The Story of Us


One day you’ll meet someone who makes you realize why it never worked out with anybody else

 

yudo andhina blue

Wow.. Sudah lama sekali saya tidak menyentuh blog ini. Beberapa bulan terakhir ini sebenarnya saya sedang disibukkan dengan persiapan pernikahan. Rencana memang disusun sejak 10 bulan sebelumnya, tapi begitu 6 bulan menjelang hari H, saya langsung sibuk luar biasa (lebaayyy yaa.. Haha).

Anyway.. Saya juga tidak pernah membicarakan tentang pacar saya karena memang menunggu sampai akhirnya pernikahan itu benar-benar terjadi. Hehe, I don’t want to jinx it.

Pertemuan kami sebenarnya berawal pada tahun 2007 atau 2008 (saya benar-benar lupa). Waktu itu dia adalah pacar seorang teman kerja saya, sedangkan saya juga masih berpacaran dengan teman SMA saya. Dia juga berteman dengan saya di Facebook, tapi kami tidak pernah saling tegur apalagi saling ngobrol.

Waktu berlalu, saya putus dari pacar saya dan dia juga putus dari teman kerja saya. Setelah itu, saya punya pacar yang lain dan saya tidak pernah tahu cerita tentang dia pula (karena nggak pernah kepikiran hehe..).

Sampai kemudian pada 2012, dia nge-add saya di path, tepat di hari saya baru saja bergabung dengan media sosial tersebut. Karena saat itu saya belum mengerti kalau guna path hanya untuk teman terbatas, ya saya approved saja.

Selama di path pun, dia tidak pernah menegur atau sekadar mengomentari postingan saya. Baru kemudian pada 2013, teman kerja saya (yang masih terus menjalin kontak dengan saya walaupun jarang bertemu) tiba-tiba menghubungi saya dan menanyakan apakah saya masih ingat dengan mantannya itu.

Teman saya (yang sudah menikah dan punya seorang anak) bilang kalau si mantannya itu menanyakan saya, sekaligus minta izin apakah dia boleh minta nomor kontak saya. Teman saya ini sepertinya excited sekali hendak menjodohkan saya, dia bahkan bercerita sempat memimpikan saya dan mantannya itu.

Pada tahap itu, saya berada dalam fase serba tidak percaya (terutama pada pria), mengingat berbagai macam pengalaman saya di masa lalu. Tapi saya tetap berusaha untuk terbuka dengan siapa pun. Akhirnya saya bilang boleh, tapi saya minta teman saya untuk tidak berharap banyak. Kalau kenalan saja boleh, lebih dari itu saya tidak bisa menjanjikan.

Akhirnya kita pun mulai mengobrol. Dari sekadar berbicara via whatsapp atau bbm, akhirnya kita ketemuan. Tapi jika dilihat, proses pendekatan dengan dia juga berbeda dengan yang lain. Dia tidak pernah menelepon dan bertemu pun jarang, tapi pembicaraan kita lewat pesan singkat tidak pernah putus.

Sampai akhirnya kita bertemu lagi di New York. Mungkin ini suatu kebetulan yang menyenangkan, ketika dia ingin mengunjungi orangtua dan adik-adiknya yang tinggal di sana dan saya juga pada tahun itu ingin kembali mengunjungi kakak saya. Singkat cerita, kunjungan saya dan dia ke kota itu berada di waktu yang kurang lebih sama.

Ternyata, dia juga sempat pergi ke west coast saat saya tiba di new york. Awalnya saya sempat berpikir apa dia sebenarnya tidak ingin bertemu saya di sana atau jangan-jangan dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Tapi semua kekhawatiran itu tak beralasan. Saya pada akhirnya sempat berjalan-jalan dengannya, satu hari penuh pergi berdua, hari kedua pergi bersama adik-adiknya, ditambah bonus setengah hari sebelum dia kembali ke Jakarta kita sempat bersantai-santai di Central Park.

Saya pun sempat dikenalkan ke keluarganya di sana, sedangkan dia dikenalkan ke kakak saya. Mungkin memang sudah jalannya seperti itu, ketika keluarga inti kami berada jauh di benua yang berbeda tapi pada akhirnya bisa saling dikenalkan.

Setelah dari sana, hubungan kami lebih dekat lagi. Dia juga memulai hubungan dengan cara yang tidak tipikal. Kami pun menjalani hubungan dengan cara yang tidak biasa. Karena beberapa bulan sejak memutuskan, “Oke, kita pacaran”, kami langsung membicarakan pernikahan dan mencari gedung untuk melangsungkan pernikahan.

Saya rasa jodoh itu aneh dan kadang tidak terduga. Awalnya saya ragu menjalin hubungan dengan seorang mantan pacar dari teman dekat saya sendiri. Namun saya mulai merasa nyaman, karena teman saya ini justru mendukung penuh sejak awal.. Dan saya benar-benar berhutang budi padanya.

Sejak bertemu dengannya saya juga selalu berdoa, “Tolong jangan didekatkan jika hanya membuat saya sedih”. Ketika akhirnya itu berjalan mulus, lambat laun saya pun yakin, ini pilihan yang Di Atas.

Kami akhirnya melangsungkan pernikahan pada 13 September lalu (ceritanya akan saya tulis di posting yang berbeda.. Hehe). Sampai sekarang pun saya masih tidak menyangka, “Whoa.. Finally! I’m married”.

Ada satu hal lainnya yang cukup lucu menurut saya. Dulu waktu kecil, mama saya pernah bertanya tentang apa yang paling saya inginkan. Saya menjawab, “Mau keliling dunia”. Mama saya lalu berkata, “Ya udah, jadi istri diplomat aja sana”. Entah kenapa percakapan itu melekat terus di kepala saya, tapi tak pernah saya tanggapi serius. Ternyata, benar saja, sekarang saya jadi istri diplomat, hehe. Tentu saja, saat pembicaraan itu terjadi, saya belum menyadari kalau menjadi diplomat itu tidak bisa memilih tinggal di daerah atau negara mana. Jadi sebenarnya, saya agak deg-degan juga mengenai penempatan Yudo nanti.

Tapi di balik itu semua, saya tak henti-hentinya bersyukur, karena bagaimanapun semua ini terasa indah pada waktunya. Masa-masa galau dulu, seakan tidak ada artinya. Tapi yaa.. Namanya pengalaman. Kita nggak akan pernah tahu jika tidak belajar. Saya juga tahu bahwa pernikahan ini adalah awal. Akan ada banyak hal yang saya hadapi nantinya, yang mudah-mudahan bisa saya jalani dengan baik.

Saya juga lebih hati-hati dalam bertindak dan berucap. Pacar saya ini (atau mantan pacar alias suami) benar-benar berbeda dengan pria yang saya kenal. Tentu saja jauh lebih baik, mulai dari sikapnya ke saya hingga ke keluarga saya.

Saya pun merasa, bisa menjadi orang yang lebih baik dengannya. Saya rasa itulah yang diinginkan semua orang ketika menjalin hubungan, someone who brings out the best in you. I just feel lucky to have him in my life.

I love you, Yudo….

IMG_1432.JPG
Our date at Times Square, New York
IMG_3222.JPG
Watching sunset at Top of the Rock

 

IMG_3444.JPG
We don’t have any pre-wedding photos, just some selfies (or wefies) with the help of tongsis 😀
Advertisements

2 thoughts on “The Story of Us

  1. Selamat ya Neng dan Suami! Semoga bahagia selalu dan menjadi keluarga yang samara, yaa. Aamiin. Btw, jadi benar ya Neng, kata orang-orang: Jodoh itu ga bisa ditebak dan selalu datang dgn cara yg tidak kita duga? Gitu ya? Hmmm, baiklah, I’m waiting for my turn, then 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s