Chef Massimo Bottura: Artwork on a Plate


Gara-gara sering nonton acara masak seperti MasterChef dan Top Chef (meski saya tidak bisa masak), saya jadi penasaran dengan rasa masakan para chef tersebut benar-benar enak nggak ya? Apalagi mereka yang punya gelar “3 Michelin Stars” seperti apa, sih, enaknya?

Beberapa hari lalu, saya pun dihubungi oleh Hotel Mulia dan mendapat undangan untuk mencicipi masakan Chef Massimo Bottura, chef asal Italia yang restorannya bernama Osteria Francescana mendapat penghargaan 3 Michelin Stars. Bahkan restorannya itu masuk di lima teratas dalam daftar 50 Best Restaurants in the World–wow!!

Saya pun tidak asing dengan nama Massimo, karena dia pernah menjadi juri tamu di acara MasterChef Australia season 7. Dia juga ada di dalam serial dokumentasi Table’s Chef di Netflix.

Tentu saja saya excited dengan tawaran tersebut. Jadilah pada hari Jumat (18 Maret) kemarin, saya makan siang di Hotel Mulia (bersama teman-teman jurnalis lainnya) mencicipi makanan dari Chef Massimo. Sebenarnya ada 9 menu makanan, mulai dari menu pembuka, main course, hingga dessert, tapi saya hanya mendapatkan enam menu saja. Well, it’s free.. dan mereka juga harus menyiapkan makanan untuk acara malam harinya, jadi enam pun bagi saya sudah cukup menyenangkan.

Sebelum mencoba masakan hasil kreasi Chef Massimo, dia terlebih dulu berbicara tentang inspirasi masakannya. Dia mengatakan dirinya adalah seorang artisan, bukan sekadar chef. Makanya, setiap masakannya itu dianggap sebagai sebuah karya seni. Dia melihat kuliner sebagai perpaduan dari seni, budaya, dan tentu saja bahan-bahan makanan yang berkualitas bagus.

Saat memulai Osteria Francescana, sebenarnya dia dianggap sebagai chef  yang ‘membelot’, karena resep tradisional Italia malah dimodifikasi menjadi modern dan unik. Namun keberaniannya itu justru membuahkan hasil hingga akhirnya dia disebut sebagai salah satu chef yang paling kreatif di dunia. Lebih jelasnya, bisa menonton Chef’s Table di Netflix 😀

Cara dia berbicara dan menjelaskan soal makanannya, saya melihat dia sebagai seorang Chef yang humble dan penuh imajinasi. Dia tak segan-segan bercanda dan membuat suasana jadi lebih menyenangkan (sangat berbeda dengan Chef Gordon Ramsay di serial Hell’s Kitchen.. hehe).

Oke, sekarang saatnya membicarakan seputar makanan. Menu pembuka untuk acara tersebut dinamakan “Come to Italy with Me”. Menu ini terdiri dari dua makanan yang ukurannya imut-imut, I mean.. sangat sangat mini. Yang satu berbentuk seperti bantal, sementara yang satu berbentuk mirip macaron.

come to italy with me
Come to Italy with Me
Yang berbentuk bantal merupakan salt-cod yang disirami saus tomat. Meski saya tak suka ikan, rasa tomat yang lezat menyelimuti rasa amis ikan sehingga terasa gurih dan lezat. Sementara si mini macaron itu benar-benar mengejutkan rasanya. Ada pencampuran rasa gurih dari mozarella, berpadu dengan tomat dan basil. Dari menu pertama saja, saya tahu bahwa Chef Massimo ini senang membuat makanan yang berbeda dengan tampilannya. Ketika melihat bentuk macaron, orang tentu akan berharap makanan manis, tapi di sini yang didapat justru makanan savory.

Lanjut ke menu kedua, yaitu “Lentils Better than Beluga”. Lentils merupakan jenis kacang-kacangan. Menurut Chef Massimo, lentils ini dibuat menyerupai bentuk kaviar dan juga dimasak dengan eel broth, sehingga ada rasa seafood di dalamnya. Uniknya juga, lentils ini disajikan di atas es.

lentils
Lentils Better than Beluga
Menu ketiga adalah “Riso-Pizza”, yang menurut Chef Massimo adalah perpaduan rasa antara Risotto dan Pizza, dua masakan khas Italia. Oke, saya sejujurnya tidak pernah tertarik dengan Risotto, karena kalau di Jakarta bentuknya seperti bubur dan teksturnya lembek. Risotto juga sering menjadi masalah di berbagai acara kuliner yang saya tonton, bahkan di MasterChef Australia, makanan itu disebut sebagai ‘dead dish’, saking banyaknya yang gagal membuat Risotto.

riso pizza
Riso-Pizza
Makanya, saya penasaran banget dengan the real Risotto ini. Ketika dibawa ke meja, bentuknya menurut saya kurang menarik. Seperti bubur warna putih yang di pinggirnya dikasih remah-remah. Ternyata…. rasanya sangat lezat. Menurut penjelasan di menu, Riso-Pizza ini menggunakan perpaduan nasi dan polenta yang merupakan tradisi di Italia Utara yang dicampurkan dengan rasa tomat, anchovy, dan oregano dari Italia Selatan. Remah-remah di sekitarnya itu (yang enak banget rasanya) merupakan nasi yang dipanggang. Tekstur Risotto pun tidak seperti yang saya bayangkan. Ternyata teksturnya memang lembut, tapi tetap ada butiran yang bisa digigit. Sehingga perpaduan tekstur semua bahan makanan di satu piring itu terasa pas.

Lanjut ke menu keempat (yang merupakan favorit saya), yaitu “Beautiful Psychedelic Spin-painted Veal, Not Flame Grilled”. Daging sapi muda yang dimasak dengan cara sous-vide ini dihiasi saus warna-warni, yang terbuat dari klorofil, sweet potato, red beet emulsion, dan extra-old Villa Manodori balsamic vinegar. Saya sejujurnya belum pernah mencoba makan daging yang tidak matang benar-benar, jadi melihat daging dengan warna merah itu rasa deg-degan.

veal
Beautiful Psychedelic Spin-Painted Veal, Not Flame Grilled
Namun setelah gigitan pertama… MMMMMM… enaknya. Dagingnya benar-benar lumer di mulut, pinggiran daging yang garing memberi rasa smoky yang lezat. Ditambah lagi dengan macam-macam saus yang menambah rasa makin lengkap. Rasanya kalau boleh, saya mau tambah lagi (hahaha..).

Selanjutnya, menu kelima adalah “Caesar Salad in Bloom”. Satu lagi menu yang tampilannya tidak biasa. Kali ini salad malah dihiasi edible flowers alias bunga yang bisa dimakan. Satu potong selada dihiasi dengan bunga chamomile kering, jasmine, dan raspberries. Rasanya memang unik, but this is just not my favorite.

caesar salad
Caesar Salad in Bloom
Terakhir adalah menu “Oops! I Dropped the Lemon Tart”, menu yang inspirasinya didapat ketika salah satu sous chef menjatuhkan lemon tart. Akhirnya dibuatlah lemon tart dengan bentuk yang tidak biasa.

lemon tart
Oops! I Dropped the Lemon Tart
Tumpukan rasa dari lemon zabaglione, lemon verbena sorbet, dan meringue, dicampur dengan bergamot, savory capers, dried oregano, dan hot pepper oil, menjadikan menu ini sebagai menu penutup yang meledak (in a good way, of course). Saya suka sekali, karena rasa manis, asam, dan gurih berpadu sempurna. Pada akhirnya saya cuma bisa bilang… “Yahhh sudah habis, hiks.”

Namun menurut Lara, istri Chef Massimo, itulah tujuan utama suaminya dalam menciptakan makanan. Bukan ekspresi di awal, melainkan memori yang diciptakan di akhir menikmati makanan.

Oh iya, tiga menu yang tidak disajikan adalah “La Dispensa”, “Spring in Jakarta”, dan “The Crunchy Part of the Lasagne”. Saya sebenarnya penasaran banget dengan menu pinggiran Lasagna itu, karena memang pinggiran Lasagna yang agak gosong itulah justru yang terasa paling lezat.

Saya juga ingat Chef Massimo pernah mengatakan di satu episode MasterChef Australia bahwa pinggiran Lasagna yang garing itu yang menjadi favoritnya.

Ah well, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini, terutama untuk Hotel Mulia yang sudah mengundang saya. Benar-benar pengalaman yang tak terlupakan bagi saya.

with chef massimo
With Chef Massimo Bottura
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s