About Motherhood


Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you didn’t know existed

Saya tidak pernah membayangkan menjadi seorang ibu. Saya bahkan tidak merasa bahwa diri saya memiliki sikap keibuan. Saya bahkan tak pernah suka anak kecil, karena bagi saya mereka berisik (hehe.. please don’t judge me). Saya akhirnya bisa akrab dengan anak kecil, karena saya punya banyak keponakan (lima tepatnya). Walaupun begitu, saya tidak pernah menggendong mereka sejak bayi, jadi pengalaman saya dengan anak kecil sangat minim.

Namun tentu saja semua itu berubah ketika saya akhirnya menikah dan hamil. Mungkin itu yang dinamakan naluri perempuan, karena sejak di dalam kandungan saja saya sudah jatuh cinta dengan si jabang bayi. Sebelumnya saya tidak pernah mengerti, kenapa para ibu-ibu itu selalu membicarakan anaknya, posting foto di media sosial, dan sebagainya. Sekarang saya mengerti, bagaimana seorang anak bisa menjadi ‘dunia’ bagi si ibu. Saya mengerti rasa cinta yang dirasakan seorang ibu pada anaknya.

Salah satu yang menyebabkan saya tidak menyukai anak kecil, karena ibu saya juga tidak menyukai anak kecil (ini mungkin ya, berdasarkan analisa pribadi) atau anak-anak pada umumnya. Ibu saya, mungkin, merasa kecewa dengan anak-anaknya (mungkin juga termasuk dengan saya) sehingga pemikiran yang selalu dia tanamkan adalah, “anak-anak diurus baik-baik sejak kecil, sudah gede malah bikin susah, cuma bikin kecewa orangtua, dan lain sebagainya”.

Gara-gara itu pula, saya sering merasa, “tidak puaskah dia memiliki saya sebagai seorang anak?”. Saya tidak mengatakan dia tidak sayang pada saya, justru sebaliknya, saya adalah anak yang sangat dimanja. Semua kebutuhan dipenuhi. Namun pada akhirnya, itu semua malah jadi bumerang. Karena sering dibantu sana-sini, saya jadi susah mandiri. Bahkan setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya masih tetap bergantung pada ibu saya.

Itulah mengapa, saya ingin bisa mengajarkan hal berbeda pada anak saya. Bukan juga saya menyebut orangtua saya salah didik, buktinya saya baik-baik saja. Sekolah, kerja, dan berkeluarga, semuanya baik. Saya bukan pelaku kriminal, bukan juga pecandu narkoba. Hanya saja, ada beberapa pemahaman orangtua yang kadang tidak sejalan dengan saya, dan bagi saya itu wajar ketika anak menjadi dewasa dia punya pemikiran sendiri.

Saya percaya, kepribadian seseorang itu tidak selalu nature atau datang dari sananya, tapi juga nurture atau didikan dari keluarga. Bisa dibilang keluarga saya cukup dekat, harmonis, dan meski ayah saya sudah meninggal hampir 15 tahun lalu, saya tidak pernah kekurangan apa pun secara materi. Itu semua berkat kerja keras ibu saya. Kadang, saya berpikir, bisakah saya sekuat ibu saya dalam membesarkan anak saya sendiri? Bisakah saya mengajarkan hal yang baik-baik, sehingga nantinya dia bisa mandiri, bisa menjadi orang yang berguna bagi keluarganya, dan sebagainya?

Salah satu hal yang ingin saya ajarkan pada anak saya nanti adalah, saya tidak ingin dia melihat sesuatu dari harganya. I want her to learn about value, not price. Ketika semua diukur berdasarkan materi atau uang, tentunya tidak akan pernah cukup. Kita bisa saja mengejar uang sebanyak-banyak, tapi tidak pernah bahagia. Saya ingin dia tahu, bahwa begitu banyak hal yang tak bisa diukur oleh uang. Saya mau dia merasa bahagia dan selalu bersyukur atas apa yang dimiliki. Punya ambisi memang penting, tapi jangan lantas menghalalkan segala cara demi materi.

Saya juga ingin bisa membangun rasa percaya dirinya dengan tidak pernah merendahkan atau meremehkan segala macam usahanya. Mungkin banyak orangtua yang sering merasa tidak puas ketika anaknya tidak berprestasi secara akademis atau misalnya tidak pernah meraih juara di sebuah lomba. Saya tidak mau menjadi seseorang yang terus-menerus melihat ‘hasil’ bukan ‘usaha’. Semoga saya tidak menjadi ibu-ibu yang kesal karena anaknya tidak ranking atau tidak memenuhi ekspektasi orangtua. Saya ingin bisa mendorong anak saya untuk menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri, bukan menjadi sesuai keinginan saya.

Satu lagi, saya juga tidak ingin menjadi orangtua yang pemarah atau sering membentak anaknya. Saya pernah membaca, bahwa anak yang gemar berbohong adalah anak yang sering dimarahi. Mereka lebih memilih untuk berbohong dengan harapan tidak akan dimarahi, padahal pada akhirnya justru mereka akan lebih dimarahi begitu ketahuan bohong.

Saya menulis ini bukan karena sok tahu, mengingat usia anak saya saja masih empat bulan. Saya masih belajar menjadi ibu, pengalaman saya masih cetek. Saya cuma berharap tulisan ini bisa menjadi self reminder untuk diri saya sendiri, jika seandainya 10 atau 20 tahun lalu saya menjadi lupa akan hal ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s