When You Realize That Money isn’t Everything


career salary

Ketika pertama kali terjun ke dunia kerja, saya selalu mengharapkan bisa berkarir. Saya tidak mau sekadar kerja hanya demi uang, saya ingin mengembangkan diri, saya ingin pengakuan, dan tentu saja saya ingin mencintai pekerjaan yang saya geluti. Sejak dulu, saya memimpikan untuk menaiki jenjang karir, hingga lama-lama saya pun menjadi ‘atasan’, bukan lagi anak baru yang tidak mengerti apa-apa.

Saat pertama kali bekerja kantoran, saya sama sekali tidak menyukainya. Satu, karena bidangnya tidak sesuai dengan saya. Dua, karena gajinya sangat sangat kecil, dengan penghitungan bonus yang menurut saya tidak adil.

Pekerjaan saya pertama kali adalah sebagai presenter freelance di sebuah stasiun televisi. Pembayaran gaji selalu terlambat dan tidak seberapa. Kemudian saya memutuskan untuk kerja kantoran. Kala itu saya berpikir, “Setidaknya punya pengalaman dulu.”

Akhirnya saya bekerja di sebuah agensi iklan sebagai Account Executive. Berbeda dengan agensi iklan lainnya, agensi ini mengkhususkan pada media radio saja, yang tentu lebih sulit ‘menjualnya’. Awalnya saya kesulitan, karena tidak merasa punya bakat jadi sales, apalagi paham mengenai dunia radio. Iya, sih, dulu pernah jadi penyiar radio kampus, tapi kan masalah saya paling seputar pemilihan lagu, bukan target miliaran rupiah.

Perlahan-lahan saya mulai memahami bidang ini. Saya punya daftar klien kepercayaan, dan meski kecil saya pun pelan-pelan mulai berhasil menjual spot iklan ke berbagai klien. Berkat kerja di sini, saya jadi paham jalan-jalan di Jakarta, karena sebagai AE saya harus ke mana-mana sendiri, menyetir sendiri, bahkan menggunakan mobil sendiri (gila!), padahal uang yang masuk nantinya buat perusahaan bukan buat saya.

Setelah 10 bulan bekerja di sana, tentu saja saya tidak betah. Saya masih ingin mengejar passion saya di bidang jurnalistik. Akhirnya, Allah menjawab permintaan saya, dan saya pun masuk menjadi fashion stylist sekaligus jurnalis di sebuah majalah. Lagi-lagi, ini sebenarnya bidang baru bagi saya, karena saya tidak punya dasar untuk menata gaya. Saya saja masih kesulitan memilih padu padan busana, ini malah disuruh mengarahkan gaya orang lain.

Tapi saya belajar dan belajar terus. Saya memperhatikan rekan kerja yang lebih senior, saya semangat mengikuti berbagai pelatihan, dan selalu membaca berbagai majalah untuk belajar sekaligus mencari inspirasi. Saya bertemu dengan teman-teman yang menyenangkan, yang hingga kini kenangan bekerja di tempat tersebut masih terasa menyenangkan di pikiran saya.

Sayangnya, pekerjaan itu juga punya kelemahan. Gajinya sangat minim, bahkan tidak sebanding dengan pekerjaan yang saya lakukan. Kadang saya harus jungkir-balik untuk mengerjakan event. Tidak hanya dalam kota, tapi ada juga yang di luar kota. Pernah satu waktu, saya harus membiarkan baju-baju di dalam koper, karena saya hanya berada di Jakarta selama tiga hari, setelah itu harus langsung pergi lagi tugas ke luar kota.

Setelah 3 tahun 8 bulan, saya memutuskan untuk resign. Saya pun akhirnya menemukan pekerjaan baru tiga bulan sejak mengundurkan diri. Kala itu saya sangat bersemangat karena saya akan memasuki sebuah dunia baru lagi, yaitu dunia media online. Saya tahu ini bidang yang sedang berkembang, prospeknya cerah, dan saya merasa akan punya kesempatan belajar.

Di awal kerja, saya pun belajar banyak hal. Meski saya ditugaskan untuk memegang bidang gaya hidup (mulai dari fashion, kecantikan, kuliner, traveling, entertainment, dll), saya juga ikut mengedit berita-berita umum lainnya. Alhasil, saya menjadi orang yang paling update soal berita di rumah. Saya tahu kasus korupsi apa saja yang ditangani KPK, berita kriminal apa yang sedang diperbincangkan orang, berita internasional, hingga berbagai masalah hukum.

Saya senang karena punya banyak informasi. Saya senang karena saya banyak tahu berbagai hal. Walaupun ujung-ujungnya saya kadang merasa apatis dengan negara Indonesia tercinta ini jika melihat berbagai macam berita yang disampaikan di media (tapi ini akan menjadi cerita lain di posting blog yang lain sepertinya).

Soal gaji pun bisa dibilang cukup lumayan. Memang tidak sebesar mereka yang kerja di bank atau perusahaan-perusahaan internasional, tapi saya merasa cukup mendapat peningkatan dari pekerjaan sebelumnya.

Seiringnya waktu, bidang yang saya pikir akan berkembang ini ternyata tidak berkembang seperti yang saya harapkan. Ada berbagai keputusan perusahaan yang akhirnya membuat diri saya sebagai jurnalis, sebagai editor, dan sebagai wanita karir, merasa stagnan. Saya merasa suara saya tidak didengar di dalam perusahaan, meski tentu suara saya ‘terdengar’ di luar sana, yaitu lewat tulisan-tulisan saya.

Mungkin itulah manusia, selalu merasa tak puas. Mungkin itu pula hidup ketika kita tidak bisa memiliki segalanya. Berkali-kali saya mengeluhkan peraturan perusahaan yang menurut saya tidak adil. Mengapa menilai pekerjaan seseorang berdasarkan kuantitas, bukan kualitas? Saya selalu merasa kesulitan ketika manajemen menilai pekerjaan saya berdasarkan jumlah berita yang saya upload, bukan apakah berita saya berkualitas? Apakah berita saya sudah benar adanya? Apakah sesuai fakta, menarik banyak pembaca, bermanfaat, dan lain sebagainya?

Dalam bekerja, jujur saya pun mengharapkan pengakuan. Saya ingin hasil kerja saya benar-benar dilihat, bukan sekadar dihitung jumlahnya. Tapi sebagai sebuah bagian kecil dalam perusahaan yang begitu besar, saya bisa apa? Saya hanya bisa menyampaikan saran, namun jika tak ditanggapi, saya bisa apa?

Saya pun harus kembali pada diri sendiri. Menenangkan diri saya, berusaha bersyukur, dan terus menanamkan pikiran, bahwa “tak semua hal harus berjalan sesuai keinginan saya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s