My Best Friend Is Getting Married


Saya memiliki seorang sahabat, teman sebangku ketika SMA. Dulu kita saling berbagi cerita, terutama soal cowok. Biasalah, ABG. Sampai-sampai isi organizer saya isinya curhat dia semua, haha.. Setelah lulus SMA, kita berpisah, karena dia kuliah di luar kota. Percakapan dan sesi curhat pun berkurang, waktu pun terus berlalu. Hingga 2 tahun setelah lulus kuliah dia memutuskan untuk menikah. Saya dan beberapa teman dekat ikut menjadi panitia, terlibat mulai dari proses lamaran, akad nikah, hingga resepsi. Pada saat melihat teman saya didandani sebelum naik pelaminan, saya merasa akan ada sesuatu yang hilang. Kita pasti tidak bisa lagi pergi jalan semudah dulu, apalagi dia akan ikut suaminya ke Pekanbaru. Tapi, saya bahagia untuknya, karena saya tahu itu adalah momen bahagia dia.

Setahun kemudian, saya bertemu lagi dengannya sedang menggendong anak. Waktu itu saya juga bertemu di pernikahan sahabat saya yang lain. Betapa mereka sudah terlihat berbeda di mata saya. Lebih dewasa tentunya. Saya tahu ini adalah sebuah fase yang pasti akan saya dan teman-teman saya alami. Pantas saja orang tua saya selalu bilang, “nikmati dulu masa muda sebelum menikah”. Karena memang setelah itu, semuanya jadi berubah. Dan perubahan itu memang sudah kodratnya manusia, bukan?

Baru-baru ini saya juga menemukan perbedaan dari sahabat saya yang lainnya. Saya mengenal sahabat saya ini sejak kecil, karena kita berada di lingkungan sekolah yang sama. Tapi saya baru benar-benar dekat dengannya sejak 10 tahun terakhir. Perbedaan yang saya lihat didirinya adalah, jari manisnya yang kini dihiasi cincin. Padahal saya tahu benar, dia bukan penyuka aksesori. Jarang bahkan nyaris tidak pernah menggunakan kalung, gelang, cincin, atau anting. Waktu melihatnya, saya tidak bertanya, karena saya yakin jika dia ingin bercerita pasti akan langsung diceritakan kepada saya. Selang beberapa waktu kemudian, saya datang ke rumahnya karena kita berencana untuk jalan bareng. Disana saya mengobrol dengan ibunya, sambil menunggu dia bersiap-siap.

Obrolan bersama ibunya, pasti nggak jauh-jauh soal relationship. Pertama, dia bertanya bagaimana hubungan saya dengan pacar, saya jawab baik-baik saja. Apakah akan lebih serius atau tidak? Yah, hanya saya minta doanya. Kemudian dia bilang, kalau sahabat saya ini sudah dilamar pacarnya. Agak terkejut, memang, karena sahabat saya tidak pernah bercerita. Tapi saya diam dan mendengarkan. Barulah ketika saya berdua saja dengan sahabat, saya bertanya tentang berita tersebut. Dia mengiyakan dan berkata bahwa dia belum cerita ke saya karena belum menentukan tanggal. Dari sana, mengalirlah cerita tentang proses lamaran, mulai dari saat pacarnya melamar, pacarnya bertemu orang tua sahabat saya, hingga ketika kedua keluarga bertemu. Juga tentang macam-macam rencana lainnya, yaitu dia ingin kuliah lagi, juga pacarnya yang ingin kuliah di luar, dan apakah nanti dia akan ikut atau tinggal di Jakarta dulu.

Saat itu saya sadar, bahwa kita bukan lagi anak baru gede yang sedang sekolah, kita adalah wanita yang pelan-pelan menuju kedewasaan. Dan saya, sekali lagi melihat sahabat terdekat saya akan sampai di fase yang baru. Pernikahan. Saya bilang padanya, semoga persahabatan kita tetap sama, semoga juga jauhnya jarak dan perbedaan status tidak mengubah kenyataan bahwa dia adalah salah satu sahabat terbaik saya.

I’m so happy for you, my dearest best friend….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s