Our Euro Trip and Second Honeymoon #VeryLatePost


Saya sudah terlalu lama menunda cerita ini hingga enam bulan lamanya… astaga! Padahal pengalaman ini merupakan satu lagi daftar di bucket list saya yang harus dicoret.

Setelah sekian tahun bermimpi ingin ke Paris (baca: Eat, Play, Love) akhirnya mimpi itu terwujudkan juga tahun ini. Saya dan suami memang telah merencanakan perjalanan ini. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, sepertinya saya yang agak maksa, padahal mungkin uangnya bisa dipakai untuk ditabung. Tapi untungnya Yudo sangat mengerti keinginan saya ini dan dia pun mengumpulkan uang demi bisa mengajak saya ke sana.

Sekitar 1-2 minggu setelah kami melakukan pembayaran di awal untuk mengikuti tur Eropa ini, saya baru mengetahui bahwa saya hamil. Pada minggu-minggu pertama, saya cukup tersiksa. Bukan hanya mual dan muntah, tapi badan saya terasa lemas tidak berenergi (yang menurut dokter memang wajar).

Sebelum berangkat pun saya masih ragu akankah bisa berpergian jauh, mengikuti tur yang panjang dan padat, dalam keadaan hamil delapan minggu? Tapi lagi-lagi, saya bersyukur dengan kehadiran Yudo yang selalu menjaga saya sepanjang perjalanan ini.

Kami memulai perjalanan ke Roma, Italia. Hari pertama saja, begitu sampai langsung jalan-jalan menuju Vatikan, lalu kembali ke Roma menuju Colosseum, Trevi Fountain (yang sedang direnovasi), dan lainnya, yang pastinya menguras tenaga karena saya tidak bisa tidur di pesawat. Badan rasanya sudah mau rontok, karena setiap paginya harus bangun jam 7.

Besoknya menuju Florence, lalu ke Pisa, lalu besoknya lagi menuju Venice. Intinya, jadwal tur kami ini sangat sangat padat. Untungnya, teman-teman tur cukup menyenangkan. Tidak ada yang rese atau menyebabkan tur kami jadi terhambat. Sayangnya, saya tidak sempat ke Milan, karena tidak masuk ke dalam paket tur. Sebenarnya hampir saja kami melewati Milan, tapi karena ada beberapa orang yang tidak setuju, akhirnya tidak jadi, deh. Kesepakatannya, semua anggota tur harus sepakat untuk pergi ke satu tempat.

Venice, Italy
Venice, Italy

Dari Italia, kami menuju Switzerland. Dari Roma yang hiruk-pikuk menuju Luzerne yang cantik dan bersih, rasanya kontras banget. Zurich juga sangat indah. Saya langsung jatuh cinta, deh, sama Swiss. Selain karena pemandangannya indah, udaranya bersih, dan segar. Melihat gunung es, sementara di bawahnya padang rumput hijau, dan di sisi lainnya ada danau, benar-benar cantik!

Di hari kedua di Swiss, kami pergi ke Mt. Titlis, yang memiliki salju abadi. Yay.. ini pertama kalinya saya melihat salju, di ketinggian 3200 meter di atas permukaan laut pula! Sejak awal, tour guide kami mengatakan bahwa di atas sana akan kekurangan oksigen. Ya, dan benar saja, saya merasa sesak napas. Tidak lama setelah saya bermain-main salju, saya pun muntah (hehe) dan akhirnya minta turun duluan.

Keesokan harinya, akhirnya, hari yang saya tunggu-tunggu, kami ke Paris! Sepanjang perjalanan di Eropa, yang saya ingat adalah saya terus-terusan merasa mual, apalagi dari satu negara ke negara lain kami selalu menggunakan bus. Setiap makanan yang masuk tidak pernah ada yang terasa enak. Setiap malam kami makan di chinese restaurant, tapi jangan bayangkan rasanya seperti resto chinese di Jakarta, deh. Tapi begitu masuk kota Paris, sepertinya mual saya hilang (lebay yaa…)

Anyway, sebenarnya begitu masuk kota Paris, apalagi setelah dari Swiss, saya langsung merasa…eewww… kota ini kotor sekali! Ramai, macet, sampah berserakan, belum lagi coretan grafiti di pinggir-pinggir jalan. Toilet umumnya pun… eewww… Saya langsung membandingkannya dengan New York. Kalau begini, sih, lebih mending di New York. Apalagi ke kota mana pun di Eropa, tour guide kami selalu berpesan, “Awas copet”. Jadi satu lagi nilai minus kalau ke Eropa.

Hari pertama memasuki kota Paris, kami disambut hujan. Keesokannya, cerah ceria. Alhamdulillah, karena pada hari kedua ini kami menuju Menara Eiffel, yang menurut orang-orang “Ah, biasa banget” tapi menurut saya, “Ah, cantik banget!”. Benar-benar nggak nyangka, akhirnya saya bisa menjejakkan kaki ke sini, bersama orang yang saya sayangi. Huhu.. romantis deh.

Paris, France
Paris, France

Sayangnya, kami tidak berlama-lama di Paris, jadi tidak sempat mengunjungi banyak tempat. Saya pun nggak sempat masuk ke Louvre, tapi setidaknya masih sempat berfoto di depannya. Dari Paris, kami langsung menuju Brussels. Itu pun rasanya cuma setengah hari di sana, padahal kan saya ingin berfoto-foto. Untungnya kami masih sempat merasakan wafel Belgia yang terkenal itu, haha. Bodohnya, kami tidak sempat memfoto wafelnya, karena kelaparan wafelnya keburu dilahap habis.. 😀

Setelah menginap semalam di Brussels, kami pun menuju destinasi terakhir, yaitu Belanda. Kami memulai perjalanan ke Amsterdam, lalu ke Keukenhof, baru besoknya lagi ke Volendam. Lagi-lagi, kami sempat merasa waktu yang ada tidak cukup untuk mengeksplorasi kota Amsterdam. Kami malah dibawa berjalan-jalan di atas perahu di atas kanal, yang menurut saya agak membosankan yaa..

Di Keukenhof pun, karena masih bulan Maret, belum banyak bunga yang mekar. Cuaca hujan, dingin, ditambah angin kencang juga membuat kami kesulitan berfoto-foto. Adanya malah foto payung saya yang hancur dihantam angin, padahal payungnya saya beli di Paris buat kenang-kenangan (hiks).

Keesokan harinya, kami sempat ke Zaanse Schans sebelum akhirnya ke Volendam. Yudo karena sudah pernah ke Belanda jadinya seperti merasa sedang nostalgia masa kecilnya, hehe. Oh iya, di Volendam ini sudah pasti wajib banget berfoto dengan baju khas Belanda. Yakin, deh, semua orang yang ke Belanda pasti punya foto dengan baju ini di rumahnya, haha.

Zaanse Schans, Netherlands
Zaanse Schans, Netherlands

Di sini saya sempat makan Poffertjes dan es krim, salah satu makanan khas Belanda. Mungkin bisa dibilang ini satu-satunya makanan yang terasa enak di lidah saya yang sedang aneh karena lagi hamil (eh, wafel Belgia juga enak, sih).

Anyway.. perjalanan kami memang cukup singkat. Jika dihitung-hitung cuma 10 hari, itu pun banyak waktu yang dihabiskan di jalan karena dari satu negara ke negara lain menggunakan bus dan bukan kereta. Tentu saja saya masih penasaran dengan kota-kota lainnya di Eropa. Tapi lagi-lagi, ini demi menghilangkan rasa penasaran saya dengan Paris. Lagipula ketika bayi saya lahir, mungkin saya harus menunggu 1-2 tahun sebelum bisa berpergian seperti ini.

Saya pun merasa senang bisa melewati ini bersama Yudo, karena dia benar-benar sabar dengan saya yang rewel sepanjang perjalanan (dan saya hanya bisa menyalahkan hormon, hehe). Thanks for making my dream come true… 

Oh iya.. tanggal 13 September kemarin, kami juga baru merayakan 1st year anniversary. Nggak nyangka sudah setahun, dan kini kami sedang bersiap-siap dengan kedatangan si bayi kecil, yang due date-nya Oktober nanti. Memang, sih, usia pernikahan kami masih muda. Tapi semoga di tahun-tahun mendatang, kami bisa tetap bahagia (atau bahkan lebih) seperti di tahun-tahun awal pernikahan ini.

Advertisements

One thought on “Our Euro Trip and Second Honeymoon #VeryLatePost

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s