Spending Weekend at Tiergarten Schönbrunn, The Oldest Zoo in the World

Menghabiskan akhir pekan di Wina beda banget dengan di Jakarta. Biasanya di Jakarta, tujuan jalan-jalan saat weekend paling cuma ke mall dan mall. Nah, di Wina kalau Sabtu, mall dan toko-toko tutup jam 6 sore, termasuk juga supermarket (nggak seru banget!). Sedangkan Minggu, semuanya tutup (kecuali restoran dan kafe).

Untungnya, di Wina masih banyak hiburan lainnya saat weekend, seperti taman, museum, dan kebun binatang. Sudah sejak lama saya memang meniatkan diri untuk mengajak Alanna ke kebun binatang di sini saat Summer.

Nah, pas banget kemarin udaranya lagi enak. Seminggu sebelumnya sempat panas banget, habis itu mendadak hujan terus-terusan. Saat hari Minggu kemarin, cuacanya cerah tapi anginnya dingin. Suhunya juga berkisar antara 22-24 derajat Celsius, jadi pas banget deh buat jalan-jalan outdoor.

Tiergarten Schönbrunn (kalau diterjemahkan jadi Kebun Binatang Schönbrunn) merupakan kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang ini dibuka pada tahun 1752 dan awalnya menjadi tempat menyimpan koleksi binatang eksotis milik Raja Austria. Makanya letak kebun binatang ini pun berdekatan dengan kompleks Istana Schönbrunn (yang meski berdekatan kalau jalan rasanya jauh juga.. hehe.. karena memang besar banget).

schonbrunn zoo-bluestellar (5)
Wefie dengan latar belakang llama.. tapi itu kok llamanya ada yang pingsan? 😀

Dulunya, kebun binatang ini bermula dari Central Pavilion, sebuah paviliun yang dibuat untuk para anggota kerajaan sarapan. Sekarang, Central Pavilion itu menjadi salah satu restoran di kebun binatang ini.

Harga masuk ke Tiergarten Schönbrunn ini €18.50 untuk dewasa, €9 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Bisa juga membeli tiket tahunan seharga €49, jadi bisa sepuasnya deh selama setahun keluar masuk ke situ.

schonbrunn zoo-bluestellar (10)
Central Pavilion yang sekarang jadi restoran

Kebun binatang ini sangat nyaman untuk orangtua yang membawa anak-anak dengan stroller. Selain itu, penataan setiap kandang binatangnya pun rapi. Meski ramai, sama sekali nggak merasa berdesak-desakan dan jalan-jalan pun terasa santai.

Jika capek, restoran dan kios-kios makanan hampir ada di setiap sudut. Ada juga playground khusus buat anak-anak dengan beragam permainan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana, anak-anak juga bisa menaiki kuda poni atau bermain-main dengan anak kambing (lucu banget..).

schonbrunn zoo-bluestellar (1)schonbrunn zoo-bluestellar (2)schonbrunn zoo-bluestellar (6)schonbrunn zoo-bluestellar (7)schonbrunn zoo-bluestellar (8)

Selain binatang-binatang seperti gajah, jerapah, badak, singa, dan macan, ada juga lokasi khusus rainforest yang kalau masuk ke dalamnya rasanya persis seperti di negara tropis, panas dan lembap.

Ada juga binatang seperti pinguin dan beruang kutub di bagian khusus binatang-binatang dari wilayah kutub. Sementara atraksi utama kebun binatang tersebut saat ini adalah dua panda kembar yang baru saja lahir pada Agustus tahun lalu, Fu Feng dan Fu Ban. Anak panda kembar pertama yang lahir di kebun binatang Schönbrunn.

Oh iya, ada juga waktu-waktu khusus saat si binatang diberi makan. Jadwalnya ada di peta yang bisa didapatkan di bagian informasi dan tiap binatang punya jadwal yang berbeda.

Pada dasarnya saya memang suka ke kebun binatang, jadi menghabiskan akhir pekan di sini terasa menyenangkan. Apalagi Alanna juga terlihat excited melihat binatang-binatang (meski pinguin dia bilang bebek.. haha). Dia juga suka lihat gajah yang besar, jerapah yang lehernya panjang dan tinggi, serta kawanan flamingo warna pink (yang dia panggil ming-go).

schonbrunn zoo-bluestellar (3)schonbrunn zoo-bluestellar (9)

Sayangnya saat ke kebun binatang kemarin, saya baru sampai di sana jam 1 siang. Enaknya, sih, dari pagi jam 10 sudah di sana supaya jalan-jalannya lebih santai dan semua tempat dikunjungi. Saya tidak sempat ke bagian serigala dan kucing linx yang agak jauh, karena kebun binatang tersebut tutup jam 6 sore. Kalau ke sana saat winter, tutupnya lebih cepat, yaitu jam 5 sore.

Segitu dulu ya, cerita dari saya.. Semoga seterusnya bisa cerita lebih banyak tentang Wina. Masih ada waktu dua tahun lagi untuk mengenal lebih banyak soal kota yang satu ini.

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀

Moving to Vienna

Hello again… Sudah beberapa minggu tidak update dan tidak menulis tentang lipstik (hehe). Itu karena saya sedang mengalami banyak hal, salah satunya: Pindahan!

Akhirnya, saya ngerasain juga, deh, yang namanya jadi istri diplomat. Akhir Agustus kemarin saya resmi pindah ke Wina alias Vienna alias Wien di Austria. (Kenapa saya nulisnya begitu, karena ada juga beberapa orang yang nggak tau Wina tuh di mana, taunya Vienna 😄).

Pada akhir bulan Juli lalu, saya resign dari pekerjaan. Sedih karena nggak punya penghasilan, tapi excited juga karena saya ingin merasakan kerja freelance. Iya, uangnya nggak seberapa, tapi saya lagi jenuh juga dengan pekerjaan di kantor. Mungkin nanti setelah tiga tahun, saya mau coba kerja kantoran lagi.

Kota Wina ini merupakan tempat posting atau penempatan pertama Yudo sebagai diplomat muda (walaupun umur, sih, nggak muda-muda amat). Nah, para istri diplomat ini bakal jadi Dharma Wanita. Tugasnya juga nggak ringan, karena setiap perwakilan punya acara sendiri-sendiri yang juga akan diurus para ibu-ibu itu.

Pandangan saya, sih, awalnya soal ibu-ibu itu mereka pasti jago masak, jago dandan, jago sanggulan, sementara saya nggak bisa semuanya. Mudah-mudahan saja saya bisa belajar semuanya. Menurut saya mereka adalah ibu-ibu hebat yang bisa mengatur semuanya. Bayangkan saja di luar negeri, tanpa bantuan dari ART, ngurus anak, ngurus keluarga, masih juga harus ngurus acara-acara lainnya. Makanya saya suka agak kesal kalau ada orang yang mencap ibu-ibu Dharma Wanita kerjanya cuma gosip doang atau nggak ada kerjanya. Sama saja seperti orang yang menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga, padahal kerja mereka itu 24/7 nonstop tanpa digaji pula.

Makanya, ketika tahu saya akan jobless (kerja freelance pasti bakal beda sama kerja kantoran) dan saya harus mengurus rumah sendirian, saya agak deg-degan juga. Di Jakarta, saya terima beres semua. Makanan ada, rumah ada yang ngerapiin, sementara di sini saya benar-benar harus belajar mandiri.

Sebelum berangkat pun niat mau belajar bahasa Jerman gagal, belajar dandan gagal, sampai belajar masak juga gagal (haha!). Ini mah alamat belajar dari nol banget. Tapi kalau dipikir-pikir kalau saya nggak kayak gini, bakal susah belajar mandiri.

Kakak saya saja bisa, kok, hidup di luar negeri dengan tiga anak tanpa bantuan ART. Dia kerja part time, sedangkan suaminya kerja full time. Semuanya bisa dia jalani dengan baik, jadi semoga saja saya bisa.

Penempatan di Wina ini akan berlangsung selama tiga tahun, setelah itu saya, Yudo, dan Alanna akan kembali tinggal di Jakarta hingga menunggu penempatan berikutnya. Nah, biasanya akan ada lagi tantangan-tantangan baru. Kalau sekarang saya repot beradaptasi, belajar ini-itu, nanti saya akan direpotkan dengan sekolah anak. Sama seperti Yudo yang juga anak diplomat, Alanna pastinya akan pindah-pindah sekolah. Sudah punya teman, nanti harus pisah lagi. Belum lagi kalau kurikulum sekolahnya beda. Tapi yang nanti dipikirkan nanti saja..hehe.

Baiklah.. Sekarang saya harus siap-siap beradaptasi di tempat baru. Harus mulai menata apartemen, ngepel, nyuci, nyetrika, hadehhhh.. Wish me luck!

Jalan-jalan bareng Alanna
Resepsi diplomatik di KBRI Wina (untung ada yang mau bantuin saya sanggulan, hehe)

When My Teteh and Her Kids Visited Indonesia

Kayaknya waktu cepat banget berlalunya, sementara banyak banget yang harus dikerjakan. Selama sebulan terakhir ini, saya memang kurang update dengan blog.

Well, here’s what happened in the last month..

Kakak perempuan saya yang tinggal di New Jersey datang membawa tiga anaknya (yippee!!). Ini merupakan pertama kalinya dia datang ke Jakarta setelah lebih dari 10 tahun tinggal di sana. Anak-anaknya semua lahir di US, jadi mereka belum pernah tahu soal Jakarta.

Pharrell, merupakan anak Teteh yang paling gede. Komentar dia ketika datang ke Jakarta adalah..

“Houses in Jakarta are fancy! They have a small lake in front of their house..”

“Lake apa? Got kali..”

“Apa itu got?”

“Some kind of sewer..”

“Ewww..”

Felycia a.k.a Thatha, anak kedua Teteh yang usianya 6 tahun. Setiap kali dibilang, “Thatha cantik sekali”, dia akan jawab, “I know”..

Suatu kali dia melihat cicak di rumah dan tanggapannya adalah, “Oh my God, there’s an alligator inside the house!!” (Totally a drama queen.. Hehe)

Fahrany a.k.a BeeBee a.k.a Bibo adalah anak yang paling kecil dan yang bahasa Indonesianya paling tidak lancar

“Beebee kan sudah besar, sudah umur 5 sekarang.”

“No, I’m five”

“Iya lima”

“No, five”

“Iya.. Five itu artinya lima”

“Beebee nggak bisa bahasa Indonusa” (hehe bahkan Indonesia saja dibilangnya Indonusa)

Liburan mereka berlangsung selama lima minggu di Indonesia, tapi lima minggu itu rasanya cepat sekali berlalunya. Tiba-tiba saja rumah yang tadinya terasa ramai, harus kembali terasa sepi. Setelahnya saya pun disibukkan dengan segala persiapan pindahan (iya.. Saya akan pindah jauh dan ceritanya dilanjutkan di blog post berikutnya).

Terakhir ketemu mereka di New Jersey, mereka masih anak-anak, saya belum menikah, dan belum memiliki Alanna. Sekarang mereka sudah semakin besar dan waktu cepat banget berlalunya.

I’m gonna miss them so much.. Apalagi mereka adalah anak-anak yang sangat baik. Semoga kita bisa bertemu lagi yaa.. Dan main-main bareng sama baby Alanna (yang mungkin nanti sudah tidak baby lagi).

nini-dan-cucu
Nini dan enam cucunya
Me and Teteh and the kids
at De Ranch, Lembang
with my Teteh

MPASI… Oh.. MPASI

Sejujurnya, saya pengen banget seperti ibu-ibu hits di media sosial yang sering berbagi seputar menu MPASI (makanan pendamping ASI) anaknya. Dari mulai mencampurkan beragam jenis makanan sehat, trik memasak, hingga menceritakan betapa anaknya doyan banget makanan yang dia buat.

Sayangnya, saya punya berbagai masalah soal MPASI ini. Saya tahu, sih, banyak juga ibu-ibu yang punya masalah seputar memberikan MPASI pada anaknya. Jadi saya tahu saya tak sendirian. Hanya saja, kadang saya merasa terintimidasi jika melihat ibu-ibu lain sukses memberikan MPASI, sementara saya, kok, rasanya susah banget.

Oke, saya cerita dari awal MPASI Alanna. Setelah enam bulan lulus ASI eksklusif, saya mulai mencoba memberikan makanan. Awalnya, bubur beras yang disaring, jadi halus banget dan dicampur sama ASI. Pertama kali dikasih, lahap banget, sehingga membuat saya besar hati. Tapi besok-besoknya seperti melempem..dan GTM (alias Gerakan Tutup Mulut) pun dimulai.

Tidak terasa beberapa minggu lewat dan saat ditimbang, berat Alanna hanya naik 100 gram. Padahal saat masih ASI eksklusif per bulannya berat Alanna bisa naik 800 hingga 1000 gram. Saat itu, dokter menyarankan untuk mulai memberikan protein pada Alanna, yaitu ayam dan ikan, jadi jangan hanya bubur beras dan buah.

Sebulan berikutnya, berat Alanna cuma naik 200 gram (hiks!). Memberikan MPASI untuk Alanna juga perjuangan banget. Mulai dari disuapin pakai tangan, gonta-ganti sendok, dipangku, didudukin di kursinya, diubah menunya, bikin makanan fresh setiap hari, dan masih banyak lagi. Setelah tiga bulan memberikan MPASI, rasanya nafsu makan Alanna masih naik turun. Kalau saya berhasil memberinya makan cukup banyak, rasanya lega banget. Namun jika tidak, huhu, rasanya ingin menangis di pojokan.

Saya kemudian jadi banyak berpikir. “Apa jangan-jangan cara saya memperkenalkan MPASI pertama kali salah ya?”, “Apa makanan yang saya buat nggak enak ya?” (memang saya nggak jago bisa masak, sih), “Apa Alanna menjadi picky eater?”.

Namun kalau dilihat sejarah saya waktu kecil dulu, ibu saya juga bilang saya itu anak yang susah banget makannya. Sampai duduk di bangku SD saja, saya makannya diemut terus, sampai ibu saya kesal.. (ya, kan saya juga nggak tahu kenapa dulu nggak doyan makan, hehe).

Sekarang setelah memasuki usia 8 bulan +, Alanna saya kasih makan dengan menu campur-campur. Dimulai dari sarapan sereal atau bubur susu dan buah, sedangkan siang dan malam menunya sama (biasanya nasi, sayur, protein hewani, dan kadang-kadang protein nabati). Saya berikan juga unsalted butter untuk menambah rasa makanan, karena siapa juga yang akan suka makanan tak ada rasanya sama sekali. Kadang saya tambahkan pula tumisan bawang putih atau bisa juga garlic powder untuk menambah rasa sekaligus aroma. Tapi ya, tetap saja, keinginannya untuk makan masih naik-turun, tergantung mood si putri kesayangan yang satu itu.. hehe.

Kalau ditanya, “Apa sih makanan kesukaan Alanna?”, saya sendiri tidak tahu. Satu hari dia bisa lahap banget makan puree buah pir, besoknya bosan. Makan butternut pumpkin squash juga kadang lahap banget, besoknya biasa saja. Waktu itu pernah makan salmon, suka banget, eh.. pas minggu depannya malah nangis-nangis nggak mau makan.

Walaupun begitu, saya nggak pernah menyerah, kok. Apalagi, so far Alanna tidak punya alergi apa pun. Hanya waktu itu pernah dikasih pisang sedikit, pup-nya langsung keras. Jadi biasanya pisang saya gabungkan dengan pepaya atau pir, yang merupakan buah anti-sembelit. Anehnya juga, Alanna kayaknya nggak suka tomat, deh. Setiap kali makanannya saya campur dengan tomat (bahkan sedikit banget), dia langsung nggak mau makan dan akhirnya mewek.

alanna-makan
Awal-awal Alanna mencicipi MPASI, pipi masih gembil…

Untuk sekadar sharing, ini beberapa bahan makanan yang sudah pernah dicoba untuk Alanna. Boleh kalau ada yang mau sharing atau kasih masukan, bahan makanan apa lagi ya yang bisa saya coba..

  • Beras putih
  • Beras merah
  • Kentang
  • Ubi Jepang
  • Quinoa
  • Jagung
  • Butternut Pumpkin Squash
  • Kabocha
  • Tomat (nggak suka)
  • Brokoli
  • Wortel
  • Bayam hijau
  • Bayam merah
  • Bok Choy
  • Buncis
  • Kapri manis
  • Tahu
  • Kacang polong
  • Pepaya
  • Pisang (jarang dikasih, karena pupnya jadi keras)
  • Pir (Packham)
  • Apel (Royal Gala)
  • Alpukat (nggak suka, mukanya langsung eneg kayak mau muntah, padahal menurut saya alpukatnya enak banget)
  • Daging sapi
  • Daging ayam
  • Ikan kakap
  • Ikan salmon
  • Telur ayam kampung (baru kuningnya saja)

Pelengkap:

  • Unsalted butter
  • Extra virgin olive oil (kadang dicampur langsung ke makanan, kadang jadi minyak untuk menumis bawang putih)
  • Bawang putih
  • Garlic powder
  • Cinnamon powder
  • Keju

Untuk masak, saya biasanya menggunakan slow cooker. Awalnya saya pakai slow cooker merek Takahi ukuran 0,7 liter. Ukuran ini memang paling ideal sih buat bikin MPASI, karena bisa dipakai untuk membuat makanan dalam porsi sedikit. Tapi kemudian slow cooker-nya rusak (hiks), jadi sekarang saya pakai yang ukuran 1,2 liter dengan harapan slow cooker ini bisa dipakai untuk masak menu makanan lainnya, bukan cuma MPASI (harapannya begitu).

Saya juga pakai Natural Steam Cooker dari Chicco, yang bisa untuk mengukus makanan sekaligus menggiling makanan, jadi steamer plus blender. Untungnya, perangkat ini saya dapat sebagai hadiah dari teman Yudo dan memang sangat berguna. Sampai sekarang saya masih mem-blender makanan Alanna, tapi teksturnya mulai agak kasar dan tidak disaring lagi.

Selain makanan yang dibuat sendiri, Alanna juga suka banget sama camilan kemasan berbentuk teething rusk (yang sering saya bilang kerupuknya Alanna). Gaya makannya memang kayak orang dewasa, makan bubur nggak enak kalau nggak pakai kerupuk. Jadi kalau Alanna mulai GTM, biasanya dipancing pakai ‘kerupuk’ itu, deh. Merek teething rusk yang pernah saya coba, di antaranya Yummy Bites, Bebenice, dan Baby Choice. Sekarang saya juga kasih camilan Gerber Graduates Puffs, karena dia memang senang banget yang bisa digigit-gigit.

Oke, segitu dulu sharing seputar MPASI Alanna. Silakan masukannya, ya, soal MPASI, baik soal pilihan menu, mengatasi GTM, dan jumlah atau porsi makanan yang pas itu seperti apa ya? Saya masih harus banyak belajar, nih…

Featured image source: here.

 

 

 

Alanna’s First Lebaran

Minal aidin wal faidzin! Mohon maaf lahir dan batin… Semoga belum terlalu telat yaaa buat maaf-maafan, hehe.

img_2481-1

Suasana Lebaran mungkin sudah lewat. Post holiday syndrome juga mungkin perlahan-lahan sudah hilang. Makanya sebelum ceritanya keburu basi, saya mau cerita sedikit soal Lebaran kemarin.

Lebaran bagi saya merupakan waktu berkumpul bersama keluarga. Saat masih kecil dulu, tradisi keluarga saya adalah pergi ke Cimahi untuk merayakan Lebaran di rumah Abah (kakek saya). Namun beliau meninggal pada tahun 1999, sehingga tradisi itu berganti jadi pergi ke rumah Uwa saya (kakak tertua mama) yang ada di Jakarta dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, Ayah saya meninggal pada 2001. Kakak perempuan saya pindah ke Amerika pada 2006. Akhirnya suasana Lebaran menjadi sepi. Biasanya hanya dirayakan berdua dengan Mama saya, kadang dengan saudara jauh. Kebetulan dari keluarga Ayah tidak ada yang muslim, jadi kami memang tidak memiliki tradisi mengunjungi mereka saat Lebaran (sebagian besar keluarga pun sebenarnya tidak tinggal di Indonesia).

Jujur saya kangen dengan suasana Lebaran di daerah (bukan Jakarta), tapi di sisi lain saya juga menikmati Jakarta yang lengang saat Lebaran.

Setelah menikah dengan Yudo, baru deh saya merasakan lagi yang namanya mudik dan ber-Lebaran bersama keluarga. Ibu-Bapak Yudo datang dari keluarga yang cukup besar. Nenek Yudo sekarang tinggal di Bandung dan biasanya tiap tahun semua keluarga (mulai dari anak, menantu, cucu, dan cicit) berkumpul di situ.

Tahun lalu merupakan pertama kalinya saya merasakan mudik setelah kurang lebih 15 tahun Lebaran di Jakarta. Saya sempat agak was-was dengan arus mudik yang macet di mana-mana. Saya kala itu sedang hamil 6 bulan dan sangat sangat beser…hehe. Jadi yang saya takutkan adalah jika kebelet pipis di jalan saat macet. Untungnya, saya malah nggak ketemu macet.

Keluarga Yudo juga mempertahankan tradisi saat Lebaran. Mulai dari Sholat Ied bareng, sungkeman, pertemuan dengan keluarga besar di gedung (iyaa.. Jumlahnya ratusan ternyata), hingga ngasih salam tempel untuk anak-anak yang belum bekerja.

Nah, karena tahun lalu Hari Lebaran pertama saya habiskan di Bandung, pada tahun ini gantian hari pertamanya di Jakarta di rumah mama saya. Kemudian pada malamnya, kita meluncur ke Bandung.

Kalau tahun lalu saya khawatir beser, pada tahun ini saya bawa bayi yang juga bikin saya khawatir. Bagaimana kalau nanti dia rewel? Bagaimana kalau nanti dia pup di jalan? Dan yang paling repot to the max adalah barang bawaan saya (hahaha).

Alanna sudah mulai makan, jadi deh saya bawa segala macam perlengkapan memasak. Memang ibu-ibu rempong banget deh. Mungkin ibu-ibu lain lebih pintar soal menyiapkan makanan, kalau saya sampai Alanna mau masuk 9 bulan ini rasanya kok belum cerdas juga, ya.. (Maafkan mamamu Alanna, tapi mama masih terus belajar kok via internet dan nonton video tutorial di YouTube :D)

Selama libur Lebaran di Bandung kekhawatiran saya tidak terbukti. Alanna baik-baik saja sepanjang perjalanan (dari Jakarta dan balik dari Bandung ke Jakarta), dia malah tidur dengan nyaman di carseat. Selama di Bandung, makannya juga cukup bagus, apalagi karena banyak yang mengerumuni dia (kayaknya Alanna memang senang jadi pusat perhatian). Dia juga menikmati digendong-gendong dari satu Eyang ke Eyang yang lainnya.

Alanna juga terlihat senang saat dapat banyak amplop berisi uang (haha..). Kayaknya itu karena dia senang sama kertas-kertas berwarna. Untung saja nggak dia makan. Jadi kesimpulannya, memang sebenarnya yang paling repot itu saya, karena harus bikin makanan segar setiap hari (akibat kulkas di rumah Bandung full terus). Belum lagi saya harus packing barang-barang yang banyak banget (fyi saja, sudah packing ribet-ribet, saya dan Yudo malah kelupaan bawa popok Alanna..hehe). Mungkin setelah ini, saya harus belajar untuk packing yang lebih ringkas, apalagi untuk jalan-jalan sama bayi.

Alanna hitung uang
Uangnya bisa buat beli berapa lipstik yaaa? hahaha

Begitulah cerita Lebaran pertama Alanna. Saya berharap Lebaran-Lebaran berikutnya juga bisa dia nikmati. Saya ingin dia merasakan hangatnya kebersamaan dengan keluarga dan tradisi saat Hari Raya. Saya mungkin cuma merasakannya sebentar waktu dulu, jadi saya berharap Alanna bisa merasakannya hingga dia dewasa nanti dan berkeluarga, kemudian meneruskannya ke anak-anak. Karena itulah makna Lebaran bagi saya, menikmatinya bersama keluarga.

Being a Journalist

Sejak awal kuliah, saya tertarik untuk bekerja di media massa. Saya tahu bahwa saya sangat suka menulis (meski selalu gagal jika ingin menulis novel..hehe). Makanya saat kuliah pun saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi dengan program kekhususan Jurnalistik.

Saat itu, sih, saya nggak pernah kepikiran jadi jurnalis umum, yang kerjanya harus nongkrong di kantor polisi, pengadilan, atau bahkan kamar mayat–hiii! Saya dari dulu bercita-cita ingin kerja di majalah lifestyle. Akhirnya memang cita-cita itu terwujudkan. Saya pun menjadi fashion stylist yang merangkap jurnalis (juga merangkap EO siiihh).

Pertama kali bekerja di majalah, semua passion saya tersalurkan. Suka fashion, suka soal kecantikan, suka pemotretan dan milih-milih baju, suka jalan-jalan, dan suka menulis.

Namun kayaknya, jurnalis di bidang lifestyle ini kayaknya masih dipandang sebelah mata. Pernah saat saya ke Australia untuk mengunjungi sepupu, ketika di imigrasi saya diminta untuk menuliskan pekerjaan saya. Si petugas imigrasi minta saya menulis dengan jelas pekerjaan saya, bukan sekadar “karyawan perusahaan swasta”. Jadilah saya tulis jurnalis. Sekejap dia merasa tertarik, lalu bertanya, “Oh ya, jurnalis apa?” ketika saya bilang, “Fashion journalist”, dia juga bilang, “Ohh..” dengan nada mencibir–kesal!

Meskipun begitu, saya tetap bangga menyandang sebuah profesi sebagai jurnalis. Memang, sih, saya bukan jurnalis di medan perang yang menempatkan dirinya dalam bahaya demi mengabarkan sebuah fakta.

Ketika saya bekerja di media online, tadinya saya mengira akan fokus di bidang lifestyle saja. Nyatanya, saya malah diminta menulis dan mengedit tulisan di berbagai bidang lainnya juga. Kelebihannya, saya jadi tahu semua informasi terkini. Kekurangannya, saya tidak begitu menyukai bidang-bidang yang njelimet, seperti masalah bisnis, saham, industri, perekonomian, dan sebagainya. Soal kasus hukum dan politik pun saya kurang suka, karena bawaannya pengen ngomel-ngomel, terutama soal korupsi.

Di media ini pun, saya merasa bidang lifestyle selalu dianggap remeh. Padahaaallll…. artikel-artikel di bidang itu juga menyumbangkan jumlah pembaca yang cukup banyak.

Setelah saya terjun ke bidang jurnalistik yang lebih luas ini (bukan sekadar fashion dan lifestyle), saya jadi melihat banyak hal, di antaranya…

Kode etik jurnalistik yang dulu diajarkan di kuliah kayaknya sering kali tidak berlaku. Bukan bicara tentang kantor saya ya.. tapi media massa secara keseluruhan di Indonesia. Banyak pemberitaan yang nggak berimbang, nggak netral, dan terpaku pada kepentingan perorangan atau kelompok saja.

Kebanyakan media massa dimiliki oleh orang-orang yang berpolitik. Makanya jangan heran kalau media A lebih pro ke si itu dan menjelek-jelekkan si ini, atau media B mendukung si ini dan nggak suka sama si itu. Akhirnya, saya yang juga harus mantengin segala macam media massa untuk update berita, jadi ragu dengan berita-berita yang ditampilkan media tertentu.

Media massa juga bisnis, jadi uang tetap menjadi tujuannya. Media nggak bakal bisa jalan tanpa dukungan iklan atau siapa pun yang bisa memberi uang agar media bisa tetap berjalan (bisa juga investor atau pebisnis besar). Jadi ada kalanya kita melihat artikel yang ngomong bagus-bagus soal sesuatu, eh ternyata artikel berbayar.

Apa pun demi hits. Iya, kalau di media online, yang penting itu klik dan hits. Jadilah kadang dilakukan berbagai cara untuk klik itu, salah satunya dengan membuat judul sensasional tanpa memperhatikan isi. Tapi media televisi juga sama saja, sih. Sering bikin berita-berita sensasional, yang diulang-ulang terus. Kalau dilihat, media televisi jadi mirip-mirip infotainment.. ya nggak, sih?

Media tidak lagi memperhatikan detail. Saya ini cukup cerewet soal detail. Kalau media cetak, kesalahan sedikit saja akan fatal, karena tak bisa diubah begitu sudah dicetak. Namun kalau media online ada kelebihannya, karena tulisan bisa diubah jika ada kesalahan. Sayangnya, kalau media online semua berburu untuk menulis berita sebanyak-banyaknya, hingga akhirnya detail pun diabaikan. Salah tulis judul, salah tulis nama, dan huruf kebalik-balik sering banget terjadi.

Kabar hoax lebih mudah disebarkan. Pasti pernah, kan, mendapatkan broadcast message yang ternyata hoax? Atau berita-berita yang disebar di Facebook yang ternyata setelah ditelusuri cuma sebuah kebohongan. Apalagi bikin website, kan, gampang banget. Jadi oknum-oknum nggak bertanggung jawab bisa saja membuat website bohongan dengan nama seakan-akan mereka adalah sebuah media massa, tapi kemudian menyebarkan fitnah. Tapi ada juga media massa yang mengambil berita-berita hoax dan turut menyebarkannya. Mereka melakukannya karena berita itu dianggap trending, viral, tanpa melakukan verifikasi.

Terakhir, yang sangat miris dalam kehidupan jurnalis adalah, minimnya pendapatan mereka.. huaaa. Ini yang saya nggak tahu saat masih kuliah dulu, kalau ternyata gaji seorang jurnalis tuh sedikit, apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja di bank, advertising agency, atau perusahaan multinasional.

Padahal yaaaa… jika dilihat-lihat, pekerjaan jurnalis tuh berat, lho. Hampir non-stop, bahkan weekend pun bisa saja kerja, tanpa dibayar lembur! Bahkan untuk mereka yang kerja di majalah dan terlihat super stylish, sebenarnya gajinya nggak segede yang dibayangkan (kecuali mungkin kalau sudah level Managing Editor atau Editor in Chief ya..). Kalau baru di level dasar, gajinya ‘hiks’ banget. Makanya kalau melihat UMR buruh saat ini, saya sih mending jadi buruh saja deh kalau saja masih fresh graduate.. hehe. Untungnya, sih, soal pendapatan sekarang sudah ada perbaikan–phew! Tapi itu juga setelah pindah kerja dan punya pengalaman di atas 5 tahun.

Sekarang, dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya media sosial, siapa saja bisa jadi jurnalis dengan menyebarkan berita secara online. Efeknya bahkan lebih luas. Makanya sekarang bagaimana caranya agar kita bisa lebih cerdas dalam memilah-milah berita. Kalau saya, sih, selalu berprinsip, “Jangan pernah menyebarkan berita yang tidak saya ketahui kebenarannya atau sumbernya.” Nggak usah, deh, bikin heboh, bikin orang termehek-mehek, marah-marah, hanya untuk sebuah berita bohong.

Walaupun banyak yang menganggap remeh jurnalis di bidang lifestyle, hati saya tetap seorang jurnalis sejati, kok. Walaupun nantinya saya nggak kerja lagi di media massa, saya juga masih bisa menyalurkan semangat jurnalisme saya di blog ini. Semoga… 🙂

Pic source: here