Being a Journalist


Sejak awal kuliah, saya tertarik untuk bekerja di media massa. Saya tahu bahwa saya sangat suka menulis (meski selalu gagal jika ingin menulis novel..hehe). Makanya saat kuliah pun saya memilih jurusan Ilmu Komunikasi dengan program kekhususan Jurnalistik.

Saat itu, sih, saya nggak pernah kepikiran jadi jurnalis umum, yang kerjanya harus nongkrong di kantor polisi, pengadilan, atau bahkan kamar mayat–hiii! Saya dari dulu bercita-cita ingin kerja di majalah lifestyle. Akhirnya memang cita-cita itu terwujudkan. Saya pun menjadi fashion stylist yang merangkap jurnalis (juga merangkap EO siiihh).

Pertama kali bekerja di majalah, semua passion saya tersalurkan. Suka fashion, suka soal kecantikan, suka pemotretan dan milih-milih baju, suka jalan-jalan, dan suka menulis.

Namun kayaknya, jurnalis di bidang lifestyle ini kayaknya masih dipandang sebelah mata. Pernah saat saya ke Australia untuk mengunjungi sepupu, ketika di imigrasi saya diminta untuk menuliskan pekerjaan saya. Si petugas imigrasi minta saya menulis dengan jelas pekerjaan saya, bukan sekadar “karyawan perusahaan swasta”. Jadilah saya tulis jurnalis. Sekejap dia merasa tertarik, lalu bertanya, “Oh ya, jurnalis apa?” ketika saya bilang, “Fashion journalist”, dia juga bilang, “Ohh..” dengan nada mencibir–kesal!

Meskipun begitu, saya tetap bangga menyandang sebuah profesi sebagai jurnalis. Memang, sih, saya bukan jurnalis di medan perang yang menempatkan dirinya dalam bahaya demi mengabarkan sebuah fakta.

Ketika saya bekerja di media online, tadinya saya mengira akan fokus di bidang lifestyle saja. Nyatanya, saya malah diminta menulis dan mengedit tulisan di berbagai bidang lainnya juga. Kelebihannya, saya jadi tahu semua informasi terkini. Kekurangannya, saya tidak begitu menyukai bidang-bidang yang njelimet, seperti masalah bisnis, saham, industri, perekonomian, dan sebagainya. Soal kasus hukum dan politik pun saya kurang suka, karena bawaannya pengen ngomel-ngomel, terutama soal korupsi.

Di media ini pun, saya merasa bidang lifestyle selalu dianggap remeh. Padahaaallll…. artikel-artikel di bidang itu juga menyumbangkan jumlah pembaca yang cukup banyak.

Setelah saya terjun ke bidang jurnalistik yang lebih luas ini (bukan sekadar fashion dan lifestyle), saya jadi melihat banyak hal, di antaranya…

Kode etik jurnalistik yang dulu diajarkan di kuliah kayaknya sering kali tidak berlaku. Bukan bicara tentang kantor saya ya.. tapi media massa secara keseluruhan di Indonesia. Banyak pemberitaan yang nggak berimbang, nggak netral, dan terpaku pada kepentingan perorangan atau kelompok saja.

Kebanyakan media massa dimiliki oleh orang-orang yang berpolitik. Makanya jangan heran kalau media A lebih pro ke si itu dan menjelek-jelekkan si ini, atau media B mendukung si ini dan nggak suka sama si itu. Akhirnya, saya yang juga harus mantengin segala macam media massa untuk update berita, jadi ragu dengan berita-berita yang ditampilkan media tertentu.

Media massa juga bisnis, jadi uang tetap menjadi tujuannya. Media nggak bakal bisa jalan tanpa dukungan iklan atau siapa pun yang bisa memberi uang agar media bisa tetap berjalan (bisa juga investor atau pebisnis besar). Jadi ada kalanya kita melihat artikel yang ngomong bagus-bagus soal sesuatu, eh ternyata artikel berbayar.

Apa pun demi hits. Iya, kalau di media online, yang penting itu klik dan hits. Jadilah kadang dilakukan berbagai cara untuk klik itu, salah satunya dengan membuat judul sensasional tanpa memperhatikan isi. Tapi media televisi juga sama saja, sih. Sering bikin berita-berita sensasional, yang diulang-ulang terus. Kalau dilihat, media televisi jadi mirip-mirip infotainment.. ya nggak, sih?

Media tidak lagi memperhatikan detail. Saya ini cukup cerewet soal detail. Kalau media cetak, kesalahan sedikit saja akan fatal, karena tak bisa diubah begitu sudah dicetak. Namun kalau media online ada kelebihannya, karena tulisan bisa diubah jika ada kesalahan. Sayangnya, kalau media online semua berburu untuk menulis berita sebanyak-banyaknya, hingga akhirnya detail pun diabaikan. Salah tulis judul, salah tulis nama, dan huruf kebalik-balik sering banget terjadi.

Kabar hoax lebih mudah disebarkan. Pasti pernah, kan, mendapatkan broadcast message yang ternyata hoax? Atau berita-berita yang disebar di Facebook yang ternyata setelah ditelusuri cuma sebuah kebohongan. Apalagi bikin website, kan, gampang banget. Jadi oknum-oknum nggak bertanggung jawab bisa saja membuat website bohongan dengan nama seakan-akan mereka adalah sebuah media massa, tapi kemudian menyebarkan fitnah. Tapi ada juga media massa yang mengambil berita-berita hoax dan turut menyebarkannya. Mereka melakukannya karena berita itu dianggap trending, viral, tanpa melakukan verifikasi.

Terakhir, yang sangat miris dalam kehidupan jurnalis adalah, minimnya pendapatan mereka.. huaaa. Ini yang saya nggak tahu saat masih kuliah dulu, kalau ternyata gaji seorang jurnalis tuh sedikit, apalagi jika dibandingkan dengan mereka yang bekerja di bank, advertising agency, atau perusahaan multinasional.

Padahal yaaaa… jika dilihat-lihat, pekerjaan jurnalis tuh berat, lho. Hampir non-stop, bahkan weekend pun bisa saja kerja, tanpa dibayar lembur! Bahkan untuk mereka yang kerja di majalah dan terlihat super stylish, sebenarnya gajinya nggak segede yang dibayangkan (kecuali mungkin kalau sudah level Managing Editor atau Editor in Chief ya..). Kalau baru di level dasar, gajinya ‘hiks’ banget. Makanya kalau melihat UMR buruh saat ini, saya sih mending jadi buruh saja deh kalau saja masih fresh graduate.. hehe. Untungnya, sih, soal pendapatan sekarang sudah ada perbaikan–phew! Tapi itu juga setelah pindah kerja dan punya pengalaman di atas 5 tahun.

Sekarang, dengan kemajuan teknologi dan berkembangnya media sosial, siapa saja bisa jadi jurnalis dengan menyebarkan berita secara online. Efeknya bahkan lebih luas. Makanya sekarang bagaimana caranya agar kita bisa lebih cerdas dalam memilah-milah berita. Kalau saya, sih, selalu berprinsip, “Jangan pernah menyebarkan berita yang tidak saya ketahui kebenarannya atau sumbernya.” Nggak usah, deh, bikin heboh, bikin orang termehek-mehek, marah-marah, hanya untuk sebuah berita bohong.

Walaupun banyak yang menganggap remeh jurnalis di bidang lifestyle, hati saya tetap seorang jurnalis sejati, kok. Walaupun nantinya saya nggak kerja lagi di media massa, saya juga masih bisa menyalurkan semangat jurnalisme saya di blog ini. Semoga… 🙂

Pic source: here

Advertisements

14 thoughts on “Being a Journalist

  1. Menulis bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain, sehingga harus terus memegang teguh prinsip kebenaran dan fakta. Kita bertanggung jawab atas penyebaran apa yang kita tulis walaupun hanya berupa resep masakan. Selalu semangat menulis 🙂

  2. sebagian besar poinnya itu saya rasakan juga mbak. khususnya tentang “media juga punya bisnis” dan apapun “demi klik dan hits”. setelah kerja di media online sekitar 2 taun lebih, banyak hal yang dipelajari khususnya yg belum pernah diajarkan di bangku kuliah. yang paling riskan memang tentang berita hoax, kalau tak hati-hati bisa salah kaprah dan jadi menyebar fitnah (pengalaman pribadi banget, hiks). semoga semua yang kita tulis bisa memberi manfaat, ya mbak :))

    1. sekarang suka susah ya membedakan mana yg fakta mana yg bohong.. kadang suka takut share berita2 di medsos, sblm yakin itu bener.. amiin, semoga yg kita tulis ada manfaatnya 🙂

  3. Jadi ingin bertanya, apa ada hubungannya antara gaji yang minim lalu banyak media yang membuat/menyebar berita hoax atau duulang-ulang agar banyak yg mengunjungi website nya dan punya pendapatan lain dari iklan yang masuk ya? Saya dukung banget semangat menulisnya dg tetap memegang etika jurnalistik nya Mba 😊

    1. Mungkin juga.. Tapi ga bisa dipungkiri sih media sering bikin berita sensasional atau yg didramatisir demi hits.. Persaingan media sekarang kan juga semakin ketat 😊

  4. Saya setuju dengan 6 poin soal dunia jurnalistik di lapangan mba, mainstream media cenderung memberikan berita yang memberikan keuntungan kepada perorangan atau kelompok (sebagai pemegang kendali/modal) yang saling memiliki kepentingan di dalammnya.

    Akibatnya, bagi orang yang melek media dan paham sama yg beginian jadi waspada kalo mau baca update berita terkini. hhihi

  5. Aku selalu kagum dengan pekerjaan jurnalis mba, menurutku keren dan bergengsi. Gak semua orang dianugerahi kemampuan menulis yang baik kan, terutama menyajikan berita yang aktual dan terpercaya. Kerja sebagai lifestyle journalist klihatannya menarik banget ya mba, walau jam kerjanya nyaris gak kenal waktu 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s