Friends vs. Stranger


Pernahkah terpikirkan bagaimana seorang teman bisa menjadi orang yang asing buat kita, dan bagaimana orang yang asing justru bisa menjadi teman baik?

Saya sendiri pernah mengalaminya beberapa kali. Ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, saya memiliki beberapa teman dekat. Kami selalu melakukan semua kegiatan bersama-sama. Makan di kantin, bermain saat jam istirahat, hingga duduk berdampingan di bus saat sedang study tour. Lulus SD, kami dipertemukan lagi di SMP yang sama, namun beda kelas. Lama kelamaan, kami berkenalan dengan teman-teman baru, hingga tidak lagi melakukan aktifitas bersama-sama.

Begitu pula ketika saya masuk SMA dan kuliah. Yang tadinya saya memiliki peer group yang beranggotakan 6 hingga 8 orang, pada akhirnya saya hanya dekat dengan salah satu orang saja. Itulah “klik” saya. Orang terdekat, sahabat, tempat saya berbagi cerita, senang, sedih, marah, dialah yang paling tahu tentang saya. Kadang saya masih berusaha menghubungi teman-teman saya yang lain (selain klik), peer group saya jaman sma atau kuliah, mengajak mereka bertemu cuma untuk sekadar bercerita dan mengetahui berita terbaru dari mereka. Tapi, selalu saja ada alasan mereka yang membuat kita tidak bisa bertemu. Sibuk ini, itu, nggak ada uang, malas jalan-jalan bahkan ada yang mengiyakan kemudian tiba-tiba membatalkan janji. Saya bingung, apa mereka sudah tidak menganggap saya sebagai seorang sahabat? Begitu cepatkah seseorang melupakan teman atau sahabat, yang telah melewatkan banyak hal bersama-sama?

Ketika saya bertemu pun rasanya kini makin asing dengan mereka. Karena saya tidak bisa cerita sebebas dulu, atau sudah terlalu banyak hal yang saya lewatkan sehingga mereka tidak lagi tahu apa saja perubahan saya. Dan saya pun tidak tahu apa saja perubahan yang terjadi dengan diri mereka, siapa teman-teman baru mereka, dan lainnya. Baru-baru ini, saya mendengar kabar tentang seorang teman, yang dulu masih satu peer dengan saya. Kabarnya, gaya hidup dia sekarang berubah, mulai dari merokok, doyan clubbing, minum, hingga yang paling parah narkoba. Sungguh jika berita itu benar, saya ikut sedih, kalau seorang teman berubah ke arah negatif dan saya tidak tahu-menahu mengenai hal itu. Yang lebih menyedihkan lagi, saya tidak bisa berbuat apa-apa.

Saya rasa hidup memang seperti itu, hidup orang berubah dan selalu ada seleksi alam. Dari proses seleksi itu, akhirnya hanya ada beberapa orang yang masih dekat dengan kita, sedangkan yang lainnya menjauh perlahan-lahan. Beruntung saya masih punya sahabat yang selalu ada setiap saya butuhkan, karena saya juga selalu ada untuknya. Dan mudah-mudahan, mengingat tidak ada yang abadi di dunia ini, saya ingin tetap menjadi sahabatnya hingga nanti.

Advertisements

3 thoughts on “Friends vs. Stranger

  1. Teman sejati memang nggak selalu hadir, tapi selalu dekat di hati…

    Gue ada pengalaman baru-baru ini yang gue posting juga di notes FB. Pertemuan gue dengan seorang dari zaman SD-SMP di JJF yang ternyata tetao seru dan asik. Seolah-olah waktu yang memisahkan selama ini (terakhir kontak pas awal kelas 1 SMU) nggak ada artinya. Rasa dekat, rasa nyaman, masih sama dan cerita mengalir seolah gak terbendung. Gitu, deh, Neng… (FYI, orangnya cowo lagi ;p bener2 BFF)

  2. Ya, gaklah, dia ud punya cewek juga, kok….
    Lagian dari dulu hubungan kami gak pernah nyerempet ke hubungan romantis ;D kekekeee…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s