Euro Trip 2017: Prague, The Fairy Tale City

Oke, sampailah saya di akhir perjalanan keliling beberapa negara Eropa tahun ini. Destinasi terakhir kami adalah Praha alias Prague, Ibu Kota Republik Ceko. Praha ini memang terkenal sebagai kota wisata yang dihiasi gedung-gedung kuno dan antik. Belum lagi patung-patung kuno yang memiliki makna sejarah tersendiri.

Kota ini juga dikenal dengan sebutan “The city of thousand spires” alias kota dengan ribuan menara, karena memang di kota ini terdapat banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.

Sayangnya, saya hanya sempat menginap semalam di kota ini dan hanya sempat berjalan-jalan sebentar saja di kota tuanya. Beberapa tempat yang menarik di Praha ini antara lain, Astronomical Clock, jam yang dibuat pada abad pertengahan ini begitu rumit, karena menggambarkan pergerakan matahari dan bulan, serta tanggal, jam, hingga zodiak (haha, saya juga nggak bisa bacanya, sih..). Ada juga Charles Bridge yang melintas di atas Sungai Vltava, yang dihiasi 30 patung santo.

Praha ini juga dikenal sebagai “Fairy tale city”, karena setiap landmark di kota ini punya cerita dongeng atau legenda atau mitos (yang tentu saja bisa dipercaya, bisa juga tidak). Soal Astronomical Clock, misalnya, saking hebatnya jam tersebut, pemerintah setempat tidak menginginkan ada negara lain yang memiliki jam serupa. Sehingga atas perintah dewan kota Praha, si pembuat jam terpaksa dibutakan matanya agar dia tidak bisa membuat ulang jam tersebut. Si pembuat jam pun kesal dan dia merusak jam tersebut hingga tak bisa digunakan lebih dari satu abad lamanya.

Lalu ada pula cerita dongeng tentang pembuatan Charles Bridge, yang kerap mengalami kerusakan. Bangunannya sering roboh dan akhirnya sang arsitek meminta bantuan pada “iblis” untuk membantunya membuat jembatan tersebut. Si iblis memenuhi permintaan arsitek dengan syarat, dia meminta tumbal orang pertama yang melintasi jembatan tersebut. Si arsitek mencoba untuk mengakali iblis dengan membawa seekor ayam dan berusaha menyuruh ayam itu untuk melintasi jembatan. Tahu akan diakali oleh arsitek, iblis pun pergi ke rumah arsitek dan mengatakan pada istri arsitek kalau dirinya ditunggu oleh suaminya di jembatan tersebut. Ketika arsitek sampai di jembatan, dia baru sadar kalau istrinya sudah melintasi jembatan itu dan dia pun menjadi tumbal untuk si iblis. (hii.. serem ya).

Nah, legenda lainnya (yang katanya fakta, sih) adalah kisah tentang Holy Roman Emperor Charles IV, yang sangat percaya akan numerologi. Saat Charles Bridge ini akan dibangun, dia berkonsultasi dulu pada ahli numerologi untuk mencari tanggal baik. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 1357, hari ke-9 dari bulan ke-7, pada pukul 5:31 pagi. Raja Charles pula yang meletakkan batu pertama dari jembatan tersebut.

Cerita lainnya mengisahkan tentang salah satu patung yang terdapat di Charles Bridge, yaitu Jan of Nepomuk (Santo John), patung santo yang di atas kepalanya dihiasi lingkaran dengan lima bintang. Legenda menceritakan tentang Wenceslas IV, putra dari Raja Charles, yang dikenal sebagai pria menyebalkan. Wenceslas meminta Jan, yang merupakan seorang pastor, untuk menceritakan rahasia apa yang diceritakan Ratu pada Jan. Namun Jan menolak dan akibatnya lidah Jan malah dipotong (ew!). Jan pun diikat dan dimasukkan ke dalam karung, lalu dibuang ke sungai dari atas Charles Bridge. Meski arus sungai cukup deras kala itu, tubuh Jan tetap mengambang di tempat yang sama selama beberapa hari. Begitu tubuhnya tenggelam, tampak lingkaran dengan lima bintang di atas air. Sekarang, Jan malah menjadi salah satu patung santo pelindung di Charles Bridge.

Saya sendiri memang suka banget dengan cerita dongeng dan mitos seperti ini. Jadi penasaran pengen tahu lebih banyak soal dongeng-dongeng di Kota Praha. I definitely gonna go back here again. Waktu saya ke sana, saya tidak sempat menjelajahi Charles Bridge, karena baru sampai beberapa meter ke tengah, hujan turun dengan deras (huhu).

Begitulah cerita jalan-jalan saya keliling beberapa negara Eropa yang diakhiri dengan “saya masih belum puas” haha.. Sepertinya yang namanya liburan memang suka begitu ya, apalagi kalau liburannya seperti saya ini yang nggak pakai itinerary yang jelas, akibatnya banyak waktu yang kebuang karena bingung mau ke mana.

Ah well, setidaknya saya sempat mendatangi beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Semoga nanti bisa jalan-jalan lagi (sebelum saya kembali ke Indonesia tahun 2019) dan bisa share ceritanya di sini. Cheers!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Astronomical Clock
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saint Ivo, salah satu patung santo di Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kota Praha yang dihiasi gedung-gedung kuno
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cuma punya satu foto langit Praha yang cerah, selebihnya mendung.. hiks
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava dan Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava

(All pictures taken by me)

Euro Trip 2017: Short Time in Hamburg and Berlin

Perjalanan kami pun dilanjutkan menuju Jerman, tepatnya ke Kota Hamburg. Mengapa kami ke sini? Alasannya, karena ayah ibu mertua saya dan Yudo ingin bernostalgia, begitupula salah satu bude Yudo yang dulu pernah tinggal di kota tersebut.

Yudo pun akhirnya menyusul kami di Kota Hamburg, karena waktu itu memasuki long weekend menjelang Paskah. Di Hamburg, kami napak tilas ke rumah yang pernah ditempati oleh Yudo sekeluarga. Kami bahkan secara tak sengaja bertemu dengan tetangga-tetangga Yudo dulu yang ternyata masih tinggal di situ. Tadinya kami pikir tak ada orang di rumah, karena tentunya banyak orang yang memilih menghabiskan long weekend di luar kota.

Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, kami pun lantas ke KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Hamburg, tempat mama Yudo merasakan penempatan pertama. Yup, being a diplomat runs in Yudo’s family, hehe. Ada pula beberapa orang staf yang masih bekerja, bahkan setelah 20 tahun berlalu–wow.

Tidak banyak tempat yang kami kunjungi, at least bukan rempat yang menjadi destinasi wisata, karena memang tujuan kami ke sini sekadar untuk nostalgia dan bertemu teman lama. Saat di KJRI, saya dan Yudo sempat ‘ngabur’ sejenak mencari kebab, dan kami menemukan kebab enak banget tak jauh dari situ.

Selama di Austria saja, saya belum pernah menemukan kebab yang benar-benar enak, tapi yang ini enak banget, apalagi rotinya yang crispy melengkapi daging yang gurih. Saking besar ukurannya, kebab ini bahkan saya makan untuk makan siang dan makan malam. Sayangnya, saya lupa nama kebabnya (sorry), yang pasti letaknya nggak jauh dari KJRI Hamburg (siapa tahu ada yang penasaran..hehe).

Kami juga sempat berjalan-jalan ke Jungfernstieg, yang juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi para turis. Kayaknya, sih, tempat ini juga menjadi tempat nongkrong buat anak-anak muda. Bisa duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati kopi atau es krim. Kalau Alanna, sih, senang banget, karena banyak bebek dan angsa.. haha. Sayangnya, saat kami ke sana cuacanya lagi gloomy banget, mendung, dan akhirnya hujan pun turun. Kami hanya menginap semalam di Hamburg dan langsung melanjutkan perjalanan ke Berlin.

Di Berlin, tempat yang kami tuju tentu saja tembok berlin. Namun kami hanya melihat dari dalam mobil, karena lagi-lagi cuaca nggak bersahabat dan hujan turun cukup deras. Kami juga sempat ke Checkpoint Charlie, salah satu destinasi turis saat ke sini. Kita jadi belajar sejarah mengenai Berlin Barat dan Berlin Timur. Bagaimana dulu kota ini terbelah menjadi dua bagian, di mana Berlin Barat (katanya) hidup enak dan Berlin Timur dikuasai komunis.

Checkpoint Charlie ini merupakan perbatasan dari wilayah Berlin Barat yang dikuasai Amerika Serikat (ada juga sektor lainnya, yaitu Inggris dan Prancis) dengan Berlin Timur yang dikuasai Uni Sovyet. Nggak enaknya, suasana di Checkpoint Charlie ini ramai banget. Mau foto pun susah. Kalau mau foto sama tentara-tentaraan saja harus bayar. Sudah begitu, fotonya masa berlatar belakang McDonald’s.. padahal ini kan tempat bersejarah.

Selain Checkpoint Charlie, tempat lainnya yang juga menjadi destinasi para turis adalah Brandenburger Tor atau Brandenburg Gate. Monumen neoklasikal dari abad ke-18 ini merupakan gerbang yang menandai awal jalan dari Kota Berlin menuju Kota Brandenburg.

Kami juga cuma semalam menginap di Berlin, karena perjalanan panjang mengelilingi beberapa Kota Eropa selama kurang lebih 16 hari ini akan segera berakhir. Keesokannya, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota terakhir yang akan kami kunjungi, yaitu Praha di Republik Ceko.

Berikut ini sedikit foto-foto di Hamburg dan Berlin.

hamburg-2017 (1)
Di halaman belakang KJRI Hamburg
hamburg-2017 (2)
Ada yang senang lihat bebek 😀
hamburg-2017 (3)
Dingin-dingin makan es krim, hehe
hamburg-2017 (4)
Jungfernstieg, Hamburg
hamburg-2017 (5)
Yudo lagi nostalgia di KJRI Hamburg
berlin (2)
Checkpoint Charlie
berlin (3)
Foto dengan latar belakang McDonald’s di Checkpoint Charlie 😀
berlin (1)
Berlin Barat dan Berlin Timur

Next destination: Prague, Czech Republic.

Euro Trip 2017: Tulip Season in Keukenhof

Selesai dari Paris, kami pun melanjutkan perjalanan ke Negara Kincir Angin alias Belanda. Tujuan kami cuma satu, melihat tulip-tulip yang sedang bermekaran di Keukenhof.

Awalnya, kami kesulitan mencari penginapan yang masuk bujet, karena saat musim tulip hampir semua hotel di Belanda penuh atau harganya mahal banget. Kami pun akhirnya menginap di budget hotel di Den Haag, yang jaraknya sekitar 40 menit dari kota Lisse, tempat di mana taman Keukenhof berada.

Saya juga pernah ke sini dua tahun lalu, tapi karena saya dan Yudo datang di akhir bulan Maret, cuacanya masih sangat dingin, angin kencang, dan sering hujan. Selain itu, masih banyak bunga tulip yang belum mekar. Waktu terbaik untuk menikmati musim tulip ini memang pada pertengahan bulan April.

Jika tertarik ke sini, jangan lupa untuk merencanakan sejak jauh hari, terutama untuk booking hotel. Sedangkan untuk tiket masuk Keukenhof, selain bisa dibeli secara online, kita juga bisa beli secara langsung dan antreannya pun nggak terlalu panjang karena loketnya banyak.

Benar saja, begitu sampai di Keukenhof, deretan mobil dan bus turis tampak memadati sepanjang jalan menuju taman bunga tersebut. Di dalamnya pun sangat ramai, tapi tetap nyaman, karena kita masih bisa berjalan-jalan santai dan berfoto-foto (nggak sampai berdesak-desakan kayak di Dufan kalau lagi hari libur.. hehe).

Berbagai macam tulip tampak bermekaran. Warnanya macam-macam, jenisnya macam-macam, sampai saya bingung mau foto yang mana (kamera saya pun dipenuhi foto bunga!). Memang cantik-cantik banget, sih, bunganya. Susunannya pun menarik dengan mengombinasikan warna-warna kontras. Untungnya lagi, hari itu juga cukup cerah. Memang, sih, kadang ada awan mendung yang datang, tapi nggak sampai hujan deras. Puas, deh, jalan-jalan di sini.

Keesokan harinya, kami ke Volendam, yang dikenal sebagai desa nelayan, karena letaknya yang dekat dengan laut. Nah, di Volendam inilah tempat orang-orang (turis) berfoto memakai baju adat daerah tersebut.

Saya juga sudah pernah berfoto bareng Yudo dua tahun lalu, jadi tahun ini saya malas foto lagi. Kalau ke sini, ada beberapa studio foto yang menawarkan jasa tersebut, tinggal pilih saja paketnya yang mana. Biasanya tergantung jumlah dan besar foto yang akan dicetak. Jangan heran juga kalau menemukan sejumlah foto selebriti dan tokoh politik Indonesia digantung di etalase studio-studio foto tersebut. Mungkin karena orang Indonesia sering banget ke sini kali ya…

Tujuan saya ke Volendam sebenarnya cuma satu, yaitu makan poffertjes (haha). Saya ingat banget waktu ke sini dua tahun lalu, saya sedang mual-mualnya, tapi tetap semangat makan poffertjes. Sekarang, kan, sudah nggak mual lagi, jadi terasa enaknya dua kali lipat 😀

Di Volendam ini, karena dikenal sebagai desa nelayan, maka restorannya pun menawarkan aneka menu seafood yang enak. Jadi jangan sampai nggak mencoba calamary, ikan, udang, dan makanan seafood lainnya kalau di sini.

Oh ya, saya juga nggak punya foto-foto selama di Volendam, karena saat ke sana cuaca lagi nggak bersahabat banget. Hujan sepanjang saya di sana, jadilah saya ngumpet terus di bawah payung. Sambil dorong stroller, sambil bawa payung, jadi susah mau foto-foto.

Foto-foto yang sempat saya ambil selama di Belanda, ya hanya di Keukenhof. Siap-siap saja di bawah ini bakal banyak foto tulip. Enjoy! 😀

andhinalannakeukenhof

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(all photos taken by me, except when I’m in it)

Next destination: Hamburg, Germany.

Euro Trip 2017: Sunny Day in Paris

Dari Lucerne, kami pun melanjuti perjalanan menuju Paris, Prancis–Yeay! I love this city, walaupun cara menyetir orang-orang di sini kacau dan kotanya tidak sebersih kota-kota lainnya di Eropa, seperti kota-kota di Swiss yang bersih banget. Nggak tahu, ya, sejak belum pernah ke sini saja, Paris selalu menjadi kota impian yang ingin banget saya datangi.

Saya memang pernah ke Paris dua tahun lalu, tapi tetap rasanya nggak puas. Tahun ini, rasanya lebih spesial, karena saya pergi bersama Alanna, yang dua tahun lalu masih di dalam perut. Untungnya, saat kami berjalan-jalan di pusat kota Paris, cuaca sangat bersahabat, cerah-ceria, dengan sedikit angin sejuk. Saya pun melepas jaket tebal yang saya pakai selama di Lucerne hari sebelumnya.

Tujuan pertama kami, tentu saja Menara Eiffel. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dari berbagai sudut (haha.. namanya juga turis). Setelahnya, saya ingin banget berjalan-jalan di Champs-Elysees, sementara ibu mertua dan bude-bude ingin menaiki bus tur hop-on/hop-off yang keliling kota.

Setelah menemukan bus tur yang harganya lagi diskon, kami pun berkeliling menggunakan bus tersebut dan turun di Champs-Elysees. Tujuan saya cuma satu, SEPHORA! Haha, namanya juga pencinta lipstik sejati, saya pastinya menggila banget di sini, dan Sephora kan brand asal Prancis, sudah pasti koleksi brand-brand kosmetiknya lengkap banget (dan karena di Austria tidak ada Sephora, hiks). Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan lagi jalan-jalan di sekitar tempat tersebut.

Namun, kami nggak sadar kalau ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, padahal hari masih terang! Kami mencoba mencari bus tur yang kami naiki, tapi kok tidak ada. Saya membaca di brosurnya, ternyata last departure mereka adalah jam 5 sore..Oh no!

Kami akhirnya berjalan dari Champs-Elysees ke Plaza de la Concorde, karena tadi sempat melihat beberapa bus tur yang berhenti di situ. Kami pun menemukan si bus merah, yang merupakan bus tur kami, tapi ternyata mereka tidak akan kembali ke Menara Eiffel (tempat kami memarkir mobil). Jadilah, kami memutuskan untuk jalan dari Plaza de la Concorde ke parkiran di Menara Eiffel (which is jauh banget.. haha).

Namun ada untungnya juga, sih, berjalan kaki sejauh itu, karena kami jadi melihat sisi lain Paris. Selain itu, berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine menjelang sunset ternyata indah banget. Apalagi cuacanya sejuk, sehingga kami pun tidak merasa lelah.

Setidaknya, hal ini bisa jadi pelajaran. Pertama, sebaiknya pilih bus tur yang lebih mahal sedikit tapi armadanya lebih banyak, seperti Big Bus Paris atau L’Open Tour Paris. Kami memilih bus tur yang satunya lagi dan tampaknya armadanya lebih sedikit. Kedua, perhatikan jam saat menaiki bus tur. Tampaknya kami dapat harga lebih murah, karena kami baru menaiki bus tur tersebut menjelang jam dua siang (jelas saja jadi lebih murah). Kalau memang ingin menaiki bus hop-on/hop-off, sebaiknya mulai sejak pagi hari.

Keesokannya, kami pergi menuju Istana Versailles. Hari itu panas banget, matahari sangat terik, dan tidak ada awan sama sekali. Antrean untuk masuk ke Versailles pun mengular, jadinya kami juga malas untuk masuk ke dalam. Selebihnya, kami malah menghabiskan waktu di outlet tak jauh dari Versailles (yang sebenarnya bukan outlet yang oke, ah well.. saya, kan, cuma nebeng jalan-jalan).

Kalau boleh memilih, saya masih tetap ingin berjalan-jalan di Kota Paris. Saya juga masih penasaran dengan isi Museum Louvre. Jadi, selama saya masih tinggal di kawasan Eropa hingga 2019 nanti, saya berharap bisa kembali lagi ke Paris. Masih penasaran dan belum bosan balik lagi ke sana.. hehe.

Oh iya, Kota Paris ini memang cantik banget, tapi kita tetap harus berhati-hati. Soalnya seminggu setelah saya dari sini, terjadi lagi penembakan. Di Kota ini memang pernah terjadi beberapa kali aksi teror, seperti penembakan di kantor Charlie Hebdo dan penembakan massal saat konser metal pada 2015 lalu. Nah, penembakan yang baru-baru ini, terjadi di Champs-Elysees, deretan pertokoan yang ramai dikunjungi para turis.

Selain itu, jika diperhatikan, di pinggir-pinggir Kota Paris juga terlihat rumah-rumah kardus yang ditempati para migran dari Suriah. Miris, sih, melihatnya. Di satu sisi, Kota Paris jadi terlihat berantakan, di sisi lain sedih banget melihat kehidupan mereka yang tentunya jauh dari layak. Semoga masalah migran ini bisa diselesaikan. Saya, sih, nggak bisa banyak omong (siapa saya?), cuma bisa berharap yang terbaik bagi mereka.

Ini sedikit foto-foto saya selama di Paris.

alannaeiffel
Alanna in Paris
arc de triomphe
Arc de Triomphe
eiffel1
Selfie di depan Menara Eiffel
eiffel2
Yes.. another picture in front of the Eiffel Tower
paris1
Obelisk yang terletak di belakang Plaza de la Concorde
paris2
Sunset di Paris
paris3
Satu lagi foto sunset
seine
Sunset di pinggiran Sungai Seine

(All photos taken by me.. except when I’m in it :D)

Next destination: Netherlands.

Euro Trip 2017: The Gorgeous Interlaken and Lucerne

Setelah menghabiskan waktu di Venice, akhirnya kami melaju ke Kota Lucerne (Luzern) di Swiss. Saya sendiri juga pernah ke kota tersebut dua tahun lalu saat pergi bersama Yudo dan kota ini cukup berbekas di memori kami, karena kecantikan pemandangan di kota tuanya. Jalan-jalan berbatu, deretan toko, serta danau di tengah kota yang dipenuhi kawanan angsa dan bebek memang punya magnet tersendiri bagi kami.

Makanya ketika perjalanan ini juga akan singgah di Kota Lucerne (bahkan kami menginap selama tiga malam), saya sangat excited. Sayangnya, ada beberapa tempat yang tak sempat kami kunjungi, karena ada beberapa perubahan rencana di tengah jalan. Cuaca saat itu di Swiss cukup dingin, padahal sebelumnya kami sudah merasa nyaman dengan cuaca yang sejuk dan cerah di Budapest, Zagreb, dan Venice.

Perjalanan dari Venice menuju Lucerne juga memakan waktu cukup lama, hampir 6 jam. Kami pun sampai sangat malam di Lucerne, sekitar pukul 10.30 malam. Esoknya, kami berjalan-jalan di Grindelwald dan Interlaken.

Sebenarnya, dari Interlaken ini banyak turis yang naik ke atas dengan menggunakan kereta di Jungfraujoch. Tapi entah kenapa, kami tidak melakukannya (mungkin karena cuaca dingin dan ibu-ibu yang lainnya sepakat tidak naik ke atas). Ya sudah, jadilah kami berjalan-jalan di pusat kota Interlaken dan habis itu sempat berfoto-foto di Brienz Lake yang cantik.

Menurut informasi yang saya dapatkan, Interlaken ini sendiri terletak di antara dua danau, yaitu Brienz Lake di bagian timur dan Thun Lake di bagian barat. Selain itu, ada pula Aare River yang mengalir di antara kedua danau tersebut. Jadi buat yang mau pergi berjalan-jalan ke sini, sebaiknya baca-baca dulu tentang berbagai tempat wisata di Interlaken, supaya tidak banyak membuang waktu.

Saya sendiri, sih, lebih tertarik dengan kota tua Lucerne, yang akhirnya baru kami kunjungi keesokannya lagi. Awalnya, rombongan ibu-ibu ini mau ke Mount Titlis, tapi begitu sampai di sana malah nggak ada yang mau naik karena kedinginan (hehe). Kalau saya, sudah pernah naik hingga ke ketinggian 3000an meter saat dua tahun lalu ke Swiss, ketika usia kehamilan saya baru 8 minggu. Alhasil, karena oksigen yang tipis di atas gunung itu, saya pun pusing dan muntah-muntah (bukan kenangan yang asyik, ya).

Setelah batal ke Mount Titlis, baru deh ibu-ibu sepakat ke kota tua Lucerne. Salah satu landmark terkenal di sini adalah Kapellbrucke (Chapel Bridge), yang merupakan jembatan kayu tertua di Eropa. Jika berjalan di jembatan kayu ini, kita bisa menemukan lukisan-lukisan kuno dari abad ke-17 yang diletakkan di langit-langit jembatan.

Namun, menurut informasi yang saya baca, jembatan ini sempat mengalami sejumlah musibah, salah satunya kebakaran. Jadi dari sekitar 150an lukisan, kini cuma ada 47 lukisan yang ada. Selain jembatan kayu, ada pula Wasserturm atau Water Tower yang menjadi ikon unik di Lucerne. Dinamakan seperti itu bukan karena isinya air, tapi karena tower tersebut didirikan di atas air.

Setelah puas berjalan-jalan di kota tua Lucerne. Masuk ke dalam jalan-jalan batu setapak dan cuci mata di dalam beberapa toko, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Lion Monument. Ini juga salah satu tempat ikonik di kota Lucerne. Monumen ini dibangun pada tahun 1820-1821 untuk mengenang tentara Swiss yang dibantai dalam perang Revolusi Prancis tahun 1792. Sosok singa digambarkan sebagai sosok yang pemberani. Jika diperhatikan, patung singa itu sendiri terlihat sedang sekarat dengan tombak menembus tubuhnya.

Sebenarnya, masih banyak lokasi-lokasi menarik lainnya di Lucerne. Cuma lagi-lagi, waktu kami memang sempit. Semoga suatu saat nanti, kami bisa kembali lagi ke sini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Brienz Lake
mealannainterlaken
Bersama si happy baby di Brienz Lake
mealannagrindelwald
Wefie di Grindelwald
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Interlaken
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chapel Bridge dan Water Tower, Lucerne

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

mealannalucerne

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lion Monument

(all photos taken by me.. except when I’m in it)

Next Destination: Paris

Euro Trip 2017: Strolling Through Venice

Setelah dari Zagreb, tujuan kami berikutnya adalah Venice, Italy. Perjalanan dari Zagreb ke Venice memakan waktu sekitar 4 jam. Kami pun sempat melewati negara Slovenia saat menuju Venice. Hanya numpang lewat saja, karena memang tidak punya rencana untuk menginap di sana.

Sampai di Venice, hari juga sudah menjelang malam. Jadi kami cuma sempat makan malam dan langsung istirahat. Besoknya, tepat pukul 9 kami langsung berangkat menuju pelabuhan tempat kapal yang akan membawa kami ke Venice.

Dua tahun lalu saat pergi jalan-jalan ke Eropa bersama Yudo, saya juga sudah pernah ke Venice. Tapi waktu itu kan bareng tur, jadi semuanya sudah diatur. Sekarang, kami masih meraba-raba, bagaimana ya caranya ke Venice. Ternyata, gampang banget. Kita cukup membeli tiket di loket yang terletak di tempat parkir mobil dan ada juga yang terletak di pelabuhan. Harga tiket one way sebesar €7.50 dan nanti kalau mau balik lagi tinggal beli seharga itu juga.

Tapi karena kami naik public transport alias water bus, jadilah perjalanannya agak makan waktu. Sama saja kayak bus di darat, haltenya banyak dan jalannya nggak ngebut. Tujuan kami adalah Saint Mark’s Square atau San Marco Square, spot turis yang paling ramai dikunjungi (kayaknya).

Balik lagi ke tempat ini untuk kedua kalinya, saya sebenarnya penasaran dengan lokasi yang ada di film Inferno (hehe). Saya ini fans berat film dan buku Dan Brown, yang selalu menggabungkan sejarah, mitos, dan teka-teki. Nah, di film Inferno itu, ada satu adegan yang pengambilan gambarnya di Venice, tempat di mana si Tom Hanks terjebak. Tapi saya cari-cari, kok, nggak ketemu ya.. haha, nggak penting.

Anywaaayy… saya cuma sempat berfoto-foto di Saint Mark’s Basilica, menyusuri gang-gang di dalam Venice yang dipenuhi toko dan restoran khas Italia, serta mengambil foto sekitar Venice. Kali ini saya tidak mau naik gondola, karena sudah pernah dan saya pikir agak overpriced. Setidaknya saya sudah pernah, jadi buat apa lagi.

Saat di Venice, jangan lupa untuk mengitari toko, kafe, dan restoran yang ada di dalam gang-gang, karena kita bisa menemukan banyak tempat menarik. Mertua saya, misalnya, menemukan toko-toko yang menjual tas berbahan kulit dengan harga yang miring, namun kualitasnya tetap oke. Kalau saya, sih, lebih tertarik dengan restoran yang menyajikan aneka menu pasta dan kopi khas Italia.

Berikut ini beberapa foto saya di Venice (dan Alanna yang senang banget dikelilingi burung di St. Mark’s Square). Note: all photos taken by me.. except when I’m in it

mealannavenice

mevenice

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

topeng venice

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Next destination: Lucerne, Switzerland

Euro Trip 2017: One Night in Zagreb

Kenapa judulnya one night? Karena memang saya hanya menghabiskan satu hari saja di Ibu Kota Kroasia (Croatia) tersebut. Alasan kami hanya singgah semalam di sini, agar ayah mertua saya (yang menyupir sepanjang perjalanan ini) tidak kecapekan jika harus langsung jalan dari Budapest ke Venezia (Venice).

Perjalanan dari Budapest ke Zagreb memakan waktu sekitar 3 jam. Di sana, kami menginap di apartemen dekat tengah kota yang ternyata tempatnya nyaman banget. Si pemilik apartemen sangat ramah dan isi apartemennya pun sangat lengkap. Sayang saja kami cuma menghabiskan waktu semalam di sana.

Sebenarnya, saya sendiri juga kurang tahu apa saja objek-objek wisata di kota ini. Namun Zagreb juga merupakan kota yang cantik dengan arsitektur khas Eropa yang menarik. Saat sampai di Zagreb, hari sudah menjelang malam dan kami tidak sempat berjalan-jalan.

Keesokan harinya, kami berjalan ke pusat kota dan melewati Katedral Zagreb yang juga dikenal dengan nama Cathedral of the Assumption of Mary. Dari sana, kami berjalan menuju pasar tradisional di Zagreb yang menjajakan aneka macam buah, sayuran, hingga souvenir khas kota tersebut.

Berhubung jalan-jalan bareng ibu-ibu, jadilah mereka lebih senang mencari oleh-oleh dan souvenir, sementara saya dan Alanna menunggu saja sambil sesekali mengambil foto suasana sekitar.

Berikut ini sedikit foto-foto saya di Zagreb (all photos taken by me). Semoga saya dan Alanna (bersama Yudo) bisa kembali ke kota ini dan lebih puas berjalan-jalan di dalamnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cathedral of the Assumption of Mary
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mary Column yang terletak di depan katedral
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana pasar (Dolac Market) di Zagreb
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana Dolac Market
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Patung Josip Jelačić di Jelačić square
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana di Zagreb

Next destination: Venice, Italy