What is Life?


What is life?

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri, apakah hidup itu? Kenapa kita berada di dunia ini, menjalani apa yang kita jalani, melewati hari demi hari. Pernahkah bertanya, mengapa begitu banyak emosi yang kita rasakan, senang, sedih, marah, kecewa, bingung. Pernahkah merasa sendiri, padahal bumi ini begitu luas dan milyaran orang hidup didalamnya.

Pernahkah berpikir, apa yang akan terjadi setelah hari ini selesai dan esok hari datang. Ketika kita kecil, kemudian sedikit demi sedikit beranjak dewasa, ketika kita akhirnya berhasil mendapatkan impian kita (atau juga tidak), lalu apa? Apa setelah itu? Mengejar mimpi yang lain, gagal atau berhasil, lalu apa?

Ada yang bilang, hidup itu sudah ada yang mengatur, bahwa apa yang kita alami dalam kehidupan adalah takdir. Tapi ada juga yang bilang, kita sendirilah yang menentukan takdir itu. Mau menjadi apa kita dalam kehidupan, cara apa saja yang kita lakukan untuk mendapatkan yang diinginkan, semuanya dari diri kita sendiri. Benarkah?

Ketika kita dilahirkan ke dunia, kita memang tidak bisa memilih orang tua kita. Kita diajarkan tentang hidup oleh orang tua, berdasarkan pengalaman mereka. Sehingga harapan kita akan hidup pun tergantung pada apa yang ditanamkan. Apa yang kita kejar dalam hidup? Kekayaan, ketenaran, kebahagiaan, kesuksesan, cinta atau justru semuanya? Tapi bisakah, mungkinkah bisa dapat semuanya? Orang tua mungkin mengajari kita, bahwa hidup itu seperti roda, kadang ada saatnya kita berada di bawah, ada saatnya pula berada di atas. Ada saatnya kita bahagia, ada saatnya sedih.

Ketika masih di SMA, ada teman saya pernah bilang, jangan ketawa terlalu keras, karena habis ini akan menangis lebih kencang lagi. Entah benar atau tidak, itu terjadi. Dan itu terus terbawa sampai sekarang, hingga suatu saat ada teman saya yang bilang, hukum itu seharusnya juga berlaku sebaliknya. Kalau sekarang menangis, mungkin esok akan tertawa. Istilahnya, saya menabung kesedihan untuk mendapatkan kebahagiaan nantinya. Kembali lagi dalam konsep kehidupan seperti roda. Pernah ada suatu cerita yang diberikan oleh teman saya yang lain, sebuah cerita tentang atlet yang sukses dimasanya, kemudian tiba-tiba sakit dan menjalani operasi. Belum selesai sampai disitu, ternyata akibat transfusi darah dia terkena virus HIV. Semua orang bertanya kenapa itu terjadi pada dia, tapi dia hanya menjawab “buat apa bertanya ‘kenapa’?”. Dia bilang, ketika dia mengalami puncak kejayaan, kemenangan, dan kekayaan, dia tidak bertanya “kenapa saya?”. Jika di saat senang kita tidak pernah bertanya seperti itu, kenapa justru di saat sedih bertanya? Mungkin maksudnya, semua orang punya hak yang sama, mendapatkan kebahagiaan dan kesedihan yang seimbang.

Bagaimana dengan harapan-harapan dalam hidup tadi? Benarkah semuanya hanya takdir, jadi kita tinggal duduk saja menanti nasib? Hmmm… saya rasa tidak sepenuhnya benar. Mereka yang bilang kita sendiri menentukan takdir, mungkin benar, karena kita yang menjalani hidup ini dan semua pilihan ada di tangan kita. Tapi ketika kita sudah berusaha dan ternyata hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, di saat itulah kita sadar bahwa ternyata takdir itu ada. Manusia bisa berencana dan berusaha, pada akhirnya Tuhan juga yang menentukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s