In My Own Words


Menulis, selalu menjadi hal yang saya sukai. Walaupun saya tidak pernah berhasil menulis novel, bahkan menulis blog pun mulai jarang sejak bekerja di media online. Setelah bekerja di kantor ini, akhirnya saya makin bisa melatih tulisan saya, bisa tahu segala macam berita lebih cepat, dan tentunya lebih perhatian ke segala macam berita–bukan hanya tentang fashion.

Anyway, ada satu berita yang sepertinya lagi banyak dibicarakan orang akhir-akhir ini, yaitu tentang batal/tidaknya konser Lady Gaga. Jelas isu ini membuat saya kesal, karena saya salah satu penggemar dan pembeli tiket. Apalagi di beberapa media, beritanya heboh banget dan ada yang jelas-jelas menulis ‘Batal’ padahal belum ada konfirmasi dari pihak promotor. Kesal, karena sepertinya beberapa media senang sekali mengabur-ngaburkan fakta yang ada. Kenapa tidak bilang saja ‘terancam batal’ atau ‘ada pihak yang ingin membatalkan’?

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sampai di kantor, pemimpin redaksi di kantor saya bertanya, apakah benar-benar batal? Lalu saja jelaskan faktanya. Kalau misalnya pihak promotor belum bicara, mungkin karena mereka tidak ingin membuat keruh suasana dan tetap masih mengusahakan. Untung saja, pemred saya lalu meminta saya menulis segala macam berita tentang Lady Gaga, masukkan hal-hal yang tidak/belum disinggung oleh media lain. Dia minta saya untuk menulis opini, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Sebelumnya dia sudah pernah bilang, kalau tiap editor berhak menulis sebuah tulisan/artikel opini. Tapi saya tidak berani, karena saya tidak mau terkesan sok tahu kalau berbicara tentang hal yang tidak terlalu dipahami. Tentu berbeda dengan masalah yang satu ini, masalah yang dekat dengan saya. Jadi, setelah berusaha sekuat tenaga tidak menulis dengan emosional, akhirnya saya berhasil menulis artikel opini pertama saya. Senangnya, saya diberi kebebasan untuk berekspresi, berpendapat, dan cukup banyak juga yang memberikan komentar.

So here it goes…

KONSER LADY GAGA: Perusak Moral atau Bentuk Ekspresi Kreatif?

Lady Gaga in Armani Prive

Konser Lady Gaga batal. Begitu tulis berbagai media dan isu ini memang sudah berjalan selama beberapa pekan.

Sebagai salah satu penggemar yang sudah membeli tiket jauh-jauh hari, jelas saya kaget. Apalagi pembicaraan seputar itu makin ‘panas’ di media sosial hari ini. Ketika saya baca, media-media itu menyebutkan kalau Polda Metro Jaya sudah memastikan konsernya batal tanpa ada pernyataan dari pihak promotor, Big Daddy.

Isu pembatalan pembatalan konser ini bermula dari beberapa kelompok Muslim yang menganggap penampilan Lady Gaga terlalu seronok dan bisa merusak moral bangsa. Ada lagi yang menyebutkan bahwa Lady Gaga itu pemuja setan dan mengajak penggemarnya untuk ikut seperti itu. Benarkah?

Karena yang saya tangkap dari setiap lirik lagu Lady Gaga adalah bagaimana setiap manusia bisa menerima dirinya sendiri. Seperti lagu “Born This Way” yang mengungkapkan pengalamannya diejek karena dianggap aneh, tapi akhirnya bisa menerima diri apa adanya dan merasa percaya diri.

Gaga bahkan dikenal sebagai salah satu penyanyi yang dermawan. Dia salah satu selebritas pertama yang menyumbangkan uang saat bencana tsunami menerjang Jepang, dia juga mendirikan yayasan untuk para remaja bisa mengembangkan bakatnya. Apakah itu tanda-tanda orang yang memuja setan?

Kembali ke masalah konser di Jakarta yang rencananya akan berlangsung pada 3 Juni 2012, sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian konser Gaga di seluruh dunia. Dia sengaja memulai turnya ini di Asia, karena merasa penggemarnya cukup banyak di benua ini. Baru setelah itu dia akan melanjutkan konsernya ke benua lainnya, mulai dari Australia, Eropa, dan Amerika.

Di beberapa negara, dia juga sengaja menggelar konser selama beberapa hari. Di Hong Kong, Gaga konser selama empat hari, di Tokyo tiga hari, Taipei dua hari, Manila dua hari, Singapura tiga hari, dan masih banyak lainnya.

Ada berita juga yang menyebutkan bahwa Korea menolak Gaga, toh konsernya tetap berjalan lancar dengan memberi batasan umur para penontonnya, yaitu minimal usia 18 tahun. Di Indonesia sendiri, penjualan tiket konsernya sudah sejak 10 Maret. Sejak malam sebelumnya, fX yang menjadi lokasi penjualan tiket sudah dipenuhi para little monster, sebutan penggemar Gaga.

Tak sedikit pula yang berdandan aneh ala Gaga demi mendapatkan kesempatan antrian yang lebih cepat. Saya bersama teman-teman juga sudah mengantri tepat pukul 6 pagi, padahal loket baru dibuka pukul 10. Saking ramainya para penggemar yang mengantri tiket, dalam beberapa jam saja tiket di tribun VIP sudah ludes. Diperkirakan oleh pihak promotor, pada hari pertama tiket yang berhasil dijual mencapai 40.000 tiket dan sekitar 10.000 lagi terjual di hari kedua.

Kenapa Indonesia dipilih sebagai salah satu negara yang didatangi Gaga? Semua itu kembali ke setahun yang lalu, ketika para penggemar Gaga di Indonesia membuat trending topic di Twitter mengajak Gaga untuk datang ke Tanah Air. Ternyata Gaga melihatnya dan bahkan membuat video spesial di Youtube untuk penggemarnya di Indonesia pada Juli 2011. Dalam video itu dia berjanji akan datang ke Indonesia demi untuk memuaskan para penggemarnya.

Tapi, ternyata dengan datangnya ‘pembatalan’ sepihak oleh pihak Polda Metro Jaya dan sejumlah organisasi masyarakat, rasanya para penggemar Gaga harus siap-siap kecewa. Sekitar 50.000 penggemar yang sudah lelah mengantri dan semangat akan bertemu idolanya harus menelan pil pahit, karena konser Gaga diancam bakal rusuh.

Iya, benar, ada yang mengancam akan mendatangkan massa agar konser itu rusuh, lalu merugikan siapa? Tidak usah bicara promotor, tapi orang-orang yang menikmati musik Gaga jelas merasa kecewa. Katanya penampilan Gaga seronok dan merusak moral. Menurut saya pendapat ini aneh, karena penampilan Gaga selalu menggabungkan unsur teatrikal dan fashion tingkat tinggi. Untuk konser di Asia saja, semua busana yang akan dikenakannya dirancang langsung oleh desainer Italia Giorgio Armani. Apakah Indonesia masih belum bisa menerima ekspresi kreatif dan seni semacam ini?

Soal busana pun sebenarnya bisa diatur, kok, asal Gaga memang diminta untuk berbusana yang lebih sopan. Buktinya saat sampai di beberapa negara Asia lainnya, seperti Korea, Hong Kong, dan Jepang, Gaga menggunakan baju tertutup dan sama sekali tidak seronok.

Lagipula, aneh juga ketika masyarakat Indonesia dibuat seperti anak kecil yang seakan-akan tidak bisa memilah-milah mana yang merusak mana yang tidak. Kalau memang tidak suka, ya tidak usah ditonton. Perlukah memaksakan kehendak kelompok tertentu demi menunjukkan kekuasaan mereka?

Hal lain yang membuat saya bingung adalah sepertinya negara juga manggut-manggut saja dengan perintah kelompok tertentu itu. Jadi, siapakah yang berkuasa di Indonesia ini? (Kabar24/aw)

Advertisements

One thought on “In My Own Words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s