan saya juga tidak membaik. Berkat begadang dan kurang tidur, saya merasa ngeri melihat wujud saya di depan kaca. Rambut acak-acakan, muka dan bibir pucat, mata cekung, serta lingkaran hitam di sekitar mata. Benar-benar seperti zombie..atau vampire!

Untungnya lagi.. Saya masih ada ibu yang mengurus makanan, mencekoki saya dengan segala macam makanan sehat. Kacang hijau, sayur katuk, kaldu daging, dan lainnya. Tidak terbayangkan jika saya harus mengurus bayi sendiri sambil menyiapkan makanan. Jadi saya sangat-sangat bersyukur atas kehadiran mama dan sangat kagum dengan kakak saya yang memiliki tiga anak tanpa bantuan dari mama sedikit pun.

The Constant Eating

Setelah 9 bulan merasa mual saat hamil–yes, you got that right, whole 9 months!–saya akhirnya bisa makan enak. Ketika banyak orang bilang saat hamil pasti nafsu makan jadi besar, saya malah tidak merasakannya.

Saya tidak pernah merasa ngidam makanan tertentu, sebaliknya setiap makan bahkan yang enak sekalipun menjadi tidak enak di lidah saya. Setiap makanan pasti meninggalkan after taste yang membuat saya mual–meski tidak selalu muntah. Sikat gigi pun selalu membuat saya mual, tapi jika tidak sikat gigi dan sikat lidah, saya juga akan mual terus.

Begitu melahirkan, saya mencoba sikat gigi dan rasa mual itu hilang total. Semua makanan pun terasa enak. Saya yang biasanya tidak suka sayur saja bisa makan sayur dalam porsi yang banyak.

Sayur katuk menjadi favorit saya. Pagi setidaknya saya dua kali sarapan, ditambah camilan sore, serta sepiring penuh buah berupa pepaya dan mangga sebelum tidur.

Saya juga tidak berharap kurus dalam waktu dekat, karena yang penting adalah saya makan yang cukup dan bergizi untuk ASI saya. Dengan semua makanan terasa enak, ya saya jadi makan terus, hehe. Mungkin ini dia penyebab ibu-ibu menyusui kadang terlihat lebih gemuk dibanding saat hamil.

Setelah hampir dua bulan, rasanya saya sudah bisa mengatur waktu. Saya juga masih punya waktu istirahat. Semua hal-hal tidak menyenangkan itu pun tidak akan terasa ketika melihat perkembangan bayi saya. Kenaikan berat badannya normal dan saya pun menjadi lebih percaya diri saat menyusuinya.

Tapi masalah saya tidak selesai sampai di sini, karena ada episode baru nantinya di mana saya mulai bekerja dan harus menyiapkan ASI perah untuk Alanna. Perjuangan ibu memang berat, baik untuk yang menyusui dengan ASI maupun susu formula, yang bekerja di kantor maupun yang tinggal di rumah.

Pengalaman inilah yang membuat saya makin kagum dengan ibu saya, ibu mertua saya, kakak saya, dan teman-teman saya yang sudah memiliki anak. Senang rasanya bisa sharing dan bertanya pada mereka seputar pengalaman mengurus anak.

Teman-teman saya ini pun punya cerita berbeda-beda. Ada yang resign dan kerja freelance, ada yang tetap bekerja dan sukses di karir, ada yang jadi pengusaha untuk mengurus anak di rumah, dan ada yang keluar dari pekerjaan lalu beberapa tahun setelahnya kembali bekerja. Salut untuk para ibu. Semoga saya juga bisa menjadi ibu yang baik untuk Alanna…

 

Saat acara syukuran 40 hari Alanna. Bismillah semoga Alanna selalu diberi kesehatan dan menjadi anak yang baik

 

Hello, Baby Alanna…

 


Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Bayi kecil yang selama sembilan bulan saya bawa kemana-mana di dalam perut akhirnya lahir dengan selamat dan sehat. Bayi kecil ini pun kami namakan Alanna Latishia Wibowo, si cantik yang penuh suka cita, karena kami juga menyambutnya dengan suka cita dan kebahagiaan luar biasa.

Perjalanan persalinan saya dimulai dari Jumat pagi, tanggal 23 Oktober 2015. Pukul 04.30 pagi, saya merasakan ada cairan di bagian bawah yang saya pikir adalah air ketuban. Ketika saya ke kamar mandi, muncul pula flek darah yang membuat saya berpikir, “Oke, ini saatnya.”

Saya dan suami pun langsung melesat ke RSIA Bunda di Menteng. Untungnya karena masih pagi, jalan sangat lengang. Sesampainya di sana saya mulai merasa mulas, persis seperti saat sedang haid, tapi itu semua masih bisa saya tahan.

Saya kemudian masuk ruang observasi untuk mengecek kontraksi dan detak jantung si bayi. Bidan juga memeriksa saya dan mengatakan saya sudah bukaan 1. Sekitar pukul 7, dokter kandungan saya datang dan memeriksa saya dengan usg. Menurutnya, air ketuban saya belum pecah dan masih banyak. Jadi saya diminta bersabar karena ini bisa jadi proses yang panjang.

Jam demi jam berlalu, saya merasakan kontraksi yang makin kuat dan makin sering. Sebelum makan siang, saya minta dicek lagi dan ternyata masih juga bukaan satu. Tak lama bidan mengatakan bahwa dokter membolehkan saya pulang, karena sepertinya pembukaan saya masih akan lama. Tapi masalahnya, sakitnya bukan main, jarak antara kontraksi semakin dekat, dan saya terus mengeluarkan flek darah.

Saya pun memutuskan tetap berada di kamar observasi, karena toh kami sudah membayar kamar tersebut untuk semalam. Semakin sore, saya semakin lelah karena sakit dan saya sulit makan. Saya bahkan sempat muntah, karena asam lambung yang naik.

Ketika menjelang malam, saya ingin menyerah saja dan operasi caesar karena tidak tahan sakitnya. Mama saya dan ibu mertua saya terus menemani hingga malam sambil menguatkan saya. Saya mulai merasa down ketika jam 9 malam, bidan kembali mengecek dan hasilnya masih tetap bukaan satu.

Saya merasa kelelahan dan kesakitan. Apalagi pas malam itu saya malah ketemunya sama bidan yang senior dan galak. Dia dengan tegas bilang, “Ibu kalau mau memang mau lahir normal memang harus kuat, karena yang dicari rasa sakitnya. Semakin sakit, berarti semakin dekat persalinan. Ibu juga tidak mungkin melahirkan malam ini, jadi coba bersabar saja.” Huhu langsung nangis saya dibilang seperti itu..

Saya pikir mau sakit kayak gimana lagi. Katanya kontraksi bukaan 1 itu jaraknya berjauhan, sementara saya dalam 10 menit bisa merasakan 3-4 kali kontraksi yang rasanya sakittt banget. Apalagi flek darah saya terus-terusan keluar. Sebelum pulang, ibu mertua saya menyarankan saya untuk minum kuning telur ayam kampung mentah dan madu. Untungnya mama punya persediaan di rumah dan minta tolong saudara saya untuk membawanya. Katanya, sih, ini resep kuno untuk membawa stamina sekaligus mengurangi rasa sakit kontraksi. Saya yang biasanya menolak, langsung iya saja, dan diminum pun tidak terasa amis sama sekali. Saya cuma berpikir, semoga memang ini memberi sedikit tenaga buat tubuh saya yang rasanya makin terasa lelah.

Saya, ditemani suami, akhirnya menginap di sana. Saya benar-benar tidak bisa tidur karena merasa kesakitan setiap saat. Dalam hati saya membatin, “Kalau sampai besok jam 6 pagi masih juga bukaan 1, saya ingin operasi caesar saja.”

Lewat jam 12 malam, saya merasa sakitnya makin menjadi-jadi. Akhirnya saya memanggil bidan pada pukul 00.30 untuk kembali mengecek. Ternyata benar saja, saya sudah bukaan 3. Sedikit lega, karena setidaknya ada kemajuan. Saya pun menanyakan soal epidural ke bidan dan menurutnya saya bisa memakainya di atas bukaan 4. Dia juga mengatakan akan langsung menghubungi dokter anestesi.

Pada pukul 01.30, saya kembali kesakitan. Saya  memanggil bidan lagi, tapi ketika dicek masih juga bukaan 3 menuju bukaan 4. Namun mendadak 15 menit setelah dicek, saya merasa ada air yang keluar. Sepertinya ketuban saya sudah pecah. Saya kembali memanggil bidan, yang kemudian mengecek ternyata saya sudah bukaan 6 menuju 7. Dia pun langsung meminta bidan yang lain untuk menyiapkan kamar bersalin.

Saya panik dan berteriak minta epidural, namun bidan tersebut mengatakan bahwa waktunya tidak sempat. “Nanti dokternya datang, ibu juga sudah lahiran,” katanya.

Dari situ, semuanya terasa cepat. Saya diajarkan cara mengejan setiap kali kontraksi datang. Tak lama, dokter datang dan membantu persalinan. Dalam beberapa kali mengejan, akhirnya si mungil itu muncul. Alanna dilahirkan pada tanggal 24 Oktober 2015, pukul 02.40 WIB, dengan berat 3,21 kg dn panjang 49 cm. Saya masih ingat rasa lega yang saya rasakan dan pelukan pertama bayi saya di dada. Tidak berhentinya saya mengucap syukur pada Allah.

Sekarang, Alanna sudah berumur 1 bulan. Selama sebulan ini, emosi saya sebenarnya sempat naik turun. Namanya juga ibu baru yang sedang beradaptasi, saya merasa kewalahan pada awalnya. Padahal saya sudah punya banyak bala bantuan, ada mama, tante saya, dan suami saya, yang sering turun tangan untuk menjaga Alanna.

Babak baru pun dimulai, terutama ketika saya baru tahu bahwa menyusui dengan ASI itu ternyata tak semudah yang dibayangkan. Mulai dari masalah puting lecet sampai susu yang membeku dan bikin meriang, ditambah lagi kurang tidur, tentunya sempat membuat saya pusing. But everything was worth it.. apalagi pas melihat perkembangan Alanna.

Semoga saja, Alanna bisa menjadi anak yang sehat dan bahagia. We all love you, little baby… 🙂