Moving to Vienna


Hello again… Sudah beberapa minggu tidak update dan tidak menulis tentang lipstik (hehe). Itu karena saya sedang mengalami banyak hal, salah satunya: Pindahan!

Akhirnya, saya ngerasain juga, deh, yang namanya jadi istri diplomat. Akhir Agustus kemarin saya resmi pindah ke Wina alias Vienna alias Wien di Austria. (Kenapa saya nulisnya begitu, karena ada juga beberapa orang yang nggak tau Wina tuh di mana, taunya Vienna 😄).

Pada akhir bulan Juli lalu, saya resign dari pekerjaan. Sedih karena nggak punya penghasilan, tapi excited juga karena saya ingin merasakan kerja freelance. Iya, uangnya nggak seberapa, tapi saya lagi jenuh juga dengan pekerjaan di kantor. Mungkin nanti setelah tiga tahun, saya mau coba kerja kantoran lagi.

Kota Wina ini merupakan tempat posting atau penempatan pertama Yudo sebagai diplomat muda (walaupun umur, sih, nggak muda-muda amat). Nah, para istri diplomat ini bakal jadi Dharma Wanita. Tugasnya juga nggak ringan, karena setiap perwakilan punya acara sendiri-sendiri yang juga akan diurus para ibu-ibu itu.

Pandangan saya, sih, awalnya soal ibu-ibu itu mereka pasti jago masak, jago dandan, jago sanggulan, sementara saya nggak bisa semuanya. Mudah-mudahan saja saya bisa belajar semuanya. Menurut saya mereka adalah ibu-ibu hebat yang bisa mengatur semuanya. Bayangkan saja di luar negeri, tanpa bantuan dari ART, ngurus anak, ngurus keluarga, masih juga harus ngurus acara-acara lainnya. Makanya saya suka agak kesal kalau ada orang yang mencap ibu-ibu Dharma Wanita kerjanya cuma gosip doang atau nggak ada kerjanya. Sama saja seperti orang yang menganggap remeh pekerjaan ibu rumah tangga, padahal kerja mereka itu 24/7 nonstop tanpa digaji pula.

Makanya, ketika tahu saya akan jobless (kerja freelance pasti bakal beda sama kerja kantoran) dan saya harus mengurus rumah sendirian, saya agak deg-degan juga. Di Jakarta, saya terima beres semua. Makanan ada, rumah ada yang ngerapiin, sementara di sini saya benar-benar harus belajar mandiri.

Sebelum berangkat pun niat mau belajar bahasa Jerman gagal, belajar dandan gagal, sampai belajar masak juga gagal (haha!). Ini mah alamat belajar dari nol banget. Tapi kalau dipikir-pikir kalau saya nggak kayak gini, bakal susah belajar mandiri.

Kakak saya saja bisa, kok, hidup di luar negeri dengan tiga anak tanpa bantuan ART. Dia kerja part time, sedangkan suaminya kerja full time. Semuanya bisa dia jalani dengan baik, jadi semoga saja saya bisa.

Penempatan di Wina ini akan berlangsung selama tiga tahun, setelah itu saya, Yudo, dan Alanna akan kembali tinggal di Jakarta hingga menunggu penempatan berikutnya. Nah, biasanya akan ada lagi tantangan-tantangan baru. Kalau sekarang saya repot beradaptasi, belajar ini-itu, nanti saya akan direpotkan dengan sekolah anak. Sama seperti Yudo yang juga anak diplomat, Alanna pastinya akan pindah-pindah sekolah. Sudah punya teman, nanti harus pisah lagi. Belum lagi kalau kurikulum sekolahnya beda. Tapi yang nanti dipikirkan nanti saja..hehe.

Baiklah.. Sekarang saya harus siap-siap beradaptasi di tempat baru. Harus mulai menata apartemen, ngepel, nyuci, nyetrika, hadehhhh.. Wish me luck!

Jalan-jalan bareng Alanna
Resepsi diplomatik di KBRI Wina (untung ada yang mau bantuin saya sanggulan, hehe)
Advertisements

15 thoughts on “Moving to Vienna

  1. Neng jd deket kita nih rumahnya hehehe.. Gampang lah itu nyetrika ma masak pan ada yutup hahaha!:)) cakep neng disanggul gitu tp emang udh dr sono nya geulis lah ye . Good luck neng Aan ya xx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s