Chasing Rainbows


If you want to see a rainbow, you have to put up with the rain…

Tahu, kan, istilah roda itu selalu berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Sama halnya dengan emosi kita, kadang senang, kadang sedih. Namun, tidak jarang juga kita merasa, bahwa kesedihan itu datang bertubi-tubi. Sepertinya belum juga selesai merapikan hati kita dari segala macam kesedihan, tiba-tiba masalah lain muncul. Tidak jarang kita jadi menyalahkan kehidupan, hidup yang tidak adil. Hal-hal yang kita inginkan tidak tercapai, mimpi-mimpi yang tidak pernah terwujudkan, atau harapan-harapan yang ternyata palsu.

Saya percaya setiap orang punya beberapa fase saat menghadapi kekecewaan. Ada fase penyangkalan, kemudian sedih, lalu marah, kembali ke penyangkalan, dan seterusnya. Namun, kemudian ada satu fase yang akhirnya bisa menerima keadaan atau pasrah karena ternyata tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Saya yakin setiap orang diberi kesedihan yang banyak untuk nantinya mendapatkan kebahagiaan yang banyak pula, walaupun kapan itu terjadi tidak ada yang tahu. Saya tahu perlu banyak hujan dan sedikit sinar matahari untuk melihat pelangi. Memang istilah “chasing rainbows” diartikan sebagai suatu kegiatan yang membuang waktu karena berusaha melakukan hal yang tidak mungkin. Tapi saya menggunakan istilah tersebut di posting ini sebagai wujud keinginan saya untuk mengejar kebahagiaan.

Katanya bahagia itu datang dari diri sendiri, bukan orang lain. Makanya buat apa kita sedih akibat orang lain, di kala orang tersebut sebenarnya tidak peduli atau bahagia dan dapat menjalani hidupnya dengan baik. Apakah hidup kita jadi tergantung pada orang lain? Sebaiknya jangan sampai itu terjadi, pada siapa pun. Saya tidak memungkiri bahwa saya masih dalam tahap penyembuhan dan penerimaan. Mungkin karena sebagai anak bungsu yang dimanja saya hampir mendapatkan apa saja yang saya inginkan dari keluarga. Maka ketika saya gagal atau tidak mendapatkan hal yang saya inginkan, lalu saya kecewa. Saya pun jadi teringat dengan kalimat, “kita tidak selalu mendapatkan yang kita inginkan, tapi kita pasti mendapatkan apa yang kita butuhkan.”

Saat kita sedih, bersedihlah, marah, atau menangis. Saat kita siap, bangkitlah, dan jangan takut mengejar kebahagiaan. Saya pun mudah-mudahan, nantinya, tidak akan takut.

dalam diriku mengalir sungai panjang, darah namanya
dalam diriku menggenang telaga darah, sukma namanya
dalam diriku meriak gelombang sukma, hidup namanya
dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya

(Sapardi Djoko Damono)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s