Saying Goodbye to Majalah Cita Cinta


Beberapa minggu lalu saya mendengar kabar bahwa majalah Cita Cinta akan tutup. Yap, majalah yang pernah menjadi tempat kerja saya dari tahun 2008 hingga 2011 itu. Di sana lah tempat pertama kali saya belajar menjadi seorang fashion stylist sekaligus jurnalis di bidang lifestyle, khususnya fashion & beauty.

Di majalah itu pula, pada akhirnya saya mewujudkan mimpi saya untuk bekerja di media massa, menjadi jurnalis, dan menulis.. Because I know that writing is my passion!

Selama bekerja di sana, saya punya rekan-rekan kerja yang menyenangkan. Saya benar-benar merasakan bagaimana kerja sama tim yang baik, solid, dan selalu siap membantu satu sama lain (sesuatu yang belum saya temukan di tempat kerja saya yang lain). Tak hanya asyik diajak kerja bareng, mereka pun menyenangkan saat diajak have fun bareng.

Berbagai kenangan selama bekerja di sana juga masih saya ingat. Sibuknya menyiapkan pemotretan, berbagai kendala saat pemotretan (mulai dari model telat, susah minjam baju, sampai ribetnya memikirkan lokasi pemotretan), menyiapkan event (stand by dari mall belum buka sampai mall tutup–sering banget!), menyiapkan fashion show, dan lainnya.

Meski akhirnya saya memutuskan untuk resign untuk mencari kesempatan yang lebih baik, saya nggak bisa pungkiri bahwa kerja di majalah Cita Cinta merupakan pengalaman yang menyenangkan. (See some of my portfolios here and here)

Saya sendiri juga melihat bagaimana perkembangan media cetak sekarang ini mulai terhambat sejak adanya media online dan portal berita.

Banyak majalah yang terpaksa tutup karena penjualannya mulai menurun. Namun dari kabar terakhir yang saya dapat, alasan Cita Cinta ditutup bukan karena penjualannya menurun. Memang, sih, dari yang selama ini saya tahu Cita Cinta punya pembaca loyal yang tersebar di beberapa daerah (bukan cuma Jakarta), pendapatan iklannya pun oke. Jadi jika bukan karena penjualannya turun, lantas tetap ditutup, menurut saya ya sayang banget. Apalagi tampilan Cita Cinta sekarang sudah berubah, lebih modern dan lebih stylish.

Namun tentu saja keputusan itu bukan di tangan pembaca, bukan juga di tangan karyawannya. Akhirnya, edisi pada Maret kemarin (tepat pada saat Cita Cinta merayakan ulang tahunnya yang ke-16) menjadi edisi yang terakhir. Sedih karena seharusnya majalah ini masih bisa dikembangkan. Website dan media sosialnya pun juga terus berkembang, kok, di tengah persaingan media cetak dan online.

Saya pun hanya bisa mengucapkan terima kasih atas semua ajaran, pengalaman, suka dan duka selama di sana.. Love love love.. You’re #alwaysinmyheart.

Ini berbagai keseruan (dan kegilaan) selama saya berada di Cita Cinta…

cc1
Ketika para stylist malah jadi model dadakan (semuanya sekarang udah jadi mama) 😀
cc2
Serunya berdandan ala tahun ’70an untuk rubrik redaksi mejeng tahun 2011
cc3
Pertama kalinya bergabung di redaksi Cita Cinta tahun 2008
cc4
Di backstage Jakarta Fashion Week, di antara para model-model kece
cc5
Muka kucel, badan capek, tapi difoto mah wajib gaya
cc6
Ini dia sesi pemotretan di Pulau Cina
cc7
Merayakan ulang tahun ke-26. Sejak pindah dari Cita Cinta, nggak pernah lagi tuh yang namanya ngerayain ulang tahun di kantor
cc8
Selalu ada keriaan sama tim Cita Cinta
cc9
Buka puasa bersama di Kandank Jurank Doank
cc10
Ketika sempat dikira SPG Maybelline saat bikin event di Bali

 

 

 

Advertisements

5 thoughts on “Saying Goodbye to Majalah Cita Cinta

    1. Wahh ternyata pernah jd kontributor, jgn2 aku sering baca tulisannya 🙂 iyaa sedih bgt krn kabarnya sih bukan krn penjualan yg turun, ga tau knp perusahaannya malah memutuskan majalah ini ditiadakan 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s