10 Life Lessons From How I Met Your Mother


how i met your mother

Bisa dibilang, How I Met Your Mother adalah salah satu serial televisi favorit saya, yang bahkan setelah ditonton berulang-ulang tetap saja akan tertawa. Banyak yang bilang sitcom yang satu ini serupa dengan Friends, serial tv yang terkenal di era 90’s. Mereka sama-sama menampilkan sekelompok orang yang saling berteman, tapi kemudian ada beberapa di antara mereka yang akhirnya menikah. Setting lokasinya pun sama, yaitu New York.

Tapi kalau diminta memilih, saya akan lebih suka HIMYM. Kenapa? Karena serial ini lebih banyak menampilkan ‘keanehan’, lelucon yang bahkan terlalu absurd, yang mungkin hanya orang-orang ‘aneh’ seperti saya yang menyukainya.. Haha!

Anyway, cerita perjalanan Ted Mosby (Josh Radnor) menemukan istrinya atau ibu dari anak-anaknya ini, menurut saya sangat sweet. Suatu perjalanan yang mungkin juga dirasakan semua orang, karena untuk menemukan yang namanya ‘true love‘ itu tidak selalu mudah. Di sini, Ted berteman dengan Marshall Eriksen (Jason Segel) yang menikah dengan Lily Aldrin (Alyson Hannigan). Ted sempat jatuh cinta dengan Robin Scherbatsky (Cobie Smulders), yang ternyata justru lebih mencintai Barney Stinson (Neil Patrick Harris), the ultimate womanizer dan menurut saya karakter paling kuat di cerita ini (plus paling aneh!).

Saking menariknya serial ini, kita juga bisa menarik beberapa pelajaran hidup dari sini. Berikut ini saya ambil beberapa poinnya dari situs All Women Stalk.

1. If it’s meant to be, it will be

Sepanjang cerita di serial tv ini, kita akan dipertontonkan bagaimana Ted berusaha menemukan ‘the love of his life’ dan akhirnya menikah. Tapi bahkan setelah memasuki season 8, dia masih belum juga menemukannya dan kita para penonton pun belum bisa melihat seperti apa wujud istri Ted itu (baru pada di akhir season 8 akhirnya diperlihatkan sosok ‘The Mother’ itu). Jadi intinya, kalau memang harus terjadi, maka akan terjadi. Kadang sekeras apa pun kita berusaha mencari, kalau tidak ketemu, ya tidak ketemu. Mungkin memang seharusnya cinta yang menemukan kita, bukan sebaliknya.

2. Long distance relationships hardly ever work

Bukan berarti pacaran jarak jauh tidak bisa berhasil, tapi biasanya memang sulit. Sama seperti di serial ini ketika Ted menjalin hubungan dengan Victoria. Pada akhirnya mereka tidak bisa mempertahankannya, bahkan Ted sempat berpesan akan hal ini kepada anak-anaknya.

3. Nothing good ever happens after 2 A.M

Ini masih berkaitan dengan hubungan Ted dan Victoria saat mereka sedang pacaran jarak jauh. Ted merasa hubungannya makin berantakan, kemudian Robin (yang tiba-tiba punya perasaan pada Ted) mengundangnya setelah pukul 2 pagi untuk ‘membuat jus’. Ketika Ted tiba di apartemen Robin, dia malah mengatakan telah putus dengan Victoria (padahal belum). Salahnya, ketika Ted ke kamar mandi, Robin sedang memegang handphone milik Ted dan Victoria menelepon. Intinya, pada malam itu (tepatnya setelah pukul 2 pagi), Ted membuat keputusan buruk yang akhirnya membuat dia kehilangan Victoria dan Robin.

4. Things you may not have liked before may not be that bad later on

Di season pertama, Ted memiliki kemeja lama yang tidak pernah disukainya, tapi selang enam tahun kemudian dia malah suka. Dia kemudian juga menyukai Bourbon, sesuatu yang dia pikir tidak akan pernah disukai. Jadi seiringnya waktu, Ted pun menyadari seleranya mulai berubah, termasuk ketika dia mulai kencan dengan perempuan yang mungkin dulunya dia anggap tidak menarik. Sama seperti Ted, selera kita bisa juga berubah, kok, dalam segala hal. Sesuatu yang menurut kita tidak menarik, bisa saja terlihat berbeda setelah beberapa waktu dan akhirnya kita menyadari, it’s not that bad.

5. The front porch test

Jenis tes ini dilakukan Lily untuk menentukan orang yang akan menjadi teman hidupnya. Jika dia bisa membayangkan bersama dengan orang itu hingga hari tua mereka, duduk-duduk di teras, sambil membayangkan kehidupan yang lampau, maka dia adalah orang yang tepat. Ini juga salah satu cara yang bisa kita lakukan saat akan mengambil keputusan besar. Coba bayangkan ketika tua nanti, akankah ketika bahagia dengan pilihan sekarang?

6. Clubs are terrible

Ketika di awal usia 20-an mungkin club menjadi tempat yang terlihat ‘asyik’, tapi seiring bertambah dewasa nyatanya club bukan lagi tempat hang out yang menyenangkan bersama teman. Hal ini juga yang diceritakan dalam serial HIMYM, di mana ketika Ted dan Robin pergi ke club, mereka malah tersiksa dengan suara musik yang keras, susah berkomunikasi, bahkan untuk memesan minuman sekalipun.

7. Brunch is for couples and families, but not alone

Brunch merupakan waktu makan yang sering dibicarakan di serial ini, terutama oleh Marshall yang sering melakukannya bersama Lily. Namun ketika mereka putus, Marshall masih tetap ingin melakukan kebiasaan brunch tersebut. Tapi, ketika dia datang sendiri, dirinya malah ditertawakan pelayan resto. Kemudian akhirnya dia mengajak sahabatnya, Brad, untuk brunch bareng. Akhirnya, mereka malah jadi terlihat seperti sepasang kekasih. Hmm.. mungkin dua pria melakukan brunch terlihat aneh, tapi saya sering kok menikmati brunch berdua saja dengan sahabat perempuan saya.

8. Always consider the crazy/hot scale

Skala ini diciptakan oleh Barney, yang mengatakan bahwa seorang cewek boleh ‘gila’ asalkan dia sama seksinya (atau bahkan sangat seksi). Kegilaan seseorang mungkin dibutuhkan untuk membuat hubungan terasa menyenangkan. Tapi jangan sampai, deh, bertemu seseorang yang sangat ‘gila’ seperti ketika Marshall bertemu Chloe dan Ted berpacaran dengan Jeanette. Saya rasa skalanya Barney ini sama seperti skala yang biasa dibuat oleh cewek (setidaknya saya dan teman-teman). Seorang cowok dimaklumi brengsek, jika dia sangat ganteng. Jika tidak, please talk to my hand.. hehe.

9. Body language will tell about a person’s availability

Ini merupakan cara yang bisa kita lakukan untuk melihat apakah seseorang single atau tidak. Sama seperti ketika, kakak tiri Barney, James, yang saat diajak hang out malah terlihat sibuk sendiri. Dia sibuk dengan ponselnya, sibuk mengirimkan pesan singkat, bahkan menolak saat diajak berkenalan dengan orang lain. Saat kita pergi bersama teman-teman, perhatikan saja sikap mereka. Ketika yang lainnya sibuk bersosialisasi (atau tebar pesona), sementara ada satu orang yang sibuk dengan ponselnya dan tidak mempedulikan keadaan sekitar, maka dia sudah tidak available.

10. The olive theory

Saya selalu menyukai hubungan antara Lily dan Marshall, karena mereka sepertinya bisa melengkapi satu sama lain. Sama halnya dengan the olive theory, yang merupakan salah satu konsep menarik dari serial ini. Teori ini mengatakan ketika satu orang menyukai olive, sementara yang lainnya tidak, maka mereka berada dalam hubungan yang seimbang dan memang ditakdirkan untuk bersama. Mungkin terkesan aneh, tapi konsep ini sepertinya menjelaskan tentang bagaimana perbedaan justru terlihat menarik. Opposites atrract, right..

 

Advertisements

One thought on “10 Life Lessons From How I Met Your Mother

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s