Weaning With Love

Bosan nggak, sih, kalau blog saya isinya cuma tentang lipstik? Saya, sih, nggak, hehe.. tapi saya juga sebenarnya punya cerita lain yang ingin saya tulis di blog, salah satunya tentang motherhood alias kehidupan saya menjadi seorang ibu.

Saya memang nggak banyak cerita tentang anak saya atau bagaimana cara saya mengurusnya, karena saya sendiri merasa kurang percaya diri. Saya sebenarnya ingin seperti ibu-ibu yang menuliskan tentang setiap milestone anaknya atau menuliskan resep mpasi anaknya. Yah.. sayangnya, saya merasa gagal saat memberikan mpasi, haha, karena hampir setiap makanan yang saya buat, Alanna nggak doyan 😆.

Sejak mulai mpasi, Alanna memang susah banget makannya. Setiap hari, saya selalu stres gara-gara dia susah makan. Berbagai cara sudah saya lakukan, tapi tetap saja anaknya susah makannya. Dia juga lebih suka menyusu langsung dari saya. Sejak saya tidak kerja kantoran lagi, otomatis Alanna selalu menyusu langsung dan tidak pernah lagi minum ASI di botol. Setelah usia 1 tahun, minum susu UHT pun jarang.

Makanya, saya sempat merasa pesimis bisa menyapih. Nah, soal menyapih inilah yang akan saya ceritakan di sini. Bukan bermaksud sok tahu atau pamer, tapi saya ingin sekadar sharing. Sejak punya anak, saya senang banget baca blog ibu-ibu yang bercerita seputar motherhood, terutama tentang segala kesulitan dan pengalaman yang mereka rasakan. Ada beberapa pengalaman mereka yang saya rasakan juga dan saat itulah saya merasa tidak sendiri. Itulah kenapa saya juga mau cerita tentang proses menyapih Alanna.

Sejak awal, saya memang berniat ingin melakukan Weaning With Love (WWL) atau Gentle Weaning. Kalau dulu orangtua selalu cerita susahnya menyapih, hingga berbagai cara dilakukan. Mulai dari nakut-nakutin si anak, biarin dia nangis terus-terusan, sampai menaruh obat merah di puting, dan lain sebagainya. Setelah itu, biasanya ada proses si anak sakit atau si ibunya juga sakit karena payudaranya bengkak. Duh, dengar cerita gitu saja saya sudah stres.

Lalu saya sempat baca sebuah artikel yang ditulis oleh teman saya, tentang menyapih anaknya tanpa pemaksaan dan perlahan-lahan. Semua itu dimulai dari memberitahu anak kita bahwa sudah saatnya dia berhenti menyusu dan itu dimulai sejak anak kita usia 18 bulan.

Jadilah saya coba juga, setiap Alanna minta menyusu, saya selalu ingatkan kalau sudah usia 2 tahun nanti dia harus berhenti menyusu. Walaupun Alanna terkesan seperti mengabaikan hal ini, saya tetap saja selalu memberitahunya. Bahkan ada masa di mana, Alanna malah teriak-teriak setiap saya bilang dia harus berhenti menyusu.. haha, sepertinya dia tahu ya.

Saat usianya dua tahun pun, Alanna masih sering banget menyusu.

Salah satu tips yang saya baca tentang WWL ini adalah, kita tidak menolak tapi juga tidak menawarkan ASI.

Jadi setiap Alanna minta saya kasih, tapi kalau dia tidak minta, ya, saya tidak menawarkan.

Lama-kelamaan, frekuensi menyusunya pun berkurang. Yang tadinya 5x sehari, bisa jadi 2x sehari, yaitu pagi dan malam.

Eh, sudah sukses mengurangis ASI, tiba-tiba Alanna sakit. Dia terkena virus yang menyebabkan dia muntah-muntah dan nggak mau makan sama sekali. Jadilah dia kembali sering menyusu, karena saya khawatir kalau Alanna tidak dapat asupan makanan sama sekali.

Gara-gara sakit itulah, saya jadi merasa mengulang proses WWL dari awal. Saya mulai lagi dengan memberitahunya berulang-ulang, tapi setiap saya beritahu dia malah merengek atau menangis. Saya sempat merasa makin pesimis, apalagi dengan ‘pressure’ di sekeliling saya.

Mulai ada, deh, yang ngomong seperti ini:

“Sudah gede belum disapih juga?”

“Idih masa masih nenen?”

“Yah.. gagal, deh, makin besar makin susah lho..”

Untungnya, saya mulai baca-baca dari berbagai sumber tentang mitos atau anggapan yang salah tentang proses menyapih, misalnya:

“Kalau kelamaan nenen, anaknya jadi manja, lho..”

Sebenarnya nggak ada penelitian yang mengatakan anak yang terlalu lama menyusu dari ibunya akan jadi anak manja. Bahkan ada penelitian yang menyebutkan, anak yang disapih pelan-pelan dan karena kemauan si anak sendiri membuat dirinya lebih mandiri.

“ASI setelah dua tahun mah ga ada gizinya”

Ini juga salah. Karena ASI ternyata menyesuaikan gizi sesuai keperluan si anak. Hebat kan? Jadi nggak perlu takut kalau ASI kita tak bergizi. Selama kita makan-makanan sehat, anak kita juga akan mendapatkan manfaatnya.

“2 tahun itu udah ketuaan buat anak menyusu”

Sebenarnya berapa lama si anak menyusu itu berbeda-beda. Ada, kok, anak yang menyusu sampai usia 3 tahun dan itu sah-sah saja. Menyusu adalah hubungan spesial antara ibu dan anak, karena hal itu spesial maka setiap orang akan memiliki pengalaman yang berbeda. Jadi nggak perlu terlalu pusing untuk membandingkan anak kita dengan anak orang lain atau pengalaman kita dengan pengalaman orang lain.

Akhirnya, saya pun memahami, bahwa yang membuat saya kesulitan menyapih bukan anak saya, tapi suara-suara di luar sana yang memberi tekanan, membuat saya stres, dan sama sekali tidak memberikan solusi.

Itulah makanya, para ibu perlu memiliki support system, sesama ibu yang saling mendukung dan bukan malah saling menjatuhkan.

Setelah beberapa minggu sejak sakit, Alanna akhirnya kembali berkurang menyusunya menjadi 2x sehari. Secara mengejutkan, dia pun mulai makan teratur dan akhirnya doyan makan nasi plus lauk. Biasanya, ya, dia nggak mau makan nasi. Kadang pasta, kadang roti, kadang cereal, kadang kentang, tapi hampir tidak pernah nasi.

Berat badannya pun tergolong susah naiknya. Kalau di Indonesia, dokter mungkin sudah memberikan macam-macam vitamin penambah nafsu makan, tapi dokter di sini bilang berat badannya normal (meski berada di bawah..hehe). Dia bilang Alanna anak yang sehat, tidak mudah sakit, aktif, dan ceria, jadi saya nggak perlu khawatir soal berat badannya.

Setelah makannya teratur, saya mulai berusaha untuk semakin mengurangi ASI. Kalau biasanya saat dia ngantuk, dia akan minta menyusu dan tertidur, sekarang setiap dia mengantuk saya akan tawarkan untuk menggendong dia saja. Awalnya dia menolak, tapi lama-lama mau.

Hal yang sama juga mulai saya terapkan saat malam hari. Saat dia mau tidur dan minta ASI, saya tawarkan untuk menggendong saja. Awalnya dia nangis, tapi untungnya tidak lama dan akhirnya dia pun mau tidur tanpa harus menyusu. Jadwal ASI yang tadinya 2x sehari pun akhirnya jadi 2 hari sekali. Lama-lama akhirnya Alanna lupa dan saya pun lupa, tak terasa sudah lebih dari sebulan Alanna berhasil disapih.

Dengan cara menyapih pelan-pelan seperti ini, saya juga tidak perlu mengalami sakit akibat payudara bengkak. Semua tampaknya baik-baik saja.

Itu semua terjadi saat usia Alanna 2 tahun 5 bulan. Persis seperti cerita teman saya yang juga berhasil menyapih anaknya di usia segitu.

Hal yang saya pelajari juga saat menyapih adalah, anak pada akhirnya akan berhenti menyusu.

Cepat atau lambat dia juga akan berhenti dengan sendirinya, jadi nggak perlu kita paksa. Sama seperti saya juga yakin, ketika dulu Alanna nggak doyan makan, saya mikir, nanti juga akan doyan, kok. Saya saja ingat waktu kecil saya susah banget makannya dan sangat picky, sekarang ternyata baik-baik saja dan malah jadi susah nurunin berat badan (hahaha).

Oh iya, satu lagi kunci sukses menyapih anak, yaitu sabar. Saya sendiri bukan orang yang penyabar. Pada akhirnya, sih, saya lebih ke pasrah daripada sabar (hehe). Karena memang persoalan menyapih ini kesabaran kita diuji banget. Kalau mau menyapih dengan cara ini memang harus pelan-pelan. Tahapannya terkesan lama (dan tiap anak mungkin berbeda-beda jangka waktunya sampai akhirnya berhasil disapih), jadi ya balik lagi ke diri kita bagaimana caranya agar bisa bersabar.

Begitulah cerita singkat saya soal menyapih anak. Semoga bisa sedikit membantu para ibu yang juga berniat untuk menyapih anaknya.

Advertisements

Bright Bold Lipsticks for Summer

I hope it's not too late to talk about summer lipsticks! 

I always love bright and bold lipsticks.. makanya summer tuh pas banget, deh, buat saya pakai lipstik warna-warna terang.

summer lipsticks 2017 (1)

Oke, ini dia beberapa lipstik warna terang yang menjadi favorit saya di musim panas 2017.

Anastasia Beverly Hills liquid lipstick – Madison

Lipstik pilihan pertama saya adalah liquid lipstick dari Anastasia Beverly Hills (ABH). Sudah sejak lama saya penasaran dengan liquid lipstick ini dan akhirnya saya mendapatkannya dari kakak saya di US beberapa minggu lalu. Langsung saja liquid lipstick ini jadi favorit saya!

Suka banget sama warnanya yang bold, formulanya yang nyaman banget di bibir, dan tahan lama. Well, setelah makan makanan yang berminyak, memang warnanya akan pudar, tapi pengaplikasian ulangnya mudah dan bibir pun nggak kering, so big thumbs up for this one!

ABH Madison

Madison ini warnanya dideskripsikan sebagai "vibrant plum magenta". Kalau saya bilang, warnanya mirip-mirip dengan MAC Flat Out Fabulous, salah satu lipstik MAC favorit saya. Jadi warna ini (menurut saya) cocok banget untuk warna kulit saya. Di sebagian orang, warna ini mungkin terlihat lebih ungu, sementara di bibir saya warnanya pink-nya justru lebih kentara. Either way, this is such a gorgeous color!

MAC – Men Love Mystery

I loooooove purple lipsticks! Koleksi lipstik warna ungu saya juga sudah cukup banyak. Menurut saya, warna ini juga cocok banget dipakai saat summer, terutama warna ungu seperti ini.

MAC Men Love Mystery

MAC mendeskripsikan warna ini sebagai "Lavender Violet" dan di bibir saya warnanya memang tidak terlalu terang atau ngejreng, namun tetap menjadi warna yang stand out.

YSL Rouge Pur Couture The Mats No.215 Lust For Pink

Saya juga suka banget mengoleksi lipstik warna pink. Dari warna pink pucat, pink terang, hingga pink keunguan, semuanya ada.

Lipstik matte dari YSL ini merupakan salah satu favorit saya, karena formulanya yang nyaman banget di bibir. Hasil matte-nya memang terlihat sedikit creamy, jadi bukan dry matte kayak lipstik retro matte dari MAC.

YSL Lust For Pink

Warna Lust for Pink ini merupakan warna "cool fuchsia", yang kayaknya mirip-mirip dengan beberapa lipstik di koleksi saya. Ah well, saya suka banget formulanya. Makanya begitu ketemu warna pink yang pas, langsung saya beli, deh, hehe

Smashbox Be Legendary Lipstick – Matte Fireball

Saya baru-baru ini membeli produk lipstick dari Smashbox dan nggak menyangka kalau kualitasnya oke juga. Seri Be Legendary Lipstick ini sebenarnya hadir dalam dua formula, yaitu cream dan matte. Warnanya pun banyaaaaak banget. Sayangnya di toko kosmetik di Wina, saya hanya menemukan beberapa warna saja.

Awalnya saya nggak yakin memakai warna oranye terang, tapi kayaknya saat summer memang pas banget pakai lipstik warna seperti ini.

Smashbox Fireball

Fireball dideskripsikan sebagai warna "bright red orange", yang sebenarnya mirip dengan warna MAC Lady Danger. Namun menurut saya, Fireball sedikit lebih intens warnanya. Selain itu, formula matte-nya pun nyaman banget dan tahan lama. Sepertinya ini merupakan lipstik favorit saya saat ini, karena saya juga cukup sering memakainya.

Selain itu, warna red-orange seperti ini benar-benar ampuh membuat wajah saya terlihat lebih cerah.

MAC – Si, Si, Me! (Fruity Juicy Collection)

Lipstik yang satu ini merupakan bagian dari koleksi limited edition yang dirilis MAC musim panas tahun ini. Ada beberapa warna, mulai dari nude hingga warna yang agak gelap, yaitu warna Si, Si, Me! yang saya beli ini.

MAC Si Si Me

MAC mendeskripsikan warna ini sebagai "deep violet", namun di bibir saya warnanya justru terlihat seperti "deep berry". Warnanya memang bagus banget dan formulanya yang satin terasa lebih nyaman dibanding matte yang kadang-kadang terasa kering di bibir.

Estee Lauder Pure Color Love lipstick – Shock & Awe

Saya sebenarnya tidak pernah tertarik dengan lipstik keluaran Estee Lauder, karena image dari brand ini seperti untuk ibu-ibu (iya, sih, saya ibu-ibu, tapi brand ini merupakan brand kesayangan ibu saya, jadi ibu-ibunya lebih mature gitu).

Namun kayaknya brand ini ingin memudakan diri (terlihat dengan pemilihan modelnya) dan produk-produk makeup-nya pun dibuat lebih modern.

Contohnya, ya, koleksi Pure Color Love lipstick ini, yang terdiri dari beberapa formula, yaitu matte, cream, dan metalik. Saya memilih warna Shock & Awe, karena saya suka dengan warnanya yang bold. Sayangnya juga, pilihan warna koleksi ini sangat terbatas di sini (hiks!), padahal di US pilihan warnanya jauh lebih banyak.

Estee Lauder Shock & Awe

Shock & Awe di bibir saya seperti perpaduan warna pink dan merah yang intens. Warna ini cocok banget buat mereka yang ingin coba warna merah, tapi belum berani memakai warna "true red". Nah, lipstik perpaduan warna pink-merah ini bisa jadi pilihan.

Nars Audacious lipstick – Angela

Lipstik Nars yang satu ini bisa dibilang formula lipstik favorit saya. Teksturnya creamy, namun setelah beberapa saat bisa menjadi matte. Pigmentasinya oke banget dan tahan lama.

Nars Angela

Warna Angela dideskripsikan sebagai warna "pink orchid". Warnanya sangat terang, nyaris neon, dan perpaduan pink-ungu yang sangat feminin. Lipstik ini wajib banget saya pakai saat summer.

Kalau kamu sendiri, lipstik apa yang jadi favorit saat Summer?

First Time Vlogging

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencoba vlogging (video blogging), gara-gara terinspirasi dari banyak vlogger saat ini. Saya mungkin nggak bisa mendapatkan follower sebanyak mereka, tapi saya melihat vlogging ini layaknya sebuah diary dalam bentuk video.

Akhirnya setelah mendapatkan kamera baru dari suami (very very early birthday present..hehe), saya pun membulatkan tekad untuk memulai vlogging. Apalagi rasanya sayang kalau tinggal tiga tahun di Wina dan memiliki kesempatan untuk menjelajah beberapa kota lainnya di Eropa, tapi tidak saya abadikan lewat video.

Untuk vlog pertama, saya lakukan akhir pekan lalu saat kami (saya, suami, dan si anak kesayangan) bermain-main ke Stadtpark, sebuah taman kota di Wina. Ternyata mengedit video seru juga dan saya benar-benar baru belajar kemarin. Memang, sih, terlihat masih sedikit amatir, but I know practice makes perfect! Jadi semoga nantinya saya bisa lebih sering latihan dan bikin vlog.

Berikut ini vlog pertama saya 😀

Spending Weekend at Tiergarten Schönbrunn, The Oldest Zoo in the World

Menghabiskan akhir pekan di Wina beda banget dengan di Jakarta. Biasanya di Jakarta, tujuan jalan-jalan saat weekend paling cuma ke mall dan mall. Nah, di Wina kalau Sabtu, mall dan toko-toko tutup jam 6 sore, termasuk juga supermarket (nggak seru banget!). Sedangkan Minggu, semuanya tutup (kecuali restoran dan kafe).

Untungnya, di Wina masih banyak hiburan lainnya saat weekend, seperti taman, museum, dan kebun binatang. Sudah sejak lama saya memang meniatkan diri untuk mengajak Alanna ke kebun binatang di sini saat Summer.

Nah, pas banget kemarin udaranya lagi enak. Seminggu sebelumnya sempat panas banget, habis itu mendadak hujan terus-terusan. Saat hari Minggu kemarin, cuacanya cerah tapi anginnya dingin. Suhunya juga berkisar antara 22-24 derajat Celsius, jadi pas banget deh buat jalan-jalan outdoor.

Tiergarten Schönbrunn (kalau diterjemahkan jadi Kebun Binatang Schönbrunn) merupakan kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang ini dibuka pada tahun 1752 dan awalnya menjadi tempat menyimpan koleksi binatang eksotis milik Raja Austria. Makanya letak kebun binatang ini pun berdekatan dengan kompleks Istana Schönbrunn (yang meski berdekatan kalau jalan rasanya jauh juga.. hehe.. karena memang besar banget).

schonbrunn zoo-bluestellar (5)
Wefie dengan latar belakang llama.. tapi itu kok llamanya ada yang pingsan? 😀

Dulunya, kebun binatang ini bermula dari Central Pavilion, sebuah paviliun yang dibuat untuk para anggota kerajaan sarapan. Sekarang, Central Pavilion itu menjadi salah satu restoran di kebun binatang ini.

Harga masuk ke Tiergarten Schönbrunn ini €18.50 untuk dewasa, €9 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Bisa juga membeli tiket tahunan seharga €49, jadi bisa sepuasnya deh selama setahun keluar masuk ke situ.

schonbrunn zoo-bluestellar (10)
Central Pavilion yang sekarang jadi restoran

Kebun binatang ini sangat nyaman untuk orangtua yang membawa anak-anak dengan stroller. Selain itu, penataan setiap kandang binatangnya pun rapi. Meski ramai, sama sekali nggak merasa berdesak-desakan dan jalan-jalan pun terasa santai.

Jika capek, restoran dan kios-kios makanan hampir ada di setiap sudut. Ada juga playground khusus buat anak-anak dengan beragam permainan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana, anak-anak juga bisa menaiki kuda poni atau bermain-main dengan anak kambing (lucu banget..).

schonbrunn zoo-bluestellar (1)schonbrunn zoo-bluestellar (2)schonbrunn zoo-bluestellar (6)schonbrunn zoo-bluestellar (7)schonbrunn zoo-bluestellar (8)

Selain binatang-binatang seperti gajah, jerapah, badak, singa, dan macan, ada juga lokasi khusus rainforest yang kalau masuk ke dalamnya rasanya persis seperti di negara tropis, panas dan lembap.

Ada juga binatang seperti pinguin dan beruang kutub di bagian khusus binatang-binatang dari wilayah kutub. Sementara atraksi utama kebun binatang tersebut saat ini adalah dua panda kembar yang baru saja lahir pada Agustus tahun lalu, Fu Feng dan Fu Ban. Anak panda kembar pertama yang lahir di kebun binatang Schönbrunn.

Oh iya, ada juga waktu-waktu khusus saat si binatang diberi makan. Jadwalnya ada di peta yang bisa didapatkan di bagian informasi dan tiap binatang punya jadwal yang berbeda.

Pada dasarnya saya memang suka ke kebun binatang, jadi menghabiskan akhir pekan di sini terasa menyenangkan. Apalagi Alanna juga terlihat excited melihat binatang-binatang (meski pinguin dia bilang bebek.. haha). Dia juga suka lihat gajah yang besar, jerapah yang lehernya panjang dan tinggi, serta kawanan flamingo warna pink (yang dia panggil ming-go).

schonbrunn zoo-bluestellar (3)schonbrunn zoo-bluestellar (9)

Sayangnya saat ke kebun binatang kemarin, saya baru sampai di sana jam 1 siang. Enaknya, sih, dari pagi jam 10 sudah di sana supaya jalan-jalannya lebih santai dan semua tempat dikunjungi. Saya tidak sempat ke bagian serigala dan kucing linx yang agak jauh, karena kebun binatang tersebut tutup jam 6 sore. Kalau ke sana saat winter, tutupnya lebih cepat, yaitu jam 5 sore.

Segitu dulu ya, cerita dari saya.. Semoga seterusnya bisa cerita lebih banyak tentang Wina. Masih ada waktu dua tahun lagi untuk mengenal lebih banyak soal kota yang satu ini.

MPASI… Oh.. MPASI

Sejujurnya, saya pengen banget seperti ibu-ibu hits di media sosial yang sering berbagi seputar menu MPASI (makanan pendamping ASI) anaknya. Dari mulai mencampurkan beragam jenis makanan sehat, trik memasak, hingga menceritakan betapa anaknya doyan banget makanan yang dia buat.

Sayangnya, saya punya berbagai masalah soal MPASI ini. Saya tahu, sih, banyak juga ibu-ibu yang punya masalah seputar memberikan MPASI pada anaknya. Jadi saya tahu saya tak sendirian. Hanya saja, kadang saya merasa terintimidasi jika melihat ibu-ibu lain sukses memberikan MPASI, sementara saya, kok, rasanya susah banget.

Oke, saya cerita dari awal MPASI Alanna. Setelah enam bulan lulus ASI eksklusif, saya mulai mencoba memberikan makanan. Awalnya, bubur beras yang disaring, jadi halus banget dan dicampur sama ASI. Pertama kali dikasih, lahap banget, sehingga membuat saya besar hati. Tapi besok-besoknya seperti melempem..dan GTM (alias Gerakan Tutup Mulut) pun dimulai.

Tidak terasa beberapa minggu lewat dan saat ditimbang, berat Alanna hanya naik 100 gram. Padahal saat masih ASI eksklusif per bulannya berat Alanna bisa naik 800 hingga 1000 gram. Saat itu, dokter menyarankan untuk mulai memberikan protein pada Alanna, yaitu ayam dan ikan, jadi jangan hanya bubur beras dan buah.

Sebulan berikutnya, berat Alanna cuma naik 200 gram (hiks!). Memberikan MPASI untuk Alanna juga perjuangan banget. Mulai dari disuapin pakai tangan, gonta-ganti sendok, dipangku, didudukin di kursinya, diubah menunya, bikin makanan fresh setiap hari, dan masih banyak lagi. Setelah tiga bulan memberikan MPASI, rasanya nafsu makan Alanna masih naik turun. Kalau saya berhasil memberinya makan cukup banyak, rasanya lega banget. Namun jika tidak, huhu, rasanya ingin menangis di pojokan.

Saya kemudian jadi banyak berpikir. “Apa jangan-jangan cara saya memperkenalkan MPASI pertama kali salah ya?”, “Apa makanan yang saya buat nggak enak ya?” (memang saya nggak jago bisa masak, sih), “Apa Alanna menjadi picky eater?”.

Namun kalau dilihat sejarah saya waktu kecil dulu, ibu saya juga bilang saya itu anak yang susah banget makannya. Sampai duduk di bangku SD saja, saya makannya diemut terus, sampai ibu saya kesal.. (ya, kan saya juga nggak tahu kenapa dulu nggak doyan makan, hehe).

Sekarang setelah memasuki usia 8 bulan +, Alanna saya kasih makan dengan menu campur-campur. Dimulai dari sarapan sereal atau bubur susu dan buah, sedangkan siang dan malam menunya sama (biasanya nasi, sayur, protein hewani, dan kadang-kadang protein nabati). Saya berikan juga unsalted butter untuk menambah rasa makanan, karena siapa juga yang akan suka makanan tak ada rasanya sama sekali. Kadang saya tambahkan pula tumisan bawang putih atau bisa juga garlic powder untuk menambah rasa sekaligus aroma. Tapi ya, tetap saja, keinginannya untuk makan masih naik-turun, tergantung mood si putri kesayangan yang satu itu.. hehe.

Kalau ditanya, “Apa sih makanan kesukaan Alanna?”, saya sendiri tidak tahu. Satu hari dia bisa lahap banget makan puree buah pir, besoknya bosan. Makan butternut pumpkin squash juga kadang lahap banget, besoknya biasa saja. Waktu itu pernah makan salmon, suka banget, eh.. pas minggu depannya malah nangis-nangis nggak mau makan.

Walaupun begitu, saya nggak pernah menyerah, kok. Apalagi, so far Alanna tidak punya alergi apa pun. Hanya waktu itu pernah dikasih pisang sedikit, pup-nya langsung keras. Jadi biasanya pisang saya gabungkan dengan pepaya atau pir, yang merupakan buah anti-sembelit. Anehnya juga, Alanna kayaknya nggak suka tomat, deh. Setiap kali makanannya saya campur dengan tomat (bahkan sedikit banget), dia langsung nggak mau makan dan akhirnya mewek.

alanna-makan
Awal-awal Alanna mencicipi MPASI, pipi masih gembil…

Untuk sekadar sharing, ini beberapa bahan makanan yang sudah pernah dicoba untuk Alanna. Boleh kalau ada yang mau sharing atau kasih masukan, bahan makanan apa lagi ya yang bisa saya coba..

  • Beras putih
  • Beras merah
  • Kentang
  • Ubi Jepang
  • Quinoa
  • Jagung
  • Butternut Pumpkin Squash
  • Kabocha
  • Tomat (nggak suka)
  • Brokoli
  • Wortel
  • Bayam hijau
  • Bayam merah
  • Bok Choy
  • Buncis
  • Kapri manis
  • Tahu
  • Kacang polong
  • Pepaya
  • Pisang (jarang dikasih, karena pupnya jadi keras)
  • Pir (Packham)
  • Apel (Royal Gala)
  • Alpukat (nggak suka, mukanya langsung eneg kayak mau muntah, padahal menurut saya alpukatnya enak banget)
  • Daging sapi
  • Daging ayam
  • Ikan kakap
  • Ikan salmon
  • Telur ayam kampung (baru kuningnya saja)

Pelengkap:

  • Unsalted butter
  • Extra virgin olive oil (kadang dicampur langsung ke makanan, kadang jadi minyak untuk menumis bawang putih)
  • Bawang putih
  • Garlic powder
  • Cinnamon powder
  • Keju

Untuk masak, saya biasanya menggunakan slow cooker. Awalnya saya pakai slow cooker merek Takahi ukuran 0,7 liter. Ukuran ini memang paling ideal sih buat bikin MPASI, karena bisa dipakai untuk membuat makanan dalam porsi sedikit. Tapi kemudian slow cooker-nya rusak (hiks), jadi sekarang saya pakai yang ukuran 1,2 liter dengan harapan slow cooker ini bisa dipakai untuk masak menu makanan lainnya, bukan cuma MPASI (harapannya begitu).

Saya juga pakai Natural Steam Cooker dari Chicco, yang bisa untuk mengukus makanan sekaligus menggiling makanan, jadi steamer plus blender. Untungnya, perangkat ini saya dapat sebagai hadiah dari teman Yudo dan memang sangat berguna. Sampai sekarang saya masih mem-blender makanan Alanna, tapi teksturnya mulai agak kasar dan tidak disaring lagi.

Selain makanan yang dibuat sendiri, Alanna juga suka banget sama camilan kemasan berbentuk teething rusk (yang sering saya bilang kerupuknya Alanna). Gaya makannya memang kayak orang dewasa, makan bubur nggak enak kalau nggak pakai kerupuk. Jadi kalau Alanna mulai GTM, biasanya dipancing pakai ‘kerupuk’ itu, deh. Merek teething rusk yang pernah saya coba, di antaranya Yummy Bites, Bebenice, dan Baby Choice. Sekarang saya juga kasih camilan Gerber Graduates Puffs, karena dia memang senang banget yang bisa digigit-gigit.

Oke, segitu dulu sharing seputar MPASI Alanna. Silakan masukannya, ya, soal MPASI, baik soal pilihan menu, mengatasi GTM, dan jumlah atau porsi makanan yang pas itu seperti apa ya? Saya masih harus banyak belajar, nih…

Featured image source: here.

 

 

 

Chef Massimo Bottura: Artwork on a Plate

Gara-gara sering nonton acara masak seperti MasterChef dan Top Chef (meski saya tidak bisa masak), saya jadi penasaran dengan rasa masakan para chef tersebut benar-benar enak nggak ya? Apalagi mereka yang punya gelar “3 Michelin Stars” seperti apa, sih, enaknya?

Beberapa hari lalu, saya pun dihubungi oleh Hotel Mulia dan mendapat undangan untuk mencicipi masakan Chef Massimo Bottura, chef asal Italia yang restorannya bernama Osteria Francescana mendapat penghargaan 3 Michelin Stars. Bahkan restorannya itu masuk di lima teratas dalam daftar 50 Best Restaurants in the World–wow!!

Saya pun tidak asing dengan nama Massimo, karena dia pernah menjadi juri tamu di acara MasterChef Australia season 7. Dia juga ada di dalam serial dokumentasi Table’s Chef di Netflix.

Tentu saja saya excited dengan tawaran tersebut. Jadilah pada hari Jumat (18 Maret) kemarin, saya makan siang di Hotel Mulia (bersama teman-teman jurnalis lainnya) mencicipi makanan dari Chef Massimo. Sebenarnya ada 9 menu makanan, mulai dari menu pembuka, main course, hingga dessert, tapi saya hanya mendapatkan enam menu saja. Well, it’s free.. dan mereka juga harus menyiapkan makanan untuk acara malam harinya, jadi enam pun bagi saya sudah cukup menyenangkan.

Sebelum mencoba masakan hasil kreasi Chef Massimo, dia terlebih dulu berbicara tentang inspirasi masakannya. Dia mengatakan dirinya adalah seorang artisan, bukan sekadar chef. Makanya, setiap masakannya itu dianggap sebagai sebuah karya seni. Dia melihat kuliner sebagai perpaduan dari seni, budaya, dan tentu saja bahan-bahan makanan yang berkualitas bagus.

Saat memulai Osteria Francescana, sebenarnya dia dianggap sebagai chef  yang ‘membelot’, karena resep tradisional Italia malah dimodifikasi menjadi modern dan unik. Namun keberaniannya itu justru membuahkan hasil hingga akhirnya dia disebut sebagai salah satu chef yang paling kreatif di dunia. Lebih jelasnya, bisa menonton Chef’s Table di Netflix 😀

Cara dia berbicara dan menjelaskan soal makanannya, saya melihat dia sebagai seorang Chef yang humble dan penuh imajinasi. Dia tak segan-segan bercanda dan membuat suasana jadi lebih menyenangkan (sangat berbeda dengan Chef Gordon Ramsay di serial Hell’s Kitchen.. hehe).

Oke, sekarang saatnya membicarakan seputar makanan. Menu pembuka untuk acara tersebut dinamakan “Come to Italy with Me”. Menu ini terdiri dari dua makanan yang ukurannya imut-imut, I mean.. sangat sangat mini. Yang satu berbentuk seperti bantal, sementara yang satu berbentuk mirip macaron.

come to italy with me
Come to Italy with Me
Yang berbentuk bantal merupakan salt-cod yang disirami saus tomat. Meski saya tak suka ikan, rasa tomat yang lezat menyelimuti rasa amis ikan sehingga terasa gurih dan lezat. Sementara si mini macaron itu benar-benar mengejutkan rasanya. Ada pencampuran rasa gurih dari mozarella, berpadu dengan tomat dan basil. Dari menu pertama saja, saya tahu bahwa Chef Massimo ini senang membuat makanan yang berbeda dengan tampilannya. Ketika melihat bentuk macaron, orang tentu akan berharap makanan manis, tapi di sini yang didapat justru makanan savory.

Lanjut ke menu kedua, yaitu “Lentils Better than Beluga”. Lentils merupakan jenis kacang-kacangan. Menurut Chef Massimo, lentils ini dibuat menyerupai bentuk kaviar dan juga dimasak dengan eel broth, sehingga ada rasa seafood di dalamnya. Uniknya juga, lentils ini disajikan di atas es.

lentils
Lentils Better than Beluga
Menu ketiga adalah “Riso-Pizza”, yang menurut Chef Massimo adalah perpaduan rasa antara Risotto dan Pizza, dua masakan khas Italia. Oke, saya sejujurnya tidak pernah tertarik dengan Risotto, karena kalau di Jakarta bentuknya seperti bubur dan teksturnya lembek. Risotto juga sering menjadi masalah di berbagai acara kuliner yang saya tonton, bahkan di MasterChef Australia, makanan itu disebut sebagai ‘dead dish’, saking banyaknya yang gagal membuat Risotto.

riso pizza
Riso-Pizza
Makanya, saya penasaran banget dengan the real Risotto ini. Ketika dibawa ke meja, bentuknya menurut saya kurang menarik. Seperti bubur warna putih yang di pinggirnya dikasih remah-remah. Ternyata…. rasanya sangat lezat. Menurut penjelasan di menu, Riso-Pizza ini menggunakan perpaduan nasi dan polenta yang merupakan tradisi di Italia Utara yang dicampurkan dengan rasa tomat, anchovy, dan oregano dari Italia Selatan. Remah-remah di sekitarnya itu (yang enak banget rasanya) merupakan nasi yang dipanggang. Tekstur Risotto pun tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata teksturnya memang lembut, tapi tetap ada butiran yang bisa digigit. Sehingga perpaduan tekstur semua bahan makanan di satu piring itu terasa pas.

Lanjut ke menu keempat (yang merupakan favorit saya), yaitu “Beautiful Psychedelic Spin-painted Veal, Not Flame Grilled”. Daging sapi muda yang dimasak dengan cara sous-vide ini dihiasi saus warna-warni, yang terbuat dari klorofil, sweet potato, red beet emulsion, dan extra-old Villa Manodori balsamic vinegar. Saya sejujurnya belum pernah mencoba makan daging yang tidak matang benar-benar, jadi melihat daging dengan warna merah itu rasa deg-degan.

veal
Beautiful Psychedelic Spin-Painted Veal, Not Flame Grilled
Namun setelah gigitan pertama… MMMMMM… enaknya. Dagingnya benar-benar lumer di mulut, pinggiran daging yang garing memberi rasa smoky yang lezat. Ditambah lagi dengan macam-macam saus yang menambah rasa makin lengkap. Rasanya kalau boleh, saya mau tambah lagi (hahaha..).

Selanjutnya, menu kelima adalah “Caesar Salad in Bloom”. Satu lagi menu yang tampilannya tidak biasa. Kali ini salad malah dihiasi edible flowers alias bunga yang bisa dimakan. Satu potong selada dihiasi dengan bunga chamomile kering, jasmine, dan raspberries. Rasanya memang unik, but this is just not my favorite.

caesar salad
Caesar Salad in Bloom
Terakhir adalah menu “Oops! I Dropped the Lemon Tart”, menu yang inspirasinya didapat ketika salah satu sous chef menjatuhkan lemon tart. Akhirnya dibuatlah lemon tart dengan bentuk yang tidak biasa.

lemon tart
Oops! I Dropped the Lemon Tart
Tumpukan rasa dari lemon zabaglione, lemon verbena sorbet, dan meringue, dicampur dengan bergamot, savory capers, dried oregano, dan hot pepper oil, menjadikan menu ini sebagai menu penutup yang meledak (in a good way, of course). Saya suka sekali, karena rasa manis, asam, dan gurih berpadu sempurna. Pada akhirnya saya cuma bisa bilang… “Yahhh sudah habis, hiks.”

Namun menurut Lara, istri Chef Massimo, itulah tujuan utama suaminya dalam menciptakan makanan. Bukan ekspresi di awal, melainkan memori yang diciptakan di akhir menikmati makanan.

Oh iya, tiga menu yang tidak disajikan adalah “La Dispensa”, “Spring in Jakarta”, dan “The Crunchy Part of the Lasagne”. Saya sebenarnya penasaran banget dengan menu pinggiran Lasagna itu, karena memang pinggiran Lasagna yang agak gosong itulah justru yang terasa paling lezat.

Saya juga ingat Chef Massimo pernah mengatakan di satu episode MasterChef Australia bahwa pinggiran Lasagna yang garing itu yang menjadi favoritnya.

Ah well, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini, terutama untuk Hotel Mulia yang sudah mengundang saya. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

with chef massimo
With Chef Massimo Bottura

Milk Tea Lover!

I’m a milk tea lover! Saya pada dasarnya memang suka teh. Setiap pagi, saya pasti menyeduh teh sebelum sarapan. Biasanya saya memilih jasmine green tea atau english breakfast yang diseduh dengan air panas dan disajikan tanpa gula.

Namun, saya juga pencinta milk tea alias teh susu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya menemukan produk teh susu instan dari Sariwangi. Itu adalah favorit saya! Sayangnya, entah kenapa, produk itu tidak diproduksi lagi–hiks.

Anyway, saya akan membicarakan seputar berbagai jenis teh yang dicampur susu, yang menjadi favorit saya.

Thai iced tea

Thai Iced Tea at Miss Bee, Bandung

 

Teh yang satu ini tampilannya unik. Biasanya saat disajikan, ada teh warna cokelat pekat di bagian atas dan susu berwarna putih di bagian bawahnya (atau bisa juga sebaliknya), sehingga harus kita aduk dulu supaya rasanya tercampur.

Thai tea menurut saya memiliki rasa smoky yang khas. Biasanya Thai tea menggunakan teh ceylon yang pekat, tapi ada juga campuran teh asli Thai yang sudah dicampurkan dengan bahan lainnya sehingga warnanya oranye. Selain itu, Thai tea juga dicampurkan dengan susu kental manis dan susu full cream (oh my, so fatty and delicious!)

Baru-baru ini saya mencoba Thai iced tea di Miss Bee, sebuah restoran yang terletak di Ciumbuleuit, Bandung. Penyajiannya unik, karena teh disajikan di dalam gelas ukur sebelum dicampurkan ke gelas besar berisi susu.

Hong Kong milk tea

Chicken Chopped Tomato Baked Rice & Hong Kong Milk Tea at Hong Kong Cafe, Jakarta

 

Saya mungkin belum pernah cerita, tapi Hong Kong Cafe merupakan salah satu restoran favorit saya, hanya karena saya suka banget dengan Hong Kong milk tea di sini. Saya belum pernah menemukan rasa milk tea seperti itu. Bahkan saya mencoba beli Hong Kong milk tea kemasan keluaran Lipton saat ke Singapura, blah, rasanya jauh banget.

Jadi satu-satunya Hong Kong milk tea yang saya suka (hingga saat ini) hanya di Hong Kong Cafe… plus, saya juga suka banget sama Chicken Chopped Tomato Baked Rice-nya. Daging ayam lembut dan bagian kulit yang garing, ditambah nasi bakar yang gurih bercampur keju bakar–NYAM!

Earl Grey milk tea

Earl Grey Ice Milk Tea at Pancious Pancake, Jakarta

 

Sebenarnya menu Earl Grey milk tea di Pancious sudah ada sejak tahun lalu (atau dua tahun lalu, saya juga kurang tahu, hehe). Tapi saya baru berkesempatan mencoba beberapa minggu yang lalu.

Penyajiannya unik, karena ada dua gelas kecil dan satu pitcher besar di atas nampan kayu. Jadi porsinya bisa buat berdua, nih. Di dalam gelas kecilnya ada potongan es batu yang tampaknya merupakan teh susu yang dibekukan.

Rasanya enak banget. Legit susu dan rasa teh Earl Grey berpadu sempurna. Teh Earl Grey sendiri merupakan perpaduan antara teh hitam dengan bergamot. Saya pernah mencoba teh celup Earl Grey, tapi rasa citrusnya terlalu kuat. Nah, Earl Grey di Pancious ini benar-benar pas rasanya.

Teh tarik

Kalau teh yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi. Teh tarik merupakan salah satu teh khas Malaysia, yang cara pembuatannya ‘ditarik-tarik’ (haha.. penjelasan yang aneh ya). Intinya pencampuran teh dan susunya itu cukup unik, sehingga hasilnya ada sedikit buih di atas teh.

Rasanya pun legit. Sayangnya, di sini banyak teh tarik yang rasanya terlalu manis. Salah satu teh tarik yang saya suka ada di Tjap Toean, karena rasanya tidak terlalu manis, pas, dan rasa susu sekaligus tehnya terasa.

Teh susu kemasan

Terakhir, saya masukkan juga teh susu instan atau teh susu kemasan yang menjadi favorit saya. Nu milk tea merupakan teh susu dalam botol yang saya suka, karena rasa manisnya pas. Sedangkan untuk teh instan dalam bentuk bubuk, saya suka merek Chek Hup. Teh tarik instan ini bisa disajikan panas dan dingin. Jika ingin dingin, tinggal tambahkan batu es saja.