Diary of a Breastfeeding Mom


Sejak awal kehamilan, saya memang selalu berniat untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan pada anak saya. Meski begitu saya sempat merasa tidak percaya diri, apakah nantinya ASI saya lancar atau tidak ya? Ternyata, Alhamdulillah ASI saya lancar, tapi memberikan ASI kepada bayi yang baru lahir tidak semudah yang saya bayangkan.

Saya pernah diberitahu, pada menyusui itu sakit, apalagi ketika si bayi memainkan puting ibunya atau ketika si bayi sedang tumbuh gigi. Faktanya, menyusui–bahkan sejak awal–ternyata sangat menyakitkan.

Sebelum lanjut baca, penting untuk diketahui bahwa tulisan ini mungkin terkesan agak vulgar, karena saya akan banyak membicarakan soal payudara. Namun menurut saya ini penting, khususnya untuk ibu-ibu muda seperti saya yang juga sedang belajar.

The Neverending Ouch!

Dimulai dari rasa sakit ketika menyusui pertama kali. Awalnya saya pikir akan terbiasa setelah beberapa hari, tapi saya salah! Selanjutnya ada insiden puting lecet atau bahkan berdarah. Mau menyusui saja sudah takut duluan, karena rasa perih dan nyeri yang terus-terusan muncul. Ketika tersentuh tangan atau bahkan disiram air saja, bagian puting rasanya nyeri.

Tak cukup rasa nyeri saja, karena ketika produksi ASI sudah mulai banyak sementara si bayi kemampuan menyusuinya masih sedikit, muncul masalah baru. Payudara saya terasa mengeras, sakitnya bukan main, bahkan untuk tidur saja susah. Saya sempat merasa meriang gara-gara ini. Katanya sih ini memang wajar dialami para ibu menyusui. Caranya harus dipijat agar ASI yang membeku bisa kembali cair. Saya juga biasanya menggunakan handuk atau botol berisi air panas untuk sedikit ‘mencairkan’ asi beku itu. Selanjutnya, payudara pun harus dipompa agar tidak terus-terusan membeku.

Bayi pun biasanya akan sulit menyusui jika payudara terlalu kencang dan bengkak. Jadi saya membiasakan diri untuk selalu memompa payudara ketika mulai dirasa terlalu kencang.

Hingga sekarang rasanya nyerinya masih ada, but I just have to deal with it. Oh iya, satu lagi soal payudara. Jangan heran ketika bentuknya menjadi besar sebelah, karena mungkin ada kecenderungan sisi payudara tertentu lebih banyak memproduksi ASI.

Tak hanya masalah payudara, ada lagi masalah sembelit yang mungkin tak banyak dibicarakan. Suatu kali, saya mengobrol dengan teman yang memiliki anak usia 4 tahun. Dia bertanya, apakah saya sempat merasakan sembelit? “Sebal ya kenapa nggak ada yang kasih tahu kalau kita bakal sembelit pas menyusui,” begitu katanya.

Masalah sembelit sangat menyebalkan bagi saya yang melahirkan secara normal dan mendapat jahitan di bagian bawah sana. Otomatis ketika sembelit saya pun jadi takut buang air besar, karena takut jahitannya robek.

Saat tanya ke dokter pun, ternyata memang sembelit itu wajar. Cairan dalam tubuh kita banyak keluar karena ASI. Itu dia mengapa kita perlu banyak minum air putih, perbanyak makan buah, dan sayuran. Saya akhirnya membiasakan untuk rutin makan pepaya setiap harinya dengan porsi yang banyak. Setelah beberapa minggu, baru deh urusan ‘ke belakang’ kembali normal.

The Baby Blues Episode

Soal ini, saya tidak tahu apakah saya bisa dikategorikan memiliki baby blues atau tidak. Tapi kalaupun iya, saya pikir wajar juga bagi setiap ibu baru mengalami baby blues ini, meski gejalanya berbeda bagi setiap orang.

Saya, misalnya, di minggu-minggu pertama mudah sekali menangis, sedih, marah, dan perasaan tak menentu lainnya. Bukan sedih karena punya anak, tapi karena takut tak bisa menjadi ibu yang baik. Saya pikir perasaan itu juga muncul karena rasa lelah yang luar biasa.

Bayangkan saja, saat akan melahirkan saya bisa dibilang tidak tidur seharian. Setelah seluruh energi habis untuk melahirkan, saya mungkin hanya sempat tidur 1-2 jam, karena banyak saudara dan teman yang datang menjenguk hingga malam. Setelah pulang ke rumah, saya pun kesulitan istirahat karena masih menyesuaikan diri. Si bayi juga sepertinya sedang menyesuaikan diri dengan jadwal menyusui dan jadwal tidurnya sendiri.

Jadi menurut saya wajar bagi para ibu jika perasaannya sangat sensitif di awal-awal menyusui. Makanya peran suami sangat penting saat ini. Alhamdulillah suami saya benar-benar sabar, karena saya bisa menjadi sangat sangat menyebalkan. I’m so sorry yudo.. I blame the hormones.

The Zombie Look

Beberapa minggu setelah tahu saya hamil, mendadak saya merasa mual kalau pakai lipstik. Padahal saya kan pencinta lipstik sejati! Makanya banyak yang mengira saya hamil anak laki-laki, bahkan ada yang terang-terangan bilang saya terlihat jelek–hiks!

Setelah melahirkan, penampilan saya juga tidak membaik. Berkat begadang dan kurang tidur, saya merasa ngeri melihat wujud saya di depan kaca. Rambut acak-acakan, muka dan bibir pucat, mata cekung, serta lingkaran hitam di sekitar mata. Benar-benar seperti zombie..atau vampire!

Untungnya lagi.. Saya masih ada ibu yang mengurus makanan, mencekoki saya dengan segala macam makanan sehat. Kacang hijau, sayur katuk, kaldu daging, dan lainnya. Tidak terbayangkan jika saya harus mengurus bayi sendiri sambil menyiapkan makanan. Jadi saya sangat-sangat bersyukur atas kehadiran mama dan sangat kagum dengan kakak saya yang memiliki tiga anak tanpa bantuan dari mama sedikit pun.

The Constant Eating

Setelah 9 bulan merasa mual saat hamil–yes, you got that right, whole 9 months!–saya akhirnya bisa makan enak. Ketika banyak orang bilang saat hamil pasti nafsu makan jadi besar, saya malah tidak merasakannya.

Saya tidak pernah merasa ngidam makanan tertentu, sebaliknya setiap makan bahkan yang enak sekalipun menjadi tidak enak di lidah saya. Setiap makanan pasti meninggalkan after taste yang membuat saya mual–meski tidak selalu muntah. Sikat gigi pun selalu membuat saya mual, tapi jika tidak sikat gigi dan sikat lidah, saya juga akan mual terus.

Begitu melahirkan, saya mencoba sikat gigi dan rasa mual itu hilang total. Semua makanan pun terasa enak. Saya yang biasanya tidak suka sayur saja bisa makan sayur dalam porsi yang banyak.

Sayur katuk menjadi favorit saya. Pagi setidaknya saya dua kali sarapan, ditambah camilan sore, serta sepiring penuh buah berupa pepaya dan mangga sebelum tidur.

Saya juga tidak berharap kurus dalam waktu dekat, karena yang penting adalah saya makan yang cukup dan bergizi untuk ASI saya. Dengan semua makanan terasa enak, ya saya jadi makan terus, hehe. Mungkin ini dia penyebab ibu-ibu menyusui kadang terlihat lebih gemuk dibanding saat hamil.

Setelah hampir dua bulan, rasanya saya sudah bisa mengatur waktu. Saya juga masih punya waktu istirahat. Semua hal-hal tidak menyenangkan itu pun tidak akan terasa ketika melihat perkembangan bayi saya. Kenaikan berat badannya normal dan saya pun menjadi lebih percaya diri saat menyusuinya.

Tapi masalah saya tidak selesai sampai di sini, karena ada episode baru nantinya di mana saya mulai bekerja dan harus menyiapkan ASI perah untuk Alanna. Perjuangan ibu memang berat, baik untuk yang menyusui dengan ASI maupun susu formula, yang bekerja di kantor maupun yang tinggal di rumah.

Pengalaman inilah yang membuat saya makin kagum dengan ibu saya, ibu mertua saya, kakak saya, dan teman-teman saya yang sudah memiliki anak. Senang rasanya bisa sharing dan bertanya pada mereka seputar pengalaman mengurus anak.

Teman-teman saya ini pun punya cerita berbeda-beda. Ada yang resign dan kerja freelance, ada yang tetap bekerja dan sukses di karir, ada yang jadi pengusaha untuk mengurus anak di rumah, dan ada yang keluar dari pekerjaan lalu beberapa tahun setelahnya kembali bekerja. Salut untuk para ibu. Semoga saya juga bisa menjadi ibu yang baik untuk Alanna…

 

Saat acara syukuran 40 hari Alanna. Bismillah semoga Alanna selalu diberi kesehatan dan menjadi anak yang baik

 

Advertisements

3 thoughts on “Diary of a Breastfeeding Mom

  1. Yay a birth story:)! Betul bgt neng,ASI itu tnyta ga semudah yg dibayangkan ya? Gue sangat bersyukur pas hamil sempat ikut workshop laktasi. Padahal iseng aja tnyta sangat amat berguna! Jadi gak mengalami lecet atau luka gitu hanya aja problem over produksi stlh si kecil usia 4 mgg. Itu jg bikin pusing banget hihi. Gue sama suami sepakat buat gak terima besuk sampai si kecil usia 8 mgg karena kita berdua sekarat, untungnya disini orang2 sangat memaklumi kalo di indo mungkin dicap sombong kali ya?

    Breastfeeding itu indah banget gue sangat menyayangkan sebenernya mo berhenti sebulan lg. Tp itu karena masalah kesehatan jd i just have to deal with it:) Hahaha penampakan gue pun ga banget neng, situ masih cantik kinyis kinyis malah sempet pose di fashion mag aduhhh diriku dah kaya kaen gombal. Setelah melahirkan kantung mata segitu gede nya bs nampung aer kobokan😝 Semoga perjuangannya lancar, mulus sampe bulan ke 6 yah neng. Semangat xx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s