New York, New York


New York.. concrete jungle where dreams are made of, there’s nothing you can’t do.

Well.. New York memang sudah menjadi kota impian yang selalu ingin saya datangi, apalagi karena banyak film atau sitcom yang mengambil kota ini sebagai latar belakangnya. Setelah melewati perjalanan hampir 26 jam di pesawat, nggak sangka juga akhirnya kaki saya benar-benar melangkah di kota yang tidak pernah tidur ini. Saya terlalu terpukau dengan gedung-gedung bertingkat, billboard warna-warni, dan big screen yang selalu menayangkan iklan tanpa henti. New York City itu sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu: Manhattan, The Bronx, Brooklyn, Queens, dan Staten Island. Bayangkan kota ini memiliki berbagai tingkatan, mulai dari (maaf) agak kumuh hingga glamour, semua ada di sini.

The view from Empire State Building

Manhattan yang megah akan terlihat berbeda dengan daerah Bronx atau daerah Queens. Saya pun sempat beberapa kali ke Queens untuk makan di restoran bernama Mie Jakarta. Baru, deh, di sini melihat beberapa dan mengobrol dengan orang Indonesia yang tinggal di New York.

Tapi, semewah-mewahnya New York, banyak juga sisi joroknya (hehe). Apalagi ketika saya masuk ke subway, ya ampun saya hampir tidak bisa bernafas saking bau pesing. Hmmpphh.. Dan nggak jarang juga di sisi-sisi jalan terdapat tumpukan kantong-kantong sampah atau pembangunan jalan, yang membuat kota tersebut tampak tidak rapi. Kalau misalnya kita sering menonton film yang berkaitan dengan kota New York, seperti Friends, How I Met Your Mother, Sex and The City, atau CSI:NY, pasti ada suara sirene mobil (entah itu polisi, ambulance, atau pemadam kebakaran) sebagai latar belakang. Nah, itu memang benar, karena suara-suara berisik itu selalu ada. Kalau kita berjalan di trotoar, kita juga bisa merasakan getaran dari subway yang bergerak di bawah tanah atau terkena asap yang tiba-tiba keluar (hmm.. kalau ini saya jadi ingat film Teenage Mutant Ninja Turtle, hehe).

The city that never sleeps
Broadway at night

Kota New York sendiri bisa dibilang kota turis dengan populasi yang cukup padat. Tidak pernah ada kata sepi untuk kota ini, siang dan malam. Jalan-jalan selalu penuh, bukan hanya dengan pria-pria berjas hitam atau perempuan fashionable dengan sepatu hak tinggi, tapi juga turis dari berbagai belahan dunia, menenteng kamera DSLR, dan memakai kaus bertuliskan I Love NY. Bagaimana tidak bisa dibilang sebagai kota turis, kota ini menyediakan berbagai hiburan yang memang menyenangkan. Para pencinta seni dimanjakan dengan hadirnya karya-karya hebat di berbagai museum seperti, Museum of Modern Art (MoMa), Metropolitan Museum of Art (The Met), atau The Guggenheim. Belum lagi sederetan teater di Broadway yang menampilkan drama musikal spektakuler. Pencinta fashion, silakan puaskan diri di area fifth avenue. Pencinta kuliner, jangan sampai tidak mencicipi makanan murah-meriah (dan halal) di setiap pinggir kota New York atau restoran mewah di sekitar Manhattan. Dan tentu saja, jangan sampai tidak menghabiskan sore hari untuk berjalan-jalan di Central Park yang luasnya 843 hektar atau sekadar duduk-duduk di pinggir danaunya.

Central Park

Berjalan di trotoar kota New York, dengan kepala sesekali menengadah ke atas untuk menikmati gedung-gedung pencakar langit, bagi saya seperti impian menjadi kenyataan… Dan cerita perjalanan saya pun akan berlanjut di posting yang lainnya 🙂

Photos by: BlueStellar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s