In My Own Words

Menulis, selalu menjadi hal yang saya sukai. Walaupun saya tidak pernah berhasil menulis novel, bahkan menulis blog pun mulai jarang sejak bekerja di media online. Setelah bekerja di kantor ini, akhirnya saya makin bisa melatih tulisan saya, bisa tahu segala macam berita lebih cepat, dan tentunya lebih perhatian ke segala macam berita–bukan hanya tentang fashion.

Anyway, ada satu berita yang sepertinya lagi banyak dibicarakan orang akhir-akhir ini, yaitu tentang batal/tidaknya konser Lady Gaga. Jelas isu ini membuat saya kesal, karena saya salah satu penggemar dan pembeli tiket. Apalagi di beberapa media, beritanya heboh banget dan ada yang jelas-jelas menulis ‘Batal’ padahal belum ada konfirmasi dari pihak promotor. Kesal, karena sepertinya beberapa media senang sekali mengabur-ngaburkan fakta yang ada. Kenapa tidak bilang saja ‘terancam batal’ atau ‘ada pihak yang ingin membatalkan’?

Beberapa hari yang lalu, ketika saya sampai di kantor, pemimpin redaksi di kantor saya bertanya, apakah benar-benar batal? Lalu saja jelaskan faktanya. Kalau misalnya pihak promotor belum bicara, mungkin karena mereka tidak ingin membuat keruh suasana dan tetap masih mengusahakan. Untung saja, pemred saya lalu meminta saya menulis segala macam berita tentang Lady Gaga, masukkan hal-hal yang tidak/belum disinggung oleh media lain. Dia minta saya untuk menulis opini, sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Sebelumnya dia sudah pernah bilang, kalau tiap editor berhak menulis sebuah tulisan/artikel opini. Tapi saya tidak berani, karena saya tidak mau terkesan sok tahu kalau berbicara tentang hal yang tidak terlalu dipahami. Tentu berbeda dengan masalah yang satu ini, masalah yang dekat dengan saya. Jadi, setelah berusaha sekuat tenaga tidak menulis dengan emosional, akhirnya saya berhasil menulis artikel opini pertama saya. Senangnya, saya diberi kebebasan untuk berekspresi, berpendapat, dan cukup banyak juga yang memberikan komentar.

So here it goes…

KONSER LADY GAGA: Perusak Moral atau Bentuk Ekspresi Kreatif?

Lady Gaga in Armani Prive

Konser Lady Gaga batal. Begitu tulis berbagai media dan isu ini memang sudah berjalan selama beberapa pekan.

Sebagai salah satu penggemar yang sudah membeli tiket jauh-jauh hari, jelas saya kaget. Apalagi pembicaraan seputar itu makin ‘panas’ di media sosial hari ini. Ketika saya baca, media-media itu menyebutkan kalau Polda Metro Jaya sudah memastikan konsernya batal tanpa ada pernyataan dari pihak promotor, Big Daddy.

Isu pembatalan pembatalan konser ini bermula dari beberapa kelompok Muslim yang menganggap penampilan Lady Gaga terlalu seronok dan bisa merusak moral bangsa. Ada lagi yang menyebutkan bahwa Lady Gaga itu pemuja setan dan mengajak penggemarnya untuk ikut seperti itu. Benarkah?

Karena yang saya tangkap dari setiap lirik lagu Lady Gaga adalah bagaimana setiap manusia bisa menerima dirinya sendiri. Seperti lagu “Born This Way” yang mengungkapkan pengalamannya diejek karena dianggap aneh, tapi akhirnya bisa menerima diri apa adanya dan merasa percaya diri.

Gaga bahkan dikenal sebagai salah satu penyanyi yang dermawan. Dia salah satu selebritas pertama yang menyumbangkan uang saat bencana tsunami menerjang Jepang, dia juga mendirikan yayasan untuk para remaja bisa mengembangkan bakatnya. Apakah itu tanda-tanda orang yang memuja setan?

Kembali ke masalah konser di Jakarta yang rencananya akan berlangsung pada 3 Juni 2012, sebenarnya merupakan bagian dari rangkaian konser Gaga di seluruh dunia. Dia sengaja memulai turnya ini di Asia, karena merasa penggemarnya cukup banyak di benua ini. Baru setelah itu dia akan melanjutkan konsernya ke benua lainnya, mulai dari Australia, Eropa, dan Amerika.

Di beberapa negara, dia juga sengaja menggelar konser selama beberapa hari. Di Hong Kong, Gaga konser selama empat hari, di Tokyo tiga hari, Taipei dua hari, Manila dua hari, Singapura tiga hari, dan masih banyak lainnya.

Ada berita juga yang menyebutkan bahwa Korea menolak Gaga, toh konsernya tetap berjalan lancar dengan memberi batasan umur para penontonnya, yaitu minimal usia 18 tahun. Di Indonesia sendiri, penjualan tiket konsernya sudah sejak 10 Maret. Sejak malam sebelumnya, fX yang menjadi lokasi penjualan tiket sudah dipenuhi para little monster, sebutan penggemar Gaga.

Tak sedikit pula yang berdandan aneh ala Gaga demi mendapatkan kesempatan antrian yang lebih cepat. Saya bersama teman-teman juga sudah mengantri tepat pukul 6 pagi, padahal loket baru dibuka pukul 10. Saking ramainya para penggemar yang mengantri tiket, dalam beberapa jam saja tiket di tribun VIP sudah ludes. Diperkirakan oleh pihak promotor, pada hari pertama tiket yang berhasil dijual mencapai 40.000 tiket dan sekitar 10.000 lagi terjual di hari kedua.

Kenapa Indonesia dipilih sebagai salah satu negara yang didatangi Gaga? Semua itu kembali ke setahun yang lalu, ketika para penggemar Gaga di Indonesia membuat trending topic di Twitter mengajak Gaga untuk datang ke Tanah Air. Ternyata Gaga melihatnya dan bahkan membuat video spesial di Youtube untuk penggemarnya di Indonesia pada Juli 2011. Dalam video itu dia berjanji akan datang ke Indonesia demi untuk memuaskan para penggemarnya.

Tapi, ternyata dengan datangnya ‘pembatalan’ sepihak oleh pihak Polda Metro Jaya dan sejumlah organisasi masyarakat, rasanya para penggemar Gaga harus siap-siap kecewa. Sekitar 50.000 penggemar yang sudah lelah mengantri dan semangat akan bertemu idolanya harus menelan pil pahit, karena konser Gaga diancam bakal rusuh.

Iya, benar, ada yang mengancam akan mendatangkan massa agar konser itu rusuh, lalu merugikan siapa? Tidak usah bicara promotor, tapi orang-orang yang menikmati musik Gaga jelas merasa kecewa. Katanya penampilan Gaga seronok dan merusak moral. Menurut saya pendapat ini aneh, karena penampilan Gaga selalu menggabungkan unsur teatrikal dan fashion tingkat tinggi. Untuk konser di Asia saja, semua busana yang akan dikenakannya dirancang langsung oleh desainer Italia Giorgio Armani. Apakah Indonesia masih belum bisa menerima ekspresi kreatif dan seni semacam ini?

Soal busana pun sebenarnya bisa diatur, kok, asal Gaga memang diminta untuk berbusana yang lebih sopan. Buktinya saat sampai di beberapa negara Asia lainnya, seperti Korea, Hong Kong, dan Jepang, Gaga menggunakan baju tertutup dan sama sekali tidak seronok.

Lagipula, aneh juga ketika masyarakat Indonesia dibuat seperti anak kecil yang seakan-akan tidak bisa memilah-milah mana yang merusak mana yang tidak. Kalau memang tidak suka, ya tidak usah ditonton. Perlukah memaksakan kehendak kelompok tertentu demi menunjukkan kekuasaan mereka?

Hal lain yang membuat saya bingung adalah sepertinya negara juga manggut-manggut saja dengan perintah kelompok tertentu itu. Jadi, siapakah yang berkuasa di Indonesia ini? (Kabar24/aw)

My Lipstick Obsession

I’m guilty as charged.. Saya punya obsesi baru, selain mengoleksi sepatu, sekarang saya terobsesi lipstik. Seumur-umur, saya tidak pernah pakai lipstik sampai benar-benar habis, tapi entah kenapa senang banget beli yang baru padahal sudah punya warna yang hampir mirip. Saking terobsesinya, kadang setiap kali nonton film atau buka halaman majalah, hal pertama yang saya lihat adalah warna bibir. Haha, I’m totally obsessed!

Anyway… Ini beberapa lipstik yang saya punya dan sempat saya foto sebelum akhirnya dipakai :)

CoverGirl, Max Factor, Revlon

Dari kiri ke kanan: CoverGirl 325 Spelbound — warna fuchsia, matte, dan tahan lama, plus kelihatan bagus kalau difoto; Max Factor Elixir 615 Stardust Pink — warna nude pink; Revlon MoistureStay 21 Pink — warna pink natural, matte, dan lama-lama makin kelihatan seperti warna bibir.

Max Factor, Sephora, NYX

Dari kiri ke kanan: Max Factor Elixir 711 Midnight Mauve — warna pink yang agak gelap, tapi tetap kelihatan natural di bibir; Sephora Rouge R07 Jealous — warna oranye yang bisa dipakai tipis untuk kesan natural atau tebal untuk penampilan bold; NYX 634 Louisiana — warna pink terang.

FYI, semua lipstik saya beli dengan harga di bawah Rp 80.000 saja, kecuali untuk Sephora yang harganya $12 atau sekitar Rp 110.000. Dari semuanya, favorit saya adalah lipstik CoverGirl yang tahan lama, tapi Max Factor juga sama bagusnya. Karena dengan harga yang relatif terjangkau, kualitasnya bagus, tahan lama di bibir plus terasa lembut.

One Lovely Evening With Feist

Wah… Saya jadi jarang mengisi blog ini, karena seharian sudah berkutat di depan komputer dan terus-terusan mengetik di kantor rasanya jadi malas menulis di blog lagi. Anyway, saya bela-belain menulis lagi, karena saya baru saja menonton konser FEIST! Yup, tepatnya Rabu, 15 Februari kemarin.

Saya ini memang pencinta konser, tapi sayangnya belum pernah sama sekali menonton konser penyanyi perempuan. Padahal kebanyakan penyanyi favorit saya itu, ya penyanyi perempuan. Lalu, dulu saya juga sempat terpikir, kalau sampai Feist datang ke Jakarta, pokoknya harus banget nonton. Akhirnya, kesempatan itu datang juga dan menurut saya ini konser terbaik yang pernah saya tonton.

Konser diawali oleh penampilan Erlend Øye, vokalis Kings of Convenience, yang katanya dadakan. Jadi, dia cerita kalau sedang di Jakarta selama beberapa minggu dan tahu soal kabar Feist akan manggung di Jakarta. Karena mereka bersahabat, Feist pun mengajak Erlend untuk jadi opening act konsernya–as simple as that.

Lalu setelah menyanyikan beberapa lagu, diantaranya lagu milik The Smiths, lagu dalam bahasa Norwegia (yang saya yakin cuma dia yang mengerti), dan lagu KOC, Erlend pun mundur ke belakang panggung. Sekitar 30 menit kemudian, baru Feist muncul, lengkap dengan band dan tiga penyanyi latar (Mountain Man–yang menurut saya seperti hippies..hehe).

Sayangnya.. saya tidak menemukan foto yang lebih baik dari ini--diambil dari Yahoo! OMG

Suasana konsernya kurang lebih seperti ini

Feist langsung menyanyikan lagu Undiscovered First dari album terbarunya, Metals. Lagu-lagu yang dinyanyikan di awal memang diambil dari album tersebut, seperti A Commotion, How Come You Never Go There, dan tentu saja lagu favorit saya Graveyard (yang selalu mengingatkan akan suasana kantor saya yang bersebelahan dengan kuburan).

Kalau mendengar setiap album Feist pasti akan menduga konsernya bakal tenang dan santai, tapi ternyata Feist tampil penuh semangat, musiknya kadang diubah (seperti saat menyanyikan Mushaboom), dan suaranya bahkan lebih bagus saat tampil live. Feist juga sesekali mengucapkan “Terima Kasih, Jakarta” dan “Saya Cinta Kamu, Jakarta” sambil melirik kartu contekan yang saya duga berisi tulisan itu.

Feist juga sangat komunikatif, menegur para penonton, bercerita soal musiknya, dan mengaku senang banget bisa ke Jakarta. Dia sempat bilang, berada di Jakarta seperti berada di dimensi lain (hehe.. mungkin orangnya aneh-aneh). Anyway, karena Feist baru saja berulang tahun 2 hari sebelumnya (13 Februari), ada seorang penonton memberi kado padanya dan serentak semuanya menyanyikan lagu Happy Birthday. Tapi, kemudian dia meminta penonton untuk menyanyikan lagu dalam Bahasa Indonesia (seru banget..).

Dengan menyanyikan sekitar 20 lagu, Feist pun sampai melakukan 2 kali encore. Di encore pertama dia menyanyikan Sealion dan Let It Die, lalu pada encore kedua dia berduet dengan Erlend Øye menyanyikan lagu The Build Up. Katanya, sih, lagu ini mereka ciptakan bersama sekitar 9 tahun yang lalu. Dan selama itu, baru sekitar 8-9 kali pernah mereka nyanyikan bersama di atas panggung–wow!

Setelah itu, Feist menyanyikan Intuition hanya dengan iringan gitarnya sendiri (karena semua anggota band dan penyanyi latarnya sudah masuk ke balik panggung setelah encore pertama) dan Erlend duduk di pinggir panggung sambil mendengarkan. Terakhirnya, ini adalah bagian favorit saya, karena Feist mengajak drummernya untuk mengiringi musik di lagu When I Was A Young Girl, salah satu lagu yang paling saya suka dan nggak nyangka akan dinyanyikan. Musiknya pun berbeda, lebih menghentak, apalagi ditambah penampilan Erlend yang ikut-ikutan menari sambil bawa kecrekan.

Benar-benar konser yang menyenangkan, dari segi musik dan penampilan, semuanya menghibur. Feist sempat bilang kalau dia nggak menolak kalau harus konser di Jakarta lagi. Kalau itu terjadi lagi, saya pun pasti akan datang untuk menontonnya. Setelah ini, masih banyak daftar penyanyi perempuan lainnya yang harus (kalau bisa) saya tonton konsernya, antara lain Lady Gaga, Beyonce, dan tentu saja Adele.

Feist Concert Setlist 15 Februari 2012:
1. Undiscovered First
2. A Commotion
3. How Come You Never Go There
4. Graveyard
5. Mushaboom
6. The Circle Married The Line
7. So Sorry
8. Anti-Pioneer
9. My Moon, My Man
10. I Feel It All
11. The Bad In Each Other
12. Honey Honey
13. Comfort Me
14. Caught A Long Wind
15. Get It Wrong, Get It Right

Encore 1:
16. Sealion
17. Let It Die
Encore 2:
18. Build It Up
19. Intuition
20. When I Was A Young Girl

Foster The People Live in Concert

From Left to Right: Mark Foster (vocal,keyboard,guitar) Cubbie Fink (bass) Mark Pontius (drums)

Yeay.. Konser pertama di tahun 2012 ini dimulai dengan konser Foster the People. Saya pertama kali mendengar lagu mereka tahun lalu yang berjudul “Pumped Up Kicks“, musik dengan genre indie-pop ini memang catchy banget. Saya juga suka dengan unsur electronica dalam musik mereka. Anyway, karena lagu itu cukup terkenal, saya sempat berpikiran pasti akan seru kalau sampai mereka konser di Jakarta.. dan saya pasti akan menontonnya.

Lalu saya mulai mendengarkan album mereka, “Torches“, dan seperti sudah saya duga sebelumnya, lagu di album ini memang enak didengar. Saya sukaaaaaa semuanya. Beberapa lagu favorit saya diantaranya, “Houdini“, “I Would Do Anything For You“, “Helena Beat“, “Call It What You Want“, dan “Warrant“.

Nggak disangka, keinginan saya benar-benar jadi kenyataan, mereka akan menggelar konser di Jakarta bulan Januari–Woohoo! Untungnya Tya dan Muning juga sama-sama menikmati musik mereka, jadilah kita nonton konser bersama tanggal 11 Januari kemarin.

Konser mereka dibuka dengan lagu “Houdini” dan saya suka setting panggungnya, di mana sang drummer ada di samping kanan, jadi tidak terlalu di belakang. Sedangkan di depan ada keyboard, gitar, dan perkusi, karena Mark Foster si vokalis, bisa memainkan semua alat musik itu. Dengan tiga personil (dan ada dua additional player) mereka tampil maksimal dengan segala jenis musik yang ada–KEREN! Apalagi Mark Foster memang charming (hehe) dan tampil atraktif di depan penonton. Bahkan di awal dia sempat bilang, “Terima kasih Jakarta!” dalam bahasa Indonesia.

Ketika akhirnya konser ditutup dengan lagu “Pumped Up Kicks” musik mereka pun dimodifikasi, sehingga terdengar beda. Tidak kurang dari 13 lagu mereka nyanyikan, 12 lagu sendiri plus 1 lagu “Say It Ain’t So” milik Weezer yang katanya, sih, lagu favorit mereka. Malam itu benar-benar menyenangkan dan nonton konser mereka puas banget!

Foster The People Concert Setlist 11 Januari 2012:
1. Houdini
2. Miss You
3. Life on the Nickel
4. I Would Do Anything For You
5. Broken Jaw
6. Waste
7. Call It What You Want
8. Don’t Stop (Color on the Walls)
9. Say It Ain’t So (Weezer cover)
10. Helena Beat
Encore:
11. Ruby
12. Warrant
13. Pumped Up Kicks

Another Year Has Passed

Sepertinya setahun lewat begitu saja dalam sekejap mata. Walaupun terasa sebentar dan saya selalu berkomentar, “Wah, satu tahun nggak terasa ya!” tetap saja waktu dalam setahun itu banyak sekali kejadian yang terjadi di dalam hidup saya. Ada beberapa hal signifikan yang saya alami, salah satunya adalah perubahan status saya yang tadinya engaged menjadi single. Saya, sih, tidak mau menyalahkan long distance relationship sebagai satu-satunya alasan, tapi mungkin itu juga yang menambah masalah dalam hubungan kami yang sebelumnya juga ada masalah. Saya tahu, saya punya andil cukup besar terhadap permasalahan yang ada, yang menyebabkan kegagalan ini. Namun, saya juga tahu bahwa saya sudah sungguh-sungguh berusaha untuk mempertahankannya. Akhirnya setelah pertengkaran yang sangat panjang, pada satu titik tertentu, saya memilih kebahagiaan saya dibanding berada dalam hubungan yang tidak sehat. Bukan keputusan yang mudah memang, tapi saya juga tidak mau menyesali apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah terjadi dan berlalu, ya dijadikan pembelajaran saja buat saya.

Kemudian saya lulus S2 dan memutuskan resign, itu juga salah satu keputusan besar dalam hidup saya. Resign tanpa punya pekerjaan terlebih dahulu tentunya punya tantangan tersendiri. Setiap perusahaan yang mewawancarai saya penasaran kenapa saya resign sebelum mendapatkan pekerjaan baru, bahkan semua bertanya hal yang sama “Apa ada masalah di kantor sebelumnya?” Mudah-mudahan saja mereka percaya ketika saya bilang tidak ada masalah. Saya tidak pernah bermasalah dengan pekerjaannya, dengan bos, apalagi teman-teman saya (karena jujur saja saya sayang banget sama teman-teman kantor saya di Cita Cinta–and I miss them all so much!)

Lalu saya pergi berlibur, bertemu kakak dan keponakan-keponakan saya, sebuah pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Ada juga hal-hal menyedihkan lainnya dan yang bisa saya lakukan hanya menelan kenyataan pahit, bersedih, sebelum akhirnya bangkit lagi. Bahkan tanpa saya sadari di antara kesedihan saya itu, selalu ada keajaiban-keajaiban kecil dan kebahagiaan yang tak terduga. Makanya saya selalu yakin setiap hal yang terjadi pasti karena ada alasan tertentu. Everything happen for a reason.. right?

Di tahun ini pula usia saya genap 28 (astaga!). Posting saya terakhir yang membicarakan tentang umur adalah posting berjudul “Becoming 26″ yang saya tulis 2 tahun lalu. Mungkin saya akan menganggap usia ini biasa-biasa saja kalau tidak ada pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kapan menikah?”, “Kenapa belum menikah?”, dan sebagainya. Entah karena orang-orang tersebut tidak punya pertanyaan basa-basi lainnya atau memang karena pernikahan begitu penting dalam kehidupan seseorang terutama buat mereka yang dianggap sudah ‘dewasa’. Ketika memulai hubungan baru pun saya jadi punya rasa takut, terutama jika mengingat hubungan saya yang sebelum-sebelumnya. Takut terlalu banyak berharap yang ujung-ujungnya malah kecewa. Tapi saya ingat kalimat sahabat saya si Putri Katak, katanya “yang namanya jatuh cinta selalu ada resikonya, jadi ya terima saja”, kira-kira seperti kalau saya nggak salah ingat (mohon dibenarkan kalau salah ya, Nel!).

Anyway.. setiap tahun sudah selayaknya kita lewati dengan mengambil pelajaran, dari setiap tindakan kita, perkataan kita, bahkan tindakan orang lain ke kita. Bukan sok dewasa (tapi memang umur sudah makin tua), cuma saya pikir belajar dari apa yang kita alami, bisa membuat kita jadi orang yang lebih baik lagi. Tahun ini saya belajar, kita tidak bisa memaksakan sesuatu, apa pun rencana kita bisa berubah mendadak kalau memang jalannya tidak seperti itu. People change, mereka yang kita kenal bisa menjadi orang yang berbeda, karena mungkin ada satu waktu tertentu pengalaman membentuk mereka menjadi orang yang berbeda. Saya.. mungkin juga mengalami perubahan, walaupun masih ada bagian-bagian lainnya yang tetap sama.

Rambut saya juga berubah selama setahun terakhir ini :D

Mengutip kata sahabat saya, muning, “What’s next?” Selanjutnya.. saya menyusun mimpi-mimpi saya lainnya, saya ingin berkarier, saya ingin bahagia, saya ingin mempelajari hal-hal baru, dan masih banyak lagi (yang sepertinya harus saya pikirkan lebih dulu, kira-kira apa saja yang akan saya lakukan di tahun ini). Di akhir 2011 ini, saya bisa bilang saya bahagia, jadi saya juga ingin memulai tahun 2012 dengan tersenyum. I’m so ready for 2012:)

Hopelessly Romantic

Hopelessly Romantic

Christian Louboutin peep toe pumps
$995 - bergdorfgoodman.com

Chanel lambskin handbag
$539 - fashionphile.com

Juicy Couture enamel jewelry
$78 - couture.zappos.com

Red shawl
99 SEK - ginatricot.com

These Boots Are Made For Walkin’

I love boots–seriously! Tapi sayangnya, di negara tropis seperti Indonesia dan di kota seperti Jakarta, jarang sekali orang yang memakai boots. Hanya mereka yang benar-benar percaya diri dan tidak peduli dengan komentar-komentar seperti, “banjir ya?” atau “memangnya di sini ada musim dingin?” atau “berlagak kayak di luar negeri aja, nih!”, yang berani memakai boots. Makanya, karena di sini tidak ada fall dan winter, saya selalu senang pergi ke tempat yang ada kedua musim tersebut. Salah satu alasannya, saya bisa pakai boots–dan bisa membeli berbagai macam model boots dengan harga yang terjangkau. Saat ini saya punya sekitar 8 pasang boots, mulai dari ankle boots sampai mid-calf boots. Saat liburan bulan September-Oktober kemarin, saya juga tidak ketinggalan membeli dua pasang boots berikut ini..

Saya suka sekali dengan boots tanpa hak karena lebih nyaman dipakai dan saya menemukan sepasang boots berwarna camel ini dengan harga yang cukup murah. Kalau di Jakarta, tidak mungkin menemukan boots yang bagus dengan harga di bawah Rp 200 ribu.

My $18 camel boots and H&M tights

Saya membeli boots ini karena tertarik dengan hak wedge-nya yang nyaman dan bentuknya yang unik. Foto di bawah ini saya ambil dari website Aldo shoes dan ketika saya lihat harganya, damn.. sudah di diskon 50%.

Wedge boots from Aldo

Yang di bawah ini merupakan salah satu boots favorit saya, walaupun kulitnya sudah sedikit mengelupas dan hampir saja dibuang oleh kakak saya, hehe..

My flat boots

Celebrate Autumn

Celebrate Autumn

Double breasted coat
$131 - bodenusa.com

Dorothy Perkins camel trench coat
$135 - dorothyperkins.com

TopShop zebra jeans
£45 - topshop.com

Dolce Vita heel boots
$220 - zappos.com

Marc by marc jacobs jewelry
$98 - couture.zappos.com

Sambag see through shades
125 AUD - thegrandsocial.com.au