MPASI… Oh.. MPASI

Sejujurnya, saya pengen banget seperti ibu-ibu hits di media sosial yang sering berbagi seputar menu MPASI (makanan pendamping ASI) anaknya. Dari mulai mencampurkan beragam jenis makanan sehat, trik memasak, hingga menceritakan betapa anaknya doyan banget makanan yang dia buat.

Sayangnya, saya punya berbagai masalah soal MPASI ini. Saya tahu, sih, banyak juga ibu-ibu yang punya masalah seputar memberikan MPASI pada anaknya. Jadi saya tahu saya tak sendirian. Hanya saja, kadang saya merasa terintimidasi jika melihat ibu-ibu lain sukses memberikan MPASI, sementara saya, kok, rasanya susah banget.

Oke, saya cerita dari awal MPASI Alanna. Setelah enam bulan lulus ASI eksklusif, saya mulai mencoba memberikan makanan. Awalnya, bubur beras yang disaring, jadi halus banget dan dicampur sama ASI. Pertama kali dikasih, lahap banget, sehingga membuat saya besar hati. Tapi besok-besoknya seperti melempem..dan GTM (alias Gerakan Tutup Mulut) pun dimulai.

Tidak terasa beberapa minggu lewat dan saat ditimbang, berat Alanna hanya naik 100 gram. Padahal saat masih ASI eksklusif per bulannya berat Alanna bisa naik 800 hingga 1000 gram. Saat itu, dokter menyarankan untuk mulai memberikan protein pada Alanna, yaitu ayam dan ikan, jadi jangan hanya bubur beras dan buah.

Sebulan berikutnya, berat Alanna cuma naik 200 gram (hiks!). Memberikan MPASI untuk Alanna juga perjuangan banget. Mulai dari disuapin pakai tangan, gonta-ganti sendok, dipangku, didudukin di kursinya, diubah menunya, bikin makanan fresh setiap hari, dan masih banyak lagi. Setelah tiga bulan memberikan MPASI, rasanya nafsu makan Alanna masih naik turun. Kalau saya berhasil memberinya makan cukup banyak, rasanya lega banget. Namun jika tidak, huhu, rasanya ingin menangis di pojokan.

Saya kemudian jadi banyak berpikir. “Apa jangan-jangan cara saya memperkenalkan MPASI pertama kali salah ya?”, “Apa makanan yang saya buat nggak enak ya?” (memang saya nggak jago bisa masak, sih), “Apa Alanna menjadi picky eater?”.

Namun kalau dilihat sejarah saya waktu kecil dulu, ibu saya juga bilang saya itu anak yang susah banget makannya. Sampai duduk di bangku SD saja, saya makannya diemut terus, sampai ibu saya kesal.. (ya, kan saya juga nggak tahu kenapa dulu nggak doyan makan, hehe).

Sekarang setelah memasuki usia 8 bulan +, Alanna saya kasih makan dengan menu campur-campur. Dimulai dari sarapan sereal atau bubur susu dan buah, sedangkan siang dan malam menunya sama (biasanya nasi, sayur, protein hewani, dan kadang-kadang protein nabati). Saya berikan juga unsalted butter untuk menambah rasa makanan, karena siapa juga yang akan suka makanan tak ada rasanya sama sekali. Kadang saya tambahkan pula tumisan bawang putih atau bisa juga garlic powder untuk menambah rasa sekaligus aroma. Tapi ya, tetap saja, keinginannya untuk makan masih naik-turun, tergantung mood si putri kesayangan yang satu itu.. hehe.

Kalau ditanya, “Apa sih makanan kesukaan Alanna?”, saya sendiri tidak tahu. Satu hari dia bisa lahap banget makan puree buah pir, besoknya bosan. Makan butternut pumpkin squash juga kadang lahap banget, besoknya biasa saja. Waktu itu pernah makan salmon, suka banget, eh.. pas minggu depannya malah nangis-nangis nggak mau makan.

Walaupun begitu, saya nggak pernah menyerah, kok. Apalagi, so far Alanna tidak punya alergi apa pun. Hanya waktu itu pernah dikasih pisang sedikit, pup-nya langsung keras. Jadi biasanya pisang saya gabungkan dengan pepaya atau pir, yang merupakan buah anti-sembelit. Anehnya juga, Alanna kayaknya nggak suka tomat, deh. Setiap kali makanannya saya campur dengan tomat (bahkan sedikit banget), dia langsung nggak mau makan dan akhirnya mewek.

alanna-makan
Awal-awal Alanna mencicipi MPASI, pipi masih gembil…

Untuk sekadar sharing, ini beberapa bahan makanan yang sudah pernah dicoba untuk Alanna. Boleh kalau ada yang mau sharing atau kasih masukan, bahan makanan apa lagi ya yang bisa saya coba..

  • Beras putih
  • Beras merah
  • Kentang
  • Ubi Jepang
  • Quinoa
  • Jagung
  • Butternut Pumpkin Squash
  • Kabocha
  • Tomat (nggak suka)
  • Brokoli
  • Wortel
  • Bayam hijau
  • Bayam merah
  • Bok Choy
  • Buncis
  • Kapri manis
  • Tahu
  • Kacang polong
  • Pepaya
  • Pisang (jarang dikasih, karena pupnya jadi keras)
  • Pir (Packham)
  • Apel (Royal Gala)
  • Alpukat (nggak suka, mukanya langsung eneg kayak mau muntah, padahal menurut saya alpukatnya enak banget)
  • Daging sapi
  • Daging ayam
  • Ikan kakap
  • Ikan salmon
  • Telur ayam kampung (baru kuningnya saja)

Pelengkap:

  • Unsalted butter
  • Extra virgin olive oil (kadang dicampur langsung ke makanan, kadang jadi minyak untuk menumis bawang putih)
  • Bawang putih
  • Garlic powder
  • Cinnamon powder
  • Keju

Untuk masak, saya biasanya menggunakan slow cooker. Awalnya saya pakai slow cooker merek Takahi ukuran 0,7 liter. Ukuran ini memang paling ideal sih buat bikin MPASI, karena bisa dipakai untuk membuat makanan dalam porsi sedikit. Tapi kemudian slow cooker-nya rusak (hiks), jadi sekarang saya pakai yang ukuran 1,2 liter dengan harapan slow cooker ini bisa dipakai untuk masak menu makanan lainnya, bukan cuma MPASI (harapannya begitu).

Saya juga pakai Natural Steam Cooker dari Chicco, yang bisa untuk mengukus makanan sekaligus menggiling makanan, jadi steamer plus blender. Untungnya, perangkat ini saya dapat sebagai hadiah dari teman Yudo dan memang sangat berguna. Sampai sekarang saya masih mem-blender makanan Alanna, tapi teksturnya mulai agak kasar dan tidak disaring lagi.

Selain makanan yang dibuat sendiri, Alanna juga suka banget sama camilan kemasan berbentuk teething rusk (yang sering saya bilang kerupuknya Alanna). Gaya makannya memang kayak orang dewasa, makan bubur nggak enak kalau nggak pakai kerupuk. Jadi kalau Alanna mulai GTM, biasanya dipancing pakai ‘kerupuk’ itu, deh. Merek teething rusk yang pernah saya coba, di antaranya Yummy Bites, Bebenice, dan Baby Choice. Sekarang saya juga kasih camilan Gerber Graduates Puffs, karena dia memang senang banget yang bisa digigit-gigit.

Oke, segitu dulu sharing seputar MPASI Alanna. Silakan masukannya, ya, soal MPASI, baik soal pilihan menu, mengatasi GTM, dan jumlah atau porsi makanan yang pas itu seperti apa ya? Saya masih harus banyak belajar, nih…

Featured image source: here.

 

 

 

Chef Massimo Bottura: Artwork on a Plate

Gara-gara sering nonton acara masak seperti MasterChef dan Top Chef (meski saya tidak bisa masak), saya jadi penasaran dengan rasa masakan para chef tersebut benar-benar enak nggak ya? Apalagi mereka yang punya gelar “3 Michelin Stars” seperti apa, sih, enaknya?

Beberapa hari lalu, saya pun dihubungi oleh Hotel Mulia dan mendapat undangan untuk mencicipi masakan Chef Massimo Bottura, chef asal Italia yang restorannya bernama Osteria Francescana mendapat penghargaan 3 Michelin Stars. Bahkan restorannya itu masuk di lima teratas dalam daftar 50 Best Restaurants in the World–wow!!

Saya pun tidak asing dengan nama Massimo, karena dia pernah menjadi juri tamu di acara MasterChef Australia season 7. Dia juga ada di dalam serial dokumentasi Table’s Chef di Netflix.

Tentu saja saya excited dengan tawaran tersebut. Jadilah pada hari Jumat (18 Maret) kemarin, saya makan siang di Hotel Mulia (bersama teman-teman jurnalis lainnya) mencicipi makanan dari Chef Massimo. Sebenarnya ada 9 menu makanan, mulai dari menu pembuka, main course, hingga dessert, tapi saya hanya mendapatkan enam menu saja. Well, it’s free.. dan mereka juga harus menyiapkan makanan untuk acara malam harinya, jadi enam pun bagi saya sudah cukup menyenangkan.

Sebelum mencoba masakan hasil kreasi Chef Massimo, dia terlebih dulu berbicara tentang inspirasi masakannya. Dia mengatakan dirinya adalah seorang artisan, bukan sekadar chef. Makanya, setiap masakannya itu dianggap sebagai sebuah karya seni. Dia melihat kuliner sebagai perpaduan dari seni, budaya, dan tentu saja bahan-bahan makanan yang berkualitas bagus.

Saat memulai Osteria Francescana, sebenarnya dia dianggap sebagai chef  yang ‘membelot’, karena resep tradisional Italia malah dimodifikasi menjadi modern dan unik. Namun keberaniannya itu justru membuahkan hasil hingga akhirnya dia disebut sebagai salah satu chef yang paling kreatif di dunia. Lebih jelasnya, bisa menonton Chef’s Table di Netflix 😀

Cara dia berbicara dan menjelaskan soal makanannya, saya melihat dia sebagai seorang Chef yang humble dan penuh imajinasi. Dia tak segan-segan bercanda dan membuat suasana jadi lebih menyenangkan (sangat berbeda dengan Chef Gordon Ramsay di serial Hell’s Kitchen.. hehe).

Oke, sekarang saatnya membicarakan seputar makanan. Menu pembuka untuk acara tersebut dinamakan “Come to Italy with Me”. Menu ini terdiri dari dua makanan yang ukurannya imut-imut, I mean.. sangat sangat mini. Yang satu berbentuk seperti bantal, sementara yang satu berbentuk mirip macaron.

come to italy with me
Come to Italy with Me
Yang berbentuk bantal merupakan salt-cod yang disirami saus tomat. Meski saya tak suka ikan, rasa tomat yang lezat menyelimuti rasa amis ikan sehingga terasa gurih dan lezat. Sementara si mini macaron itu benar-benar mengejutkan rasanya. Ada pencampuran rasa gurih dari mozarella, berpadu dengan tomat dan basil. Dari menu pertama saja, saya tahu bahwa Chef Massimo ini senang membuat makanan yang berbeda dengan tampilannya. Ketika melihat bentuk macaron, orang tentu akan berharap makanan manis, tapi di sini yang didapat justru makanan savory.

Lanjut ke menu kedua, yaitu “Lentils Better than Beluga”. Lentils merupakan jenis kacang-kacangan. Menurut Chef Massimo, lentils ini dibuat menyerupai bentuk kaviar dan juga dimasak dengan eel broth, sehingga ada rasa seafood di dalamnya. Uniknya juga, lentils ini disajikan di atas es.

lentils
Lentils Better than Beluga
Menu ketiga adalah “Riso-Pizza”, yang menurut Chef Massimo adalah perpaduan rasa antara Risotto dan Pizza, dua masakan khas Italia. Oke, saya sejujurnya tidak pernah tertarik dengan Risotto, karena kalau di Jakarta bentuknya seperti bubur dan teksturnya lembek. Risotto juga sering menjadi masalah di berbagai acara kuliner yang saya tonton, bahkan di MasterChef Australia, makanan itu disebut sebagai ‘dead dish’, saking banyaknya yang gagal membuat Risotto.

riso pizza
Riso-Pizza
Makanya, saya penasaran banget dengan the real Risotto ini. Ketika dibawa ke meja, bentuknya menurut saya kurang menarik. Seperti bubur warna putih yang di pinggirnya dikasih remah-remah. Ternyata…. rasanya sangat lezat. Menurut penjelasan di menu, Riso-Pizza ini menggunakan perpaduan nasi dan polenta yang merupakan tradisi di Italia Utara yang dicampurkan dengan rasa tomat, anchovy, dan oregano dari Italia Selatan. Remah-remah di sekitarnya itu (yang enak banget rasanya) merupakan nasi yang dipanggang. Tekstur Risotto pun tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata teksturnya memang lembut, tapi tetap ada butiran yang bisa digigit. Sehingga perpaduan tekstur semua bahan makanan di satu piring itu terasa pas.

Lanjut ke menu keempat (yang merupakan favorit saya), yaitu “Beautiful Psychedelic Spin-painted Veal, Not Flame Grilled”. Daging sapi muda yang dimasak dengan cara sous-vide ini dihiasi saus warna-warni, yang terbuat dari klorofil, sweet potato, red beet emulsion, dan extra-old Villa Manodori balsamic vinegar. Saya sejujurnya belum pernah mencoba makan daging yang tidak matang benar-benar, jadi melihat daging dengan warna merah itu rasa deg-degan.

veal
Beautiful Psychedelic Spin-Painted Veal, Not Flame Grilled
Namun setelah gigitan pertama… MMMMMM… enaknya. Dagingnya benar-benar lumer di mulut, pinggiran daging yang garing memberi rasa smoky yang lezat. Ditambah lagi dengan macam-macam saus yang menambah rasa makin lengkap. Rasanya kalau boleh, saya mau tambah lagi (hahaha..).

Selanjutnya, menu kelima adalah “Caesar Salad in Bloom”. Satu lagi menu yang tampilannya tidak biasa. Kali ini salad malah dihiasi edible flowers alias bunga yang bisa dimakan. Satu potong selada dihiasi dengan bunga chamomile kering, jasmine, dan raspberries. Rasanya memang unik, but this is just not my favorite.

caesar salad
Caesar Salad in Bloom
Terakhir adalah menu “Oops! I Dropped the Lemon Tart”, menu yang inspirasinya didapat ketika salah satu sous chef menjatuhkan lemon tart. Akhirnya dibuatlah lemon tart dengan bentuk yang tidak biasa.

lemon tart
Oops! I Dropped the Lemon Tart
Tumpukan rasa dari lemon zabaglione, lemon verbena sorbet, dan meringue, dicampur dengan bergamot, savory capers, dried oregano, dan hot pepper oil, menjadikan menu ini sebagai menu penutup yang meledak (in a good way, of course). Saya suka sekali, karena rasa manis, asam, dan gurih berpadu sempurna. Pada akhirnya saya cuma bisa bilang… “Yahhh sudah habis, hiks.”

Namun menurut Lara, istri Chef Massimo, itulah tujuan utama suaminya dalam menciptakan makanan. Bukan ekspresi di awal, melainkan memori yang diciptakan di akhir menikmati makanan.

Oh iya, tiga menu yang tidak disajikan adalah “La Dispensa”, “Spring in Jakarta”, dan “The Crunchy Part of the Lasagne”. Saya sebenarnya penasaran banget dengan menu pinggiran Lasagna itu, karena memang pinggiran Lasagna yang agak gosong itulah justru yang terasa paling lezat.

Saya juga ingat Chef Massimo pernah mengatakan di satu episode MasterChef Australia bahwa pinggiran Lasagna yang garing itu yang menjadi favoritnya.

Ah well, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini, terutama untuk Hotel Mulia yang sudah mengundang saya. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

with chef massimo
With Chef Massimo Bottura

Milk Tea Lover!

I’m a milk tea lover! Saya pada dasarnya memang suka teh. Setiap pagi, saya pasti menyeduh teh sebelum sarapan. Biasanya saya memilih jasmine green tea atau english breakfast yang diseduh dengan air panas dan disajikan tanpa gula.

Namun, saya juga pencinta milk tea alias teh susu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya menemukan produk teh susu instan dari Sariwangi. Itu adalah favorit saya! Sayangnya, entah kenapa, produk itu tidak diproduksi lagi–hiks.

Anyway, saya akan membicarakan seputar berbagai jenis teh yang dicampur susu, yang menjadi favorit saya.

Thai iced tea

Thai Iced Tea at Miss Bee, Bandung

 

Teh yang satu ini tampilannya unik. Biasanya saat disajikan, ada teh warna cokelat pekat di bagian atas dan susu berwarna putih di bagian bawahnya (atau bisa juga sebaliknya), sehingga harus kita aduk dulu supaya rasanya tercampur.

Thai tea menurut saya memiliki rasa smoky yang khas. Biasanya Thai tea menggunakan teh ceylon yang pekat, tapi ada juga campuran teh asli Thai yang sudah dicampurkan dengan bahan lainnya sehingga warnanya oranye. Selain itu, Thai tea juga dicampurkan dengan susu kental manis dan susu full cream (oh my, so fatty and delicious!)

Baru-baru ini saya mencoba Thai iced tea di Miss Bee, sebuah restoran yang terletak di Ciumbuleuit, Bandung. Penyajiannya unik, karena teh disajikan di dalam gelas ukur sebelum dicampurkan ke gelas besar berisi susu.

Hong Kong milk tea

Chicken Chopped Tomato Baked Rice & Hong Kong Milk Tea at Hong Kong Cafe, Jakarta

 

Saya mungkin belum pernah cerita, tapi Hong Kong Cafe merupakan salah satu restoran favorit saya, hanya karena saya suka banget dengan Hong Kong milk tea di sini. Saya belum pernah menemukan rasa milk tea seperti itu. Bahkan saya mencoba beli Hong Kong milk tea kemasan keluaran Lipton saat ke Singapura, blah, rasanya jauh banget.

Jadi satu-satunya Hong Kong milk tea yang saya suka (hingga saat ini) hanya di Hong Kong Cafe… plus, saya juga suka banget sama Chicken Chopped Tomato Baked Rice-nya. Daging ayam lembut dan bagian kulit yang garing, ditambah nasi bakar yang gurih bercampur keju bakar–NYAM!

Earl Grey milk tea

Earl Grey Ice Milk Tea at Pancious Pancake, Jakarta

 

Sebenarnya menu Earl Grey milk tea di Pancious sudah ada sejak tahun lalu (atau dua tahun lalu, saya juga kurang tahu, hehe). Tapi saya baru berkesempatan mencoba beberapa minggu yang lalu.

Penyajiannya unik, karena ada dua gelas kecil dan satu pitcher besar di atas nampan kayu. Jadi porsinya bisa buat berdua, nih. Di dalam gelas kecilnya ada potongan es batu yang tampaknya merupakan teh susu yang dibekukan.

Rasanya enak banget. Legit susu dan rasa teh Earl Grey berpadu sempurna. Teh Earl Grey sendiri merupakan perpaduan antara teh hitam dengan bergamot. Saya pernah mencoba teh celup Earl Grey, tapi rasa citrusnya terlalu kuat. Nah, Earl Grey di Pancious ini benar-benar pas rasanya.

Teh tarik

Kalau teh yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi. Teh tarik merupakan salah satu teh khas Malaysia, yang cara pembuatannya ‘ditarik-tarik’ (haha.. penjelasan yang aneh ya). Intinya pencampuran teh dan susunya itu cukup unik, sehingga hasilnya ada sedikit buih di atas teh.

Rasanya pun legit. Sayangnya, di sini banyak teh tarik yang rasanya terlalu manis. Salah satu teh tarik yang saya suka ada di Tjap Toean, karena rasanya tidak terlalu manis, pas, dan rasa susu sekaligus tehnya terasa.

Teh susu kemasan

Terakhir, saya masukkan juga teh susu instan atau teh susu kemasan yang menjadi favorit saya. Nu milk tea merupakan teh susu dalam botol yang saya suka, karena rasa manisnya pas. Sedangkan untuk teh instan dalam bentuk bubuk, saya suka merek Chek Hup. Teh tarik instan ini bisa disajikan panas dan dingin. Jika ingin dingin, tinggal tambahkan batu es saja.

10 Life Lessons From How I Met Your Mother

how i met your mother

Bisa dibilang, How I Met Your Mother adalah salah satu serial televisi favorit saya, yang bahkan setelah ditonton berulang-ulang tetap saja akan tertawa. Banyak yang bilang sitcom yang satu ini serupa dengan Friends, serial tv yang terkenal di era 90’s. Mereka sama-sama menampilkan sekelompok orang yang saling berteman, tapi kemudian ada beberapa di antara mereka yang akhirnya menikah. Setting lokasinya pun sama, yaitu New York.

Tapi kalau diminta memilih, saya akan lebih suka HIMYM. Kenapa? Karena serial ini lebih banyak menampilkan ‘keanehan’, lelucon yang bahkan terlalu absurd, yang mungkin hanya orang-orang ‘aneh’ seperti saya yang menyukainya.. Haha!

Anyway, cerita perjalanan Ted Mosby (Josh Radnor) menemukan istrinya atau ibu dari anak-anaknya ini, menurut saya sangat sweet. Suatu perjalanan yang mungkin juga dirasakan semua orang, karena untuk menemukan yang namanya ‘true love‘ itu tidak selalu mudah. Di sini, Ted berteman dengan Marshall Eriksen (Jason Segel) yang menikah dengan Lily Aldrin (Alyson Hannigan). Ted sempat jatuh cinta dengan Robin Scherbatsky (Cobie Smulders), yang ternyata justru lebih mencintai Barney Stinson (Neil Patrick Harris), the ultimate womanizer dan menurut saya karakter paling kuat di cerita ini (plus paling aneh!).

Saking menariknya serial ini, kita juga bisa menarik beberapa pelajaran hidup dari sini. Berikut ini saya ambil beberapa poinnya dari situs All Women Stalk.

1. If it’s meant to be, it will be

Sepanjang cerita di serial tv ini, kita akan dipertontonkan bagaimana Ted berusaha menemukan ‘the love of his life’ dan akhirnya menikah. Tapi bahkan setelah memasuki season 8, dia masih belum juga menemukannya dan kita para penonton pun belum bisa melihat seperti apa wujud istri Ted itu (baru pada di akhir season 8 akhirnya diperlihatkan sosok ‘The Mother’ itu). Jadi intinya, kalau memang harus terjadi, maka akan terjadi. Kadang sekeras apa pun kita berusaha mencari, kalau tidak ketemu, ya tidak ketemu. Mungkin memang seharusnya cinta yang menemukan kita, bukan sebaliknya.

2. Long distance relationships hardly ever work

Bukan berarti pacaran jarak jauh tidak bisa berhasil, tapi biasanya memang sulit. Sama seperti di serial ini ketika Ted menjalin hubungan dengan Victoria. Pada akhirnya mereka tidak bisa mempertahankannya, bahkan Ted sempat berpesan akan hal ini kepada anak-anaknya.

3. Nothing good ever happens after 2 A.M

Ini masih berkaitan dengan hubungan Ted dan Victoria saat mereka sedang pacaran jarak jauh. Ted merasa hubungannya makin berantakan, kemudian Robin (yang tiba-tiba punya perasaan pada Ted) mengundangnya setelah pukul 2 pagi untuk ‘membuat jus’. Ketika Ted tiba di apartemen Robin, dia malah mengatakan telah putus dengan Victoria (padahal belum). Salahnya, ketika Ted ke kamar mandi, Robin sedang memegang handphone milik Ted dan Victoria menelepon. Intinya, pada malam itu (tepatnya setelah pukul 2 pagi), Ted membuat keputusan buruk yang akhirnya membuat dia kehilangan Victoria dan Robin.

4. Things you may not have liked before may not be that bad later on

Di season pertama, Ted memiliki kemeja lama yang tidak pernah disukainya, tapi selang enam tahun kemudian dia malah suka. Dia kemudian juga menyukai Bourbon, sesuatu yang dia pikir tidak akan pernah disukai. Jadi seiringnya waktu, Ted pun menyadari seleranya mulai berubah, termasuk ketika dia mulai kencan dengan perempuan yang mungkin dulunya dia anggap tidak menarik. Sama seperti Ted, selera kita bisa juga berubah, kok, dalam segala hal. Sesuatu yang menurut kita tidak menarik, bisa saja terlihat berbeda setelah beberapa waktu dan akhirnya kita menyadari, it’s not that bad.

5. The front porch test

Jenis tes ini dilakukan Lily untuk menentukan orang yang akan menjadi teman hidupnya. Jika dia bisa membayangkan bersama dengan orang itu hingga hari tua mereka, duduk-duduk di teras, sambil membayangkan kehidupan yang lampau, maka dia adalah orang yang tepat. Ini juga salah satu cara yang bisa kita lakukan saat akan mengambil keputusan besar. Coba bayangkan ketika tua nanti, akankah ketika bahagia dengan pilihan sekarang?

6. Clubs are terrible

Ketika di awal usia 20-an mungkin club menjadi tempat yang terlihat ‘asyik’, tapi seiring bertambah dewasa nyatanya club bukan lagi tempat hang out yang menyenangkan bersama teman. Hal ini juga yang diceritakan dalam serial HIMYM, di mana ketika Ted dan Robin pergi ke club, mereka malah tersiksa dengan suara musik yang keras, susah berkomunikasi, bahkan untuk memesan minuman sekalipun.

7. Brunch is for couples and families, but not alone

Brunch merupakan waktu makan yang sering dibicarakan di serial ini, terutama oleh Marshall yang sering melakukannya bersama Lily. Namun ketika mereka putus, Marshall masih tetap ingin melakukan kebiasaan brunch tersebut. Tapi, ketika dia datang sendiri, dirinya malah ditertawakan pelayan resto. Kemudian akhirnya dia mengajak sahabatnya, Brad, untuk brunch bareng. Akhirnya, mereka malah jadi terlihat seperti sepasang kekasih. Hmm.. mungkin dua pria melakukan brunch terlihat aneh, tapi saya sering kok menikmati brunch berdua saja dengan sahabat perempuan saya.

8. Always consider the crazy/hot scale

Skala ini diciptakan oleh Barney, yang mengatakan bahwa seorang cewek boleh ‘gila’ asalkan dia sama seksinya (atau bahkan sangat seksi). Kegilaan seseorang mungkin dibutuhkan untuk membuat hubungan terasa menyenangkan. Tapi jangan sampai, deh, bertemu seseorang yang sangat ‘gila’ seperti ketika Marshall bertemu Chloe dan Ted berpacaran dengan Jeanette. Saya rasa skalanya Barney ini sama seperti skala yang biasa dibuat oleh cewek (setidaknya saya dan teman-teman). Seorang cowok dimaklumi brengsek, jika dia sangat ganteng. Jika tidak, please talk to my hand.. hehe.

9. Body language will tell about a person’s availability

Ini merupakan cara yang bisa kita lakukan untuk melihat apakah seseorang single atau tidak. Sama seperti ketika, kakak tiri Barney, James, yang saat diajak hang out malah terlihat sibuk sendiri. Dia sibuk dengan ponselnya, sibuk mengirimkan pesan singkat, bahkan menolak saat diajak berkenalan dengan orang lain. Saat kita pergi bersama teman-teman, perhatikan saja sikap mereka. Ketika yang lainnya sibuk bersosialisasi (atau tebar pesona), sementara ada satu orang yang sibuk dengan ponselnya dan tidak mempedulikan keadaan sekitar, maka dia sudah tidak available.

10. The olive theory

Saya selalu menyukai hubungan antara Lily dan Marshall, karena mereka sepertinya bisa melengkapi satu sama lain. Sama halnya dengan the olive theory, yang merupakan salah satu konsep menarik dari serial ini. Teori ini mengatakan ketika satu orang menyukai olive, sementara yang lainnya tidak, maka mereka berada dalam hubungan yang seimbang dan memang ditakdirkan untuk bersama. Mungkin terkesan aneh, tapi konsep ini sepertinya menjelaskan tentang bagaimana perbedaan justru terlihat menarik. Opposites atrract, right..

 

Kate Spade New York Spring 2013: Fun, Flirty, Fabulous Colors

Wow.. Kate Spade taking cuteness to the next level. Warna-warna cerah khas Spring/Summer, Motif yang genit, dipadu dengan sentuhan vintage yang menarik. Seru banget!

Bright pink, mint green, flare dress, and color blocking–so dynamic!
I just love the color combination

Photos from: Style.com

The Sagittarius Woman

My birthday is on November 26th, so I’m gonna write about my zodiac today. Oke, tentang hal ini saya, sih, antara percaya dan tidak percaya. Mungkin beberapa orang tidak percaya akan zodiak atau ramalan bintang, tapi pasti banyak juga yang tidak menyangkal bahwa rubrik zodiak pasti merupakan rubrik pertama yang dibaca saat membuka majalah. Saya juga bukan orang yang percaya ramalan, namun membaca sifat orang berdasarkan zodiaknya kadang ada benarnya juga. Makanya, bertepatan dengan hari ulang tahun saya ini, saya akan membicarakan tentang Sagittarius, zodiak saya.

Sagittarius Woman

Sagittarius merupakan zodiak bagi mereka yang lahir dari tanggal 23 November hingga 21 Desember dan memiliki lambang Centaurus (manusia setengah kuda) yang membawa panah. Saya menemukan beberapa situs yang membicarakan tentang sifat-sifat perempuan Sagittarius, salah satunya adalah sagittariuswoman.net Menurut situs ini:
The Sagittarius woman is an enterprising and resourceful individual who is constantly searching in order to fulfill her dreams. Sagittarius is the real adventurer of the zodiac and this girl is forever highly charged with creative fire, ever keen for excitement and the opportunities in order to widen her horizons. This girl loves travel and will have a difficult time standing still. She can be characterized as one who seeks a goal, reaches that goal and then, is off to seek another goal in life. Perhaps the biggest problem in her life is the need to balance what is real with the ideal, and to endeavor to accept the current state of her life’s responsibilities in order that she may build a solid future.

Tentang ini saya setuju, karena saya memang senang bepergian, jalan-jalan, melihat-lihat tempat baru. Saya juga selalu punya ambisi untuk mencapai mimpi-mimpi saya, karenanya saya tidak pernah takut bermimpi. Mungkin karena lambang Centaurus tersebut pula, saya tahu perempuan di bawah bintang ini tidak suka sesuatu yang mengekang, mereka suka kebebasan, senang menjadi perempuan yang mandiri, dan suka mencoba hal-hal baru yang penuh tantangan. Yang saya tahu juga, Sagittarius selalu berusaha bicara apa yang di pikiran mereka, nggak suka sesuatu yang bertele-tele, bahkan kadang opini mereka seringkali dianggap terlalu ‘berani’ oleh orang-orang yang tidak dekat dengan mereka.

Ini adalah gambaran perempuan Sagittarius menurut Zodiac World:
Self-confident woman who belief in her own style. She will not follow fashion, but standing in between simplicity and too modern. She is a very open person, sometimes can be too blunt. She is an honest person and never tries to cause troubles for any one. She likes going straight and being straightforward. She is also a free spirit and does not like to stay home. She likes to be protected, but not to give her orders. She has no respect to a weak man. If she tries to over power you, then you have to calm her down and try to control her to be in a limit by doing the same thing too. She will listen if she respects you. She likes to be herself and like her guy to be himself. She is clumsy and it is in her nature. You may think it is cute, but for some neat guys this could be so unbearable. She is very friendly, so she can easily turn her enemy to be her friends. She has good taste in fine cloths, good food, first class and first services.

Dalam hal hubungan, katanya Sagittarius itu dikenal dengan istilah “The Bachelor Sign“, artinya mereka nggak akan takut untuk sendiri kalau memang belum menemukan pasangan yang tepat. “A Sagittarius woman will commit to and remain with a partner who, is independent by nature, passionately romantic, and one who also possesses the urge to travel and to explore life. The most compatible signs for our Sagittarius the “Centaur” are those of Aries and Leo and, Libra and Aquarius can also make excellent partnerships with Sagittarius. Taurus and Cancer relationship are also not the easiest and may require some work and, Pisces, Gemini, and Virgo present the greatest relationship challenges for our Sagittarius girl.

Saya juga menemukan karakter tentang Sagittarius yang lahir di tanggal 26 November, yaitu:
As a November 26 birth date you are a good natured, optimistic, and socially outgoing individual, and one who will always have something in life for which you will be particularly enthusiastic about. You have an inherent dislike for being confined or restricted whether physically or in respect of the mind. You should endeavor to engage you imagination in your every day tasks, because in your doing so, you will have that tendency to encourage your sense for creativity. Your vocation and career forms a major aspect for your sense of self-being, and since there are qualities associated with this day to indicate that your life is likely to be intersperse with a number of major life changes, then work changes are likely to be quite a common affair for those of the November 26 birth date. The arenas of advertising, public relations, publishing, or broadcasting, could well be working environments in which you might excel.The colors of deep green, emerald green, indigo (violet blue), and greenish blue resonate well with this birth date. Your November 26 birthday combines both prudence and daring, and you are likely to have a strong desire to travel out to see the world in the knowledge that there is an element of danger in all manner of adventures.

Sepertinya itu semua cukup menggambarkan diri saya sebagai seorang Sagittarius sejati.. 🙂

Photos from: weheartit.com

Coffee vs. Cigarette

Me, myself, and coffee

“Kopi itu temannya rokok”

Sebagai seorang pencinta kopi dan pembenci rokok, saya TIDAK SETUJU dengan pernyataan tersebut. Bahkan banyak juga para pencinta kopi seperti saya setuju bahwa pencinta kopi sejati tidak merokok. Karena rokok dapat mengurangi nikmatnya rasa kopi.

Selain itu, banyak juga yang bilang bahwa kopi dan rokok sama-sama beracun plus bersifat adiktif. Padahal, kafein dalam kopi punya banyak fungsi buat tubuh. Kafein dalam tubuh berperan untuk meningkatkan kerja psikomotorik, plus memberi efek segar dan peningkatan energi. Bahkan kopi juga mengandung anti-oksidan, jadi konsumsi segelas sehari masih tergolong aman. Kopi baru tergolong berbahaya kalau sudah dikonsumsi secara berlebihan, misalnya di atas 3 gelas sehari. Apalagi kalau kita bukan tipe orang yang banyak minum air putih, fungsi ginjal juga bisa terganggu karena terlalu banyak minum kopi.

Lain halnya dengan rokok, kalau yang satu ini sudah bisa dipastikan beracun. Dalam satu batang rokok saja bukan cuma nikotin, tar, dan karbon monoksida saja yang berbahaya. Kandungan lainnya seperti aseton, arsenik, amoniak, dan methanol juga sama berbahayanya. Ini baru sebagian saja, lihat lebih banyak kandungan menyeramkan lainnya pada rokok disini.

Intinya adalah… menurut saya kopi dan rokok tidak bisa disandingkan atau dikonsumsi bersama-sama. Maaf saja untuk para perokok, tapi pembenaran untuk merokok karena minum kopi atau sebaliknya, tidak masuk akal bagi saya. Anyway… buat para pencinta kopi coba juga lihat 7 tips sehat minum kopi disini.