Euro Trip 2017: Tulip Season in Keukenhof

Selesai dari Paris, kami pun melanjutkan perjalanan ke Negara Kincir Angin alias Belanda. Tujuan kami cuma satu, melihat tulip-tulip yang sedang bermekaran di Keukenhof.

Awalnya, kami kesulitan mencari penginapan yang masuk bujet, karena saat musim tulip hampir semua hotel di Belanda penuh atau harganya mahal banget. Kami pun akhirnya menginap di budget hotel di Den Haag, yang jaraknya sekitar 40 menit dari kota Lisse, tempat di mana taman Keukenhof berada.

Saya juga pernah ke sini dua tahun lalu, tapi karena saya dan Yudo datang di akhir bulan Maret, cuacanya masih sangat dingin, angin kencang, dan sering hujan. Selain itu, masih banyak bunga tulip yang belum mekar. Waktu terbaik untuk menikmati musim tulip ini memang pada pertengahan bulan April.

Jika tertarik ke sini, jangan lupa untuk merencanakan sejak jauh hari, terutama untuk booking hotel. Sedangkan untuk tiket masuk Keukenhof, selain bisa dibeli secara online, kita juga bisa beli secara langsung dan antreannya pun nggak terlalu panjang karena loketnya banyak.

Benar saja, begitu sampai di Keukenhof, deretan mobil dan bus turis tampak memadati sepanjang jalan menuju taman bunga tersebut. Di dalamnya pun sangat ramai, tapi tetap nyaman, karena kita masih bisa berjalan-jalan santai dan berfoto-foto (nggak sampai berdesak-desakan kayak di Dufan kalau lagi hari libur.. hehe).

Berbagai macam tulip tampak bermekaran. Warnanya macam-macam, jenisnya macam-macam, sampai saya bingung mau foto yang mana (kamera saya pun dipenuhi foto bunga!). Memang cantik-cantik banget, sih, bunganya. Susunannya pun menarik dengan mengombinasikan warna-warna kontras. Untungnya lagi, hari itu juga cukup cerah. Memang, sih, kadang ada awan mendung yang datang, tapi nggak sampai hujan deras. Puas, deh, jalan-jalan di sini.

Keesokan harinya, kami ke Volendam, yang dikenal sebagai desa nelayan, karena letaknya yang dekat dengan laut. Nah, di Volendam inilah tempat orang-orang (turis) berfoto memakai baju adat daerah tersebut.

Saya juga sudah pernah berfoto bareng Yudo dua tahun lalu, jadi tahun ini saya malas foto lagi. Kalau ke sini, ada beberapa studio foto yang menawarkan jasa tersebut, tinggal pilih saja paketnya yang mana. Biasanya tergantung jumlah dan besar foto yang akan dicetak. Jangan heran juga kalau menemukan sejumlah foto selebriti dan tokoh politik Indonesia digantung di etalase studio-studio foto tersebut. Mungkin karena orang Indonesia sering banget ke sini kali ya…

Tujuan saya ke Volendam sebenarnya cuma satu, yaitu makan poffertjes (haha). Saya ingat banget waktu ke sini dua tahun lalu, saya sedang mual-mualnya, tapi tetap semangat makan poffertjes. Sekarang, kan, sudah nggak mual lagi, jadi terasa enaknya dua kali lipat 😀

Di Volendam ini, karena dikenal sebagai desa nelayan, maka restorannya pun menawarkan aneka menu seafood yang enak. Jadi jangan sampai nggak mencoba calamary, ikan, udang, dan makanan seafood lainnya kalau di sini.

Oh ya, saya juga nggak punya foto-foto selama di Volendam, karena saat ke sana cuaca lagi nggak bersahabat banget. Hujan sepanjang saya di sana, jadilah saya ngumpet terus di bawah payung. Sambil dorong stroller, sambil bawa payung, jadi susah mau foto-foto.

Foto-foto yang sempat saya ambil selama di Belanda, ya hanya di Keukenhof. Siap-siap saja di bawah ini bakal banyak foto tulip. Enjoy! 😀

andhinalannakeukenhof

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

(all photos taken by me, except when I’m in it)

Next destination: Hamburg, Germany.

Euro Trip 2017: Sunny Day in Paris

Dari Lucerne, kami pun melanjuti perjalanan menuju Paris, Prancis–Yeay! I love this city, walaupun cara menyetir orang-orang di sini kacau dan kotanya tidak sebersih kota-kota lainnya di Eropa, seperti kota-kota di Swiss yang bersih banget. Nggak tahu, ya, sejak belum pernah ke sini saja, Paris selalu menjadi kota impian yang ingin banget saya datangi.

Saya memang pernah ke Paris dua tahun lalu, tapi tetap rasanya nggak puas. Tahun ini, rasanya lebih spesial, karena saya pergi bersama Alanna, yang dua tahun lalu masih di dalam perut. Untungnya, saat kami berjalan-jalan di pusat kota Paris, cuaca sangat bersahabat, cerah-ceria, dengan sedikit angin sejuk. Saya pun melepas jaket tebal yang saya pakai selama di Lucerne hari sebelumnya.

Tujuan pertama kami, tentu saja Menara Eiffel. Kami menghabiskan cukup banyak waktu untuk berfoto dari berbagai sudut (haha.. namanya juga turis). Setelahnya, saya ingin banget berjalan-jalan di Champs-Elysees, sementara ibu mertua dan bude-bude ingin menaiki bus tur hop-on/hop-off yang keliling kota.

Setelah menemukan bus tur yang harganya lagi diskon, kami pun berkeliling menggunakan bus tersebut dan turun di Champs-Elysees. Tujuan saya cuma satu, SEPHORA! Haha, namanya juga pencinta lipstik sejati, saya pastinya menggila banget di sini, dan Sephora kan brand asal Prancis, sudah pasti koleksi brand-brand kosmetiknya lengkap banget (dan karena di Austria tidak ada Sephora, hiks). Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan lagi jalan-jalan di sekitar tempat tersebut.

Namun, kami nggak sadar kalau ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, padahal hari masih terang! Kami mencoba mencari bus tur yang kami naiki, tapi kok tidak ada. Saya membaca di brosurnya, ternyata last departure mereka adalah jam 5 sore..Oh no!

Kami akhirnya berjalan dari Champs-Elysees ke Plaza de la Concorde, karena tadi sempat melihat beberapa bus tur yang berhenti di situ. Kami pun menemukan si bus merah, yang merupakan bus tur kami, tapi ternyata mereka tidak akan kembali ke Menara Eiffel (tempat kami memarkir mobil). Jadilah, kami memutuskan untuk jalan dari Plaza de la Concorde ke parkiran di Menara Eiffel (which is jauh banget.. haha).

Namun ada untungnya juga, sih, berjalan kaki sejauh itu, karena kami jadi melihat sisi lain Paris. Selain itu, berjalan-jalan di pinggir Sungai Seine menjelang sunset ternyata indah banget. Apalagi cuacanya sejuk, sehingga kami pun tidak merasa lelah.

Setidaknya, hal ini bisa jadi pelajaran. Pertama, sebaiknya pilih bus tur yang lebih mahal sedikit tapi armadanya lebih banyak, seperti Big Bus Paris atau L’Open Tour Paris. Kami memilih bus tur yang satunya lagi dan tampaknya armadanya lebih sedikit. Kedua, perhatikan jam saat menaiki bus tur. Tampaknya kami dapat harga lebih murah, karena kami baru menaiki bus tur tersebut menjelang jam dua siang (jelas saja jadi lebih murah). Kalau memang ingin menaiki bus hop-on/hop-off, sebaiknya mulai sejak pagi hari.

Keesokannya, kami pergi menuju Istana Versailles. Hari itu panas banget, matahari sangat terik, dan tidak ada awan sama sekali. Antrean untuk masuk ke Versailles pun mengular, jadinya kami juga malas untuk masuk ke dalam. Selebihnya, kami malah menghabiskan waktu di outlet tak jauh dari Versailles (yang sebenarnya bukan outlet yang oke, ah well.. saya, kan, cuma nebeng jalan-jalan).

Kalau boleh memilih, saya masih tetap ingin berjalan-jalan di Kota Paris. Saya juga masih penasaran dengan isi Museum Louvre. Jadi, selama saya masih tinggal di kawasan Eropa hingga 2019 nanti, saya berharap bisa kembali lagi ke Paris. Masih penasaran dan belum bosan balik lagi ke sana.. hehe.

Oh iya, Kota Paris ini memang cantik banget, tapi kita tetap harus berhati-hati. Soalnya seminggu setelah saya dari sini, terjadi lagi penembakan. Di Kota ini memang pernah terjadi beberapa kali aksi teror, seperti penembakan di kantor Charlie Hebdo dan penembakan massal saat konser metal pada 2015 lalu. Nah, penembakan yang baru-baru ini, terjadi di Champs-Elysees, deretan pertokoan yang ramai dikunjungi para turis.

Selain itu, jika diperhatikan, di pinggir-pinggir Kota Paris juga terlihat rumah-rumah kardus yang ditempati para migran dari Suriah. Miris, sih, melihatnya. Di satu sisi, Kota Paris jadi terlihat berantakan, di sisi lain sedih banget melihat kehidupan mereka yang tentunya jauh dari layak. Semoga masalah migran ini bisa diselesaikan. Saya, sih, nggak bisa banyak omong (siapa saya?), cuma bisa berharap yang terbaik bagi mereka.

Ini sedikit foto-foto saya selama di Paris.

alannaeiffel
Alanna in Paris
arc de triomphe
Arc de Triomphe
eiffel1
Selfie di depan Menara Eiffel
eiffel2
Yes.. another picture in front of the Eiffel Tower
paris1
Obelisk yang terletak di belakang Plaza de la Concorde
paris2
Sunset di Paris
paris3
Satu lagi foto sunset
seine
Sunset di pinggiran Sungai Seine

(All photos taken by me.. except when I’m in it :D)

Next destination: Netherlands.

Euro Trip 2017: The Gorgeous Interlaken and Lucerne

Setelah menghabiskan waktu di Venice, akhirnya kami melaju ke Kota Lucerne (Luzern) di Swiss. Saya sendiri juga pernah ke kota tersebut dua tahun lalu saat pergi bersama Yudo dan kota ini cukup berbekas di memori kami, karena kecantikan pemandangan di kota tuanya. Jalan-jalan berbatu, deretan toko, serta danau di tengah kota yang dipenuhi kawanan angsa dan bebek memang punya magnet tersendiri bagi kami.

Makanya ketika perjalanan ini juga akan singgah di Kota Lucerne (bahkan kami menginap selama tiga malam), saya sangat excited. Sayangnya, ada beberapa tempat yang tak sempat kami kunjungi, karena ada beberapa perubahan rencana di tengah jalan. Cuaca saat itu di Swiss cukup dingin, padahal sebelumnya kami sudah merasa nyaman dengan cuaca yang sejuk dan cerah di Budapest, Zagreb, dan Venice.

Perjalanan dari Venice menuju Lucerne juga memakan waktu cukup lama, hampir 6 jam. Kami pun sampai sangat malam di Lucerne, sekitar pukul 10.30 malam. Esoknya, kami berjalan-jalan di Grindelwald dan Interlaken.

Sebenarnya, dari Interlaken ini banyak turis yang naik ke atas dengan menggunakan kereta di Jungfraujoch. Tapi entah kenapa, kami tidak melakukannya (mungkin karena cuaca dingin dan ibu-ibu yang lainnya sepakat tidak naik ke atas). Ya sudah, jadilah kami berjalan-jalan di pusat kota Interlaken dan habis itu sempat berfoto-foto di Brienz Lake yang cantik.

Menurut informasi yang saya dapatkan, Interlaken ini sendiri terletak di antara dua danau, yaitu Brienz Lake di bagian timur dan Thun Lake di bagian barat. Selain itu, ada pula Aare River yang mengalir di antara kedua danau tersebut. Jadi buat yang mau pergi berjalan-jalan ke sini, sebaiknya baca-baca dulu tentang berbagai tempat wisata di Interlaken, supaya tidak banyak membuang waktu.

Saya sendiri, sih, lebih tertarik dengan kota tua Lucerne, yang akhirnya baru kami kunjungi keesokannya lagi. Awalnya, rombongan ibu-ibu ini mau ke Mount Titlis, tapi begitu sampai di sana malah nggak ada yang mau naik karena kedinginan (hehe). Kalau saya, sudah pernah naik hingga ke ketinggian 3000an meter saat dua tahun lalu ke Swiss, ketika usia kehamilan saya baru 8 minggu. Alhasil, karena oksigen yang tipis di atas gunung itu, saya pun pusing dan muntah-muntah (bukan kenangan yang asyik, ya).

Setelah batal ke Mount Titlis, baru deh ibu-ibu sepakat ke kota tua Lucerne. Salah satu landmark terkenal di sini adalah Kapellbrucke (Chapel Bridge), yang merupakan jembatan kayu tertua di Eropa. Jika berjalan di jembatan kayu ini, kita bisa menemukan lukisan-lukisan kuno dari abad ke-17 yang diletakkan di langit-langit jembatan.

Namun, menurut informasi yang saya baca, jembatan ini sempat mengalami sejumlah musibah, salah satunya kebakaran. Jadi dari sekitar 150an lukisan, kini cuma ada 47 lukisan yang ada. Selain jembatan kayu, ada pula Wasserturm atau Water Tower yang menjadi ikon unik di Lucerne. Dinamakan seperti itu bukan karena isinya air, tapi karena tower tersebut didirikan di atas air.

Setelah puas berjalan-jalan di kota tua Lucerne. Masuk ke dalam jalan-jalan batu setapak dan cuci mata di dalam beberapa toko, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Lion Monument. Ini juga salah satu tempat ikonik di kota Lucerne. Monumen ini dibangun pada tahun 1820-1821 untuk mengenang tentara Swiss yang dibantai dalam perang Revolusi Prancis tahun 1792. Sosok singa digambarkan sebagai sosok yang pemberani. Jika diperhatikan, patung singa itu sendiri terlihat sedang sekarat dengan tombak menembus tubuhnya.

Sebenarnya, masih banyak lokasi-lokasi menarik lainnya di Lucerne. Cuma lagi-lagi, waktu kami memang sempit. Semoga suatu saat nanti, kami bisa kembali lagi ke sini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Brienz Lake
mealannainterlaken
Bersama si happy baby di Brienz Lake
mealannagrindelwald
Wefie di Grindelwald
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Interlaken
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chapel Bridge dan Water Tower, Lucerne

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

mealannalucerne

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Lion Monument

(all photos taken by me.. except when I’m in it)

Next Destination: Paris

Euro Trip 2017: Strolling Through Venice

Setelah dari Zagreb, tujuan kami berikutnya adalah Venice, Italy. Perjalanan dari Zagreb ke Venice memakan waktu sekitar 4 jam. Kami pun sempat melewati negara Slovenia saat menuju Venice. Hanya numpang lewat saja, karena memang tidak punya rencana untuk menginap di sana.

Sampai di Venice, hari juga sudah menjelang malam. Jadi kami cuma sempat makan malam dan langsung istirahat. Besoknya, tepat pukul 9 kami langsung berangkat menuju pelabuhan tempat kapal yang akan membawa kami ke Venice.

Dua tahun lalu saat pergi jalan-jalan ke Eropa bersama Yudo, saya juga sudah pernah ke Venice. Tapi waktu itu kan bareng tur, jadi semuanya sudah diatur. Sekarang, kami masih meraba-raba, bagaimana ya caranya ke Venice. Ternyata, gampang banget. Kita cukup membeli tiket di loket yang terletak di tempat parkir mobil dan ada juga yang terletak di pelabuhan. Harga tiket one way sebesar €7.50 dan nanti kalau mau balik lagi tinggal beli seharga itu juga.

Tapi karena kami naik public transport alias water bus, jadilah perjalanannya agak makan waktu. Sama saja kayak bus di darat, haltenya banyak dan jalannya nggak ngebut. Tujuan kami adalah Saint Mark’s Square atau San Marco Square, spot turis yang paling ramai dikunjungi (kayaknya).

Balik lagi ke tempat ini untuk kedua kalinya, saya sebenarnya penasaran dengan lokasi yang ada di film Inferno (hehe). Saya ini fans berat film dan buku Dan Brown, yang selalu menggabungkan sejarah, mitos, dan teka-teki. Nah, di film Inferno itu, ada satu adegan yang pengambilan gambarnya di Venice, tempat di mana si Tom Hanks terjebak. Tapi saya cari-cari, kok, nggak ketemu ya.. haha, nggak penting.

Anywaaayy… saya cuma sempat berfoto-foto di Saint Mark’s Basilica, menyusuri gang-gang di dalam Venice yang dipenuhi toko dan restoran khas Italia, serta mengambil foto sekitar Venice. Kali ini saya tidak mau naik gondola, karena sudah pernah dan saya pikir agak overpriced. Setidaknya saya sudah pernah, jadi buat apa lagi.

Saat di Venice, jangan lupa untuk mengitari toko, kafe, dan restoran yang ada di dalam gang-gang, karena kita bisa menemukan banyak tempat menarik. Mertua saya, misalnya, menemukan toko-toko yang menjual tas berbahan kulit dengan harga yang miring, namun kualitasnya tetap oke. Kalau saya, sih, lebih tertarik dengan restoran yang menyajikan aneka menu pasta dan kopi khas Italia.

Berikut ini beberapa foto saya di Venice (dan Alanna yang senang banget dikelilingi burung di St. Mark’s Square). Note: all photos taken by me.. except when I’m in it

mealannavenice

mevenice

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

topeng venice

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Next destination: Lucerne, Switzerland

Euro Trip 2017: One Night in Zagreb

Kenapa judulnya one night? Karena memang saya hanya menghabiskan satu hari saja di Ibu Kota Kroasia (Croatia) tersebut. Alasan kami hanya singgah semalam di sini, agar ayah mertua saya (yang menyupir sepanjang perjalanan ini) tidak kecapekan jika harus langsung jalan dari Budapest ke Venezia (Venice).

Perjalanan dari Budapest ke Zagreb memakan waktu sekitar 3 jam. Di sana, kami menginap di apartemen dekat tengah kota yang ternyata tempatnya nyaman banget. Si pemilik apartemen sangat ramah dan isi apartemennya pun sangat lengkap. Sayang saja kami cuma menghabiskan waktu semalam di sana.

Sebenarnya, saya sendiri juga kurang tahu apa saja objek-objek wisata di kota ini. Namun Zagreb juga merupakan kota yang cantik dengan arsitektur khas Eropa yang menarik. Saat sampai di Zagreb, hari sudah menjelang malam dan kami tidak sempat berjalan-jalan.

Keesokan harinya, kami berjalan ke pusat kota dan melewati Katedral Zagreb yang juga dikenal dengan nama Cathedral of the Assumption of Mary. Dari sana, kami berjalan menuju pasar tradisional di Zagreb yang menjajakan aneka macam buah, sayuran, hingga souvenir khas kota tersebut.

Berhubung jalan-jalan bareng ibu-ibu, jadilah mereka lebih senang mencari oleh-oleh dan souvenir, sementara saya dan Alanna menunggu saja sambil sesekali mengambil foto suasana sekitar.

Berikut ini sedikit foto-foto saya di Zagreb (all photos taken by me). Semoga saya dan Alanna (bersama Yudo) bisa kembali ke kota ini dan lebih puas berjalan-jalan di dalamnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Cathedral of the Assumption of Mary
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mary Column yang terletak di depan katedral
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana pasar (Dolac Market) di Zagreb
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana Dolac Market
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Patung Josip Jelačić di Jelačić square
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Suasana di Zagreb

Next destination: Venice, Italy

 

Euro Trip 2017: First Stop, Budapest

Hello.. sudah lama saya tidak update di blog ini dan sekarang saya ingin cerita soal perjalanan saya keliling beberapa negara di Eropa dalam waktu dua minggu terakhir kemarin.

Akhir Maret lalu, saya kedatangan mertua saya. Mereka rencananya akan tinggal di Wina hingga awal Juni mendatang (yeay.. Alanna nggak kesepian lagi, saya juga hehe). Kemudian datang pula kakak dan adik dari ibunya Yudo, jadilah di rumah makin ramai.

Untuk trip kali ini, saya sebenarnya cuma nimbrung saja, jadi soal rute dan tempat-tempat yang dikunjungi saya nggak ikut milih. Tadinya saya sempat berpikir hanya akan ikut seminggu saja, tapi setelah dipikir lebih lanjut kayaknya bakal repot, apalagi saya bawa bayi dan Yudo juga tidak bisa ikut karena belum dapat cuti. Dia baru akan nyusul saat long weekend libur Paskah di tanggal 14 April.

Oke, mari kita mulai dari perjalanan pertama kami. Dari Wina, kami menuju Budapest, Hongaria (Hungary). Saya sendiri belum pernah ke Budapest, padahal kota ini terbilang cukup dekat dari Wina, yaitu sekitar 3 jam perjalanan memakai mobil. Di Budapest, kami hanya menginap semalam, jadi waktu untuk jalan-jalan pun sebenarnya tidak banyak.

Hari pertama, kami menghabiskan waktu di pusat kota, sambil keluar masuk toko souvenir. Budapest saat itu juga tengah diramaikan oleh bazar yang dipenuhi kios-kios kecil berisi makanan, produk kerajinan tangan, dan lainnya. Saya tidak tahu apakah itu bazar permanen atau untuk memeriahkan Hari Paskah yang dirayakan pada pertengahan April kemarin.

Setelah dari sana, kami berjalan-jalan di pinggir sungai Danube sambil berfoto-foto. Sungai ini sendiri melintasi beberapa kota dan negara, termasuk Wina (Austria) dan Bratislava (Slovakia).

Sore harinya, kami menaiki kapal yang berkeliling di sungai tersebut sambil menikmati pemandangan kota Budapest yang terdiri dari Buda (kota tua dengan Buda Castle yang terkenal dan sederetan bangunan antik lainnya) dan Pest (yang lebih modern dan menjadi pusat pemerintahan). Dua wilayah yang terpisahkan oleh Sungai Danube dan Chain Bridge yang juga menjadi landmark dari kota tersebut.

Cuaca kala itu cukup bersahabat. Cerah dengan angin yang sejuk. Namun begitu masuk ke sore hari, terutama saat di atas kapal, baru, deh, terasa sangat dingin. Ada beberapa jenis kapal yang menawarkan jasa mengelilingi Sungai Danube tersebut, tinggal pilih saja, deh, mau yang sederhana atau mau yang agak mewah, karena ada juga kapal yang di dalamnya terdapat restoran. Yang pasti, setiap kapal menyediakan penjelasan mengenai sejarah Budapest selama perjalanan mengelilingi sungai selama kurang lebih satu jam.

Keesokan harinya, kami berjalan-jalan di sekitar Gedung Parlemen, Buda Castle, Matthias Church, dan Fisherman’s Bastion. Memang, sih, tempat yang kami kunjungi tidak banyak, tapi saya sangat menikmati arsitektur Gothic yang cantik dan pemandangan Kota Budapest yang bisa dilihat dari atas Fisherman’s Bastion.

Masih banyak lagi tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi di Budapest, yang dinobatkan sebagai salah satu kota tercantik di Eropa. Nggak salah, sih, kotanya memang cantik banget, terutama kota tuanya yang memang dijaga dengan baik. Ah well, meski nggak sempat ke banyak tempat, berikut ini beberapa foto yang (semoga) bisa menggambarkan kecantikan kota Budapest.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Buda Castle
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hungarian Parliament Building
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Chain Bridge di atas Danube River
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Budapest
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Sunset di Kota Budapest
matthiaschurch
Matthias Church sebagai latar belakang
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Fisherman’s Bastion
fishermanbastion
Di depan Fisherman’s Bastion
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pemandangan Budapest diambil dari atas Fisherman’s Bastion

Next destination: Zagreb, Croatia.
(All photos taken by me — except when I’m in it 😊)

Maybelline Matte Lipsticks: My Favorite Drugstore Lipstick!

I always love matte lipsticks.. tapi kadang lipstik seperti ini bisa bikin bibir kering, terutama saat cuaca dingin dan kering seperti di Wina sekarang ini. Walaupun sudah pakai lip balm, bibir bisa saja terasa sangat kering dan akhirnya kulit bibir mengelupas–very unacttractive indeed.

img_4844

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang koleksi matte lipstick dari Maybelline ini. Saya pertama kali membelinya pada awal tahun 2015, saat itu Maybelline meluncurkan 10 warna baru yang semuanya matte. Formulanya disebut creamy matte dan dari sejumlah beauty vlogger yang mengulasnya, mereka semua merekomendasikan lipstik ini. Tentu saja saya penasaran, dong.

Sayangnya, lipstik tersebut tidak keluar di Indonesia dan hanya di AS serta Kanada. Sebal kan, kenapa, sih, rangkaian lipstik Maybelline yang bagus nggak keluar di Indonesia? Jadilah saya beli online, via toko di Instagram, dan itu pun harus PO alias nunggu lama.

Begitu akhirnya lipstik itu ada di tangan, ya ampun senangnya saya. Lipstiknya benar-benar sesuai dengan bayangan saya. Tekstur creamy matte yang nyaman, tahan lama, dan ada wangi lembut seperti kue yang saya suka. Beda dengan beberapa lipstik Maybelline di Indonesia yang wanginya menyengat kayak permen karet.

img_4843

Dua warna yang saya beli adalah Touch of Spice dan Mesmerizing Magenta. Warna Touch of Spice ini merupakan warna favorit saya. Warna ini keluar pas zamannya warna mauve, plum, dan cokelat sepertinya mulai jadi favorit untuk warna lipstik. Nah, Touch of Spice itu perpaduan semua warna itu. Pas banget dan saya rasa bakal cocok dipakai oleh siapa saja.

maybelline-touch-of-spice

Sedangkan warna Mesmerizing Magenta tentu saja saya pilih, because I have a thing with fuchsia/magenta lipsticks. Saya juga suka warna ini. Warna magenta terang yang bikin wajah saya lebih cerah–seriously! Dan lagi, lipstik ini benar-benar tahan lama, bahkan setelah saya makan, masih ada sisa warnanya di bibir.

maybelline-mesmerizing-magenta

Mungkin karena lipstik ini cukup sukses (I don’t know, saya cuma berspekulasi), Maybelline mengeluarkan lagi warna-warna baru (yang lagi-lagi tentu saja tidak dirilis di Indonesia). Ketika saya pindah ke Austria, saya tentunya berharap rangkaian creamy matte ini bisa saya dapatkan di drugstore di sini. Well, saya nggak sepenuhnya benar.

Saya memang menemukan beberapa warna, tapi tidak banyak (huhu..). Sepertinya Maybelline memang membedakan koleksinya berdasarkan pasar, apakah itu pasar Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Anyway, saya menemukan dua warna yang saya suka, yaitu Clay Crush dan Red Sunset.

Warna Red Sunset saya beli waktu saya pergi ke Frankfurt. Jangan tertipu dengan namanya, karena warnanya sama sekali bukan merah. Warnanya pink terang dengan sedikit coral (sepertinya). This color is very bright, but it looks good against my skin.

maybelline-red-sunset

Selanjutnya adalah warna Clay Crush. Saya membelinya gara-gara saya melihat video salah satu vlogger yang bilang kalau warna nude ini bakal cocok untuk mereka yang memiliki kulit cokelat. Jadilah saya coba dan ternyata benar. Saya memang nggak terlalu suka warna nude, tapi warna ini sepertinya warna nude yang cocok untuk saya. Warnanya tidak membuat muka saya pucat, karena masih ada sedikit warna peach dan cokelat di dalamnya. Kalau warna Velvet Teddy dari MAC bagi saya terlalu nude, maka warna Clay Crush ini lebih cocok untuk saya.

maybelline-clay-crush

Nah, dua warna terakhir adalah koleksi terbaru dari Maybelline. Baru ada di drugstore di sini dan ditulisnya New Collection. Bukan dari seri creamy matte, tapi disebutnya Inti-matte nudes.

Saya langsung tertarik dengan warna Brown Sugar. Iya, akhir-akhir ini entah kenapa lagi suka lipstik warna cokelat. Saya melihatnya sebagai warna cokelat dengan campuran sedikit warna abu-abu, namun tidak membuat wajah saya jadi kusam–and I love it! Saya dulu beranggapan bahwa lipstik cokelat akan membuat kulit wajah saya terlihat gelap, tapi terbukti saya salah. Warna lipstik cokelat seperti ini ternyata juga cocok di kulit saya.

maybelline-brown-sugar

Terakhir adalah warna Smoky Rose. Sebenarnya saya sempat kepikiran ingin membeli warna Mehr dari MAC, yang lebih pink daripada Brave (karena Brave di bibir saya terlihat pucat). Tapi saya agak ragu dengan tekstur matte-nya yang terasa kering di bibir (nggak semua lipstik matte dari MAC formulanya terasa sama di bibir, ada yang kering, ada juga yang nyaman dipakai).

Untung saja saya nggak jadi beli Mehr, karena saya melihat warna Smoky Rose ini agak mirip. Well, saya tidak pernah membandingkannya, sih, tapi warna Smoky Rose merupakan warna pink muda yang saya cari-cari. Soft pink blue pink, dan yang pasti nggak bikin muka saya pucat. (Update: setelah saya bandingkan dengan MAC Mehr, ternyata warnanya memang mirip, tapi Mehr memiliki sedikit warna cokelat dibanding Smoky Rose)

maybelline-smoky-rose

Secara keseluruhan, saya beri nilai 9/10 untuk lipstik ini. Formulanya nyaman dipakai, tahan lama, matte, pilihan warnanya banyak (sayang tidak semuanya masuk ke Austria, I mean come on…), dan harganya di bawah 10 euro.

So, what do you think? Which one is your favorite?