Spending Weekend at Tiergarten Schönbrunn, The Oldest Zoo in the World

Menghabiskan akhir pekan di Wina beda banget dengan di Jakarta. Biasanya di Jakarta, tujuan jalan-jalan saat weekend paling cuma ke mall dan mall. Nah, di Wina kalau Sabtu, mall dan toko-toko tutup jam 6 sore, termasuk juga supermarket (nggak seru banget!). Sedangkan Minggu, semuanya tutup (kecuali restoran dan kafe).

Untungnya, di Wina masih banyak hiburan lainnya saat weekend, seperti taman, museum, dan kebun binatang. Sudah sejak lama saya memang meniatkan diri untuk mengajak Alanna ke kebun binatang di sini saat Summer.

Nah, pas banget kemarin udaranya lagi enak. Seminggu sebelumnya sempat panas banget, habis itu mendadak hujan terus-terusan. Saat hari Minggu kemarin, cuacanya cerah tapi anginnya dingin. Suhunya juga berkisar antara 22-24 derajat Celsius, jadi pas banget deh buat jalan-jalan outdoor.

Tiergarten Schönbrunn (kalau diterjemahkan jadi Kebun Binatang Schönbrunn) merupakan kebun binatang tertua di dunia. Kebun binatang ini dibuka pada tahun 1752 dan awalnya menjadi tempat menyimpan koleksi binatang eksotis milik Raja Austria. Makanya letak kebun binatang ini pun berdekatan dengan kompleks Istana Schönbrunn (yang meski berdekatan kalau jalan rasanya jauh juga.. hehe.. karena memang besar banget).

schonbrunn zoo-bluestellar (5)
Wefie dengan latar belakang llama.. tapi itu kok llamanya ada yang pingsan? 😀

Dulunya, kebun binatang ini bermula dari Central Pavilion, sebuah paviliun yang dibuat untuk para anggota kerajaan sarapan. Sekarang, Central Pavilion itu menjadi salah satu restoran di kebun binatang ini.

Harga masuk ke Tiergarten Schönbrunn ini €18.50 untuk dewasa, €9 untuk anak-anak, dan gratis untuk anak-anak di bawah usia 6 tahun. Bisa juga membeli tiket tahunan seharga €49, jadi bisa sepuasnya deh selama setahun keluar masuk ke situ.

schonbrunn zoo-bluestellar (10)
Central Pavilion yang sekarang jadi restoran

Kebun binatang ini sangat nyaman untuk orangtua yang membawa anak-anak dengan stroller. Selain itu, penataan setiap kandang binatangnya pun rapi. Meski ramai, sama sekali nggak merasa berdesak-desakan dan jalan-jalan pun terasa santai.

Jika capek, restoran dan kios-kios makanan hampir ada di setiap sudut. Ada juga playground khusus buat anak-anak dengan beragam permainan, seperti ayunan dan perosotan. Di sana, anak-anak juga bisa menaiki kuda poni atau bermain-main dengan anak kambing (lucu banget..).

schonbrunn zoo-bluestellar (1)schonbrunn zoo-bluestellar (2)schonbrunn zoo-bluestellar (6)schonbrunn zoo-bluestellar (7)schonbrunn zoo-bluestellar (8)

Selain binatang-binatang seperti gajah, jerapah, badak, singa, dan macan, ada juga lokasi khusus rainforest yang kalau masuk ke dalamnya rasanya persis seperti di negara tropis, panas dan lembap.

Ada juga binatang seperti pinguin dan beruang kutub di bagian khusus binatang-binatang dari wilayah kutub. Sementara atraksi utama kebun binatang tersebut saat ini adalah dua panda kembar yang baru saja lahir pada Agustus tahun lalu, Fu Feng dan Fu Ban. Anak panda kembar pertama yang lahir di kebun binatang Schönbrunn.

Oh iya, ada juga waktu-waktu khusus saat si binatang diberi makan. Jadwalnya ada di peta yang bisa didapatkan di bagian informasi dan tiap binatang punya jadwal yang berbeda.

Pada dasarnya saya memang suka ke kebun binatang, jadi menghabiskan akhir pekan di sini terasa menyenangkan. Apalagi Alanna juga terlihat excited melihat binatang-binatang (meski pinguin dia bilang bebek.. haha). Dia juga suka lihat gajah yang besar, jerapah yang lehernya panjang dan tinggi, serta kawanan flamingo warna pink (yang dia panggil ming-go).

schonbrunn zoo-bluestellar (3)schonbrunn zoo-bluestellar (9)

Sayangnya saat ke kebun binatang kemarin, saya baru sampai di sana jam 1 siang. Enaknya, sih, dari pagi jam 10 sudah di sana supaya jalan-jalannya lebih santai dan semua tempat dikunjungi. Saya tidak sempat ke bagian serigala dan kucing linx yang agak jauh, karena kebun binatang tersebut tutup jam 6 sore. Kalau ke sana saat winter, tutupnya lebih cepat, yaitu jam 5 sore.

Segitu dulu ya, cerita dari saya.. Semoga seterusnya bisa cerita lebih banyak tentang Wina. Masih ada waktu dua tahun lagi untuk mengenal lebih banyak soal kota yang satu ini.

My Current Skincare Routine

Sudah sejak lama sebenarnya saya mau sharing seputar produk perawatan kulit yang saya pakai. Dulu, saya nggak pernah mau gonta-ganti produk. Setia banget sama 3-step skincare dari Clinique. Namun sejak di Wina, saya jadi penasaran mencoba berbagai macam produk, mulai dari produk drugstore hingga yang high-end (alias agak mahal).

Oke, langsung saja ya, saya cerita beberapa produk perawatan kulit (khususnya wajah) yang sedang saya pakai saat ini.

skincare routine andhina (1)

Neutrogena Hydro Boost Cleanser Water Gel

Pertama kali sampai di Wina akhir Agustus 2016 lalu, saya langsung membeli produk pembersih wajah Neutrogena (tapi beda jenis dengan yang ini.. namanya saya lupa). Saya sudah tahu soal brand Neutrogena ini memang punya banyak macam-macam produk perawatan kulit yang berkualitas, meski dijual di drugstore. Jangan salah, drugstore itu memang gudangnya macam-macam perawatan kulit yang bagus dengan harga terjangkau.

Nah, setelah pembersih itu habis, saya beli produk terbaru Neutrogena yang ini, deh, dari seri Hydro Boost yang katanya cocok untuk kulit kering. Karena kulit saya cenderung kering dan saya ingin mencari pembersih yang nggak bikin kulit terasa makin kering, saya pilih Hydro Boost Cleanser Water Gel ini.

What I love about this product adalah… kulit saya terasa bersih sesudah memakainya, tapi nggak terkesan kesat atau kulit terasa ditarik. Benar-benar nyaman dipakainya dan tidak menimbulkan iritasi. Saya biasanya hanya menggunakan sedikit saja (satu kali pump) dan itu sudah cukup untuk membersihkan wajah serta bagian leher.

Clinique Pep-start Hydrorush Moisturizer SPF 20

Saya memilih pelembap yang satu ini, karena memiliki kandungan SPF 20. Saat Summer seperti sekarang ini, Wina memang panas banget dan matahari juga cukup terik. Karena saya malas memakai moisturizer dan sunscreen secara terpisah, saya lebih memilih moisturizer yang mengandung SPF seperti punya Clinique ini.

Janjinya, moisturizer ini menjaga kelembapan kulit sepanjang hari. Memang, sih, saya merasa kulit saya tetap lembap dan saya juga nyaman memakainya. Tidak ada masalah iritasi atau jerawat. Jadi buat mereka yang suka pelembap yang praktis, saya sarankan pakai Clinique Pep-start Hydrorush ini. Sebenarnya ada beberapa jenis produk dari rangkaian Clinique Pep-start, termasuk pembersih dan primer. Namun bagi saya, produk yang menarik perhatian hanya si moisturizer ini.

Lancome Hydra Zen Nuit

Pakai pelembap di siang hari saja nggak cukup. Saat malam hari, ketika tubuh beristirahat dan kulit berregenerasi, kita juga perlu krim malam. Sebenarnya saya sudah lama memakai krim malam dari Lancome ini. Bahkan krim ini sangat membantu kulit saya sepanjang Winter kemarin (di mana kulit terasa sangat kering).

Saya suka banget efek dingin saat memakai krim ini dan sangat melembapkan tanpa membuat kulit terlihat berminyak. Saat pagi hari, kulit terasa lebih segar dan tetap lembap. Sayangnya, krim ini sudah hampir habis (hiks). Mungkin saya akan membelinya lagi nanti, tapi setelah habis saya ingin coba produk krim malam lainnya dulu.

L’Occitane Immortelle Precious Serum

Di usia kepala 3 seperti saya, kayaknya penting banget masukin serum ke dalam rangkaian perawatan kulit sehari-hari. Masalah kulit saya semakin banyak saja, sepertinya, mulai dari garis keriput tipis, noda hitam di pipi, warna nggak merata, dan kering.

Saya pilih serum ini karena punya kandungan anti-aging yang sudah dipatenkan, yaitu ekstrak bunga Immortelle, yang dikenal sebagai bunga yang kekal, bahkan setelah dikeringkan warna dan bentuknya tetap sama. Minyak yang diekstrak dari bunga tersebut juga katanya memiliki kandungan anti-radikal bebas dan anti-kerut.

Saya suka dengan serum ini yang mudah banget meresap ke dalam kulit dan membuat kulit terasa lebih lembap. Sayangnya, baru sekitar beberapa bulan memakainya, Alanna menumpahkan hampir semua isi serum tersebut (huhuhu). Jadi sekarang sedang saya hemat-hemat pemakaiannya, sampai saya membeli serum yang baru.

Origins Ginzing Refreshing Eye Cream

Masalah lingkaran hitam pada mata kayaknya hampir dimiliki semua orang, termasuk saya. Makanya, saya juga memasukkan produk krim mata ke dalam perawatan kulit sehari-hari saya.

Saat Winter kemarin, kulit di area mata saya sempat terasa kering dan perih. Mungkin karena setiap habis cuci muka, saya selalu melewatkan pemberian pelembap di area mata. Saya sempat coba beberapa produk krim mata, tapi akhirnya malah terasa perih. Akhirnya, saya menemukan salah satu remedy paling pas, yaitu Vaseline Petroleum Jelly, yang saya oleskan tipis-tipis di area mata. Setelah rasa perihnya hilang, saya pakai krim mata dari Biotherm yang punya efek mendinginkan.

Setelah krim dari Biotherm itu habis, saya beralih ke krim mata milik Origins ini. Saya tertarik karena krim ini menawarkan efek mencerahkan dan mengempiskan kantung mata. Kandungannya terdiri dari Panax Ginseng dan Ekstrak Magnolia untuk menyegarkan bagian mata sekaligus mengurangi kesan mata lelah.

Selain itu, krim ini juga tidak mengandung Paraben, Phthalate, Propylene Glycol, Mineral Oil, Pewangi Sintetis, Paraffin, dan kandungan lainnya yang berbahaya.

Untuk memakainya, saya hanya perlu sedikit saja untuk disapukan di bagian bawah dan atas mata. So far, saya menyukainya karena nyaman dipakai dan mata saya terasa terjaga kelembapannya. Nggak ada lagi, deh, kulit mata kering dan iritasi.

L’Oreal Detox Pure Clay Mask

Terakhir, adalah produk masker yang biasanya saya pakai setiap 2-3 hari sekali (kalau tidak lupa, hehe..). Masker yang terbuat dari Pure Clay dan Charcoal ini katanya bisa mendetoksifikasi kulit, membuatnya tampak lebih cerah, mengangkat kotoran dari pori-pori kulit, dan memperbaiki warna kulit wajah agar lebih merata.

Saya memang suka hasilnya setiap kali memakai masker ini. Cukup dengan 10 menit saja, wajah saya terasa lebih bersih dan segar. Masker ini juga terasa nyaman di kulit, karena kadang ada beberapa masker yang justru membuat kulit terasa perih atau iritasi. Nilai plusnya lagi, masker ini harganya cukup terjangkau karena dijual di drugstore.

Sekian sharing saya seputar produk perawatan kulit. Jika perawatan yang ini sudah habis semua, saya akan lanjut hunting produk perawatan kulit lainnya. Menurut saya, nggak usah takut untuk mencoba beberapa produk perawatan kulit, karena kita harus menyesuaikan kondisi kulit dengan produk yang kita pakai. Saat kulit terasa kering, cari produk dengan ekstra pelembap. Begitupula saat kulit sedang berjerawat, saya lebih memilih produk perawatan bebas minyak.

Jika ada yang mau sharing seputar produk yang dipakai, silakan tulis di kolom comment yaa.. terima kasih 😀

 

 

Rouge Dior Lipstick Review: Classic Matte & Mysterious Matte

Halo.. sepertinya sudah lama saya tidak mengulas seputar lipstik. Masih banyak lipstik yang ingin saya review, tapi kadang-kadang belum mood untuk menulis atau tidak sempat (kayak sibuk aja, hehe..).

Kali ini saya akan mengulas lipstik matte keluaran Dior. Sama seperti Chanel, YSL, dan sebagainya, merek yang satu ini memang tergolong high-end. Kosmetik Dior dan produk kecantikannya juga sebenarnya sudah ada sejak lama.

rouge dior lipstick (7)

Saya masih ingat dulu waktu saya masih kecil, ibu saya sering memakai kosmetik keluaran merek tersebut. Tapi kemudian namanya seperti meredup (atau mungkin di Jakarta saja yang tidak ada ya, I don’t know). Begitu kosmetik (khususnya lipstik menjadi makin tren), muncul lagi deh koleksi Dior dan tentu produknya pun lebih beragam.

Waktu di Jakarta, saya nggak begitu tertarik untuk membeli lipstik Dior. Alasannya, tentu karena mahal dan saya merasa pilihan warnanya kurang menarik (beda dengan YSL yang sepertinya punya pilihan warna lipstik yang berbeda). Tapi begitu di Wina, saya memiliki “privilege” untuk membeli lipstik ini dengan harga miring di bawah harga retail (tenang saja, barangnya asli, kok, bukan KW or replika).

Jadilah saya membeli dua lipstik jenis matte dari Dior ini. Kenapa jenis matte? Karena memang saya paling suka lipstik jenis matte dibanding jenis creamy apalagi glossy. Alasan kedua, karena ketika saya beli, produk tersebut tergolong baru.

Ada dua warna yang menjadi pilihan saya, yaitu No. 772 Classic Matte dan No. 897 Mysterious Matte.

Classic Matte merupakan warna “rosy pink” yang natural. Ini merupakan warna universal yang menurut saya bisa dipakai oleh siapa saja, apa pun warna kulit mereka. Saya pun sudah beberapa kali merekomendasikan warna lipstik ini ke beberapa teman saya.. and they all love it! Ada teman saya merasa warna lipstik ini lebih ke cokelat, namun di bibir saya warnanya lebih cenderung pink.

rouge dior lipstick classic matte
Rouge Dior Lipstick No. 772 Classic Matte

Mysterious Matte merupakan warna “berry pink” yang juga cocok untuk siapa saja. Bagi saya yang memiliki warna kecokelatan, warna ini membuat penampilan wajah saya lebih segar (karena saya nggak suka dengan lipstik yang justru membuat wajah saya tampak kusam).

rouge dior lipstick mysterious matte
Rouge Dior Lipstick No. 897 Mysterios Matte

Untuk formulanya, saya lebih suka formula lipstik Dior ini ketimbang Chanel, yang menurut saya setelah dipakai beberapa lama akan terasa kering. Lipstik matte Dior ini memiliki tekstur matte yang nyaman dan nggak bikin bibir kering. Warnanya pun cukup tahan lama, sekitar 5-6 jam warnanya masih melekat di bibir.

Jika dilihat dari packaging-nya, menurut saya koleksi Rouge Dior Lipstick ini cenderung biasa, jika dibandingkan dengan lipstik high-end lainnya. But then again, yang penting kan isinya bukan cuma kemasannya.

Secara keseluruhan saya beri nilai lipstik ini: 9/10.

(PS: Di foto swatch lipstik ini saya memberi watermark @bluestellar_ yang merupakan akun Instagram baru saya, yang isinya tentang lipstik, lipstik, dan lipstik 😀 akun ini sekaligus jadi pengingat buat saya, kalau saya sudah punya beberapa lipstik dengan warna serupa dan mungkin bisa menjadi referensi buat siapa saja yang mau beli lipstik warna tertentu. Silakan dicek jika tertarik).

Euro Trip 2017: Prague, The Fairy Tale City

Oke, sampailah saya di akhir perjalanan keliling beberapa negara Eropa tahun ini. Destinasi terakhir kami adalah Praha alias Prague, Ibu Kota Republik Ceko. Praha ini memang terkenal sebagai kota wisata yang dihiasi gedung-gedung kuno dan antik. Belum lagi patung-patung kuno yang memiliki makna sejarah tersendiri.

Kota ini juga dikenal dengan sebutan “The city of thousand spires” alias kota dengan ribuan menara, karena memang di kota ini terdapat banyak bangunan-bangunan yang menjulang tinggi.

Sayangnya, saya hanya sempat menginap semalam di kota ini dan hanya sempat berjalan-jalan sebentar saja di kota tuanya. Beberapa tempat yang menarik di Praha ini antara lain, Astronomical Clock, jam yang dibuat pada abad pertengahan ini begitu rumit, karena menggambarkan pergerakan matahari dan bulan, serta tanggal, jam, hingga zodiak (haha, saya juga nggak bisa bacanya, sih..). Ada juga Charles Bridge yang melintas di atas Sungai Vltava, yang dihiasi 30 patung santo.

Praha ini juga dikenal sebagai “Fairy tale city”, karena setiap landmark di kota ini punya cerita dongeng atau legenda atau mitos (yang tentu saja bisa dipercaya, bisa juga tidak). Soal Astronomical Clock, misalnya, saking hebatnya jam tersebut, pemerintah setempat tidak menginginkan ada negara lain yang memiliki jam serupa. Sehingga atas perintah dewan kota Praha, si pembuat jam terpaksa dibutakan matanya agar dia tidak bisa membuat ulang jam tersebut. Si pembuat jam pun kesal dan dia merusak jam tersebut hingga tak bisa digunakan lebih dari satu abad lamanya.

Lalu ada pula cerita dongeng tentang pembuatan Charles Bridge, yang kerap mengalami kerusakan. Bangunannya sering roboh dan akhirnya sang arsitek meminta bantuan pada “iblis” untuk membantunya membuat jembatan tersebut. Si iblis memenuhi permintaan arsitek dengan syarat, dia meminta tumbal orang pertama yang melintasi jembatan tersebut. Si arsitek mencoba untuk mengakali iblis dengan membawa seekor ayam dan berusaha menyuruh ayam itu untuk melintasi jembatan. Tahu akan diakali oleh arsitek, iblis pun pergi ke rumah arsitek dan mengatakan pada istri arsitek kalau dirinya ditunggu oleh suaminya di jembatan tersebut. Ketika arsitek sampai di jembatan, dia baru sadar kalau istrinya sudah melintasi jembatan itu dan dia pun menjadi tumbal untuk si iblis. (hii.. serem ya).

Nah, legenda lainnya (yang katanya fakta, sih) adalah kisah tentang Holy Roman Emperor Charles IV, yang sangat percaya akan numerologi. Saat Charles Bridge ini akan dibangun, dia berkonsultasi dulu pada ahli numerologi untuk mencari tanggal baik. Jembatan itu mulai dibangun pada tahun 1357, hari ke-9 dari bulan ke-7, pada pukul 5:31 pagi. Raja Charles pula yang meletakkan batu pertama dari jembatan tersebut.

Cerita lainnya mengisahkan tentang salah satu patung yang terdapat di Charles Bridge, yaitu Jan of Nepomuk (Santo John), patung santo yang di atas kepalanya dihiasi lingkaran dengan lima bintang. Legenda menceritakan tentang Wenceslas IV, putra dari Raja Charles, yang dikenal sebagai pria menyebalkan. Wenceslas meminta Jan, yang merupakan seorang pastor, untuk menceritakan rahasia apa yang diceritakan Ratu pada Jan. Namun Jan menolak dan akibatnya lidah Jan malah dipotong (ew!). Jan pun diikat dan dimasukkan ke dalam karung, lalu dibuang ke sungai dari atas Charles Bridge. Meski arus sungai cukup deras kala itu, tubuh Jan tetap mengambang di tempat yang sama selama beberapa hari. Begitu tubuhnya tenggelam, tampak lingkaran dengan lima bintang di atas air. Sekarang, Jan malah menjadi salah satu patung santo pelindung di Charles Bridge.

Saya sendiri memang suka banget dengan cerita dongeng dan mitos seperti ini. Jadi penasaran pengen tahu lebih banyak soal dongeng-dongeng di Kota Praha. I definitely gonna go back here again. Waktu saya ke sana, saya tidak sempat menjelajahi Charles Bridge, karena baru sampai beberapa meter ke tengah, hujan turun dengan deras (huhu).

Begitulah cerita jalan-jalan saya keliling beberapa negara Eropa yang diakhiri dengan “saya masih belum puas” haha.. Sepertinya yang namanya liburan memang suka begitu ya, apalagi kalau liburannya seperti saya ini yang nggak pakai itinerary yang jelas, akibatnya banyak waktu yang kebuang karena bingung mau ke mana.

Ah well, setidaknya saya sempat mendatangi beberapa tempat yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Semoga nanti bisa jalan-jalan lagi (sebelum saya kembali ke Indonesia tahun 2019) dan bisa share ceritanya di sini. Cheers!

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Astronomical Clock
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Saint Ivo, salah satu patung santo di Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kota Praha yang dihiasi gedung-gedung kuno
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cuma punya satu foto langit Praha yang cerah, selebihnya mendung.. hiks
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava dan Charles Bridge
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sungai Vltava

(All pictures taken by me)

Euro Trip 2017: Short Time in Hamburg and Berlin

Perjalanan kami pun dilanjutkan menuju Jerman, tepatnya ke Kota Hamburg. Mengapa kami ke sini? Alasannya, karena ayah ibu mertua saya dan Yudo ingin bernostalgia, begitupula salah satu bude Yudo yang dulu pernah tinggal di kota tersebut.

Yudo pun akhirnya menyusul kami di Kota Hamburg, karena waktu itu memasuki long weekend menjelang Paskah. Di Hamburg, kami napak tilas ke rumah yang pernah ditempati oleh Yudo sekeluarga. Kami bahkan secara tak sengaja bertemu dengan tetangga-tetangga Yudo dulu yang ternyata masih tinggal di situ. Tadinya kami pikir tak ada orang di rumah, karena tentunya banyak orang yang memilih menghabiskan long weekend di luar kota.

Setelah mengobrol-ngobrol sebentar, kami pun lantas ke KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Hamburg, tempat mama Yudo merasakan penempatan pertama. Yup, being a diplomat runs in Yudo’s family, hehe. Ada pula beberapa orang staf yang masih bekerja, bahkan setelah 20 tahun berlalu–wow.

Tidak banyak tempat yang kami kunjungi, at least bukan rempat yang menjadi destinasi wisata, karena memang tujuan kami ke sini sekadar untuk nostalgia dan bertemu teman lama. Saat di KJRI, saya dan Yudo sempat ‘ngabur’ sejenak mencari kebab, dan kami menemukan kebab enak banget tak jauh dari situ.

Selama di Austria saja, saya belum pernah menemukan kebab yang benar-benar enak, tapi yang ini enak banget, apalagi rotinya yang crispy melengkapi daging yang gurih. Saking besar ukurannya, kebab ini bahkan saya makan untuk makan siang dan makan malam. Sayangnya, saya lupa nama kebabnya (sorry), yang pasti letaknya nggak jauh dari KJRI Hamburg (siapa tahu ada yang penasaran..hehe).

Kami juga sempat berjalan-jalan ke Jungfernstieg, yang juga menjadi salah satu tempat yang dikunjungi para turis. Kayaknya, sih, tempat ini juga menjadi tempat nongkrong buat anak-anak muda. Bisa duduk-duduk di pinggir danau sambil menikmati kopi atau es krim. Kalau Alanna, sih, senang banget, karena banyak bebek dan angsa.. haha. Sayangnya, saat kami ke sana cuacanya lagi gloomy banget, mendung, dan akhirnya hujan pun turun. Kami hanya menginap semalam di Hamburg dan langsung melanjutkan perjalanan ke Berlin.

Di Berlin, tempat yang kami tuju tentu saja tembok berlin. Namun kami hanya melihat dari dalam mobil, karena lagi-lagi cuaca nggak bersahabat dan hujan turun cukup deras. Kami juga sempat ke Checkpoint Charlie, salah satu destinasi turis saat ke sini. Kita jadi belajar sejarah mengenai Berlin Barat dan Berlin Timur. Bagaimana dulu kota ini terbelah menjadi dua bagian, di mana Berlin Barat (katanya) hidup enak dan Berlin Timur dikuasai komunis.

Checkpoint Charlie ini merupakan perbatasan dari wilayah Berlin Barat yang dikuasai Amerika Serikat (ada juga sektor lainnya, yaitu Inggris dan Prancis) dengan Berlin Timur yang dikuasai Uni Sovyet. Nggak enaknya, suasana di Checkpoint Charlie ini ramai banget. Mau foto pun susah. Kalau mau foto sama tentara-tentaraan saja harus bayar. Sudah begitu, fotonya masa berlatar belakang McDonald’s.. padahal ini kan tempat bersejarah.

Selain Checkpoint Charlie, tempat lainnya yang juga menjadi destinasi para turis adalah Brandenburger Tor atau Brandenburg Gate. Monumen neoklasikal dari abad ke-18 ini merupakan gerbang yang menandai awal jalan dari Kota Berlin menuju Kota Brandenburg.

Kami juga cuma semalam menginap di Berlin, karena perjalanan panjang mengelilingi beberapa Kota Eropa selama kurang lebih 16 hari ini akan segera berakhir. Keesokannya, kami pun melanjutkan perjalanan menuju kota terakhir yang akan kami kunjungi, yaitu Praha di Republik Ceko.

Berikut ini sedikit foto-foto di Hamburg dan Berlin.

hamburg-2017 (1)
Di halaman belakang KJRI Hamburg
hamburg-2017 (2)
Ada yang senang lihat bebek 😀
hamburg-2017 (3)
Dingin-dingin makan es krim, hehe
hamburg-2017 (4)
Jungfernstieg, Hamburg
hamburg-2017 (5)
Yudo lagi nostalgia di KJRI Hamburg
berlin (2)
Checkpoint Charlie
berlin (3)
Foto dengan latar belakang McDonald’s di Checkpoint Charlie 😀
berlin (1)
Berlin Barat dan Berlin Timur

Next destination: Prague, Czech Republic.

Euro Trip 2017: Tulip Season in Keukenhof

Selesai dari Paris, kami pun melanjutkan perjalanan ke Negara Kincir Angin alias Belanda. Tujuan kami cuma satu, melihat tulip-tulip yang sedang bermekaran di Keukenhof.

Awalnya, kami kesulitan mencari penginapan yang masuk bujet, karena saat musim tulip hampir semua hotel di Belanda penuh atau harganya mahal banget. Kami pun akhirnya menginap di budget hotel di Den Haag, yang jaraknya sekitar 40 menit dari kota Lisse, tempat di mana taman Keukenhof berada.

Saya juga pernah ke sini dua tahun lalu, tapi karena saya dan Yudo datang di akhir bulan Maret, cuacanya masih sangat dingin, angin kencang, dan sering hujan. Selain itu, masih banyak bunga tulip yang belum mekar. Waktu terbaik untuk menikmati musim tulip ini memang pada pertengahan bulan April.

Jika tertarik ke sini, jangan lupa untuk merencanakan sejak jauh hari, terutama untuk booking hotel. Sedangkan untuk tiket masuk Keukenhof, selain bisa dibeli secara online, kita juga bisa beli secara langsung dan antreannya pun nggak terlalu panjang karena loketnya banyak.

Benar saja, begitu sampai di Keukenhof, deretan mobil dan bus turis tampak memadati sepanjang jalan menuju taman bunga tersebut. Di dalamnya pun sangat ramai, tapi tetap nyaman, karena kita masih bisa berjalan-jalan santai dan berfoto-foto (nggak sampai berdesak-desakan kayak di Dufan kalau lagi hari libur.. hehe).

Berbagai macam tulip tampak bermekaran. Warnanya macam-macam, jenisnya macam-macam, sampai saya bingung mau foto yang mana (kamera saya pun dipenuhi foto bunga!). Memang cantik-cantik banget, sih, bunganya. Susunannya pun menarik dengan mengombinasikan warna-warna kontras. Untungnya lagi, hari itu juga cukup cerah. Memang, sih, kadang ada awan mendung yang datang, tapi nggak sampai hujan deras. Puas, deh, jalan-jalan di sini.

Keesokan harinya, kami ke Volendam, yang dikenal sebagai desa nelayan, karena letaknya yang dekat dengan laut. Nah, di Volendam inilah tempat orang-orang (turis) berfoto memakai baju adat daerah tersebut.

Saya juga sudah pernah berfoto bareng Yudo dua tahun lalu, jadi tahun ini saya malas foto lagi. Kalau ke sini, ada beberapa studio foto yang menawarkan jasa tersebut, tinggal pilih saja paketnya yang mana. Biasanya tergantung jumlah dan besar foto yang akan dicetak. Jangan heran juga kalau menemukan sejumlah foto selebriti dan tokoh politik Indonesia digantung di etalase studio-studio foto tersebut. Mungkin karena orang Indonesia sering banget ke sini kali ya…

Tujuan saya ke Volendam sebenarnya cuma satu, yaitu makan poffertjes (haha). Saya ingat banget waktu ke sini dua tahun lalu, saya sedang mual-mualnya, tapi tetap semangat makan poffertjes. Sekarang, kan, sudah nggak mual lagi, jadi terasa enaknya dua kali lipat 😀

Di Volendam ini, karena dikenal sebagai desa nelayan, maka restorannya pun menawarkan aneka menu seafood yang enak. Jadi jangan sampai nggak mencoba calamary, ikan, udang, dan makanan seafood lainnya kalau di sini.

Oh ya, saya juga nggak punya foto-foto selama di Volendam, karena saat ke sana cuaca lagi nggak bersahabat banget. Hujan sepanjang saya di sana, jadilah saya ngumpet terus di bawah payung. Sambil dorong stroller, sambil bawa payung, jadi susah mau foto-foto.

Foto-foto yang sempat saya ambil selama di Belanda, ya hanya di Keukenhof. Siap-siap saja di bawah ini bakal banyak foto tulip. Enjoy! 😀

andhinalannakeukenhof

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(all photos taken by me, except when I’m in it)

Next destination: Hamburg, Germany.

Euro Trip 2017: Sunny Day in Paris

Dari Lucerne, kami pun melanjuti perjalanan menuju Paris, Prancis–Yeay! I love this city, walaupun cara menyetir orang-orang di sini kacau dan kotanya tidak sebersih kota-kota lainnya di Eropa, seperti kota-kota di Swiss yang bersih banget. Nggak tahu, ya, sejak belum pernah ke sini saja, Paris selalu menjadi kota impian yang ingin banget saya datangi.

Saya memang pernah ke Paris dua tahun lalu, tapi tetap rasanya nggak puas. Tahun ini, rasanya lebih spesial, karena saya pergi bersama Alanna, yang dua tahun lalu masih di dalam perut. Untungnya, saat kami berjalan-jalan di pusat kota Paris, cuaca sangat bersahabat, cerah-ceria, dengan sedikit angin sejuk. Saya pun melepas jaket tebal yang saya pakai selama di Lucerne hari sebelumnya.

Tujuan pertama kami, tentu saja Menara Eiffel. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dari berbagai sudut (haha.. namanya juga turis). Setelahnya, saya ingin banget berjalan-jalan di Champs-Elysees, sementara ibu mertua dan bude-bude ingin menaiki bus tur hop-on/hop-off yang keliling kota.

Setelah menemukan bus tur yang harganya lagi diskon, kami pun berkeliling menggunakan bus tersebut dan turun di Champs-Elysees. Tujuan saya cuma satu, SEPHORA! Haha, namanya juga pencinta lipstik sejati, saya pastinya menggila banget di sini, dan Sephora kan brand asal Prancis, sudah pasti koleksi brand-brand kosmetiknya lengkap banget (dan karena di Austria tidak ada Sephora, hiks). Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan lagi jalan-jalan di sekitar tempat tersebut.

Namun, kami nggak sadar kalau ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, padahal hari masih terang! Kami mencoba mencari bus tur yang kami naiki, tapi kok tidak ada. Saya membaca di brosurnya, ternyata last departure mereka adalah jam 5 sore..Oh no!

Kami akhirnya berjalan dari Champs-Elysees ke Plaza de la Concorde, karena tadi sempat melihat beberapa bus tur yang berhenti di situ. Kami pun menemukan si bus merah, yang merupakan bus tur kami, tapi ternyata mereka tidak akan kembali ke Menara Eiffel (tempat kami memarkir mobil). Jadilah, kami memutuskan untuk jalan dari Plaza de la Concorde ke parkiran di Menara Eiffel (which is jauh banget.. haha).

Namun ada untungnya juga, sih, berjalan kaki sejauh itu, karena kami jadi melihat sisi lain Paris. Selain itu, berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine menjelang sunset ternyata indah banget. Apalagi cuacanya sejuk, sehingga kami pun tidak merasa lelah.

Setidaknya, hal ini bisa jadi pelajaran. Pertama, sebaiknya pilih bus tur yang lebih mahal sedikit tapi armadanya lebih banyak, seperti Big Bus Paris atau L’Open Tour Paris. Kami memilih bus tur yang satunya lagi dan tampaknya armadanya lebih sedikit. Kedua, perhatikan jam saat menaiki bus tur. Tampaknya kami dapat harga lebih murah, karena kami baru menaiki bus tur tersebut menjelang jam dua siang (jelas saja jadi lebih murah). Kalau memang ingin menaiki bus hop-on/hop-off, sebaiknya mulai sejak pagi hari.

Keesokannya, kami pergi menuju Istana Versailles. Hari itu panas banget, matahari sangat terik, dan tidak ada awan sama sekali. Antrean untuk masuk ke Versailles pun mengular, jadinya kami juga malas untuk masuk ke dalam. Selebihnya, kami malah menghabiskan waktu di outlet tak jauh dari Versailles (yang sebenarnya bukan outlet yang oke, ah well.. saya, kan, cuma nebeng jalan-jalan).

Kalau boleh memilih, saya masih tetap ingin berjalan-jalan di Kota Paris. Saya juga masih penasaran dengan isi Museum Louvre. Jadi, selama saya masih tinggal di kawasan Eropa hingga 2019 nanti, saya berharap bisa kembali lagi ke Paris. Masih penasaran dan belum bosan balik lagi ke sana.. hehe.

Oh iya, Kota Paris ini memang cantik banget, tapi kita tetap harus berhati-hati. Soalnya seminggu setelah saya dari sini, terjadi lagi penembakan. Di Kota ini memang pernah terjadi beberapa kali aksi teror, seperti penembakan di kantor Charlie Hebdo dan penembakan massal saat konser metal pada 2015 lalu. Nah, penembakan yang baru-baru ini, terjadi di Champs-Elysees, deretan pertokoan yang ramai dikunjungi para turis.

Selain itu, jika diperhatikan, di pinggir-pinggir Kota Paris juga terlihat rumah-rumah kardus yang ditempati para migran dari Suriah. Miris, sih, melihatnya. Di satu sisi, Kota Paris jadi terlihat berantakan, di sisi lain sedih banget melihat kehidupan mereka yang tentunya jauh dari layak. Semoga masalah migran ini bisa diselesaikan. Saya, sih, nggak bisa banyak omong (siapa saya?), cuma bisa berharap yang terbaik bagi mereka.

Ini sedikit foto-foto saya selama di Paris.

alannaeiffel
Alanna in Paris
arc de triomphe
Arc de Triomphe
eiffel1
Selfie di depan Menara Eiffel
eiffel2
Yes.. another picture in front of the Eiffel Tower
paris1
Obelisk yang terletak di belakang Plaza de la Concorde
paris2
Sunset di Paris
paris3
Satu lagi foto sunset
seine
Sunset di pinggiran Sungai Seine

(All photos taken by me.. except when I’m in it :D)

Next destination: Netherlands.