Saying Goodbye


Umur orang nggak ada yang tahu. Dalam hidup cuma ada satu yang pasti, yaitu kematian. Seminggu yang lalu, kakak ipar saya, mba Ida meninggal dunia. Usianya baru 38 tahun, kedua anaknya baru berusia 12 dan 5 tahun. Baru beberapa bulan yang lalu, dirinya di diagnosa memiliki tumor di kepalanya. Karena tidak mau di operasi, mba Ida memulai pengobatan alternatif. Nggak lama, dirinya mengalami kemajuan dan bisa beraktivitas seperti biasa. Kami sekeluarga mulai lupa dengan penyakit yang dideritanya dan mulai optimis bahwa dia akan sembuh. Tapi, Allah berkehendak lain. Sebulan yang lalu, sakit di kepala mba Ida semakin parah hingga dia tidak sadarkan diri dan dilarikan ke rumah sakit. Tak ada jalan lain, dia harus di operasi.

Setelah operasi berjalan lancar, mba Ida mulai sedikit demi sedikit sadar. Walaupun matanya tidak pernah sepenuhnya terbuka, dia selalu bisa menjawab semua pertanyaan yang saya lontarkan. Sedih melihatnya terbaring di tempat tidur rumah sakit, melewatkan acara pertunangan saya. Padahal baru beberapa minggu sebelumnya, saya selalu bertanya-tanya kepadanya, apa yang perlu saya persiapkan untuk acara pertunangan itu. Mulai dari susunan acara, baju yang akan saya pakai, hingga persiapan untuk pernikahan akhir tahun depan. Mba Ida sangat antusias, semangat, dan senang akan mempersiapkan itu semua. Tapi semua itu tidak sempat dia lakukan, karena dia dipanggil oleh Allah, ketika paru-parunya mulai tidak berfungsi dan membuatnya sulit bernapas.

Ketika akhirnya mba Ida pergi, saya tahu ini jalan terbaik yang diberikan Allah. Saya tahu, mba Ida adalah orang yang baik, yang dosa-dosanya akan diampuni karena pergi di bulan penuh ampunan, bulan Ramadhan. Tapi melihat anak-anaknya, melihat kakak saya, bagaimana mereka akan melanjutkan hidup mereka nanti. Apalagi anaknya yang terkecil, masih sangat dekat dengan ibunya, masih perlu banyak belajar.

Sedihnya, menyerupai kesedihan ketika saya ditinggal Papa sembilan tahun yang lalu. Rasa kesepian itu muncul. Mba Ida biasanya datang setiap weekend, kita akan pergi makan siang, jalan-jalan, atau sekadar duduk-duduk di kamar dan mengobrol. Mba Ida sudah saya kenal sejak saya berumur 6 atau 7 tahun, sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri, bahkan saya mengenalnya sekitar 20 tahun, lebih lama daripada saya mengenal papa yang hanya 17 tahun. Saya selalu merasa mba Ida adalah tempat saya bertanya, kini saya kehilangan dirinya. Tapi, saya tidak bisa menentang takdir, saya hanya bisa berdoa semoga mba Ida tenang bersama Allah, semoga Armand, Arfin, dan mas Adi tetap menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya.

Mba Ida and Me
Kenangan bersama mba Ida 20 tahun yang lalu
Advertisements

2 thoughts on “Saying Goodbye

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s