After 5 Years…


Setelah 5 tahun berpisah dengan kakak saya, akhirnya tahun ini saya dan mama diberikan rejeki serta umur untuk bertemunya di New Jersey. Bahkan mama saya belum bertemu cucu-cucunya sama sekali, walaupun teteh (panggilan saya untuk kakak) selalu bercerita kepada anaknya tentang Nini (panggilan nenek dalam bahasa sunda). Bahwa paket-paket berisi hadiah yang sering dikirimkan dari Jakarta itu datangnya dari Nini dan Tante Aan (saya). Tapi bukan teteh namanya kalau bukan tanpa kejutan, karena setahu saya dan mama, teteh memiliki 2 orang anak, yaitu Farrell dan Felycia. Ternyata ketika kita sampai di airport, barulah dia menceritakan anak ketiganya yang lahir di bulan Februari lalu, Fahrani (tapi dipanggil Bee). Mama saya sempat marah, karena dia tidak setuju kakak saya punya banyak anak. Menurutnya, 2 anak cukup, kok, apalagi kakak saya sudah dapat anak laki-laki dan perempuan. Felycia pun belum genap 2 tahun harus punya adik, belum sempat dia dimanja-manja, datang seorang adik perempuan yang juga haus perhatian.

Walaupun ada beberapa kejadian tidak mengenakkan, namanya keluarga (apalagi yang sudah lama tidak bertemu) pasti akan tetap saling menyayangi. Apalagi saya yang nggak betah dengan anak kecil, senang banget berlama-lama dengan Felycia. Karena biasanya saya main dengan keponakan cowok, baru kali inilah saya menikmati punya keponakan perempuan yang cantiiiik banget (biarin kalau memang rada berlebihan, tapi memang kenyataan, kok). Kakak saya kebetulan beda banget sama saya yang suka dandan, makanya setiap saya ada di kamar sedang dandan pasti Fely ikut masuk untuk meminta dipakaikan lipstik. Saya pakai cat kuku pun, dia ikut-ikutan mau pakai. Sampai ketika beberapa hari setelah saya pulang, teteh cerita kalau Fely nangis malam-malam mencari saya hanya karena cat kukunya sudah terhapus semuanya. Huhu, betapa kangennya saya sama dia. Apalagi saya pun masih belum tahu, kapan bisa bertemu lagi dengannya. Selama di sana, saya (tumben-tumbenan) betah menjadi babysitter. Saya, lho! Orang yang paling nggak tahan dengan teriakan anak kecil, hehehe… Tapi saya sayang banget dengan kelima keponakan saya, yup, ada 5! Armand, Arfin, Farrel, Felycia, dan Fahrani.

Melihat keadaan teteh di sana, jelas bikin mama tenang. Apalagi suaminya benar-benar baik, terlihat sayang dengan anak-anaknya, mau bantu gendong, dorong stroller, bantuin teteh, juga mengantar kami semua ke Washington D.C hingga Niagara Falls. Hal lainnya yang membuat saya senang juga, dia bisa diajak mengobrol (karena saya dua kali dijemput dari train station sehabis jalan-jalan di New York sendirian) serta bisa menerima perbedaan antara teteh dan dia (karena mereka berdua beda agama). Keluarganya pun sangat terbuka akan hal ini, jadi tidak ada sama sekali kecanggungan di antara kami. Persis seperti keluarga mama yang asli Sunda dan keluarga papa, dimana Opa saya yang orang Padang adalah Muslim dan Oma saya yang orang Sibolga adalah Kristen, sedangkan papa menjadi satu-satunya yang muslim di keluarganya. Keluarga kami benar-benar Bhineka Tunggal Ika, apalagi anak-anaknya teteh selain punya darah Padang, Batak, Cina, Sunda sekarang tambah Manado. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, I really do love my family!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s