Jakarta’s Crazy Traffic


Apa yang paling terkenal di Jakarta? Tentu saja kemacetan lalu lintasnya. Apa kebiasaan yang paling sering dilakukan orang-orang Jakarta? Terlambat alias jam karet. Dan macetnya lalu lintas seringkali dijadikan alasan. Tapi, memang tidak bisa disalahkan juga kalau kadang kemacetan di Jakarta memang tidak dapat diduga sebelumnya.

Contohnya saja, saya terbiasa berangkat dari rumah ke kantor sekitar pukul 07.30 pagi atau paling lambat jam 08.00. Perjalanan yang saya tempuh kira-kira 1 jam, dengan beberapa tahap kemacetan. Pagi itu saya berangkat 07.45 pagi dan menggunakan taksi. Saya melihat jalan di depan rumah saya cukup sepi, tapi ternyata ketika sampai di jembatan, kemacetan mulai terlihat. Biasanya disini mobil-mobil memang agak tersendat. Setelah beberapa menit taksi yang saya tumpangi tidak bergerak, barulah saya menyadari bahwa saya terjebak kemacetan yang cukup parah. Bayangkan, jarak sekitar 2km dari arah rumah saya itu harus saya tempuh selama 1 jam lebih. Tahu apa akibatnya? Sebuah mobil yang entah kenapa sedang diderek. Arrggghhhh…. benar-benar bikin kesal. Lepas dari kemacetan ini, masih ada beberapa kemacetan yang juga harus saya hadapi. Kadang tanpa sebab, kadang ada sebab lain seperti galian, jalur yang dialihkan, tabrakan, dan lain-lain. Akhirnya saya pun telat datang ke kantor, karena kali itu saya menghabiskan 2 jam di perjalanan dari rumah ke kantor.

Malam, tidak lebih baik dari pagi. Saya ingat betul hari itu adalah hari Senin. Saya keluar kantor pukul 5 sore. Kantor saya berada di daerah Kuningan dan saya ingin menuju daerah Senayan. Karena sudah waktu 3-in-1, mau tidak mau saya harus melewati jalur non 3-in-1 yang pastinya macet. Dan berapa lama saya menghabiskan waktu di jalan? Lagi-lagi 2 jam!

Sebenarnya kemacetan lalu lintas bukan hal baru, beberapa di antara kita mungkin sudah terbiasa. Tapi nggak jarang juga kemacetan tetap membuat diri saya stres. Bayangkan saja berapa banyak waktu yang terbuang di jalan, berapa liter bensin yang dipakai untuk sekadar berdiam di jalan, dan berapa banyak kesempatan yang terlewatkan. Sampai saat ini saya rasa belum ada solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan. Kalau armada kendaraan umum di tambah pun, tidak akan membuat pemilik kendaraan pribadi memilih kendaraan umum. Lagi-lagi karena pelayanan yang belum memuaskan, ketidaknyamanan, plus supir yang masih ugal-ugalan. Belum lagi pertambahan penduduk di Jakarta, buktinya saya selalu melihat kendaraan umum terlihat penuh sesak (hingga badan kendaraan tersebut terlihat miring–lagi-lagi tidak memperhatikan keselamatan penumpang). Yah, mudah-mudahan saja suatu saat nanti benar-benar ada solusi yang nyata… *sigh*

Advertisements

2 thoughts on “Jakarta’s Crazy Traffic

  1. Duh baca post nya yang ini bikin gue semakin cinta sama sepeda tua gue dsini 🙂 Setia mengantar kemanapun gue pergi..tanpa macet! Kayanya Jakarta sekarang semakin menjadi jadi yah? Kenapa juga pemerintah nya ga bikin metro bawah tanah, udah jelas bus dan busway udah gak mempan!Hmm, nice lay out! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s