Lesson Learned


20130101-193831.jpg

Satu tahun kembali lewat. Benar-benar tidak terasa. Rasanya baru kemarin saya pergi berlibur, baru kemarin masuk ke kantor baru, ternyata sudah setahun sejak semua kejadian itu.

Selama setahun ini, setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil..

Hate won’t ease the pain

Satu hal yang paling penting dan paling saya rasakan adalah rasa benci, dendam, atau apa pun itu tidak akan membantu menghilangkan rasa sakit yang saya rasakan. Selama lebih dari setahun saya membenci dua orang yang saya anggap telah ‘menghancurkan’ saya. Lebih dari setahun saya selalu memendam rasa penyesalan karena merasa telah membuang-buang waktu.

Tapi yang kemudian saya sadari, sebanyak apa pun saya membenci mereka, ternyata tak membuat kenyataan berubah. The fact is, I feel so miserable while they’re enjoying their happy life. Lalu saya pikir, hey.. I deserve to be happy. I don’t want to live with these grudges. Jadi menurut saya, lebih baik saya tidak usah peduli lagi dengan mereka. Tidak perlu lagi tahu tentang kegiatan mereka, tidak perlu lagi lihat-lihat isi twitter atau fb mereka, rasanya jauh lebih mudah untuk tidak peduli.

Mama saya bilang, di tahun baru ini belajarlah memaafkan. Katanya kemarahan atau rasa benci terhadap orang lain hanya akan berbalik ke diri kita sendiri. Mungkin ada benarnya juga, saya tak ingin menjadi orang yang penuh kebencian. It’s not healthy.

Stop complaining, be grateful

Pernahkah mendengar orang yang selalu mengeluh? Apa rasanya? Pasti tidak enak didengar, kan? Itulah yang saya rasakan ketika mendengar orang di sebelah saya mengeluh terus.

Ada seorang teman di kantor, duduk di sebelah saya, dan dia selalu punya hal yang dikeluhkan. Jalanan macet, internet lemot, dan yang menurut saya agak mengganggu, dia selalu bergumam “cak..cek..cak..cek”. Kalau dia sudah seperti itu, biasanya saya langsung tutup kuping dengan earphone dan dengarkan musik keras-keras.

Suatu ketika, saya bergumam hal yang sama karena internet yang lama membuat saya sulit bekerja. Tapi saya jadi ingat, betapa gumaman “cak..cek” itu sangat mengganggu dan akhirnya saya berhenti.

Banyak hal yang memang bisa dikeluhkan. Hujan deras, panas terik, macet, makanan yang tidak enak, hak sepatu yang patah, atau apa pun juga. Tak jarang pula keluhan kita ini lantas menyalahkan orang lain. Bukannya menyalahkan itu lebih mudah? Setiap ada masalah, kita selalu menyalahkan diri orang lain dulu sebelum akhirnya melihat diri sendiri.

Tapi kalau dipikir-pikir, mengeluh itu nggak enak karena kita jadi lupa dengan apa yang harusnya kita syukuri. Harusnya kita bisa lebih bersyukur, bisa bangun di pagi hari, punya pekerjaan, bertemu teman-teman, keluarga yang sayang, dan masih banyak lagi.

Setiap orang mungkin punya rezeki yang berbeda. Ada yang sepertinya lebih beruntung dari kita, tapi membanding-bandingkan diri dengan orang lain hanya akan melelahkan. Itu juga satu hal lagi yang saya pelajari. Stop complaining, stop compairing, stop blaming others, be grateful.

(Every) shit happens (for a reason)

Selalu berusaha memetik pelajaran dari setiap kejadian. Karena apa pun kejadian itu, baik atau buruk, selalu ada alasan di baliknya. Memang kadang tidak langsung kelihatan. Buktinya, masih ada beberapa kejadian atau pengalaman yang sampai sekarang tidak juga saya mengerti alasannya apa. Tapi saya selalu punya keyakinan dalam diri, Allah tidak akan memberi cobaan yang tak bisa kita lalui. Dia juga selalu memberikan yang terbaik untuk kita, meski berbeda dengan apa yang kita inginkan. I always believe, God’s plans are better than my dreams.

Feel underappreciated, it’s okay (sometimes)

Pernahkah merasa seperti usaha yang kita lakukan sia-sia? Atau bahkan tidak dihargai? Hal itu biasa terjadi, di kehidupan atau di pekerjaan. Kadang saya merasa sudah melakukan yang terbaik (bahkan lebih) untuk pekerjaan sekarang, tapi entah.. kadang masih merasa usaha saya belum dinilai sepatutnya. Mungkin hal ini bisa saja membuat saya tidak termotivasi, tapi saya memilih untuk bersikap persistent. Saya tidak rela kalau pekerjaan saya ‘tidak dilihat’. Tidak tahu bagaimana caranya, yang pasti saya tidak mau menyerah begitu saja.

Taking the high road

Di hidup ini, kita bisa saja bertemu orang-orang yang secara kepribadian tidak cocok. Ada yang tiba-tiba menggosipkan kita di belakang atau ada yang berkomentar tak menyenangkan. Saya masih ingat ada seorang teman (at least saya menganggapnya teman, walau tidak dekat) memberi komentar yang bikin saya sakit hati. Saya bisa saja membalas kata-kata pedasnya, tapi lantas apa? Mungkin kalau saya balas, dia akan kembali membalas, dan akhirnya tidak pernah selesai. Jadi saya memilih jalan terbaik, yaitu diam saja. Pada akhirnya, orang yang terlalu banyak bicara hanya akan membeberkan keburukannya sendiri. People do trash talk. You can be one of them or you can take the high road.

Anyway.. Di tahun baru 2013 ini, saya ingin memulainya dengan semangat dan harapan baru. Tahun ini juga saya ingin liburan! I’ve been working my ass off for a year, so I do deserve a holiday..or more. Happy new year!

Advertisements

6 thoughts on “Lesson Learned

  1. Waaaaaa…..as one of ur longest friend n neighbor i cannot agree more with all ur points, especially the grateful part…we may feel miserable, but by being grateful we will feel that we r so much lucky with what God gave to us…hehe…

    Last not least wishing all of us nothing but the best and luck in 2K13 Neng Aan…

    Cherioo…
    412THA

  2. You will have your vacation by the end of the year.. I promise you this time no living in the “jungle” hihihihi and we will have another broadway show (with no drama too)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s