Bittersweet Life


Si A, sepanjang kuliah hanya dia yang paling sering dapat IP 4 dari teman-teman satu angkatan, lulus dengan cumlaude, bahkan sebagian biaya kuliahnya dia dapat melalui beasiswa. Sekarang dia berangkat ke Inggris untuk kuliah S2 dengan mengambil jurusan fashion communication (jurusan yang seandainya bisa saya ambil juga untuk kuliah S2).

Si B, punya pacar yang setia, sayang padanya, setelah beberapa tahun pacaran akhirnya dia dilamar. Lamaran, menyiapkan pernikahan, dan akhirnya menggelar resepsi pernikahan. Tampil cantik dan bahagia di depan pelaminan, kemudian pindah ke rumah baru. Nggak lama, dia pergi ke Amerika karena mengikuti suaminya yang kuliah S2 disana.

Si C, nggak cuma cantik dan pintar, sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan besar, memiliki jabatan yang cukup tinggi di usia muda, bahkan jenjang karir di depannya masih terbentang luas. Gaji yang besar, fasilitas kantor yang memadai, sudah bisa mandiri tanpa bantuan finansial dari orang tua.

Si D, teman kantor yang selalu kreatif, selalu bisa menghasilkan karya-karya fashion spread yang berkualitas, ide-idenya selalu cemerlang, penampilannya selalu menarik, pendapatnya selalu diterima, dipercayakan melakukan banyak hal, padahal dia masuk setelah saya berada di kantor tersebut selama beberapa waktu.

Kadang saya berpikir, betapa beruntungnya mereka. Betapa saya ingin mendapatkan kesempatan seperti yang mereka dapatkan, betapa saya ingin memiliki kepintaran seperti mereka. Saya sadar, betapa standar-nya diri saya ini. Average, kaum rata-rata. Pernah suatu waktu saya bercerita tentang hal ini ke teman saya, dan dia bilang, ya sudah bersyukur saja. Barulah saya sadar, yah, memang setiap orang memiliki rezeki yang berbeda-beda, jadi (mungkin) sudah seharusnya kita lebih banyak bersyukur akan rezeki yang kita miliki dan berhenti melihat keberuntungan orang lain.

Hidup itu kan ada pahit dan manis. Teman-teman saya yang sukses itu juga mungkin pernah merasakan pahitnya hidup, bahkan mungkin juga dia pernah merasakan hal yang saya rasakan ini. Rasa cemburu, iri, sirik, yang ingin saya hilangkan. Tidak, saya tidak benci teman-teman saya. Saya juga tidak benci akan kehidupan saya. Hanya saja, banyak kata seandainya di kepala saya ini yang tak kunjung hilang. Seandainya saya bisa seperti dia….

Tapi lagi-lagi, saya jadi berpikir, kalau saya hanya akan menjadi orang yang picik jika selalu melihat rezeki orang lain dan lupa akan rezeki sendiri. Saya nggak mau munafik, dengan jujur saya mengakui, bahwa menghilangkan rasa cemburu itu sulit rasanya. Karena itu, saya pelan-pelan belajar, menghargai diri sendiri, bersyukur, dan tentunya menerima diri apa adanya. Walaupun S2 di Jakarta, toh saya masih bisa diberi kesempatan untuk belajar. Walaupun gaji pas-pasan, toh saya nggak nganggur. Dan sebagainya… mudah-mudahan saya bisa jadi orang yang lebih baik lagi.

Advertisements

5 thoughts on “Bittersweet Life

  1. hehe, seandainya nyokap gue juga bilang kayak gitu… krn dia sering bgt ngomong “kamu udah 26 tapi belum ada apa2nya” hikkkssss….

  2. Hi Neng Aan..emang ga sedap banget mendengar komen kaya gt apalagi dari ortu, trust me, gue mengalami 200% lebih parah neng. ortu gue cadas lah, cm gue sih lebih percaya dgn diri sendiri..semua langkah dalam hidup gue i dont take it for granted. semua sama penting, walopun buat orang laen itu gak ada apa apanya. yg penting kita yg lebih tau dan kita yg ngejalaninnya dan kita yg ngerasainnya, toh?You are good just like the way you are. Be thankful to God, dearest!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s