Me Before You

Saya memang jarang menulis ulasan tentang film. Padahal saya ini penikmat film, suka banget nonton film bioskop dan serial televisi. Namun sejak punya Alanna, saya memang tidak pernah lagi nonton di bioskop. Ibu-ibu dengan bayi pasti paham dengan situasi ini (hehe..) dan menganggap nonton di bioskop adalah sebuah kemewahan.

Untungnya, teknologi kan sudah maju, jadi nonton film-film bioskop bisa lebih mudah dan bisa kita tonton di televisi. Memang, sih, jadinya saya nonton film-film yang agak basi. Orang-orang sudah membicarakannya dari beberapa bulan lalu, saya malah baru heboh sekarang. Sama seperti ketika saya menonton film drama romantis, Me Before You ini, yang sebenarnya sudah dirilis sejak Juni 2016 kemarin.

Saya, sih, tahu film ini diangkat dari buku. Namun saya jarang melihat berita-berita yang membicarakan film ini atau mungkin film ini tertutupi oleh film-film box office dengan budget besar, karena peluncurannya pas Summer. Tahu sendiri, deh, film-film Summer kan biasanya dipenuhi oleh film-film budget besar, biasanya sih film superhero. Makanya film sederhana dari buku ini kayaknya nggak banyak diomongin, padahal pendapatannya di box office pun lumayan besar.

Film ini dibintangi oleh Emilia Clarke. Orang-orang mungkin lebih kenal dia sebagai Daenerys Targaryen di serial Game of Thrones. Kalau di film tersebut, karakternya terlihat sebagai perempuan tangguh, sementara di film Me Before You, Emilia justru memperlihatkan sisi quirky dan goofy. Jadi benar-benar karakter yang beda, deh. Lawan mainnya adalah Sam Claflin yang sebelumnya pernah main di film Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides serta film The Hunger Games: Catching Fire dan Mockingjay sebagai Finnick Odair.

Me Before You bercerita tentang William Traynor (Sam Claflin) yang lumpuh dari leher ke bawah gara-gara ditabrak motor. William digambarkan sebagai cowok ganteng, super tajir, dan dikenal suka hal-hal ekstrem, seperti bermain ski, naik gunung, diving, dan lainnya. Ibu bapaknya William pun mencari caretaker yang diharapkan bisa membuat dia bahagia, at least supaya mood-nya nggak gloomy terus. Ketemulah si Louisa Clark (Emilia Clarke) yang witty, chatty, dan punya sense of fashion yang unik.

Seperti tipikal film-film romantis lainnya, pada akhirnya mereka jatuh cinta. Saya pun awalnya underestimate film ini. Saya pikir, “Ah, pasti akhirnya happy ending”, “Paling filmnya biasa aja, gitu-gitu aja”, ternyata saya malah jadi termehek-mehek sendiri. Sebenarnya agak bete dengan ending-nya (SPOILER ALERT: jangan diteruskan baca blog ini kalau nggak mau tahu akhirnya).

me-before-you-2

Pokoknya sepanjang film, saya seperti disuguhkan kisah romantis yang menyenangkan, tapi nggak norak. Jadinya, kan, kebawa perasaan, eh terus bete. hehe..

Sampai detik-detik terakhir saja, saya masih berharap si Will berubah pikiran, ternyata tidak, huhu. Dia memilih bunuh diri, lho, daripada menjalin hubungan sama si Lou. Why? Why? Why?

Saya baca-baca beberapa review film ini, ternyata banyak yang protes dengan ending-nya. Mereka protes tentunya bukan karena termehek-mehek seperti saya, tapi mereka protes karena film ini seperti mendukung keputusan seseorang untuk bunuh diri sekaligus mengatakan bahwa orang lebih baik mati daripada cacat. Duh, pikiran saya, sih, nggak sampai ke sana, saya cuma pengen happy ending saja. Namanya juga nonton film fiksi, kan harapannya yang happy-happy (hehe).

Suami saya juga bilang film ini bagus (padahal dia cuma nonton setengah). Tapi memang setelahnya dia bilang, pasti film ini banyak yang protes, deh, karena membenarkan bunuh diri. Ya, saya cuma berpikir, mungkin si penulis buku merasa itu hak si orang kali, mau bunuh diri atau nggak, walaupun kalau untuk orang beragama, bunuh diri itu dosa besar.

Lalu apa yang menarik dari film ini? Kalau menurut saya, chemistry antara Emilia Clarke dan Sam Claflin kayaknya pas banget. Sam Claflin is total eye candy, jadi tentunya mata tetap segar memandangi dia sepanjang film. Emilia Clarke yang mukanya ekspresif banget dan lucu juga jadi daya tarik tersendiri. Saya juga suka banget gaya busana Lou yang eksentrik, tabrak motif, tabrak warna, dan sepatu motifnya lucu-lucu banget. Ini beberapa contoh busana yang dipakai Lou..

dragonfly-me-before-youemilia-clarke-me-before-you-costumeslittle-leprechaun-me-before-youpops-color-me-before-you

Lucu kaaannn… jadi pengen bisa padu-padan seru kayak gitu. Masih cocok nggak yah buat ibu-ibu? 😀

Pictures taken from: Popsugar

Celebrating New Year with Trip to Madrid

Halo 2017.. Saya tidak sempat menuliskan apa saja yang terjadi di 2016 kemarin. Ah well, yang pasti sepanjang 2016 banyak memori menyenangkan dan banyak perubahan dalam hidup saya. Berhenti kerja dan pindah ke Austria merupakan langkah besar dalam hidup saya. Menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengurus anak secara full time juga bukan sesuatu yang pernah saya bayangkan dalam hidup saya. Meski begitu, saya menikmati setiap menitnya.

Anyway, hari pertama di tahun 2017 saya habiskan dengan berlibur ke Madrid, Spanyol. Ini bukan liburan keluarga, melainkan liburan bersama ibu-ibu Dharma Wanita di Wina. Jujur saja, sebenarnya saya deg-degan, karena ini merupakan pertama kalinya saya pergi berlibur membawa Alanna tanpa keluarga. Saya pernah pergi berlibur dengan Alanna bersama mama dan kakak saya, tapi cuma ke Bandung dan cuma tiga hari. Waktu itu juga sempat ke Frankfurt bersama mama, dan juga cuma tiga hari.

Sedangkan perjalanan ke Madrid ini selama 6 hari 5 malam, dengan jadwal yang cukup padat. Untungnya, karena pergi bersama ibu-ibu yang pastinya lebih berpengalaman dari saya soal mengasuh anak, saya cukup dibantu sepanjang perjalanan.

Kesan saya selama di Madrid, sumpah saya capek, haha.. Ada beberapa tempat di mana saya tidak bisa bawa stroller, sementara perjalanannya naik-turun tangga, jadilah saya gendong Alanna kemana-mana sampai punggung pegal. Saya memang bawa gendongan, tapi karena jaket tebal dan licin (udara di sana di bawah 10 derajat dengan angin yang cukup dingin), jadilah Alanna merosot terus. Padahal minggu-minggu sebelumnya di Madrid cuaca cukup cerah dan suhu di atas 10 derajat, jadi cukup nyaman. Entah kenapa, justru pas saya di sana, cuacanya malah jadi dingin dan beberapa kali hujan.

Untungnya, selama perjalanan, Alanna tergolong anteng dan jarang rewel. Dia juga tidak sampai sakit atau kecapekan, walaupun makannya jadi agak tidak teratur. Jika dilihat secara keseluruhan, saya memang kurang puas menikmati liburan ini. Sepertinya banyak tempat yang ingin dilihat, tapi waktu sepertinya cepat banget berlalunya. Lalu ada beberapa tempat yang sebenarnya ingin saya nikmati, tapi tidak kesampaian. Sebenarnya saya ngiler sama jalan-jalan di kota Madrid yang ada deretan toko-toko, mirip seperti di Times Square New York. Jalan-jalan pun terasa kurang santai, karena mengejar banyak tempat yang dikunjungi, yang sebagian besar justru di luar kota Madrid.

Memang, sih, kotanya cantik banget. Banyak gedung-gedung kuno dan arsitektur menarik yang bisa dilihat. Selain itu, Madrid itu kota yang ramai banget (kalau saya bandingkan dengan Wina yang kayaknya adem ayem). Hingga pukul 12 malam saja, kota ini masih ramai dengan orang yang berjalan-jalan di pusat kota atau sekadar mencari snack di malam hari (pastinya pilihan para turis adalah churros.. yang menurut saya bentuknya kayak cakue, hehe).

Oh iya, saya juga sempat menonton pertunjukan Flamenco, tarian khas Spanyol. Buat para turis, sepertinya harus nonton, karena memang menghibur banget (walaupun kita nggak ngerti apa yang mereka nyanyikan). Bahkan Alanna saja menikmati banget pertunjukan ini. Pertunjukannya sendiri di dalam restoran jadi bisa sambil makan malam, tapi bisa juga memilih tanpa makan malam (hanya minuman dan cemilan saja). Lama pertunjukannya sekitar 1,5 jam dengan beberapa sesi tarian dan nyanyian. Pokoknya seru banget, menurut saya.

Selain Madrid, saya juga mengunjungi Toledo dan Segovia. Sebenarnya ada juga jadwal ke Cordoba, tapi saya memilih tidak ikut karena jarak yang cukup jauh dari Madrid (4-5 jam menggunakan mobil atau 2 jam menggunakan kereta). Akhirnya saya memilih untuk tetap tinggal di wisma dubes tempat kami menginap untuk beristirahat seharian penuh. Siapa tahu saya bisa ke sini lagi bersama suami dan jalan-jalannya bisa lebih santai.

Ini sedikit foto-foto saya bersama Alanna di Madrid.

toledo
Toledo, Spain
img_4290
Plaza de Toros
img_4400
Toledo
andhina-alanna-madrid-palace
Catedral de Santa Maria la Real de la Almudena
andhina-alanna-toledo
Me and Alanna
andhina-alanna-madrid
In front of Santiago Bernabeu Stadium
andhina-segovia
Alcazar de Segovia

 

NYX Soft Matte Lip Cream New Shades Review

Saya merasa bersalah nggak pernah membicarakan tentang NYX Soft Matte Lip Cream (SMLC) di blog saya, padahal liquid lipstick yang satu ini merupakan salah satu favorit saya. Bahkan bisa dibilang, pertama kalinya saya berkenalan dengan liquid lipstick ya dengan NYX SMLC. Warna pertama yang saya beli adalah Antwerp, lalu saya beli warna Prague, Monte Carlo, Addis Ababa, dan Ibiza.

Berhubung baru-baru ini saya borong beberapa warna baru NYX SMLC, jadi saya pikir sekalian saja review warna-warnanya sebelum saya kelupaan lagi.

Sebenarnya warna-warna baru NYX SMLC ini sudah ada sejak awal tahun ini. Ada 12 warna baru, mulai dari berbagai macam nuansa cokelat hingga warna biru. Jadi total ada sekitar 34 warna NYX SMLC digabung dengan warna-warna lama yang semuanya dinamakan berdasarkan nama kota di dunia (sayangnya tidak ada Jakarta dan Vienna).

Ada empat warna yang saya beli, yaitu Rome, Budapest, Paris, dan Seoul.

nyx-smlc-new-colors-on-my-lips

 

Rome dideskripsikan sebagai warna “warm nude with red undertone“. Warnanya cukup natural di bibir saya. Nude tapi tidak terlihat pucat. Ini merupakan warna yang saya rekomendasikan untuk mereka yang suka warna-warna natural.

Budapest adalah warna “deep mauve with red undertone“. Ini merupakan warna favorit saya dibanding tiga warna lainnya yang saya beli. Warna-warna earthy seperti ini, menurut saya, merupakan warna yang jadi favorit di akhir tahun ini (dan sepertinya akan terus jadi favorit hingga awal tahun depan).

Paris merupakan warna “hot pink”. Saya beli karena saya suka kota Paris (guilty!). Warnanya sendiri menurut saya lebih ke arah fuchsia, sementara warna Addis Ababa yang dideskripsikan sebagai “bright fuchsia” malah lebih cocok jika disebut sebagai “hot pink”. But then again, it’s just my opinion.

Seoul adalah warna “violet“. Bisa dibilang lipstik warna violet adalah kelemahan saya (hehe..). Jadi saya harus banget punya warna Seoul ini di koleksi saya. Warna violet ini sangat wearable, karena menurut saya tidak terlalu ungu. Dibanding warna lainnya, saya merasa warna ini agak sheer dan tidak terlalu pekat seperti yang lainnya, which is a downside, karena saya ingin warna ini terlihat lebih opaque.

Di bawah ini saya membandingkan warna-warna NYX Soft Matte Lip Cream dengan beberapa lipstik yang saya miliki. Seperti dapat dilihat, warna Paris mirip banget dengan MAC Girl About Town, hanya formulanya saja yang berbeda. Sedangkan Budapest memiliki warna undertone lebih merah dibanding Wardah Choco Town dan MAC Del Rio.

nyx-smlc-new-color-3

nyx-smlc-new-color-4

Secara keseluruhan saya suka koleksi ini dan saya suka karena NYX menambah banyak warna-warna baru (yang tentunya bikin saya bingung ingin memilih yang mana). Saya beri nilai 9/10 untuk NYX Soft Matte Lip Cream.. I love the formula, the range of colors, and it’s really affordable.

Yes.. I Can Cook!

Sejak akan berangkat ke Wina, tentunya banyak kekhawatiran saya (dan orang-orang sekitar saya, terutama mama), antara lain bagaimana saya membereskan rumah, mengurus anak yang masih kecil, masak, dan tetek bengek lainnya. Dengan kata lain, bagaimana saya yang terbiasa dibantu, terbiasa kerja di kantor, sekarang malah jadi ibu rumah tangga?

Pada awalnya, mama saya ikut ke Wina. Awalnya hanya sebulan, lalu nambah lagi dua minggu (antara saya yang nggak rela ditinggal mama atau mama yang nggak rela ninggalin anak bungsunya). Selama mama di Wina, saya diajarkan macam-macam, deh. “Harus rajin nyapu, bersihin dapur, jangan lupa sikat kloset, dll, dsb..”

Saya juga belajar masak tentunya (sebenarnya lebih sering melihat mama lagi masak, sambil saya gendong Alanna). Mama juga mengajarkan yang simpel-simpel saja, mengingat saya nggak punya ART atau nanny di sini. Pesan mama, “Jangan lupa makan daging, harus ada sayurnya juga, kalau soal rasa ya pokoknya seenaknya kamu aja, kan kamu juga yang makan.”

Nah, itu dia yang melekat di kepala saya. Pokoknya rasa sesuai kesukaan saya saja, toh saya yang makan. Selama saya suka, suami suka, anak juga bisa makan, artinya saya berhasil.

Saya juga jadi rajin cari resep makanan yang simpel, enak, tapi bergizi juga. Lalu mulailah saya bereksperimen. Saya mulai dengan bikin tumis brokoli, sedikit keasinan (haha). Lalu saya bikin ayam saus asam manis, ternyata rasanya oke juga. Saya bikin ayam goreng (dengan bermodalkan bumbu jadi).. not bad.

Akhirnya saya memberanikan diri masak sop buntut, salah satu masakan andalan mama (selain rendang dan sop buntut). Ternyata berhasil! Meskipun masih kurang legit bumbunya, tetap saja enak dimakan (menurut saya dan suami, ya, hehe..)

Lanjut lagi saya bikin semur bola daging (agak gagal karena rasanya nggak kayak semur), tapi tetap enak dimakan. Entahlah apa namanya masakan saya ini, daging kecap kali ya.

Memang, sih, pada akhirnya saya bisa masak, setidaknya untuk konsumsi sehari-hari. Tapi jangan tanya soal bumbu-bumbu, karena saya belum mengerti banyak. Jangan juga meminta saya memasak dengan rasa yang sama persis, karena saya masak tanpa takaran dan asal saja memasukkan bumbu-bumbunya. Saya hanya mengandalkan lidah. Jangan tanya pula cara saya memotong bahan makanan, masih asal-asalan. Saya pun mulai bingung, mau masak apa lagi ya, karena apa yang saya bisa ya itu-itu saja.

Meski begitu, setelah hampir tiga bulan saya di Wina, saya mulai belajar mandiri. Bersih-bersih rumah, beresin ini-itu (walaupun kayaknya kok rumah nggak pernah terlihat beres malah selalu kelihatan berantakan), cuci piring, masak, main-main sama Alanna, dan juga aktif di kegiatan Dharma Wanita di KBRI (kalau yang ini memang wajib). So far, saya menikmati, sih. Nggak ada kemacetan dan stres kayak di Jakarta, walaupun rasanya juga sepi kangen keluarga dan teman-teman di Jakarta.

Beberapa waktu lalu, teteh saya sempat mengirim pesan Whatsapp, “Kamu homesick nggak?”, karena sepertinya teteh dulu sempat merasakan homesick saat pertama kali pindah ke New Jersey.

Saya jawab, “Nggak tuh”.

Well, sekarang, sih, belum masuk musim dingin ya. Mungkin kalau nanti dinginnya sudah tak tertahankan, saya jadi kangen Jakarta yang panas. Maybe.. or maybe not.

We’ll see.

*note: foto di atas itu adalah sop buntut hasil buatan saya 😀

NYX Full Throttle Lipstick – Trickster (Review)

I always love NYX Cosmetics! Sejak kemunculan brand ini di Indonesia, saya selalu mengoleksi beberapa varian lipstiknya, dari yang matte, butter lipstick, soft matte lip cream (one of my favorite liquid lipstick, meski nggak pernah saya bikin review-nya di sini.. hehe), hingga butter gloss-nya.

NYX merupakan brand asal AS yang punya kualitas bagus dengan harga terjangkau. Ada pula beberapa warna yang bisa menjadi dupe dari lipstik high-end. Jadi buat yang nggak mau mengeluarkan uang banyak untuk lipstik bagus bisa cek beberapa produk NYX.

Selain lipstik, banyak juga, kok, produk NYX lainnya yang oke, seperti blush, bedak, primer, pensil alis, dan lain-lainnya. Saya punya beberapa, but I won’t talk about that right now, karena sebagai pencinta lipstik ulasan blog saya kali ini ya seputar lipstik lagi.

Baru-baru ini, NYX membuka toko pertamanya di Wina. Telat banget ya, dibanding Jakarta. Memang, sih, produknya sudah ada online dan di beberapa toko kecantikan seperti Douglas (toko kosmetik mirip kayak Sephora, tapi mereknya lebih banyak yang high-end).

Walaupun telat, koleksinya memuaskan banget. Dibanding Jakarta, yang kadang koleksi warnanya nggak lengkap, toko NYX di sini lengkap banget. Semua produk terbarunya pun ada (termasuk warna-warna baru NYX soft matte lip cream yang saya incar).

Setelah melihat-lihat koleksi lip cream, tiba-tiba saya melihat ada koleksi NYX Full Throttle Lipstick yang diklaim sebagai waterproof lipstick (hmm.. tempting). Warna pertama yang saya swipe di tangan adalah Trickster. I always have a thing with violet lipstick.

nyx-trickster-1

Saat saya swipe di tangan, teksturnya terasa berbeda. Lembut, tapi matte. Jadilah saya beli juga.. dan the best part is, harganya hanya €6.90 atau sekitar Rp103.500.

Menurut informasi di website NYX, varian lipstik ini punya 12 warna berbeda, dari nude, bright pink, deep red wine, hingga black purple. Full Throttle Lipstick juga didefinisikan sebagai berikut ini:

It’s the color addict’s ultimate fix and a makeup artist’s dream: Our new waterproof Full Throttle Lipstick covers your lips with super-saturated matte color and features a unique bullet with a beveled edge for lining, filling and perfecting your pout to your heart’s desire.

nyx-trickster-2

Bentuk lipstiknya ramping dan ujungnya agak kotak. Unik, sih, tapi lipstik ramping kayak gini memang agak ringkih, jadi jangan dikeluarkan terlalu banyak atau dipakai dengan cara ditekan karena bisa patah (and you definitely don’t want that).

Warna Trickster ini dideskripsikan sebagai warna “Bright violet mauve“. Saya suka banget warnanya, karena ini merupakan tipe warna violet yang pas banget untuk kulit saya.

nyx-trickster-on-my-lips

Teksturnya juga lembut banget di bibir, beda dengan lipstik matte yang kadang terkesan “heavy” di bibir. Warnanya juga cukup tahan lama, sekitar 5-6 jam. Setelah makan, biasanya warnanya agak sedikit pudar, namun stain-nya masih tetap ada. Saya beri nilai lipstik ini 8/10.

Oh iya, saya juga coba membandingkan warna lipstik ini dengan beberapa lipstik milik saya. Ternyata warnanya mirip banget dengan lipstik YSL Rouge Pur Couture N°58 Mauve Nihiliste, tapi lipstik YSL ini teksturnya lebih creamy dan sedikit mengilap. Sedangkan MAC Invite Intrigue (warna Limited Edition dari koleksi Blue Nectar) warnanya lebih pink dan Urban Decay Bittersweet warnanya lebih ungu, teksturnya lebih matte, dan lebih pekat.

nyx-comparison-dupe

 

Chanel Rouge Coco Stylo 212 Recit (Review)

Huwoo.. lipstik baru lagi. Entah lagi dapat pencerahan apa tiba-tiba suami membelikan saya ini, hehe. Katanya buat dibikin review di blog. Baiklah kalau begitu, langsung saya tulis, deh.

Perkenalan dulu deh sama koleksi terbarunya Chanel ini. Well, nggak baru-baru amat, sih, karena sebenarnya diluncurkan pada Spring 2016 kemarin. Ah well, masih dalam satu tahun yang sama toh, jadi bisa dianggap baru juga.

Kalau menurut deskripsi di website Chanel, Rouge Coco Stylo ini perpaduan antara lipstik dan perawatan untuk bibir.

chanel-rouge-coco-stylo-212-1

The intensity of a lipstick, the shine of a lipgloss and the comfort of a lip balm — all in one creamy yet lightweight formula. This innovative formula is enriched with nourishing Apple Seed Extract and hydrating Jojoba Oil and Coconut Oil. Silk Powder, Beeswax and special ingredients help visibly smooth, plump and add brilliant 3D shine to the lips. A spectrum of eight irresistible shades features pinks, reds, nudes and corals. In a convenient, twist-up ‘stylo’ form to write your colour signature.

Kalau lipstik matte, saya sudah punya terlalu banyak, jadi lipstik yang glossy dan lembap merupakan sesuatu yang jarang saya gunakan. Namun saat udara dingin sepertinya lipstik dengan kandungan moisturizer kayak gini memang sangat penting.

Ada 8 pilihan warna untuk koleksi Rouge Coco Stylo ini, yaitu:

  • Conte (202): baby pink
  • Article (204): bright warm tangerine
  • Histoire (206): bright coral
  • Roman (208): bright fuchsia pink
  • Recit (212): reddish plum
  • Message (214): warm raspberry pink
  • Lettre (216): soft rose pink
  • Script (218): nude pink-brown

Saya memilih warna Recit, karena melihat bahwa warna itu yang cocok untuk warna kulit saya. Saya juga naksir warna Roman dan Message, tapi takutnya sudah banyak lipstik saya yang warnanya mirip-mirip seperti itu. Lagipula saya pikir warna Recit ini juga akan cocok dipakai saat musim gugur.

chanel-rouge-coco-stylo-212-3

Oke, sekarang saya review soal formulanya. Saat dipulaskan memang terasa ringan, glossy, nyaman di bibir dan melembapkan, tapi warnanya tetap opaque. Karena teksturnya yang bukan matte, makanya lipstik ini cepat pudar. Setelah makan mungkin masih ada stain, tapi setelah beberapa jam kemudian warnanya cepat hilang.

chanel-rouge-coco-stylo-212-4

Selain itu, hati-hati saat memutar lipstik stylo ini, karena teksturnya yang creamy lipstiknya gampang sekali tercungkil atau bahkan patah (hiii.. tragedi banget itu).

Satu hal yang paling saya suka adalah packagingnya yang sleek, mirip seperti bolpen. Memang kalau lipstik high-end selalu menang di kemasan yang mewah. Secara keseluruhan saya beri lipstik ini nilai 8,5/10. 

My Top 10 Fall Lipsticks 2016

Finally… I can talk about fall! Haha.. karena biasanya di Indonesia kan cuma ada dua musim, musim kemarau dan musim hujan. Sedangkan kalau kita mengikuti tren di negara barat yang punya empat musim, kita jadi mengenal tren berdasarkan musim semi, panas, gugur, dan dingin.

Personally, saya suka banget musim gugur alias fall alias autumn. Musim ini udaranya mulai sejuk (nggak panas dan belum terlalu dingin), warna-warna daunnya cantik (mulai dari kuning, oranye, hingga merah kecokelatan, koleksi busananya pun lebih menarik (scarf, boots, dan coat sudah mulai bisa dipakai, nih..).

Nggak cuma warna busana saja yang mengikuti musim, warna lipstik juga. Untuk musim gugur kali ini, ada beberapa  warna lipstik yang menjadi pilihan saya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
My top 10 fall lipsticks 2016
1. Maybelline Creamy Matte Lipstick – Touch of Spice

I love love love this lipstick from Maybelline. I think this one is the best matte formula from Maybelline. Sayangnya, rangkaian koleksi creamy matte ini nggak masuk ke Indonesia dan saya pun harus membelinya secara online.

Touch of Spice merupakan warna rosy plum dengan sedikit unsur warna cokelat yang cantik. Warnanya pas banget untuk sehari-hari dan menurut saya pas banget buat fall (walaupun masih cocok juga sih dipakai saat spring atau summer).

Oh iyaa.. lipstik ini juga tahan lama. It lasts all day (even after heavy eating) and still feels comfortable on my lips. 

2. Essence Matt Matt Matt Lipstick – 03 Wow Effect

Lipstik yang satu ini baru saja saya beli setelah sampai di Wina. Selain suka lihat-lihat counter kosmetik, saya juga suka banget ke drugstore untuk melihat berbagai macam kosmetik drugstore dengan harga terjangkau.

Salah satu merek yang sepertinya cukup oke (kualitas bagus dan harga murah) adalah Essence. Saya memilih rangkaian lipstik matte-nya, yang kayaknya juga belum lama ini diluncurkan. 

Dengan harga di bawah €3, lipstik ini oke banget. Warnanya memang tidak terlalu opaque, tapi saya suka warna mauvy pink ini yang pas banget di bibir saya.

3. MAC Matte Lipstick – Velvet Teddy

Kadang-kadang saya pengen juga pakai lipstik warna nude, jadilah pilihan saya jatuh ke Velvet Teddy ini, salah satu warna lipstik yang jadi favorit di kalangan pencinta lipstik MAC.

Buat mereka yang berkulit putih dengan bibir pucat, pasti warna lipstik yang dideskripsikan sebagai “deep-tone beige” ini bakal terlihat jelas. Tapi di bibir saya yang agak gelap, warnanya jadi beige muda yang sangat pucat. Saya biasanya mengakali dengan memakai lip liner. Pilihan saya antara MAC lip pencil Chiccory atau Whirl, supaya warnanya lebih keluar.

4. MAC Satin Lipstick – Del Rio

Satu lagi lipstik MAC yang menurut saya cocok untuk suasana musim gugur adalah Del Rio. Lipstik ini memiliki perpaduan warna plum dan cokelat, jadi berbeda dengan Retro (yang lebih peach) dan Whirl (yang lebih pink), walaupun ketiganya sama-sama punya unsur warna cokelat.

Del Rio menurut saya lebih gelap dibanding Retro dan Whirl, tapi tetap wearable. Lipstik ini memiliki formula satin yang nyaman di bibir, bahkan menurut saya lebih nyaman dibanding matte dan warnanya sama pekatnya.

5. Ofra Cosmetics Liquid Lipstick – Miami Fever

Ini dia salah satu liquid lipstick favorit saya. Memang, sih, saya tidak pernah membicarakannya di blog ini (karena kebanyakan yang mau ditulis tapi waktunya nggak ada, hiks). Makanya sekalian saja saya tulis di sini review soal Ofra Cosmetics ini.

Tekstur liquid lipstick dari Ofra ini menurut saya adalah yang paling nyaman di antara semua liquid lipstick yang pernah saya coba. Teksturnya kayak mousse dan sama sekali nggak bikin bibir kering, tapi warnanya tahan lama banget!

Saat saya pakai liquid lipstick ini, warnanya nggak hilang bahkan setelah saya makan steak berlumurkan butter dan kentang goreng dan setelahnya saya bersihkan bibir pakai tisu. Mama saya saja sampai bingung, kok lipstik saya masih utuh seperti tak tersentuh (hehe).

Warna Miami Fever ini dideskripsikan sebagai warna burnt terracotta. Warna ini diciptakan berkat kerja sama Ofra bareng Kathleen Lights (seorang YouTuber/Beauty Vlogger yang cukup terkenal). Warnanya memang unik banget dan saya suka karena warnanya mengingatkan saya dengan warna dedaunan di musim gugur.


6. YSL Rouge Pur Couture – 04 Rouge Vermillon

Apakah saya pernah bilang bahwa tekstur lipstik YSL Rouge Pur Couture merupakan yang paling nyaman? Jika belum, saya akan bilang sekarang. Saya memang suka banget dengan lipstik YSL, karena formulanya nyaman, tahan lama, nggak bikin bibir kering, dan pilihan warnanya banyak.

Salah satu lipstik YSL Rouge Pur Couture yang jadi favorit saya adalah warna Rouge Vermillon. Memang sepertinya warna ini jarang dibicarakan, ya nggak seheboh warna Rosy Coral, Le Fuchsia, atau seikonik warna Le Rouge.

Namun menurut saya, warna Rouge Vermillon ini cantik banget. Di bibir saya, warnanya terlihat seperti warna merah raspberry. Warna merah yang nggak ‘ngejreng’, sangat wearable untuk daytime, tapi tetap terkesan bold.

7. Chanel Rouge Allure Velvet – 58 Rouge Vie

Lipstik yang satu ini merupakan bagian dari koleksi Chanel Fall 2016, Le Rouge Collection N°1. Ada beberapa warna lipstik, dari merah oranye hingga cokelat gelap. Pilihan saya jatuh ke warna Rouge Vie, yang dalam website Temptalia dideskripsikan sebagai “muted medium-dark reddened plum”. Namun di bibir saya tidak kelihatan warna plum-nya, yang ada hanya warna merah dengan unsur warna cokelat.

Saya suka dengan Chanel Rouge Allure Velvet, karena teksturnya yang nyaman di bibir. Sayangnya, saya juga punya masalah dengan lipstik ini, karena setelah beberapa jam dipakai bibir akan terasa kering. Jadi perlu ekstra lip balm saat pakai lipstik ini. With that said, I still love this color and I think it’s perfect for fall.

8. Urban Decay x Gwen Stefani – Rock Steady

Saat tahu Urban Decay berkolaborasi dengan Gwen Stefani (salah satu penyanyi favorit saya..and I love her style) saya pun langsung mengontak kakak saya di US untuk membeli lipstik ini (karena waktu itu Urban Decay belum masuk ke Indonesia).

Warna Rock Steady ini menurut saya warna yang paling bagus di antara koleksi UD x Gwen. Warna lipstik ini dideskripsikan sebagai warna “deep wine red” dengan tekstur cream. Bagi pemilik kulit sawo matang atau kecokelatan seperti saya, wajib punya deh warna merah gelap seperti ini. 

Selain itu, tekstur cream-nya juga sangat nyaman. Memang, sih, mudah bleeding alias pas dipakai bisa keluar dari garis bibir dan sangat transferable alias gampang nempel di gelas atau tangan. Tapi tetap saja warnanya sangat sangat tahan lama dan tetap nyaman di bibir.

9. Urban Decay Matte Revolution Lipstick – Afterdark

Another one from Urban Decay, kali ini dari rangkaian lipstik Matte Revolution. Meski matte, tekstur lipstik ini sangat nyaman di bibir. Saya suka banget warna ini yang memiliki percampuran warna dark purple and pink berry.

Maaf kalau di foto swatch di bawah, warnanya jadi tidak kelihatan jelas. Tapi saya sudah pernah me-review lipstik Matte Revolution ini, jadi bisa lihat lebih jelas warna lipstiknya saat dipulaskan di bibir saya.

10. Lancome L’absolu Rouge Definition – 393 Le Prune

Fall kurang lengkap tanpa vampy lipstick.  Well, sebenarnya warna Le Prune ini nggak vampy banget, sih, tapi paling gelap di antara semuanya.

Buat yang pengen mencoba lipstik warna gelap, tapi nggak mau terlalu gelap nyaris hitam bisa mencoba warna plum gelap dari Lancome ini. Saya juga pernah membuat review tentang koleksi Lancome L’absolu Rouge Definition ini kalau mau tahu lebih banyak tentang tekstur dan formulanya.


Okay… I think that’s all. Hope you all enjoy reading this. And tell me, what’s your favorite lipstick for fall?

xoxo