The Wedding


Akad nikah
Yudo and me

Pernikahan saya dan Yudo sepertinya berawal dengan cara yang tidak biasa. Entah bagaimana, tiba-tiba saja kami sudah mulai hunting gedung. Jika biasanya orang lamaran atau perkenalan keluarga sebelum menentukan tanggal, kami malah melakukan sebaliknya. Untungnya keluarga kami menyerahkan semuanya pada kami dan mereka mendukung 100%.

Saya ingat sekali, 10 bulan sebelumnya mencari gedung itu bukan main susahnya. Kami ingin menikah di bulan Agustus atau September, yang sepertinya juga menjadi bulan favorit bagi orang-orang untuk menikah. Jadi tentu saja, pada bulan itu hampir semua gedung full booked.

Akhirnya, ketemu juga satu gedung yang masih kosong, yaitu tanggal 13 September malam di SME Tower atau orang-orang biasanya bilang Smesco. Banyak yang berkomentar, “Kok tanggal 13? Kan angka sial.” Untungnya saya tidak percaya.. It’s lucky 13, menurut saya. Lucunya lagi, salah seorang teman saya, Corry, bilang itu tanggal yang bagus. Karena kakaknya juga menikah di hari yang sama dan mamanya melakukan perhitungan dengan cara Chinese. Saya, sih, dibilang seperti itu anggap saja doa.

Untuk pernikahan di SME Tower, kami harus membeli paket yang disediakan oleh WO di gedung tersebut, yaitu BRP Wedding Organizer. Harga paketnya terkesan murah, karena sudah all-in. Tapi saya tahu, bahwa paket itu adalah paket yang paling standar. Jadi jika ingin yang sesuai dengan keinginan, kita pasti harus upgrade sana-sini. Kesannya akan terasa mahal, tapi menurut saya jumlah tersebut masih cukup wajar untuk sebuah pernikahan 600 undangan di gedung yang letaknya di daerah Gatot Subroto.

Kami pun mulai mencari-cari vendor yang cocok. Untuk busana dan makeup, tentu saja pilihan saya jatuh ke Martha Tilaar, karena saya sudah kenal dengan reputasi mereka. Saya pun sudah yakin dengan hasil makeup-nya. Lucunya, ketika dulu saya masih berusia 17 tahun, saya pernah di-makeup di salon Martha Tilaar untuk pergi ke prom night. Karena puas dengan hasilnya, saya berkeinginan suatu saat nanti jika menikah, saya juga ingin makeup dari salon tersebut. It came true!

akad nikah2
Legaaa setelah akad nikah.. Alhamdulillah
resepsi 13 sept
Our candid moment

Semua busana yang saya pakai disewa dari Martha Tilaar. Dijamin puas dengan model kebaya dan pilihan kainnya. Soal makeup, nggak perlu diragukan lagi. Saya benar-benar terlihat beda. Jika disebut manglingi atau tidak, sepertinya itu harus ditanya ke tamu-tamu yang datang (hehe..). Satu hal yang pasti, karena saya bahagia pastinya wajah saya jadi terlihat bersinar-sinar. Benar nggak ya? 😀

Keinginan saya pun terwujud, karena sejak dulu saya ingin memakai adat Sunda untuk pernikahan. Saya selalu suka makeup Sunda Puteri untuk Akad Nikah dan Siger untuk resepsi. Warna emas juga menjadi pilihan saya untuk resepsi, karena terkesan mewah dan glamor, yang sesuai dengan Siger khas Sunda.

Untuk makanan, saya pilih Caterindo, karena lagi-lagi saya sudah kenal dengan reputasinya. Saat test food, semua makanannya enaaaakkk!! Responsnya cepat dan marketingnya pun baik. Pada malam resepsi, saya yakin teman-teman saya menikmati semua makanannya (sementara saya tidak, huhu..).

Dekorasi, saya pilih Aarya Decoration. Awalnya saya berhubungan langsung dengan mas Arya, selanjutnya dengan tim dekorasi, yang semuanya profesional. Saya juga puas dengan hasil dekorasinya, rapi, cepat, dan tentu saja terlihat indah.

Untuk dokumentasi, saya memilih Makna Foto. Pihak Makna Foto juga sangat profesional, sangat membantu, dan baik semua. Untuk musik, saya memilih Taman Music, yang dengan sangat baik menyanyikan permintaan lagu-lagu kami. Di awal, lagu-lagu pilihan saya yang kebanyakan R&B, di tengah-tengah lagu pilihan Yudo yang bergenre Reggae.

Terakhir, untuk WO, saya juga sangat puas dengan kelancaran acara, mulai dari akad sampai resepsi. Semua tim WO bekerja dengan sangat profesional. Saya cukup mengikuti arahan dari mereka dan semua berjalan tepat waktu.

Saat hari H, sama seperti calon pengantin lainnya, pasti ada rasa nervous sekaligus excited. Sama halnya dengan saya. Beberapa hari sebelumnya, saya dan mama saya sudah mulai stres karena memikirkan acara ini. Apakah tamunya banyak? Apakah makanannya cukup? dll. Mama saya mulai batuk-batuk tanpa sebab (yang kemudian mendadak hilang setelah acara selesai). Sedangkan stres saya ditandai dengan munculnya jerawat H-1.

Ketika saya mulai didandani, entah kenapa saya merasa lebih rileks. Saya yakin semua akan berjalan lancar. Saya akan merasa bahagia dan semua keluarga saya juga turut menikmati. Benar saja, saya menikmati setiap menitnya. Meski ketika melangkah ke pelaminan, saya sempat berbisik ke Yudo, “Is this real? Terasa tidak nyata..”. Tapi Alhamdulillah semuanya nyata, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Bahkan saat persiapan pun, semuanya berjalan lancar, terutama hubungan saya dengan Yudo. Karena pada akhirnya, hubungan pernikahan yang akan kami jalani nantinya lah yang lebih penting, bukan cuma resepsi pernikahannya saja.

Saat akad nikah, saya sempat merasakan emosi yang meluap-luap, terutama karena papa tidak bisa hadir untuk menikahkan saya. Seandainya saja papa masih ada dan bisa melihat saya menikah. Karena keluarga papa kebanyakan beragama Kristen dan Katolik, akhirnya saya dinikahkan dengan wali hakim. Tapi lagi-lagi, semuanya tetap berjalan dengan lancar, meski ada beberapa kekurangan. Kakak saya, teteh, juga tidak bisa datang dari New Jersey bersama suami dan tiga anaknya. Walaupun saya ingiiiiin sekali keponakan-keponakan saya yang lucu-lucu itu bisa datang. Teman dekat saya dari SMA, Kiky, juga tidak bisa datang karena saat ini berdomisili di Los Angeles dan tengah hamil anak kedua.

wefie
Pengantinnya (agak) narsis..hehe

Di satu sisi, saya bahagia ketika Gracie (sepupu saya yang pernikahannya di Perth saya datangi) bersama suaminya, Bruno, dan tante saya datang jauh-jauh dari Australia untuk menghadiri pernikahan saya. Bahkan Gracie sebenarnya datang dari Kalkuta, India, bersama suaminya. Gracie saya pinjamkan kebaya dan kain batik (yang ternyata sangat pas dan ukuran tubuh kita sama!) dan Bruno niat banget belanja kemeja batik di sini demi pergi ke kawinan saya. Ah.. they’re so lovely! Gracie pun saya minta ikut berpartisipasi di acara akad nikah untuk memegang nampan kalung bunga melati, yang dia lakukan dengan senang hati.. hehe 🙂

family
Thank you Tante Jane, Gracie, and Bruno for coming..

Saya rasa memang benar ketika pernikahan merupakan salah satu momen bahagia dalam hidup setiap orang. Saya pun ikut merasakannya. Memang, saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa merasakan momen ini. Saya melewati masa-masa diejek karena tidak punya pacar, sempat merasa tidak dihargai oleh mantan terdahulu, selalu ditanya “Kapan nikah?”, dan lain sebagainya yang mungkin juga dialami oleh teman-teman saya yang masih single di usia 20-an akhir atau awal 30.

Banyak yang mungkin berkomentar atau malah bingung, kenapa sepertinya saya cepat sekali mengambil keputusan untuk menikah padahal usia pacarannya belum panjang. Tapi saya pikir, lama atau sebentarnya pacaran sama sekali tidak berpengaruh. Saat sudah yakin dengan keputusan sendiri dan pasangan kita juga sudah yakin, ya sudah jalani saja. Semoga jika memang hubungan itu diberkahi, semuanya akan berjalan lancar. Saya pun sebenarnya masih punya rasa deg-degan menjalani pernikahan ini. Tapi saya anggap ini sebuah proses pendewasaan, di mana semua orang akan mengalaminya, cepat atau lambat.

DSC_0604
With Yudo’s family

 

RMP_0164
With my family
Advertisements

5 thoughts on “The Wedding

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s