First Time Vlogging

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencoba vlogging (video blogging), gara-gara terinspirasi dari banyak vlogger saat ini. Saya mungkin nggak bisa mendapatkan follower sebanyak mereka, tapi saya melihat vlogging ini layaknya sebuah diary dalam bentuk video.

Akhirnya setelah mendapatkan kamera baru dari suami (very very early birthday present..hehe), saya pun membulatkan tekad untuk memulai vlogging. Apalagi rasanya sayang kalau tinggal tiga tahun di Wina dan memiliki kesempatan untuk menjelajah beberapa kota lainnya di Eropa, tapi tidak saya abadikan lewat video.

Untuk vlog pertama, saya lakukan akhir pekan lalu saat kami (saya, suami, dan si anak kesayangan) bermain-main ke Stadtpark, sebuah taman kota di Wina. Ternyata mengedit video seru juga dan saya benar-benar baru belajar kemarin. Memang, sih, terlihat masih sedikit amatir, but I know practice makes perfect! Jadi semoga nantinya saya bisa lebih sering latihan dan bikin vlog.

Berikut ini vlog pertama saya 😀

Moving to Vienna

Hello again… Sudah beberapa minggu tidak update dan tidak menulis tentang lipstik (hehe). Itu karena saya sedang mengalami banyak hal, salah satunya: Pindahan!

Akhirnya, saya ngerasain juga, deh, yang namanya jadi istri diplomat. Akhir Agustus kemarin saya resmi pindah ke Wina alias Vienna alias Wien di Austria. (Kenapa saya nulisnya begitu, karena ada juga beberapa orang yang nggak tau Wina tuh di mana, taunya Vienna 😄).

Pada akhir bulan Juli lalu, saya resign dari pekerjaan. Sedih karena nggak punya penghasilan, tapi excited juga karena saya ingin merasakan kerja freelance. Iya, uangnya nggak seberapa, tapi saya lagi jenuh juga dengan pekerjaan di kantor. Mungkin nanti setelah tiga tahun, saya mau coba kerja kantoran lagi.

Kota Wina ini merupakan tempat posting atau penempatan pertama Yudo sebagai diplomat muda (walaupun umur, sih, nggak muda-muda amat). Nah, para istri diplomat ini bakal jadi Dharma Wanita. Tugasnya juga nggak ringan, karena setiap perwakilan punya acara sendiri-sendiri yang juga akan diurus para ibu-ibu itu.

Pandangan saya, sih, awalnya soal ibu-ibu itu mereka pasti jago masak, jago dandan, jago sanggulan, sementara saya nggak bisa semuanya. Mudah-mudahan saja saya bisa belajar semuanya. Menurut saya mereka adalah ibu-ibu hebat yang bisa mengatur semuanya. Bayangkan saja di luar negeri, tanpa bantuan dari ART, ngurus anak, ngurus keluarga, masih juga harus ngurus acara-acara lainnya. Makanya saya suka agak kesal kalau ada orang yang mencap ibu-ibu Dharma Wanita kerjanya cuma gosip doang atau nggak ada kerjanya. Sama saja seperti orang yang menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga, padahal kerja mereka itu 24/7 nonstop tanpa digaji pula.

Makanya, ketika tahu saya akan jobless (kerja freelance pasti bakal beda sama kerja kantoran) dan saya harus mengurus rumah sendirian, saya agak deg-degan juga. Di Jakarta, saya terima beres semua. Makanan ada, rumah ada yang ngerapiin, sementara di sini saya benar-benar harus belajar mandiri.

Sebelum berangkat pun niat mau belajar bahasa Jerman gagal, belajar dandan gagal, sampai belajar masak juga gagal (haha!). Ini mah alamat belajar dari nol banget. Tapi kalau dipikir-pikir kalau saya nggak kayak gini, bakal susah belajar mandiri.

Kakak saya saja bisa, kok, hidup di luar negeri dengan tiga anak tanpa bantuan ART. Dia kerja part time, sedangkan suaminya kerja full time. Semuanya bisa dia jalani dengan baik, jadi semoga saja saya bisa.

Penempatan di Wina ini akan berlangsung selama tiga tahun, setelah itu saya, Yudo, dan Alanna akan kembali tinggal di Jakarta hingga menunggu penempatan berikutnya. Nah, biasanya akan ada lagi tantangan-tantangan baru. Kalau sekarang saya repot beradaptasi, belajar ini-itu, nanti saya akan direpotkan dengan sekolah anak. Sama seperti Yudo yang juga anak diplomat, Alanna pastinya akan pindah-pindah sekolah. Sudah punya teman, nanti harus pisah lagi. Belum lagi kalau kurikulum sekolahnya beda. Tapi yang nanti dipikirkan nanti saja..hehe.

Baiklah.. Sekarang saya harus siap-siap beradaptasi di tempat baru. Harus mulai menata apartemen, ngepel, nyuci, nyetrika, hadehhhh.. Wish me luck!

Jalan-jalan bareng Alanna
Resepsi diplomatik di KBRI Wina (untung ada yang mau bantuin saya sanggulan, hehe)

When My Teteh and Her Kids Visited Indonesia

Kayaknya waktu cepat banget berlalunya, sementara banyak banget yang harus dikerjakan. Selama sebulan terakhir ini, saya memang kurang update dengan blog.

Well, here’s what happened in the last month..

Kakak perempuan saya yang tinggal di New Jersey datang membawa tiga anaknya (yippee!!). Ini merupakan pertama kalinya dia datang ke Jakarta setelah lebih dari 10 tahun tinggal di sana. Anak-anaknya semua lahir di US, jadi mereka belum pernah tahu soal Jakarta.

Pharrell, merupakan anak Teteh yang paling gede. Komentar dia ketika datang ke Jakarta adalah..

“Houses in Jakarta are fancy! They have a small lake in front of their house..”

“Lake apa? Got kali..”

“Apa itu got?”

“Some kind of sewer..”

“Ewww..”

Felycia a.k.a Thatha, anak kedua Teteh yang usianya 6 tahun. Setiap kali dibilang, “Thatha cantik sekali”, dia akan jawab, “I know”..

Suatu kali dia melihat cicak di rumah dan tanggapannya adalah, “Oh my God, there’s an alligator inside the house!!” (Totally a drama queen.. Hehe)

Fahrany a.k.a BeeBee a.k.a Bibo adalah anak yang paling kecil dan yang bahasa Indonesianya paling tidak lancar

“Beebee kan sudah besar, sudah umur 5 sekarang.”

“No, I’m five”

“Iya lima”

“No, five”

“Iya.. Five itu artinya lima”

“Beebee nggak bisa bahasa Indonusa” (hehe bahkan Indonesia saja dibilangnya Indonusa)

Liburan mereka berlangsung selama lima minggu di Indonesia, tapi lima minggu itu rasanya cepat sekali berlalunya. Tiba-tiba saja rumah yang tadinya terasa ramai, harus kembali terasa sepi. Setelahnya saya pun disibukkan dengan segala persiapan pindahan (iya.. Saya akan pindah jauh dan ceritanya dilanjutkan di blog post berikutnya).

Terakhir ketemu mereka di New Jersey, mereka masih anak-anak, saya belum menikah, dan belum memiliki Alanna. Sekarang mereka sudah semakin besar dan waktu cepat banget berlalunya.

I’m gonna miss them so much.. Apalagi mereka adalah anak-anak yang sangat baik. Semoga kita bisa bertemu lagi yaa.. Dan main-main bareng sama baby Alanna (yang mungkin nanti sudah tidak baby lagi).

nini-dan-cucu
Nini dan enam cucunya
Me and Teteh and the kids
at De Ranch, Lembang
with my Teteh

MPASI… Oh.. MPASI

Sejujurnya, saya pengen banget seperti ibu-ibu hits di media sosial yang sering berbagi seputar menu MPASI (makanan pendamping ASI) anaknya. Dari mulai mencampurkan beragam jenis makanan sehat, trik memasak, hingga menceritakan betapa anaknya doyan banget makanan yang dia buat.

Sayangnya, saya punya berbagai masalah soal MPASI ini. Saya tahu, sih, banyak juga ibu-ibu yang punya masalah seputar memberikan MPASI pada anaknya. Jadi saya tahu saya tak sendirian. Hanya saja, kadang saya merasa terintimidasi jika melihat ibu-ibu lain sukses memberikan MPASI, sementara saya, kok, rasanya susah banget.

Oke, saya cerita dari awal MPASI Alanna. Setelah enam bulan lulus ASI eksklusif, saya mulai mencoba memberikan makanan. Awalnya, bubur beras yang disaring, jadi halus banget dan dicampur sama ASI. Pertama kali dikasih, lahap banget, sehingga membuat saya besar hati. Tapi besok-besoknya seperti melempem..dan GTM (alias Gerakan Tutup Mulut) pun dimulai.

Tidak terasa beberapa minggu lewat dan saat ditimbang, berat Alanna hanya naik 100 gram. Padahal saat masih ASI eksklusif per bulannya berat Alanna bisa naik 800 hingga 1000 gram. Saat itu, dokter menyarankan untuk mulai memberikan protein pada Alanna, yaitu ayam dan ikan, jadi jangan hanya bubur beras dan buah.

Sebulan berikutnya, berat Alanna cuma naik 200 gram (hiks!). Memberikan MPASI untuk Alanna juga perjuangan banget. Mulai dari disuapin pakai tangan, gonta-ganti sendok, dipangku, didudukin di kursinya, diubah menunya, bikin makanan fresh setiap hari, dan masih banyak lagi. Setelah tiga bulan memberikan MPASI, rasanya nafsu makan Alanna masih naik turun. Kalau saya berhasil memberinya makan cukup banyak, rasanya lega banget. Namun jika tidak, huhu, rasanya ingin menangis di pojokan.

Saya kemudian jadi banyak berpikir. “Apa jangan-jangan cara saya memperkenalkan MPASI pertama kali salah ya?”, “Apa makanan yang saya buat nggak enak ya?” (memang saya nggak jago bisa masak, sih), “Apa Alanna menjadi picky eater?”.

Namun kalau dilihat sejarah saya waktu kecil dulu, ibu saya juga bilang saya itu anak yang susah banget makannya. Sampai duduk di bangku SD saja, saya makannya diemut terus, sampai ibu saya kesal.. (ya, kan saya juga nggak tahu kenapa dulu nggak doyan makan, hehe).

Sekarang setelah memasuki usia 8 bulan +, Alanna saya kasih makan dengan menu campur-campur. Dimulai dari sarapan sereal atau bubur susu dan buah, sedangkan siang dan malam menunya sama (biasanya nasi, sayur, protein hewani, dan kadang-kadang protein nabati). Saya berikan juga unsalted butter untuk menambah rasa makanan, karena siapa juga yang akan suka makanan tak ada rasanya sama sekali. Kadang saya tambahkan pula tumisan bawang putih atau bisa juga garlic powder untuk menambah rasa sekaligus aroma. Tapi ya, tetap saja, keinginannya untuk makan masih naik-turun, tergantung mood si putri kesayangan yang satu itu.. hehe.

Kalau ditanya, “Apa sih makanan kesukaan Alanna?”, saya sendiri tidak tahu. Satu hari dia bisa lahap banget makan puree buah pir, besoknya bosan. Makan butternut pumpkin squash juga kadang lahap banget, besoknya biasa saja. Waktu itu pernah makan salmon, suka banget, eh.. pas minggu depannya malah nangis-nangis nggak mau makan.

Walaupun begitu, saya nggak pernah menyerah, kok. Apalagi, so far Alanna tidak punya alergi apa pun. Hanya waktu itu pernah dikasih pisang sedikit, pup-nya langsung keras. Jadi biasanya pisang saya gabungkan dengan pepaya atau pir, yang merupakan buah anti-sembelit. Anehnya juga, Alanna kayaknya nggak suka tomat, deh. Setiap kali makanannya saya campur dengan tomat (bahkan sedikit banget), dia langsung nggak mau makan dan akhirnya mewek.

alanna-makan
Awal-awal Alanna mencicipi MPASI, pipi masih gembil…

Untuk sekadar sharing, ini beberapa bahan makanan yang sudah pernah dicoba untuk Alanna. Boleh kalau ada yang mau sharing atau kasih masukan, bahan makanan apa lagi ya yang bisa saya coba..

  • Beras putih
  • Beras merah
  • Kentang
  • Ubi Jepang
  • Quinoa
  • Jagung
  • Butternut Pumpkin Squash
  • Kabocha
  • Tomat (nggak suka)
  • Brokoli
  • Wortel
  • Bayam hijau
  • Bayam merah
  • Bok Choy
  • Buncis
  • Kapri manis
  • Tahu
  • Kacang polong
  • Pepaya
  • Pisang (jarang dikasih, karena pupnya jadi keras)
  • Pir (Packham)
  • Apel (Royal Gala)
  • Alpukat (nggak suka, mukanya langsung eneg kayak mau muntah, padahal menurut saya alpukatnya enak banget)
  • Daging sapi
  • Daging ayam
  • Ikan kakap
  • Ikan salmon
  • Telur ayam kampung (baru kuningnya saja)

Pelengkap:

  • Unsalted butter
  • Extra virgin olive oil (kadang dicampur langsung ke makanan, kadang jadi minyak untuk menumis bawang putih)
  • Bawang putih
  • Garlic powder
  • Cinnamon powder
  • Keju

Untuk masak, saya biasanya menggunakan slow cooker. Awalnya saya pakai slow cooker merek Takahi ukuran 0,7 liter. Ukuran ini memang paling ideal sih buat bikin MPASI, karena bisa dipakai untuk membuat makanan dalam porsi sedikit. Tapi kemudian slow cooker-nya rusak (hiks), jadi sekarang saya pakai yang ukuran 1,2 liter dengan harapan slow cooker ini bisa dipakai untuk masak menu makanan lainnya, bukan cuma MPASI (harapannya begitu).

Saya juga pakai Natural Steam Cooker dari Chicco, yang bisa untuk mengukus makanan sekaligus menggiling makanan, jadi steamer plus blender. Untungnya, perangkat ini saya dapat sebagai hadiah dari teman Yudo dan memang sangat berguna. Sampai sekarang saya masih mem-blender makanan Alanna, tapi teksturnya mulai agak kasar dan tidak disaring lagi.

Selain makanan yang dibuat sendiri, Alanna juga suka banget sama camilan kemasan berbentuk teething rusk (yang sering saya bilang kerupuknya Alanna). Gaya makannya memang kayak orang dewasa, makan bubur nggak enak kalau nggak pakai kerupuk. Jadi kalau Alanna mulai GTM, biasanya dipancing pakai ‘kerupuk’ itu, deh. Merek teething rusk yang pernah saya coba, di antaranya Yummy Bites, Bebenice, dan Baby Choice. Sekarang saya juga kasih camilan Gerber Graduates Puffs, karena dia memang senang banget yang bisa digigit-gigit.

Oke, segitu dulu sharing seputar MPASI Alanna. Silakan masukannya, ya, soal MPASI, baik soal pilihan menu, mengatasi GTM, dan jumlah atau porsi makanan yang pas itu seperti apa ya? Saya masih harus banyak belajar, nih…

Featured image source: here.

 

 

 

Alanna’s First Lebaran

Minal aidin wal faidzin! Mohon maaf lahir dan batin… Semoga belum terlalu telat yaaa buat maaf-maafan, hehe.

img_2481-1

Suasana Lebaran mungkin sudah lewat. Post holiday syndrome juga mungkin perlahan-lahan sudah hilang. Makanya sebelum ceritanya keburu basi, saya mau cerita sedikit soal Lebaran kemarin.

Lebaran bagi saya merupakan waktu berkumpul bersama keluarga. Saat masih kecil dulu, tradisi keluarga saya adalah pergi ke Cimahi untuk merayakan Lebaran di rumah Abah (kakek saya). Namun beliau meninggal pada tahun 1999, sehingga tradisi itu berganti jadi pergi ke rumah Uwa saya (kakak tertua mama) yang ada di Jakarta dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah saya.

Lalu, Ayah saya meninggal pada 2001. Kakak perempuan saya pindah ke Amerika pada 2006. Akhirnya suasana Lebaran menjadi sepi. Biasanya hanya dirayakan berdua dengan Mama saya, kadang dengan saudara jauh. Kebetulan dari keluarga Ayah tidak ada yang muslim, jadi kami memang tidak memiliki tradisi mengunjungi mereka saat Lebaran (sebagian besar keluarga pun sebenarnya tidak tinggal di Indonesia).

Jujur saya kangen dengan suasana Lebaran di daerah (bukan Jakarta), tapi di sisi lain saya juga menikmati Jakarta yang lengang saat Lebaran.

Setelah menikah dengan Yudo, baru deh saya merasakan lagi yang namanya mudik dan ber-Lebaran bersama keluarga. Ibu-Bapak Yudo datang dari keluarga yang cukup besar. Nenek Yudo sekarang tinggal di Bandung dan biasanya tiap tahun semua keluarga (mulai dari anak, menantu, cucu, dan cicit) berkumpul di situ.

Tahun lalu merupakan pertama kalinya saya merasakan mudik setelah kurang lebih 15 tahun Lebaran di Jakarta. Saya sempat agak was-was dengan arus mudik yang macet di mana-mana. Saya kala itu sedang hamil 6 bulan dan sangat sangat beser…hehe. Jadi yang saya takutkan adalah jika kebelet pipis di jalan saat macet. Untungnya, saya malah nggak ketemu macet.

Keluarga Yudo juga mempertahankan tradisi saat Lebaran. Mulai dari Sholat Ied bareng, sungkeman, pertemuan dengan keluarga besar di gedung (iyaa.. Jumlahnya ratusan ternyata), hingga ngasih salam tempel untuk anak-anak yang belum bekerja.

Nah, karena tahun lalu Hari Lebaran pertama saya habiskan di Bandung, pada tahun ini gantian hari pertamanya di Jakarta di rumah mama saya. Kemudian pada malamnya, kita meluncur ke Bandung.

Kalau tahun lalu saya khawatir beser, pada tahun ini saya bawa bayi yang juga bikin saya khawatir. Bagaimana kalau nanti dia rewel? Bagaimana kalau nanti dia pup di jalan? Dan yang paling repot to the max adalah barang bawaan saya (hahaha).

Alanna sudah mulai makan, jadi deh saya bawa segala macam perlengkapan memasak. Memang ibu-ibu rempong banget deh. Mungkin ibu-ibu lain lebih pintar soal menyiapkan makanan, kalau saya sampai Alanna mau masuk 9 bulan ini rasanya kok belum cerdas juga, ya.. (Maafkan mamamu Alanna, tapi mama masih terus belajar kok via internet dan nonton video tutorial di YouTube :D)

Selama libur Lebaran di Bandung kekhawatiran saya tidak terbukti. Alanna baik-baik saja sepanjang perjalanan (dari Jakarta dan balik dari Bandung ke Jakarta), dia malah tidur dengan nyaman di carseat. Selama di Bandung, makannya juga cukup bagus, apalagi karena banyak yang mengerumuni dia (kayaknya Alanna memang senang jadi pusat perhatian). Dia juga menikmati digendong-gendong dari satu Eyang ke Eyang yang lainnya.

Alanna juga terlihat senang saat dapat banyak amplop berisi uang (haha..). Kayaknya itu karena dia senang sama kertas-kertas berwarna. Untung saja nggak dia makan. Jadi kesimpulannya, memang sebenarnya yang paling repot itu saya, karena harus bikin makanan segar setiap hari (akibat kulkas di rumah Bandung full terus). Belum lagi saya harus packing barang-barang yang banyak banget (fyi saja, sudah packing ribet-ribet, saya dan Yudo malah kelupaan bawa popok Alanna..hehe). Mungkin setelah ini, saya harus belajar untuk packing yang lebih ringkas, apalagi untuk jalan-jalan sama bayi.

Alanna hitung uang
Uangnya bisa buat beli berapa lipstik yaaa? hahaha

Begitulah cerita Lebaran pertama Alanna. Saya berharap Lebaran-Lebaran berikutnya juga bisa dia nikmati. Saya ingin dia merasakan hangatnya kebersamaan dengan keluarga dan tradisi saat Hari Raya. Saya mungkin cuma merasakannya sebentar waktu dulu, jadi saya berharap Alanna bisa merasakannya hingga dia dewasa nanti dan berkeluarga, kemudian meneruskannya ke anak-anak. Karena itulah makna Lebaran bagi saya, menikmatinya bersama keluarga.

The Joy of Breastfeeding

The Joy of Breastfeeding… Saya kerap melihat kalimat itu di berbagai produk yang memang diperuntukkan bagi para ibu. Saya juga sering mendengar para ibu yang bercerita, indahnya menyusui anaknya, tapi pada saat itu saya tak bisa membayangkan rasanya seperti apa.

Di awal-awal menyusui saja saya sempat berpikir, “Di mana letak joy-nya, sih? Orang sakit begini.” Namun setelah melewati beberapa minggu dan akhirnya melewati dua bulan, baru deh saya merasakannya. Di awal menyusui, saya sempat merasa ketakutan saat akan menyusui, karena selalu merasa sakit. Tapi, ya, saya paksakan juga (meski lecet) karena begitu melihat bagaimana Alanna menyusu, saya jadi trenyuh.

Kasihan ya bayi ini, begitu tergantung pada saya. Kalau saya menolak, dia hanya bisa menangis. Huhu, saya jadi kebayang anak-anak bayi yang dibuang begitu saja oleh orangtuanya, kok tega ya..

Di minggu-minggu pertama, bayi juga lebih sering menangis. Mungkin karena memang cuma itu yang bisa dia lakukan. Saya pada awalnya malah merasa tidak bisa menenangkan Alanna. Habisnya, setiap saya gendong dia pasti nangis terus. Beda saat dia gendong oleh ibu saya atau Yudo. Sampai pernah satu saat Alanna menangis saat saya gendong, saya bisikkan saja ke telinga dia, “Hei, ini mama kamu, yang perutnya kamu tempatin selama 9 bulan, bukan nini, bukan eyang, bukan bapak.” Entah dia mengerti atau nggak, tapi akhirnya nggak nangis lagi, sih, hehe..

Setelah lewat dari sebulan, ketika berat badan Alanna sudah melebihi berat badan dia saat lahir, baru deh saya bisa agak sedikit santai (sedikit saja). Setidaknya, saya nggak harus bangun tengah malam lagi, karena Alanna sudah mulai panjang tidurnya saat malam. Akhirnya mulai terprogram, deh, jam tidur dia. Mulai ngantuk setiap jam 8 atau setengah 9 malam, sekali nyusu, terus langsung tidur.

Saya juga mengajarkan dia kalau malam itu waktunya tidur. Makanya saat menyusu terakhir di malam hari, saya matikan saja lampu di kamar dan pasang lampu tidur, supaya dia tahu itu saat tidurnya dia. Kemudian saat mulai terang, sekitar pukul 6 pagi, adalah saatnya dia bangun. Memang, sih, kadang dia suka kebangun pas malam (mungkin mimpi atau apa), tapi nggak lama langsung tidur lagi.

Soal menyusu, sekarang pun saya lebih percaya diri, bahkan jika harus menyusui di depan umum (ya pakai nursing cover tentunya). Malah kadang-kadang, saya yang merasa lebih tergantung untuk menyusui Alanna secara langsung. Walaupun sudah dipompa, saya merasa lebih enak jika menyusui langsung.

Sebelum kembali kerja, saya juga mulai mengajarkan Alanna untuk minum pakai botol susu. Ada yang bilang, nanti “bingung puting” lho.. tapi Alhamdulillah, itu tidak terjadi pada Alanna. Kalau kata sepupu saya yang bayinya hanya dua bulan lebih tua dari Alanna, “Yang penting kita pede, kalau anak kita nggak akan bingung puting. Pasti bisa, kok.”

Beberapa waktu yang lalu, saya juga sempat bertemu dengan salah seorang teman yang anaknya berusia 1,5 tahun. Dia bercerita, setelah satu tahun, anaknya mulai dikasih susu lain selain ASI. Eh tiba-tiba saja dia jadi nggak mau nyusu lagi. Memang, sih, jadinya nggak sulit menyapih, tapi dia mengaku jadi sedih. “Kok dia nggak mau nyusu lagi ya, malah aku yang sedih,” begitu katanya.

Saya jadi kebayang, jangan-jangan nanti pas mau disapih malah saya yang kesulitan (alias nggak rela) bukan Alanna.

Sekarang Alanna sudah masuk usia lima bulan dan sebentar lagi dia akan mulai makan. Tanda-tandanya sudah mulai kelihatan. Dia sudah mulai melototin saya kalau saya lagi makan dan kadang mulutnya kayak ngunyah-ngunyah (padahal cuma lidahnya yang dikunyah).

Beneran, deh, sekarang saya baru ngerasain betapa menyenangkannya menjadi seorang ibu, betapa bahagianya, betapa indahnya. Mama saya suka komentar, “Ih, anak manja sekarang punya anak.” Saya hanya ketawa sambil mikir, “Iya, sekarang malah ada anak kecil yang manja sama saya.”

Semoga sehat selalu ya, Alanna… Jadi anak yang baik dan sayang orangtuanya.

alanna-me-2

My Wish for 2016

OMG… It’s already February! Biasanya saya selalu me-review ulang berbagai momen saya di tahun sebelumnya begitu memasuki tahun baru. Tapi yaa.. Sepertinya saya masih kesulitan untuk meluangkan waktu menulis blog, padahal banyak banget ide tulisan, terutama review seputar beauty products.

Karena ini tulisan pertama di tahun 2016, jadi saya mau flashback sedikit tentang momen terbaik pada tahun 2015 lalu. Sepertinya highlight tahun lalu bagi saya cuma dua, yaitu pergi jalan-jalan ke Eropa (akhirnya bisa foto di depan Eiffel) dan memiliki Alanna.

Tahun ini, harapan saya cuma satu. Saya ingin Alanna bisa tumbuh sehat dan bahagia. Soal karir, sepertinya saya tidak mau muluk-muluk. Saya tentunya masih ingin bekerja, baik itu kantoran maupun freelance, tapi soal karir sepertinya saya kesampingkan dulu. Bukannya apa-apa, saya melihat di tempat saya kerja saat ini, tidak ada jenjang karir untuk saya. Jangankan naik jabatan, saya saja melihat ada atasan saya yang turun jabatan.

Saya tidak mau bicara panjang lebar soal pekerjaan, karena lagi-lagi fokus saya saat ini hanya Alanna. Saya mungkin tidak cerita di tulisan sebelumnya, tapi Alanna lahir dengan kelainan bawaan yang dokter bilang sebagai “defect” di bagian kepalanya. Saat lahir, Alanna memiliki benjolan kecil berwarna keabu-abuan di kepalanya. Sekarang agak membesar, tapi kalau sekilas mungkin tidak kelihatan.

Bayangkan saja, sehari setelah melahirkan Alanna, dokter menyarankan USG kepala. Hari keduanya, dokter mengatakan Alanna sebaiknya di-MRI untuk melihat lebih lanjut. Namun akhirnya MRI itu baru dikerjakan saat usianya 3 bulan, karena dokter melihat kondisi Alanna saat itu baik dan sehat, sehingga dia merasa MRI bukan sesuatu yang urgent.

Saat Alanna mau MRI saja, pada bulan Januari kemarin, saya panik dan stressnya bukan main. Biasanya anak kecil atau bayi yang akan di-MRI harus dibius karena kepalanya tidak boleh gerak sama sekali. Namun untungnya dokter mencoba pakai obat penenang yang bisa membantu dia tidur lebih nyenyak. Alhamdulillah cara itu berhasil, karena kalau sampai Alanna harus dianestesi saya nggak bakal tega.

Setelah MRI, dokter melihat kondisi kepala Alanna sebagai Meningokel Posterior, tapi ukurannya kecil sehingga tidak perlu tindakan segera. Dia hanya perlu diobservasi dan usia setahun harus di CT scan untuk dilihat perkembangannya. Saya tidak akan menjelaskan secara detail apa itu meningokel, karena saya juga tidak terlalu paham. Yang pasti di bagian tulang kepalanya tidak sempurna, seperti ada rongga. Kelainan seperti ini katanya biasa dimiliki bayi, tapi karena lokasinya di kepala jadi saya harus ekstra hati-hati dan waspada. Sekarang pun saya harus memeriksakan Alanna lagi ke dokter spesialis anak hematologi, karena ada dugaan hemangioma di bagian kepalanya. Apa pula itu? Sejujurnya istilah-istilah itu baru sekali ini saya dengar. Kalau cari-cari di internet malah jadi takut sendiri, jadi lebih baik saya memang bertanya langsung ke dokter.

Jadi.. Doa dan harapan saya tahun ini hanya untuk Alanna. Semoga dia selalu diberi kesehatan. Semoga saya dan Yudo pun selalu diberi kesehatan, ketabahan, dan kesabaran. Bagaimanapun ini menjadi cobaan pertama kita sebagai orangtua. Saya juga sadar setiap orangtua tentunya selalu dihadapkan oleh berbagai permasalahan anak. Bismillah.. Semoga kita bisa melalui setiap masalah dengan baik.

Selamat datang 2016.. Let’s create some more beautiful memories. 

My 2015