The Earthquakes


Wow.. sudah lama juga saya tidak mengisi blog ini. Padahal banyak hal yang ingin saya ceritakan. Sudah banyak kejadian yang banyak saya lewati. Misalnya saja, pengalaman kerja saya, pergi keluar kota tiap weekend, mulai dari Surabaya, Makassar hingga Padang. Lelah dan capek!

Tapi yang menjadi fenomenal adalah pengalaman saya pergi ke Padang. Ketika pertama kali saja menjejakkan kaki ke tanah kota Padang, saya senang dan merasa excited. Waktu itu cuaca sedikit mendung dan angin berhembus dingin. Semuanya terasa menyenangkan. Bahkan sempat terlintas di benak saya, ingin sekali datang lagi ke kota ini untuk liburan. Jalan-jalan ke daerah Bukit Tinggi atau berjalan di pesisir pantai dan melihat batu Malin Kundang.

Ternyata, hari kedua di Padang, saya dan teman-teman kantor (yang juga bertugas) malah didera dengan matahari yang sangat panas. Tapi kemudian diguyur hujan ketika malam hari. Hari ketiga, kami bertugas di Plaza Andalas, sebuah pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Padang (tapi jangan disamakan dengan konsep “plaza” di Jakarta, yah..). Semua berjalan seperti biasa, hingga masuk jam makan siang.

Saya dan seorang teman makan siang di salah satu resto fast food di mal tersebut. Selesai makan, kami langsung menuju keluar mal (karena kebetulan booth styling majalah kami ada di pelataran parkir), pada saat itu teman saya mengeluh pusing, tapi saya tidak berkomentar. Sesampainya di booth, saya bertanya ke teman saya yang lain tentang pengunjung yang sedang di-styling. Pada saat itulah saya merasa, badan saya bergoyang dengan sendirinya. Makin lama, terasa makin kencang. Barulah saya sadar bahwa itu adalah gempa bumi. Saya langsung lari keluar menutupi kepala saya. Karena saat itu saya merasa ada sedikit reruntuhan yang keluar dari sela-sela retakan gedung mal, dan saat itu hujan kembali turun dengan deras.

Hingga beberapa menit ke depan, rasa panik, takut, kaget, bercampur aduk. Jantung berdetak lebih cepat dan saya hanya bisa terdiam di bawah curahan hujan. Di sisi kiri depan, saya melihat seorang perempuan yang dibopong karena kepalanya berdarah akibat terkena reruntuhan gedung yang berukuran besar. Saya dan teman-teman langsung membereskan barang-barang, acara pun langsung berhenti saat itu juga. Sampai di hotel, ternyata kamar kami pun terkena dampaknya. Retak di sepanjang dinding, list langit-langit kamar juga ikutan runtuh. Saya mendapat informasi bahwa gempa tadi berkekuatan 6,9 skala richter dengan pusat gempa di kepulauan Mentawai.

Sepanjang sore dan malam hari, kami tidak bisa tidur, karena gempa susulan datang terus. Saya dan teman saya memutuskan untuk duduk di lobi hotel, waspada jika ada gempa susulan yang lebih besar. Pukul 11.30 malam, ada seorang bapak yang mendekati kami, dia memperkenalkan diri sebagai GM hotel sekaligus arsiteknya. Dia menyakinkan kami bahwa bangunan hotel tersebut sangat kuat menahan gempa dan menyarankan kami untuk tidur di kamar. Bahkan dia menawarkan kamar yang baru, jika tidak nyaman dengan kamar yang sudah berantakan akibat gempa. Setelah diyakinkan, kami kembali ke kamar, namun tetap tidak bisa tidur menanti datangnya pagi supaya kami bisa segera terbang kembali ke Jakarta. Sepanjang malam itu, saya kepikiran rumah. Betapa sedihnya jauh dari rumah dan mengalami musibah seperti itu. Namun, tetap bersyukur karena kami masih dalam keadaan baik-baik saja.

Selang dua minggu sejak kejadian itu, ketika saya sedang berada dalam mobil kantor, tiba-tiba badan mobil terasa goyang. Kali ini saya ada di Jakarta dan gempa terjadi lagi. Saat itu saya tidak merasa setakut saat di Padang, tapi tetap saja pengalaman merasakan gempa dan jauh dari rumah, menjadi trauma tersendiri bagi saya. Gempa di Jakarta itu ternyata merupakan imbas dari gempa di Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala richter. Gila…. getarannya saja terasa cukup kuat di Jakarta, apalagi mereka yang berada di dekat pusat gempa.

Beberapa minggu kemudian, gempa kembali muncul. Kali ini Padang dengan gempa berkekuatan 7,6 skala richter. Gedung, rumah, sekolah, runtuh. Banyak korban berjatuhan dan ada juga yang masih tertimbun. Saya berulang kali berucap syukur, bahwa saya masih diberi kesempatan untuk hidup. Bersyukur bahwa gempa sebesar itu tidak terjadi saat saya berada disana. Sekaligus sedih, melihat foto-foto kota Padang, bangunan-bangunan yang pernah saya lewati, kunjungi dan tempati sekarang hancur berantakan.

Kemarin, teman saya mengirimkan sebuah email tentang gempa di Cina dan tentang orang-orang yang menjadi penyelamat mereka yang tertimbun reruntuhan gedung. Aduh, melihatnya saja jadi nangis. Jadi ingat orang-orang di Padang, jadi ingat bapak GM hotel Bumi Minang, para bellboy, waiter dan waitress di hotel, orang-orang di Plaza Andalas, orang-orang di Central Pasar Raya. Apa mereka semua selamat? Mudah-mudahan saja, sih. Dan saya berharap mudah-mudahan mereka yang selamat dari gempa bisa segera mendapat bantuan. Juga untuk mereka yang menjadi korban, semua amalnya diterima Tuhan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s