Can We Just Agree to Disagree?

Pernahkah kamu menulis sesuatu atau membagi link artikel tertentu di media sosial, yang justru memunculkan perdebatan? Tiba-tiba ada yang mengkritik kamu, menyebut kalau pendapat kamu salah, dan tanpa disadari kamu justru bertengkar di media sosial.

Saya, sih, sepertinya tidak pernah mengalami hal tersebut, tapi baru-baru ini kakak saya bercerita tentang kekesalannya setelah membagi suatu artikel di Facebook.

Gara-gara artikel itu dia malah debat panjang lebar dengan seseorang yang sebenarnya nggak dia kenal dekat. Saya bilang, “Memangnya teteh kenal?”. Dia bilang, tidak. Ya sudah, kata saya, unfriend saja, kelar deh urusan. Tapi dia masih saja ngedumel-dumel, kesal, karena menurutnya ucapan si orang itu dianggap merendahkan dan bikin malu, terutama terhadap teman dan keluarga lainnya di Facebook.

Saya juga sempat melihat beberapa teman saya yang terlalu ‘vokal’ menyuarakan pendapatnya di media sosial, yang terkesan dia “paling benar, orang lain salah”. Kalau sudah begitu, sih, biasanya saya unfriend atau mute saja segala macam posting-an dari dia daripada merusak mata dan mood saya.

Di zaman dengan berbagai media sosial kayak sekarang, memang banyak lho orang yang bisa-bisa tidak berteman lagi hanya karena status atau menyuarakan suatu pendapat. Orang yang berjauhan, nggak pernah ketemu, atau sebenarnya cuma teman sekilas, bisa jadi berantem gara-gara hal itu.

Makanya, saya berusaha banget untuk selalu menyortir segala macam tulisan di media sosial. Di Facebook, biasanya saya nulis status yang “aman” saja, berusaha bersikap netral, nggak ikut-ikutan politik, dan nggak pernah komentar di status orang lain yang pendapatnya nggak sesuai dengan saya.

Menurut saya, sih, kalau memang nggak setuju, nggak usah deh berkomentar daripada nanti malah bertengkar. Nggak enak banget, kan, berantem di media sosial. Sama saja kayak berantem di depan umum, yang nontonin teman dia dan teman kita juga yang ada di media sosial itu.

Suatu kali, saya membagi tulisan tentang pola pengasuhan anak. Naahhh, rupanya selain politik, agama, dan segala macam keyakinan, pendapat tentang pengasuhan anak ini rada sensitif ya, karena bisa membuat perdebatan pula. Apalagi banyak orang-orang yang nyinyir dengan bilang, “Kok gini, kok gitu?”, “Zaman dulu nggak kayak gitu,” dan lainnya. Teman saya ini, sih, untungnya nggak berdebat di media sosial, tapi berkomentar langsung ke sana, lewat jaringan pribadi.

Saya bilang, yang namanya pengasuhan anak mah tergantung orangtuanya masing-masing. Saya nggak bisa bilang pola pengasuhan A lebih baik dari B, karena saya saja baru merasakan jadi orangtua dalam hitungan bulan. Namun tentunya, saya juga punya rencana tersendiri bagaimana saya mengasuh anak nantinya. Apa itu yang terbaik? Ya, mudah-mudahan. Kalau misalnya, pun, orang lain punya cara mengasuh yang berbeda, ya biarkan saja. Jangan pernah menghakimi orang lain, karena kan kita juga tidak tahu apa yang mereka rasakan dan jalani.

Makanya, kalau ada yang mau komentar atau berdebat panjang, saya cuma bisa bilang, we can agree to disagree, kan… *peace*

Image source: here

The Joy of Breastfeeding

The Joy of Breastfeeding… Saya kerap melihat kalimat itu di berbagai produk yang memang diperuntukkan bagi para ibu. Saya juga sering mendengar para ibu yang bercerita, indahnya menyusui anaknya, tapi pada saat itu saya tak bisa membayangkan rasanya seperti apa.

Di awal-awal menyusui saja saya sempat berpikir, “Di mana letak joy-nya, sih? Orang sakit begini.” Namun setelah melewati beberapa minggu dan akhirnya melewati dua bulan, baru deh saya merasakannya. Di awal menyusui, saya sempat merasa ketakutan saat akan menyusui, karena selalu merasa sakit. Tapi, ya, saya paksakan juga (meski lecet) karena begitu melihat bagaimana Alanna menyusu, saya jadi trenyuh.

Kasihan ya bayi ini, begitu tergantung pada saya. Kalau saya menolak, dia hanya bisa menangis. Huhu, saya jadi kebayang anak-anak bayi yang dibuang begitu saja oleh orangtuanya, kok tega ya..

Di minggu-minggu pertama, bayi juga lebih sering menangis. Mungkin karena memang cuma itu yang bisa dia lakukan. Saya pada awalnya malah merasa tidak bisa menenangkan Alanna. Habisnya, setiap saya gendong dia pasti nangis terus. Beda saat dia gendong oleh ibu saya atau Yudo. Sampai pernah satu saat Alanna menangis saat saya gendong, saya bisikkan saja ke telinga dia, “Hei, ini mama kamu, yang perutnya kamu tempatin selama 9 bulan, bukan nini, bukan eyang, bukan bapak.” Entah dia mengerti atau nggak, tapi akhirnya nggak nangis lagi, sih, hehe..

Setelah lewat dari sebulan, ketika berat badan Alanna sudah melebihi berat badan dia saat lahir, baru deh saya bisa agak sedikit santai (sedikit saja). Setidaknya, saya nggak harus bangun tengah malam lagi, karena Alanna sudah mulai panjang tidurnya saat malam. Akhirnya mulai terprogram, deh, jam tidur dia. Mulai ngantuk setiap jam 8 atau setengah 9 malam, sekali nyusu, terus langsung tidur.

Saya juga mengajarkan dia kalau malam itu waktunya tidur. Makanya saat menyusu terakhir di malam hari, saya matikan saja lampu di kamar dan pasang lampu tidur, supaya dia tahu itu saat tidurnya dia. Kemudian saat mulai terang, sekitar pukul 6 pagi, adalah saatnya dia bangun. Memang, sih, kadang dia suka kebangun pas malam (mungkin mimpi atau apa), tapi nggak lama langsung tidur lagi.

Soal menyusu, sekarang pun saya lebih percaya diri, bahkan jika harus menyusui di depan umum (ya pakai nursing cover tentunya). Malah kadang-kadang, saya yang merasa lebih tergantung untuk menyusui Alanna secara langsung. Walaupun sudah dipompa, saya merasa lebih enak jika menyusui langsung.

Sebelum kembali kerja, saya juga mulai mengajarkan Alanna untuk minum pakai botol susu. Ada yang bilang, nanti “bingung puting” lho.. tapi Alhamdulillah, itu tidak terjadi pada Alanna. Kalau kata sepupu saya yang bayinya hanya dua bulan lebih tua dari Alanna, “Yang penting kita pede, kalau anak kita nggak akan bingung puting. Pasti bisa, kok.”

Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat bertemu dengan salah seorang teman yang anaknya berusia 1,5 tahun. Dia bercerita, setelah satu tahun, anaknya mulai dikasih susu lain selain ASI. Eh tiba-tiba saja dia jadi nggak mau nyusu lagi. Memang, sih, jadinya nggak sulit menyapih, tapi dia mengaku jadi sedih. “Kok dia nggak mau nyusu lagi ya, malah aku yang sedih,” begitu katanya.

Saya jadi kebayang, jangan-jangan nanti pas mau disapih malah saya yang kesulitan (alias nggak rela) bukan Alanna.

Sekarang Alanna sudah masuk usia lima bulan dan sebentar lagi dia akan mulai makan. Tanda-tandanya sudah mulai kelihatan. Dia sudah mulai melototin saya kalau saya lagi makan dan kadang mulutnya kayak ngunyah-ngunyah (padahal cuma lidahnya yang dikunyah).

Beneran, deh, sekarang saya baru ngerasain betapa menyenangkannya menjadi seorang ibu, betapa bahagianya, betapa indahnya. Mama saya suka komentar, “Ih, anak manja sekarang punya anak.” Saya hanya ketawa sambil mikir, “Iya, sekarang malah ada anak kecil yang manja sama saya.”

Semoga sehat selalu ya, Alanna… Jadi anak yang baik dan sayang orangtuanya.

alanna-me-2

About Motherhood

Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed

Saya tidak pernah membayangkan menjadi seorang ibu. Saya bahkan tidak merasa bahwa diri saya memiliki sikap keibuan. Saya bahkan tak pernah suka anak kecil, karena bagi saya mereka berisik (hehe.. please don’t judge me). Saya akhirnya bisa akrab dengan anak kecil, karena saya punya banyak keponakan (lima tepatnya). Walaupun begitu, saya tidak pernah menggendong mereka sejak bayi, jadi pengalaman saya dengan anak kecil sangat minim.

Namun tentu saja semua itu berubah ketika saya akhirnya menikah dan hamil. Mungkin itu yang dinamakan naluri perempuan, karena sejak di dalam kandungan saja saya sudah jatuh cinta dengan si jabang bayi. Sebelumnya saya tidak pernah mengerti, kenapa para ibu-ibu itu selalu membicarakan anaknya, posting foto di media sosial, dan sebagainya. Sekarang saya mengerti, bagaimana seorang anak bisa menjadi ‘dunia’ bagi si ibu. Saya mengerti rasa cinta yang dirasakan seorang ibu pada anaknya.

Salah satu yang menyebabkan saya tidak menyukai anak kecil, karena ibu saya juga tidak menyukai anak kecil (ini mungkin ya, berdasarkan analisa pribadi) atau anak-anak pada umumnya. Ibu saya, mungkin, merasa kecewa dengan anak-anaknya (mungkin juga termasuk dengan saya) sehingga pemikiran yang selalu dia tanamkan adalah, “anak-anak diurus baik-baik sejak kecil, sudah gede malah bikin susah, cuma bikin kecewa orangtua, dan lain sebagainya”.

Gara-gara itu pula, saya sering merasa, “tidak puaskah dia memiliki saya sebagai seorang anak?”. Saya tidak mengatakan dia tidak sayang pada saya, justru sebaliknya, saya adalah anak yang sangat dimanja. Semua kebutuhan dipenuhi. Namun pada akhirnya, itu semua malah jadi bumerang. Karena sering dibantu sana-sini, saya jadi susah mandiri. Bahkan setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya masih tetap bergantung pada ibu saya.

Itulah mengapa, saya ingin bisa mengajarkan hal berbeda pada anak saya. Bukan juga saya menyebut orangtua saya salah didik, buktinya saya baik-baik saja. Sekolah, kerja, dan berkeluarga, semuanya baik. Saya bukan pelaku kriminal, bukan juga pecandu narkoba. Hanya saja, ada beberapa pemahaman orangtua yang kadang tidak sejalan dengan saya, dan bagi saya itu wajar ketika anak menjadi dewasa dia punya pemikiran sendiri.

Saya percaya, kepribadian seseorang itu tidak selalu nature atau datang dari sananya, tapi juga nurture atau didikan dari keluarga. Bisa dibilang keluarga saya cukup dekat, harmonis, dan meski ayah saya sudah meninggal hampir 15 tahun lalu, saya tidak pernah kekurangan apa pun secara materi. Itu semua berkat kerja keras ibu saya. Kadang, saya berpikir, bisakah saya sekuat ibu saya dalam membesarkan anak saya sendiri? Bisakah saya mengajarkan hal yang baik-baik, sehingga nantinya dia bisa mandiri, bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarganya, dan sebagainya?

Salah satu hal yang ingin saya ajarkan pada anak saya nanti adalah, saya tidak ingin dia melihat sesuatu dari harganya. I want her to learn about value, not price. Ketika semua diukur berdasarkan materi atau uang, tentunya tidak akan pernah cukup. Kita bisa saja mengejar uang sebanyak-banyak, tapi tidak pernah bahagia. Saya ingin dia tahu, bahwa begitu banyak hal yang tak bisa diukur oleh uang. Saya mau dia merasa bahagia dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki. Punya ambisi memang penting, tapi jangan lantas menghalalkan segala cara demi materi.

Saya juga ingin bisa membangun rasa percaya dirinya dengan tidak pernah merendahkan atau meremehkan segala macam usahanya. Mungkin banyak orangtua yang sering merasa tidak puas ketika anaknya tidak berprestasi secara akademis atau misalnya tidak pernah meraih juara di sebuah lomba. Saya tidak mau menjadi seseorang yang terus-menerus melihat ‘hasil’ bukan ‘usaha’. Semoga saya tidak menjadi ibu-ibu yang kesal karena anaknya tidak ranking atau tidak memenuhi ekspektasi orangtua. Saya ingin bisa mendorong anak saya untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri, bukan menjadi sesuai keinginan saya.

Satu lagi, saya juga tidak ingin menjadi orangtua yang pemarah atau sering membentak anaknya. Saya pernah membaca, bahwa anak yang gemar berbohong adalah anak yang sering dimarahi. Mereka lebih memilih untuk berbohong dengan harapan tidak akan dimarahi, padahal pada akhirnya justru mereka akan lebih dimarahi begitu ketahuan bohong.

Saya menulis ini bukan karena sok tahu, mengingat usia anak saya saja masih empat bulan. Saya masih belajar menjadi ibu, pengalaman saya masih cetek. Saya cuma berharap tulisan ini bisa menjadi self reminder untuk diri saya sendiri, jika seandainya 10 atau 20 tahun lalu saya menjadi lupa akan hal ini.

My Wish for 2016

OMG… It’s already February! Biasanya saya selalu me-review ulang berbagai momen saya di tahun sebelumnya begitu memasuki tahun baru. Tapi yaa.. Sepertinya saya masih kesulitan untuk meluangkan waktu menulis blog, padahal banyak banget ide tulisan, terutama review seputar beauty products.

Karena ini tulisan pertama di tahun 2016, jadi saya mau flashback sedikit tentang momen terbaik pada tahun 2015 lalu. Sepertinya highlight tahun lalu bagi saya cuma dua, yaitu pergi jalan-jalan ke Eropa (akhirnya bisa foto di depan Eiffel) dan memiliki Alanna.

Tahun ini, harapan saya cuma satu. Saya ingin Alanna bisa tumbuh sehat dan bahagia. Soal karir, sepertinya saya tidak mau muluk-muluk. Saya tentunya masih ingin bekerja, baik itu kantoran maupun freelance, tapi soal karir sepertinya saya kesampingkan dulu. Bukannya apa-apa, saya melihat di tempat saya kerja saat ini, tidak ada jenjang karir untuk saya. Jangankan naik jabatan, saya saja melihat ada atasan saya yang turun jabatan.

Saya tidak mau bicara panjang lebar soal pekerjaan, karena lagi-lagi fokus saya saat ini hanya Alanna. Saya mungkin tidak cerita di tulisan sebelumnya, tapi Alanna lahir dengan kelainan bawaan yang dokter bilang sebagai “defect” di bagian kepalanya. Saat lahir, Alanna memiliki benjolan kecil berwarna keabu-abuan di kepalanya. Sekarang agak membesar, tapi kalau sekilas mungkin tidak kelihatan.

Bayangkan saja, sehari setelah melahirkan Alanna, dokter menyarankan USG kepala. Hari keduanya, dokter mengatakan Alanna sebaiknya di-MRI untuk melihat lebih lanjut. Namun akhirnya MRI itu baru dikerjakan saat usianya 3 bulan, karena dokter melihat kondisi Alanna saat itu baik dan sehat, sehingga dia merasa MRI bukan sesuatu yang urgent.

Saat Alanna mau MRI saja, pada bulan Januari kemarin, saya panik dan stressnya bukan main. Biasanya anak kecil atau bayi yang akan di-MRI harus dibius karena kepalanya tidak boleh gerak sama sekali. Namun untungnya dokter mencoba pakai obat penenang yang bisa membantu dia tidur lebih nyenyak. Alhamdulillah cara itu berhasil, karena kalau sampai Alanna harus dianestesi saya nggak bakal tega.

Setelah MRI, dokter melihat kondisi kepala Alanna sebagai Meningokel Posterior, tapi ukurannya kecil sehingga tidak perlu tindakan segera. Dia hanya perlu diobservasi dan usia setahun harus di CT scan untuk dilihat perkembangannya. Saya tidak akan menjelaskan secara detail apa itu meningokel, karena saya juga tidak terlalu paham. Yang pasti di bagian tulang kepalanya tidak sempurna, seperti ada rongga. Kelainan seperti ini katanya biasa dimiliki bayi, tapi karena lokasinya di kepala jadi saya harus ekstra hati-hati dan waspada. Sekarang pun saya harus memeriksakan Alanna lagi ke dokter spesialis anak hematologi, karena ada dugaan hemangioma di bagian kepalanya. Apa pula itu? Sejujurnya istilah-istilah itu baru sekali ini saya dengar. Kalau cari-cari di internet malah jadi takut sendiri, jadi lebih baik saya memang bertanya langsung ke dokter.

Jadi.. Doa dan harapan saya tahun ini hanya untuk Alanna. Semoga dia selalu diberi kesehatan. Semoga saya dan Yudo pun selalu diberi kesehatan, ketabahan, dan kesabaran. Bagaimanapun ini menjadi cobaan pertama kita sebagai orangtua. Saya juga sadar setiap orangtua tentunya selalu dihadapkan oleh berbagai permasalahan anak. Bismillah.. Semoga kita bisa melalui setiap masalah dengan baik.

Selamat datang 2016.. Let’s create some more beautiful memories. 

My 2015

 

Diary of a Breastfeeding Mom

Sejak awal kehamilan, saya memang selalu berniat untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan pada anak saya. Meski begitu saya sempat merasa tidak percaya diri, apakah nantinya ASI saya lancar atau tidak ya? Ternyata, Alhamdulillah ASI saya lancar, tapi memberikan ASI kepada bayi yang baru lahir tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya pernah diberitahu, pada menyusui itu sakit, apalagi ketika si bayi memainkan puting ibunya atau ketika si bayi sedang tumbuh gigi. Faktanya, menyusui–bahkan sejak awal–ternyata sangat menyakitkan.

Sebelum lanjut baca, penting untuk diketahui bahwa tulisan ini mungkin terkesan agak vulgar, karena saya akan banyak membicarakan soal payudara. Namun menurut saya ini penting, khususnya untuk ibu-ibu muda seperti saya yang juga sedang belajar.

The Neverending Ouch!

Dimulai dari rasa sakit ketika menyusui pertama kali. Awalnya saya pikir akan terbiasa setelah beberapa hari, tapi saya salah! Selanjutnya ada insiden puting lecet atau bahkan berdarah. Mau menyusui saja sudah takut duluan, karena rasa perih dan nyeri yang terus-terusan muncul. Ketika tersentuh tangan atau bahkan disiram air saja, bagian puting rasanya nyeri.

Tak cukup rasa nyeri saja, karena ketika produksi ASI sudah mulai banyak sementara si bayi kemampuan menyusuinya masih sedikit, muncul masalah baru. Payudara saya terasa mengeras, sakitnya bukan main, bahkan untuk tidur saja susah. Saya sempat merasa meriang gara-gara ini. Katanya sih ini memang wajar dialami para ibu menyusui. Caranya harus dipijat agar ASI yang membeku bisa kembali cair. Saya juga biasanya menggunakan handuk atau botol berisi air panas untuk sedikit ‘mencairkan’ asi beku itu. Selanjutnya, payudara pun harus dipompa agar tidak terus-terusan membeku.

Bayi pun biasanya akan sulit menyusui jika payudara terlalu kencang dan bengkak. Jadi saya membiasakan diri untuk selalu memompa payudara ketika mulai dirasa terlalu kencang.

Hingga sekarang rasanya nyerinya masih ada, but I just have to deal with it. Oh iya, satu lagi soal payudara. Jangan heran ketika bentuknya menjadi besar sebelah, karena mungkin ada kecenderungan sisi payudara tertentu lebih banyak memproduksi ASI.

Tak hanya masalah payudara, ada lagi masalah sembelit yang mungkin tak banyak dibicarakan. Suatu kali, saya mengobrol dengan teman yang memiliki anak usia 4 tahun. Dia bertanya, apakah saya sempat merasakan sembelit? “Sebal ya kenapa nggak ada yang kasih tahu kalau kita bakal sembelit pas menyusui,” begitu katanya.

Masalah sembelit sangat menyebalkan bagi saya yang melahirkan secara normal dan mendapat jahitan di bagian bawah sana. Otomatis ketika sembelit saya pun jadi takut buang air besar, karena takut jahitannya robek.

Saat tanya ke dokter pun, ternyata memang sembelit itu wajar. Cairan dalam tubuh kita banyak keluar karena ASI. Itu dia mengapa kita perlu banyak minum air putih, perbanyak makan buah, dan sayuran. Saya akhirnya membiasakan untuk rutin makan pepaya setiap harinya dengan porsi yang banyak. Setelah beberapa minggu, baru deh urusan ‘ke belakang’ kembali normal.

The Baby Blues Episode

Soal ini, saya tidak tahu apakah saya bisa dikategorikan memiliki baby blues atau tidak. Tapi kalaupun iya, saya pikir wajar juga bagi setiap ibu baru mengalami baby blues ini, meski gejalanya berbeda bagi setiap orang.

Saya, misalnya, di minggu-minggu pertama mudah sekali menangis, sedih, marah, dan perasaan tak menentu lainnya. Bukan sedih karena punya anak, tapi karena takut tak bisa menjadi ibu yang baik. Saya pikir perasaan itu juga muncul karena rasa lelah yang luar biasa.

Bayangkan saja, saat akan melahirkan saya bisa dibilang tidak tidur seharian. Setelah seluruh energi habis untuk melahirkan, saya mungkin hanya sempat tidur 1-2 jam, karena banyak saudara dan teman yang datang menjenguk hingga malam. Setelah pulang ke rumah, saya pun kesulitan istirahat karena masih menyesuaikan diri. Si bayi juga sepertinya sedang menyesuaikan diri dengan jadwal menyusui dan jadwal tidurnya sendiri.

Jadi menurut saya wajar bagi para ibu jika perasaannya sangat sensitif di awal-awal menyusui. Makanya peran suami sangat penting saat ini. Alhamdulillah suami saya benar-benar sabar, karena saya bisa menjadi sangat sangat menyebalkan. I’m so sorry yudo.. I blame the hormones.

The Zombie Look

Beberapa minggu setelah tahu saya hamil, mendadak saya merasa mual kalau pakai lipstik. Padahal saya kan pencinta lipstik sejati! Makanya banyak yang mengira saya hamil anak laki-laki, bahkan ada yang terang-terangan bilang saya terlihat jelek–hiks!

Setelah melahirkan, penampilan saya juga tidak membaik. Berkat begadang dan kurang tidur, saya merasa ngeri melihat wujud saya di depan kaca. Rambut acak-acakan, muka dan bibir pucat, mata cekung, serta lingkaran hitam di sekitar mata. Benar-benar seperti zombie..atau vampire!

Untungnya lagi.. Saya masih ada ibu yang mengurus makanan, mencekoki saya dengan segala macam makanan sehat. Kacang hijau, sayur katuk, kaldu daging, dan lainnya. Tidak terbayangkan jika saya harus mengurus bayi sendiri sambil menyiapkan makanan. Jadi saya sangat-sangat bersyukur atas kehadiran mama dan sangat kagum dengan kakak saya yang memiliki tiga anak tanpa bantuan dari mama sedikit pun.

The Constant Eating

Setelah 9 bulan merasa mual saat hamil–yes, you got that right, whole 9 months!–saya akhirnya bisa makan enak. Ketika banyak orang bilang saat hamil pasti nafsu makan jadi besar, saya malah tidak merasakannya.

Saya tidak pernah merasa ngidam makanan tertentu, sebaliknya setiap makan bahkan yang enak sekalipun menjadi tidak enak di lidah saya. Setiap makanan pasti meninggalkan after taste yang membuat saya mual–meski tidak selalu muntah. Sikat gigi pun selalu membuat saya mual, tapi jika tidak sikat gigi dan sikat lidah, saya juga akan mual terus.

Begitu melahirkan, saya mencoba sikat gigi dan rasa mual itu hilang total. Semua makanan pun terasa enak. Saya yang biasanya tidak suka sayur saja bisa makan sayur dalam porsi yang banyak.

Sayur katuk menjadi favorit saya. Pagi setidaknya saya dua kali sarapan, ditambah camilan sore, serta sepiring penuh buah berupa pepaya dan mangga sebelum tidur.

Saya juga tidak berharap kurus dalam waktu dekat, karena yang penting adalah saya makan yang cukup dan bergizi untuk ASI saya. Dengan semua makanan terasa enak, ya saya jadi makan terus, hehe. Mungkin ini dia penyebab ibu-ibu menyusui kadang terlihat lebih gemuk dibanding saat hamil.

Setelah hampir dua bulan, rasanya saya sudah bisa mengatur waktu. Saya juga masih punya waktu istirahat. Semua hal-hal tidak menyenangkan itu pun tidak akan terasa ketika melihat perkembangan bayi saya. Kenaikan berat badannya normal dan saya pun menjadi lebih percaya diri saat menyusuinya.

Tapi masalah saya tidak selesai sampai di sini, karena ada episode baru nantinya di mana saya mulai bekerja dan harus menyiapkan ASI perah untuk Alanna. Perjuangan ibu memang berat, baik untuk yang menyusui dengan ASI maupun susu formula, yang bekerja di kantor maupun yang tinggal di rumah.

Pengalaman inilah yang membuat saya makin kagum dengan ibu saya, ibu mertua saya, kakak saya, dan teman-teman saya yang sudah memiliki anak. Senang rasanya bisa sharing dan bertanya pada mereka seputar pengalaman mengurus anak.

Teman-teman saya ini pun punya cerita berbeda-beda. Ada yang resign dan kerja freelance, ada yang tetap bekerja dan sukses di karir, ada yang jadi pengusaha untuk mengurus anak di rumah, dan ada yang keluar dari pekerjaan lalu beberapa tahun setelahnya kembali bekerja. Salut untuk para ibu. Semoga saya juga bisa menjadi ibu yang baik untuk Alanna…

 

Saat acara syukuran 40 hari Alanna. Bismillah semoga Alanna selalu diberi kesehatan dan menjadi anak yang baik

 

Hello, Baby Alanna…

 


Alhamdulillah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Bayi kecil yang selama sembilan bulan saya bawa kemana-mana di dalam perut akhirnya lahir dengan selamat dan sehat. Bayi kecil ini pun kami namakan Alanna Latishia Wibowo, si cantik yang penuh suka cita, karena kami juga menyambutnya dengan suka cita dan kebahagiaan luar biasa.

Perjalanan persalinan saya dimulai dari Jumat pagi, tanggal 23 Oktober 2015. Pukul 04.30 pagi, saya merasakan ada cairan di bagian bawah yang saya pikir adalah air ketuban. Ketika saya ke kamar mandi, muncul pula flek darah yang membuat saya berpikir, “Oke, ini saatnya.”

Saya dan suami pun langsung melesat ke RSIA Bunda di Menteng. Untungnya karena masih pagi, jalan sangat lengang. Sesampainya di sana saya mulai merasa mulas, persis seperti saat sedang haid, tapi itu semua masih bisa saya tahan.

Saya kemudian masuk ruang observasi untuk mengecek kontraksi dan detak jantung si bayi. Bidan juga memeriksa saya dan mengatakan saya sudah bukaan 1. Sekitar pukul 7, dokter kandungan saya datang dan memeriksa saya dengan usg. Menurutnya, air ketuban saya belum pecah dan masih banyak. Jadi saya diminta bersabar karena ini bisa jadi proses yang panjang.

Jam demi jam berlalu, saya merasakan kontraksi yang makin kuat dan makin sering. Sebelum makan siang, saya minta dicek lagi dan ternyata masih juga bukaan satu. Tak lama bidan mengatakan bahwa dokter membolehkan saya pulang, karena sepertinya pembukaan saya masih akan lama. Tapi masalahnya, sakitnya bukan main, jarak antara kontraksi semakin dekat, dan saya terus mengeluarkan flek darah.

Saya pun memutuskan tetap berada di kamar observasi, karena toh kami sudah membayar kamar tersebut untuk semalam. Semakin sore, saya semakin lelah karena sakit dan saya sulit makan. Saya bahkan sempat muntah, karena asam lambung yang naik.

Ketika menjelang malam, saya ingin menyerah saja dan operasi caesar karena tidak tahan sakitnya. Mama saya dan ibu mertua saya terus menemani hingga malam sambil menguatkan saya. Saya mulai merasa down ketika jam 9 malam, bidan kembali mengecek dan hasilnya masih tetap bukaan satu.

Saya merasa kelelahan dan kesakitan. Apalagi pas malam itu saya malah ketemunya sama bidan yang senior dan galak. Dia dengan tegas bilang, “Ibu kalau mau memang mau lahir normal memang harus kuat, karena yang dicari rasa sakitnya. Semakin sakit, berarti semakin dekat persalinan. Ibu juga tidak mungkin melahirkan malam ini, jadi coba bersabar saja.” Huhu langsung nangis saya dibilang seperti itu..

Saya pikir mau sakit kayak gimana lagi. Katanya kontraksi bukaan 1 itu jaraknya berjauhan, sementara saya dalam 10 menit bisa merasakan 3-4 kali kontraksi yang rasanya sakittt banget. Apalagi flek darah saya terus-terusan keluar. Sebelum pulang, ibu mertua saya menyarankan saya untuk minum kuning telur ayam kampung mentah dan madu. Untungnya mama punya persediaan di rumah dan minta tolong saudara saya untuk membawanya. Katanya, sih, ini resep kuno untuk membawa stamina sekaligus mengurangi rasa sakit kontraksi. Saya yang biasanya menolak, langsung iya saja, dan diminum pun tidak terasa amis sama sekali. Saya cuma berpikir, semoga memang ini memberi sedikit tenaga buat tubuh saya yang rasanya makin terasa lelah.

Saya, ditemani suami, akhirnya menginap di sana. Saya benar-benar tidak bisa tidur karena merasa kesakitan setiap saat. Dalam hati saya membatin, “Kalau sampai besok jam 6 pagi masih juga bukaan 1, saya ingin operasi caesar saja.”

Lewat jam 12 malam, saya merasa sakitnya makin menjadi-jadi. Akhirnya saya memanggil bidan pada pukul 00.30 untuk kembali mengecek. Ternyata benar saja, saya sudah bukaan 3. Sedikit lega, karena setidaknya ada kemajuan. Saya pun menanyakan soal epidural ke bidan dan menurutnya saya bisa memakainya di atas bukaan 4. Dia juga mengatakan akan langsung menghubungi dokter anestesi.

Pada pukul 01.30, saya kembali kesakitan. Saya  memanggil bidan lagi, tapi ketika dicek masih juga bukaan 3 menuju bukaan 4. Namun mendadak 15 menit setelah dicek, saya merasa ada air yang keluar. Sepertinya ketuban saya sudah pecah. Saya kembali memanggil bidan, yang kemudian mengecek ternyata saya sudah bukaan 6 menuju 7. Dia pun langsung meminta bidan yang lain untuk menyiapkan kamar bersalin.

Saya panik dan berteriak minta epidural, namun bidan tersebut mengatakan bahwa waktunya tidak sempat. “Nanti dokternya datang, ibu juga sudah lahiran,” katanya.

Dari situ, semuanya terasa cepat. Saya diajarkan cara mengejan setiap kali kontraksi datang. Tak lama, dokter datang dan membantu persalinan. Dalam beberapa kali mengejan, akhirnya si mungil itu muncul. Alanna dilahirkan pada tanggal 24 Oktober 2015, pukul 02.40 WIB, dengan berat 3,21 kg dn panjang 49 cm. Saya masih ingat rasa lega yang saya rasakan dan pelukan pertama bayi saya di dada. Tidak berhentinya saya mengucap syukur pada Allah.

Sekarang, Alanna sudah berumur 1 bulan. Selama sebulan ini, emosi saya sebenarnya sempat naik turun. Namanya juga ibu baru yang sedang beradaptasi, saya merasa kewalahan pada awalnya. Padahal saya sudah punya banyak bala bantuan, ada mama, tante saya, dan suami saya, yang sering turun tangan untuk menjaga Alanna.

Babak baru pun dimulai, terutama ketika saya baru tahu bahwa menyusui dengan ASI itu ternyata tak semudah yang dibayangkan. Mulai dari masalah puting lecet sampai susu yang membeku dan bikin meriang, ditambah lagi kurang tidur, tentunya sempat membuat saya pusing. But everything was worth it.. apalagi pas melihat perkembangan Alanna.

Semoga saja, Alanna bisa menjadi anak yang sehat dan bahagia. We all love you, little baby… 🙂

When You Realize That Money isn’t Everything

career salary

Ketika pertama kali terjun ke dunia kerja, saya selalu mengharapkan bisa berkarir. Saya tidak mau sekadar kerja hanya demi uang, saya ingin mengembangkan diri, saya ingin pengakuan, dan tentu saja saya ingin mencintai pekerjaan yang saya geluti. Sejak dulu, saya memimpikan untuk menaiki jenjang karir, hingga lama-lama saya pun menjadi ‘atasan’, bukan lagi anak baru yang tidak mengerti apa-apa.

Saat pertama kali bekerja kantoran, saya sama sekali tidak menyukainya. Satu, karena bidangnya tidak sesuai dengan saya. Dua, karena gajinya sangat sangat kecil, dengan penghitungan bonus yang menurut saya tidak adil.

Pekerjaan saya pertama kali adalah sebagai presenter freelance di sebuah stasiun televisi. Pembayaran gaji selalu terlambat dan tidak seberapa. Kemudian saya memutuskan untuk kerja kantoran. Kala itu saya berpikir, “Setidaknya punya pengalaman dulu.”

Akhirnya saya bekerja di sebuah agensi iklan sebagai Account Executive. Berbeda dengan agensi iklan lainnya, agensi ini mengkhususkan pada media radio saja, yang tentu lebih sulit ‘menjualnya’. Awalnya saya kesulitan, karena tidak merasa punya bakat jadi sales, apalagi paham mengenai dunia radio. Iya, sih, dulu pernah jadi penyiar radio kampus, tapi kan masalah saya paling seputar pemilihan lagu, bukan target miliaran rupiah.

Perlahan-lahan saya mulai memahami bidang ini. Saya punya daftar klien kepercayaan, dan meski kecil saya pun pelan-pelan mulai berhasil menjual spot iklan ke berbagai klien. Berkat kerja di sini, saya jadi paham jalan-jalan di Jakarta, karena sebagai AE saya harus ke mana-mana sendiri, menyetir sendiri, bahkan menggunakan mobil sendiri (gila!), padahal uang yang masuk nantinya buat perusahaan bukan buat saya.

Setelah 10 bulan bekerja di sana, tentu saja saya tidak betah. Saya masih ingin mengejar passion saya di bidang jurnalistik. Akhirnya, Allah menjawab permintaan saya, dan saya pun masuk menjadi fashion stylist sekaligus jurnalis di sebuah majalah. Lagi-lagi, ini sebenarnya bidang baru bagi saya, karena saya tidak punya dasar untuk menata gaya. Saya saja masih kesulitan memilih padu padan busana, ini malah disuruh mengarahkan gaya orang lain.

Tapi saya belajar dan belajar terus. Saya memperhatikan rekan kerja yang lebih senior, saya semangat mengikuti berbagai pelatihan, dan selalu membaca berbagai majalah untuk belajar sekaligus mencari inspirasi. Saya bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan, yang hingga kini kenangan bekerja di tempat tersebut masih terasa menyenangkan di pikiran saya.

Sayangnya, pekerjaan itu juga punya kelemahan. Gajinya sangat minim, bahkan tidak sebanding dengan pekerjaan yang saya lakukan. Kadang saya harus jungkir-balik untuk mengerjakan event. Tidak hanya dalam kota, tapi ada juga yang di luar kota. Pernah satu waktu, saya harus membiarkan baju-baju di dalam koper, karena saya hanya berada di Jakarta selama tiga hari, setelah itu harus langsung pergi lagi tugas ke luar kota.

Setelah 3 tahun 8 bulan, saya memutuskan untuk resign. Saya pun akhirnya menemukan pekerjaan baru tiga bulan sejak mengundurkan diri. Kala itu saya sangat bersemangat karena saya akan memasuki sebuah dunia baru lagi, yaitu dunia media online. Saya tahu ini bidang yang sedang berkembang, prospeknya cerah, dan saya merasa akan punya kesempatan belajar.

Di awal kerja, saya pun belajar banyak hal. Meski saya ditugaskan untuk memegang bidang gaya hidup (mulai dari fashion, kecantikan, kuliner, traveling, entertainment, dll), saya juga ikut mengedit berita-berita umum lainnya. Alhasil, saya menjadi orang yang paling update soal berita di rumah. Saya tahu kasus korupsi apa saja yang ditangani KPK, berita kriminal apa yang sedang diperbincangkan orang, berita internasional, hingga berbagai masalah hukum.

Saya senang karena punya banyak informasi. Saya senang karena saya banyak tahu berbagai hal. Walaupun ujung-ujungnya saya kadang merasa apatis dengan negara Indonesia tercinta ini jika melihat berbagai macam berita yang disampaikan di media (tapi ini akan menjadi cerita lain di posting blog yang lain sepertinya).

Soal gaji pun bisa dibilang cukup lumayan. Memang tidak sebesar mereka yang kerja di bank atau perusahaan-perusahaan internasional, tapi saya merasa cukup mendapat peningkatan dari pekerjaan sebelumnya.

Seiringnya waktu, bidang yang saya pikir akan berkembang ini ternyata tidak berkembang seperti yang saya harapkan. Ada berbagai keputusan perusahaan yang akhirnya membuat diri saya sebagai jurnalis, sebagai editor, dan sebagai wanita karir, merasa stagnan. Saya merasa suara saya tidak didengar di dalam perusahaan, meski tentu suara saya ‘terdengar’ di luar sana, yaitu lewat tulisan-tulisan saya.

Mungkin itulah manusia, selalu merasa tak puas. Mungkin itu pula hidup ketika kita tidak bisa memiliki segalanya. Berkali-kali saya mengeluhkan peraturan perusahaan yang menurut saya tidak adil. Mengapa menilai pekerjaan seseorang berdasarkan kuantitas, bukan kualitas? Saya selalu merasa kesulitan ketika manajemen menilai pekerjaan saya berdasarkan jumlah berita yang saya upload, bukan apakah berita saya berkualitas? Apakah berita saya sudah benar adanya? Apakah sesuai fakta, menarik banyak pembaca, bermanfaat, dan lain sebagainya?

Dalam bekerja, jujur saya pun mengharapkan pengakuan. Saya ingin hasil kerja saya benar-benar dilihat, bukan sekadar dihitung jumlahnya. Tapi sebagai sebuah bagian kecil dalam perusahaan yang begitu besar, saya bisa apa? Saya hanya bisa menyampaikan saran, namun jika tak ditanggapi, saya bisa apa?

Saya pun harus kembali pada diri sendiri. Menenangkan diri saya, berusaha bersyukur, dan terus menanamkan pikiran, bahwa “tak semua hal harus berjalan sesuai keinginan saya.”