Bright Bold Lipsticks for Summer

I hope it's not too late to talk about summer lipsticks! 

I always love bright and bold lipsticks.. makanya summer tuh pas banget, deh, buat saya pakai lipstik warna-warna terang.

summer lipsticks 2017 (1)

Oke, ini dia beberapa lipstik warna terang yang menjadi favorit saya di musim panas 2017.

Anastasia Beverly Hills liquid lipstick – Madison

Lipstik pilihan pertama saya adalah liquid lipstick dari Anastasia Beverly Hills (ABH). Sudah sejak lama saya penasaran dengan liquid lipstick ini dan akhirnya saya mendapatkannya dari kakak saya di US beberapa minggu lalu. Langsung saja liquid lipstick ini jadi favorit saya!

Suka banget sama warnanya yang bold, formulanya yang nyaman banget di bibir, dan tahan lama. Well, setelah makan makanan yang berminyak, memang warnanya akan pudar, tapi pengaplikasian ulangnya mudah dan bibir pun nggak kering, so big thumbs up for this one!

ABH Madison

Madison ini warnanya dideskripsikan sebagai "vibrant plum magenta". Kalau saya bilang, warnanya mirip-mirip dengan MAC Flat Out Fabulous, salah satu lipstik MAC favorit saya. Jadi warna ini (menurut saya) cocok banget untuk warna kulit saya. Di sebagian orang, warna ini mungkin terlihat lebih ungu, sementara di bibir saya warnanya pink-nya justru lebih kentara. Either way, this is such a gorgeous color!

MAC – Men Love Mystery

I loooooove purple lipsticks! Koleksi lipstik warna ungu saya juga sudah cukup banyak. Menurut saya, warna ini juga cocok banget dipakai saat summer, terutama warna ungu seperti ini.

MAC Men Love Mystery

MAC mendeskripsikan warna ini sebagai "Lavender Violet" dan di bibir saya warnanya memang tidak terlalu terang atau ngejreng, namun tetap menjadi warna yang stand out.

YSL Rouge Pur Couture The Mats No.215 Lust For Pink

Saya juga suka banget mengoleksi lipstik warna pink. Dari warna pink pucat, pink terang, hingga pink keunguan, semuanya ada.

Lipstik matte dari YSL ini merupakan salah satu favorit saya, karena formulanya yang nyaman banget di bibir. Hasil matte-nya memang terlihat sedikit creamy, jadi bukan dry matte kayak lipstik retro matte dari MAC.

YSL Lust For Pink

Warna Lust for Pink ini merupakan warna "cool fuchsia", yang kayaknya mirip-mirip dengan beberapa lipstik di koleksi saya. Ah well, saya suka banget formulanya. Makanya begitu ketemu warna pink yang pas, langsung saya beli, deh, hehe

Smashbox Be Legendary Lipstick – Matte Fireball

Saya baru-baru ini membeli produk lipstick dari Smashbox dan nggak menyangka kalau kualitasnya oke juga. Seri Be Legendary Lipstick ini sebenarnya hadir dalam dua formula, yaitu cream dan matte. Warnanya pun banyaaaaak banget. Sayangnya di toko kosmetik di Wina, saya hanya menemukan beberapa warna saja.

Awalnya saya nggak yakin memakai warna oranye terang, tapi kayaknya saat summer memang pas banget pakai lipstik warna seperti ini.

Smashbox Fireball

Fireball dideskripsikan sebagai warna "bright red orange", yang sebenarnya mirip dengan warna MAC Lady Danger. Namun menurut saya, Fireball sedikit lebih intens warnanya. Selain itu, formula matte-nya pun nyaman banget dan tahan lama. Sepertinya ini merupakan lipstik favorit saya saat ini, karena saya juga cukup sering memakainya.

Selain itu, warna red-orange seperti ini benar-benar ampuh membuat wajah saya terlihat lebih cerah.

MAC – Si, Si, Me! (Fruity Juicy Collection)

Lipstik yang satu ini merupakan bagian dari koleksi limited edition yang dirilis MAC musim panas tahun ini. Ada beberapa warna, mulai dari nude hingga warna yang agak gelap, yaitu warna Si, Si, Me! yang saya beli ini.

MAC Si Si Me

MAC mendeskripsikan warna ini sebagai "deep violet", namun di bibir saya warnanya justru terlihat seperti "deep berry". Warnanya memang bagus banget dan formulanya yang satin terasa lebih nyaman dibanding matte yang kadang-kadang terasa kering di bibir.

Estee Lauder Pure Color Love lipstick – Shock & Awe

Saya sebenarnya tidak pernah tertarik dengan lipstik keluaran Estee Lauder, karena image dari brand ini seperti untuk ibu-ibu (iya, sih, saya ibu-ibu, tapi brand ini merupakan brand kesayangan ibu saya, jadi ibu-ibunya lebih mature gitu).

Namun kayaknya brand ini ingin memudakan diri (terlihat dengan pemilihan modelnya) dan produk-produk makeup-nya pun dibuat lebih modern.

Contohnya, ya, koleksi Pure Color Love lipstick ini, yang terdiri dari beberapa formula, yaitu matte, cream, dan metalik. Saya memilih warna Shock & Awe, karena saya suka dengan warnanya yang bold. Sayangnya juga, pilihan warna koleksi ini sangat terbatas di sini (hiks!), padahal di US pilihan warnanya jauh lebih banyak.

Estee Lauder Shock & Awe

Shock & Awe di bibir saya seperti perpaduan warna pink dan merah yang intens. Warna ini cocok banget buat mereka yang ingin coba warna merah, tapi belum berani memakai warna "true red". Nah, lipstik perpaduan warna pink-merah ini bisa jadi pilihan.

Nars Audacious lipstick – Angela

Lipstik Nars yang satu ini bisa dibilang formula lipstik favorit saya. Teksturnya creamy, namun setelah beberapa saat bisa menjadi matte. Pigmentasinya oke banget dan tahan lama.

Nars Angela

Warna Angela dideskripsikan sebagai warna "pink orchid". Warnanya sangat terang, nyaris neon, dan perpaduan pink-ungu yang sangat feminin. Lipstik ini wajib banget saya pakai saat summer.

Kalau kamu sendiri, lipstik apa yang jadi favorit saat Summer?

Advertisements

#RIPChesterBennington

Kemarin malam saat sedang browsing di Facebook, tiba-tiba saya menemukan artikel tentang meninggalnya Chester Bennington, vokalis band Linkin Park. Awalnya saya tidak percaya, saya takut ini hanya berita bohong alias hoax. Jadi saya coba cari semua sumber berita yang bisa dipercaya, tapi rasanya saya masih tetap nggak mau percaya. Apalagi ketika tahu penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Rasanya makin sedih membaca beritanya.

Kenapa saya menulis tentang hal ini. Satu, karena saya penggemar Linkin Park. I grew up listening to their music. Saya berkenalan dengan Linkin Park sejak album Hybrid Theory dan lagu Crawling merupakan lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan band ini. Merupakan punya musik yang berbeda, khas, dan tentu saja suara Chester yang tak tergantikan. Bahkan setelah beberapa album dan musik mereka sedikit bergeser, tidak sehingar-bingar di album pertama, saya tetap suka musik mereka. Setiap lirik dan setiap not musik yang mereka buat selalu membuat saya terhanyut menikmati setiap lagunya. Saya sebenarnya lebih ngefans sama Mike Shinoda, karena menurut saya dia sangat kreatif dalam menciptakan musik dan artwork untuk album Linkin Park. Namun, karakter suara Chester-lah yang menjadikan Linkin Park berbeda dari band alt-rock lainnya. Chester juga yang banyak menuangkan pikirannya ke dalam lirik lagu yang kadang cenderung ‘gelap’.

Saya pun merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk menonton konser mereka dua kali di Jakarta, pada tahun 2004 dan 2011 (saya juga cerita soal konser mereka di blog ini). Saya sempat berpikir akan menonton mereka untuk ketiga kalinya jika memang mereka mampir ke kota Wina, apalagi mereka baru saja merilis album baru dan tengah menggelar tur. Tapi tampaknya keinginan itu tidak akan kesampaian.

Alasan kedua, karena berita soal meninggalnya Chester, seperti menambah panjang daftar selebriti yang meninggal dengan cara bunuh diri, mulai dari Robin Williams hingga Chris Cornell (vokalis band Soundgarden dan Audioslave), yang bunuh diri beberapa bulan lalu dan kebetulan merupakan sahabat Chester. Bahkan Chester memutuskan untuk bunuh diri tepat di hari ulang tahun Chris, yaitu 20 Juli.

I don’t know about depression.. but I know that it’s real. Sangat menyedihkan melihat orang yang tampaknya bahagia, sukses, bisa memiliki segalanya di dunia ini tapi justru mencabut nyawanya sendiri. Hal itulah yang terjadi pada diri selebriti itu. Kita tidak mengenal mereka, kita hanya mengenal karakter yang mereka tampilkan di publik. Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka pikirkan. Jangankan kita, yang hanya penggemar, bahkan orang-orang terdekat mereka pun seperti tak mampu mencegah hal itu.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini, semoga saya bisa membantu orang-orang sekitar saya yang memang memiliki masalah depresi dan memiliki kecenderungan bunuh diri.

Rest in peace, Chester… I’ve always been a fan, always will. Now, I’m going to listen to all my Linkin Park album just to remember how I fall in love with this band in the first place.

Image from Linkin Park’s official Facebook.

Me Before You

Saya memang jarang menulis ulasan tentang film. Padahal saya ini penikmat film, suka banget nonton film bioskop dan serial televisi. Namun sejak punya Alanna, saya memang tidak pernah lagi nonton di bioskop. Ibu-ibu dengan bayi pasti paham dengan situasi ini (hehe..) dan menganggap nonton di bioskop adalah sebuah kemewahan.

Untungnya, teknologi kan sudah maju, jadi nonton film-film bioskop bisa lebih mudah dan bisa kita tonton di televisi. Memang, sih, jadinya saya nonton film-film yang agak basi. Orang-orang sudah membicarakannya dari beberapa bulan lalu, saya malah baru heboh sekarang. Sama seperti ketika saya menonton film drama romantis, Me Before You ini, yang sebenarnya sudah dirilis sejak Juni 2016 kemarin.

Saya, sih, tahu film ini diangkat dari buku. Namun saya jarang melihat berita-berita yang membicarakan film ini atau mungkin film ini tertutupi oleh film-film box office dengan budget besar, karena peluncurannya pas Summer. Tahu sendiri, deh, film-film Summer kan biasanya dipenuhi oleh film-film budget besar, biasanya sih film superhero. Makanya film sederhana dari buku ini kayaknya nggak banyak diomongin, padahal pendapatannya di box office pun lumayan besar.

Film ini dibintangi oleh Emilia Clarke. Orang-orang mungkin lebih kenal dia sebagai Daenerys Targaryen di serial Game of Thrones. Kalau di film tersebut, karakternya terlihat sebagai perempuan tangguh, sementara di film Me Before You, Emilia justru memperlihatkan sisi quirky dan goofy. Jadi benar-benar karakter yang beda, deh. Lawan mainnya adalah Sam Claflin yang sebelumnya pernah main di film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides serta film The Hunger Games: Catching Fire dan Mockingjay sebagai Finnick Odair.

Me Before You bercerita tentang William Traynor (Sam Claflin) yang lumpuh dari leher ke bawah gara-gara ditabrak motor. William digambarkan sebagai cowok ganteng, super tajir, dan dikenal suka hal-hal ekstrem, seperti bermain ski, naik gunung, diving, dan lainnya. Ibu bapaknya William pun mencari caretaker yang diharapkan bisa membuat dia bahagia, at least supaya mood-nya nggak gloomy terus. Ketemulah si Louisa Clark (Emilia Clarke) yang witty, chatty, dan punya sense of fashion yang unik.

Seperti tipikal film-film romantis lainnya, pada akhirnya mereka jatuh cinta. Saya pun awalnya underestimate film ini. Saya pikir, “Ah, pasti akhirnya happy ending”, “Paling filmnya biasa aja, gitu-gitu aja”, ternyata saya malah jadi termehek-mehek sendiri. Sebenarnya agak bete dengan ending-nya (SPOILER ALERT: jangan diteruskan baca blog ini kalau nggak mau tahu akhirnya).

me-before-you-2

Pokoknya sepanjang film, saya seperti disuguhkan kisah romantis yang menyenangkan, tapi nggak norak. Jadinya, kan, kebawa perasaan, eh terus bete. hehe..

Sampai detik-detik terakhir saja, saya masih berharap si Will berubah pikiran, ternyata tidak, huhu. Dia memilih bunuh diri, lho, daripada menjalin hubungan sama si Lou. Why? Why? Why?

Saya baca-baca beberapa review film ini, ternyata banyak yang protes dengan ending-nya. Mereka protes tentunya bukan karena termehek-mehek seperti saya, tapi mereka protes karena film ini seperti mendukung keputusan seseorang untuk bunuh diri sekaligus mengatakan bahwa orang lebih baik mati daripada cacat. Duh, pikiran saya, sih, nggak sampai ke sana, saya cuma pengen happy ending saja. Namanya juga nonton film fiksi, kan harapannya yang happy-happy (hehe).

Suami saya juga bilang film ini bagus (padahal dia cuma nonton setengah). Tapi memang setelahnya dia bilang, pasti film ini banyak yang protes, deh, karena membenarkan bunuh diri. Ya, saya cuma berpikir, mungkin si penulis buku merasa itu hak si orang kali, mau bunuh diri atau nggak, walaupun kalau untuk orang beragama, bunuh diri itu dosa besar.

Lalu apa yang menarik dari film ini? Kalau menurut saya, chemistry antara Emilia Clarke dan Sam Claflin kayaknya pas banget. Sam Claflin is total eye candy, jadi tentunya mata tetap segar memandangi dia sepanjang film. Emilia Clarke yang mukanya ekspresif banget dan lucu juga jadi daya tarik tersendiri. Saya juga suka banget gaya busana Lou yang eksentrik, tabrak motif, tabrak warna, dan sepatu motifnya lucu-lucu banget. Ini beberapa contoh busana yang dipakai Lou..

dragonfly-me-before-youemilia-clarke-me-before-you-costumeslittle-leprechaun-me-before-youpops-color-me-before-you

Lucu kaaannn… jadi pengen bisa padu-padan seru kayak gitu. Masih cocok nggak yah buat ibu-ibu? 😀

Pictures taken from: Popsugar

Milk Tea Lover!

I’m a milk tea lover! Saya pada dasarnya memang suka teh. Setiap pagi, saya pasti menyeduh teh sebelum sarapan. Biasanya saya memilih jasmine green tea atau english breakfast yang diseduh dengan air panas dan disajikan tanpa gula.

Namun, saya juga pencinta milk tea alias teh susu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, saya menemukan produk teh susu instan dari Sariwangi. Itu adalah favorit saya! Sayangnya, entah kenapa, produk itu tidak diproduksi lagi–hiks.

Anyway, saya akan membicarakan seputar berbagai jenis teh yang dicampur susu, yang menjadi favorit saya.

Thai iced tea

Thai Iced Tea at Miss Bee, Bandung

 

Teh yang satu ini tampilannya unik. Biasanya saat disajikan, ada teh warna cokelat pekat di bagian atas dan susu berwarna putih di bagian bawahnya (atau bisa juga sebaliknya), sehingga harus kita aduk dulu supaya rasanya tercampur.

Thai tea menurut saya memiliki rasa smoky yang khas. Biasanya Thai tea menggunakan teh ceylon yang pekat, tapi ada juga campuran teh asli Thai yang sudah dicampurkan dengan bahan lainnya sehingga warnanya oranye. Selain itu, Thai tea juga dicampurkan dengan susu kental manis dan susu full cream (oh my, so fatty and delicious!)

Baru-baru ini saya mencoba Thai iced tea di Miss Bee, sebuah restoran yang terletak di Ciumbuleuit, Bandung. Penyajiannya unik, karena teh disajikan di dalam gelas ukur sebelum dicampurkan ke gelas besar berisi susu.

Hong Kong milk tea

Chicken Chopped Tomato Baked Rice & Hong Kong Milk Tea at Hong Kong Cafe, Jakarta

 

Saya mungkin belum pernah cerita, tapi Hong Kong Cafe merupakan salah satu restoran favorit saya, hanya karena saya suka banget dengan Hong Kong milk tea di sini. Saya belum pernah menemukan rasa milk tea seperti itu. Bahkan saya mencoba beli Hong Kong milk tea kemasan keluaran Lipton saat ke Singapura, blah, rasanya jauh banget.

Jadi satu-satunya Hong Kong milk tea yang saya suka (hingga saat ini) hanya di Hong Kong Cafe… plus, saya juga suka banget sama Chicken Chopped Tomato Baked Rice-nya. Daging ayam lembut dan bagian kulit yang garing, ditambah nasi bakar yang gurih bercampur keju bakar–NYAM!

Earl Grey milk tea

Earl Grey Ice Milk Tea at Pancious Pancake, Jakarta

 

Sebenarnya menu Earl Grey milk tea di Pancious sudah ada sejak tahun lalu (atau dua tahun lalu, saya juga kurang tahu, hehe). Tapi saya baru berkesempatan mencoba beberapa minggu yang lalu.

Penyajiannya unik, karena ada dua gelas kecil dan satu pitcher besar di atas nampan kayu. Jadi porsinya bisa buat berdua, nih. Di dalam gelas kecilnya ada potongan es batu yang tampaknya merupakan teh susu yang dibekukan.

Rasanya enak banget. Legit susu dan rasa teh Earl Grey berpadu sempurna. Teh Earl Grey sendiri merupakan perpaduan antara teh hitam dengan bergamot. Saya pernah mencoba teh celup Earl Grey, tapi rasa citrusnya terlalu kuat. Nah, Earl Grey di Pancious ini benar-benar pas rasanya.

Teh tarik

Kalau teh yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi. Teh tarik merupakan salah satu teh khas Malaysia, yang cara pembuatannya ‘ditarik-tarik’ (haha.. penjelasan yang aneh ya). Intinya pencampuran teh dan susunya itu cukup unik, sehingga hasilnya ada sedikit buih di atas teh.

Rasanya pun legit. Sayangnya, di sini banyak teh tarik yang rasanya terlalu manis. Salah satu teh tarik yang saya suka ada di Tjap Toean, karena rasanya tidak terlalu manis, pas, dan rasa susu sekaligus tehnya terasa.

Teh susu kemasan

Terakhir, saya masukkan juga teh susu instan atau teh susu kemasan yang menjadi favorit saya. Nu milk tea merupakan teh susu dalam botol yang saya suka, karena rasa manisnya pas. Sedangkan untuk teh instan dalam bentuk bubuk, saya suka merek Chek Hup. Teh tarik instan ini bisa disajikan panas dan dingin. Jika ingin dingin, tinggal tambahkan batu es saja.

Oh.. There’s Just So Many Great Music

Entah kenapa para penyanyi dan musisi ini hampir bersamaan mengeluarkan album baru. Well, sebenarnya album-album ini sudah dirilis sejak beberapa bulan lalu (which is.. tahun lalu) dan saya kebetulan sudah mendengarkannya berulang kali.

Ini adalah 11 album yang menurut saya wajib punya.. Dan sampai saat ini masih saya dengarkan terus-menerus.

Lana Del Rey – Born to Die (The Paradise Edition)
Lana Del Rey Paradise Edition
Ini adalah album repackage menyusul album debutnya yang sukses, setelah dirilis pada Januari 2012. Seperti biasa, lagu-lagu Lana selalu bernuansa gloomy dan tak bisa langsung jatuh cinta jika baru sekali didengarkan. Menurut saya, semua lagu baru di album ini bagus semua. Tapi favorit saya, Ride, Cola, dan Gods & Monsters.

No Doubt – Push and Shove
no-doubt-push-and-shove-artwork
Gila.. Perlu perlu waktu 11 tahun menunggu album ini. Jatuh cinta sama No Doubt sejak album Tragic Kingdom dan semua albumnya saya punya. Bahkan proyek solo Gwen Stefani pun saya suka. Di album ini, saya suka banget karena No Doubt masih memasukkan unsur musik reggae dan ska–seperti di awal-awal album mereka–tanpa terkesan berlebihan. Lagu favorit saya, Looking Hot dan Push and Shove.

Rihanna – Unapologetic
Rihanna - Unapologetic (Deluxe Version)
Awalnya, saya merasa tidak tertarik dengan album Rihanna ini. Habisnya, dia selalu mengeluarkan album setiap tahunnya, hingga saya mempertanyakan apakah benar yang ini akan sebagus yang sebelumnya. Selain Good Girl Gone Bad, album Rihanna yang saya bilang bagus adalah Loud. Tapi ternyata album barunya ini punya kekuatan di single pertamanya Diamonds, yang ternyata ditulis oleh Sia (penyanyi yang beberapa kali duet bareng David Guetta di lagu Titanium dan She Wolf).

Alicia Keys – Girl On Fire
Alicia Keys Girl On Fire
Yay! One of my favorite female singer akhirnya merilis album baru. Di album ini, menurut saya warna musik Alicia Keys tetap konsisten dengan album-album terdahulu. Musiknya selalu diwarnai unsur blues dan soul, liriknya pun tetap kuat. Selain lagu Girl On Fire, saya juga suka lagu Tears Always Win.

Usher – Looking 4 Myself
Usher Looking 4 Myself
Banyak lagu bagus di album ini, tidak hanya yang bertempo cepat tapi juga lagu-lagu ballad. Senangnya, Usher masih mempertahankan musik R&B, walaupun ada juga beberapa musik yang mulai beraliran dance–jenis musik yang sepertinya lagi diminati saat ini. Lagu favorit saya, Scream, Dive, dan Twisted (featuring Pharrell Williams).

Pink – The Truth About Love
Pink The Truth About Love
Saya masih ingat dulu pertama kali suka dengan Pink karena lagu There You Go, yang sangat R&B. Tapi makin ke sini, Pink memasukkan gaya bermusiknya sendiri dan tidak ikut-ikutan tren. Di album ini saya suka banget sama lagu Try, yang punya kekuatan di lirik. Seperti biasa, lirik di lagu-lagu Pink selalu sedikit ‘nyeleneh’ dan sentuhan musik rock juga ada di album ini.

Ke$ha – Warrior
Kesha Warrior
Meski katanya album ini tidak selaris album pertama dan lagu Die Young ditarik dari radio-radio sejak tragedi penembakan di Sekolah Sandy Hook, saya tetap suka dengan album ini. Ke$ha, menurut saya, masih bisa menghasilkan lagu dengan musik dance yang enerjik, mudah diingat, tapi tidak bosan didengarkan. Selain Die Young, lagu favorit saya adalah Crazy Kids.

The Script – #3
the-script-3
Percaya atau tidak, lagu dengan lirik mellow itu sangat menjual. Seperti The Script yang nggak bosan-bosannya mengambil tema patah hati dan sebagainya. Mungkin karena didukung sama musik yang sama bagusnya, mereka selalu berhasil. Di album ini saya suka banget lagu Six Degrees of Separation, If You Could See Me Now, Broken Arrow, well mungkin semuanya.. haha.

Bruno Mars – Unorthodox Jukebox
Bruno Mars Unorthodox Jukebox
Nah, ini dia nih albumnya yang katanya campur-campur. Tapi memang benar, kok! Karena Bruno Mars bilang dirinya tidak mau dikotak-kotakkan ke dalam satu genre musik, makanya dia bikin album dengan nuansa musik R&B, jazz, blues, soul, dan reggae. Selain lagu Locked Out of Heaven yang seru banget, lagu Young Girls dan When I Was Your Man yang ballad juga enak didengar.

Kelly Clarkson – Greatest Hits Chapter One
Kelly Clarkson Greatest Hits Chapter One
Menurut saya, Kelly Clarkson is the best American Idol winner ever! Saya suka banget album terakhirnya, Stronger, yang akhirnya membuat dia kembali terkenal. Karena sepertinya, beberapa album setelah Breakaway sedikit melempem. Di album Greatest Hits ini, sudah pasti berisi lagu-lagu andalannya, seperti Miss Independent, Since U Been Gone, dan lainnya. Tapi lagu baru Catch My Breath juga tidak kalah dengan lagu hits lainnya.

Linkin Park – Living Things

Linkin Park - Living Things

Oh my God! I almost forgot one of my favorite band. Yup.. Linkin Park sebenarnya merilis album ini sejak Juni 2012 dan saya sudah mendengar single pertamanya Burn It Down sejak April. Hmm.. menurut saya biasa saja, sih, tapi mulai jatuh cinta sejak dengar single Lost In The Echo. Setelah mendengar satu album, I love all the songs! Favorit saya lainnya, Castle of Glass, Roads Untraveled, Skin to Bone, In My Remains, Powerless, dan semuanya.. haha. This one is very recommended album, bahkan menurut saya lebih bagus dari album sebelumnya, A Thousand Suns.

How Can I Begin Again?

I guess this song pretty much saying about what I’m feeling right now.. A really beautiful song from Regina Spektor, and a really really beautiful music video. She looks absolutely gorgeous!

“How”

How can I forget you love?
How can I never see you again?
There is a time and place
For one more sweet embrace
And there is time, ooh
when it all, ooh
Went wrong
I guess you know by now
That we will meet again somehow

Oh baby
How can I begin again?
How can I try to love someone new?
Someone who isn’t you
How can our love be true?
When I’m not, ooh
I’m not over you

I guess you know by now
That we will meet again somehow

Time can come and take away the pain
But I just want my memories to remain
To hear your voice
To see your face
There’s not one moment I’d erase
You are a guest here now

So baby
How can I forget your love?
How can I never see you again?
How can I ever know why some stay and others go?
When I don’t, ooh
I don’t want you to go

I guess I know by now
That we will meet again somehow

Time can come and wash away the pain
But I just want my mind to stay the same
To hear your voice
To see your face
There’s not one moment I’d erase
You are a guest here now

So baby
How can I forget your love?
How can I never see you again?

– Regina Spektor