Trip to Slovenia

Pada awal Oktober lalu, saya, suami, anak, dan ibu saya pergi berjalan-jalan ke Slovenia. Awalnya kami ke Budapest, Hongaria, terlebih dulu, baru kemudian kami bergerak menuju Ljubljana, Ibu Kota Slovenia.

IMG_7295.jpg
Sungai Ljubljanica

Sebelum pindah ke Austria, saya sebenarnya belum pernah mendengar Kota Ljubljana, tapi ternyata kota kecil ini juga merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Kota Ljubljana memang tidak tergolong besar, namun banyak spot menarik dan kotanya nyaman banget.

old town ljubljana
Old Town Ljubljana

Satu hal yang menarik bagi saya adalah, kota ini sangat memperhatikan kebersihan. Di sudut-sudut kota terdapat tempat sampah yang dibeda-bedakan berdasarkan kategorinya (tempat sampahnya pun bentuknya canggih banget). Saya juga suka banget melihat kafe-kafe yang berjajar di pinggir Sungai Ljubljanica dan ada banyak toko pernak-pernik lucu yang barang-barangnya kebanyakan handmade.

6176649568_IMG_1218.jpg
Deretan kafe di pinggir Sungai Ljubljanica

Setelah dari Ljubljana, kami meneruskan perjalanan ke kota kecil lainnya bernama Bled. Di sini ada kastil tertua di Slovenia dan ada Danau Bled yang terkenal di Slovenia. Serunya (baca: capek banget) saat harus jalan mendaki untuk mencapai Kastil Bled. Untungnya sampai di atas, kami disuguhi pemandangan yang cantik banget.

danau bled
Pemandangan Danau Bled dari atas kastil
kastil bled
Di atas Kastil Bled

Di atas kastil juga ada kafe (jadi setelah capek jalan, langsung ngopi, deh) dan restoran. Saya juga sempat mencicipi Cream Cake, yang katanya merupakan salah satu kue khas di kota ini. Ternyata memang enak! Perpaduan krim vanilla yang lembut dan bagian crust yang crispy memang lezat banget.

Saya nggak akan cerita banyak di sini, kalau mau lihat seperti apa Ljubljana dan Bled di Slovenia. Tonton saja vlog saya berikut ini. Pssstt… jangan lupa subscribe ya! 🙂

 

Advertisements

Favorite Fall Lipsticks 2017

Hello, saya sepertinya sudah membiarkan blog ini terbengkalai selama dua bulan lebih. Oops.. my bad. Akhir-akhir ini saya memang lagi suka bikin vlog dan kebetulan juga ibu saya sedang berkunjung ke Wina, jadi kami memang beberapa kali pergi keluar kota. Silakan cek YouTube channel saya jika tertarik 🙂

Oke, sekarang saya akan membahas tentang lipstik lagi.. yeah! Tak terasa sudah masuk ke musim gugur lagi dan ini merupakan musim gugur kedua saya di Austria. I always love autumn… dan suasana musim gugur selalu membuat saya ingin pakai warna lipstik dengan nuansa musim gugur (warna kecokelatan, oranye, dan merah).

fall lipsticks 2017 (2)

Kalau dilihat-lihat warna lipstik favorit saya kali ini memang serupa dan senada, serta tidak ada sama sekali warna nude. Yaa.. karena saya tidak begitu suka warna nude. Sering kali lipstik warna nude malah membuat wajah saya tampak pucat dan saya juga lebih sering memilih memakai lipstik warna intens tanpa riasan wajah tebal.

Ini dia 6 lipstik (termasuk liquid lipstik) yang jadi favorit saya di musim gugur kali ini.

MAC – Chili

Sepertinya bukan rahasia lagi kalau lipstik matte dari MAC merupakan salah satu lipstik favorit saya. Warna Chili ini juga merupakan salah satu warna favorit saya. Chili dideskripsikan sebagai warna “brownish orange-red”. Menurut saya, ini merupakan warna yang cocok banget buat orang-orang yang memiliki warm skintone seperti saya. Perpaduan warna oranye dan merahnya sangat unik, sekaligus bisa membuat warna kulit tampak cerah. Kadang-kadang warnanya tampak lebih merah, tapi kadang bisa terlihat oranye kecokelatan. Selain itu tekstur matte-nya nyaman banget, creamy, dan tahan lama.

mac chili

Urban Decay Vice Lipstick – Moshpit

Setiap kali saya membeli Urban Decay Vice Lipstick, saya tidak pernah menyesal. Moshpit dideskripsikan sebagai warna “berry plum” dengan tekstur cream. Meski teksturnya cream, lipstik ini sangat opaque, nyaman di bibir, nggak bikin bibir kering, dan warnanya tahan lama. Awalnya saya pikir warna lipstik ini gelap banget, tapi ternyata nggak terlalu, kok. It is dark, but not too dark. Warnanya sangat wearable dan nggak akan bikin kita terlihat gothic.

urban decay moshpit

Sephora Cream Lip Stain – No.25 Coral Sunset

Sejak saya berkenalan dengan liquid lipstick dari Sephora ini saya langsung jatuh cinta! Hasilnya dry matte, tapi sama sekali nggak bikin bibir kering. Pilihan warnanya banyak, bagus-bagus, dan harganya cukup terjangkau (tidak semahal liquid lipstick dari MAC, tapi kualitasnya hampir sama.. atau bahkan lebih bagus). Warna yang saya pilih adalah Coral Sunset. Dari namanya saja sudah ketebak ya warnanya seperti apa, campuran antara oranye dan cokelat yang bagus banget. Memang agak mirip dengan MAC Chili, tapi warna Chili lebih ke arah merah sementara Coral Sunset lebih ke arah burnt orange.

sephora coral sunset

Rollover Reaction – Maxwell

Sudah sejak lama saya ingin mencoba liquid lipstick lokal asli dari Indonesia. Sayangnya, saya selalu kehabisan saat ingin membeli di website-nya. Ternyata.. sepupu saya membelikan ini dan menitipkan untuk dibawa ke Austria, huaaa terharu. Pas banget pula warnanya memang yang saya mau. Warna ini dideskripsikan sebagai “brown-ish red”. Di bibir saya, sih, lebih kentara warna cokelatnya ya. Namun yang bikin saya kagum adalah formula liquid lipstick ini yang nyaman banget di bibir, nggak kalah dengan lipstik-lipstik buatan luar negeri. Teksturnya mirip mousse, jadi agak kental, tapi saat dipakai di bibir agak sheer, sehingga harus dipakai beberapa kali agar warnanya pekat. Liquid lipstick ini sama sekali nggak bikin bibir kering, cukup tahan lama, dan meninggalkan stain setelah beberapa jam. Suka banget dengan produk ini!

rollover reaction maxwell

NYX Liquid Suede Metallic Matte – Biker Babe

Awalnya saya sempat ragu dengan warna metallic. Tapi beberapa tahun terakhir setelah liquid lipstick jadi tren, muncul juga tren liquid lipstick dengan warna metallic matte. Saya pun penasaran dengan koleksi terbaru NYX yang baru diluncurkan pertengahan 2017 kemarin. Saya pun kaget ternyata produk ini melebihi ekspektasi saya. Teksturnya nyaman banget di bibir dan ternyata warna metallic matte itu keren juga ya. Saya pilih warna Biker Babe yang dideskripsikan sebagai warna “burgundy”. Warnanya cukup vampy dan saya pikir cocok banget untuk musim gugur.

nyx biker babe

Estee Lauder Pure Color Envy Matte – Raw Edge

Dibandingkan dengan warna-warna lipstik sebelumnya, warna lipstik yang satu ini cenderung netral. Di bibir saya, lipstik ini tampak memiliki perpaduan warna cokelat dan pink, sehingga bisa dipakai kapan saja dan dipadankan dengan riasan mata warna apa pun. Saya baru pertama kali membeli lipstik Estee Lauder Pure Color Envy Matte ini, and I’ve gotta say, I really like it. Tekstur matte-nya nyaman banget dan nggak bikin bibir kering. Saya jadi penasaran banget dengan warna-warna lainnya, karena ada beberapa warna bold yang sangat menarik (menurut saya).

estee lauder raw edge

Berikut ini swatches lipstik-lipstik tersebut di tangan saya.

fall lipsticks 2017 (3)fall lipsticks 2017 (4)fall lipsticks 2017 (5)

Oke.. itu dia enam lipstik yang lagi sering saya pakai akhir-akhir ini, untuk menyesuaikan dengan warna-warna dedaunan musim gugur di Wina, hehe. Semoga terhibur dengan isi blog ini.. dan semoga nggak bosan dengan pembahasan soal lipstik 😄<<<<<<<<<<<
<<<<<<

Bright Bold Lipsticks for Summer

I hope it's not too late to talk about summer lipsticks! 

I always love bright and bold lipsticks.. makanya summer tuh pas banget, deh, buat saya pakai lipstik warna-warna terang.

summer lipsticks 2017 (1)

Oke, ini dia beberapa lipstik warna terang yang menjadi favorit saya di musim panas 2017.

Anastasia Beverly Hills liquid lipstick – Madison

Lipstik pilihan pertama saya adalah liquid lipstick dari Anastasia Beverly Hills (ABH). Sudah sejak lama saya penasaran dengan liquid lipstick ini dan akhirnya saya mendapatkannya dari kakak saya di US beberapa minggu lalu. Langsung saja liquid lipstick ini jadi favorit saya!

Suka banget sama warnanya yang bold, formulanya yang nyaman banget di bibir, dan tahan lama. Well, setelah makan makanan yang berminyak, memang warnanya akan pudar, tapi pengaplikasian ulangnya mudah dan bibir pun nggak kering, so big thumbs up for this one!

ABH Madison

Madison ini warnanya dideskripsikan sebagai "vibrant plum magenta". Kalau saya bilang, warnanya mirip-mirip dengan MAC Flat Out Fabulous, salah satu lipstik MAC favorit saya. Jadi warna ini (menurut saya) cocok banget untuk warna kulit saya. Di sebagian orang, warna ini mungkin terlihat lebih ungu, sementara di bibir saya warnanya pink-nya justru lebih kentara. Either way, this is such a gorgeous color!

MAC – Men Love Mystery

I loooooove purple lipsticks! Koleksi lipstik warna ungu saya juga sudah cukup banyak. Menurut saya, warna ini juga cocok banget dipakai saat summer, terutama warna ungu seperti ini.

MAC Men Love Mystery

MAC mendeskripsikan warna ini sebagai "Lavender Violet" dan di bibir saya warnanya memang tidak terlalu terang atau ngejreng, namun tetap menjadi warna yang stand out.

YSL Rouge Pur Couture The Mats No.215 Lust For Pink

Saya juga suka banget mengoleksi lipstik warna pink. Dari warna pink pucat, pink terang, hingga pink keunguan, semuanya ada.

Lipstik matte dari YSL ini merupakan salah satu favorit saya, karena formulanya yang nyaman banget di bibir. Hasil matte-nya memang terlihat sedikit creamy, jadi bukan dry matte kayak lipstik retro matte dari MAC.

YSL Lust For Pink

Warna Lust for Pink ini merupakan warna "cool fuchsia", yang kayaknya mirip-mirip dengan beberapa lipstik di koleksi saya. Ah well, saya suka banget formulanya. Makanya begitu ketemu warna pink yang pas, langsung saya beli, deh, hehe

Smashbox Be Legendary Lipstick – Matte Fireball

Saya baru-baru ini membeli produk lipstick dari Smashbox dan nggak menyangka kalau kualitasnya oke juga. Seri Be Legendary Lipstick ini sebenarnya hadir dalam dua formula, yaitu cream dan matte. Warnanya pun banyaaaaak banget. Sayangnya di toko kosmetik di Wina, saya hanya menemukan beberapa warna saja.

Awalnya saya nggak yakin memakai warna oranye terang, tapi kayaknya saat summer memang pas banget pakai lipstik warna seperti ini.

Smashbox Fireball

Fireball dideskripsikan sebagai warna "bright red orange", yang sebenarnya mirip dengan warna MAC Lady Danger. Namun menurut saya, Fireball sedikit lebih intens warnanya. Selain itu, formula matte-nya pun nyaman banget dan tahan lama. Sepertinya ini merupakan lipstik favorit saya saat ini, karena saya juga cukup sering memakainya.

Selain itu, warna red-orange seperti ini benar-benar ampuh membuat wajah saya terlihat lebih cerah.

MAC – Si, Si, Me! (Fruity Juicy Collection)

Lipstik yang satu ini merupakan bagian dari koleksi limited edition yang dirilis MAC musim panas tahun ini. Ada beberapa warna, mulai dari nude hingga warna yang agak gelap, yaitu warna Si, Si, Me! yang saya beli ini.

MAC Si Si Me

MAC mendeskripsikan warna ini sebagai "deep violet", namun di bibir saya warnanya justru terlihat seperti "deep berry". Warnanya memang bagus banget dan formulanya yang satin terasa lebih nyaman dibanding matte yang kadang-kadang terasa kering di bibir.

Estee Lauder Pure Color Love lipstick – Shock & Awe

Saya sebenarnya tidak pernah tertarik dengan lipstik keluaran Estee Lauder, karena image dari brand ini seperti untuk ibu-ibu (iya, sih, saya ibu-ibu, tapi brand ini merupakan brand kesayangan ibu saya, jadi ibu-ibunya lebih mature gitu).

Namun kayaknya brand ini ingin memudakan diri (terlihat dengan pemilihan modelnya) dan produk-produk makeup-nya pun dibuat lebih modern.

Contohnya, ya, koleksi Pure Color Love lipstick ini, yang terdiri dari beberapa formula, yaitu matte, cream, dan metalik. Saya memilih warna Shock & Awe, karena saya suka dengan warnanya yang bold. Sayangnya juga, pilihan warna koleksi ini sangat terbatas di sini (hiks!), padahal di US pilihan warnanya jauh lebih banyak.

Estee Lauder Shock & Awe

Shock & Awe di bibir saya seperti perpaduan warna pink dan merah yang intens. Warna ini cocok banget buat mereka yang ingin coba warna merah, tapi belum berani memakai warna "true red". Nah, lipstik perpaduan warna pink-merah ini bisa jadi pilihan.

Nars Audacious lipstick – Angela

Lipstik Nars yang satu ini bisa dibilang formula lipstik favorit saya. Teksturnya creamy, namun setelah beberapa saat bisa menjadi matte. Pigmentasinya oke banget dan tahan lama.

Nars Angela

Warna Angela dideskripsikan sebagai warna "pink orchid". Warnanya sangat terang, nyaris neon, dan perpaduan pink-ungu yang sangat feminin. Lipstik ini wajib banget saya pakai saat summer.

Kalau kamu sendiri, lipstik apa yang jadi favorit saat Summer?

First Time Vlogging

Sudah lama sebenarnya saya ingin mencoba vlogging (video blogging), gara-gara terinspirasi dari banyak vlogger saat ini. Saya mungkin nggak bisa mendapatkan follower sebanyak mereka, tapi saya melihat vlogging ini layaknya sebuah diary dalam bentuk video.

Akhirnya setelah mendapatkan kamera baru dari suami (very very early birthday present..hehe), saya pun membulatkan tekad untuk memulai vlogging. Apalagi rasanya sayang kalau tinggal tiga tahun di Wina dan memiliki kesempatan untuk menjelajah beberapa kota lainnya di Eropa, tapi tidak saya abadikan lewat video.

Untuk vlog pertama, saya lakukan akhir pekan lalu saat kami (saya, suami, dan si anak kesayangan) bermain-main ke Stadtpark, sebuah taman kota di Wina. Ternyata mengedit video seru juga dan saya benar-benar baru belajar kemarin. Memang, sih, terlihat masih sedikit amatir, but I know practice makes perfect! Jadi semoga nantinya saya bisa lebih sering latihan dan bikin vlog.

Berikut ini vlog pertama saya 😀

#RIPChesterBennington

Kemarin malam saat sedang browsing di Facebook, tiba-tiba saya menemukan artikel tentang meninggalnya Chester Bennington, vokalis band Linkin Park. Awalnya saya tidak percaya, saya takut ini hanya berita bohong alias hoax. Jadi saya coba cari semua sumber berita yang bisa dipercaya, tapi rasanya saya masih tetap nggak mau percaya. Apalagi ketika tahu penyebab kematiannya adalah bunuh diri. Rasanya makin sedih membaca beritanya.

Kenapa saya menulis tentang hal ini. Satu, karena saya penggemar Linkin Park. I grew up listening to their music. Saya berkenalan dengan Linkin Park sejak album Hybrid Theory dan lagu Crawling merupakan lagu pertama yang membuat saya jatuh cinta dengan band ini. Merupakan punya musik yang berbeda, khas, dan tentu saja suara Chester yang tak tergantikan. Bahkan setelah beberapa album dan musik mereka sedikit bergeser, tidak sehingar-bingar di album pertama, saya tetap suka musik mereka. Setiap lirik dan setiap not musik yang mereka buat selalu membuat saya terhanyut menikmati setiap lagunya. Saya sebenarnya lebih ngefans sama Mike Shinoda, karena menurut saya dia sangat kreatif dalam menciptakan musik dan artwork untuk album Linkin Park. Namun, karakter suara Chester-lah yang menjadikan Linkin Park berbeda dari band alt-rock lainnya. Chester juga yang banyak menuangkan pikirannya ke dalam lirik lagu yang kadang cenderung ‘gelap’.

Saya pun merasa beruntung bisa memiliki kesempatan untuk menonton konser mereka dua kali di Jakarta, pada tahun 2004 dan 2011 (saya juga cerita soal konser mereka di blog ini). Saya sempat berpikir akan menonton mereka untuk ketiga kalinya jika memang mereka mampir ke kota Wina, apalagi mereka baru saja merilis album baru dan tengah menggelar tur. Tapi tampaknya keinginan itu tidak akan kesampaian.

Alasan kedua, karena berita soal meninggalnya Chester, seperti menambah panjang daftar selebriti yang meninggal dengan cara bunuh diri, mulai dari Robin Williams hingga Chris Cornell (vokalis band Soundgarden dan Audioslave), yang bunuh diri beberapa bulan lalu dan kebetulan merupakan sahabat Chester. Bahkan Chester memutuskan untuk bunuh diri tepat di hari ulang tahun Chris, yaitu 20 Juli.

I don’t know about depression.. but I know that it’s real. Sangat menyedihkan melihat orang yang tampaknya bahagia, sukses, bisa memiliki segalanya di dunia ini tapi justru mencabut nyawanya sendiri. Hal itulah yang terjadi pada diri selebriti itu. Kita tidak mengenal mereka, kita hanya mengenal karakter yang mereka tampilkan di publik. Kita tidak tahu apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka pikirkan. Jangankan kita, yang hanya penggemar, bahkan orang-orang terdekat mereka pun seperti tak mampu mencegah hal itu.

Semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini, semoga saya bisa membantu orang-orang sekitar saya yang memang memiliki masalah depresi dan memiliki kecenderungan bunuh diri.

Rest in peace, Chester… I’ve always been a fan, always will. Now, I’m going to listen to all my Linkin Park album just to remember how I fall in love with this band in the first place.

Image from Linkin Park’s official Facebook.

Spending Weekend at Tiergarten Schönbrunn, The Oldest Zoo in the World

Menghabiskan akhir pekan di Wina beda banget dengan di Jakarta. Biasanya di Jakarta, tujuan jalan-jalan saat weekend paling cuma ke mall dan mall. Nah, di Wina kalau Sabtu, mall dan toko-toko tutup jam 6 sore, termasuk juga supermarket (nggak seru banget!). Sedangkan Minggu, semuanya tutup (kecuali restoran dan kafe).

Untungnya, di Wina masih banyak hiburan lainnya saat weekend, seperti taman, museum, dan kebun binatang. Sudah sejak lama saya memang meniatkan diri untuk mengajak Alanna ke kebun binatang di sini saat Summer.

Nah, pas banget kemarin udaranya lagi enak. Seminggu sebelumnya sempat panas banget, habis itu mendadak hujan terus-terusan. Saat hari Minggu kemarin, cuacanya cerah tapi anginnya dingin. Suhunya juga berkisar antara 22-24 derajat Celsius, jadi pas banget deh buat jalan-jalan outdoor.

Tiergarten Schönbrunn (kalau diterjemahkan jadi Kebun Binatang Schönbrunn) merupakan kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang ini dibuka pada tahun 1752 dan awalnya menjadi tempat menyimpan koleksi binatang eksotis milik Raja Austria. Makanya letak kebun binatang ini pun berdekatan dengan kompleks Istana Schönbrunn (yang meski berdekatan kalau jalan rasanya jauh juga.. hehe.. karena memang besar banget).

schonbrunn zoo-bluestellar (5)
Wefie dengan latar belakang llama.. tapi itu kok llamanya ada yang pingsan? 😀

Dulunya, kebun binatang ini bermula dari Central Pavilion, sebuah paviliun yang dibuat untuk para anggota kerajaan sarapan. Sekarang, Central Pavilion itu menjadi salah satu restoran di kebun binatang ini.

Harga masuk ke Tiergarten Schönbrunn ini €18.50 untuk dewasa, €9 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Bisa juga membeli tiket tahunan seharga €49, jadi bisa sepuasnya deh selama setahun keluar masuk ke situ.

schonbrunn zoo-bluestellar (10)
Central Pavilion yang sekarang jadi restoran

Kebun binatang ini sangat nyaman untuk orangtua yang membawa anak-anak dengan stroller. Selain itu, penataan setiap kandang binatangnya pun rapi. Meski ramai, sama sekali nggak merasa berdesak-desakan dan jalan-jalan pun terasa santai.

Jika capek, restoran dan kios-kios makanan hampir ada di setiap sudut. Ada juga playground khusus buat anak-anak dengan beragam permainan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana, anak-anak juga bisa menaiki kuda poni atau bermain-main dengan anak kambing (lucu banget..).

schonbrunn zoo-bluestellar (1)schonbrunn zoo-bluestellar (2)schonbrunn zoo-bluestellar (6)schonbrunn zoo-bluestellar (7)schonbrunn zoo-bluestellar (8)

Selain binatang-binatang seperti gajah, jerapah, badak, singa, dan macan, ada juga lokasi khusus rainforest yang kalau masuk ke dalamnya rasanya persis seperti di negara tropis, panas dan lembap.

Ada juga binatang seperti pinguin dan beruang kutub di bagian khusus binatang-binatang dari wilayah kutub. Sementara atraksi utama kebun binatang tersebut saat ini adalah dua panda kembar yang baru saja lahir pada Agustus tahun lalu, Fu Feng dan Fu Ban. Anak panda kembar pertama yang lahir di kebun binatang Schönbrunn.

Oh iya, ada juga waktu-waktu khusus saat si binatang diberi makan. Jadwalnya ada di peta yang bisa didapatkan di bagian informasi dan tiap binatang punya jadwal yang berbeda.

Pada dasarnya saya memang suka ke kebun binatang, jadi menghabiskan akhir pekan di sini terasa menyenangkan. Apalagi Alanna juga terlihat excited melihat binatang-binatang (meski pinguin dia bilang bebek.. haha). Dia juga suka lihat gajah yang besar, jerapah yang lehernya panjang dan tinggi, serta kawanan flamingo warna pink (yang dia panggil ming-go).

schonbrunn zoo-bluestellar (3)schonbrunn zoo-bluestellar (9)

Sayangnya saat ke kebun binatang kemarin, saya baru sampai di sana jam 1 siang. Enaknya, sih, dari pagi jam 10 sudah di sana supaya jalan-jalannya lebih santai dan semua tempat dikunjungi. Saya tidak sempat ke bagian serigala dan kucing linx yang agak jauh, karena kebun binatang tersebut tutup jam 6 sore. Kalau ke sana saat winter, tutupnya lebih cepat, yaitu jam 5 sore.

Segitu dulu ya, cerita dari saya.. Semoga seterusnya bisa cerita lebih banyak tentang Wina. Masih ada waktu dua tahun lagi untuk mengenal lebih banyak soal kota yang satu ini.

My Current Skincare Routine

Sudah sejak lama sebenarnya saya mau sharing seputar produk perawatan kulit yang saya pakai. Dulu, saya nggak pernah mau gonta-ganti produk. Setia banget sama 3-step skincare dari Clinique. Namun sejak di Wina, saya jadi penasaran mencoba berbagai macam produk, mulai dari produk drugstore hingga yang high-end (alias agak mahal).

Oke, langsung saja ya, saya cerita beberapa produk perawatan kulit (khususnya wajah) yang sedang saya pakai saat ini.

skincare routine andhina (1)

Neutrogena Hydro Boost Cleanser Water Gel

Pertama kali sampai di Wina akhir Agustus 2016 lalu, saya langsung membeli produk pembersih wajah Neutrogena (tapi beda jenis dengan yang ini.. namanya saya lupa). Saya sudah tahu soal brand Neutrogena ini memang punya banyak macam-macam produk perawatan kulit yang berkualitas, meski dijual di drugstore. Jangan salah, drugstore itu memang gudangnya macam-macam perawatan kulit yang bagus dengan harga terjangkau.

Nah, setelah pembersih itu habis, saya beli produk terbaru Neutrogena yang ini, deh, dari seri Hydro Boost yang katanya cocok untuk kulit kering. Karena kulit saya cenderung kering dan saya ingin mencari pembersih yang nggak bikin kulit terasa makin kering, saya pilih Hydro Boost Cleanser Water Gel ini.

What I love about this product adalah… kulit saya terasa bersih sesudah memakainya, tapi nggak terkesan kesat atau kulit terasa ditarik. Benar-benar nyaman dipakainya dan tidak menimbulkan iritasi. Saya biasanya hanya menggunakan sedikit saja (satu kali pump) dan itu sudah cukup untuk membersihkan wajah serta bagian leher.

Clinique Pep-start Hydrorush Moisturizer SPF 20

Saya memilih pelembap yang satu ini, karena memiliki kandungan SPF 20. Saat Summer seperti sekarang ini, Wina memang panas banget dan matahari juga cukup terik. Karena saya malas memakai moisturizer dan sunscreen secara terpisah, saya lebih memilih moisturizer yang mengandung SPF seperti punya Clinique ini.

Janjinya, moisturizer ini menjaga kelembapan kulit sepanjang hari. Memang, sih, saya merasa kulit saya tetap lembap dan saya juga nyaman memakainya. Tidak ada masalah iritasi atau jerawat. Jadi buat mereka yang suka pelembap yang praktis, saya sarankan pakai Clinique Pep-start Hydrorush ini. Sebenarnya ada beberapa jenis produk dari rangkaian Clinique Pep-start, termasuk pembersih dan primer. Namun bagi saya, produk yang menarik perhatian hanya si moisturizer ini.

Lancome Hydra Zen Nuit

Pakai pelembap di siang hari saja nggak cukup. Saat malam hari, ketika tubuh beristirahat dan kulit berregenerasi, kita juga perlu krim malam. Sebenarnya saya sudah lama memakai krim malam dari Lancome ini. Bahkan krim ini sangat membantu kulit saya sepanjang Winter kemarin (di mana kulit terasa sangat kering).

Saya suka banget efek dingin saat memakai krim ini dan sangat melembapkan tanpa membuat kulit terlihat berminyak. Saat pagi hari, kulit terasa lebih segar dan tetap lembap. Sayangnya, krim ini sudah hampir habis (hiks). Mungkin saya akan membelinya lagi nanti, tapi setelah habis saya ingin coba produk krim malam lainnya dulu.

L’Occitane Immortelle Precious Serum

Di usia kepala 3 seperti saya, kayaknya penting banget masukin serum ke dalam rangkaian perawatan kulit sehari-hari. Masalah kulit saya semakin banyak saja, sepertinya, mulai dari garis keriput tipis, noda hitam di pipi, warna nggak merata, dan kering.

Saya pilih serum ini karena punya kandungan anti-aging yang sudah dipatenkan, yaitu ekstrak bunga Immortelle, yang dikenal sebagai bunga yang kekal, bahkan setelah dikeringkan warna dan bentuknya tetap sama. Minyak yang diekstrak dari bunga tersebut juga katanya memiliki kandungan anti-radikal bebas dan anti-kerut.

Saya suka dengan serum ini yang mudah banget meresap ke dalam kulit dan membuat kulit terasa lebih lembap. Sayangnya, baru sekitar beberapa bulan memakainya, Alanna menumpahkan hampir semua isi serum tersebut (huhuhu). Jadi sekarang sedang saya hemat-hemat pemakaiannya, sampai saya membeli serum yang baru.

Origins Ginzing Refreshing Eye Cream

Masalah lingkaran hitam pada mata kayaknya hampir dimiliki semua orang, termasuk saya. Makanya, saya juga memasukkan produk krim mata ke dalam perawatan kulit sehari-hari saya.

Saat Winter kemarin, kulit di area mata saya sempat terasa kering dan perih. Mungkin karena setiap habis cuci muka, saya selalu melewatkan pemberian pelembap di area mata. Saya sempat coba beberapa produk krim mata, tapi akhirnya malah terasa perih. Akhirnya, saya menemukan salah satu remedy paling pas, yaitu Vaseline Petroleum Jelly, yang saya oleskan tipis-tipis di area mata. Setelah rasa perihnya hilang, saya pakai krim mata dari Biotherm yang punya efek mendinginkan.

Setelah krim dari Biotherm itu habis, saya beralih ke krim mata milik Origins ini. Saya tertarik karena krim ini menawarkan efek mencerahkan dan mengempiskan kantung mata. Kandungannya terdiri dari Panax Ginseng dan Ekstrak Magnolia untuk menyegarkan bagian mata sekaligus mengurangi kesan mata lelah.

Selain itu, krim ini juga tidak mengandung Paraben, Phthalate, Propylene Glycol, Mineral Oil, Pewangi Sintetis, Paraffin, dan kandungan lainnya yang berbahaya.

Untuk memakainya, saya hanya perlu sedikit saja untuk disapukan di bagian bawah dan atas mata. So far, saya menyukainya karena nyaman dipakai dan mata saya terasa terjaga kelembapannya. Nggak ada lagi, deh, kulit mata kering dan iritasi.

L’Oreal Detox Pure Clay Mask

Terakhir, adalah produk masker yang biasanya saya pakai setiap 2-3 hari sekali (kalau tidak lupa, hehe..). Masker yang terbuat dari Pure Clay dan Charcoal ini katanya bisa mendetoksifikasi kulit, membuatnya tampak lebih cerah, mengangkat kotoran dari pori-pori kulit, dan memperbaiki warna kulit wajah agar lebih merata.

Saya memang suka hasilnya setiap kali memakai masker ini. Cukup dengan 10 menit saja, wajah saya terasa lebih bersih dan segar. Masker ini juga terasa nyaman di kulit, karena kadang ada beberapa masker yang justru membuat kulit terasa perih atau iritasi. Nilai plusnya lagi, masker ini harganya cukup terjangkau karena dijual di drugstore.

Sekian sharing saya seputar produk perawatan kulit. Jika perawatan yang ini sudah habis semua, saya akan lanjut hunting produk perawatan kulit lainnya. Menurut saya, nggak usah takut untuk mencoba beberapa produk perawatan kulit, karena kita harus menyesuaikan kondisi kulit dengan produk yang kita pakai. Saat kulit terasa kering, cari produk dengan ekstra pelembap. Begitupula saat kulit sedang berjerawat, saya lebih memilih produk perawatan bebas minyak.

Jika ada yang mau sharing seputar produk yang dipakai, silakan tulis di kolom comment yaa.. terima kasih 😀