Girl With The Microphone


Jujur saja, dulu saya selalu menganggap diri saya pemalu dan bukan tipe orang yang supel. Sejak kecil, saya lebih banyak diam apalagi kalau bertemu orang baru, walaupun jika di sekitar keluarga saya selalu dianggap anak yang paling centil dan cerewet. Tapi, entah kenapa sejak kecil saya selalu ingin tampil di depan banyak orang. Saya mencintai ketika kecil dulu tampil menari balet di atas panggung, saya sangat suka ketika bergabung dengan kelompok paduan suara saat di sekolah dasar, dan terutama bukan main senangnya saya saat harus tampil di atas panggung teater memainkan drama. Sepertinya keinginan untuk tampil di depan banyak orang, merupakan usaha saya untuk mendobrak sifat pemalu saya.

Percaya atau tidak, waktu kecil dulu saya sering menghabiskan waktu berpura-pura di depan kaca berbicara ala presenter berita di televisi atau penyiar radio. Kesempatan itu kemudian datang saat saya di bangku kuliah dan bergabung dengan radio kampus, RTC UI FM. Kecintaan saya akan musik dan berbicara di depan mikrofon sepertinya mendukung itu semua. Padahal awalnya saya merasa suara saya ini cukup cempreng, tapi ternyata semua itu masih bisa diterima, hehehe. Akhirnya saya memberanikan diri untuk melamar ke beberapa radio di Jakarta, sayangnya tidak ada tanggapan positif. Saya pun mulai mengambil kelas presenter, disini saya pun mengikuti beberapa casting (saking banyaknya sampai tidak terhitung lagi) dan akhirnya mendapatkan pekerjaan pertama saya sebagai sebuah presenter di televisi lokal Jakarta.

Sayangnya lagi, pekerjaan semacam itu tidak kunjung datang. Beberapa kali pernah menjadi MC untuk beberapa acara kampus hingga acara donor darah di sebuah mal terpencil. Uangnya pun tak seberapa, akhirnya saya menutup cita-cita saya itu, dan banting setir untuk menjadi pekerja kantoran hingga saya menemukan kecintaan saya yang lain, yaitu menulis dan fashion. Tapi ternyata hubungan saya dengan mikrofon pun tidak bisa dipisahkan begitu saja. Saya berulang kali didaulat untuk menjadi mc atau moderator di berbagai acara kantor tempat saya bekerja, mulai dari talk show, beauty class, hingga seminar dan workshop. Saking seringnya, makin lama saya makin terbiasa, walaupun kadang-kadang rasa gugup itu sering datang saat melihat banyaknya pengunjung.

Tapi ada yang berbeda ketika kemarin saya menjadi mc dadakan di sebuah acara kantor saya. Sebenarnya saya ditugaskan untuk menjaga booth foto, dimana para undangan (pembaca majalah) bisa foto gratis dan saya yang mengarahkan gaya untuk mereka. Acaranya sendiri punya mc, tapi dia sudah pulang karena acara inti sudah selesai pukul 6. Sedangkan ada acara tambahan dari pihak mal yang akan menampilkan penyanyi terkenal di pukul 7. Ternyata, si penyanyi telat sehingga pihak mal minta tolong kepada kami (pihak majalah) untuk mengulur waktu dengan kuis dan bagi-bagi hadiah.

Terpaksa saya yang ditunjuk, karena dari semua teman-teman saya yang bertugas hari itu, cuma saya yang terbiasa menjadi mc. Dengan pengetahuan sedikit tentang mal tersebut dan hadiah yang akan dibagikan, saya pun maju ke depan para pengunjung dengan mikrofon di tangan. Tanpa cue card atau catatan pengingat tentang apa yang akan saya bicarakan, kata-kata sepertinya meluncur dengan mudah dari mulut saya. Tidak ada rasa ragu, gugup, apalagi malu. Saya terus menguur waktu, hingga setidaknya 40 menit berada di depan pengunjung, sampai pihak mal memberikan tanda bahwa si penyanyi sudah siap manggung. Akhirnya selesai pula tugas saya dan pada saat itulah saya merasa cukup percaya diri bahwa saya bisa. Saya memang bukan tipe orang yang pandai melucu seperti kebanyakan mc atau penyiar radio, saya juga belum punya banyak pengalaman, tapi saya yakin saya bisa dan punya keberanian untuk berbicara di depan umum. Semoga saja, impian saya ini belum benar-benar kandas dan suatu saat bisa jadi profesi buat saya.

Advertisements

2 thoughts on “Girl With The Microphone

  1. I like this, andina!
    for this way, we’re actually the same! Haha…

    I used to dream of being a news presenter, and was even just given chance to be a local TV presenter. Haha…

    akhirnya, cita- cita itu ditutup dan kini jadi keterusan suka nulis…

    Sometimes we just realized that GOD’s hand never resulted in wrong way thereafter. Itupun setelah kita sadar bahwa pekerjaan itu bukan bidang kita, dan bukan jalan-Nya. hehe…

    I recently shared the same idea on my blog, ndin.. 😉 hehee…

    Anyway, keep up the good work, cute lady!
    Fashion is even more challenging as it has its own positive side to improve! 😉

    1. Haha.. iya, bener, kadang ketika nggak mendapatkan sesuatu, kita akan mendapatkan hal lain yang ga terduga, tp ternyata menyenangkan juga…

      Glad you like this post 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s