Fairy Tale of Us


A fairy tale always starts with "once upon a time"

Fairy tale, kisah-kisah dongeng yang mungkin sudah sering kita (atau saya) baca dan dengar berulang kali sejak kecil. Jujur saja, cerita-cerita seperti Cinderella, Snow White, Sleeping Beauty, Beauty and the Beast, dan The Little Mermaid menjadi cerita favorit saya. I always love fairy tales. Bahkan dulu saya punya banyak sekali buku-buku dongeng. Apa yang membuat saya jatuh cinta dengan cerita itu? Mungkin cerita tentang putri cantik dan pangeran tampan, yang selalu dihadapkan pada masalah atau kesulitan, kemudian semua cerita berakhir dengan bahagia. Si putri menikah dengan pangeran, and they live happily ever after. Dan bukan hanya di dongeng, tapi banyak juga film yang adegan terakhir adalah pernikahan. Seakan-akan, pernikahan itu adalah akhir yang bahagia, seolah-olah setelah itu tidak akan ada masalah lagi.

Kemudian, seiring bertambah umur, barulah saya tahu bahwa tidak semua cerita berakhir bahagia. Bahkan dongeng The Little Mermaid karangan Hans Christian Andersen, tidak berakhir dengan bahagia seperti dalam film animasi Disney. Cerita sesungguhnya, The Little Mermaid tidak mendapatkan sang pangeran, dan dia pun mati menjadi buih di laut. Sama halnya dengan pernikahan, yang setelah saya pikirkan lagi, ternyata bukanlah sebuah akhir melainkan sebuah permulaan. Saya memang belum pernah menikah, sehingga belum tahu rasanya seperti apa dan tidak mau berkomentar lebih banyak lagi. Saya hanya mendapatkan info dari ibu saya, dari saudara yang sudah menikah, dan menyaksikan bagaimana naik turunnya kehidupan pernikahan mereka.

Dalam dongeng-dongeng itu, tidak lagi diceritakan bagaimana kehidupan putri cantik dan pangeran ganteng itu setelah menikah. Apakah mereka pernah bertengkar atau sehari-harinya cuma dipenuhi dengan nyanyi-nyanyi di halaman istana (sebenarnya ini cerita dongeng atau film india, hehe)? Apakah nanti mereka punya anak? Apakah nantinya si pangeran tiba-tiba tidak tertarik lagi sama si putri karena tubuhnya membengkak setelah melahirkan? Apakah kemudian si pangeran jatuh cinta sama perempuan lain, kemudian melupakan si putri? Dan sebagainya.

Saking banyaknya dongeng-dongeng untuk anak kecil itu, nggak salah juga kalau akhirnya setiap anak kecil punya khayalan. Dan bagaimana jadinya kalau nantinya mereka harus menghadapi kenyataan bahwa khayalan mereka tidak menjadi kenyataan? Saya sendiri, sudah beberapa kali kecewa karena cerita dongeng khayalan saya tidak terwujud. Tapi, ternyata seringkali juga saya mendapatkan pengganti cerita yang lebih baik. Beruntunglah mereka yang saat ini sudah mendapatkan cerita yang indah, beruntung juga bagi mereka yang sudah memiliki pasangan dan tidak tertarik pada “rumput tetangga” yang katanya jauh lebih hijau. Sedangkan, tentang cerita saya sendiri, belum memiliki akhir. Saya masih menikmati setiap menitnya, walaupun kadang tidak selalu bahagia. But, that’s life, right?

Photos from: weheartit.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s