#RIPChesterBennington

Kemarin malam saat sedang browsing di Facebook, tiba-tiba saya menemukan artikel tentang meninggalnya Chester Bennington, vokalis band Linkin Park. Awalnya saya tidak percaya, saya takut ini hanya berita bohong alias hoax. Jadi saya coba cari semua sumber berita yang bisa dipercaya, tapi rasanya saya masih tetap nggak mau percaya. Apalagi ketika tahu penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Rasanya makin sedih membaca beritanya.

Kenapa saya menulis tentang hal ini. Satu, karena saya penggemar Linkin Park. I grew up listening to their music. Saya berkenalan dengan Linkin Park sejak album Hybrid Theory dan lagu Crawling merupakan lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan band ini. Merupakan punya musik yang berbeda, khas, dan tentu saja suara Chester yang tak tergantikan. Bahkan setelah beberapa album dan musik mereka sedikit bergeser, tidak sehingar-bingar di album pertama, saya tetap suka musik mereka. Setiap lirik dan setiap not musik yang mereka buat selalu membuat saya terhanyut menikmati setiap lagunya. Saya sebenarnya lebih ngefans sama Mike Shinoda, karena menurut saya dia sangat kreatif dalam menciptakan musik dan artwork untuk album Linkin Park. Namun, karakter suara Chester-lah yang menjadikan Linkin Park berbeda dari band alt-rock lainnya. Chester juga yang banyak menuangkan pikirannya ke dalam lirik lagu yang kadang cenderung ‘gelap’.

Saya pun merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk menonton konser mereka dua kali di Jakarta, pada tahun 2004 dan 2011 (saya juga cerita soal konser mereka di blog ini). Saya sempat berpikir akan menonton mereka untuk ketiga kalinya jika memang mereka mampir ke kota Wina, apalagi mereka baru saja merilis album baru dan tengah menggelar tur. Tapi tampaknya keinginan itu tidak akan kesampaian.

Alasan kedua, karena berita soal meninggalnya Chester, seperti menambah panjang daftar selebriti yang meninggal dengan cara bunuh diri, mulai dari Robin Williams hingga Chris Cornell (vokalis band Soundgarden dan Audioslave), yang bunuh diri beberapa bulan lalu dan kebetulan merupakan sahabat Chester. Bahkan Chester memutuskan untuk bunuh diri tepat di hari ulang tahun Chris, yaitu 20 Juli.

I don’t know about depression.. but I know that it’s real. Sangat menyedihkan melihat orang yang tampaknya bahagia, sukses, bisa memiliki segalanya di dunia ini tapi justru mencabut nyawanya sendiri. Hal itulah yang terjadi pada diri selebriti itu. Kita tidak mengenal mereka, kita hanya mengenal karakter yang mereka tampilkan di publik. Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka pikirkan. Jangankan kita, yang hanya penggemar, bahkan orang-orang terdekat mereka pun seperti tak mampu mencegah hal itu.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini, semoga saya bisa membantu orang-orang sekitar saya yang memang memiliki masalah depresi dan memiliki kecenderungan bunuh diri.

Rest in peace, Chester… I’ve always been a fan, always will. Now, I’m going to listen to all my Linkin Park album just to remember how I fall in love with this band in the first place.

Image from Linkin Park’s official Facebook.

Oh.. There’s Just So Many Great Music

Entah kenapa para penyanyi dan musisi ini hampir bersamaan mengeluarkan album baru. Well, sebenarnya album-album ini sudah dirilis sejak beberapa bulan lalu (which is.. tahun lalu) dan saya kebetulan sudah mendengarkannya berulang kali.

Ini adalah 11 album yang menurut saya wajib punya.. Dan sampai saat ini masih saya dengarkan terus-menerus.

Lana Del Rey – Born to Die (The Paradise Edition)
Lana Del Rey Paradise Edition
Ini adalah album repackage menyusul album debutnya yang sukses, setelah dirilis pada Januari 2012. Seperti biasa, lagu-lagu Lana selalu bernuansa gloomy dan tak bisa langsung jatuh cinta jika baru sekali didengarkan. Menurut saya, semua lagu baru di album ini bagus semua. Tapi favorit saya, Ride, Cola, dan Gods & Monsters.

No Doubt – Push and Shove
no-doubt-push-and-shove-artwork
Gila.. Perlu perlu waktu 11 tahun menunggu album ini. Jatuh cinta sama No Doubt sejak album Tragic Kingdom dan semua albumnya saya punya. Bahkan proyek solo Gwen Stefani pun saya suka. Di album ini, saya suka banget karena No Doubt masih memasukkan unsur musik reggae dan ska–seperti di awal-awal album mereka–tanpa terkesan berlebihan. Lagu favorit saya, Looking Hot dan Push and Shove.

Rihanna – Unapologetic
Rihanna - Unapologetic (Deluxe Version)
Awalnya, saya merasa tidak tertarik dengan album Rihanna ini. Habisnya, dia selalu mengeluarkan album setiap tahunnya, hingga saya mempertanyakan apakah benar yang ini akan sebagus yang sebelumnya. Selain Good Girl Gone Bad, album Rihanna yang saya bilang bagus adalah Loud. Tapi ternyata album barunya ini punya kekuatan di single pertamanya Diamonds, yang ternyata ditulis oleh Sia (penyanyi yang beberapa kali duet bareng David Guetta di lagu Titanium dan She Wolf).

Alicia Keys – Girl On Fire
Alicia Keys Girl On Fire
Yay! One of my favorite female singer akhirnya merilis album baru. Di album ini, menurut saya warna musik Alicia Keys tetap konsisten dengan album-album terdahulu. Musiknya selalu diwarnai unsur blues dan soul, liriknya pun tetap kuat. Selain lagu Girl On Fire, saya juga suka lagu Tears Always Win.

Usher – Looking 4 Myself
Usher Looking 4 Myself
Banyak lagu bagus di album ini, tidak hanya yang bertempo cepat tapi juga lagu-lagu ballad. Senangnya, Usher masih mempertahankan musik R&B, walaupun ada juga beberapa musik yang mulai beraliran dance–jenis musik yang sepertinya lagi diminati saat ini. Lagu favorit saya, Scream, Dive, dan Twisted (featuring Pharrell Williams).

Pink – The Truth About Love
Pink The Truth About Love
Saya masih ingat dulu pertama kali suka dengan Pink karena lagu There You Go, yang sangat R&B. Tapi makin ke sini, Pink memasukkan gaya bermusiknya sendiri dan tidak ikut-ikutan tren. Di album ini saya suka banget sama lagu Try, yang punya kekuatan di lirik. Seperti biasa, lirik di lagu-lagu Pink selalu sedikit ‘nyeleneh’ dan sentuhan musik rock juga ada di album ini.

Ke$ha – Warrior
Kesha Warrior
Meski katanya album ini tidak selaris album pertama dan lagu Die Young ditarik dari radio-radio sejak tragedi penembakan di Sekolah Sandy Hook, saya tetap suka dengan album ini. Ke$ha, menurut saya, masih bisa menghasilkan lagu dengan musik dance yang enerjik, mudah diingat, tapi tidak bosan didengarkan. Selain Die Young, lagu favorit saya adalah Crazy Kids.

The Script – #3
the-script-3
Percaya atau tidak, lagu dengan lirik mellow itu sangat menjual. Seperti The Script yang nggak bosan-bosannya mengambil tema patah hati dan sebagainya. Mungkin karena didukung sama musik yang sama bagusnya, mereka selalu berhasil. Di album ini saya suka banget lagu Six Degrees of Separation, If You Could See Me Now, Broken Arrow, well mungkin semuanya.. haha.

Bruno Mars – Unorthodox Jukebox
Bruno Mars Unorthodox Jukebox
Nah, ini dia nih albumnya yang katanya campur-campur. Tapi memang benar, kok! Karena Bruno Mars bilang dirinya tidak mau dikotak-kotakkan ke dalam satu genre musik, makanya dia bikin album dengan nuansa musik R&B, jazz, blues, soul, dan reggae. Selain lagu Locked Out of Heaven yang seru banget, lagu Young Girls dan When I Was Your Man yang ballad juga enak didengar.

Kelly Clarkson – Greatest Hits Chapter One
Kelly Clarkson Greatest Hits Chapter One
Menurut saya, Kelly Clarkson is the best American Idol winner ever! Saya suka banget album terakhirnya, Stronger, yang akhirnya membuat dia kembali terkenal. Karena sepertinya, beberapa album setelah Breakaway sedikit melempem. Di album Greatest Hits ini, sudah pasti berisi lagu-lagu andalannya, seperti Miss Independent, Since U Been Gone, dan lainnya. Tapi lagu baru Catch My Breath juga tidak kalah dengan lagu hits lainnya.

Linkin Park – Living Things

Linkin Park - Living Things

Oh my God! I almost forgot one of my favorite band. Yup.. Linkin Park sebenarnya merilis album ini sejak Juni 2012 dan saya sudah mendengar single pertamanya Burn It Down sejak April. Hmm.. menurut saya biasa saja, sih, tapi mulai jatuh cinta sejak dengar single Lost In The Echo. Setelah mendengar satu album, I love all the songs! Favorit saya lainnya, Castle of Glass, Roads Untraveled, Skin to Bone, In My Remains, Powerless, dan semuanya.. haha. This one is very recommended album, bahkan menurut saya lebih bagus dari album sebelumnya, A Thousand Suns.

How Can I Begin Again?

I guess this song pretty much saying about what I’m feeling right now.. A really beautiful song from Regina Spektor, and a really really beautiful music video. She looks absolutely gorgeous!

“How”

How can I forget you love?
How can I never see you again?
There is a time and place
For one more sweet embrace
And there is time, ooh
when it all, ooh
Went wrong
I guess you know by now
That we will meet again somehow

Oh baby
How can I begin again?
How can I try to love someone new?
Someone who isn’t you
How can our love be true?
When I’m not, ooh
I’m not over you

I guess you know by now
That we will meet again somehow

Time can come and take away the pain
But I just want my memories to remain
To hear your voice
To see your face
There’s not one moment I’d erase
You are a guest here now

So baby
How can I forget your love?
How can I never see you again?
How can I ever know why some stay and others go?
When I don’t, ooh
I don’t want you to go

I guess I know by now
That we will meet again somehow

Time can come and wash away the pain
But I just want my mind to stay the same
To hear your voice
To see your face
There’s not one moment I’d erase
You are a guest here now

So baby
How can I forget your love?
How can I never see you again?

– Regina Spektor

In Repair

New York City by BlueStellar

Too many shadows in my room
Too many hours in this midnight
Too many corners in my mind
So much to do to set my heart right
Oh it’s taking so long I could be wrong, I could be ready
Oh but if I take my heart’s advice
I should assume it’s still unsteady
I am in repair, I am in repair

Stood in the corner for a while
To wait for the wind to blow down on me
Hoping it takes with it my old ways
And brings some brand new luck upon me
Oh it’s taking so long I could be wrong, I could be ready
Oh but if I take my heart’s advice
I should assume it’s still unsteady
I am in repair, I am in repair

And now I’m walking in a park
All of the birds the dance below me
Maybe when things turn green again
It will be good to say you know me

Oh it’s taking so long I could be wrong, I could be ready
Oh but if I take my heart’s advice
I should assume it’s still unsteady
Oh, yeah I’m never really ready, Oh yeah, I’m never really ready

I’m in repair, I’m not together but I’m getting there…..

– John Mayer

Del Rey, Spektor, and Stone

Saya mencoba beralih sejenak dari musik R&B, Hip-hop, dan dance yang mainstream. Saat ini ada tiga musisi yang albumnya sedang saya dengarkan berulang-ulang.

Lana Del Rey – Born To Die

Pertama, album Born To Die milik Lana Del Rey. Saat dengar lagu Video Games, saya merasa biasa saja dan mulai jatuh cinta dengan musiknya saat mendengar lagu Blue Jeans.

You were sorta punk rock, I grew up on hip hop
But you fit me better than my favourite sweater, and I know
That love is mean, and love hurts
But I still remember that day we met in december, oh baby!

I will love you ’til the end of time
I would wait a million years
Promise you’ll remember that you’re mine
Baby can you see through the tears
Love you more
Than those bitches before” (Blue Jeans)

Baru, deh, setelah itu sadar, pantas saja cewek yang namanya Elizabeth Grant ini jadi pembicaraan di media-media luar negeri. Musiknya terkesan oldies, suaranya juga, tapi musiknya diolah dengan gaya modern. Gaya musiknya pun lain daripada yang lain, di mana semua penyanyi cewek berlomba-lomba untuk tampil maksimal di panggung dengan pamer tubuh dan tari-tarian, dia malah nyanyi dengan malas-malasan (haha!).

Karena wajahnya yang cantik (walaupun menurut saya bentuknya terlalu sempurna dan aneh, jadi terkesan palsu) dan gaya berpakaiannya yang eklektik, dia langsung masuk jajaran musisi yang penampilannya di red carpet jadi pusat perhatian. Baru-baru ini rumah mode Mulberry saja meluncurkan tas yang diberi nama Del Rey bag.

Lagu-lagu lainnya juga tidak kalah bagus, walaupun memang kebanyakan liriknya sedih dan didukung dengan musik yang bernuansa gloomy juga. Ada Born To Die, Summertime Sadness, Carmen, Radio, Diet Mountain Dew, dan Dark Paradise.

All my friends tell me I should move on
I’m lying in the ocean, singing your song
Ahhh, that’s how you sang it
Loving you forever, can’t be wrong
Even though you’re not here, won’t move on
Ahhh, that’s how we played it

And there’s no remedy for memory your face is
Like a melody, it won’t leave my head
Your soul is haunting me and telling me
That everything is fine
But I wish I was dead” (Dark Paradise)

Regina Spektor – What We Saw From The Cheap Seats

Kedua, tentu saja dari salah satu penyanyi wanita favorit saya, Regina Spektor yang baru meluncurkan album terbarunya akhir Mei 2012. Sebenarnya saya sudah mendengarkan single terbarunya All The Rowboats beberapa waktu lalu dan langsung jatuh cinta. Regina Spektor memang paling jagonya memainkan nada-nada unik di atas piano dan dipadukan dengan vokalnya yang khas. Lagu lainnya yang saya suka Small Town Moon, How, Don’t Leave Me (Ne Me Quitte Pas), dan Ballad Of A Politician.

When no one’s looking I fetch a sculpture
Marble, gold, and soft as satin
But the most special are the most lonely
God, I pity the violins
In glass coffins they keep coughing
They’ve forgotten, forgotten how to sing, how to sing

First there’s lights out, then there’s lock up
Masterpieces serving maximum sentences
It’s their own fault for being timeless
There’s a price to pay and a consequence” (All The Rowboats)

 

Angus and Julia Stone

Ketiga, adalah dua album dari Angus and Julia Stone. Mereka adalah kakak beradik dari Australia dan sebenarnya sudah merilis album sejak 2006. Tapi, saya baru mengenal mereka sejak dengar lagu Love Will Take You di album OST Breaking Dawn dan lagu itu masuk playlist “Mood Soother” saya karena musiknya yang saya anggap mampu menenangkan hati saya.

Kemudian saya mendengar lagu mereka lagi di serial televisi Revenge (serial favorit drama favorit saya yang benar-benar bikin saya terobsesi bahkan setelah berulang kali menontonnya). Lagu itu berjudul For You yang akhirnya membuat saya langsung mendownload semua album mereka yang pernah ada.

If you love me with all of your heart
If you love me
I’ll make you a star in my universe
You’ll never have to go to work
You’ll spend every day
Shining your light my way” (For You)

Lagu itu diambil dari album Down The Way tahun 2010 dan didalamnya ada beberapa lagunya yang saya suka, seperti Big Jet Plane, Yellow Brick Road, Hold On, The Devil’s Tears, serta I’m Not Yours. Sedangkan di album A Book Like This tahun 2007 saya suka lagu The Beast, Wasted, Soldier, dan Here We Go Again. Musik yang tenang tapi nggak membosankan serta vokal mereka berdua yang unik memang jadi kekuatan lagu-lagu mereka. Really love them!

NKOTBSB. One Night. One Stage. Once in a Lifetime

I’m a concert freak! Sepertinya sebagian besar isi blog saya memang tentang pengalaman nonton konser. Berkat kegagalan nonton konser Lady Gaga (yang membuat saya nangis sesenggukan semalaman) untungnya saya juga beli tiket konser NKOTBSB yang digelar hari Jumat, 1 Juni kemarin.

Kalau soal NKOTB, mungkin saya masih terlalu kecil untuk menghafal semua lagunya, tapi saya tetap tahu beberapa lagu ternamanya dan tetap bisa menikmatinya. Kalau Backstreet Boys, pastinya dulu saya fans berat dan punya album-albumnya sejak yang pertama kali dirilis. Saking ngefans sama Nick Carter, pernah pas nonton video klip As Long As You Love Me di tv, sengaja saya pause di bagian dia nyanyi dan saya diamkan saja tv-nya sampai beberapa menit. Tapi kalau dilihat lagi sekarang, ya ampun… cupu banget dengan rambut pirang belah tengah! 😀

Saya beli tiket konser ini 6 bulan sebelumnya, pada Desember 2011, dua teman saya, Muning dan Manda yang mengajak. Untung saja saya ikut, karena kapan lagi dapat kesempatan nonton konser dua boyband dalam satu panggung dan satu harga tiket. Benar saja, pengalaman kemarin malam memang tak terlupakan dan euphoria-nya masih terasa hingga pagi.

Konser mereka mulai tepat waktu dan tanpa opening act (yippee!). Baru ada tirai putih yang menampilkan slide foto-foto mereka aja, semua orang udah teriak histeris, apalagi pas tirainya jatuh dan menampilkan sembilan cowok-cowok (paruh baya yang sudah mulai keriput–but still looks hot!)

New Kids On The Block and Backstreet Boys

Jordan, Jonathan, Joey, Donnie, Danny, Nick, Brian, Howie, dan A.J langsung nyanyi lagu Single (lagunya NKOTB yang diciptakan oleh Ne-Yo) digabung sama lagu The One plus ada musik Viva La Vida-nya Coldplay. Saya tetap menyayangkan Kevin tidak ada, padahal berita terbaru bilang dia bakal gabung lagi sama BSB dan ikutan produksi di album baru mereka nanti. Kevin juga sempat bikin kejutan tampil di konser NKOTBSB di Inggris, huaaa… kenapa di Jakarta nggak?!

Setelah itu NKOTB nyanyi Summertime dan BSB nyanyi The Call (lagu favorit saya dan video klipnya favorit saya juga, cuma kalau dilihat kenapa ya di video itu rambut Howie gondrong dan kayak abis di-rebonding? hehe).

Mereka kemudian tampil bergantian dan sempat beberapa kali ganti baju. Pas lagunya agak-agak mellow, seperti Valentine Girl, If You Go Away, dan Please Don’t Go Girl, NKOTB pakai jas rapi dan topi fedora. Begitu juga BSB pas nyanyi lagu Show Me The Meaning Of Being Lonely, 10.000 Promises, Drowning, dan Incomplete, mereka pakai jas putih. Hal yang bikin sirik adalah pas mereka ngajak empat cewek naik ke atas panggung dan dinyanyikan lagu I’ll Never Break Your Heart–iri!

BSB
NKOTB

Begitu lagunya ganti lagi jadi tempo yang lebih cepat, mereka ganti baju lagi. NKOTB pakai baju ala army di lagu Step By Step serta Tonight dan BSB ganti baju serba colorful pas nyanyi lagu As Long As You Love Me plus I Want It That Way.

Donnie, jadi salah satu yang paling cerewet dan menyapa penonton dengan bahasa Indonesia. Mulai dari minta penonton teriak dengan bilang “Lebih keras!” sampai bilang “Aku cinta kamu”. Brian juga beberapa kali bilang “Terima kasih”. Jordan menurut saya yang paling charming.. huhu. Tapi kamera saya kayaknya paling bisa menangkap momen ketika Nick terlihat ganteng.. 🙂

Nick Carter… My teenage crush!

Sekitar 30-an lagu dinyanyikan, memang ada beberapa yang dinyanyikan lumayan cepat, dari verse chorus langsung bridge, tapi benar-benar puas, deh! Akhirnya mereka mengakhiri konser dengan kolaborasi lagu Hangin’ Tough dan Everybody (Backstreet’s Back) di mana semuanya kompakan pakai batik.

Terakhir, mereka melambaikan tangan ke setiap sisi panggung, untungnya panggung dibuat memanjang ke depan seperti bentuk huruf T, sehingga saya bisa melihat mereka dalam jarak dekat. Mereka juga sempat membuat lingkaran sambil berloncat-loncat dan menutup konser. Ah, bahagia!

One Lovely Evening With Feist

Wah… Saya jadi jarang mengisi blog ini, karena seharian sudah berkutat di depan komputer dan terus-terusan mengetik di kantor rasanya jadi malas menulis di blog lagi. Anyway, saya bela-belain menulis lagi, karena saya baru saja menonton konser FEIST! Yup, tepatnya Rabu, 15 Februari kemarin.

Saya ini memang pencinta konser, tapi sayangnya belum pernah sama sekali menonton konser penyanyi perempuan. Padahal kebanyakan penyanyi favorit saya itu, ya penyanyi perempuan. Lalu, dulu saya juga sempat terpikir, kalau sampai Feist datang ke Jakarta, pokoknya harus banget nonton. Akhirnya, kesempatan itu datang juga dan menurut saya ini konser terbaik yang pernah saya tonton.

Konser diawali oleh penampilan Erlend Øye, vokalis Kings of Convenience, yang katanya dadakan. Jadi, dia cerita kalau sedang di Jakarta selama beberapa minggu dan tahu soal kabar Feist akan manggung di Jakarta. Karena mereka bersahabat, Feist pun mengajak Erlend untuk jadi opening act konsernya–as simple as that.

Lalu setelah menyanyikan beberapa lagu, diantaranya lagu milik The Smiths, lagu dalam bahasa Norwegia (yang saya yakin cuma dia yang mengerti), dan lagu KOC, Erlend pun mundur ke belakang panggung. Sekitar 30 menit kemudian, baru Feist muncul, lengkap dengan band dan tiga penyanyi latar (Mountain Man–yang menurut saya seperti hippies..hehe).

Sayangnya.. saya tidak menemukan foto yang lebih baik dari ini--diambil dari Yahoo! OMG
Suasana konsernya kurang lebih seperti ini

Feist langsung menyanyikan lagu Undiscovered First dari album terbarunya, Metals. Lagu-lagu yang dinyanyikan di awal memang diambil dari album tersebut, seperti A Commotion, How Come You Never Go There, dan tentu saja lagu favorit saya Graveyard (yang selalu mengingatkan akan suasana kantor saya yang bersebelahan dengan kuburan).

Kalau mendengar setiap album Feist pasti akan menduga konsernya bakal tenang dan santai, tapi ternyata Feist tampil penuh semangat, musiknya kadang diubah (seperti saat menyanyikan Mushaboom), dan suaranya bahkan lebih bagus saat tampil live. Feist juga sesekali mengucapkan “Terima Kasih, Jakarta” dan “Saya Cinta Kamu, Jakarta” sambil melirik kartu contekan yang saya duga berisi tulisan itu.

Feist juga sangat komunikatif, menegur para penonton, bercerita soal musiknya, dan mengaku senang banget bisa ke Jakarta. Dia sempat bilang, berada di Jakarta seperti berada di dimensi lain (hehe.. mungkin orangnya aneh-aneh). Anyway, karena Feist baru saja berulang tahun 2 hari sebelumnya (13 Februari), ada seorang penonton memberi kado padanya dan serentak semuanya menyanyikan lagu Happy Birthday. Tapi, kemudian dia meminta penonton untuk menyanyikan lagu dalam Bahasa Indonesia (seru banget..).

Dengan menyanyikan sekitar 20 lagu, Feist pun sampai melakukan 2 kali encore. Di encore pertama dia menyanyikan Sealion dan Let It Die, lalu pada encore kedua dia berduet dengan Erlend Øye menyanyikan lagu The Build Up. Katanya, sih, lagu ini mereka ciptakan bersama sekitar 9 tahun yang lalu. Dan selama itu, baru sekitar 8-9 kali pernah mereka nyanyikan bersama di atas panggung–wow!

Setelah itu, Feist menyanyikan Intuition hanya dengan iringan gitarnya sendiri (karena semua anggota band dan penyanyi latarnya sudah masuk ke balik panggung setelah encore pertama) dan Erlend duduk di pinggir panggung sambil mendengarkan. Terakhirnya, ini adalah bagian favorit saya, karena Feist mengajak drummernya untuk mengiringi musik di lagu When I Was A Young Girl, salah satu lagu yang paling saya suka dan nggak nyangka akan dinyanyikan. Musiknya pun berbeda, lebih menghentak, apalagi ditambah penampilan Erlend yang ikut-ikutan menari sambil bawa kecrekan.

Benar-benar konser yang menyenangkan, dari segi musik dan penampilan, semuanya menghibur. Feist sempat bilang kalau dia nggak menolak kalau harus konser di Jakarta lagi. Kalau itu terjadi lagi, saya pun pasti akan datang untuk menontonnya. Setelah ini, masih banyak daftar penyanyi perempuan lainnya yang harus (kalau bisa) saya tonton konsernya, antara lain Lady Gaga, Beyonce, dan tentu saja Adele.

Feist Concert Setlist 15 Februari 2012:
1. Undiscovered First
2. A Commotion
3. How Come You Never Go There
4. Graveyard
5. Mushaboom
6. The Circle Married The Line
7. So Sorry
8. Anti-Pioneer
9. My Moon, My Man
10. I Feel It All
11. The Bad In Each Other
12. Honey Honey
13. Comfort Me
14. Caught A Long Wind
15. Get It Wrong, Get It Right

Encore 1:
16. Sealion
17. Let It Die
Encore 2:
18. Build It Up
19. Intuition
20. When I Was A Young Girl